Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Blau, Joseph Norman
London : Consumers Association , 1991
616.849 1 BLA u
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Lockley, John
London : Bloomsbury , 1993
616.072 LOC h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Silberstein, Stephen D.
Oxford: ISIS Medical Media, 1998
616.8 SIL h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jovian Purnomo
"Gangguan sendi temporomandibula mencakup perubahan morfologi atau fungsi permukaan artikulasi sendi rahang (intrinsik) dan perubahan fungsi sistem neuromuskular (ekstrinsik). Etiologi gangguan ekstrinsik adalah penggunaan otot yang berlebihan seperti pada kebiasaan clenching dan salah satu gejala yang biasa dilaporkan adalah nyeri kepala. Nyeri kepala yang dirasakan oleh penderita gangguan temporomandibula merupakan nyeri alih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan clenching dengan terjadinya gejala nyeri kepala pada 128 mahasiswa FKG UI program akademik, umur 18-22 tahun, yang terdiri dari 114 subyek perempuan dan 14 subyek lakilaki dengan mengisi kuesioner. Analisis secara univariat berupa distribusi frekuensi variabel jenis kelamin, gejala nyeri kepala, kebiasaan clenching saat marah, dan kebiasaan clenching saat konsentrasi penuh. Analisis statistik secara bivariat dengan uji Fisher menunjukkan nilai p = 0,019 (p < 0,05) untuk kebiasaan clenching saat marah dan p = 0,755 (p > 0,05) untuk kebiasaan clenching saat konsentrasi penuh. Sedangkan analisis secara bivariat dengan uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05) untuk kebiasaan clenching saat marah dan p = 0,381 (p > 0,05) untuk kebiasaan clenching saat konsentrasi penuh. Dari kedua uji tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kebiasaan mempertemukan gigi atas dan gigi bawah (clenching) saat marah dengan terjadinya gejala nyeri kepala, tidak ada hubungan antara kebiasaan mempertemukan gigi atas dan gigi bawah (clenching) saat konsentrasi penuh dengan terjadinya gejala nyeri kepala.

Temporomandibular disorders involve alterations to either the morphology or function of the mandible with respect to its articulation to the skull (intrinsic) and its neuromuscular function (extrinsic). An etiology of extrinsic disorder is muscle hyperactivity in a patient who suffers clenching habit. One of the most common symptoms that have usually been reported by patients was headache. This symptom was a referred pain. The purpose of this study was to know the relationship between clenching and headache on 128 subjects who are students of the Faculty of Dentistry, University of Indonesia. The subjects consisted of 144 female subjects and 14 male subjects, aged between 18-22 years old. Univariate statistical analysis included sex, headache symptoms, clenching habit when angry, and clenching habit when fully concentrated. Bivariate statistical analysis was done using the Fisher and Chisquare method to show the relationship between clenching habit and headache in two different criteria. The results using fisher method showed that the value was significant, p = 0.019 (p < 0.05) for clenching habit when angry and 0.755 (p > 0.05) for clenching habit when fully concentrated. The results using Chi-Square method showed that the value was significant, p = 0.003 (p < 0.05) for clenching habit when angry and 0.381 (p > 0.05) for clenching habit when fully concentrated. From both methods, it was concluded that there was a relationship between clenching when the subjects are being angry and headache, but the relationship between clenching when the subjects are being fully concentrate and headache could not be proven."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rapoport, Alan M.
New York: Simon & Schuster, 1991
616.849 1 RAP h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Gatterman, Meridel I.
St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby, 2012
615.5 GAT w
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Johan Harlan
"ABSTRAK
Tujuan: Untuk mengkaji pengaruh perilaku tipe A serta sifat-sifat yang berkaitan, yaitu hostilitas, kesinisan, dan kemarahan terhadap kejadian nyeri kepala tipe tegang pada kelompok mahasiswa yang berasal dari lingkungan semi-perkotaan.
Metode: Seratus tujuh belas penderita nyeri kepala-tipe tegang dan 117 subjek bebas nyeri kepala direkrut melalui sampling konsekutif yang dilakukan terhadap mahasiswa yang memenuhi panggilan untuk ikut serta dalam penelitian. Peserta yang terpilih menjalani anamnesis, pemeriksaan medis umum dan neurologis, serta uji MMPI parsial yang terdiri atas skala validitas dan skala perilaku, yaitu skala tipe A, hostilitas, kesinisan, dan kemarahan. Sembilan penderita nyeri kepala dan tujuh subjek bebas nyeri kepala dikeluarkan karena menunjukkan profil invaliditas persisten pada hasil uji MMPI, sehingga diperoleh sampel akhir sebesar 218 orang responden. Empat model logistik ganda dikembangkan untuk mengestimasi pengaruh masing-masing skala perilaku MMPI terhadap nyeri kepala tipe-tegang dengan mengendalikan perancu potensial.
Hasil: Tiap pasangan skala perilaku MMPI menunjukkan korelasi yang bermakna secara statistik. Penderita nyeri kepala secara bermakna cenderung untuk memperoleh skor yang lebih tinggi pada tiap skala perilaku MMPI. Dengan mengendalikan faktor usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh, rasio imbangan suaian nyeri kepala-tipe tegang untuk skor tinggi pada skala tipe A, hostilitas, kesinisan, dan kemarahan masing-masing adalah ÔR = 5.4 (IK 95% 2.9-9.9), ÔR = 3.9 (IK 95% 2.2-7.1), ÔR = 3.6 (IK 95% 2.0-6.4), dan ÔR = 6.1 (IK 95% 3.2﷓11.8).
Keempat skala perilaku dapat dipersatukan menjadi satu skala perilaku gabungan, yang juga menunjukkan kemaknaan dalam hubungannya dengan kejadian nyeri kepala-tipe tegang. Kesimpulan: Perilaku tipe A serta sifat-sifat yang berkaitan, yaitu hostilitas, kesinisan, dan kemarahan merupakan faktor risiko bagi nyeri kepala-tipe tegang, baik secara independen maupun simultan. Probabilitas kejadian nyeri kepala-tipe tegang bagi individu tertentu pada berbagai tingkat prevalensi nyeri kepala-tipe tegang dalam populasi dapat diprediksi berdasarkan nilai skor perilaku gabungannya.

ABSTRACT
Objective: To investigate the effect of type A behavior and it?s related contents, namely hostility, cynicism, and anger on the occurrence of tension-type headache among university students from semi-urban community.
Methods: One hundred seventeen tension-type headache sufferers and 117 headache-free controls were recruited consecutively among those who accepted the invitations to participate in the study. They underwent medical interviews, general medical and neurological examinations, and partial MMPI tests, consisted of validity scales and behavioral content scales, i.e. type A, hostility, cynicism, anger scales. Nine headache sufferers and seven headache-free controls were excluded due to persistent invalidity profiles in MMPI test results, yielded to a total final sample of 218 respondents. Four multiple logistic regressions were developed to estimate the effect that each MMPI behavioral scale would have on tension-type headache while controlling for potential confounders.
Results: The correlations among the MMPI behavioral scales were all statistically significant. Headache sufferers were significantly more likely to achieve higher scores on each MMPI behavioral scale. Controlling for age, sex, and body mass index, adjusted odds ratios of tension﷓type headache for the high scores on type A, hostility, cynicism, and anger were ÔR = 5.4 (95% CI 2.9-9.9), ÔR = 3.9 (95% CI 2.2-7.1), ÔR, = 3.6 (95% CI 2.0-6.4), and ÔR = 6.1 (95% CI 3.2-11.8), respectively. Four behavior scales could be incorporated into single combined behavior scale, which was also significantly associated with the occurrence of tension-type headache.
Conclusion: Type A behavior and its related contents, namely hostility, cynicism, and hostility, either independently or simultaneously are risk factors for tension-type headache. Probability for the occurrence of tension-type headache in a certain subject at various level of tension-type headache prevalence in the population can be predicted by using the score on combined behavior scale.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
D576
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Gedung-gedung perkantoran umumnya dilengkapi dengan sistim sirkulasi udara atau pendingin secara buatan untuk menciptakan kondisi lingkungan kerja yang nyaman. Namun, masih terdapat gejala-gejala sindrom gedung sakit (SGS). Salah satu gejala SGS adalah nyeri kepala SGS (NK SGS) Oleh karena itu perlu dikaji diidentifikasi faktor-faktor risiko terhadap timbulnya NK SGS. Kasus dan kontrol diidentifikasi melalui survei terhadap seluruh pekerja di kantor tersebut pada bulan Mei - Agustus 2002 di suatu perkantoran di Jakarta. Kasus adalah subjek dengan NK SGS, kontrol adalah subjek tanpa keluhan NK SGS selama satu bulan terakhir. Subjek penelitian berjumlah 240 orang, dan yang menderita NK SGS sebanyak 36 orang (15%). Bila dibandingkan dengan kecepatan gerakan udara yang normal, maka kecepatan gerakan udara yang cepat memperkecil risiko timbulnya NK SGS sebesar 57% [(rasio odds (OR) suaian = 0,43; 95% interval kepercayaan (CI): 0,19-0,95]. Bila dibandingkan dengan pekerja laki-laki, pekerja perempuan mempunyai risiko NK SGS hampir 3 kali lipat lebih besar (OR suaian = 2,96; 95% CI: 1,29-6,75). Pekerja dengan kebiasaan kadang-kadang sarapan, mempunyai risiko terkena NK SGS lebih kecil dibandingkan dengan yang biasa sarapan (OR suaian = 0,27; 95% CI: 0,10-0,96). Faktor suhu, kelembaban dan kebiasaan merokok tidak terbukti berkaitan dengan NK SGS. Pegawai perempuan mempunyai risiko NK SGS jika dibandingkan dengan laki-laki. Di samping itu, kecepatan gerakan udara yang lambat mempertinggi risiko NK SGS. Oleh karena itu perlu menambah kecepatan gerakan udara untuk mengurangi risiko timbulnya NK SGS terutama terhadap tempat kerja perempuan. (Med J Indones 2003; 12: 171-7)

Even though office buildings are usually equipped with ventilation system or air conditioning to create a comfortable working environment, yet there is still found a number of sick building syndrome (SBS) symptoms. One of the symptoms of SBS is SBS headache. Therefore, it is crucial to identify risk factors related to SBS headache. Cases were subjects who have suffered SBS headache, and controls were subjects who did not suffered headache for the last one month. Cases and controls were selected through a survey on all of employees in the said office during the period of May to August 2002. Total respondents were 240 employees including 36 people suffered SBS headache (15%). Compared to the normal air movement, faster air movement decreased the risk of SBS headache by 57% [adjusted odds ratio (OR) = 0.43; 95% confidence intervals (CI): 0.19-0.95]. Female employees, compared to the males ones, had a higher risk of getting SBS headache by almost three times (adjusted OR = 2.96; 95% CI: 1.29-6.75). Employees who had breakfast irregularly, had a lower risk to SBS headache than those who have breakfast regularly (adjusted OR=0.31; 95% CI: 0.09-0.84). Temperature, humidity and smoking habits were not noted correlated to SBS headache. Female workers had greater risk of suffering SBS headache. In addition slower air movement increased the risk of SBS headache. Therefore, it is recommended to improve the progress of air in order to reduce the risk of SBS headache, especially for female workplace. (Med J Indones 2003; 12: 171-7)"
Medical Journal of Indonesia, 12 (3) Juli September 2003: 171-177, 2003
MJIN-12-3-JulSep2003-171
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Newanda Mochtar
"ABSTRAK
Latar belakang: Migren adalah serangan nyeri kepala primer, bersifat spesifik, paroksismal, dengan atau tanpa aura, dengan manifestasi subjektif baik sebelum maupun sesudah serangan, merupakan nyeri kepala tipe kronik dengan gejala rekurensi, menyerang usia produktif dan dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja hingga 80%, sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup dan kehidupan perekonomian dan pendidikan secara global yang mengarah kepada kerugian bagi penderita migren dan institusi tempat penderita migren bersekolah ,bekerja serta dalam kehidupan keluarga penderita. Dengan tingginya angka prevalensi dan disabilitas pada penderita migren, dilain pihak sampai saat ini pengobatan yang tepat terhadap migren belum didapatkan secara maksimal maka diperlukan pendalaman dalam pengobatan maupun pencegahan migren sangat dibutuhkan., dan sampai saat ini belum didapatkan obat yang pasti, baik terhadap pencegahan dan pengobatan, sehingga perlu dikembangkan terapi yang dapat memberikan pertolongan yang lebih akurat pada penderita migren
Tujuan penelitian ini adalah menilai keberhasilan dalam penatalaksanaan migren dalam mengurangi frekuensi serangan, mengurangi intensitas serangan dan mengurangi durasi serangan dari minggu ke-0,ke-4 hingga ke-8. Metode: Uji klinis acak tersamar tunggal dengan kontrol dilakukan terhadap 34 subjek dengan migren yang dialokasikan secara acak kedalam kelompok manual akupunktur (n=17), serta kelompok medikamentosa (n=17). Penilaian menilai frekuensi, durasi dan intensitas serangan migren yang dinilai pada saat sebelum perlakuan, minggu ke-4 dan minggu ke-8 dari baseline. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada rerata jumlah frekuensi (p=0,040), durasi (p=0,012) dan intensitas (p=0,003) serangan migren pada minggu ke-4 dibandingkan dengan medikamentosa. Serata terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok pada rerata jumlah jumlah frekuensi (p=0,029), durasi (p=0,001) dan intensitas (p<0,001) serangan migren pada minggu ke-8. Kesimpulan: Intervensi akupunktur manual dapat menurunkan frekuensi, durasi dan intensitas serangan migren lebih baik dibandingkan dengan preventif farmakologi asam valproat pada minggu ke-4 dan minggu ke-8.

ABSTRACT
Background: Migraine is a primary headache attack, specific, paroxysmal, with or without aura, with subjective manifestations both before and after the attack, a chronic type of headache with symptoms of recurrence, attacks at productive age and can cause a decrease in work productivity up to 80%, so that it will affect the quality of life, economic life and education globally which leads to losses for migraine sufferers and institutions where migraine sufferers attend school, work and in the lives of sufferers families. With the high prevalence and disability rates for migraine sufferers, on the other hand, the right treatment for migraine has not yet been obtained to the maximum, it is necessary to deepen the treatment and prevention of migraine is needed, and until now there has been no definitive cure, both for prevention and treatment, so it is necessary to develop therapies that can provide more accurate relief for migraine sufferers. The purpose of this study is to assess the success in managing migraine in reducing the frequency of attacks, reducing the intensity of attacks and reducing the duration of attacks from weeks 0, 4 to 8. Methods: A randomized controlled trial with control was conducted on 34 subjects with migraine who were randomly allocated into the manual group of acupuncture (n = 17), as well as the medicine group (n = 17). The assessment of frequency, duration and intensity of migraine attacks assessed at the time before treatment, at the fourth and eight week from baseline. Results: The results showed there were significant differences between the two groups in the mean number of frequencies (p = 0.040), duration (p = 0.012) and intensity (p = 0.003) of migraine attacks at the fourth week. There were significant differences between the two groups in the average number of frequencies (p= 0.029), duration (p=0.001) and intensity (p<0.001) of migraine attacks at the eight week. Conclusion: Manual acupuncture interventions can reduce the frequency, duration and intensity of migraine attacks better than the use of valproic acid in the fourth and eight week."
2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>