Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1095 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sultan, Syed Alwi Mohamed
Kuala Lumpur : Cert Publications, 2012
297.273 SYE m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Agustian Zen
"Peter F. Drucker dalam tulisan The Changed World Economy menyatakan bahwa telah menjadi kecendrungan bagi para pelaku ekonomi untuk melakukan investasi dalam bentuk valuta, dan hal ini merupakan ciri dari perekonomian dunia pada dekade terahir ini, dimana nilai perputaran uang dunia dalam bentuk berbagai valuta asing telah mencapai US$ 150.000 juta. per hari, atau sekitar 12 kali nilai transaksi barang dan jasa dunia perhari. Sehingga pendapat dari Drucker, bahwa perubahan fundamental telah terjadi dalam perekonomian dunia, dimana symbol economy (perputaran uang dan modal Y menjadi lebih dominan daripada real economy (transaksi barang dan jasa) dan pendapatnya telah terbukti.
Banyak jenis fasilitas maupun jenis transaksi yang dapat dilakukan dalam pasar uang ini, antara lain transaksi swap dan arbitrage yang merupakan bentuk transaksi va1uta asing yang paling populer didalam dealing room, dimana trader meyerahkan sejumlah deposito atau kewajiban kepada bank/lembaga keuangan lainnya, sehingga trader/dealer dapat melakukan transaksi jual beli valuta asing untuk suatu nilai nominal yang lazim diperdagangkan. Biasanya margin berkisar antara 5 % sampai 10% dari jumlah nominal tersebut.
Dari segi keuangan, tingkat leverage yang tinggi ini menarik karena dapat memberikan return on investment yang tinggi, jauh lebih tinggi daripada transaksi uang dalam bentuk tunai. Sebaliknya, segi resiko juga harus diperhitungkan mengingat tingkat leverage yang tinggi itu. Oleh karena itu, pengambilan keputusan menjadi sangat penting, terutama menyangkut waktu untuk menjua1 maupun membe1i . Secara idea1 yang pa1ing menguntungkan ka1au trader dapat membe1i pada kurs yang rendah dan menjualnya pada kurs yang tinggi (buy 1ow sell high), namun akibat gejo1ak kurs yang cepat dan tak terduga sering yang terjadi adalah seba1iknya (sell low buy high) sebagaimana terjadi pada kasus Bank Duta. Dalam transaksi va1uta asing ini tingkat spekulasi yang dikandung adalah tinggi. Namun justru hal inilah yang menarik, dan semakin banyak orang terjun ke bursa valuta asing,fluktuasi kurs ini makin menambah peluang bagi trader untuk meraih laba akibat selisih kurs.
Masalahnya adalah bagaimana memanfaatkan situasi ini dengan sebaik mungkin. Keahlian untuk menangani transaksi valuta asing kian diperlukan, apa1agi sejak dike1uarkannya Paket 27 Oktober 1988, dimana syarat untuk menjadi bank devisa diperingan, dan cabang-cabang bank devisa otomatis berfungsi sebagai bank devisa. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan sejak paket tersebut dikeluarkan, sudah ada dua bank yang naik statusnya menjadi bank devisa. Ini tentunya menyebabkan peningkatan permintaan terhadap kuantitas maupun kualitas tenaga profesional dalam bidang manajemen valuta asing.
Untuk melakukan transaksi perdagangan valuta asing, peranan prakiraan tingkat pertukaran antar valuta sangat penting, termasuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhinya. Disamping itu, dalam perdagangan valuta asing, fasilitas swap dapat membantu meringankan beban perusahaan dalam menghadapi gejolak tingkat pertukaran yang tidak menentu baik pembayaran bunganya maupun dalam pembayaran kembali kewajiban pokoknya sedangkan fasilitas arbitrage dapat memberikan tambahan keuntungan dari suatu investasi dalam valuta asing serta keuntungan dari selisih spread tingkat pertukaran valuta tersebut. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1990
T10443
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasahatan, Andre Marhuarar
"Investasi selalu dihadapkan pada dua masalah yaitu maksimasi tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dan minimalisasi resiko (risk). Dimana diasumsikan bahwa semakin tinggi tingkat pengembalian yang diharapkan maka resiko yang dihadapi juga menjadi semakin tinggi. Penelitian dalam karya akhir ini akan membahas mengenai proses penyusunan portofolio saham yang berasal dari komponen Indeks LQ-45 dan pengaruh indikator ekonomi seperti indeks harga saham gabungan (IHSG), indeks LQ-45 (ILQ-45), dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap US Dollar (IDR/USD) dsn dampaknya terhadap pergerakan indeks portofolio yang disusun pada saham sektor barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta selama periode 1997-2001. Penelitian ini mencoba untuk membuat persamaan pengaruh faktor tersebut dengan memperhatikan nilai error/residu persamaan dengan asumsi dimana residu pada persamaan tidak selamanya bersifat konstan sepanjang waktu (homoscedastic) dan pergerakan volatilitas residu dapat menjelaskan pergerakan tingkat resiko masa lalu yang relevan untuk memperkirakan resiko pada masa yang akan datang.
Hasil penelitian pada masa menjelang krisis ekonomi tahun 1997 banyak saham - saham yang menghasilkan nilai return yang negatif dimana faktor penyebab terutama adalah melemahnya kurs secara signifikan. Pada periode 1998 dan periode 1999, saham-saham calon penyusun portofolio lebih banyak yang memberikan nilai return yang positif. Pada tahun 2000, juga saham - saham kembali mengalami tekanan tingkat pengembalian kebanyakan memberikan nilai return yang negatif. Pada periode 2001, saham-saham calon penyusun portofolio masih terlihat pada tahap recovery dimana sebagian masih memberikan return yang negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IHSG dan ILQ-45 memiliki high multicollinearity sehingga kedua indeks tersebut tidak dapat dimasukkan sekaligus dalam persamaan. Pada persamaan juga ditemukan bahwa kebanyakan IDR tidak langsung berpengaruh kepada saham - saham penyusun portofolio dan portofolio tetapi lebih berpengaruh langsung kepada nilai IHSG.
Pengukuran signifikansi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan indeks harga saham individual calon penyusun portofolio dan portofolio menunjukkan bahwa IHSG pada tahun 1997 berpengaruh terhadap saham ISAT dengan koefisien sebesar 0,53 tetapi tidak berpengaruh kepada pergerakan saham RMBA dimana saham tersebut lebih dipengaruhi oleh pergerakan masa lalu (lag) sedangkan portofolio dipengaruhi oleh IHSG dengan koefisien sebesar 0,2785. Periode penelitian 1998 menunjukkan bahwa sahatp ASGR sedikit dipengaruhi oleh IDR dengan koefisien sebesar --0,0737 dan saham INTP dipengaruhi oleh IHSG dengan koefisien sebesar 0,3949 dan juga oleh lag, sedangkan saham SMGR dipengaruhi oleh IHSG dengan koefisien sebesar 0,8869 dan juga oleh lag. Portofolio periode tersebut dipengaruhi oleh IHSG dengan koefisien sebesar 0,3859. Pada periode 1999, hanya terdapat satu emiten yang masuk kedalam garis efisien sehingga tidak dapat dibentuk portofolionya. Emiten tersebut adalah F ASW dimana pergerakan sahamnya dipengaruhi oleh IHSG dengan koefisien sebesar 0,92325. Pada periode 2001, IHSG mempengaruhi BMTR dengan koefisien sebesar 0,4 781 sedangkan mempengaruhi F ASW dengan koefisien 0,5602 dan mempengaruhi MEDC dengan koefisien sebesar 0,5328. Kemudian IHSG juga mempengaruhi TLKM koefisien sebesar 1,709 dan mempengaruhi TSPC dengan koefisien sebesar 0,8706 dan juga mempengaruhi ULTJ dengan koefisien sebesar 0,3958. Sedangkan pada portofolio periode ini IHSG mempengaruhi pergerakannya dengan koefisien sebesar 0,6707.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah analisa resiko dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengembalian indeks saham individual pada wilayah efisien maupun portofolio relatif berpengaruh terhadap pergerakan indikator IHSG dan nilai tukar kurs. Return indeks portofolio juga banyak dipengaruhi oleh informasi pergerakan di masa lalu (lag). Model GARCH (1,1) dapat digunakan pada portofolio 2000 dan 2001."
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arya Wikutama
"ABSTRAK
Industri perbankan di suatu negara tentu sangat berkaitan dengan perekonomian di
negara tersebut. Jika perekonomian suatu negara sedang berkembang, maka industri
perbankan juga dapat tumbuh berkembang. Namun sebaliknya jika perekonomian
sedang mengalami krisis, maka hal ini dapat pula berdampak kepada industri
perbankan. Sebagai contoh, krisis yang terjadi di tahun 1997 membawa dampak
negatif bagi industri perbankan nasional, antara lain ditandai dengan terkikisnya
permodalan bank, meningkatnya Non Performing Loan (NPL), dan penutupan
sejumlah bank. Oleh karena itulah bank harus memperhatikan perubahan ekonomi
sebelum memberikan kredit agar kredit yang diberikan tidak menjadi macet.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perubahan variabelvariabel
makroekonomi terhadap kualitas kredit khususnya kredit bermasalah Bank
Pembangunan Daerah berdasarkan data historis periode Maret 2003 - Desember
2009. Variabel-variabel makroekonomi yang diuji meliputi tingkat inflasi, tingkat
suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah.
Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi data panel (pool regression).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah
tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kredit bermasalah Bank
Pembangunan Daerah karena variabel inflasi yang digunakan adalah makro
sedangkan variabel NPL yang digunakan hanya NPL BPD sehingga ada faktor-faktor
lain yang berpengaruh, sedangkan nilai tukar rupiah tidak berpengaruh karena jumlah
kredit yang diberikan BPD dalam nominal dollar sangat kecil jumlahnya. Sedangkan
untuk variabel tingkat suku bunga SBI memiliki hubungan yang signifikan terhadap
kredit bermasalah Bank Pembangunan Daerah.

ABSTRACT
Banking industry in a country is closely linked with the country's economy. If a
country's economy is growing, the banking industry can also grow. But on the
contrary, if the economy is experiencing a crisis, then this may also affect the banking
industry. For example, the crisis that occurred in 1997 affecting the national banking
industry, such as the erosion of bank capital, increasing Non Performing Loan (NPL),
and closure of some banks. Hence, banks should pay attention to economic change
otherwise their credit loans will become not performed.
The objective of this research is to find out the relationship between changes of
macroeconomics variables to quality of credit, especially non performing loan of
regional development banks, based on historical data March 2003 until Desember
2009. In this research, the Macroeconomics variables include: inflation rate,
government interest rate, and the exchange rate.
This research uses regression analysis of panel data (pool regression method). The
results shows that changes in the rate of inflation and exchange rate have no
significant relationship to the nonperforming loans of Regional Development Banks
because of the inflation variable that used is macro variable while the NPL variable
only NPL of BPD so that there are some other factors that influence this research,
while the rupiah exchange rate have no significant relationship because of the total
loans of BPD in dollar amount is very little. While for the variable interest rate of SBI
have a significant relationship to the NPL of Regional Development Banks."
2010
T27766
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Latifah Ayunin
"ABSTRAK
Keuntungan merupakan indikator penting dari kondisi finansial perusahaan dan
akan digunakan untuk pembiayaan segala aktivitas dalam perusahaan. Salah satu
sumber keuntungan perusahaan adalah dari hasil underwriting, dimana hasil
underwriting atas suatu produk asuransi jiwa harus menghasilkan surplus. Secara
umum, perhitungan surplus produk asuransi jiwa menggunakan pendekatan
deterministik yang mengasumsikan nilai suatu variabel adalah konstan. Seperti
diketahui bahwa terdapat variabilitas dari tingkat pengembalian investasi, tingkat
kematian atau tingkat lapse, sehingga pendekatan deterministik menjadi kurang
sesuai untuk kondisi sebenarnya. Dalam penelitian ini dikaji mengenai penggunaan
pendekatan stokastik dalam perhitungan surplus suatu produk asuransi jiwa. Hal ini
penting untuk dikaji agar dapat menghasilkan perhitungan surplus yang mendekati
kondisi sebenarnya. Peubah acak bersifat stokastik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tingkat pengembalian investasi, tingkat bunga untuk
menggambarkan tingkat pengembalian investasi serta tingkat kematian. Tingkat
pengembalian investasi dimodelkan AR(1), tingkat suku bunga dimodelkan Cox
Ingersoll Ross (CIR), serta tingkat kematian menggunakan pendekatan hukum
mortalita Makeham. Perhitungan pendekatan stokastik menghasilkan nilai surplus
yang berbeda pada tiap periode valuasi serta variabilitas dari nilai surplus pada masa
mendatang cukup tinggi. Selain itu pada periode tengah hingga akhir masa asuransi,
surplus hasil perhitungan pendekatan stokastik lebih tinggi dibandingkan
pendekatan deterministik. Perhitungan surplus pendekatan stokastik menggunakan
data tingkat pengembalian investasi menghasilkan nilai surplus lebih tinggi
dibandingkan menggunakan data tingkat suku bunga pada beberapa periode di akhir
masa asuransi.

ABSTRACT
A profit is an important indicator of an insurance company?s financial condition
and will be used to financing all activities within the company. One of the sources
of profit is underwriting results, which is the underwriting result must produce
surplus. In general, the calculation of surplus for life insurance product using
deterministic approach that assumes the value of variable is constant. However it is
known that there is variability in the level rate of return, mortality rate or lapse rate,
so the deterministic approach would be less suited to the real conditions. This study
examines the use of stochastic approach in the calculation of surplus for life
insurance product. This study is needed to provide calculation that resemble the real
conditions. Stochastic random variables used were variable rate of return, interest
rate to describe rate of return and mortality rate. The rate of return is modelled using
AR(1), interest rate is modelled using Cox Ingersoll Ross (CIR) and mortality rates
is approached by Makeham mortality law. The calculation of a stochastic approach
produce surplus value which varies in each period and the variability of future
surplus value is quite high. In the middle until end of the insurance period, surplus
from the calculation using stochastic approach is higher than the calculation using
deterministic approach. The calculation of a stochastic approach when using
variable rate of return produce higher surplus value than when using variable
interest rate at some period in the end of insurance period."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Milhatun Nisa
"Economic growth is influenced by several factors, both in developing and developed countries, where the indicator of seeing high or low is seen through Gross Domestic Product (GDP). On the other hands, GDP is also influenced by other variables, in this paper the author aims to further review the relationship between GDP and interest rates, exchange rates, and inflation rates in Indonesia using a time-series technique, during the period 2010 Q1 to 2020 Q4. The data for this study were provided by Bank Indonesia and the International Monetary Fund. Since the model has a spurious problem, the error correction model was used to compare the results of the analysis in the long and short run. The cointegration estimation based on trace and max-eigen statistic is greater than the critical value which means it is cointegrated. The findings indicate that in the long run and short run, there are variables insignificantly GDP and there are changes in correlation between variables and GDP in each method that have been used, owing to this further study is needed. When to the one or two aligned macroeconomic variables applied in previous related research, this paper casts an empirical light into understanding the link. Derived from the research results, the Indonesian government should adopt appropriate policies to stabilise the monetary sector, especially the central bank which is deemed essential to improve the flexibility in adjusting and anticipating more economic issues as well as future challenges."
Depok: UIII Press, 2022
297 MUS 1:1 (2022)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Changing on Indonesian exchange rate system from fixed to dirty floating systems since August 14, 1997, had made rupiah US dollar rate fluctuating freely and achieved its higher rate, like on June 1998 at Rp 14.900/USD. ...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Stevie Constant
"Tujuan dari tesis ini adalah melihat bagaimana hubungan antara beta CAPM dengan beta Multifactor Models. Yang menjadi variabel dependen ialah beta CAPM. Dan variabel independennya ialah beta inflasi, beta nilai tukar, dan beta suku bunga. Sampel yang dipilih merupakan saham-saham yang termasuk kategori LQ45 selama periode 2005-2007 yaitu sebanyak 12 saham. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya variabel beta inflasi yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap beta CAPM, sedangkan variabel beta nilai tukar dan beta suku bunga tidak
The purpose of this thesis is to see how the relationship between beta CAPM and beta Multifactor Models. The dependent variable is the CAPM beta. And the independent variables are inflation beta, exchange rate beta, and interest rate beta. The sample selected is stocks that are included in the LQ45 category during the period 2005-2007, which are 12 stocks. The results of this study indicate that only the inflation beta variable has a significant effect on the CAPM beta, while the exchange rate beta and interest rate beta do not. Keywords."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25369
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mahjus Ekananda
"The ratio of Non-Performing Loan (NPL) and Capital Adequacy Ratio (CAR) is still a measure of bank soundness in various countries including Indonesia. Interdependence across bank condition, diversity of the size, market structure within banking industry, and macroeconomic variables, may be very complex and dynamic. This paper utilizes the advantage of PVAR model on capturing this complexity to analyze the dynamic relationship between the macroeconomic variables and the soundness of the banks.
The result shows NPL of banks with small asset will increases rapidly when interest rate fluctuates. For banks with large asset, the increase in interest rates leads to larger reduction on their CAR. On the other hand, the result show banks with smaller capital are less able to adapt quickly to an increase in NPL due to exchange rate depreciation, therefore banks with smaller capital should be cautious about the exchange rate risk."
Jakarta: Bank Indonesia Insitute, 2017
332 BEMP 20:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Tax revenue is one of the main sources of state revenue than the revenue from oil and gas and other revenues. Tax revenues contributed to the state budget amounted to 70.46% in 2007..."
MMJA 6:1 (2008)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>