Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 84 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andi Noor Kholidha S.
"ABSTRACT
Kondisi hipoksia menyebabkan stabilisasi HIF-1α, yang mengatur ekspresi beberapa gen seperti Carbonic Anhydrase 9 (CA9). CA9 merupakan enzim yang memediasi homeostasis pH melalui reaksi reversibel CO2 dan H2O menjadi HCO3 - and H+.
Aktivitas enzim CA pada sel tubulus ginjal yang meningkat seiring dengan kondisi hipoksia menyebabkan peningkatan ion H+ dalam urin. Pada kondisi tersebut, sel tubulus ginjal akan mensekresikan NH3 (amonia) ke dalam cairan tubulus sebagai penyangga sehingga sekresi H+ dari sel tubulus dapat terus berlangsung. NH3 akan bereaksi dengan H+ membentuk NH4 + (amonium). NH3 dihasilkan dari deaminasi glutamin oleh enzim glutaminase yang disintesis di dalam sel tubulus. 25 tikus jantan Sprague Dawley (Rattus norvegicus L.) dibagi menjadi 5 kelompok. Sebanyak 20 tikus diinduksi dengan hipoksia (O2 10%) sebagai pemicu stabilisasi HIF-1α dan diobservasi selama 1, 3, 5, dan 7 hari pasca induksi. Kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan induksi hipoksia. Semua tikus kemudian didekapitasi. Dari sampel ginjal, dilakukan pemeriksaan ekspresi mRNA HIF-1α, CA9, dan Gls1 (dengan real time RT-PCR), protein HIF-1α (dengan ELISA) serta aktivitas enzim CA total dan glutaminase. Ekspresi tertinggi mRNA HIF-1α, dan Gls1 dicapai pada hari ke-5 sedangkan ekspresi tertinggi mRNA CA9, dicapai pada 7 hari pasca induksi hipoksia. Konsentrasi protein HIF-1α sendiri tidak berbeda bermakna untuk semua kelompok. Aktivitas tertinggi enzim CA dan glutaminase dicapai pada kelompok 5 hari. Peningkatan mRNA dan aktivitas CA9 dan Gls1 pada kondisi hipoksia menunjukkan peran penting keduanya dalam menjaga homeostasis pH pada ginjal. Peningkatan mRNA CA9 dan Gls1 juga seiring dengan peningkatan mRNA HIF-1α yang menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara HIF-1α dengan kedua gen tersebut.

ABSTRACT
Hypoxia can stabilize HIF-1α, a protein that regulates many of genes involved in angiogenesis, erythropoiesis, glycolysis, iron metabolism, and cell survival. One of these genes is Carbonic Anhydrase IX (CA IX). CA IX is an enzyme which maintains pH homeostasis by converting CO2 and H2O into HCO3 - and H+ ions.
The activity of Carbonic Anhydrase in renal tubulus cell can cause an increase of H+ ion in urine. H+ ion must be buffered to prevent its gradient increase that can obstruct H+ secretion. In kidney, NH3 and H+ play an important role to form NH4 +, so secretion of H+ will be continued for pH homeostasis. Glutaminase function in conversion of glutamine into glutamate and NH3 was observed in this study. The samples were obtained from kidney tissues of rat exposed to chronic systemic hypoxia (O2 10% : N2 90%) for 1, 3, 5 and 7 days. Expression of HIF-1α, CA9, and Gls1 mRNA were examined by real time RT-PCR. HIF-1α protein was measured using Cusabio® ELISA, as with the specific activity of CA and glutaminase were measured by spectrophotometer. The maximum levels of HIF-1α and Gls1 mRNA, were achieved in 5 days after hypoxia induction, meanwhile CA9 mRNA expression was found to be the highest at 7 days after induction. HIF-1α protein did not differ significantly among the groups. The maximum CA and glutaminase specific activity was measured at 5 days group. The increase of mRNA and specific activity of both CA and Gls1 in hypoxia shows that both of these protein have an important role for encountering the changing of pH in kidney, especially in the first 5 days. The significant increase of CA9 and Gls1 mRNA is also in line with the increase of HIF-1α mRNA. It can be concluded that expression of CA9 and Gls1 gene is regulated by HIF-1α, although the HIF-1α protein have no difference among the groups.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T59121
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nanda Mardas Saputra
"Latar Belakang: Salah satu aspek dalam fungsi fisiologis manusia yang berperan penting dalam penerbangan adalah fungsi visuospasial. Fungsi visuospasial merupakan kemampuan persepsi visual tingkat tinggi yang dibutuhkan untuk identifikasi, integrasi informasi, menganalisa bentuk visual dan spasial, detail, struktur, dan hubungan spasial antara bentuk dua dengan tiga dimensi. Paparan hipoksia merupakan hazard spesifik yang terdapat dalam dunia penerbangan dan dampaknya terhadap fungsi visuospasial dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan dalam penerbangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan fungsi visuospasial terhadap paparan hipoksia di zona ketinggian yang berbeda.
Metode: Penelitian ini menggunakan uji eksprimen one-group pretest-postest. Subjek penelitian adalah awak terbang militer yang mengikuti Indoktrinasi Latihan Aerofisiologi (ILA) di Lakespra Saryanto, Jakarta. Subjek mengerjakan tes Clock Drawing Test (CDT) pada ground level, physiological efficient zone (10.000 ft) dan physiological deficient zone (25.000 ft.) di dalam hypobaric chamber.
Hasil: Terdapat peningkatan angka kejadian gangguan fungsi visuospasial di 10.000 kaki dibandingkan dengan ground level (McNmear = 0.031), 10.000 kaki dengan 25.000 kaki (McNemar = 0.0001) dan ground level dengan 25.000 kaki (McNemar = 0.0001).
Kesimpulan: terdapat peningkatan angka kejadian gangguan fungsi visuospasial yang signifikan antara ketinggian ground level, 10.000 kaki dan 25.000 kaki.

Background: One of many aspects of human physiological function that has an important role in aviation is visuospatial function. Visuospatial function is a high-level visual perception that is required for identification, information integration, analyzing visual and spatial form, detail, structure and spatial relation between two-dimensional and three-dimensional form. Hypoxia exposure is considered to be a specific hazard in the aviation environment and its impact against visuospatial function can potentially increase the risk of aviation-related accident. The purpose of this study was to investigate changes in visuospatial function on hypoxia exposure in different altitude zones.
Metode: This study used an experimental one-group pretest-posttest design. The subjects were 42 military aircrews who participated in Indoctrination and Aerophysiology Training. Subjects completed The Clock Drawing Test (CDT) at ground level, physiological efficient zone (10.000 ft) and physiological deficient zone (25.000 ft) in a hypobaric chamber.
Hasil: There was an increase of the number of impaired visuospatial function at 10.000 ft compared to ground level (McNemar = 0.031), 10.000 to 25.000 ft (McNemar = 0.0001) and ground level to 25.000 ft (McNemar = 0.0001).
Kesimpulan: There was a significant change in the number of impaired visuospatial function between ground level, 10.000 ft, and 25.000 ft.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58912
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Radinal Mauludi
"Latar belakang. Saat ini Imatinib Mesilate (IM) yang merupakan golongan Tirosin Kinase Inhibitor (TKI) menjadi pengobatan utama pada pasien leukemia granulositik kronik (LGK). Namun resistensi terhadap IM pada pasien LGK semakin sering dijumpai. Respons terapi yang digunakan sebagai prediktor resistensi adalah major molecular response (MMR) yang dinilai dari rasio gen BCR-ABL/ABL. Terjadinya resistensi dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satu kemungkinan adalah hipoksia yang diregulasi oleh hypoxia inducible factor (HIF) 2a. Tujuan. Mengetahui korelasi antara ekspresi HIF-2a dengan rasio BCR- ABL/ABL pada pasien LGK fase kronik yang mendapat hidroksi urea (HU) sebelum IM. Metode. Studi ini menggunakan metode potong lintang, dilakukan analisis data sekunder sampel darah (whole blood) simpan pasien LGK fase kronik usia 18-60 tahun yang telah menggunakan IM minimal 12 bulan. Dilakukan pemeriksaan ekspresi protein HIF-2a menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Korelasi antara HIF-2a dan rasio BCR-ABL/ABL didapat dengan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS. Hasil. Dilakukan analisis pada 79 subjek. Rasio laki-laki terhadap perempuan adalah 1,4:1, dengan rerata usia 45±14,02 tahun. Median HIF-2a 90,56 pg/mg protein dan median rasio BCR-ABL/ABL adalah 16,89. Ekspresi HIF- 2a berkorelasi lemah (r 0,235 dengan p 0,037) dengan rasio BCR-ABL/ABL. Terdapat perbedaan bermakna median ekspresi HIF-2a pada kelompok mencapai MMR dan tidak mencapai MMR, yaitu 42,61 dan 147,08 pg/mg protein secara berurutan dan hal ini bermakna secara statistik (p 0,015). Kesimpulan. Terdapat korelasi antara kadar HIF-2 α dengan rasio BCR-ABL/ABL pada pasien LGK fase kronik yang mendapat HU sebelum IM.

Background. Imatinib Mesilate (IM), which is a Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI), is the main treatment for Chronic Myeloid Leukemia (CML) patients. However, resistance to IM in CML patients is becoming increase. The therapeutic response used as a predictor resistance is the major molecular response (MMR), defined as BCR-ABL/ABL ratio. The resistance can be caused by various things, one of which is hypoxia which is regulated by hypoxia inducible factor (HIF) 2 Alpha. Objective. To know correlation between HIF-2a protein expression and BCR- ABL/ABL ratio in CML chronic phase patients who get hydroxyurea (HU) before IM. Methods. This study used a cross-sectional method. Secondary data analysis was carried out on whole blood samples from CML patients with chronic phase aged 18-60 years who had used IM for at least 12 months. The expression of HIF- 2a protein was examined using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The correlation between HIF-2a and BCR-ABL/ABL ratio was obtained by Spearman correlation test using SPSS. Results. Total 79 subjects were analyzed. The male to female ratio was 1.4:1, with a mean age of 45±14.02 years. The median of HIF-2a was 90.56 pg/mg protein and the median BCR-ABL/ABL ratio was 16.89. HIF-2a expression was weakly correlated (r.0235 with p.037) with the BCR-ABL/ABL ratio. There was a significant difference in the median expression of HIF-2a in the groups achieving MMR and not achieving MMR, 42.61 vs 147.08 pg/mg protein, and this was statistically significant (p.0.015). Conclusion. There is a correlation between HIF-2a protein expression and BCR- ABL/ABL ratio in CML chronic phase patients who received HU before IM."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Novi Silvia Hardiany
"Latar Belakang: Glioma merupakan tumor otak primer yang sering ditemukan di Indonesia. Sampai saat ini, terapi glioma belum memuaskan karena sering timbul resistens] dan rekurensi sehingga diperlukan terapi tambahan misalnya terapi gen. MnSOD diduga berperan sebagai supresor tumor, namun peran tersebut masih kontroversial. Tumor padat termasuk glioma mempunyai status oksigen yang kurang baik dibandingkan dengan jaringan normal. MnSOD sebagai antioksidan dapat mempengaruhi kadar ROS (Reactive Oxygen Species) yang meningkat pada kondisi hipoksia. Oleh karena itu perlu dianalisis bagaimana ekspresi gen MnSOD pada sel glioma manusia yang hipoksia. Hipoksia pada sel glioma diduga mempengaruhi respon sel tumor terhadap terapi radiasi. Hipoksia tersebut dapat dideteksi dengan suatu petanda Jaringan hipoksia yaitu HIF-1α.
Tujuan: Untuk menganalisis ekspresi gen MnSOD, kondisi hipoksia pada sel glioma melalui analisis ekspresi gen HIF-1a serta menganalisis ekspresi gen MnSOD pada sel glioma yang hipoksia.
Desain: Cross Sectional
Metode: Ekspresi gen MnSOD dianalisis dengan membandingkan leve] mRNA dan aktivitas spesifik enzim MnSOD pada sel glioma dengan sel lekosit (kontrol). Ekspresi gen HIF-1a@ dianalisis dengan mebandingkan level MRNA HIF-1la pada sel glioma dengan sel jekosit. Ekspresi MnSOD dan HIF-1α dideteksi pada 20 pasien glioma menggunakan quantitative Real Time RT-PCR untuk kadar relatif mRNA MnSOD dan HIF-1α, serta pemeriksaan biokimia untuk mengukur aktivitas enzim MnSOD. Analisis statistik dengan menggunakan SPSS 16.0.
Hasil: Ekspresi gen MnSOD baik mRNA maupun aktivitas spesifik enzim MnSOD pada sebagian besar sampel sel glioma manusia ditemukan lebih rendah secara signifikan (p< 0.01) dibandingkan dengan sel lekosit. Sedangkan mRNA HIF-la pada sebagian besar sel glioma manusia ditemukan lebih tinggi secara signifikan (p< 0.05) dibandingkan dengan sel lekosit. Sebanyak 80 % (16 sampel) menunjukkan mRNA HIF-1α yang tinggi, yang berarti terdapat hipoksia pada sel glioma. Dari 16 sampel tersebut, 11 sampel menunjukkan ekspresi mRNA MnSOD yang rendah dan 4 sampel menunjukkan ekspresi mRNA MnSOD yang tinggi.
Kesimpulan: Ekspresi gen MnSOD pada sebagian besar sampel ditemukan rendah. Ekspresi HIF-1a@ yang tinggi menunjukkan terdapat hipoksia pada sebagian besar sampel scl glioma. Terdapat perbedaan ekspresi MnSOD pada kondisi hipoksia sel glioma.

Background: Glioma is one of the most frequently found primary brains tumors in Indonesia. Until now, treatment of the glioma is far from succesfull due to resistancy and recurrance. Therefore, additional therapy is required, such as gene therapy. MnSOD is antioxidant enzymes which is suggested as tumor suppressor, despite its controversies. Solid tumor such as glioma have low oxygen level in the tissue compare to normal tissues. MnSOD as antioxidant enzyme have potential effects on increased ROS (reactive oxygen species) concentration in hypoxia condition. Therefore, further analysis is needed to explain MnSOD gene expression in hypoxic human gliomal cells. Hypoxia in gliomal cells are suggested to influence tumor cells responses toward radiotherapy. Hypoxia state can be detected using tissues hypoxic marker, hypoxia inducible factor-la (HIF1α).
Desaign: Cross sectional
Aim: To analyzed MnSOD gene expression, hypoxia condition in human glioma cells by analyzing the gene expression of HIF-αa and to analyzed MnSOD gene expression in hypoxic human gliomal cells.
Methode: MnSOD gene expression was analyzed by comparing MnSOD mRNA level and enzyme specific activity in glioma cells with leucocytes (control). HIF-1α gene expression was analyzed by comparing HIF-la mRNA level in glioma cells with leucocytes. Twenty glioma patients were included in this study. Quantitative Real Time RT-PCR was used to analyzed MnSOD and HIF-1α mRNA level. Biochemistry test was used to analyzed MnSOD enzyme spesific activity. Statistical analysis was performed using SPSS 16.0.
Results: MnSOD gene expression at mRNA level and enzyme spesific activty in most human glioma samples were significantly lower (p< .01) than leucocytes. While HIF-lao mRNA level in most human glioma samples were significantly higher (p< .05) than leucocytes, Eighty percents (16) of the samples showed high HIF-1α mRNA level, this mean that glioma samples were in hypoxic state. Among the 16 samples, 11 samples showed low MnSOD mRNA level and 4 samples showed high mRNA MnSOD level. This mean that there were differences in MnSOD gene expression in hypoxic human glioma cells.
Conclusion: MnSOD gene expression in most human glioma samples were low. High HIF-1α mRNA level were found in mosi of plioma samples, meaning that glioma sample were in hypoxic state. There were differences in MnSOD expression in hypoxic human glioma cells.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T32904
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rineke Twistixa Arandita
"Hipoksia merupakan keadaan dimana kadar oksigen berada dibawah kadar 20-21%. Otak merupakan salah satu organ yang rentan mengalami kematian sel akibat hipoksia disebabkan oleh kebutuhan energi yang lebih banyak untuk melakukan fungsinya. Aktivitas Enzim Laktat Dehidrogenase (LDH) memiliki peran dalam keadaan hipoksia untuk menghasilkan energi melalui reaksi glikolisis anaerob. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari adaptasi jaringan otak dengan melihat aktivitas enzim LDH di jaringan otak tikus normoksia dibandingkan dengan hipoksia.
Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang dilaksanakan sejak Maret 2011. Dilakukan pengkondisian hipoksia dalam hypoxic chamber (oksigen 10% dan nitrogen 90%) selama 1 hari, 3 hari, 7 hari, dan 14 hari kepada 20 tikus galur Sprague Dawley, sedangkan 5 ekor tikus akan berperan sebagai kontrol. Pasca perlakuan, otak tikus diambil melalui proses bedah dengan melakukan eutanasia dengan eter terlebih dahulu, otak ditimbang hingga batas 100 mg, dan diubah menjadi supernatan yang akan diperiksa absorbansinya dengan menggunakan elektrofotometer untuk menentukan aktivitas enzim LDH.
Hasil menunujukkan peningkatan aktivitas pada 1 dan 3 hari hipoksia, dan menurun pada 7 dan 14 hari hipoksia. Analisis dengan uji nonparametrik Kruskal-Wallis didapatkan nilai p > 0.05 sehingga tidak ada perbedaan bermakna antara aktivitas LDH pada kelompok kontrol dengan kelompok yang diberi perlakuan hipoksia.

Hypoxia is a term to a condition which oxygen level below 20-21%. The brain is an organ which is susceptible to cell death due to hypoxia caused by the need of more energy to perform its function. Lactate Dehydrogenase (LDH)?s activity has role in hypoxic condition to produce energy through anaerob glycolisis. This research aimed to observe and study about the adaptation of brain through LDH's activity in the tissue of normoxic rat brain compared to the hypoxic rat.
This is an experimental study which held from March 2011. 20 rats were placed in the hypoxic chamber (10% Oxygen, 90% Nitrogen) for 1, 3, 7, and 14 days; while 5 normoxic rats will be served as control. The brain were taken by a surgery with a process of eutanaschia before it. The brain weighed up to the limit of 100 mg, then converted to supernatant. Absorbance of the supernatant examined by electrophotometer as the activity of the enzymes.
There were increased activity in the 1, and 3-day hipoxia, and decreased in 7, and 14-day hipoxia. analyzed by Kruskal-Wallis nonparametric test obtained p > 0.05 which means there is no significant difference between LDH?s activity in the normoxic and hypoxic tissue.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naela Himayati Afifah
"Pada kondisi hipoksia, untuk tetap mencukupi jumlah adenosine trifosfat (ATP), sel akan melakukan adaptasi dengan mengubah metabolisme dari proses aerob menjadi anaerob. Sebagai enzim glikolisis anaerob, jumlah laktat dehidrogenase (LDH) pun akan meningkat di dalam sel. Paru, sebagai organ vital penyedia oksigenasi adekuat bagi tubuh, juga memiliki respon terhadap kondisi hipoksia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran adaptasi metabolisme jaringan paru melalui aktivitas spesifik LDH, pada tikus yang telah diinduksi hipoksia sistemik dibandingkan dengan normoksia (kontrol). Sejumlah tikus ditempatkan pada kandang hipoksia (kandungan O2 10%) selama 1, 3, 7, dan 14 hari. Pada akhir periode, bersama dengan kelompok tikus normoksia, semua tikus percobaan dieuthanasia, dan organ parunya dianalisis untuk pengukuran aktivitas spesifik LDH.
Hasil penelitian menunjukkan aktivitas LDH paru menurun pada kondisi hipoksia dibandingkan dengan normoksia. Penurunan glikolisis anaerob pada sel paru menggambarkan kegagalan mekanisme adaptasi sel yang berujung pada apoptosis. Perhitungan One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok normoksia dan kelompok-kelompok hipoksia (p=0,015). Pada Uji Post-Hoc diketahui bahwa aktivits LDH pada kelompok hipoksia 1 hari, 7 hari, dan 14 hari, berbeda bermakna dibandingkan normoksia.
Disimpulkan bahwa pada jaringan paru tikus hipoksia sistemik terdapat penurunan bermakna aktivitas spesifik LDH dibandingkan kontrol normoksia.

In hypoxia, to maintain adenosine triphosphate (ATP) production, cell conducts an adaptation mechanism by shifting metabolism from aerobic into anaerobic. As an anaerobic glycolytic enzyme, the amount of lactate dehydrogenase (LDH) is increasing intracellularly regarding hypoxia condition. Lung, as a vital organ regulating adequate oxygenation to systemic, has a response to hypoxia.
This research aims to get a display of metabolism adaptation on lung tissue in systemic hypoxia induced rats compared to normoxia. Some amount of rats are divided into groups and placed inside hypoxic cage (O2 10%) in 1, 3, 7, and 14 days. In the end, together with normoxia group, they were euthanized, and the lung organ was analyzed for specific LDH activity.
The result shows a declining on LDH activity in hypoxia compared to normoxia. The decreasing of anaerobic glycolytic process in lung tissue portrays a failure of lung cell adaptation mechanism, and this condicition leads to cell apoptosis. One-way ANOVA test shows significant difference on LDH specific activity between normoxia and hypoxia groups (p=0,015). Post-Hoc test then shows the significant difference is between 1 day, 7 days, and 14 days hypoxia compared to normoxia.
In conclusion, there is significant decreasing of specific LDH activity on hypoxia compared to normoxia in lung tissue.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faathimah Mahmudi Isma`il
"Hipoksia merupakan keadaan kekurangan oksigen di jaringan atau ketidakmampuan dalam menggunakan oksigen. Keadaan ini telah dikaitkan dengan patologi dari penyebab utama kematian, termasuk penyakit kardiovaskuler. Agar tetap dapat menghasilkan ATP meskipun oksigen terbatas, sel memiliki kemampuan untuk mengubah glikolisis aerob menjadi glikolisis anaerob. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati aktivitas spesifik enzim laktat dehidrogenase (LDH) pada jaringan jantung tikus yang diinduksi hipoksia sistemik. Penelitian ini merupakan studi eksperimental pada 25 ekor tikus Sprague-Dawley yang secara acak dibagi kedalam satu kelompok tikus normoksia sebagai kontrol dan empat kelompok tikus yang diinduksi hipoksia (10% O2 dan 90% N2) selama 1 hari, 3 hari, 7 hari, dan 14 hari, sehingga tiap kelompok terdiri lima ekor tikus. Pengukuran aktivitas spesifik LDH menggunakan kit LDH QuantiChromTM (DLDH-100). Aktivitas spesifik LDH jantung tikus hipoksia cenderung menurun selama perlakuan hipoksia dibandingkan dengan tikus normoksia. Analisis dengan Kruskal Wallis menunjukkan aktivitas spesifik LDH pada jaringan jantung tidak berbeda bermakna antara tikus normoksia dengan tikus hipoksia (p = 0,391). Disimpulkan bahwa tidak ditemukan perbedaan aktivitas LDH antara jantung tikus normoksia dan tikus yang diinduksi hipoksia sistemik.

Hypoxia is a state of oxygen deficiency in tissues or inability to use oxygen. This condition has been associated with the pathology of the leading causes of death, including cardiovascular disease. In order to maintain the ability to produce ATP although oxygen is limited, the cell has an ability to change from aerobic to anaerobic glycolysis. This research aims to evaluate the lactate dehydrogenase (LDH) spesific activity during systemic hypoxia in the heart. This research is an experimental study on 25 Sprague-Dawley rats that randomly divided into one group of normoxic rats as control and four groups of hypoxia induced rats (10% O2 and 90% N2) for 1 day, 3 day, 7 day, and 14 day, so that each group consisted of 5 rats. Measurement of LDH specific activity was done using LDH QuantiChromTM (DLDH-100) kit. Cardiac LDH specific activity of hypoxia induced rat tend to decrease during hypoxia compared with normoxic rat. Analysis with Kruskal-Wallis shows that there is no significant difference of cardiac LDH specific activity between groups (p = 0.391). So, it can be concluded that there is no difference of cardiac LDH activity between normoxic and systemic hypoxia induced rats."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ermono Superaya
"Stroke adalah suatu penyakit serebrovaskular yang disebabkan oleh berhentinya aliran darah arteri ke otak. Sekitar 80-85% stroke adalah stroke iskemik yang disebabkan oleh obstruksi pada arteri di sirkulasi serebelum. Hipoksia serebral yang terjadi akibat iskemik pada otak tersebut menimbulkan perubahan pada morfologi sel dan kemudian kematian sel dimana sel neuron menjadi piknotik bermanifestasi berupa kecacatan neurologis pada penderitanya, sehingga penderita stroke harus mengonsumsi obat jangka panjang untuk kesembuhannya. Citicoline merupakan obat yang efektif untuk stroke dari penelitiannya namun memiliki kelemahan dari segi pemakaian dan harga yang mahal menyebabkan obat ini kurang efisien di masyarakat. Tanaman herbal akar kucing dan pegagan merupakan obat alternatif pada terapi stroke karena efek neuroprotektifnya. Dosis kombinasi kedua herbal ini diharapkan mampu memberikan perubahan jumlah pada sel piknotik di otak.
Penelitian ini bersifat eksperimental dengan melakukan percobaan pemberian ekstrak akar kucing dan pegagan terhadap tikus terhadap 5 kelompok tikus yang dibuat hipoksia dengan berbagai jenis perlakuan yaitu pemberian akuades, citicolin, dosis akar kucing 150,200,250mg dikombinasikan dengan pegagan 150mg. Serebelum tikus kemudian diambil dan dibuat sediaan preparat histopatologi untuk dilihat perubahan terhadap sel piknotik di girus dentatus internus.
Dari hasil uji One away Anova didapatkan bahwa tidak terdapat perubahan jumlah sel piknotik yang bermakna terhadap perlakuan yang diberikan terhadap tikus (p> 0,05). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi kombinasi kedua herbal tersebut tidak memberikan perubahan jumlah sel piknotik pada girus dentatus internus tikus.

Stroke is cerebrovascular disease caused by cessation of arterial blood flow to the brain. Approximately 80-85% of strokes are ischemic strokes caused by arterial obstruction in the circulation of cerebellum. Cerebral hypoxia caused by ischemia of the brain gives result in alteration of cells morphology and cell death in which neuron cells become picnotics. This will later manifests in the form of neurological disability shown in the affected individuals resulting in the need to take long term medication. Citicoline is an effective drug for stroke based on research but has drawbacks in term of usage and high price which cause it to be less efficient in the community. The herbs cat root and Indian pennywort are alternative drugs for stroke therapy because of its neuroprotective effects. Combination dose of these two herbs are expected to provide a change in number of picnotic cells in rat?s brain.
This research experiments on giving the extract of cat root and indian pennywort to 5 groups of hypoxic rats in various dose (150, 200, 250 mg of cat root combined with 150 mg of Indian pennyworts), negative control is given aquades and positive control is given citicoline. The cerebellum of the rats is then taken and is made to histopathologic preparation to see the changes of picnotic cells in gyrus dentatus internus.
From the One Way Anova test results, it can be seen that there is no meaningful changes in the number of picnotic cells after the treatments are given to the rats (p>0,05). In conclusion, therapy with combination of cat root and Indian pennywort does not provide changes in number of picnotic cells in gyrus dentatus internus of the rats.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>