Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Farid Wajdi
"Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kualitas layanan di perpustakaan berdasarkan harapan dan persepsi pengguna. Penelitian dilakukan pada Perpustakaan IAIN Sultan Maulanan Hasanuddin Banten. Responden penelitian terdiri dari 20 dosen di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Metode pengukuran yang dilakukan adalah Libqual +TM, yaitu metode pengukuran kualitas layanan perpustakaan berdasarkan harapan dan persepsi pengguna. Empat variabel yang diukur dalam penelitian ini, yaitu (1) access to information (2) affect of service, (3) personal control, (4) library as place. Temuan penelitian menunjukan bahwa layanan Perpustakaan IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten secara umum belum memuaskan responden. Hal ini terlihat dari kesenjangan (gap) antara harapan minimum dan persepsi responden adalah -1,46 yang menunjukan bahwa adequacy gap berada dibawah batas toleransi (zone of tolerance). Sedangkan berdasarkan jenis layanan di perpustakaan, layanan sirkulasi memiliki adequacy gap -1.33, layanan internet -1,46 dan layanan referensi memiliki adequacy gap -1,57. Jadi seluruh jenis layanan yang ada di Perpustakaan IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten belum memuaskan responden. Aspek yang memerlukan perbaikan mendesak diantaranya adalah: (a) Fasililtas fisik perpustakaan, seperti meja, bangku, rak buku, AC dan kesediaan listrik yang memadai, baik untuk layanan referensi, sirkulasi maupun layanan internet (b) Jumlah komputer untuk layanan internet yang kurang memadai (c) Koleksi buku dan majalah yang kurang memadai, terutama koleksi referensi dan buku-buku terbitan terbaru (d) Tidak tersedianya ruang khusus diskusi yang nyaman (e) Kemampuan dan jumlah petugas yang masih terbatas dalam melayani pengguna, terutama dalam hal mengevaluasi informasi dan mencari informasi di internet (f) Kurangnya petunjuk yang memudahkan pengguna untuk menemukan informasi yang dicari.

The objective of this research is to measure the quality of library service in library based on expectation and user's perceived. This research was conducted in the Library of IAIN Sultan Maulan Hasanuddin Banten. Libqual +TM method was used that is quality of library service measurement based on user's expectation and user's perceived. There are for measured variables in this research those are (1) access to information (2) affect of service, (3) personal control, (4) library of place. The result shows that the quality of library service of IAIN Sultan Maulan Hasanuddin Banten is not satisfied the users. It shows from there is a gap between minimum expectation and their perceived about -1.46 and it means that adequacy gap is under zone of tolerance. Meanwhile, based on the service category in the library the adequacy gap of circulation service is -1.33, internet services is -1.46 and the adequacy gap of reference service is -1.57. So, for all service categories in the Library of IAIN Sultan Maulan Hasanuddin Banten were not satisfied to the users. From those findings, there are several aspect that still need improvement in meeting the users' demand including (a) library physical facility as table, desk, and bookcase, AC and sufficient electric for all reference services, circulation and internet services, (b) lack of computers in internet services, (c) book and magazine collections particularly for reference collections and the recent publication, (d) there is no particular comfortable space for discussion, (e) lack of staffs and their ability in giving service to the users, particularly in doing evaluation of the information and information searching on the internet, (f) lack of information direction to the user in searching the information needed."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2011
T28934
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dyah Ayu Giandhari
"Meskipun Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah meningkatkan akses layanan kesehatan di Indonesia, hambatan seperti ketimpangan fasilitas, keterbatasan tenaga kesehatan, dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan domestik masih terjadi. Hal ini mendorong sebagian masyarakat untuk mencari layanan kesehatan ke luar negeri, yang diperkirakan menyebabkan potensi kerugian devisa negara hingga Rp165 triliun per tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan jenis layanan kesehatan luar negeri berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Desain yang digunakan adalah kuantitatif potong lintang dan analisis bivariat. Dalam tiga tahun terakhir, medical check-up menjadi layanan yang paling banyak dipilih, disusul tindakan bedah dan pengobatan lainnya. Faktor predisposisi seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan tidak menunjukkan hubungan signifikan. Sebaliknya, faktor pendukung seperti kepemilikan jaminan kesehatan, kelengkapan fasilitas layanan, dan negara tujuan berobat memiliki hubungan yang signifikan. Faktor kebutuhan berupa riwayat penyakit tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap jenis layanan yang dipilih. Temuan ini mengindikasikan perlunya pengembangan layanan unggulan nasional berdasarkan jenis layanan yang diminati masyarakat, peningkatan mutu layanan preventif, penguatan integrasi layanan kesehatan, serta perluasan layanan berbasis wellness di dalam negeri.

Although the National Health Insurance (JKN) Program has improved access to healthcare services in Indonesia, barriers such as unequal distribution of facilities, limited healthcare personnel, and low public trust in domestic services still persist. These issues have encouraged some people to seek medical care abroad, which is estimated to result in a potential foreign exchange loss of up to IDR 165 trillion per year. This study aims to analyze the factors associated with the types of overseas healthcare services based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A cross-sectional quantitative design and bivariate analysis were used. In the past three years, medical check-ups were the most frequently chosen service, followed by surgical procedures and other treatments. Predisposing factors such as age, gender, marital status, education level, and employment status did not show significant associations. On the other hand, enabling factors such as health insurance ownership, completeness of service facilities, and the destination country showed significant associations. Need factors, such as disease history, were not significantly related to the type of service chosen. These findings indicate the need to develop national flagship services based on the types of care preferred by the public, improve the quality of preventive services, strengthen service integration, and expand wellness-based services within the country. "
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library