Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sidah Fahira
"Keterikatan tempat merupakan konsep multidimensi yang dalam penelitian ini dikaji melalui aspek identitas tempat dan ketergantungan tempat. Kedua aspek tersebut dinilai sebagai konsep tempat yang berbeda dan mengacu pada persepsi subjektif individu yang dihasilkan dari adanya interaksi dengan lingkungannya. Kehadiran dan ingatan akan bencana alam beserta risiko lingkungan juga menjadi penanda adanya hubungan manusia dengan lingkungannya. Terjalinnya hubungan sosial dari waktu ke waktu membuat manusia akan membentuk keterikatan dengan lingkungannya hingga dapat membentuk identitas diri. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui keterikatan tempat yang terbentuk di lingkungan masyarakat berdasarkan tingkat ancaman banjir dan mengetahui hubungannya terhadap perilaku adaptasi masyarakat dalam menghadapi ancaman banjir di Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta. Untuk mengetahui hal tersebut, digunakan metode pengukuran indeks keterikatan tempat dengan analisis keruangan dan deskriptif kuantitatif. Hasilnya didapatkan bahwa keterikatan tempat yang terbentuk di ketiga wilayah dengan tingkat ancaman banjir berbeda (rendah, sedang dan tinggi) di Kelurahan Kampung Melayu tergolong tinggi sampai sangat tinggi. Keterikatan yang tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lama tinggal, kondisi sosial, ekonomi, hingga karakteristik fisik lokasi tempat tinggal yang mendorong masyarakat untuk tetap tinggal di wilayah ancaman banjir berulang. Dari hasil tersebut diketahui bahwa terdapat hubungan antara keterikatan tempat dengan perilaku adaptasi yang dibuktikan dengan adanya tindakan dan kecenderungan yang baik untuk mencegah dan mengurangi risiko melalui pilihan-pilihan adaptasi yang dilakukan masyarakat di Kelurahan Kampung Melayu untuk tetap dapat mempertahankan lingkungannya.

Place attachment is a multidimensional concept which in this study is examined through aspects of place identity and place dependence. These two aspects are considered as different place concepts and refer to the individual's subjective perception resulting from interactions with their environment. The presence and memory of natural disasters and environmental risks are also markers of the relationship between humans and their environment. The establishment of social relations from time to time makes humans will form attachments with their environment so that they can form self-identity. The purpose of this study was to determine the attachment of places formed in the community based on the level of flood threat and to determine its relationship to community adaptation behavior in dealing with the threat of flooding in Kampung Melayu Village, Jakarta. To find out this, the method of measuring the attachment index of the place with spatial analysis and quantitative descriptive is used. The results show that the place-bounds formed in the three areas with different levels of flood threat (low, medium and high) in Kampung Melayu Village are classified as high to very high. High attachment is influenced by several factors including length of stay, social, economic conditions, to the physical characteristics of the location of residence that encourage people to stay in areas with repeated flood threats. From these results it is known that there is a relationship between place attachment and adaptive behavior as evidenced by the existence of good actions and tendencies to prevent and reduce risk through adaptation choices made by the community in Kampung Melayu Village to maintain their environment."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Turnip, Maria
"Kondisi menderita penyakit fisik menimbulkan permasalahan psikososial ansietas dan gangguan citra tubuh. Permasalahan psikososial ini menjadi faktor comorbid yang menambah berat kondisi fisik klien. Pelaksanaan tindakan ners spesialis didasarkan pada perilaku dan adaptasi sebagai mahluk yang holistik yang meliputi: Cognitive Behavioral Therapy CBT, Thought Stopping TS, Progressive Muscle Relaxation PMR dengan mempertimbangkan toleransi fisik klien. Tindakan ners spesialis Family PsychoEducation FPE pada keluarga dan Supportive Theraphy ST pada kelompok pelaku rawat care giver diberikan untuk memperkuat dukungan dari luar klien demi mempertahankan kelangsungan proses perawatan klien. Hasil: Pelaksanaan tindakan ners spesialis menunjukkan penurunan tanda dan gejala pada klien di semua aspek respons terhadap stresor. Penurunan yang paling besar terjadi pada kombinasi terapi CBT PMR FPE yang dilakukan pada klien dengan diagnosis ansietas pada aspek afektif sebesar 79.2 dan klien dengan diagnosis gangguan citra tubuh pada aspek perilaku sebesar 86.3 . Kesimpulan: Tindakan ners spesialis Cognitive Behavioral Therapy CBT, Thought Stopping TS, Progressive Muscle Relaxation PMR dengan mempertimbangkan toleransi fisik klien dan Family PsychoEducation FPE pada keluarga serta Supportive Theraphy ST pada kelompok pelaku rawat care giver dapat membantu penurunan respons klien terhadap stressor.

Physical ilness could contribute to psychosocial problems such as anxiety and disturbed body image. This psychosocial problems became a comorbid factor which could make the clients health problems more serious. The implementation Cognitive Behavioral Therapy CBT, Thought Stopping TS, Progressive Muscle Relaxation PMR holistically applied by taking into consideration the physical tolerance of clients. The provision of Family PsychoEducation FPE for patient's family and Supportive Theraphy ST for patient's care giver by mental health psychiatric nurse specialist could empower client continuity of care sustainability. Result The combination CBT PMR FPE nurse specialist implementation have decreased the sign and symptoms up to 79.2 of efective aspect for clients with anxiety, and 86.3 of behavioral aspect for client who has disturbed body image. Conclusion It was conclude that the implementation of Cognitive Behavioral Therapy CBT, Thought Stopping TS, Progressive Muscle Relaxation PMR by taking into consideration the client's physical tolerance and Family PsychoEducation FPE for client's family and Supportive Theraphy ST for client's care giver can decrease patient's responses to stressors.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Azka Revanza Ahnaf
"Salah satu upaya untuk menjaga populasi orangutan kalimantan adalah merehabilitasi orangutan sitaan untuk dikembalikan ke alam liar, seperti yang dilakukan di Sekolah Hutan Jerora, Sintang Orangutan Center, Kalimantan Barat. Orangutan di sekolah hutan harus mampu mengenali minimal 25 spesies tumbuhan pakan alami sebagai syarat pelepasliaran, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku adaptasi pengenalan pakan sebagai bentuk penilaian kesiapan individu orangutan kandidat rilis. Pengamatan dilakukan terhadap tiga individu orangutan kandidat rilis dengan metode focal animal sampling untuk mencatat perilaku harian dan scan sampling untuk mencatat perilaku makan. Pencatatan perilaku adaptasi pengenalan dibagi menjadi tiga kategori yaitu makanan langsung ditelan, makanan dikeluarkan dari mulut lalu diabaikan, dan makanan dikeluarkan dari mulut lalu dimakan kembali. Dua individu orangutan remaja (BR1 dan BR2) telah mengenali lebih dari 25 spesies tumbuhan pakan dengan baik, yang dibuktikan dengan perilaku menelan langsung makanan yang menjadi bentuk perilaku tertinggi. Perilaku memakan kembali makanan yang dikeluarkan dari mulut hanya terjadi pada individu BR1. Individu JA hanya mampu mengenali setidaknya 5 spesies tumbuhan pakan karena keterbatasan kemampuan lokomosi yang membuatnya tidak dapat menemui banyak tumbuhan pakan di dalam enclosure. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu BR1 adalah yang paling siap untuk dilepasliarkan, diikuti oleh individu BR2 jika dilihat dari kemampuannya dalam mengenali sumber pakan alami.

One of the efforts to preserve the Bornean Orangutan population is to rehabilitate confiscated orangutans so they can be returned to the wild, as is done at the Jerora Forest School, Sintang Orangutan Center, West Kalimantan. Orangutans at the forest school must be able to recognize at least 25 species of natural food plants as a prerequisite for release, so this study aims to analyze the adaptation behavior of food recognition as an assessment of the readiness of individual orangutans who are release candidates. Observations were conducted on three release candidate orangutans using the focal animal sampling method to record daily behaviors and scan sampling to record feeding behaviors. The recording of adaptation behavior of food recognition was divided into three categories: food is swallowed immediately, food is taken out of the mouth and then ignored, and food is taken out of the mouth and then eaten again. Two juvenile orangutans (BR1 and BR2) were able to recognize more than 25 species of food plants well, as evidenced by the behavior of immediately swallowing the food, which was the most frequently observed behavior. The behavior of eating food again after taking it out of the mouth was only observed in BR1. The individual JA was only able to recognize at least 5 species of food plants due to limited locomotion abilities, which prevented it from encountering many food plants within the enclosure. The results of this study indicate that BR1 is the most ready to be released, followed by BR2, based on their ability to recognize natural food sources."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library