Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sarah Asmarani Aditya
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang mengapa remaja melakukan perundungan siber pada media sosial, terutama Ask.fm. Dengan fitur tak kasat mata dan anonim yang disediakan oleh Ask.fm, pengguna sering melakukan perundungan siber karena memberi pengguna keuntungan untuk tidak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam apa yang menyebabkan orang merundung orang lain di media sosial seperti Ask.fm. Perilaku agresif pengguna pada Ask.fm, dipicu oleh enam faktor penghambatan online - di mana mereka mengatakan dan melakukan sesuatu secara online yang terbatas di dunia nyata. Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif dengan wawancara mendalam sebagai pendekatan pengumpulan data. Ditemukan bahwa faktor yang menyebabkan penghambatan online seperti tak terlihat, asynchronicity, introspeksi solipsistik, imajinasi disosiatif, meminimalkani status dan wewenang, anonimitas disosiatif memicu pengguna untuk melakukan perundungan secara online terutama pada Ask.fm, dan superioritas, ketakutan, dan penyombong memicu orang untuk melakukan perundungan secara umum. Dengan demikian, disarankan untuk mengintegrasikan materi perundungan siber ke sekolah. Sehingga, staf sekolah dan guru dapat mengedukasi konsekuensi dari perundungan siber dan mencegah perundungan lebih lanjut

ABSTRACT
This research is about why teenagers do cyberbully on social media, primarily Ask.fm. With invisibility and anonymous feature that Ask.fm provides, users engage in cyberbullying more often since it is giving users the advantage to be unknown. This research aims to understand in depth on what causes people to bully other people on social media such as Ask.fm. The aggressiveness of users behavior on Ask.fm is triggered by six factors of online disinhibition where they say and do things online that is limited in real world. This research uses qualitative data analysis with an in depth interview as its approach for data collection. It is found that factors that cause online disinhibition such as invisibility, asynchronicity, solipsistic introjection, dissociative imagination, minimization of status and authority, dissociative anonymity trigger users to bully online primarily on ask.fm, and superiority, fear, and braggers trigger people to bully in general. Thus, it is suggested to integrate cyberbullying materials into school. Thus, school staff and teacher can educate the consequences of cyberbullying and prevent further bullying action "
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Daniaji
"Perkembangan sistem jaringan multimedia yang sangat pesat menyebabkan terancamnya keamanan hak cipta dari data multimedia. Kemudahan distribusi, reproduksi, serta manipulasi data, menyebabkan dibutuhkannya suatu sistem proteksi. Video watermarking merupakan suatu metode penyisipan tanda khusus pada video yang berguna untuk melindungi data yang didistribusikan melalui Internet atau secara nirkabel dari penduplikasian ilegal.
Tanda khusus yang disisipkan ini disebut dengan watermark, dan berguna untuk authentikasi kepemilikan. Teknik scrambling koefisien discrete cosine transform (DCT) terkuantisasi merupakan salah satu algoritma yang digunakan dalam video watermarking. Watermark disisipkan dengan melakukan modifikasi terhadap pasangan koefisien transformasi DCT terkuantisasi yang berada pada blok luminan dari beberapa makroblok (MB) yang terpilih dari video.
Pada skripsi ini, analisis dilakukan untuk melihat hubungan sifat perceptual invisibility dari -watermark dengan tingkat kepercayaan pendeteksian. Hal ini dilakukan karena salah satu ciri dari video watermarking yang efektif adalah memiliki sifat perceptual invisibility. Proses analisis didukung dengan simulasi yang dibuat menggunakan MATLAB versi 7.0.1. dan diujicobakan pada tiga buah video hitam-putih berukuran QCIF 176x144 pixel.
Berdasarkan hasil simulasi, ternyata parameter activity function (Ap) yang digunakan pada penyisipan harus dapat menyeimbangkan antara tetap dapat mendeteksi watermark dengan benar, yaitu dengan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, dengan tetap menjaga kualitas visualisasi dari video."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S40157
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Melvin Dearny
"Fenomena public display of affection (PDA) atau ekspresi romantis di ruang publik memicu berbagai reaksi sosial, terutama di masyarakat urban Indonesia yang menjunjung tinggi norma sosial. Dalam konteks ini, ruang publik menjadi ruang penting bagi individu untuk mengekspresikan keromantisan yang bersifat intim dan privat secara terbuka di ruang publik. Tulisan ini melihat bagaimana arsitektur dapat berperan secara inklusif dalam mewadahi ekspresi romantis serta menghadapi ketabuan sosial terkait ekspresi romantis di ruang publik. Untuk memamahi hal tersebut, tulisan ini mengacu pada teori space of intimacy oleh Charton & Boudreau (2017), teori proxemics oleh Edward T. Hall (1990), teori affordance oleh James J. Gibson (1979), dan teori taktik visibility dan invisibility oleh Brighenti (2007), serta teori pendukung lainnya. Melalui metode kualitatif, data dikumpulkan di dua tempat studi kasus melalui observasi lapangan dan wawancara di sepanjang hari baik hari kerja maupun akhir pekan. Tulisan ini memperlihatkan bahwa pasangan romantis menggunakan taktik spasial dan mengatur gestur tubuh untuk menciptakan space of intimacy mereka. Sementara itu, pengelola ruang publik merespons melalui strategi desain yang meningkatkan keterpantauan guna membatasi aktivitas-aktivitas yang dinilai melanggar batas norma. Dengan demikian, ruang publik menjadi ruang inklusif yang mampu memfasilitasi semua pengalaman, termasuk memfasilitasi perasaan intim bagi pasangan romantis.

The phenomenon of public display of affection (PDA) or romantic expression in public spaces provokes various social reactions, particularly in urban Indonesian communities that uphold strong social norms. In this context, public spaces serve as important arenas where individuals express intimate and private romantic gestures openly. This study examines how architecture can play an inclusive role in accommodating romantic expressions while also addressing the social taboos surrounding PDA in public. To explore this issue, the research draws on the theory of space of intimacy by Charton & Boudreau (2017), proxemics by Edward T. Hall (1990), affordance by James J. Gibson (1979), and Brighenti’s (2007) theory of visibility and invisibility tactics, along with other supporting theories. Using a qualitative method, data was collected from two case study locations through field observation and interviews conducted on both weekdays and weekends. The findings indicate that romantic couples employ spatial tactics and bodily gestures to create their own space of intimacy. Meanwhile, public space managers respond with design strategies that enhance surveillance in order to regulate activities perceived to violate social norms. Thus, public spaces become inclusive environments capable of accommodating diverse experiences, including the intimate emotional expression for romantic partners. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library