Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
Vincent Cahya Saputra
"Hiperpigmentasi pada kulit manusia yang disebabkan oleh sintesis melanin yang berlebihan sangat mengurangi estetika penampilan seseorang. Upaya untuk mengatasi hiperpigmentasi adalah dengan mencari senyawa pemutih yang dapat menurunkan jumlah melanin yang disintesis pada kulit, yaitu senyawa penghambat enzim tirosinase. Telah diketahui daun trengguli (Cassia fistula L.) memiliki efek dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak dan fraksi pada genus tanaman yang sama yaitu kulit batang johar (Cassia siamea Lam.) memiliki efek yang serupa atau tidak. Tiga ekstrak kulit batang johar yang diuji yaitu ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol pada konsentrasi akhir 250 ppm. Kemudian dilakukan fraksinasi pada ekstrak dengan aktivitas penghambatan tertinggi menggunakan kromatografi kolom dipercepat hingga didapat fraksi-fraksi. Fraksi kembali diuji pada konsentrasi akhir 250 ppm. Dilakukan identifikasi fitokimia pada ekstrak dan fraksi dengan aktivitas penghambatan tertinggi. Didapatkan ekstrak metanol memiliki aktivitas penghambatan enzim terbesar dengan persentase inhibisi sebesar 22,56711% dan fraksi dengan aktivitas penghambatan tertinggi adalah fraksi metanol E dengan persentase inhibisi sebesar 19,1919%. Diketahui ekstrak metanol mengandung glikosida, saponin, antrakuinon, steroid, terpenoid, dan tanin, sedangkan fraksi metanol E mengandung glikosida, antrakuinon, steroid, terpenoid, dan tanin.
Hyperpigmentation on human skin caused by excessive melanin sythesis is very uncomfortable for personal’s esthtetics. The effort to reduce hyperpigmentation is discovering whitening skin agent which is able to reduce melanin content synthesized by skin, though the tyrosinase enzyme inhibition. It had been known that the leaves of trengguli (Cassia fistula L.) have tyrosinase enzyme inhibition activity. The purpose of this research is to know whether the extract and fraction on the same genus plant of johar (Cassia siamea Lam.) stem bark have the same activity or not. Three extracts of johar were tested; n-hexane, ethyl acetate, and methanol extract on final concentration 250 ppm. Then highest inhibition activity extract was fractionated by vacuumed column chromatography to be some fractions. Fractions were again tested on final concentration 250 ppm. The highest inhibition activity extract and fraction were identified phytochemically. The result is methanol extract is the highest inhibition activity with inhibitory percentage 22,56711% and the highest inhibition activity fraction is methanol fraction E with inhibitory percentage 19,1919%. The methanol extract has glycoside, saponin, anthraquinone, steroid, terpenoid, and tannin, on the other hand methanol fraction E has glycoside, anthraquinone, steroid, terpenoid, and tannin."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S46991
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Siti Nur Khodijah
"Neoagarooligosakarida (NAOS) merupakan oligosakarida yang tersusun atas 3,6-anhidro-L-galaktosa dan D-galaktosa. NAOS dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti industri makanan dan kosmentik. Pada penelitian ini NAOS diproduksi dengan cara menghidrolisis agar dari Eucheuma cottonii kemudian diukur kemampuannya sebagai antioksidan, pelembab, dan pemutih kulit. Hidrolisis agar menjadi NAOS dilakukan selama 4 jam pada suhu 30â menggunakan enzim β-agarase yang dihasilkan oleh Streptomyces BLH 3-7 dengan aktivitas spesifik sebesar 3,51 U/mg. NAOS hasil hidrolisis dikarakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan spektrum yang mirip antara NAOS dan Euchemua cottonii. Selain itu karakterisasi HPLC menunjukkan NAOS hasil hidrolisis mengandung neoagarobiosa (NA2), neoagarotetrosa (NA4), dan neoagaroheksosa (NA6). Neoagarooligosakarida yang dihasilkan diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH dan didapatkan aktivitasnya sebesar 20% dalam menginhibisi radikal DPPH pada konsentrasi 1.500 ppm. Sementara uji pelembab menunjukkan bahwa NAOS mampu menginhibisi enzim hialuronidase dalam mendegradasi asam hialuronat sebesar 47%. Selain itu NAOS diuji secara in vitro menggunakan sel melanoma didapatkan NAOS dengan konsentrasi 1.500 ppm mampu menghambat sekresi melanin hingga jumlah melanin hanya mencapai 35%. NAOS hasil hidrolisis Euchemua cottonii menggunakan enzim β-agarase yang dihasilkan oleh Streptomyces BLH 3-7 berpotensi cukup baik sebagai bahan perawatan kulit.
Neoagarooligosaccharides (NAOS) are oligosaccharides composed of 3,6- anhydro-L-galactose and D-galactose. NAOS are used in various fields such as the food and cosmetic industries. In this study, NAOS were produced by hydrolyzing agar from Eucheuma cottonii and then measuring its ability as an antioxidant, moisturizer, and skin whitener. Hydrolysis of agar into NAOS was carried out for 4 hours at a temperature of 30â using the β-agarase enzyme produced by Streptomyces BLH 3-7. The hydrolyzed NAOS were characterized using FTIR showing a similar spectrum between NAOS and Euchemua cottonii with a specific activity of 3.51 U/mg. In addition, HPLC characterization showed that the hydrolyzed NAOS contained neoagarobiose (NA2), neoagarotetrose (NA4), and neoagarohexose (NA6). Then, neoagarooligosaccharides were tested for antioxidant activity using the DPPH method and found that their activity was 20% in inhibiting DPPH radicals at a concentration of 1.500 ppm. While the moisturizing test showed that NAOS were able to inhibit the hyaluronidase enzyme in degrading hyaluronic acid by 47%. In addition, NAOS were tested in vitro using melanoma cells, it was found that NAOS at a concentration of 1.500 ppm were able to inhibit melanin secretion until the amount of melanin only reached 35%. NAOS from the hydrolysis of Euchemua cottonii using the β-agarase enzyme produced by Streptomyces BLH 3-7 have quite good potential as skin care ingredients."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library