Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Qanita Fauzia
"Penambangan adalah salah satu industri yang paling berisiko tinggi. Penambang bawah tanah mungkin telah terpapar untuk bahaya ergonomis seperti postur canggung, kerja statis, gerakan berulang, dan kekuatan yang berlebihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis postur kerja di bawah tanah menambang lingkungan dengan metode penilaian seluruh tubuh cepat (REBA) dan untuk tinjauan umum gangguan muskuloskeletal pada penambang bawah tanah di PT. Cibaliung Sumberdaya. Ini Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini adalah dilakukan dengan pengamatan pada seluruh proses kerja di bawah tanah dan kemudian kritis postur dianalisis menggunakan metode REBA. Kuesioner peta tubuh Nordik didistribusikan untuk penambang untuk mengetahui masalah gangguan muskuloskeletal di antara para pekerja itu sendiri. Hasil menunjukkan bahwa salah satu postur kerja memiliki skor 11+ yang artinya risiko sangat tinggi adalah ketika penambang menggunakan bor jackleg. Kemudian, enam postur kerja memiliki skor 8-10 yang berarti berisiko tinggi postur ketika penambang melakukan penskalaan, pemasangan baut batu dan kawat, chocking mekanisme ketika shotcrete hendak melakukan, mengatur tas ventilasi, dan mengoperasikan gunting mengangkat. Gangguan muskuloskeletal paling sering dikeluhkan oleh penambang bawah tanah adalah pinggang 64,15%, punggung 47,17%, leher atas 45,28%, dan bahu kanan 36,79%. Itu Peneliti menyarankan agar penambang harus diberi tahu tentang bahaya dan risiko ergonomis faktor gangguan muskuloskeletal.

Mining is one of the most high-risk industries. Underground miners may have been exposed to ergonomic hazards such as awkward postures, static work, repetitive movements, and excessive strength. The purpose of this study is to analyze the working posture of underground mining environment with a rapid whole body assessment method (REBA) and for an overview of musculoskeletal disorders in underground miners at PT. Cibaliung Resources. This research is quantitative descriptive with cross-sectional design. This research was carried out with observations on the entire underground and then critical work processes posture was analyzed using the REBA method. The Nordic body map questionnaire was distributed to miners to find out the problem of musculoskeletal disorders among the workers themselves. The results show that one work posture has a score of 11+ which means the risk is very high when miners use jackleg drill. Then, the six work postures have a score of 8-10 which means a high risk posture when the miner scales, installing stone and wire bolts, chocking the mechanism when the shotcrete is about to do, arranging ventilation bags, and operating scissors lift. Musculoskeletal disorders are most commonly complained by underground miners waist 64.15%, back 47.17%, upper neck 45.28%, and right shoulder 36.79%. The researcher suggests that miners should be informed of the ergonomic hazards and risk factors for musculoskeletal disorders.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Agma
"ILO menyebutkan bahwa salah satu kategori potensi bahaya pada operator crane adalah bahaya ergonomi dan psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja operator crane di PT. XXX cabang Tanjung Priok tahun 2021. Desain penelitian adalah penelitian deskriptif. Hasil penelitian akan dianalisis dengan menggunakan lembar kerja REBA Selanjutnya dianalisis kaitannya dengan keluhan gangguan otot rangka, dan interaksi dengan tempat kerja yang menimbulkan risiko ergonomi. Penelitian ini berfokus hanya pada aktivitas mengoperasikan crane. Penilaian postur kerja dilakukan pada operator crane dengan desain saat ini. kemudian dibuat dua usulan desain kabin crane. Desain ulang dilakukan dalam perangkat lunak Aplikasi SketchUp versi 2018 kemudian dilakukan evaluasi postur kerja sesuai usulan desain kabin crane. Studi ini menunjukkan bahwa intervensi ergonomi di tempat kerja mengurangi potur kerja yang tidak sesuai antara manusia dan mesin serta membuat tempat kerja nyaman untuk bekerja.

The ILO states that one of the categories of potential hazards to crane operators is ergonomics and psychosocial hazards. This study aims to analyze the work posture of crane operators at PT. XXX Tanjung Priok branch in 2021. The research design is a descriptive study. The results of the study will be analyzed using the REBA worksheet. Furthermore, it will be analyzed in relation to complaints of skeletal muscle disorders, and interactions with the workplace that pose ergonomic risks. This research focuses only on the activity of operating a crane. Assessment of work posture is carried out on the crane operator with the current design, then two crane cabin design proposals are made. The redesign was carried out in the 2018 version of the SketchUp Application software, then an evaluation of the work posture was carried out according to the crane cabin design proposal. This study shows that ergonomics interventions in the workplace reduce the mismatch between humans and machines and also make the workplace comfortable to work."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syafri Enta
"Risiko ergonomi terkait postur kerja selama beraktivitas merupakan kesalahan ergonomi yang sering ditemui pada perawat di rumah sakit. Sebagian besar pekerjaan perawat dilakukan dalam posisi berdiri atau membungkuk, dan jarang dilakukan dalam posisi duduk. Kegiatan tersebut jika dilakukan dalam postur kerja yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan risiko ergonomi postur kerja dengan gangguan muskuloskeletal. Desain penelitiannya observasional analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan Formulir observasi Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai tingkat risiko ergonomi postur kerja dan Kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengevaluasi keluhan gangguan muskuloskeletal pada perawat yang melibatkan 76 perawat. Analisa data menggunakan analisis deskriptif, uji Chi Square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas perawat berjenis kelamin perempuan (67,1%), tingkat pendidikan DIII keperawatan (46,1%), dengan indeks masa tubuh normal (46,1%), dan sebesar (55,3%) bekerja di rawat inap. Usia termuda perawat 23 tahun dan usia tertua 58 tahun, serta masa kerja perawat paling singkat 1 tahun dan paling lama 36 tahun. Terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerja perawat dengan gangguan muskuloskeletal (p=0,000) dan unit kerja dengan gangguan muskuloskeletal (p=0,001). Perlunya perawat memahami postur kerja yang berisiko terhadap gangguan muskuloskeletal dan dapat menerapkan postur kerja yang baik selama memberikan asuhan keperawatan untuk mencegah gangguan muskuloskeletal.

The ergonomic risk of working posture during activities is an ergonomic error that is often encountered by nurses in hospitals. Most nursing work is done in a standing or bent position, and rarely in a sitting position. If these activities are carried out in an inappropriate working posture, they can cause musculoskeletal disorders. This study aims to determine the relationship between ergonomic risk of work posture and musculoskeletal disorders. The research design was analytical observational with a cross sectional approach using the Rapid Entire Body Assessment (REBA) observation form to assess the level of ergonomic risk of work postures and the Nordic Body Map (NBM) Questionnaire to evaluate complaints of musculoskeletal disorders in nurses involving 76 nurses. Data analysis used descriptive analysis, Chi Square test and logistic regression. The results showed that the majority of nurses were female (67.1%), had a DIII nursing education level (46.1%), had a normal body mass index (46.1%), and (55.3%) worked in inpatient settings. . The youngest nurse is 23 years old and the oldest is 58 years old, and the nurse's working period is at least 1 year and the longest is 36 years. There is a significant relationship between nurses' work posture and musculoskeletal disorders (p=0.000) and work units and musculoskeletal disorders (p=0.001). It is necessary for nurses to understand work postures that are at risk of experiencing musculoskeletal disorders and apply good work postures to prevent musculoskeletal disorders."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sebayang, Maya Pehulisa
"ABSTRAK
Pekerja di Laboratorium Aplikasi Makanan dan Minuman PT X wilayah Jakarta Pusat
berpotensi terkena risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs). Hal ini dikarenakan pekerja
melakukan aktivitas berulang dengan adanya penambahan beban angkut dan postur kerja
yang janggal. Untuk mengurangi keluhan MSDs, peneliti melakukan analisis faktor risiko
postur kerja dengan metode deskriptif analitik menggunakan instrumen Rapid Entire Body
Assestment (REBA), menyebarkan kuesioner terhadap keluhan MSDs dengan Nordic Body
Map (NBM), pengukuran faktor risiko individu (jenis kelamin, antropometri), pengukuran
faktor lingkungan (intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban), faktor peralatan (meja kerja).
Hasil pengukuran faktor lingkungan kerja (suhu, kelembaban, intensitas cahaya) tidak
memenuhi syarat sehingga diperlukan adanya tindakan perbaikan. Penelitian ini dilakukan
dengan metode total sampling yaitu seluruh aktivitas (7 aktivitas). Untuk hasil pengukuran
postur kerja menggunakan REBA menunjukkan 1 aktivitas berisiko sedang, 3 aktivitas
berisiko tinggi, 3 aktivitas berisiko sangat tinggi. Keluhan MSDs pekerja selama 1 minggu
dan 1 tahun terakhir, para pekerja di laboratorium aplikasi makanan dan minuman PT X
mengeluhkan dibagian leher atas, bahu kiri, lutut kanan kiri, kaki kanan kiri.

ABSTRACT
Workers at the Central Jakarta Food and Beverage Application Laboratory PT X decided
the risk of Musculoskeletal Disorders (MSDs). This is related to workers who carry out
repetitive activities with the burden carried and awkward work postures. To reduce MSD
complaints, researchers conducted a risk factor analysis of work posture with a descriptive
analytical method using the Rapid All Body Assessment (REBA) instrument, asking for a
questionnaire against MSD complaints with Nordic Body Map (NBM), measuring
individual risk factors (gender, anthropometry) Measurement of environmental factors (light
intensity, temperature, and humidity), equipment factors (work table). The results of the
measurement of work environment factors (temperature, humidity, light intensity) This
study was carried out by the total sampling method, namely all activities (7 activities). For
the results of the measurement of work posture using REBA showing 1 medium risk activity,
3 high-risk activities, 3 very high-risk activities. MSD complaints of workers for the past 1
week and 12 months, workers in the PT X food and beverage application laboratory
complained about the upper neck, left shoulder, left right knee, right left leg.

"
2019
T52954
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christina Kewa Tri Rahayu
"Risiko ergonomis terhadap postur kerja staf layanan kesehatan yang bertanggung jawab atas perawatan pasien, memiliki risiko lebih rentan yang dapat menyebabkan penyakit muskuloskeletal dibandingkan dengan bidang kerja lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran postur kerja dan keluhan muskuloskeletal dengan menggunakan slide sheet dan manual untuk perawat di Unit Stroke Jatinegara Premier.
Ini adalah penelitian observasional analitik dengan studi cross sectional, faktor independen dari faktor pekerjaan (durasi, beban, shift kerja, pegangan beban metode kerja), faktor individu (usia, masa kerja, jenis kelamin, indeks massa tubuh), menggunakan REBA (Rapid Entire Body Assessment) untuk gambaran postur kerja dan kuesioner NBM (Nordic Body Map) untuk mendapatkan gambaran dengan menggunakan Skala Likert 4 indikator keluhan nyeri. Pengambilan sampel menggunakan rumus besar sampel untuk beda proporsi dua kelompok (satu arah) oleh Gerr et al., 2002 didapatkan besaran 14 sampel.
Hasilnya dari penelitian untuk postur kerja pada penangangan pasien secara manual dengan metode REBA didapatkan postur kerja dengan risiko ergonomi tinggi dengan nilai rata-rata 8 sampai dengan 10 sedangkan dengan menggunakan slide sheet rata-rata adalah 3 sampai dengan 7 dengan kategori risiko ergonomi sedang, untuk keluhan muskuloskeletal pada penanganan pasien secara manual berdasarkan kuesioner Nordic Body Map didapatkan tingkat nyeri rata-rata 2 sampai dengan 3 yaitu sedikit ada keluhan nyeri di bagian atas leher, leher bagian bawah, bahu kiri, bahu kanan, lengan atas, di punggung dan pinggang sedangkan penanganan pasien menggunakan slide sheet tingkat nyeri rata-rata 1sampai dengan 2 yaitu tidak ada keluhan sama sekali.
Berdasarkan hasil penelitian adanya hubungan signifikan antara postur kerja dengan keluhan musculoskeletal disorders pada penggunaan slide sheet dan manual dengan jenis kelamin (p value <0,05) dan masa kerja (p value <0,05).Disarankan untuk rumah sakit menambah jumlah slide sheet dan melakukan evaluasi dan monitoring terhadap postur kerja ergonomis pada penanganan pasien.

Ergonomic risk towards the work posture of health service staff responsible for patient care has more vulnerable risks that could cause musculoskeletal disorders compared to other occupational fields. The purpose of this study is to describe work posture and musculoskeletal disorders by using slide sheets and manuals for Stroke Uni nurses in premier Jatinegara Hospitalt.
This is an analytical observational study with a cross sectional design. Variables of this study contain factors independent of occupational factors (duration, burden, work shift, handle of work method load), individual factors (age, years of service, gender, body mass index), by using REBA (Rapid Entire Body Assessment) to describe work posture and NBM (Nordic Body Map) questionnaire to describe pain complaints with Likert Scale 4 indicators. Sampling using the sample size formula for different proportions of two groups (one direction) by Gerr et al., 2002 quation collected 14 samples.
Based on the results of this study on the work posture of patient handling calculated manually with the REBA method, it is obtained a high ergonomic risk work posture with an average value of 8 to10, while using slide sheets is the average of 3 to 7 (moderate ergonomic risk category). The average of pain level of musculoskeletal disorders on patients handling based on the NBM questionnaire is 2 to 3, there was a slight complaint of pain at the top of the neck, lower neck, left shoulder, right shoulder, upper arm, back and waist, while using slide sheets is the average of 1 to 2 (no complaints).
Based on the results of this study were significantly between that work posture and musculoskeletal complaints by using slide sheet and manuals releated to gender (p value<0,05) and work periode (p value<0,05). It is suggested to hospital to add the slide sheets, evaluate and monitor the ergonomic work posture for handling patients.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T52958
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Prayudhi
"Tenaga kesehatan memegang peran penting pada kesehatan warga Indonesia. Namun, saat ini jumlah dokter di Indonesia bisa dibilang masih kurang. Menurut ikatan dokter indonesia (IDI), jumlah dokter umum yang ada saat ini berjumlah 129.772 orang sedangkan untuk dokter spesialis hanya ada sebanyak 36.552 orang. Dengan jumlah dokter ahli bedah yang sedikit dan penduduk indonesia yang sangat banyak, menuntut dokter-dokter tersebut untuk bisa menangani pasien secepat dan sebaik mungkin dengan waktu kerja yang panjang. Sehingga tidak jarang terjadinya pegal, sakit leher, sakit punggung ataupun penyakit Work-related Musculoskeletal Disorder (WMSD) lainnya yang dirasakan oleh para dokter ahli bedah, apalagi jika ada beberapa operasi yang dilaksanakan secara berurutan. Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H Chasan Boesoirie merupakan salah satu rumah sakit di Indonesia, tepatnya rumah sakit ini berada di Maluku Utara, Ternate. Pada RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie terdapat beberapa dokter ahli, diantaranya adalah 3 dokter ahli bedah umum, 1 dokter saraf, 1 dokter ortopedi dan 1 dokter tumor. Dimana operasi yang paling sering dilakukan adalah operasi laparotomi. Diantara operasi laparotomi, operasi yang paling sering dilakukan adalah operasi apendisitis perforasi. Dokter ahli bedah di RSUD Dr. H Chasan Boesoirie memiliki risiko WMSD berdasarkan nilai analisis yang didapatkan yaitu RULA mulai dari 4 hingga 6 dan REBA mulai dari 3 hingga 5 yang menunjukkan dokter ahli bedah memiliki risiko low hingga risiko medium saat melakukan operasi dengan postur kerja yang dilakukan. Penelitian dilakukan untuk membandingkan postur tubuh sebelum dan sesudah adanya perbaikan menggunakan perekaman postur dan membuktikan bahwa pelatihan merupakan solusi efektif.

Health workers play an important role in the health of Indonesian citizens. However, currently the number of doctors in Indonesia is arguably still lacking. According to the Indonesian Doctors Association (IDI), the current number of general practitioners is 129,772 people, while for specialist doctors there are only 36,552 people. With a small number of surgeons and a very large population of Indonesia, it requires these doctors to be able to treat patients as quickly and as well as possible with long working hours. So that it is not uncommon for surgeons to experience aches, neck pain, back pain or other Work-related Musculoskeletal Disorder (WMSD), especially if there are several operations that are carried out sequentially. Regional General Hospital Dr. H Chasan Boesoirie is one of the hospitals in Indonesia, precisely this hospital is located in North Maluku, Ternate. At Regional General Hospital Dr. H Chasan Boesoirie there are several specialist doctors, including 3 general surgeons, 1 neurologist, 1 orthopedic doctor and 1 tumor doctor. The most common operation is laparotomy. Among laparotomy operations, the most frequently performed operation is perforated appendicitis. Surgeon at RSUD Dr. H Chasan Boesoirie has a risk of WMSD based on the analysis values ​​obtained, namely RULA ranging from 4 to 6 and REBA ranging from 3 to 5 which indicate the surgeon has a low to medium risk when performing surgery with the work posture performed. The study was conducted to compare the body posture before and after the improvement using posture recording and prove that training is an effective solution."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Helen Yuliantri
"Postur tubuh saat bekerja yang sering kali terjadi yaitu berdiri dan  duduk dalam waktu yang lama, jongkok, membungkuk memutarkan badan saat mengangkat barang, posisi menjangkau serta beban yang berat bisa menyebabkan keluhan LBP. Akibat dari masalah ini bisa mengganggu aktivitas saat bekerja sehingga berpengaruh pada kualitas pelayanan serta kinerja para pekerja tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi risiko terjadinya LBP pada pekerja di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan jenis kuantitatif dan metode survey analitik dengan desain cross sectional pada 265 pekerja yang bekerja di rumah sakit. Alat ukur yang digunakan dengan data demografi sebagai faktor yang mempengaruhi serta kuesioner KEELE Start Back Screening Tool merupakan kuesioner yang digunakan untuk mengelompokkan risiko LBP berdasarkan fungsi, psikososial, dan faktor kormobid dan kuesioner BPFS (Back Pain Functional Scale) yaitu alat ukur untuk mengevaluasi kemampuan fungsional responden dengan keluhan nyeri punggung. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jenis kelamin, jabatan, kebisingan, posisi tubuh saat duduk, posisi tubuh berdiri, posisi tubuh mendorong barang, posisi tubuh di depan computer dan kebiasaan merokok terdapat hubungan yang signifikan dengan risiko terjadinya LBP pada pekerja (value < 0,05).

Body postures when working that often occur, namely standing and sitting for long periods of time, squatting, bending over, twisting the body when lifting objects, reaching positions and heavy loads can cause LBP complaints. The consequences of this problem can disrupt work activities, thereby affecting the quality of service and the performance of these workers. This study aims to analyze the factors that influence the risk of LBP in hospital workers. This research uses quantitative and analytical survey methods with a cross sectional design on 265 workers who work in hospitals. The measuring tool used is demographic data as an influencing factor as well as the KEELE Start Back Screening Tool questionnaire which is a questionnaire used to group the risk of LBP based on function, psychosocial and comorbid factors and the BPFS (Back Pain Functional Scale) questionnaire which is a measuring tool to evaluate functional ability. respondents with complaints of back pain. The results of this study show that gender, position, noise, body position when sitting, standing body position, body position pushing objects, body position in front of the computer and smoking habits have a significant relationship with the risk of LBP in workers (value < 0, 05)."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Destitha Ananda Putrisidahuruk
"Penelitian ini membahas tentang gambaran secara umum risiko postur kerja dan keluhan subjektif muskuloskeletal yang dirasakan oleh pekerja pada kegiatan lifting dan erection baja Stasiun LRT Jabodetabek. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional dengan melakukan penelitian secara langsung dalam satu waktu secara bersamaan melalui metode REBA, PATH, dan Nordic Body Questionnaire (NBQ). Tingkat risiko tertinggi yaitu pada tahapan erection dalam kegiatan pengecatan dengan jangkauan jauh. Untuk mengatasinya diperlukan kontrol berupa pemberian alat kerja yang lebih baik serta berbagai program edukasi kesehatan yang digalakan oleh perusahaan, untuk meminimasi terjadinya postur janggal

This analysis aims to explain a description of workers' postural working toward subjective musculoskeletal complaints on lifting and erection workers of LRT Jabodetabek. This analysis is a quantitative-descriptive, with the cross-sectional approach in a one time using REBA, PATH, and NBQ tools. The highest risk is on the erection session, especially on the paint with a distance. We need some controls by giving suitable working tools and also some great health education programs from the company to minimize the bad working posture application.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Radita Tanaya Vidya Hapsari
"Postur kerja yang ergonomis akan mempengaruhi keselamatan, kesehatan dan produktivitas pekerja. Karakteristik pekerjaan membatik tulis berkaitan dengan postur kerja duduk selama lebih dari tujuh jam. Kondisi ini mengakibatkan pekerja berada pada postur kerja yang tidak alamiah dan bersifat statis sehingga beresiko menimbulkan gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini mencoba mempelajari rangkaian kerja dan aspek ergonomi yang mempengaruhi postur kerja dalam membatik menggunakan metode simulasi pada virtual environrnment. Penyesuaian dilakukan dengan mendesain kursi dan gawangan yang ergonomis. Penilaian postur kerja dilakukan dengan mengevaluasi Posture Evaluation Index (PEI) yang terdiri dari penilaian LBA, OWAS dan RULA dari pada task analysis toolkit software Jack 6.1.

Ergonomic working posture influence safety, health and productivity for workers. The characteristics of handmade batik work related to sitting posture for more than seven hours. This condition impact the awkward and static posture for workers which cause musculoskeletal disorders. This research tries to study the ergonomic aspect of work sequence which impact the working posture in batik work by using simulation method in virtual environment. The adjusment is created by designing ergonomic chair and gawangan. The evaluation of work posture is conducted by using Posture Evaluation Index (PEI) which integrates the score of LBA, RULA and OWAS by task analysis toolkit function from software Jack 6.1."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1160
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Risfian Noor
"Aktifitas pegawai PT PLN UIP X yang berada di kantor induk adalah melakukan kegiatan administrasi proyek, dimana sebagian besar waktu kerja berada dalam ruangan dengan bekerja menggunakan komputer. Jam kerja pegawai adalah selama 8 jam sehari (dengan masa istirahat selama 1 jam) dan 5 hari dalam seminggu.. Dengan pola kerja seperti itu, apabila cara kerja (postur dan durasi kerja), peralatan kerja yang digunakan (kursi, meja, penempatan peralatan komputer), tata letak dalam ruang kerja (gedung kantor, workstation), dan lingkungan kantor (suhu, kelembaban, pencahayaan, bakteri di ruangan) yang tidak memenuhi syarat serta dipengaruhi oleh karakteristik individu pegawai (usia, jenis kelamin, masa kerja dan kebiasaan olahraga) maka berpotensi terkena dampak risiko ergonomi, yaitu musculoskeletal disorders (MSDs), stres kerja dan kelelahan. Penelitian dilakukan terhadap 52 orang responden dimana keluhan dilihat dari masing-masing karakteristik individu pegawai. Keluhan MSDs diukur menggunakan kuesioner Nordic Body Map, keluhan stress kerja diukur dengan kuesioner DASS 42 dan keluhan kelelahan diukur dengan kuesioner IFRC. Hasil penelitian menunjukan bahwa keluhan MSDs merupakan keluhan terbanyak pada pegawai dengan rata-rata keluhan 17,17%, dimana bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan adalah sakit leher atas 50%, sakit bahu kanan 42,31%, sakit pinggang 42,31%, sakit pungung 38,46%, sakit leher bagian bawah 34,62% dan sakit bahu kiri 30,77%. Dilihat dari karakteristik individu diperoleh data keluhan MSDs sebagai berikut: wanita lebih banyak mengeluh daripada laki-laki, pegawai berusia > 35 tahun lebih banyak mengeluh dari pada pegawai berusia < 35 tahun, pegawai dengan masa kerja > 10 tahun lebih banyak mengeluh dari pada masa kerja < 10 tahun, dan pegawai yang tidak berolahraga lebih banyak mengeluh dari pada pegawai yang rutin berolahraga. Sedangkan keluhan kelelahan relative kecil ratarata 6,86% dan stres hanya ada pada kategori stress ringan dengan rata-rata 11,54%.

Employees activities of PT PLN UIP X which are in the main office is conducting a project administration, where the majority of working time to be in the room to work using a computer. Working hours by employees is 8 hours a day (with a period of rest for 1 hour) and 5 days a week. With such a work pattern, if ways of working (postures and duration), work equipment used (chairs, tables, equipment placement computer), the layout of the workspace (office building, workstation), and the office environment (temperature, humidity, lighting, bacteria in the room) are not eligible and is influenced by the individual characteristics of employees (age, gender, working life and exercise habits ) then potentially affected by ergonomic risk, i.e. musculoskeletal disorders (MSDs), job stress and fatigue. Research conducted on 52 respondents where complaints seen from the individual characteristics of each employee. MSDs complaint was measured using a questionnaire Nordic Body Map, complaints of job stress was measured by a questionnaire DASS 42 and the fatigue was measured by a questionnaire IFRC. The results showed that MSDs are the biggest complaint of employees with an average of 17.17%. The most complained of part of the body is the neck pain over with value of 50%, and then the right shoulder pain 42.31%, the lumbago 42.31%, the back pain 38.46%, the neck pain lower 34.62% and the left shoulder pain 30.77%. Judging from the individual characteristics obtained complaint data MSDs as follows: women complain more than men, employees aged > 35 years more complaining than employees aged < 35 years, employees with working life > 10 years more complaining than working life <10 years, and employees who do not exercise more complaining than employees who regularly exercise. While fatigue is relatively small on average 6.86% while the stress only in the category of mild stress by an average of 11.54%."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
T44868
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>