Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 111 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Florentinus Gregorius Winarno
Bogor: M-BRIO press, 2007
637 WIN s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ratu Nurchoiriah
"Skripsi ini membahas mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kebiasaan minum susu siswa kelas III A, III B dan IV di SDN Pondok Cina 1 Depok tahun 2009 dengan menggunakan faktor-faktor dari Teori Green. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain crossectional. Hasil penelitian ini yaitu dari faktor predisposisi (pengetahuan dan persepsi), hanya persepsi yang berhubungan secara bermakna dengan kebiasaan minum susu siswa. Dari faktor pemungkin/ enabling (Sarana-prasarana dan pekerjaan orang tua) menemukan bahwa tidak ada satupun faktor yang berhubungan secara bermak dengan kebiasaan minum susu siswa. Dari faktor penguat/reinforcing (anjuran), didapatkan faktor anjuran berhubungan secara bermakna dengan kebiasaan minum susu siswa SDN Pondok Cina 1, Depok tahun 2009."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rosi Femila
"Susu merupakan sumber protein essensial yang dibutuhkan bagi kelangsungan kehidupan manusia. Susu memiliki manfaat besar guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membentuk individu yang berkualitas baik. Namun saat ini kesadaran masyarakat akan manfaat susu masih kurang. Hal ini dibuktikan dari konsumsi susu orang Indonesia saat ini sangat rendah, yaitu sekitar dua gelas per orang setiap bulan atau rata-rata orang Indonesia hanya mengkonsumsi susu 9 liter per tahun.Tujuan umum dari penelitian ini aclalah mengidentiiikasi faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi susu di keluarga dalam pemenuhan kebutuhan protein essensial di Kelurahan Malaka Sari Jakarta Timur.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif konelasi dengan pendekatan metode cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah Kepala keluarga atau ibu rumah dan dipilih secara simple random sampling. Sampel berjumlah 110 orang yang tinggal di Kelurahan Malaka Sari Jakarta Timur. Analisis data menggunakan uji Chi Square.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara budaya dengan konsumsi susu (p vaIue=0,000). Tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan, pengetahuan, persepsi dan pendapatan keluarga dengan konsumsi susu value berturut-turut; 0,231; 0,500; 0,255; 0,500).

Milk as the resources of essential protein that needs for human viability. Milk has lots pf benefits to increase quality of human resources and creates good quality person. However community are lacking awareness about the benefits of milk. Nowadays milk consumption of people in Indonesia are still lower, it’s about two glass of milk per person every month or the average are 9 litres per year. The purpose of this research are to identified factors influence milk consumption in the family at Kelurahan Malaka Sari Jakarta Timur.
This research using descriptif correlation with cross sectional approach. Samples in this research are patriach family or housewife in the family, using simple random sampling method. The amount of sample are lil) responden who lives in Kelurahan Malaka Sari East Jakarta. Data analizing using Chi Square.
The results of this research there is relationship between cultural of the family with milk consumption (p vaIue=0,000). There are no relationship between education, knowledge, perception, and family eaming with milk consumption (p value are: 0,231; 0,500; 0,255 ; 0,500)
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
TA5802
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Lestari
"Selama ini, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa susu rendah laktosa atau susu bebas laktosa telah digunakan secara luas dalam masyarakat tanpa melihat sebab diare, dan derajat dehidrasi. Seperti diketahui, selain harga yang relatif mahal, laktosa merupakan sumber karbohidrat pada susu yang diperlukan bagi pertumbuhan terutama pada bayi dengan susu sebagai makanan utama. Laktosa juga berfungsi menambah absorpsi kalsium. Hasil pemecahan laktosa yaitu galaktosa berperan dalam memproduksi glikoprotein dan glikolipid yang berguna dalam perkembangan otak. Perlu dilakukan penelitian apakah setiap anak dengan diare akut harus mengganti susu formula.
Walaupun penelitian meta-analisis telah dilakukan oleh Brown dkk15 namun penelitian secara langsung membandingkan susu formula yang mengandung laktosa dan susu formula yang tidak mengandung laktosa pada tata laksana diare akut tanpa dehidrasi atau dehidrasi ringan-sedang pada pasien rawat jalan belum ada di Indonesia.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini adalah :
1. Apakah setiap anak usia 6 - 24 bulan dengan diare akut memerlukan penggantian susu formula lanjutan menjadi susu formula bebas laktosa?
2. Bagaimana efek susu formula bebas laktosa terhadap lama diare dibandingkan dengan susu formula lanjutan?
3. Bagaimana efek susu formula bebas laktosa terhadap frekuensi diare dibandingkan dengan susu formula lanjutan?
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan umum
Untuk membandingkan efek pemberian susu formula bebas laktosa dibandingkan susu formula lanjutan terhadap perjalan klinis diare akut pada anak usia 6 - 24 bulan di Unit Rawat Jalan Departemen IKA FKUIRSCM, Jakarta dan Unit Gawat Darurat Anak RSCM, Jakarta.
Tujuan khusus
Tujuan khusus utama
Untuk membandingkan efek susu formula bebas laktosa dan susu formula lanjutan terhadap lama dan frekuensi diare akut pada anak usia 6 - 24 bulan di Unit Rawat Jalan Departemen IKA FKUI-RSCM, Jakarta dan Unit Gawat Darurat Anak RSCM, Jakarta.
Tujuan khusus tambahan
Mengetahui efek pemberian susu formula bebas laktosa dan susu formula lanjutan pada diare akut terhadap kegagalan terapi."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21348
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia , 2008
612.664 BED
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Adhie Nur Radityo S
"Latar Belakang: Air susu ibu (ASI) merupakan asupan yang direkomendasikan pada semua bayi baru lahir. ASI pada bayi yang menjalani perawatan intensif diberikan dalam bentuk ASI perah (ASIP). Akan tetapi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa serangkaian proses persiapan ASIP merupakan sumber kontaminasi dan penularan infeksi. Infeksi pada bayi baru lahir merupakan salah satu masalah serius yang belum terpecahkan dalam perawatan bayi baru lahir, termasuk pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Meskipun alur pengelolaan ASIP yang digunakan sudah sesuai dengan standar WHO, belum pernah dilakukan evaluasi terhadap kejadian kontaminasi ASIP sebelumnya.
Tujuan: Mengetahui angka kejadian kontaminasi ASIP di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Metode: Dilakukan penelitian potong lintang terhadap 60 sampel ASIP di divisi Neonatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada bulan Desember 2018 hingga Januari 2019. Sampel penelitian merupakan ASIP yang didapatkan dari proses pemerahan oleh ibu dengan bayi yang dirawat di ruang perawatan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSCM. Ibu dengan riwayat penyakit yang menular lewat ASI, mengalami mastitis, atau sedang mengonsumsi antibiotik dan probiotik dieksklusi dari penelitian. Dilakukan pemeriksaan kultur terhadap ASIP sebanyak dua kali yaitu pertama kali maksimal dua jam setelah ASI diperah dan kedua kali setelah disimpan di lemari pendingin dengan suhu <4oC selama 48 jam, selesai dilakukan pemrosesan dan siap diberikan pada bayi.
Hasil: Didapatkan hasil angka kontaminasi ASIP di NICU RSCM adalah sebesar 66,67%. Profil kuman terbanyak sebagai kontaminan ASIP di NICU RSCM adalah Staphyloccocus epidermidis (ASIP setelah diperah 46,7%, ASIP sebelum pemberian 40%), Acinetobacter baumanii (ASIP setelah diperah 18,3%, ASIP sebelum pemberian 16,7%) dan Staphylococcus haemolyticus (ASIP setelah diperah 13,3%, ASIP sebelum pemberian 6,7%). Faktor risiko yang berpengaruh terhadap kontaminasi ASIP di NICU RSCM diantaranya adalah tindakan cuci tangan ibu sebelum memerah ASI dan penggunaan masker oleh petugas saat memproses ASIP untuk bayi.

Background: Breast milk is the recommended nutrient for every newborn. Newborn in neonatal intensive care unit is also provided in form of expressed breast milk. However, various studies have shown that expressed breast milk preparation is prone to contamination and infection transmission. Infection in newborn is a serious problem which has not been solved in newborn care, including in Cipto Mangunkusumo National Hospital (CMH). In spite of its expressed breast milk process correspond with World Health Organization guideline, evaluation has never been thouroughly done for expressed breast milk contamination rate.
Objective: To investigate expressed breast milk contamination rate in Cipto Mangunkusumo National Hospital and its affecting factors
Method: Cross sectional study was done to 60 expressed breast milk samples in Neonatology division, Child Health Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia (FKUI) - Cipto Mangunkusumo National Hospital (CMH) on December 2018 to January 2019. Samples for the study were expressed breast milk taken from mother whose baby was admitted to Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of CMH. Mothers with breast milk transmission infection, having mastitis, or consuming antibiotic or probiotic were excluded from the study. Culture from samples was done two times, the first time was at maximum of two hours after breast milk was expressed and the second time was after the breast milk had been stored in freezer with temperature below 4o Celsius for 48 hours, processed, and ready to be taken by newborn.
Result: It is shown that the contamination rate of expressed breast milk in NICU of Cipto Mangunkusumo Hospital was 66,67%. Most prevalent bacteria for expressed breast milk contaminant were Staphylococcus epidermidis (1st sampling 46,7% , 2nd sampling 40%), Acinetobacter baumanii (1st sampling 18,3%, 2nd sampling 16,7%), and Staphylococcus haemolyticus (1st sampling 13,3%, 2nd sampling 6,7%). Risk factors affecting expressed breast milk contamination in NICU of Cipto Mangunkusumo Hospital were mother handwashing before breast milk expression and the use of mask for officers processing expressed breast milk.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T57676
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farida I. Tjahjadi
"Pada beberapa daerah di Indonesia, secara tradisional dianjurkan pada ibu menyusui untuk mengkonsumsi daun Katu (Sauropus androgynus (L.) Merr.) dan daun Papaya (Carica papaya L.) dalam usaha meningkatkan produksi air susu ibu. Namun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah pada manusia.
Sehubungan dengan itu, telah dilakukan penelitian pengaruh konsurnsi daun Katu dan daun Papaya terhadap volume, konsentrasi vitamin A dan protein air susu ibu selama 7 hari berturut-turut. 45 orang ibu menyusui dari kabupaten Bogor (rural), yang 1-3 bulan setelah melahirkan dibagi dalam 3 kelompok secara acak dengan stratifikasi (stratified randomly assigned), yaitu kelompok Katu, Papaya dan Kontrol. Setiap kelompok terdiri dari 15 orang ibu menyusui. Kelompok Katu dan Papaya masing-masing mengkonsumsi 400 gram daun Katu dan 300 gram daun Papaya berupa sayur selain makanan mereka sehari-hari, sedangkan kelompok Kontrol tidak mendapat tambahan tersebut. Untuk seleksi subjek dilakukan pengukuran antropometrik dan pemeriksaan fisik terhadap ibu dan bayinya, serta pemeriksaan Hb ibu (Hb>10gr%). Berdasarkan penelitian pendahuluan, respons tertinggi yang diamati selama 7 hari penelitian adalah pada hari terakhir penelitian (ke - 7).
Intake ibu sebelum dan pada hari terakhir penelitian dicatat dan dihitung selama 24 jam (dietary recall) untuk 2 hari berturut-turut. Volume, konsentrasi vitamin A dan protein air susu ibu diteliti sehari sebelum dan pada hari terakhir penelitian.
Pada hari terakhir penelitian, volume air susu ibu meningkat secara bermakna pada kelompok Katu (P=0.000) dan kelompok Papaya (P=0,002) dibandingkan dengan kelompok Kontrol. Peningkatan tertinggi adalah pada kelompok Katu, tetapi tidak berbeda bermakna dengan kelompok Papaya (P=0.129). Peningkatan volume ini mempunyai korelasi secara bermakna dengan intervensi yang dilakukan, dan rupanya hal ini disehabkan oleh peningkatan intake vitamin A ibu (P=O.0001). Tetapi tidak mempunyai korelasi baik dengan peningkatan intake energi maupun dengan peningkatan intake protein (P=0,5796 dan P=0,8539).
Konsentrasi vitamin A air susu ibu juga meningkat secara bermakna pada kedua kelompok treatment dibandingkan dengan kelompok Kontrol (P=0.028 untuk kel. Katu dan P=0,003 untuk kel. Papaya). Peningkatan tertinggi diamati pada kelompok Papaya tetapi tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok Katu (P=0,241). Total vitamin A air susu ibu dalam 24 jam juga meningkat karena peningkatan volume pada kedua kelompok treatment dibandingkan dengan kelompok Kontrol (P=0,002 untuk kelompok Katu dan P=0,001 untuk kelompok Papaya).
Tidak tampak adanya perbedaan secara bermakna pada konsentrasi protein air susu ibu pada hari terakhir peneitian pada ketiga kelompok (P=0.7607). Namun total protein air susu ibu dalam 24 jam meningkat secara bermakna karena peningkatan volume pada kelompok Katu. Ternyata pula bahwa tidak ada korelasi bermakna antara peningkatan konsentrasi protein air susu ibu dengan peningkatan intake protein ibu (P=0,3433).
Hasil peneitian ini menunjukkan bahwa konsumsi daun Katu dan daun Papaya oleh ibu menyusui dapat meningkatkan produksi dan konsentrasi vitamin A air susu ibu secara bermakna, tetapi tidak meningkatkan konsentrasi proteinnya. Walaupun demikian total protein air susu ibu daam 24 jam meningkat secara bermakna pada kelompok Katu karena peningkatan volume air susu ibu. "
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Recently national milk production has not met the domestic consumption due to slow development of dairy cattle agribusiness. That is why the dairy cattle agribusiness needs to be developed to fulfill national milk consumption. Limited milk production is due to small dairy cattle agribusiness scale, low milk production capacity, and cheap selling price that is not equal to the relatively high production cost leading to low farmers' low income. In dairy cattle agribusiness the farmers are integrated with the milk-oriented cooperatives that play important role in the development of dairy cattle agribusiness. To encourage the development of dairy cattle agribusiness it is necessary to empower the cooperatives in order to improve agribusiness scale, to enhance milk production capacity, and to lower the production cost. Cooperatives empowerment is conducted through provision of improved female dairy cattle, high quality of concentrate at affordable price, and better management of the cooperatives."
FOPEAGE
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Klassen, Julie
Minneapolis: Bethany House Publishers, 2007
813.6 Kla l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>