Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arman Harijanto
"ABSTRAK
Melalui televisi konsumen tidak hanya menikmati program-program televisi yang disajikan melainkan juga memperoleh informasi. Salah satu bentuk informasi
yang ditayangkan melalui televisi adalah iklan. Dari seluruh media yang ada, televisi merupakan media terefektif bagi pengiklan untuk mengkomunikasikan produk / Jasa nya kepada target pasar. Kenyataan membuktikan bahwa di kota besar di Indonesia terdapat 80% pria dan wanita dan seluruh penduduk, menonton televisi.
Berbagai pesan atau informasi mengenai produk / jasa perusahaan direncanakan sedemikian rupa agar dapat diterima oleh target pemirsa yang tepat. Berkaitan dengan perencanaan tersebut, perusahaan umumnya menggunakan biro iklan. Di dalam biro iklan terdapat media planning department yang terkait dengan
proses mendesain sebuah perencanaan periklanan baik waktu maupun media yang tepat. Para media planner di dalam membuat suatu perencanaan media di televisi
mengacu pada angka rating.
Setiap program televisi dapat diukur jumlah pemirsanya melalui suatu alat yang dinamakan people meter. Alat inilah yang menghimpun data kepemirsaan televisi yang akhirnya menghasilkan suatu angka rating program. Jika pengiklan hendak mengkomunikasikan produk / jasa yang ditawarkan ke sebanyak mungkin orang, maka seorang media planner akan menempatkan iklan perusahaan pada program yang ratingnya tinggi. Perusahaan yang juga dinamakan sebagai pengiklan dalam konteks ini, menginginkan agar produk / jasa dapat dikomunikasikan dengan efektif kepada target pasarnya.
Rating televisi dianggap sebagai satu-satunya dasar untuk membantu media planner dalam mencari dan menentukan program yang tepat bagi produk / jasa pengiklan. Di sisi lain rating tersebut mengandung banyak pertanyaan khususnya mengenai keabsahan angka rating. Pertanyaan tersebut umumnya berkisar mengenai
metode riset. jumlah sampel dan validitas rating serta banyak hal lainnya. Oleh karena itu perlu dievaluasi sampaì seberapa jauh para media planner memanfaatkan
angka rating yang diperoleh dengan kondisi dimana rating televisi tersebut masih dianggap mengandung banyak kekurangan dan kritìk.
Tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini adalah memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kegunaan rating televisi bagi media planner. Disamping itu, penelitian ini ingin memperoleh gambaran mengenai penilaian para Media planner terhadap rating serta manfaat yang diperoleh melalui analisis rating.
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah rating yang diartikan sebagai jumlah rumah tangga atau orang yang ditarget untuk sebuah program, jaringan. stasiun atau komersial khusus, Pengembangan dan konsep tersebut
di Iengkapi dengan ulasan analisis rating beserta rnanfaatnya masing-masing. Analisis tersebut secara garis besar dapat dipilih berdasarkan analisa penonton. analisa program dan analisa jangkauan. Berbagal kritik dan pendapat banyak pihak, memberikan gambaran yang lebih Iengkap untuk memahami keadaan rating televisi
dalam penggunaannya.
Metode penelitian diakukan dengan menggunakan dua tahap riset yaitu riset eksploratori dan riset deskriptif. Salah satu cara yang dilakukan dalam riset
eksploratori adalah melakukan in-depth interview dengan media planner dari pihak AC Nielsen Indonesia Metode pengumpulan data yang digunakan adalah self-administered survey. Evaluasi rating diukur pada skala ordinal. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif dan analisa asosiatif
dengan menggunakan SPSS v.10.
Dari penelitian ini ditemukan bahwa para media planner pada dasarnya memiliki pengetahuan yang baik terhadap metode pengujian rating. alat ukur yang digunakan, perhitungan rating dan survei kepemirsaan televisi Tingkat pengetahuan tersebut lebih dipengaruhi oleh karakteristik individual. Responden juga mengetahui
dengan baik penggunaan alat analisis rating namun mereka merasa kurang puas dengan rating televisi. Sementara itu, tingkat pengetahuan media planner mengenai alat analisis rating lebih dipengaruhi oleh TV AdSpend yang ditangani. Rating masih dianggap sebagai satu-satunya alat terbaik (saat ini) yang digunakan sebagai dasar
untuk melakukan perencanaan media di televisi.
Beberapa saran diberikan kepada AC Nielsen, media planner dan pengiklan, AC Nielsen diharapkan dapat mengedukasi pengiklan agar tidak mendasarkan keputusan beriklan hanya dengan melihat program berating tinggi. Dalam proses itu, AC Nielsen juga perlu memberikan penjelasan mendalam mengenai keberadaan rating terniasuk metode pengujian, perhitungan dan sebagainya. Adopsi teknologi terbaru dalam survei kepemirsaan televisi dapat semakin mempermudah biro iklan dalam merencanakan media di televisi.
Media planner hendaknya lebih berkonsentrasi pada tujuan media yang jelas
agar perencanaan yang dibuatpun benar-benar menjawab apa yang dibutuhkan oleh
pengiklan, Biro iklan sebaiknya juga berfungsi sebagai fungsi kontrol dan media
buyer harus dapat menilai kesesuaian antara karakteristik program dengan
karakteristik produk atau jasa yang akan dikomunikasikan kepada target konsumen.
Profil target pemirsa sangat penting dalam perencanaan media termasuk media
televisi.
Para media planner, pengiklan serta perencana program di stasiun televisi
semakin cermat menanggapi adanya pergeseran preferensi konsumen. Cara yang
dapat dilakukan adalah membentuk bagian riset kepermirsaan secara internal yang
akhirnya, membantu perencanaan media dengan Iebih efektif dan menjawab
kebutuhan pengikian.
P3I sebagai lembaga periklanan yang mengelola keberadaan organisasi
perikianan di Indonesia, diharapkan dapat mendorong dan mengusulkan kepada
pemerintah. Usulan tersebut berupa suatu upaya untuk berdirinya sebuah lembaga
riset kepemirsaan televisi lain agar survei kepemirsaan televisi dapat
dipertanggungiawabkan dan menjadi masukan yang berarti bagi insan periklanan di
Indonesia.
"
2001
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Panjaitan, Erica L.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006
384.55 PAN m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Margaretha Pranata
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1982
S16784
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Liana Artanti
"Suatu produk asuransi kesehetan tidak pernah terlepas dari besarnya premi yang ditetapkan. Penentuan premi asuransi dibuat berdasarkan pengolahan data pengalaman masa lalu. Salah satu dari data tersebut adalah data pengalaman klaim yang berhasil didokumentasikan secara baik dan tepat. Penghitungan yang tepat dari total klaim yang tetjadi perlu dilakukan sebagai dasar dari penentuan tarif premi untuk periode pertanggungan yang akan datang.
Penetapan tarif premi yang tidak optimal sering berdampak pada tingkat kompetisi produk tersebut di pasar, apalagi produk-produk asuransi kesehatan dewasa ini sangat beragam dengan perbedaan ciri produk yang sangat tipis antara satu jenis produk dengan yang lainnya. Salah satu cara untuk melakukan estimasi premi lanjutan adalah dengan metode loss ratio. Karena metode ini sangat tergantung pada besarnya loss ratio yang dihasilkan pada suatu periode pertanggungan untuk mengestimasi premi lanjutan masa pertanggungan selanjutnya maka dibutuhkan data pengalaman klaim yang terdokumentasi dengan baik, juga ketepatan waktu dalam proses pembayaran klaim. Keterlambatan pembayaran klaim yang mengakibatkan penumpukan klaim di periode selanjutnya akan mempengaruhi estimasi ultimate losses yang pada akhirnya akan mempengaruhi juga besarnya loss ratio.
Penentuan estimasi premi lanjutan dengan menggunakan metode loss ratio ditemukan oleh Robert L.Brown dan penelitian untuk hal ini dilakukan pada PT Asuransi Jiwa ALL yang merupakan market leader di industri asuransi jiwa Indonesia.
Dengan menggunakan metode loss ratio , hasil estimasi premi lanjutan lebih rendah dibandingkan dengan blended method sehingga hasil yang diperoleh dapat mendukung rencana pencapaian target penerima premi dan mempertinggi tingkat keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Leli Hesti
"Prevalensi Anemia pada Pekcrja Pria serta faktor-faktor yang berhubungan, di Perusahaan X, 2009 Program Studi : Kedokteran Kerja-Pasca Sarjana Latar Belakang Pekerja pada perusahaan migas dalam lingkungan keijanya sehari-hari banyak berhubungan dengan bahan kimia hidrokarbon aromatik terutama BTX (benzena, toluene, xylene). Adanya pajanan benzcna secara kronis dapat menyebabkan gangguan kesehatan tennasuk anemia. Oleh karena itu pcrlu diketahui prevalensi anemia pada pckeija ini sena melihat pula faktor-faktor apa saja ikut yang mempengaruhinya.
Metodologi Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang. Responden diambil secara total sanqyling yaitu sebanyak 121 responden. Setiap responden dilakukan anamncsis, pemeriksaan darah tcpi dan pemeriksaan apusan darah untuk menentukan jenis anemia yang terjadi.
Diagnosis Anemia berdasarkan kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. Semua pemeriksaan dilakukan di sekitar tempat kerja responden dan berlangsung selama kurang lehih 20 menit untuk setiap responden. Pengambilan data dilakukan selama 14 hari mulai tanggal 28 Februaxi 2009 sampai dengan tanggal 7 Maret 2009. Analisis data dilakukan dcngan metode uji statistik kai kuadrat untuk melihat adanya hubungan antara berbagai faktor risiko dengan variabel anemia.
Hasil dan kesimpulan Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa 5(4,1%) orang dengan anemia berdasarkan kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. Pajanan benzena yang menjadi faktor risiko dari pckerjaan, diukur bcrdasarkan nilai exposure raling yang berasal dari beberapa indeks pajanan diantaranya perbandingan kadar hasil pengukuran dengan NAB, jenis° APD, perawatan, penggunaan dan durasi pajanan, diperhitungkan untuk menentukan peringkat pajanan benzena terhadap pekcrja. Hasil penelitian ini menunjukkan, tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara pajanan benzena dengan anemia.
Pada penelitian ini ditemukan sebagian besar rcsponden terpajan benzcna. Dari hasil monitoring lingkungan kerja ditemukan pajanan benzena dalam dosis rendah (0 ppm-19,47 ppm), dan pada perhitungan exposure rating benzena ditemukan nilai rendah (0~24,2). Berdasarkan analisa bivariat kebiasaan minum teh yang menunjukkan hubungan bermakna dcngan anemia (p = 0,04; OR = 015; 95% CI = 0,02-0,9), ia menjadi faktor protektif (Odds ratio = 0,15). Hasil dari analisis multivariat menunjukkan bahwa semua variabel yang diteliti tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan terjadinya anemia.

Oil company workers exposed to aromatic hydrocarbon chemical agents especially BTX (benzena, toluene, xylene) in their work environment. Chronic Benzene exposure can cause several health disorders, as well as anemia. Therefore, it is necessary to know the prevalence of anemia in these workers as well as its related factors.
Method This study used cross sectional design. Sample selection used total population technique which used 121 respondents. Every respondent was conducted interview, laboratory examination such as haematological count and blood smear examination to confirm the type of anemia.
Anemia was diagnosed from its hemoglobin concentration and erythrocyte count. The study was conducted near the workers workplace and it took time approximately 20 minutes each. It took place for 14 days nom Fenway 28"?, 2009 ami March 1"', 2009. Chi square analysis was used to evaluate the association between anemia and its related factors.
Results, conclusion and suggestion From this study, there were 5 (4,1%) workers suffered from anemia according to hemoglobin concentration and erythrocyte count Benzene exposure that was a risk factor in their jobs, was measured according to exposure rating value that came from some exposure indexes such as ratio between measuring of benzena in workplace and treshold limit value of benzena , type of PPE, maintenance, usage and exposure duration, was count to determine exposure rating index.
This study showed that there were no significant association between benzene exposure and anemia. This study found that there were most of respondents exposed to benzene. Environmental monitoring found benzene exposure in low concentration (O ppm - l9,47 ppm), and benzene exposure rating calculation found it in low value (0 - 24,2),. According to bivariate analysis the worker who have tea consumption showed a signilicant association with anemia (p = 0.04; OR = 0.l5; 95% CI = 0.02-0.9), in other hand this variable became a protectif factor (Odds ratio = 0,l5). Multivariate analysis showed that all variable studied did not show a significant association with anemia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
T29147
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Bacal, Robert
New York: McGraw-Hill, 2004
R 658.3125 BAC h
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Haykal Tarmizi
"Tingginya minat masyarakat terutama masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi kopi ternyata menarik perhatian sejumlah perusahaan untuk menciptakan produk innovatif berbahan dasar kopi. Salah satunya adalah perusahaan Wings food, perusahaan fast moving consumer goods, yang baru saja meluncurkan kopi instan bernama”Top Coffee”. Selama ini sebagian besar pangsa pasar produk sejenis dikuasai oleh produsen kopi terbesar Kapal Api dan Torabika. Hal ini membuat suasana pasar semakin kompetitif. Perusahaan yang dapat memberikan kualitas produk dan layanan terbaiklah yang akan dipilih konsumen. Pemilihan endorser iklan “Iwan Fals” pada produk iklan televisi Top Coffe karena menampilkan pendukung pribumi (Orang Indonesia) dapat membuat konsumen merasa lebih dekat dan merasa familiar. Dalam metode DRM, semakin tinggi peringkat yang diperoleh sebuah iklan, semakin tinggi pula kemungkinan iklan tersebut efektif”. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas terpaan iklan televisi “Top Coffe Versi Iwan Fals” dengan menggunakan Direct Rating Method (DRM). Pengukuran efektivitas iklan Top Coffe menggunakan Direct Rating Method. Hasil Penelitian menunjukan bahwa terpaan iklan televisi “Top Coffee” versi Iwan Fals dengan metode Direct Rating Method (DRM) masuk dalam kategori iklan yang baik diterima pemirsa.

The high interest in the Indonesian society have consumed coffee apparently attracted the attention of a number of companies to create innovative products made ​​from coffee. One is the company's Wings food, fast moving consumer goods company, which recently launched an instant coffee called “Top Coffee”. So far, most of the market share of similar products controlled by the largest coffee producer “Kapal Api” and Torabika. This makes the market more competitive atmosphere. Companies that can deliver quality products and services best will selected consumers. Election advertising endorser "Iwan Fals" on television commercials Top Coffee products featuring support for native (Indonesian People) to make consumers feel closer and feel familiar. In the DRM method, the higher the ranking obtained an ad, the higher the likelihood that ad effective ". The purpose of this study was to determine the effectiveness of television advertising exposure "Top Coffee Version Iwan Fals" by using the Direct Rating Method (DRM). his study uses a quantitative approach through survey methods with 87 respondents. Top Coffee advertising effectiveness measurement using the Direct Rating method. Research shows that exposure to television advertising “Top Coffee” Iwan Fals version with Direct methods Rating Method (DRM) in the category of good advertising is accepted viewers.
"
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2014
S53456
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gerry Michel
"Abstrak
The aim of this research is to study the determinants of sovereign credit ratings of Indonesia andits neighborhood countries in the period of 1998-2016. Using secondary data and analyzed usingordered probit, it is found that every credit rating agency has its own variables influencing to itspublished credit ratings.In general, for Indonesia and its neighborhood countries, the variables withsignificant and positive relationship are fiscal balance and current account deficit to GDP, freedomindex, and GDP per capita; while the variables with significant and negative relationship are externaldebt to GNI and real exchange rate. Gross domestic savings to GDP influences credit ratings inboth ways. Interestingly, inflation does not affect the credit ratings. Indonesia and neighborhoodgovernments could use this information to manage their macroeconomic indicators in order to getfavorable ratings from credit rating agencies."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, 2019
330 AGREGAT 3:1 (2019)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Alky Nugraha
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara magnitude perubahan serta prior rating dari bond rating terhadap nilai abnormal return. Penelitian menggunakan sampel dan observasi perubahan bond rating yang dikeluarkan PT. PEFINDO selama periode 2000-2008. Pengujian dilakukan menggunakan regresi untuk melihat pengaruh hubungan antara magnitude dan prior rating dengan cumulative abnormal return. Selain itu dilakukan pengujian tambahan dengan pembagian observasi menurut peningkatan dan penurunan rating serta pembagian sesuai dengan prior rating. Penelitian ini menemukan adanya hubungan signifikan antara magnitude perubahan bond rating dengan abnormal return namun tidak pada variabel prior rating. Pada pengujian tambahan, ditemukan adanya nilai abnormal return yang signifikan di sekitar event penurunan bond rating, namun tidak pada peningkatan bond rating.

The main objectives on this research is to examine the effect of bond rating change's magnitude and prior rating to stock?s abnormal return. This research used bond rating changes issued by PT. PEFINDO as its samples and observations. The research used regression method to measures the relationship between bond rating change's magnitude, prior rating and stock's abnormal return. Additional test also used in this research by dividing observations by upgrades and downgrades, and by their prior ratings. The research found out that abnormal return are associated to bond ratings change's magnitude, yet there are no relationship between prior rating and abnormal return. The additional test results imply that there are significant abnormal returns around rating downgrades but not in upgrades."
Depok: Fakultas Eknonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T27273
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zully Achmad Fattatulhidayat
"Analisis senyawa organik di laboratorium umumnya menggunakan pelarut organik untuk keperluan ekstraksi dan destilasi. Pelarut organik yang banyak digunakan adalah diklormetan dan n-heksan. Penggunaan diklormetan dan nheksan berisiko terhadap kesehatan pekerja laboratorium. Diklormetan adalah senyawa karsinogenik kategori 2 B menurut IARC, sedangkan pajanan heksan berisiko terhadap kerusakan sistem syaraf.
Penelitian ini untuk mengetahui sebaran konsentrasi diklormetan dan n-heksan di ruangan laboratorium, profil pajanan dan pengendalian yang sudah dilakukan dan risiko pajanan berdasarkan konsentrasi diklormetan dan n-heksan pada pengambilan sampel perseorangan, durasi pajanan dan hazard rating.
Hasil analisis konsentrasi diklormetan dan nheksan di seluruh ruangan laboratorium masih di bawah nilai rekomendasi treshold limit value dari American Conference of Governmental Industrial Hygienist. Sistem pengendalian pajanan secara administratif dan penggunaan alat pelindung diri sebagai pencegahan pajanan diklormetan dan n-heksan di laboratorium sudah memadai, namun diperlukan perbaikan untuk kondisi ventilasi di laboratorium sebagai bagian dari pengendalian teknis.
Hasil analisis risiko kesehatan menggunakan sistem risk rating adalah teknisi laboratorium 1, operator GC ECD dan asisten laboratorium memiliki risiko kesehatan medium sedangkan operator GC MS dan Teknisi laboratorium 2 memiliki risiko kesehatan rendah terhadap pajanan n-heksan. Teknisi laboratorium 1, teknisi laboratorium 2 ,operator GC MS dan asisten laboratorium memiliki risiko kesehatan medium sedangkan operator GC ECD memiliki risiko kesehatan rendah terhadap pajanan diklormetan.

Generally organic coumpound analysis in laboratory need organic solvent for extraction and distilation purpose. Dichlormethane and n-hexane are a common organic solvent for laboratory analysis. The use of dichlormethane and n-hexane in laboratory have a high risk for employees health. Diclormethane is classify as 2 B group of carcinogenic material of IARC, while n-hexane could chronically cause a nervous system damage.
The purposes of this research are to determine the concentration of dichlormethane and n-hexane in workplace, the exposure and exist control profile in laboratory and to do chemical exposure risk assessment according to dichlormethane and n-hexane analysis from employees personal sampling, duration of exposure and hazard rating.
The result of dichlormethane and n-hexane analysis in workplace are still below the value of treshold limit value of american conference of governmental industrial hygienist. Laboratory has a good administratif control and PPE control to prevent the exposure of dichlormethane and n-hexane but the enginering control need improvement for ventilation system.
The result of n-heksan exposure health risk assessment using risk rating system are laboratory technician 1, GC ECD operator, and laboratory assistance were categorized as medium risk, while GC MS operator and laboratory technician 2 were categorized as low risk. The result of diklormetan health risk assesment were laboratory technician 1, laboratory technician 2, GC MS operator and laboratory assistance are categorized as medium risk, while GC ECD operator was categorized low risk."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
T31763
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>