Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eriza Tjahjono
"Propofol merupakan agen anestesi intravena yang paling banyak digunakan karena menghasilkan anestesi yang baik dengan masa pulih singkat. Namun sering disertai nyeri saat injeksi sampai dengan 70-90% pasien. Di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, nyeri sering diatasi dengan pencampuran lidokain tetapi angka kegagalannya masih mencapai 32%. Sedangkan ondansetron (diberikan sebagai anti muntah) terbukti mengurangi nyeri akibat injeksi propofol sehingga dipilih untuk diujikan pada penelitian ini karena tidak menambah biaya tetapi hanya merubah waktu pemberian.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan nyeri premedikasi ondansetron dengan pencampuran lidokain saat induksi anestesi menggunakan propofol di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Pasien ASA I dan II sejumlah 50 orang yang menjalani operasi elektif dengan pembiusan umum menggunakan Propofol di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Sampel dirandomisasi sederhana menjadi dua kelompok perlakuan yaitu kelompok Lidokain (lidokain 40 mg dicampurkan dalam 100 mg Propofol yang kemudian disuntikkan intra vena) dan kelompok Ondansetron (injeksi ondansetron 4 mg intra vena 1 menit sebelum propofol). Derajad nyeri kemudian dinilai berdasarkan Observer Pain Scale (OPS) oleh peneliti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ondansentron (68% pasien tidak nyeri, 20% nyeri ringan, 8% nyeri sedang, dan 4% nyeri berat) mengurangi nyeri yang sebanding dengan pencampuran lidokain (72% pasien tidak nyeri, 20% nyeri ringan, dan 8% nyeri sedang) dengan nilai p = 0,700 (p bermakna < 0,05) pada uji Mann Whitney. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa premedikasi ondansetron mengurangi nyeri yang sebanding dengan pencampuran lidokain saat induksi anestesi menggunakan propofol di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang.

Propofol is the most popular intravenous anesthetic agent used. Propofol is a good anesthetic agent with short recovery time but often accompanied with pain in 70-90% patient. Lidocaine mixture is often used in Saiful Anwar Hospital Malang to relief pain but still with 32% failure. While ondansetron (antivomiting agent) proven to reduce pain caused by propofol injection, therefore chosen to be used because it will not increase medical cost by only changing time of injection.
Purpose of this research is to compare pain score between ondansentron premedication with lidocaine mixture during anesthesia induction with propofol in Saiful Anwar Hospital Malang. All 50 patients diagnosed with ASA I and II undergo elective surgery in Sentral Operating Theater Saiful Anwar General Hospital with general anesthesia using Propofol is our sample. All sample undergo simple randomization into two groups. First is Lidocaine Group (Lidocaine 40 mg mixed in 100 mg Propofol and injected intravenously). Second is Ondansetron Group (Ondansetron 4 mg injected intravenously 1 minute before propofol). Pain score is evaluated with Observer Pain Scale (OPS) by the researcher.
Our result shows that ondansentron (68% patient has no pain, 20% mild pain, 8% moderate pain, and 4% severe pain) reduce pain similar with lidocaine mixture (72% patient has no pain, 20% mild pain, and 8% moderate pain) with p value = 0,700 (p significant < 0,05) with Mann Whitney test. Conclusion of this research is that ondansetron premedication reduce pain similar with lidocaine mixture during anesthesia induction using propofol in Saiful Anwar Hospital Malang.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Edhie Renanta
"Latar Belakang : Pemberian tiopental intravena dengan turniket selama 30 detik sebelum penyuntikan propofol akan mengurangi nyeri yang diakibatkan propofol. Penelitian ini akan membandingkan keefektifan antara tiopental dan lidokain dalarn pencegahan nyeri yang disebabkan oleh penyuntikan propofol.
Metode : Acak, tersamar ganda . Sebanyak 124 pasien (N=62) , ASA 1-2 dibagi dalam 2 kelompok secara acak. Kelompok L mendapat Lidokain 2% (30 mg), Kelompok T mendapat Tiopental 37.5mg , kedua kelompok obat dibuat daiam L5 ml. Propofol diberikan setelah oklusi pada lengan atas dilepas. Penilaian nyeri 10 detik setelah penyuntikan propofol, dinilai dengan Verbal Kategori Scoring dan VAS (Visual Analog Scale).
Hasil :Sebelas pasien (19,4%) mengeluh nyeri pada kelompok lidokain, pada kelompok tiopental dua pasien (3,2%), 1 pasien nyeri ringan dan 1 pasien nyeri sedang Hasil statistik didapat perbedaan bermakna dengan p < 0.05.
Kesimpulan : Pemberian tiopental 37.5 mg dengan oklusi selarna 30 detik dapat digunakan sebagai altematif untuk mencegah nyeri akibat penyuntikan propofol .

Background : Thiopental administered intravenously (IV) after tourniquet for 30 second immediately before injection of propofol, will reduce pain induced by propofol injection. In this study, these two different techniques in reducing propofol injection pain with thiopental were compared with lidocaine to evaluate the most effective method in reducing propofol injection pain.
Methods : In a randomized, double blind treatment, 124 patients were included into this study. Patients in group L were pretreated with lidocaine 2% (30 mg) IV , and group T received thiopental 2.5% (37.5 mg). All pretreatment drugs were made in 1.5 ml and were accompanied by manual venous occlusion for 30 second. Propofol was administered after release of venous occlusion. Pain was assessed with a verbal category scoring system and VAS .
Result : In group of Lidocaine 12 (19.4%) patients were complained pain. Thiopental group 2 (3.2 %) patients complained pain , 1 patient with mild pain , and 1 patient moderate pain. There was significant difference between thiopental and lidocaine in reducing propofol injection pain using a tourniquet technique.
Conclusion : We conclude that IV retention of thiopental is better than lidocaine and may be a usefull alternative for reducing pain on propofol injection.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18041
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Citra Resmi
"Tujuan : Mengetahui kondisi intubasi 60 delik setelah peinberian rokuronium 0,6 mg/kg berat badan dengan menggunakan teknik induksi kombinasi propofol-efedrin 10 mg intravena dan teknik induksi propolbl intravena.
Desain: Prospektif, data dikumpulkan pada salah pusat penelilian dengan uji acak tersamar ganda.
Metode: 42 pasien dengan status fisik ASA 1 atau 2 yang akan dilakukan pembedahan berencana dengan anestesia uimnl dan intubasi endotrakea disertakan dalaah penelitiaa ini. Pasien dibagi dalam dua kelompok, kelompok I diberikan kombinasi propofol 2,5 mg/kg berat badan-efedrin 10 mg intravena (kelompok efedrin) dan kelompok II diberikan propofol 2,5 mg/kg berat badan intravena (kelompok salin). Premedikasi dengan midazolam 0,05 mg/kg berat badan dan fentanyl 1 pg/kg berat badan diberikau 3 merit sebeluin induksi. Setelah pemberian obat induksi, diberikan rokuronium 0,6 mg/kg berat badan. Kondisi intubasi dinilai bcrdasarkan kritcria Krieg dan peman[auan neuromuskular dengan nicnggunakan Train-of-four pada otot adductor pollicir.
Hasil: Kelompok efedrin didapatkan kondisi intubasi yang sangat baik 85,7% dan baik 14,3%. Kelompok satin didapatkan kondisi intubasi yang sangat balk 75% dan baik 25%.
Kesimpulan . Kondisi intubasi 60 delik selclah pemberian rokuronium 0,6 mg/kg berat badan dengan inenggunakan teknik induksi kombinasi propofol-efedrin 10 ing intravena saina baiknya dengan teknik induksi propofol intravena.

Objective : The aim of this study was to evaluate intubating conditions 60 second after rocuronium 0,6 mg/kg body weight administration using induction technique propofol-ephedrine 10 mg intravenous in combination and induction technique propofol intravenous.
Design : Prospective, randomiked controlled trial study.
Methods : 42 patients with physical status ASA 1 or 2 who were scheduled for elective surgery requiring general anaesthesia and tracheal intubation. Patients were randomly assigned to receive either propofol 2,5 ing/kg body weight-ephedrine 10 mg intravenous in combination (ephedrine group) or propofol 2,5 mg/kg body weight intravenous (saline group). Premedication drugs were midazolam 0,05 mg/kg body weight and fenlanyl l }mg/kg body weight, 3 minute prior to induction. Alter induction drugs were administered. then rocuronium 0,6 inglkg body weight was given. Criteria of Krieg was used to evaluate when intubating conditions and neuromuscular function which was assessed by using Train-of dour monitoring at the adductor pollicis.
Results : In the ephedrine group the intubating conditions were excellent 85,7% and good 14,3%. In the saline group the intubating condition were excellent 75% and good 25%.
Conclusion : intubating conditions 60 second after rocuronium 0,6 mg/kg body weight administration using induction technique propofol-ephedrin 10 mg intravenous in combination as good as induction technique propofol intravenous.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pardede, Dimas Kusnugroho Bonardo
"Latar belakang. Emergence agitation (EA) merupakan gangguan perilaku sementara yang sering terjadi pascaanestesia inhalasi dan berpotensi membahayakan pasien. Pemberian propofol 1-3 mg/kg di akhir anestesia inhalasi mencegah EA tetapi memperpanjang waktu pindah ke ruang pulih. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas propofol dosis 0,5 mg/kg di akhir anestesia untuk menurunkan kejadian EA pasien anak yang menjalani anestesia umum inhalasi. Propofol dinilai efektif jika dapat menurunkan kejadian EA tanpa memperpanjang waktu pindah.
Metode. Penelitian uji klinik acak tersamar ganda terhadap anak usia 1-5 tahun yang menjalani anestesia umum inhalasi di RSCM pada bulan Mei – Agustus 2018. Sebanyak 108 subjek didapatkan dengan metode konsekutif yang dirandomisasi menjadi dua kelompok. Kelompok propofol (n=54) mendapat propofol 0,5 mg/kg di akhir anestesia, sedangkan kontrol (n=54) tidak mendapat propofol. Kejadian EA, waktu pindah, hipotensi, desaturasi dan mual-muntah pascaoperasi dicatat. EA dinilai dengan skala Aono dan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED). Analisis data menggunakan uji chi-square dan t tidak berpasangan.
Hasil. Kejadian EA pada kelompok propofol sebesar 25,9% sedangkan kontrol 51,9% (RR = 0,500; IK 95% 0,298-0,840; p=0,006). Rerata waktu pindah kelompok propofol lebih lama (9,51 ± 3,93 menit) dibandingkan kontrol (7,80 ± 3,57 menit) (selisih rerata 1,71 menit; IK 95% 0,28-3,14; p=0,020). Hipotensi didapatkan pada satu pasien (1,9%) pada kelompok propofol sedangkan pada kontrol tidak ada. Mual-muntah terjadi pada lima pasien (9,3%) pada kelompok propofol dan delapan pasien (14,8%) pada kontrol. Tidak ada desaturasi pada kedua kelompok.
Simpulan. Pemberian propofol dosis 0,5 mg/kg di akhir anestesia secara statistik tidak efektif namun secara klinis efektif menurunkan kejadian EA pasien anak yang menjalani anestesia umum inhalasi.

Background. Emergence agitation (EA) is a common transient behavioral disturbance after inhalational anesthesia and may cause harm. Propofol 1-3 mg/kg administration at the end of inhalational anesthesia prevents EA but prolongs transfer time to recovery room. This study evaluated the effectivity of propofol 0,5 mg/kg at the end of anesthesia to reduce the incidence of EA in children undergoing general inhalational anesthesia. Propofol was considered effective if could reduce the incidence of EA without prolonging transfer time.
Method. This was a double-blind randomized clinical trial on children aged 1-5 years old underwent general inhalational anesthesia in Cipto Mangunkusumo Hospital. One hundred eight subjects were included using consecutive sampling method and randomized into two groups. Propofol group (n=54) was given propofol 0,5 mg/kg at the end of anesthesia while control group (n=54) was not. Incidence of EA, transfer time, postoperative hypotension, desaturation and nausea-vomiting were observed. Aono and Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) scale were used to assess EA. Statistical tests used were chi square and unpaired t test.
Result. Incidence of EA in propofol group was 25,9% while in control group was 51,9% (RR = 0,500; 95% CI 0,298-0,840; p=0,006). Mean transfer time in propofol group was longer (9,51 ± 3,93 minute) than control group (7,80 ± 3,57 minute) (mean difference 1,71 minute; 95% CI 0,28-3,14; p=0,020). Hypotension was found in one patient (1,9%) in propofol group while in control group there was none. Nausea-vomiting was found in five patients (9,3%) in propofol group and eight patients (14,8%) in control. There was no desaturation in both groups.
Conclusion. Administration of propofol 0,5 mg/kg at the end of anesthesia statistically ineffective but clinically effective in reducing the incidence of EA in children undergoing general inhalational anesthesia."
Jakarta: Universitas Indonesia, 2018
T58605
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilah Muhammad Hafidz
"Latar belakang. Teknik Target Controlled Infusion untuk anestesia umum semakin banyak digunakan. Jumlah pasien geriatri yang harus menjalani prosedur operasi semakin bertambah, serta memerlukan pertimbangan khusus mengingat risiko operasi dan pembiusan yang lebih tinggi pada golongan ini. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsentrasi plasma (Cp) dan konsentrasi effect site (Ce) propofol menggunakan rumusan Marsh pada pasien geriatri ras Melayu di RSCM dengan dan tanpa pemberian premedikasi fentanil.
Metode. Empat puluh pasien geriatri orang Indonesia Asli status fisik ASA 2, usia > 60 tahun dan BMI 18-30 kg/m2 dirandomisasi. Satu kelompok (20 pasien) mendapatkan Fentanil-Propofol, lainnya (20 pasien) mendapatkan NaCl-Propofol. Pemberian propofol menggunakan TCI rumusan Marsh dengan target konsentrasi plasma. Target Cp dimulai dari 1 µ/ml dinaikkan 1 µ/ml tiap menit sampai tercapai loss of consciousness (LoC) dan diteruskan sampai nilai BIS 45-60 selama 5 menit (steady state).
Hasil. Pada kelompok Fentanil-Propofol saat LoC didapatkan Cp 3,15+0,35 µ/ml dan Ce 1,53+0,53 µ/ml dan saat BIS stabil didapatkan Cp 4,14+0,59 µ/ml dan Ce 2,63+0,60 µ/ml. Pada kelompok Nacl-Propofol saat LoC didapatkan Cp 4,20+0,61 µ/ml dan Ce 2,26+0,56 µ/ml dan saat BIS stabil didapatkan Cp 4,78+0,38 µ/ml dan Ce 3,30+0,52 µ/ml. Pasien-pasien yang mendapatkan fentanil terlebih dahulu memiliki Cp dan Ce yang lebih rendah baik saat LoC maupun saat nilai BIS stabil (P < 0,05).
Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna antara Cp dan Ce propofol yang diberikan premedikasi fentanil dan yang tidak.

Background. The application of Target Controlled Infusion (TCI) technique in general anesthesia is progressively growing. Number of geriatric patients scheduled for operations increases every year, while this group needs special consideration following the higher risk of surgery and anesthesia. The purpose of our study was to compare the estimated plasma concentration (Cp) and the effect site concentration (Ce) of propofol using Marsh pharmacokinetic model for geriatric patients in Cipto Mangunkusumo Hospital with and without the administration of fentanyl premedication.
Methods. Forty patients, physical status ASA 2, aged > 60, BMI 18-30 kg/m2 randomly assigned to a fentanyl-propofol group or a saline-propofol group. TCI propofol was initiated using Marsh pharmacokinetic model. Initial plasma concentration in each group was 1 µ/ml and increased by 1 µ/ml every minute until there was no eyelash reflex, which defined as loss of consciousness (LoC). Propofol plasma concentration was increased and decreased to reach a stable BIS value between 45-60, considered as Cp and Ce at steady state.
Results. In the fentanyl-propofol group the estimated Cp at loss of consciousness was 3,15+0,35 µ/ml and Ce 1,53+0,53 µ/ml. At steady state, Cp was 4,14+0,59 µ/ml and Ce 2,63+0,60 µ/ml. In the saline-propofol group Cp 4,20+0,61 µ/ml and Ce 2,26+0,56 µ/ml. At steady state, Cp was 4,78+0,38 µ/ml and Ce 3,30+0,52 µ/ml. The estimated Cp and Ce in the fentanyl-propofol group were lower than saline-propofol group (p < 0.05).
Conclusion. There is a significant difference between Cp and Ce in the salinepropofol group and fentanyl-propofol group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ketut Sinardja
"BAB I PENDAHULUAN
Kemajuan dalam bidang anestesiologi antara lain berupa penemuan obat anestetika baru. Hal ini menyebabkan penatalaksanaan anestesia pada bedah mata menjadi lebih baik. Peningkatan tekanan intraokular (TIO) yang hebat dan berbahaya selama pemberian anestesia dapat dicegah. Peningkatan TIO merupakan masalah penting yang hendaknya diperhatikan pada bedah mata intraokular.
Sebelum abad ke XX bedah mata intraokular Umumnya dilakukan dengan analgesia lokal, karena pada waktu itu pemberian anestesia sering menimbulkan penyulit seperti batuk, tahan nafas dan muntah yang menyebabkan kenaikan TIO. Namun menurut penelitian yang dilakukan kemudian telah terbukti, bahwa penyulit yang terjadi lebih banyak dijumpai pada pemberian analgesia lokal daripada pemberian anestesia umum. 1,2,3,4,5,c5
Pada bedah mata intraokular insisi dilakukan melalui kamar depan, yaitu ditempat cairan bola mata mengalir keluar. Bila pada saat itu terjadi peninggian TIO, maka isi bola mata seperti iris, lensa mata dan korpus vitreum akan mengalir keluar, hal ini dapat menyebabkan kebutaan. Sebaliknya bila penurunan TIO terlalu rendah, maka pembedahan akan terganggu. Penurunan TIO yang mendadak dapat menyebabkan dinding bola mata menciut, sehinggga pembuluh darah tertarik dan menyebabkan perdarahan intraokular. 1,2,3,4,5,6
Thaib dan kawan-kawan ( 1978 ) dalam penelitiannya terhadap 412 kasus bedah mata telah membuktikan, bahwa penyulit prolaps iris akibat kenaikan TIO lebih banyak dijumpai pada analgesia lokal dibandingakan dengan anestesia N20 - halotan dengan ventilasi spontan . 3.A,7,8,2
Peninggian TIO pada pemberian anestesia umum dapat terjadi pada saat induksi, intubasi dan pemulihan anestesia.
Pengaruh induksi dan intubasi terhadap TIO merupakan kesatuan pengaruh premedikasi, obat induksi dan pelumpuh otot serta jenis 7,2,10 ventilasi yang digunakan.
Thaib dan kawan-kawan ( 1987 ) telah membuktikan teknik anestesia N20 - halotan dengan menggunakan obat pelumpuh otot vekuronium ternyata dapat menurunkan TIO lebih besar dibandingkan dengan menggunakan anestesia N20 - halotan - pankuronium.9
Mirakhur dan kawan-kawan (1988) telah membandingkan perubahan T1O pada waktu induksi dengan propofol dan tiopental pada 40 kasus bedah mata berencana. Ternyata didapatkan penurunan TIO sebesar 53 % pada induksi propofol dan 40 % pada induksi tiopental, penurunan ini cukup bermakna baik pada induksi tiopental maupun propofol.
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan perubahan TIO pada induksi dan intubasi dengan tiopental dan propofol yang dikombinasikan dengan vekuronium.
"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1989
T 6728
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tauhid Asri Utomo
"Latar Belakang : Penggunaan spray lidokain dengan obat anestetik intravena merupakan pilihan untuk sedasi pada endoskopi saluran cerna atas. Tetapi terdapat ketidaknyamanan dari pasien mengenai penggunaan spray lidokain. Inhalasi lidokain merupakan pilihan alternatif anestetik lokal. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan dari spray lidokain dan inhalasi lidokain pada endoskopi saluran cerna atas.
Metoda : 150 pasien yang menjalani endoskopi saluran cera atas dengan sedasi di RSUPN Cipto Mangunkusumo sejak November 2017 hingga April 2018, dengan kesan ASA I-II, BMI 18,5-29,9, dan setuju untuk mengikuti penelitian, dilakukan randomisasi dan dibagi menjadi 2 grup yang akan mendapatkan 1,5 mg/kgbb spray lidokain atau 1,5 mg.kgbb inhalasi lidokain. Untuk sedasi akan diberikan fentanyl 1 mcg.kgbb dan propofol 1,5 mg/kgbb bolus pada kedua grup . Tiap kejadian gag reflex dan penambahan dosis propofol akan dicatat.
Hasil : Gag reflex terjadi sebanyak 1,3 % total pasien di grup inhalasi lidokain dan 30,7% pada grup spray lidokain (P<0,001). Rerata rescue dose propofol yang didapatkan pada grup inhalasi lidokain (0,67 ± 5,77 mg/kg) dan (11 ± 17,9 mg/kg) pada grup spray lidokain. Parameter lain seperti usia, jenis kelamin, kategori ASA, BMI didapatkan tidak signifikan.
Simpulan : Inhalasi lidokain lebih efektif sebagai anestetik lokal dibandingkan spray lidokain sebagai adjuvan pada endoskopi saluran cerna atas.

Background : Combination of spray lidocaine and intravenous anesthetic was the choice for upper gastrointestinal endoscopy (UGE). However, spraying lidocaine was found uncomfortable to the patient. Nebulized lidocaine was the alternative for local anesthetic. This study aimed to compare the effectiveness of spraying and nebulized lidocaine for patients undergoing UGE.
Methods : 150 patients undergoing UGE under sedation at Cipto Mangunkusumo National Hospital from November 2017 until April 2018, with physical status ASA I-II, BMI 18,5-29,9, and agree to join the experiment, were randomized to receive either 1,5 mg/kg of spray lidocaine or 1,5 mg/kg of nebulized lidocaine. Combined sedation was achieved using fentanyl 1 mcg/kg and Propofol 1,5 mg/kg IV boluses. Every gag reflex occurred and rescue dose of propofol administered were recorded.
Result : Gag reflex occurred 1,3% in nebulized lidocaine group and 30,7% occurred in spray lidocaine (P < 0,001). Mean rescue dose of propofol in nebulized lidocaine group (0,67 ± 5,77 mg/kg) and (11 ± 17,9 mg/kg) in spray group. Outcomes parameters including sex, age, ASA category, BMI were statistically unsignificant.
Discussion : We think inability of spray lidocaine to resist gag reflex is because the process of spraying should be equal from each side of vocal cord, pharynx and larynx. Nebulization could split the lidocaine into small particle, so the spread of the lidocaine will be spread evenly.
Conclusion : Nebulized lidocaine is more effective as local anesthetic than spray lidocaine for adjuvant in UGE.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58600
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sumi Yustiningsih
"Tujuan: Mengetahui pengurangan dosis induksi propofol pada kelompok yang diberikan koinduksi ketamin 0,3 mg/kgBB dibandingkan dengan kelompok yang diberikan koinduksi midazolam 0,03 mg/kgBB.
Metode: Uji Klinik Tersamar Ganda. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Pusat RSCM pada hulan November sampai dengan Desember 2006, dengan jumlah sampel 46 pasien dewasa yang menjalani operasi berencana dan anestesia umum. Pasien dibagi secara acak ke dalam 2 kelompok; 23 pasien mendapatkan koinduksi ketamin 0,3 mg/kgBB dan 23 pasien Iainnya mendapatkan midazolam 0,03 mg/kgBB 2 menit sebelum induksi propofol. Induksi propofol dilakukan secara titrasi 30 mg/i0 detik. Dilakukan pencatatan dosis induksi propofol pada end point hilangnya respon verbal dan hilangnya respon terhadap jaw thrust serta respon hemodinamik 1 menit setelah induksi. Analisa statistik untuk melihat perbedaan rerata antara kedua periakuan menggunakan uji-t, sedangkan perbedaan pada dua kelompok data kategori diuji dengan uji chi-square dengan nilai signilikansi p<0,05 dengan interval kepercayaan 93%.
Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok perlakuan dalarn hal pengurangan dosis induksi propofol dan penurunan tekanan darah 1 manic setelah induksi propofol. Dosis induksi propofol pada kelompok ketamin 0,3 mg/kgBB lebih sedikit dibandingkan dengan midazolam 0,03 mg/kgBB. Ketamin 0,3 mg/kgBB lebih sedikit dalam efek penurunan tekanan darah akibat induksi propofol dibandingkan dengan midazolam 0,03 mg/kgBB.

Objective:
To observe the reduction of propofol induction dose in ketamin co induction 0,3 Mg/Kg BB compare with midazolam coinduction 0,03 mg/kgBB
Methods:
Double blinded randomized clinical trial. The study was conducted at Cipto Mangunkusuma Hospital Central-Surgery Room from November until December 2006 to 46 adult patients who went to elective surgery and general anesthesia Patients were divided randomly into two groups: The group consist of twenty-three patients give co induction ketamin 0,3 mg/kgBW The other twenty-three patients was given with 0,03 mg/kgBW of midazolam coinduction two minutes before the induction propofol. The records doses propofol induction using loss of response to verbal commands and loss. of response to jaw thrust stimulation as end point of induction. This study also observed the homodynamic response one minute after induction. T-test method was performed to identfy the mean difference between the two groups, while Chi Square method was performed to identify the frequency difference (categorical data) between the two groups. A 'p' value of <0.05 was considered statistically significant: with 95% confidence interval.
Conclusion:
There were .significant statistical differences between the two groups in a matter of reducing propofol induction doses and hemodynamic effects one minute after propofol induction. Propofol induction dose was less at ketamine group. Hemodynamic elects one minute after propofol induction, Ketamine 0,3 mg/kgBW was less in reducing blood pressure compared with midazolam 0,03 mg/kgBW.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18006
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zain Ichwan
"Latar belakang : Analgesia subarachnoid disertai pemberian obat sedasi secara infus kontinyu memberikan efek sedasi, amnesia dan ansiolisis yang dapat diprediksi mula kerja,pemulihan,efek samping yang minimal sehingga pasien merasa lebih aman, nyaman setelah dilakukan prosedur pembedahan yang merupakan bagian teknik layanan anestesi bermonitor (Monitored Anesthesia Care, MAC)
Metode : 98 pasien usia 15-60 tahun dengan klasifikasi ASA 1-II yang akan menjalani operasi abdomen tengah kebawah dibagi dalam 2 kelompok dengan analgesia subarachnoid dan pemberian infusi propofol bolus 0,5 mg/kg pemeliharaan 35 Fig/kg/menit dan infusi midazolam bolus 0,05 mg/kg pemeliharaan 0,35 µg/kg/menit, kemudian dinilai keefektifan sedasi, amnesia, ansiolisis Berta dimonitor perubahan hemodinamik dan efek samping yang terjadi.
Hasil : Keefektifan tingkat sedasi kelompok propofol pads menit ke 60 sebesar 72,9% dan kelompok midazolam 77,1%,dengan uji statistik (p>0,05)
Untuk tingkat kecemasan kelompok propofol pada menit ke 15 pasien berkurang kecemasan sebesar 91,7% dan kelompok midazolam sebesar 93,7%,dengan uji statistik (p>0,05).Amnesia yang terjadi pada kelompok propofol sebanyak 16,7% dan kelompok midazolam 54,2%,dengan uji statistik (p<0,05).
Kestabilan hemodinamik kedua kelompok bail( dan efek samping yang terjadi tidak berbeda bermakna (p>0,05),kecuali pada kelompok propofol cenderung dapat mengurangi mual dan muntah (p=0,056}.
Kesimpulan : Pemberian infusi pmpofol 0,5 mg/kg pemeliharaan 35 µg/kg/menit tidak lebih efektif dalam memberikan efek sedasi, ansiolisis dibanding infusi midazolam 0,05 mg/kg pemeliharaan 0,35 µg/kg/menit. Efek amnesia lebih unggul pada kelompok midazolarn dibanding kelompok propofol.

Background: In addition to Subarachnoid analgesia, giving sedation infusion continously will affect sedation effect, amnesia, and anti-anxiety. The process can predict starting time, recovery, minimum side effects, in order to obtain securability, and comfortability of patients. It is important to the patients after undergo surgical operation using Monitored Anesthesia Care (MAC).
Methods: Samples consist of 98 patients of 15-60 year age which conform ASA I-11 classifications. The patients underwent lower abdominal surgery and lower extremity_ The patients were divided into 2 groups. The First group was treated using subarachnoid analgesia, bolus propofol infusion at 0.5 mg/kg, and maintenance at 35 p.g/kglminute. The second group was treated using subarachnoid analgesia, bolus midazolam infusion at 0.05 mg/kg, and maintenance at 0,35 fig/kg/minute. After that, the value of sedation effectiveness, amnesia, and anti-anxiety were investigated. Also, hemodinamic value and side effects were monitored.
Results: Sedation score effectiveness of propofol group at sixtieth minute was 72.9% and that of midazolam group was 77.1% (using statistical test with p > 0.05).
For anxiety score, the value of propofol group, at fifteenth minute, reduce into 91.7% and that of midazolam group became 93.7% (using statistical test with p > 0.05). The value of Amnesia of propofol group was 16.7% and that of midazolam group was 542% (using statistical test with p < 0.05).
Hemodinamical stability of both groups was good. Side effect occurs was not different (at p > 0.05), except for propofol group tends to reduce nausea and vomiting (p = 0.056).
Conclusions: Giving propofol infusion at 0.5 mg/kg and maintenance at 35 p.glkg/minute was less effective in sedation effect, anti-anxiety compared to midazolam infusion at 0.05 mg/kg and maintenance at.0.35 fig/kg/minute. Amnesia effect for midazolam group better than that of propofol group."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T21411
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library