"Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor transportasi, terutama pada moda logistik darat yang menyumbang porsi besar terhadap emisi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi strategi dekarbonisasi melalui peralihan moda angkutan barang dari truk ke kereta api, dengan studi kasus distribusi beras menuju Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan empat tahapan utama, yaitu: (1) identifikasi permasalahan dan pengumpulan data primer dan sekunder, (2) analisis data Origin-Destination (O-D) berbasis sinyal ponsel untuk estimasi willingness to shift, (3) perhitungan emisi GRK menggunakan metode activity-based sesuai pedoman GHG Protocol dari World Resources Institute (WRI), serta estimasi nilai eksternalitas karbon berdasarkan jarak tempuh dan efisiensi bahan bakar, dan (4) simulasi proyeksi permintaan logistik serta skenario shifting hingga tahun 2045 (BAU, pesimis, optimis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi shifting moda logistik dari jalan ke rel dapat menurunkan emisi COâ hingga 48%, dengan potensi penghematan biaya eksternalitas karbon mencapai Rp14,6 juta per hari. Emisi inbound (Freight Trip Attraction/FTA) menjadi penyumbang utama, dengan potensi reduksi sebesar 268 ton COâ/hari di tahun 2024, terutama dari wilayah Surakarta, Tegal, dan Cirebon. Dalam skenario optimis, permintaan inbound diproyeksikan mencapai 56 kt/hari pada 2045, dengan peralihan sebesar 11,3 kt/hari ke moda rel. Sebaliknya, emisi outbound (Freight Trip Production/FTP) menunjukkan tren peningkatan hingga 263% karena keterbatasan rute dan keterhubungan moda. Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi sistem logistik berbasis rel sebagai kontribusi konkret menuju target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia tahun 2050. Hasil temuan diharapkan dapat menjadi acuan bagi perumusan kebijakan transportasi rendah karbon yang lebih berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan dalam konteks logistik nasional.
Indonesia faces a significant challenge in reducing greenhouse gas (GHG) emissions from the transportation sector, particularly in freight logistics, which accounts for a substantial share of national emissions. This study aims to analyze decarbonization strategies through the modal shift of freight transport from road to rail, using a case study of rice distribution to the Cipinang Rice Central Market (PIBC) in Jakarta. The research adopts a quantitative approach consisting of four main stages: (1) identifying the problem and collecting primary and secondary data, (2) processing Origin-Destination (O-D) data using mobile signal-based surveys to estimate willingness to shift, (3) calculating GHG emissions using an activity-based method according to the GHG Protocol by the World Resources Institute (WRI), and estimating carbon externality values based on travel distance and fuel efficiency, and (4) simulating future logistics demand under different modal shift scenarios until 2045 (BAU, pessimistic, optimistic). The results show that a modal shift strategy from road to rail can reduce COâ emissions by up to 48%, with potential savings in carbon externality costs of IDR 14.6 million per day. Inbound freight (Freight Trip Attraction/FTA) is the primary contributor, with potential emission reductions of up to 268 tons of COâ per day in 2024, mainly from Surakarta, Tegal, and Cirebon. Under the optimistic scenario, inbound demand is projected to reach 56 kt/day by 2045, with a shift potential of 11.3 kt/day to rail. Conversely, outbound freight (Freight Trip Production/FTP) is projected to increase by up to 263% due to limited connectivity and modal alternatives. The study recommends optimizing the rail-based logistics system as a strategic contribution toward achieving Indonesia’s Net Zero Emissions (NZE) target by 2050. The findings are expected to serve as a reference for policy-makers and stakeholders in developing a more sustainable, efficient, and environmentally friendly national freight transport system. "