Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 53 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Zhuisa Martiara Sari
"ABSTRAK
Emas (Au) merupakan salah satu logam transisi yang dapat dimanfaatkan
sebagai agen terapi, khususnya agen antikanker. Dendrimer merupakan
makromolekul yang banyak digunakan sebagai pembawa nanopartikel.
Nanopartikel emas dibuat dengan pembawa dendrimer Poliamidoamin (PAMAM)
generasi 4 (G4) pada berbagai rasio mol Au : dendrimer. Penelitian ini bertujuan
membuat nanopartikel emas dengan dendrimer PAMAM G4 (nanogold-PAMAM
G4) pada rasio mol Au : dendrimer (1 : 0,7), (1 : 0,07) dan (1 : 0,007). Nanogold-
PAMAM G4 dipisahkan dengan metode ultrasentrifugasi dengan kecepatan
50.000 rpm selama 45 menit pada suhu 4ºC. Karakterisasi fisikokimia nanogold-
PAMAM G4 dilakukan menggunakan TEM, PSA, FTIR, Spektrofotometer UVVis
dan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan
ukuran partikel nanogold-PAMAM G4 berada pada rentang 1,83 ± 0,58 - 24,53 ±
13,30 nm. Hasil karakterisasi nanogold-PAMAM G4 menunjukkan partikel
cenderung stabil (indeks polidispersitas = 0,457 dan 0,422) dan efisiensi
penjerapan dendrimer PAMAM G4 antara 51,44% - 94,15%. Nanogold-PAMAM
G4 (1 : 0,07) memberikan hasil yang paling optimal dengan efisiensi penjerapan =
94,15%.

ABSTRACT
Gold (Au) is one of transition metals that can be used as therapeutic agents,
especially anticancer agents. Dendrimer is one of the macromolecul that usually used
as nanoparticle carrier. Gold nanoparticles with dendrimer Polyamidoamine
(PAMAM) G4 carrier are made at different molar ratio of Au: Dendrimer. The aims
of the research are made a preparation of gold nanoparticles with dendrimer
PAMAM G4 (nanogold-PAMAM G4) on the molar ratio Au: dendrimer (1: 0,7), (1:
0,07) and (1: 0,007). Purification of nanogold-PAMAM G4 using ultrasentrifuge
method in 50.000 rpm during 45 minutes with temperature 4ºC. Physicochemical
characterization of nanogold-PAMAM G4 performed using TEM, PSA, FTIR, UVVis
Spectrophotometer and Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The
results show that the particle size of nanogold-PAMAM G4 between 1,83 ± 0,58 -
24,53 ± 13,30 nm. The results of the characterization nanogold-PAMAM G4 show
stable particles (polydispersity index = 0.457 and 0.422) and entrapment efficiency
dendrimer PAMAM G4 of 51,44% - 94,15%. Nanogold-PAMAM G4 (1: 0,07) give
the most optimal result with entrapment efficiency = 94.15%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43349
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Made Manik Savitri Narayani
"ABSTRAK
Dalam penelitian ini telah dibuat biosensor berbasis nanopartikel emas dan enzim alkohol oksidase untuk mendeteksi formaldehida dan diuji kinerjanya. Struktur biosensor terdiri dari nanopartikel emas yang ditumbuhkan di atas substrat Indium Tin Oksida (ITO), kemudian dilapisi membran poly-n-butyl acrylic-co-N-acryloxysuccinimide (nBA-NAS) dan enzim Alkohol Oksidase (AOX). Parameter kinerja biosensor diukur dari nilai serapan optik lapisan membran poli(nBA-NAS) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Biosensor formaldehida menunjukkan keseragaman hasil yang baik dengan RSD=1,8% untuk serapan chromoionophore dan RSD=3,1% untuk serapan nanopartikel emas (n=3), serta kemampuan pemakaian ulang dengan RSD=3,3% untuk serapan chromoionophore dan RSD=1,3% untuk serapan nanopartikel emas (n=4). Biosensor formaldehida memiliki masa pakai hingga 21 hari dan selektif terhadap adanya gangguan oleh analit yang memiliki gugus berdekatan dengan formaldehida yaitu asetaldehida dan methanol.

ABSTRACT
This research has been made Gold Nanoparticle and Alcohol Oxidase Enzyme based Biosensor for the detection of formaldehyde and tested performance. The structure consists of a gold nanoparticle biosensor which is grown on the substrate Indium Tin Oxide (ITO), then coated by membrane of poly-n-butyl acrylic-co-N-acryloxysuccinimide (nBA-NAS) and the enzyme Alcohol Oxidase (AOX). Biosensor performance parameters measured by the value of the optical absorption layer membrane of poly(nBA-NAS) using UV-Vis spectrophotometer. The results showed that gold nanoparticles have proven to increase the absorption intensity of the optical biosensor. Biosensor formaldehyde showed good reproducibility with RSD=1,8% for absorption of chromoionophore and RSD=3,1% for absorption of gold nanoparticle (n=3), and repeatability with RSD=3,3% for absorption of chromoionophore and RSD=1,3% for absorption of gold nanoparticle (n=4). Biosensor formaldehyde have a life time of up to 21 days and selective against interference by analyte which has similar chemical formula with formaldehyde, that are acetaldehyde and methanol."
2016
S64335
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwika Yudhistira
"ABSTRAK
Nanopartikel emas atau dikenal juga sebagai koloid emas adalah nanopartikel yang menggunakan emas sebagai intinya. Pada penelitian ini pembuatan nanopartikel emas dilakukan dengan cara mereduksi ion Au dengan kurkumin sebagai reduktornya kemudian ditambah natrium sitrat sebagai penstabilnya (stabilizer). Tujuan dari penelitian ini adalah membuat konjugat nanopartikel emas kurkumin serta mengatahui karakteristiknya. Pembuatan dilakukan dengan mereaksikan kurkumin dengan HAuCl4 kemudian ditambah dengan natrium sitrat. Hasil Spektrofotometri UV-VIS menunjukkan serapan konjugat nanopartikel emas kurkumin beraada pada daerah panjang gelombang 529.5-534.5 nm. Ukuran partikel yang dihasilkan berdasarkan pengujian menggunakan alat Partcle Size Analyzer yaitu 59.62 nm dengan bentuk partikel sferis. Hasil uji stabilitas yang dilakukan selama 3 minggu di berbagai medium seperti PBS pH 7.4, PBS pH 7.4 ditambah 0.05% BSA, dan Sistein 0.2M menunjukan ketidakstabilan secara serapan. Namun, di dalam medium DI Water menunjukan ke stabilan serapan.

ABSTRAK
Gold Nanoparticles also known as gold colloid is a nanoparticle which used gold as the core. In this research, Au Ion will be reduced by Curcumin as its reductor and also added Sodium Citrate as stabilizer. The goal of this research were to syntesize the curcumin gold conjugated nanoparticle and determine its characteristic. From this research, the spectrometric wavelength range obtained was 529,5 ? 534,5 nm. The particles obtained were measured by Particle Size Analyzer (PSA) shows that it has spherical form with 59,62 nm diameter. The stability test was done in three weeks using four mediums e.g. Phosphate Buffer Saline pH 7,4, Phosphate Buffer Saline pH 7,4 plus 0,05% Bovine Serum Albumin, Cystein, and Deionezed Water. The Deionized Water showed stability in whereas other medium showed unstability.
"
2016
S64992
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marina Dwi Hafshari
"Nanopartikel emas AuNP dikembangkan sebagai penghantaran obat tertarget yang efektif karena mudah disintesis, tidak toksik, dan memiliki sifat permukaan yang mudah dimodifikasi. Namun, nanopartikel emas bersifat tidak stabil karena mudah beragregasi. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan agen penstabil dalam sintesis nanopartikel emas.Tujuan penelitian ini adalah melakukan pembuatan AuNP menggunakan polivinil alkohol PVA untuk mendapatkan nanopartikel emas yang stabil. Nanopartikel emas disintesis menggunakan metode Turkevich, yaitu mereaksikan HAuCl4 dengan natrium sitrat sebagai reduktor dan menambahkan polivinil alkohol PVA sebagai stabilisator. AuNP-PVA yang terbentuk dikonjugasikan dengan resveratrol RSV, sebagai model obat dalam sistem pembawa. Kemudian, dilakukan karakterisasi menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, FTIR, PSA dan juga dilakukan uji stabilitas di berbagai medium BSA 2, Sistein 1, PBS pH 4, PBS pH 7,4 dan NaCl 0,9 selama 28 hari.
Hasil penelitian menunjukkan ukuran partikel dari RSV-AuNP-PVA sebesar 78,75 nm dengan indeks polidispersitas 0,356 dan nilai zeta potensial -36,1 mV. Hasil efisiensi penjerapan resveratrol yaitu 78,15 0,75. Sementara RSV-AuNP menghasilkan ukuran partikel sebesar 51,97 nm, indeks polidispersitas 0,694 dan nilai zeta potensial -24,6 mV. Hasil uji stabilitas di berbagai medium menunjukkan bahwa RSV-AuNP-PVA stabil dalam medium BSA 2 ,PBS pH 7.4,PBS pH 4, NaCl 0,9, namun tidak stabil dalam medium sistein 1. Sementara RSV-AuNP lebih stabil dalam BSA 2, PBS pH 7,4 dan tidak stabil dalam sistein 1, PBS pH 4 dan NaCl 0,9. Stabilisasi konjugatRSV-AuNPdengan menggunakan PVA dapat meningkatkan stabilitas fisiknya.

Gold nanoparticles AuNP were developed as effective targeted drug delivery because theyare easily synthesized, non toxic, and had easily modified surface properties. However, gold nanoparticles are unstable because they are easy to aggregate. Therefore, it is necessary toadd stabilizing agent in the synthesis of gold nanoparticles to prevent aggregation. The purpose of this research was to make AuNP using polyvinyl alcohol PVA to obtain stable gold nanoparticles. The gold nanoparticles were synthesized using the Turkevich method, which reacted HAuCl4 with sodium citrate as reductor, then modified by the addition of polyvinyl alcohol PVA as stabilizing agent. Furthermore, it was conjugated with resveratrol RSV as a drug model in the carrier system. The forming conjugates were characterized by UV Vis Spectrophotometer, FTIR, PSA, and HPLC. Stability test was also performed in various medium BSA 2, cysteine 1, PBS pH 4, PBS pH 7.4 and NaCl 0.9 for 28 days.
The results showed that RSV AuNP PVA had particle size 78.75 nm with polydispersity index 0.356, zeta potential at 36.1 mV, and highest entrapment efficiency of78,15 0,75. As a comparison, RSV AuNP without PVA stabilization had particle size 51.97nm with polydispersity index 0.694 and zeta potential at 24.6 mV. The results of the stability test on various medium showed that RSV AuNP PVA were more stable in BSA 2, PBS pH7.4, PBS pH 4 and NaCl 0.9 and unstable in cysteine 1. On the other hand, RSV AuNP were more stable in BSA 2, PBS pH 7.4 and unstable in cysteine 1, PBS pH 4 and NaCl 0.9. The results suggest that the stabilization RSV AuNP by using PVA can improve the physical stability.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dawami Arijan
"Nanopartikel emas (AuNP) merupakan salah satu jenis nanopartikel yang banyak dikembangkan dalam pemanfaatannya di bidang biomedis. Berbagai metode telah diciptakan dalam proses fabrikasi AuNP. Dari berbagai metode tersebut didapatkan berbagai variasi jenis, bentuk, dan ukuran AuNP. Salah satu jenis nanopartikel emas yang cukup mendapat perhatian adalah AuNP berpori. Nanomaterial berpori memiliki perbandingan rasio volume dan luas permukaan yang tinggi juga volume pori yang besar sehingga banyak diteliti dalam berbagai aplikasi teknologi termasuk sistem penghantaran obat. Review kali ini membahas proses sintesis AuNP berpori secara cepat dan sederhana melalui berbagai metode seperti kimia basah, sacrificial template, green synthesis, filtrasi vakum, dan galvanic replacement. Dari proses sintesis nanopartikel emas berpori, dihasilkan ukuran partikel bervariasi antara 17,1-1000 nm dengan berbagai bentuk dengan kestabilan yang baik. Review ini menunjukkan bahwa nanopartikel emas berpori yang disintesis dengan sederhana dan cepat cenderung stabil untuk digunakan dalam berbagai jenis aplikasi.

Gold nanoparticles (GNP) are a type of nanoparticle that has been widely developed for use in the biomedical sector. Various methods have been found in the GNP fabrication process. From these various methods, various types, shapes and sizes of GNP were obtained. One type of gold nanoparticle that has received considerable attention is porous GNP. Porous nanomaterials have high volume and surface area ratios as well as large pore volumes so that they are widely studied in various applications including drug delivery systems. This review discusses the quick and simple synthesis process of porous GNP through various methods such as wet chemical, sacrificial template, green synthesis, vacuum filtration, and galvanic replacement. From the synthesis process of porous gold nanoparticles, the particle sizes varied between 17.1-1000 nm with various shapes with good stability has been produced. This review demonstrates that simple and fast synthesized porous gold nanoparticles are likely to be stable for use in a wide variety of applications."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silviana Rezki Umami
"ABSTRAK
Perkembangan nanopartikel emas dalam aplikasi biomedis sangat menjanjikan karena nanopartikel emas dapat digunakan sebagai pembawa obat yang bersifat selektif dan spesifik terhadap organ atau jaringan yang ditargetkan. Nanopartikel emas mudah disintesis melalui berbagai metode, dapat disesuaikan bentuk dan ukurannya, serta mudah dikarakterisasi. Artikel ini menyajikan ulasan mengenai sintesis nanopartikel emas yang berfokus pada mekanisme sintesis dengan metode reduksi kimia dan metode fotoreduksi yang diinduksi laser femtosecond, faktor-faktor yang berpengaruh, dan secara singkat menguraikan aplikasi biomedis nanopartikel emas. Metode reduksi kimia yang dibahas yaitu metode Turkevich, sintesis dengan NaBH4, dan metode Brust-Schiffrin. Metode reduksi kimia mudah dan sederhana untuk dilakukan, namun bahan kimia yang digunakan dapat bersifat toksik dan tidak ramah lingkungan. Metode fotoreduksi yang diinduksi laser femtosecond bebas dari bahan kimia dan dapat menghasilkan nanopartikel emas dengan ukuran dan bentuk yang dapat disesuaikan. Penulis berharap dapat membantu peneliti di bidang nanoteknologi untuk menentukan metode sintesis nanopartikel emas yang paling sesuai.

ABSTRACT
The development of gold nanoparticles in biomedical applications is very promising because gold nanoparticles can be used as selective and specific drug carrier to the targeted organ or tissue. Gold nanoparticles are easily synthesized by various methods, can be tuned its shape and size, and easily characterized. This acticle presents a review of the synthesis of gold nanoparticles which focuses on the mechanism of chemical reduction method and femtosecond laser-induced photoreduction method, influential factors, and briefly describes the biomedical application of gold nanoparticles. The chemical reduction methods discussed are the Turkevich method, synthesis with NaBH4, and the Brust-Schiffrin method. Chemical reduction methods are easy and simple to do, but the chemicals used can be toxic and not environmentally friendly. The femtosecond laser-induced photoreduction method is free of chemicals and able to synthesize gold nanoparticles with tunable size and shape. The author hopes to help researchers in the field of nanotechnology to choose the most appropriate method.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azhoma Gumala
"ABSTRAK
Nanopartikel emas telah diteliti untuk sistem penghantaran tertarget obat sitotoksik.
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil karakterisasi dan biodistribusi dari
konjugat trans-resveratrol-PEG-Asam Folat-Nanopartikel Emas. Nanopartikel emas
disintesis dengan reduksi HAuCl4 menggunakan natrium sitrat. Nanopartikel emas
dikonjugasikan dengan PEG-FA dan resveratrol membentuk konjugat resveratrol-PEGAsam Folat-Nanopartikel Emas (rsv-PEG-FA-AuNP). Karakterisasi konjugat rsv-PEG-FAAuNP dilakukan dengan pengukuran partikel, zeta potensial, FTIR, UV, dan TEM. Studi biodistribusi pada tikus Sprague Dawley betina sehat dilakukan setelah 90 menit pemberian injeksi konjugat rsv-PEG-FA-AuNP melalui vena ekor. Hasil karakterisasi rsv-PEG-FAAuNP diperoleh nilai diameter rata-rata nanopartikel dan zeta potensial rsv-PEG-FA-AuNP 249,03 ± 10,31 nm dan -36,33 ± 3,12 mV. Pada uji biodistribusi ditemukan konjugat rsv-PEG-FA-AuNP di ginjal (1,90 ± 0,20 μg/g) dan limfa (2,65 ± 1,18 μg/g) setelah 90 menit pemberian iv, namun resveratrol bebas tidak ditemukan di darah, ginjal, dan limfa setelah 90 menit pemberian iv. Konjugat rsv-PEG-FA-AuNP pada sirkulasi sistemik ditemukan pada waktu yang lebih lama dibandingkan dengan resveratrol bebas dan distribusinya tersebar pada organ otak, ginjal, limpa, hati, dan paru.

ABSTRACT
Gold nanoparticles had been studied for active targeting purpose of cytotoxic agent. This study was presenting the result of characterization and biodistribution of trans resveratrol-PEG-Folic Acid-Gold Nanoparticle conjugates rsv-PEG-FA-AuNP. Gold nanoparticles were generated by reduction of HAuCl4 using sodium citric. Rsv-PEG-FA-AuNPs were produced by conjugation of gold nanoparticles with PEG-folic acid and resveratrol.
Characterization of rsv-PEG-FA-AuNP conjugates were held by examination of particle size, zeta potential, FTIR, and TEM. Biodistribution study in female Sprague-Dawley rats conducted after 90 minutes i.v tail vein delivery of rsv-PEG-FA-AuNP conjugates. The mean particle size and zeta potential of rsv-PEG-FA-AuNP were 249.03 10.31 and -36.33
3.12 respectively. Transmission electron microscopy showed almost spherical shape of rsv-PEG-FA-AuNP conjugates. Rsv-PEG-FA-AuNP conjugates were found in kidney 1.90 0.20 μg/g and spleen 2.65 1.18 μg/g after 90 minutes i.v. delivery in female Sprague-Dawley rats. Resveratrol-PEG-FA-AUNP conjugates have longer systemic circulation than free resveratrol and restrained throughout brain, spleen, kidney, lung, and liver after distribution.
"
2019
T54536
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Stephanie Ong
"Kacip Fatima merupakan tanaman yang berasal dari butan tropis Asia Tenggara,
tennasuk Indonesia. Tanaman dengan nama lain Labisia pumila ini memiliki nilai
fenol sebesar 5.454,301100 gram. Kacip fatima dapat digunakan sebagai pereduksi
dalam pembuatan nanopartikel emas. Nanopartikel emas dapat disentesis dengan
metode green synthesis terbukti Iebih aJnan untuk penggllnaan dan lingkungan.
Kandungan fenol pada tanaman kacip fatima dapat memberi keuntungan lain
sebagai anfiaging. Aging sendiri dapat diatasi dengan penggunaan kosmetik, salah
satunya masker, khususnya masker peel-off .Dilakukan pengujian antiglikasi
untuk menghitung persen inhibisi pembentukan Advance Glycation End Products
(AGEs), dimana AGEs sendiri merupakan Salall satu pemicll proses aging yang
menyebabkan timbulnya tanda penuan dini . Hasil pengujian glikasi dilakllkan
untuk menentukan kadar yang sesuai untuk menghambat pembentukan AGEs.
Digunakan dua sample dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu sediaan masker
peel-off dengan konsentrasi 10% memiliki daya inhibisi terhadap AGEs sebesar
64,432±25,651 % dan sediaan masker peel-off dengan kandungan nanopartikel
emas 20% memiliki daya inhibisi sebesar 94,691±30,444%"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
T57590
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raihan Khairunnisa
"ABSTRAK
Polihdedral AuNP banyak menarik perhatian para peneliti karena memiliki sifat unik yang berasal dari facet dan sharp edges. Telah dilaporkan bahwa sharp edges yang dimiliki oleh nanopartikel dapat dengan secara signifikan meningkatkan medan listrik, sehingga berpotensi untuk diaplikasikan pada surface-enchanced Raman scattering, sensor kimia dan biologi serta pembuatan nanodevices. AuNP bentuk oktahedron adalah salah satu dari polihedral Au NP yang memiliki sharp edges dan memiliki delapan facet {111} sehingga memiliki stabilitas maupun medan elektromagnetik yang tinggi. Telah dilakukan sintesis AuNP berbentuk oktahedron melalui pemanfaatan efek synergic yang dimiliki oleh cetytrimethylammonium vinyl benzoate (CTAVB) dan HCl serta penambahan zat aditif erak nitrat (AgNO3) sebagai facet blocking agent. Pada seed yang berbentuk single crystal, AgNO3 memiliki kecenderungan untuk teradsoprsi lebih kuat pada facet {100} karena memiliki surface energy yang lebih tinggi dibandingkan dengan facet {111}. Namun pada penelitian ini, AgNO3 dilaporkan teradsorpsi dengan kuat pada facet {111} karena facet {100} telah diisi CTAVB. Hal ini akan menekan laju pertumbuhan partikel pada facet {111} dan pertumbuhan partikel pada facet {100} lebih dominan sehingga akan menghasilkan AuNP berbentuk oktahedron sebagai produk akhir. Beberapa parameter yang telah dilakukan dalam sintesis nanopartikel ini adalah konsentrasi AgNO3, temperatur serta waktu reaksi. Variasi konsentrasi AgNO3 yang digunakan adalah 1%; 0.75%; 0.5% dengan variasi suhu 30 ºC dan 40 ºC. Pengamatan dilakukan sejak pembentukan partikel dan setiap 24 jam berikutnya. Hasil TEM dan SEM menunjukan hasil AuNP berbentuk oktahedron yang cukup baik dan seragam pada variasi AgNO3 0.75% di temperatur 30 ºC pada hari ke-6. Variasi 1% menghasilkan bentuk oktahedron yang rounded dengan ukuran kecil, variasi AgNO3 0.5% menghasilkan partikel berukuran paling besar dengan tingkat polidispersitas paling tinggi.

ABSTRACT
Polyhedral AuNP attracts many researchers because it has a distinctly sharp and inherent characteristic. It has been reported that the sharp angles possessed by nanoparticles can significantly increase the electric field which allows for many applications, such as, surface-enchanced Raman scattering, chemical and biological sensors and manufacture for nanodevices. Synthetis of AuNP has been performed through the use of synergic effects possessed by cetytrimethylammonium vinyl benzoate (CTAVB) and HCl and addition of silver nitrate additive (AgNO3) as a facet blocking agent. In single-crystalline seeds, AgNO3 has a tendency to be more adsorbed on the {100} surface because it has a higher surface energy compared to the {111} facet. However, in this study, AgNO3 was reported to be strongly adsorbed on facet of {111} because the {100} facet was already filled with CTAVB. This will suppress the particle growth rate of the {111} facets and the growth on {100} facets were more dominant resulting in an octahedral shape as a final product. Some parameters that have been varied in this nanoparticle synthesis are AgNO3 concentration, temperature and reaction time. Variations of AgNO3 concentration used in this synthesis were 1%; 0.75%; 0.5% relative to Au precursors with temperature variation of 30 º C and 40 º C. Monitoring through visual colorimetric show that a pink color was formed after 24 hours and intensified with time. The TEM and SEM measurements showed that the optimum condition for obtaining monodisperse octahedral AuNP was when the concentration of AgNO3 at 0.75%, temperature of 30 ºC, and 6 days of reaction time. Variations 1% resulted in octahedron with slightly rounded edges and smaller size. More polydisperse and bigger particle size was formed when the concentration of AgNO3 0.5%."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Priska Kinanti Idris
"ABSTRAK
Nanopartikel emas memiliki banyak kelebihan yaitu bersifat inert, biokompatibel, dan non-sitotoksik, serta memiliki kapasitas muatan obat yang tinggi dan mudah mencapai sel target karena ukurannya yang kecil dan luas permukaannya yang besar. Metode pembuatan nanopartikel emas yang telah dikembangkan kebanyakan menggunakan bahan kimia yang berbahaya sehingga perlu adanya pengembangan metode sintesis nanopartikel yang bersifat ramah lingkungan (green shynthesis), salah satunya dengan menggunakan tanaman yaitu ekstrak sidaguri (Sida rhombifolia Linn.). Peran dari nanopartikel emas salah satunya sebagai agen antiglikasi karena memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses glikasi, yaitu reaksi awal dari pembentukan Advanced glycation end products (AGEs) yang merupakan salah satu faktor penyebab penuaan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiglikasi nanopartikel emas yang disintesis secara green synthesis menggunakan ekstrak sidaguri sebagai antiaging. Nanopartikel emas dibuat dengan menggunakan metode green synthesis, dimana ion Au3+ dalam larutan HAuCl4 direduksi menjadi Au netral (Au0) menggunakan reduktor yang terdapat dalam ekstrak sidaguri. Nanopartikel yang dihasilkan dikarakterisasi dengan analisis spektrofotometer UV-Vis, particle size analyzer (PSA), dan nilai zeta potensial. Uji antiglikasi dilakukan menggunakan metode meenatchi dan spinola, yaitu mengukur persen inhibisi/hambatan pembentukan AGEs, yang merupakan hasil dari reaksi glikasi Bovine serum albumin (BSA) dengan fruktosa, oleh sampel uji nanopartikel emas, ekstrak sidaguri, dan aminoguanidin sebagai kontrol positif. Berdasarkan analisis spektrofotometer UV-Vis didapatkan serapan pada panjang gelombang maksimum (λmaks) 535,4 nm sebesar 0,663. Uji PSA menunjukkan diameter rata-rata partikel sebesar 49,7 nm dengan indeks polidispersitas (PDI) 0,378. Nilai zeta potensial nanopartikel emas tersebut adalah -31,6 mV. Nilai persen inhibisi nanopartikel emas, ekstrak sidaguri, dan aminoguanidin secara berurutan adalah 83,872%, 35,006%, dan 79,793%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nanopartikel emas yang terbentuk memiliki efek antiglikasi yang lebih baik daripada ekstrak sidaguri dan aminoguanidin.

ABSTRACT
Gold nanoparticles have many advantages, they are inert, biocompatible, and non- cytotoxic. Nevertheless, they have a high drug loading capacity and can easily reach target cells due to their small size and large surface area. The production of gold nanoparticles that have been developed mostly uses hazardous chemicals so that it is necessary to develop green shynthesis method, one of which is by using plants, namely sidaguri extract (Sida rhombifolia Linn.). Among the role of gold nanoparticles, one of them is as an antiglycation agent because its activity as an antioxidant which can inhibit the glycation process, the initial reaction from the formation of Advanced glycation end products (AGEs) which is one of the factors causing skin aging. This study conducted to determine the antiglycation effect of green synthesised gold nanoparticles using sidaguri extract as antiaging therapies. Gold nanoparticles was obtained by using the green synthesis method which went on by reducing Au3 + ions in HAuCl4 solution to neutral Au (Au0) using the reducing agent contained in the sidaguri extract. The resulting nanoparticles were characterized by analysis of UV-Vis spectrophotometer, particle size analyzer (PSA), and potential zeta values. The antiglycation assay was carried out using the meenatchi and spinola method, which measures the inhibitory percentage of AGEs formation, which is the result of Bovine serum albumin (BSA) reaction with fructose, by test samples of gold nanoparticles, sidaguri extract, and aminoguanidine as positive control. From the UV-Vis spectrophotometer analysis, the absorption at maximum wavelength (λmaks) 535,4 nm was 0.663. The PSA test showed the average particle diameter is 49.7 nm with the polydispersity index (PDI) 0.378. The potential zeta value of the gold nanoparticles is -31.6 mV. The inhibitory percentages of gold nanoparticles, sidaguri extracts, and aminoguanidine sequentially were 83.872%, 35.006%, and 79.793%. From these results it can be concluded that the gold nanoparticles have a better antiglycation effects than sidaguri extracts and aminoguanidine."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>