Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Felix Firyanto Widjaja
"Background: nowadays, radiofrequency ablation (RFA) is applied widely as an alternative therapy of resection in patient with hepatocellular carcinoma (HCC). Moreover, in single nodule with size of less than 2 cm, RFA may be the primary treatment. Although resection is the main treatment and one of the curative treatments in nodule meeting Milan criteria, it needs consideration of risk stratification for surgical resection. This report was aimed to search evidence of RFA compared with RFA in term of survival in patient with HCC single nodule size of more than 5 cm.
Methods: the searching was done using PubMed, Scopus, Web of Science, dan CINAHL from EBSCO with keyword of “hepatocellular carcinoma”, “single nodule”, “radiofrequency ablation”, “resection”, and “survival”. The limitation of the article was English with clinical question of “In patient with HCC single nodule size of more than 5 cm, was RFA more superior in resection in term of survival?”.
Results: there were three articles with retrospective studies. One of the article combined RFA and percutaneous ethanol injection in the analysis, meanwhile another article combined RFA and transarterial chemoembolization. These articles showed conflicting ata that showed absolute risk reduction of 33% till absolute risk increment of 60.6%.
Conclusion: all studies used RFA as the alternative of resection when the the tumor was unresectable which means the severity was higher in RFA group. Hence, we can not solely conclude that RFA resulted in worse survival.

Latar belakang: radiofrequency ablation (RFA) saat ini semakin luas dipergunakan sebagai terapi alternatif reseksi pada pasien dengan karsinoma sel hati (KHS). Bahkan pada ukuran nodul kurang dari 2 cm, RFA dapat menjadi lini utama pada kasus tersebut. Reseksi merupakan terapi utama dan salah satu terapi kuratif pada nodul dengan kriteria Milan, tetapi harus dipertimbangkan toleransi operasi pada pasien yang akan menjalani reseksi. Pada laporan kasus berdasar bukti ini kami bertujuan memperlihatkan efektivitas RFA dibandingkan reseksi dalam hal kesintasan, tetapi pada KHS nodul tunggal berukuran lebih dari 5 cm.
Metode: pencarian artikel dilakukan dengan menggunakan mesin pencari PubMed, Scopus, Web of Science, dan CINAHL dari EBSCO dengan kata kunci “hepatocellular carcinoma”, “single nodule”, “radiofrequency ablation”, “resection”, dan “survival”. Artikel dibatasi pada artikel berbahasa Inggris dengan pertanyaan klinis “Pada pasien dengan KHS nodul tunggal berukuran lebih dari 5 cm, apakah RFA lebih baik dibandingkan dengan reseksi untuk memperpanjang kesintasan?” Hasil: didapatkan tiga artikel penelitian retrospektif dengan satu artikel menggabungkan terapi RFA dan injeksi etanol dalam analisis dan satu penelitian menggabungkan RFA dengan transarterial chemoembolization (TACE) dalam analisisnya. Dari ketiga penelitian tersebut memperlihatkan penurunan risiko absolut 33% sampai peningkatan risiko absolut 60,6%. Kesimpulan: seluruh penelitian menjadikan RFA sebagai alternatif reseksi bila reseksi tidak dapat dilakukan yang berarti tingkat keparahan lebih tinggi pada RFA, sehingga sulit mengambil kesimpulan bahwa RFA memberikan kesintasan lebih buruk.
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2018
610 UI-IJIM 50:4 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Noersyid
"Latar Belakang: Fibrilasi Atrium (FA) merupakan salah satu kelainan terbanyak di bidang irama jantung. Pasien FA memiliki resiko stroke dan gagal jantung lebih tinggi dari pasien tanpa FA. Prevalensi FA berkisar 1-2% di dunia dan di Rumah sakit Jantung dan Pembuluh darah Harapan Kita berkisar 9,8%. Salah satu strategi pengobatan dengan mengonversi irama kembali menjadi sinus baik dengan medikamentosa atau elektrikal. Strategi pengobatan elektrikal dengan kateter radiofrekuensi ablasi merupakan opsi dengan keberhasilan cukup tinggi. Angka Rekurensi FA jangka panjang masih cukup tinggi berkisar 40-60%. Beberapa faktor telah diketahui dapat mempengaruhi terjadinya rekurensi fibrilasi atrium jangka panjang. Faktor-faktor tersebut diharapkan dapat digunakan untuk dibuat suatu sistem skor prediksi rekurensi Fibrilasi atrium jangka panjang.
Tujuan: Membuat sistem skor dapat memprediksi rekurensi FA jangka panjang. Mendapatkan angka kejadian rekurensi FA jangka panjang.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Penyakit Jantung dan Pembuluh darah Harapan Kita. Penelitian ini memantau titik awal yaitu dilakukan kateter ablasi radiofrekuensi sampai dengan pemantauan 12 bulan atau terjadi kejadian rekurensi FA dalam periode pemantauan. Di lakukan uji bivariate semua variabel independen dan perancu, dilanjutkan multivariat, analisis kurva Kaplan-Meier pada variabel yang lolos dalam uji multivariate, dan dilanjutkaan pembuatan sistem skoring.
Hasil: Penelitian ini mendapatkan angka rekurensi FA jangka panjang 48,5%.Tiga variabel yang lolos dalam uji multivariat yaitu rekurensi awal FA (HR 3,32; IK: 1,82-6,04), jenis FA (HR 2,17; IK 1,02-3,87), DAKi (HR 1,83; IK 1,21-3,26). Analisa Kaplan-Meier didapatkan penurunan angka bebas rekurensi FA pada rekurensi awal FA, jenis FA persisten, DAKi ≥40,5 mm (43%, 32%,30%). Nilai kemungkinan rekurensi FA masing-masing skor yaitu 0: 17%, 1: 38%, 2: 58%, 3: 76%, 4: 90%. Nilai Area under curve (AUC) dari total skor adalah 0,79 dengan nilai kalibrasi yaitu 0,138.
Kesimpulan: Sistem skoring KHALID (reKurensi jangka panjang Hasil ablasi Atrial fibriLasi InDonesia)dapat dipakai untuk memprediksi rekurensi FA jangka panjang pada pasien yang menjalani fibrilasi atrium nonvalvular yang menjalani kateter radiofrekuensi ablasi. Angka rekurensi FA jangka panjang yaitu 48,5%.

Background: Atrial Fibrillation (AF) is one of the most abnormalities in the field of arrhythmia. AF patients had a higher risk of stroke and heart failure than patients without AF. Prevalence of AF ranges from 1-2% in the world and in the Cardiovascular Harapan Kita Hospital range from 9.8%. One of the treatment strategies is converting the rhytm back into a sinus either with medical or electriacal. The strategy of electrical treatment with catheter ablation radiofrequency is a option with considerable success. Long-term recurrence of AF are still quite high ranging from 40-60%. Several factors have been known to affect long term recurrence of AF. These factors are expected to be used to establish a system of score to predict of long term AF recurrence.
Objective: To create a scoring system can predict long-term AF recurrence. To get data of prevalence longterm AF recurrence.
Method: This is a retrospective cohort study conducted in Cardiovascular Harapan Kita Hospital. This study monitors the starting point of Radiofrekuency ablation catheter up to 12 months monitoring or recurrence of AF event within the monitoring period. In doing bivariate test all independent and confounding variables, followrd by multivariate, Kaplan-Meier curve analysis on the variables that passed in multivariate test, followed by making scoring system.
Results: This Study obtained a prevalence of long-term recurrence AF of 48.5%. Three variables that passed in multivariate test were early recurrence (HR 3.32;CI 1,82-6,04), FA type (HR 2.17;CI 1.02-3.87), Left atrium diameter (HR 1.83; CI 1.21-3.26). Kaplan-Meier curve analysis obtained a decrease in free of AF recurrence numbers in early recurrence, persisten AF type, left Atrium diameter ≥ 40.5 mm (43%, 32%, 30%). The probabilities to get AF recurrence based on score is 0: 17%, 1: 38%, 2: 58%, 3: 76%, 4: 90%. The value of Area under Curve (AUC) of total score is 0.79 with a calibration valure of 0.138.
Conclusion: The KHALID scoring system can be used to predict long term of AF recurrence in patient with nonvalvular AF undergoing radiofrequency ablation catheter. The Prevalence of long-term of AF recurrence is 48.5%.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library