Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Endrico Xavierees Tungka
"ABSTRAK
Latar belakang: Preeklampsia merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu di Indonesia. Meskipun menjadi permasalahan kesehatan namun pathogenesis yang terjadi pada preeklampsia masih merupakan misteri. Autofagi merupakan salah satu proses yang dihubungkan dengan pathogenesis preeklampsia. Sebagai mekanisme sel dalam menghadapi suasana kurang nutrisi, autofagi menjadi faktor penting yang diperhitungkan dalam penyakit preeklampsia. Penelitian ini bertujuan melihat perbedaan protein-protein petanda autofagi secara khusus LC3 dan p62 pada plasenta normal dan preeklampsia serta melihat hubungannya.
Metode: Penelitian ini berdisain potong lintang, dengan pengambilan sampel consecutive sampling. Digunakan 50 jaringan tengah plasenta preeklampsia: diperoleh dari RS Cipto Mangunkusumo = 26 dengan usia kehamilan dibawah 34 minggu, 24 sampel kehamilan normal dari RS Budi Kemuliaan. Pengukuran ekpresi relatif mRNA menggunakan RT-PCR, SYBR No ROX dan rumus Livak, dan pengukuran kadar protein menggunakan kit ELISA untuk p62 dan LC3A. Analisis statistik menggunakan non parametrik karena distribusi data tidak normal.
Hasil: Konsentrasi protein LC3 plasenta preeklampsia lebih tinggi bermakna dari plasenta normal, p=0,001*. Sedangkan ekspresi relatif mRNA LC3 preeklampsia lebih tinggi dari normal namun tidak bermakna, p=0,5. Konsentrasi protein p62 preeklampsia lebih rendah dari normal namun tidak bermakna, p = 0,408. Sedangkan ekspresi relatif mRNA p62 preeklampsia lebih rendah dan bermakna terhadap normal, p = 0,006*.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa autofagi (LC3A) lebih tinggi pada plasenta preeklampsia dibandingkan dengan normal.

ABSTRACT
Background: Preeclampsia is one of the biggest causes of maternal mortality in Indonesia. Although it is a health problem, the pathogenesis that occurs preeclampsia still a mystery. Autophagy is one of the processes associated with the pathogenesis of preeclampsia. As a cell mechanism in case of a lack of nutrition, autophagy is an important factor that is considered in preeclampsia. This study aims to look at differences in autophagy protein markers specifically p62 and LC3 in the normal placenta compared with preeclampsia and see the correlation.
Methods: Using cross sectional method and consecutive sampling method, 50 midportion of women placenta tissues were obtained consist of 26 placentas of preeclampsia women from Cipto Mangunkusumo National Hospital and 24 placentas of normal pregnancy were obtained from Budi Kemuliaan Hospital. Relative expression mRNA measured using RT-PCR, SYBR No ROX and Livak method, while LC3 and p62 protein level meassured by ELISA kit. In cause of abnormal data distriburion, non parametric statistical of Mann Whitney test were used.
Results: Protein LC3 concentration of preeclampsia significantly higher than normal placenta p=0,001*. While relative expression of LC3 mRNA of preeclampsia not significantly higher than normal placenta, p=0,5. Protein p62 concentration of preeclampsia not significantly lower than normal placenta, p = 0,408. While relative expression of p62 mRNA significantly lower than normal placenta, p = 0,006*.
Conclusion: this study shows autophagy (LC3A) in preeclampsia is higher compared to normal."
2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Fitria Wahyuni
"Diabetes Mellitus tipe-2 (DM tipe-2) merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan adanya resistensi insulin. Salah satu faktor risiko DM tipe-2 pada otot rangka yakni terjadi penurunan massa otot rangka yang disebabkan oleh degradasi protein otot yang berlebihan. Jalur degradasi otot rangka diregulasi 2 sistem yakni ubiquitin proteosom dan autofagi. Terdapat faktor transkripsi pada ubiquitin proteosom yakni KLF15. Sedangkan pada autofagi terdapat P62 sebagai protein multifungsi. Pada kondisi DM, peran 2 biomarker ini belum sepenuhnya diketahui dalam pengaturan degradasi otot. Dimasa ini, terdapat suatu intervensi yang populer dan terbukti efektif untuk homeostasis otot rangka yakni High Intensity Interval Training (HIIT). Tipe latihan ini menggabungkan latihan berintensitas tinggi dengan periode istirahat berinterval. Pengaruh HIIT terhadap DM pada jalur degradasi masih harus dikaji lebih lanjut. Pada penelitian ini diberikan perlakuan HIIT selama 6 minggu pada tikus yang dbuat DM tipe-2 dibandingkan dengan kelompok DM tanpa perlakuan dan kelompok kontrol dengan melihat perubahan massa otot gastroknemius yang ditinjau dengan menimbang massa otot gastrocnemius yang didekapitasi. Ekspresi KLF15 dianalisis menggunakan qRT-PCR dan p62 menggunakan western blot. Hasil data statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada peningkatan massa otot, tidak ada perbedaan signifikan pada peningkatan ekspresi relatif KLF15 dan tidak ada perbedaan signifikan pada penurunan p62 pada perlakuan HIIT terhadap DM tipe-2.

Type-2 Diabetes Mellitus (Type-2 DM) is a disorder characterized by insulin resistance. One of the risk factors for type-2 DM in skeletal muscle is a decrease in skeletal muscle mass caused by excessive degradation of muscle protein. Skeletal muscle degradation pathway is regulated by 2 systems namely ubiquitin proteosome and autophagy. There is a transcription factor in the proteosome ubiquitin, namely KLF15. Whereas in autophagy there is P62 as a multifunctional protein. In DM conditions, the role of these 2 biomarkers is not fully understood in regulating muscle degradation. At this time, there is an intervention that is popular and proven effective for skeletal muscle homeostasis, namely High Intensity Interval Training (HIIT). This type of exercise combines high-intensity exercise with intermittent rest periods. The effect of HIIT on DM in the degradation pathway still needs to be studied further. In this study, rats treated with HIIT for 6 weeks were given type-2 DM compared to the DM group without treatment and the control group by looking at changes in gastrocnemius muscle mass which was reviewed by weighing the mass of the decapitated gastrocnemius muscles. KLF15 expression was analyzed using qRT-PCR and p62 using western blot. The results of the statistical data showed that there was no significant difference in increasing muscle mass, there was no significant difference in increasing the relative expression of KLF15 and there was no significant difference in decreasing p62 in the HIIT treatment of type-2 DM."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library