Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sabrina Chusnul Chotimah
"Latar belakang: Gangguan kognitif ringan adalah kondisi yang dapat memburuk menjadi demensia, salah satu kondisi penyebab disabilitas terbanyak pada lansia. Gangguan kognitif ringan penting untuk dideteksi sedini mungkin namun di Indonesia belum ada kuesioner khusus untuk menapis gangguan kognitif ringan pada lansia.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kesahihan dan keandalan kuesioner Saint Louis University Mental Status (SLUMS) dan Rapid Cognitive Screen (RCS) berbahasa Indonesia untuk menapis gangguan kognitif ringan pada lansia.
Metode: Penelitian potong lintang melibatkan 85 subjek berusia 60 tahun di komunitas Jakarta pada Oktober-November 2024. Peneliti melakukan translasi dan adaptasi budaya kuesioner SLUMS dan RCS ke Bahasa Indonesia. Uji kesahihan mencakup kesahihan konstruksi dan kriteria. Uji keandalan mencakup pendekatan est-retest dan konsistensi internal.
Latar belakang: Gangguan kognitif ringan adalah kondisi yang dapat memburuk menjadi demensia, salah satu kondisi penyebab disabilitas terbanyak pada lansia. Gangguan kognitif ringan penting untuk dideteksi sedini mungkin namun di Indonesia belum ada kuesioner khusus untuk menapis gangguan kognitif ringan pada lansia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kesahihan dan keandalan kuesioner Saint Louis University Mental Status (SLUMS) dan Rapid Cognitive Screen (RCS) berbahasa Indonesia untuk menapis gangguan kognitif ringan pada lansia. Metode: Penelitian potong lintang melibatkan 85 subjek berusia ≥60 tahun di komunitas Jakarta pada Oktober-November 2024. Peneliti melakukan translasi dan adaptasi budaya kuesioner SLUMS dan RCS ke Bahasa Indonesia. Uji kesahihan mencakup kesahihan konstruksi dan kriteria. Uji keandalan mencakup pendekatan test-retest dan konsistensi internal. Hasil Utama: SLUMS Bahasa Indonesia memiliki kesahihan konstruksi yang dapat diterima (r=0,404-0,827) antara setiap pertanyaan dengan skor total dan kesahihan kriteria yang baik (r=0,757 dengan MoCA-Ina), serta keandalan baik berdasarkan konsistensi internal baik (Cronbach α=0,695) dan korelasi test-retest baik ( Intraclass correlation coefficient/ ICC 0,990, p < 0,0001). RCS Bahasa Indonesia memiliki kesahihan konstruksi yang dapat diterima (r=0,260-0,738) antara setiap pertanyaan dengan skor total dan kesahihan kriteria yang baik (r=0,623 dengan MoCA-Ina), serta keandalan baik berdasarkan konsistensi internal baik (Cronbach α=0,696) dan korelasi test-retest baik (ICC 0,968, p < 0,0001). Simpulan: SLUMS dan RCS Bahasa Indonesia adalah kuesioner yang sahih dan andal untuk menapis gangguan kognitif ringan pada lansia.

Background: Mild cognitive impairment is a condition that can progress into dementia, one of the leading causes of disability among the elderly. Early detection of MCI is crucial, yet there has not been a specific questionnaire to screen for MCI in older adults in Indonesia. Objective: This study aims to evaluate the validity and reliability of the Indonesian versions of the Saint Louis University Mental Status (SLUMS) and Rapid Cognitive Screen (RCS) questionnaires for screening mild cognitive impairment in the elderly. Method: This cross-sectional study involving 85 community-dwelling participants was conducted between October and November 2024, in Jakarta. The study began with the translation and cultural adaptation of the SLUMS and RCS questionnaires into Indonesian. The validity tests included construct and criterion validity, while the reliability tests included test-retest and internal consistency. Results: The Indonesian version of SLUMS showed acceptable construct validity (r=0.404-0.827), good criterion validity (r=0.757 with MoCA-Ina), high internal consistency (Cronbach α=0.695) and excellent test-retest correlation (Intraclass correlation coefficient/ ICC 0.990, p < 0.0001). The Indonesian version of RCS also showed acceptable construct validity (r=0.260-0.738), good criterion validity (r=0.623 with MoCA-Ina), good internal consistency (Cronbach α=0.696) and excellent test-retest correlation (ICC 0.968, p < 0.0001). Conclusion: The Indonesian versions of SLUMS and RCS are valid and reliable questionnaires for screening mild cognitive impairment in the elderly."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Theresia Caroline
"ABSTRAK
Latar belakang : Usia lanjut berhubungan dengan terjadinya gangguan kognitif ringan. Pada umumnya usia lanjut memiliki keterbatasan mobilitas. Sebuah metode latihan yang dapat meningkatkan fungsi kognitif pada usia lanjut dengan keterbatasan mobilitas sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh latihan koordinasi terhadap peningkatan fungsi kognitif pada usia lanjut dengan gangguan kognitif ringan
Metode : Metode penelitian pra-eksperimental dengan jumlah sampel 35 orang usia lanjut dengan gangguan kognitif ringan pada sebuah pusat kesehatan, Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Program latihan koordinasi metode Jockey Club for Positive Aging (JCCPA) diberikan 3x seminggu selama 8 minggu. Penilaian fungsi kognitif menggunakan MoCA-Ina pada sebelum dan sesudah perlakuan.
Hasil : Latihan koordinasi selama 8 minggu menghasilkan nilai fungsi kognitif MoCA Ina yang meningkat secara statistik dengan uji T-test berpasangan ( mean 21,23 sebelum perlakuan menjadi 26,00 sesudah perlakuan; p<0,001). Uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan yang signifikan pada ranah-ranah fungsi kognitif yaitu visuospatial/ fungsi eksekutif (p<0,001), atensi (p=0,005), bahasa (p=0,004), abstraksi (p=0,002), memori tunda (p<0,001), orientasi (p=0,0025) kecuali pada ranah penamaan (p=0,157) .
Kesimpulan: Latihan koordinasi bermanfaat untuk meningkatkan fungsi kognitif pada usia lanjut dengan gangguan kognitif ringan.

ABSTRACT
Background: Elderly is associated with the occurrence of mild cognitive impairment and limited mobility. An exercise method that can increase the cognitive function in elderly with limited mobility is therefore needed. This study aimed to measure the effect of coordination exercise in increasing the cognitive function in elderly with mild cognitive impairment..
Methods: A pre-experimental study with 35 participants from one health center (RSCM) were given 3 session per week for 8 weeks of JCCPA coordination exercise method. MOCA-Ina was used to measure the cognitive function of the subjects. This assessment is performed before and after the program.
Results: Paired-t test using MoCA-Ina score increases significantly from mean score of 21.23 before intervention to mean score of 26.00 after intervention (p< 0.005). Wilcoxon test showed improved scores in the cognitive domains of visuospatial / executive function (p <0.001), attention (p = 0.005), language (p = 0.004), abstraction (p = 0.002), delayed memory (p <0.001), orientation (p = 0.0025) except naming (p = 0.157).
Conclusion: Coordination exercise is beneficial to increase the cognitive function elderly with mild cognitive impairment."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Wastuti
"Transisi demografi di Indonesia mengubah struktur umur penduduk yang menua. Meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia berpotensi besar terhadap permasalahan kesehatan mental, salah satunya Penyakit Demensia. Demensia merupakan stadium akhir dari kemunduran fungsi kognitif, yang sebelumnya diawali dari mudah lupa dan gangguan kognitif ringan MCI . Penelitian sebelumnya di negara lain menunjukkan bahwa salah satu faktor risiko penurunan fungsi kognitif yang dapat dimodifikasi adalah keterlibatan sosial. Namun, penelitian mengenai pengaruh keterlibatan sosial pada konteks negara berkembang khususnya di Indonesia masih terbatas.
Penelitian ini mengukur pengaruh keterlibatan sosial terhadap fungsi kognitif dari 228.216 orang lansia di Indonesia berdasarkan data SUPAS 2015. Keterlibatan sosial lansia diukur melalui kegiatan sosial kemasyarakatan, mengasuh cucu, dan pasangan hidup. Penelitian ini menggunakan metode regresi multinomial logit. Umur, jenis kelamin, pendidikan, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, aktivitas fisik, dan aktivitas kognitif digunakan sebagai variabel kontrol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa keterlibatan sosial lansia berpengaruh terhadap fungsi kognitif pada lansia di Indonesia. Partisipasi lansia dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, mengasuh cucu dan keberadaan pasangan hidup dapat mengurangi risiko gangguan fungsi kognitif MCI dan Demensia pada lansia di Indonesia.

Demographic transition in Indonesia changes the age structure of ageing population. Increasing number of elderly population in Indonesia has big potential to mental health problem, one of them is Dementia Disease. Dementia is the final stage of cognitive decline, preceded by forgetfulness and mild cognitive impairment MCI . Evidence from previous studies in other countries suggests that one potential modifiable risk factor for cognitive decline may be social engagement. However, research that identifies the modifiable risk factors in the context of developing countries, especially in Indonesia is still scarce.
This study analyses the influence of social engagement on cognitive function of 228.216 elderly people in Indonesia from SUPAS 2015. Social engagement is measured through social activities, looking after grandchildren, and the presence of a spouse. This study uses the multinomial logistic regression method. Age, sex, education, visual impairment, hearing loss, physical and cognitive activity are used as covariates. The results suggest that social engagement influences cognitive function of elderly in Indonesia. Participation in social activities, looking after grandchildren and the presence of spouses can reduce the risk of cognitive decline, both MCI and dementia, in the elderly in Indonesia.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
T48859
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zenik Kusrini
"Latar belakang: Peningkatan populasi usia lanjut diikuti dengan meningkatnya masalah kesehatan terkait penurunan kapasitas fungsional. Gangguan kognitif ringan sering dijumpai pada usia lanjut, yang merupakan fase transisi sebelum berkembang menjadi demensia. Aktivitas fisik yang bersifat aerobik terbukti bermanfaat mempertahankan fungsi kognitif usia lanjut dan mencegah terjadinya demensia pada populasi ini, namun studi berjalan kaki terukur menggunakan pedometer belum diteliti di Indonesia.
Metode: Studi ini bertujuan menilai efek aktivitas berjalan kaki terukur minimal 4000 langkah setiap hari selama 12 minggu terhadap fungsi kognitif usia lanjut dengan gangguan kognitif ringan. Studi ini adalah studi intervensi mixed method, quantitative and qualitative research, dilakukan pada 12 subjek, berusia 60-74 tahun, di Poliklinik Rumah Sakit Ciptomangukusumo. Penilaian fungsi kognitif menggunakan kuesioner MoCa-Ina berbahasa Indonesia, yang dinilai sebelum dan setelah intervensi.
Hasil: Rerata capaian jumlah langkah harian adalah 5689 ± 505,59 langkah. Terjadi peningkatan rerata nilai MoCa-Ina sebelum dan setelah intervensi (26,0 ± 3,16 dan 27,29 ± 1,49, p=0,175). Pada akhir intervensi, dilakukan wawancara kepada seluruh subjek yang berhasil menyelesaikan program, didapatkan bahwa seluruh subjek merasakan peningkatan kebugaran fisik dan tidak ada efek samping yang terjadi selama intervensi.
Simpulan: Aktivitas berjalan kaki terukur minimal 4000 langkah setiap hari selama 12 minggu dapat mempertahankan fungsi kognitif usia lanjut dengan gangguan kognitif ringan.

Background: The increasing of elderly population followed by increasing health problems due to decreased functional capacity. Mild cognitive impairment commonly found in the elderly, which is a transitional phase before developing into dementia. Aerobic physical activity has been shown to be beneficial in maintaining cognitive function in the elderly and preventing dementia in this population, however, studies of walking-based pedometer have not been studied in Indonesia.
Methods: This study aims to assess the effect of 12 week of 4000-daily steps of the pedometer-home based walking activity on cognitive function in elderly with mild cognitive impairment. This study is a mixed method, quantitative and qualitative research intervention study, conducted on twelve subjects, aged 60-74 years, at the outpatient Ciptomangukusumo Hospital. Evaluation of cognitive function using the MoCa-Ina questionnaire Indonesian version, which was assessed before and after the intervention.
Results: The average number of daily steps count was 5689 ± 505.59 steps. There was an increase in the mean value of MoCa-Ina before and after the intervention (26.0 ± 3.16 and 27.29 ± 1.49, p=0.175). Interviews were conducted with all subjects who successfully completed the program, it was found that all subjects felt an increase in physical fitness and no side effects occurred during the intervention.
Conclusion: Twelve weeks of 4000 daily steps maintain cognitive function in the elderly with mild cognitive impairment.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library