Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Octa Marselita
"Isu emisi yang semakin meningkat mendorong perusahaan untuk memperbaiki kinerja lingkungannya, yang tercermin dalam laporan keberlanjutan mereka. Namun, laporan tersebut juga membuka peluang bagi perusahaan untuk terlibat dalam praktik "carbonwashing", yaitu janji pengurangan emisi yang tidak diikuti dengan pengurangan emisi yang substansial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara janji pengurangan emisi karbon dan realisasi emisi karbon yang dimoderasi oleh asurans keberlanjutan, pengambilan risiko, dan visibilitas media terkait karbon. Sampel penelitian ini adalah perusahaan di Indonesia dan Malaysia pada tahun 2016-2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun perusahaan berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon, terdapat kecenderungan peningkatan signifikan pada realisasi emisi mereka, yang mengindikasikan adanya praktik carbonwashing. Asurans keberlanjutan ditemukan dapat memperkuat hubungan positif janji pengurangan emisi karbon dan realisasinya yang mengindikasikan bahwa asurans keberlanjutan berfungsi sebagai alat legitimasi yang dapat memperkuat carbonwashing. Pengambilan risiko ditemukan tidak berperan dalam memoderasi hubungan tersebut. Terakhir, visibilitas media terkait karbon ditemukan dapat memperlemah hubungan positif janji pengurangan emisi karbon dan realisasinya. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa praktik carbonwashing lebih signifikan di Indonesia dibandingkan Malaysia, dan lebih banyak terjadi pada industri yang sensitif terhadap lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga didukung oleh analisis kualitatif yang menemukan bahwa perusahaan dengan emisi tinggi cenderung memberikan pengungkapan yang lebih terbatas mengenai pengurangan emisi yang telah dicapai serta tidak menyebutkan penggunaan Science-Based Targets (SBTi) yang mencerminkan adanya tantangan dalam transparansi dan kredibilitas laporan emisi mereka. Penelitian ini memberikan implikasi pada literatur dengan mengungkap ketidaksesuaian antara janji dan realisasi emisi karbon sebagai indikasi carbonwashing. Bagi perusahaan, temuan ini menekankan pentingnya transparansi dan komitmen nyata dalam pengungkapan keberlanjutan, sementara bagi regulator, penelitian ini mendorong penguatan regulasi dan insentif untuk memastikan akuntabilitas perusahaan dalam realisasi emisi.

The growing issue of carbon emissions has prompted companies to enhance their environmental performance, as reflected in their sustainability reports. However, these reports may also provide opportunities for companies to engage in "carbonwashing"—a practice where carbon reduction promises are not followed by substantial reductions in actual emissions. This study examines the relationship between carbon emission reduction promises and the realization of carbon emissions, moderated by sustainability assurance, risk-taking, and carbon media visibility. The sample includes companies from Indonesia and Malaysia during the period 2016-2023. The findings reveal that although companies commit to reducing carbon emissions, there is a significant increase in their actual emissions, suggesting the occurrence of carbonwashing. Sustainability assurance was found to strengthen the positive relationship between emission reduction promises and their realization, indicating that sustainability assurance serves as a legitimizing tool that reinforces carbonwashing. Risk-taking did not moderate this relationship. Additionally, carbon media visibility was found to weaken the positive relationship between emission reduction promises and their realization. The study also highlights that carbonwashing is more pronounced in Indonesia than in Malaysia, and occurs more frequently in environmentally sensitive industries. The qualitative analysis further shows that companies with high emissions often provide limited disclosure regarding their achieved emission reductions and rarely mention the use of Science-Based Targets (SBTi), which reflects challenges in the transparency and credibility of their emissions reporting. This study contributes to the literature by highlighting the discrepancy between carbon emission reduction promises and realization, indicating the occurrence of carbonwashing. For companies, the findings emphasize the importance of transparency and genuine commitment in sustainability reporting. For regulators, the research calls for enhanced regulations and incentives to ensure corporate accountability in emissions reduction. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Devtyana Ayu Kiesha Dewi
"Penelitian ini difokuskan pada Pulau Bali dengan tujuan mendukung pengurangan emisi karbon di Indonesia, yang sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia pada UNFCCC COP21 Paris untuk mengurangi emisi sebesar 29% pada tahun 2030. Menggunakan perangkat lunak Balmorel, penelitian ini menguji skenario perencanaan sistem tenaga listrik dengan fokus pada Energi Baru dan Terbarukan (EBT), membandingkan skenario Business as Usual (BaU) sebagai acuan dengan skenario pengurangan emisi sebesar 30%, 40%, dan 50% pada tahun 2033. Beberapa asumsi yang digunakan dalam pemodelan ini antara lain dasar kebijakan dan potensi EBT setempat menggunakan rancangan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), rencana pembangkit menggunakan rancangan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, data referensi harga dan jenis pembangkit berdasarkan technology catalogue yang disusun oleh kerjasama KESDM-Denmark. Analisis menunjukkan bahwa skenario dengan pengurangan emisi 40% memberikan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yang paling optimal, menegaskan bahwa penggunaan EBT seperti solar, geothermal, angin, hidro, dan bioenergi lebih efisien dalam menurunkan biaya operasional dibandingkan pembangkit bertenaga fosil. Hasil ini memberikan panduan bagi pemerintah Pulau Bali dalam merencanakan infrastruktur ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan mendukung visi Pulau Bali menjadi 'Bali Hijau' sebagai destinasi wisata berkelanjutan.

This research is focused on the island of Bali with the objective of supporting the reduction of carbon emissions in Indonesia, in line with the Indonesian Government's commitment at the UNFCCC COP21 in Paris to reduce emissions by 29% by 2030. Utilizing the Balmorel software, this study evaluates power system planning scenarios with an emphasis on New and Renewable Energy (NRE), comparing the Business as Usual (BaU) scenario as a baseline with emission reduction scenarios of 30%, 40%, and 50% by 2033. The assumptions used in this modeling include policy foundations and local NRE potentials using the design of the National General Electricity Plan (RUKN), generation plans based on the Electricity Supply Business Plan (RUPTL) of PLN, and reference data for prices and types of generators from the technology catalog developed through the cooperation between the Ministry of Energy and Mineral Resources (KESDM) of Indonesia and Denmark. The analysis indicates that the scenario with a 40% emission reduction offers the most optimal Basic Cost of Production (BPP), confirming that the use of NRE sources such as solar, geothermal, wind, hydro, and bioenergy is more efficient in reducing operational costs compared to fossil fuel-based power plants. These findings provide guidance for the Bali government in planning sustainable power infrastructure and support the vision of Bali as 'Green Bali,' a sustainable tourism destination. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library