Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
R. Danardono Agus Sumarsono
"ABSTRAK
Program Langit Biru Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan adalah memproduksi bensin tanpa timbal yang dikenal dengan Super-TT 98. Langkah awal dalam memproduksi Super-TT 98 adalah melakukan running test dengan mengatur kondisi operasi pada Unit Catalytic Condensation agar spesifikasi produk Polygasoline dapat diarahkan menjadi spesifikasi Super-TT 98. Apabila hasil tersebut ditemui suatu limitasi atau hambatan dalam proses pembuatannya maka langkah selanjutnya adalah melakukan modifikasi peralatan pada Stabilizer C-103 dengan menarik produk cairan pada piringan atau tray tertentu yang sesuai dengan spesifikasi Super-TT 98. Keuntungan yang diperoleh jika melakukan modifikasi dibandingkan dengan melaksanakan hasil running test adalah dapat mengatasi limitasi/hambatan dan menekan kerugian sebesar US $9.196 per-hari. Berdasarkan pertimbangan kelayakan ekonomi menggunakan parameter Internal Rate of Return sebesar 220,8% diharapkan modifikasi ini layak untuk dilaksanakan

ABSTRACT
Blue Sky Program of Pertamina Processing Unit 6 of Balongan is produce Unleaded Gasoline that recognized as Super-TT 98. The first step to produce Super-IT 98 is conduct running test with adjusting operation condition of Catalytic Condensation Unit in order that specification of Polygasoline product become Super-TT 98. if there are several limitations, however, the next step is making modification on Stabilizer C-103 equipment with pull out the liquid on certain tray that suitable with Super-TT 98 specification.
Making modification have several advantages if compared with running test. The first is able to overcome limitations and the second is able to omit financial loss about US $9.196 per-day. Based on economic feasibility that use Internal Rate of Return about 220.8% this modification is feasible to implement"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2001
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Setyo Hari Priyono
"Berbeda dengan studi sebelumnya yang berfokus pada pengaruh pemilihan umum terhadap belanja anggaran, studi ini berfokus pada perbedaan perilaku  belanja anggaran antara daerah yang memiliki petahana yang memutuskan untuk maju kembali pada pilkada 2015 dengan daerah di mana petahana sudah menjalani dua periode. Asumsi yang digunakan pada studi ini adalah para petahana yang maju kembali seringkali mencoba memaksimalkan pengaruh mereka agar terpilih kembali, sementara petahana yang sudah tidak dapat mencalonkan diri kembali akan bertindak lebih konservatif.
Studi ini menggunakan metode OLS untuk menganalisa perilaku oportunistik daerah terkait penggunaan anggaran daerah yang kepala daerahnya dapat maju kembali dan yang tidak dapat maju kembali pada pemilihan kepala daerah secara serentak tahun 2015 di 237 kabupaten/kota. Untuk itu, studi ini menganalisa kebijakan fiskal kepala daerah melalui pos-pos pengeluaran tertentu yang diduga dapat menarik simpati pemilih seperti total belanja daerah, belanja investasi, serta anggaran diskresi baik secara total maupun detil yang terdiri dari belanja hibah, belanja bantuan sosial, dan belanja bantuan keuangan.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa secara umum tidak terdapat perbedaan perilaku belanja antara daerah yang memiliki petahana yang maju kembali dalam pemilukada dan yang sudah dua periode kecuali pada komponen belanja hibah. Di daerah di mana petahana dapat dipilih kembali dan memutuskan untuk ikut pemilukada kembali, belanja hibah cenderung lebih tinggi pada tahun dilaksanakannya pilkada. Selain itu, pada kabupaten/kota tersebut, semakin tinggi pengeluaran hibah pada tahun sebelum pilkada disertai oleh penurunan anggaran hibah pada tahun pilkada.

Unlike other studies that focus on election time effect on budget spending, this study focuses on the difference in spending policy behavior between regions that have eligible incumbent and decide to re-run in the 2015 election and regions that have the last period incumbent. Hypothetically, incumbents who seek to gain electoral support have opportunity and power to enhance their re-election prospect by increasing their targeted expenditures in the times leading to the election time, while the last term period incumbents will act oppositely.
OLS cross-sectional data used to analyze politicians’ behavior on fiscal spending policy. We try to find whether re-running eligibility leads them to behave differently compared to lame ducks in 237 municipalities. The level of targeted expenditures to attract voters we use in this study are budget total spending, investment spending, and discretionary funds, both as aggregate, and as disaggregated funds which consisting  grants aid, social assistance expenditures, and financial aid.
In general, the results obtained shows that there is no difference behavior between regions that have re-running incumbent and regions that have last period incumbent except in grant subcomponent. Compared to regions that had lame ducks, grant expenditure tends to be higher on election year in regions that have re-running incumbent. Also, the higher grant expenditure in a year before election, the lower grant expenditure during election year in those regions.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
T54364
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Hays, Kate F
"Thirty-five years after former American psychological association (APA) President George A. Miller (1969) exhorted psychologists to "give psychology away", then current APA president Ronald F. Levant (2005) encouraged us to "make psychology a household word" "
Washington: bimonthly, 2006
150 PPS 37 (2-3) 2006
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Januar Arifin, auhtor
"Sepakbola adalah olahraga yang paling popular di Indonesia, hampir semua pria Indonesia mengenal olahraga ini dan pernah memainkannya pada waktu kecil. Di seluruh Indonesia terdapat ratusan bond perserikatan yang masingmasing mempunyai puluhan klub, dapat dibayangkan berapa banyak jumlah pemain sepakbola PSSI.
Untuk menjadi pemain sepakbola yang baik diperlukan pengetahuan yang cukup serta mental dan kondisi fisik yang baik. Kondisi fisik disini meliputi unsur-unsur kesegaran jasmani.
Salah satu unsur kesegaran jasmani yang penting bagi pemain sepakbola adalah kapasitas aerobik, yang dapat dikatakan identik dengan "panjang nafas". Bila unsur ini tidak cukup baik, seseorang tidak akan dapat menjadi pemain sepakbola yang baik walaupun unsur-unsur kesegaran jasmani yang lain baik nilainya. Bouchard dkk (4) menyatakan bahwa kapasitas aerobik adalah unsur yang dominan bagi pemain sepakbola.
Ada dua macam pemeriksaan kapasitas aerobik (V02max) yaitu cara langsung dan cara tak langsung (prediksi). Selama ini pemeriksaan kapasitas aerobik pemain sepakbola di Indonesia kebanyakan dilakukan secara prediksi saja (tak langsung) dan kebanyakan dilakukan dengan cara Astrand memakai ergometer sepeda, atau cara lain yang lebih sederhana seperti cara Cooper. Hal ini mungkin akibat keterbatasan alat dan dana yang ada, atau mungkin karena ada anggapan bahwa cara ini cukup baik/tepat. Cara Astrand memakai ergometer sepeda atau cara Cooper ini dibuat bukan spesifik untuk pemain sepakbola.
Pada pengukuran dengan cara Astrand memakai ergometer sepeda, pemain diminta untuk mengayuh ergometer sepeda dengan beban tertentu, kemudian dilihat berapa frekuensi nadinya; dengan melihat pada nomogram yang telah dibuat Astrand dapat ditentukan kira-kira berapa V02max pemain tersebut. Cara ini tidak mahal, mudah dilaksanakan, alatnya mudah dipindah-pindahkan dan tidak memerlukan arus listrik (2,13,24), serta tidak mengesalkan atlit karena bebannya tidak maksimal.
Venerando dan Dal Monte (17) telah melakukan suatu penelitian dan berkesimpulan bahwa pengukuran V02max paling baik (tinggi) hasilnya bila pemain tersebut bergerak sesuai dengan gerakan olahraga yang bersangkutan. Ternyata memang pengukuran V02max dengan berbagai gerakan yang berbeda akan menghasilkan nilai Vo2max yang berbeda pula (3,11)?"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Amran Effendi
"Imagery dan film instruksional dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi atlet dalam cabang olahraga yang digelutinya. Bagi atlet Special Olympics yang terbatas inteligensinya pengaruh imagery dan film instruksional tidak signifikan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dalam proses pengambilan datanya dilakukan eksperimen. Penelitian dilakukan terhadap atlet lari 100 meter Special Olympics Indonesia DKI Jakarta sebanyak 12 orang pada kelompok usia 20 hingga 29 tahun. Kelompok eksperimen dibagi menjadi 3 kelompok yakni; (1) kelompok imagery, (2) kelompok film instruksional dan (3) kelompok kontrol. Hasil olah statistik t-test kelompok kontrol (P = 0,957), kelompok film (P = 0,661) dan imagery (P = 0,192). Sedangkan olah statistik anova satu arah (P = 0,744). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa imagery dan film instruksional tidak memberikan pengaruh berarti terhadap prestasi lad 100 meter atlet Special Olympics Indonesia DKI Jakarta."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T18063
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rr. Zabrina Ispratami Budi Sulistiyanti
"Menerobos lampu merah merupakan salah satu jenis mengemudi agresif yang memiliki resiko besar menyebabkan kecelakaan. Penyebab menerobos lampu merah antara lain musik dan penumpang. Eksperimen ini menguji pengaruh volume musik dan jumlah penumpang terhadap menerobos lampu merah. Penelitian ini berdesain faktorial 2x2 between-subject menggunakan simulator mengemudi serta dilakukan terhadap 60 orang pengemudi pribadi usia muda. Hasilnya baik volume musik (x7(1, n=60)=0,267) maupun jumlah penumpang (x7(1, n=60)=2,443) lebih kecil dari nilai kritis 77(1, p=0,05)=3,84 schingga tidak mempengaruhi perilaku menerobos lampu merah. Selain itu, volume musik dan jumlah penumpang memiliki keterkaitan sehingga saling mempengaruhi efek yang ditimbulkan oleh satu dengan lainnya.

Red light running is one of agressive driving behaviors gives high risk to cause accident. Red light running is caused by some factors such as music and passenger. This experiment examines the influence of music volume and number of passenger toward red light running. This research uses 2x2 factorial betweensubject design. Research takes 60 participants and uses driving simulator. Results are music volume (7'(1, n=60)=0,267) and number of passenger Gate n=60)=2,443) do not have influence toward red light running. Besides, there is relationship between music volume and number of passenger that affects each variable’s influence toward red light running. "
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2010
S3658
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gracia J. M. T. Winaktu
"ABSTRAK
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan yang berupa karbohidrat serta cairan dan elektrolit terhadap perubahan kemampuan fisik atlet.
Tempat Pelatnas Dayung, Jatiluhur, Purwakarta
Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Perahu tradisional/perahu naga merupakan salah satu jenis olahraga yang sudah membawa harum nama bangsa Indonesia. Kemampuan fisik atlet yang prima dapat menunjang peningkatan prestasi, tetapi jika pertandingan dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu yang relatif singkat maka prestasi tersebut akan menurun, oleh sebab itu dianjurkan memberikan makanan tambahan untuk mengurangi penurunan prestasi tersebut. Olahraga dayung (perahu tradisional/perahu naga) merupakan olahraga kombinasi antara ketahanan fisik (endurance) dan kekuatan serta kecepatan (power), maka sangat membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan yang berupa karbohidrat, cairan dan elektrolit terhadap perubahan kemampuan fisik. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimental pre- dan pasca- tes dengan menggunakan subjek yang sama sebagai kontrol dan perlakuan. Tes kemampuan fisik dilakukan di darat (tes dragon eigotneter dan tes lari metode Balke) dan di air (tes louring), pada saat perlakuan diberikan makanan tambahan (apel dan atau pisang) serta minuman karbohidrat dan elektrolit dengan jumlah asupan energi antara 404,18 - 415,19 Kkal sedangkan asupan karbohidrat antara 97,13 - 103,65 g.
Hasil : Asupan karbohidrat sebelum perlakuan 59,7 % sedangkan sesudah perlakuan 61,4 %. Kadar ureum darah sesudah perlakuan (27,96 mgldL) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (36,91 mg/dL), hingga juga kadar CK darah sesudah perlakuan (55,55 mg/L) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (64,23 mg/L). Kadar hematokrit sesudah perlakuan (45,32 vol %) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (46,50 vol %), begitu juga kadar Na darah sesudah perlakuan (142,23 mg/L) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (145.50 mg/L), sedangkan kadar K darah sesudah perlakuan (4,35 mg/L) lebih tinggi daripada sebelum perlakuan (3,93 mg/L). Perubahan berat badan sesudah perlakuan (0,02 kg), lebih sedikit daripada sebelumnya (0,50 kg) dan dengan uji staristik didapatkan perbedaan yang bermakna (p = 0,013). Dari hasil tes kemampuan fisik di darat maupun di air ternyata dengan pemberian makanan tambahan kecepatan awal dan akhir sesudah perlakuan lebih cepat daripada sebelum perlakuan, begitu juga waktu tempuh awal dan akhir sesudah perlakuan sesudah perlakuan lebih singkat daripada sebelum perlakuan.
Kesimpulan : Pengaruh pemberian makanan tambahan dalam bentuk karbohidrat serta cairan dan elektrolit sangat berpengaruh terhadap simpanan karbohidrat mot, pencegahan dehidrasi. pencegahan penurunan prestasi pada pertandingan yang dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu singkat serta dapat memenuhi kebumhan nutrisi makanan utama.

ABSTRACT
objective
To identify the effects of carbohydrate, fluid and electrolyte of supplementary feeding on the performance of athletes. Jatiluhur National Training Center for Dragon boat, Purwakata.
Methods Dragon boat is one of the branches of sport, which has brought fame to Indonesia internationally. Athletes' physical performance very much enhances their sport performance. Taking part in races repeatedly, particularly in a short span of time will decrease their performance. However. Supplementary food can tackle this problem. Dragon boat is a sport which requires the combination of endurance and power. Therefore it demands carbohydrate as the main source of energy. The purpose of this research is to identify the effects of supplementary foods, either food or drink, such as carbohydrate, fluid and electrolyte on the physical changes of the athletes. It is a pre- and post-experimental test, using the control group as the same subjects as the treatment group. The physical performance test was conducted in land (dragon ergometer and running test of Balke Method), and on water (touring test). During those tests. administration of apples and 1 or bananas as supplementary food and sports drink containing carbohydrate, fluid and electrolyte were given
The energy intake ranged from 404,18 to 415,19 Kcal. The intake for carbohydrate was between 97.13 to 103,65 g.
Results : Carbohydrate intake before treatment was 59,7 % and after treatment was 61,4 %. Blood ureum level after treatment (27,96 mg/dL) was lower than before treatment (36,91 mg/dL). Blood creatine kinase level after treatment (55,55 mg/dL) was lower than before treatment (64,23 mg/dL). Hematocrite after treatment (45,32 vol %) was lower than before treatment (46,50 vol %). Sodium level after treatment (142,23 mg/L) was lower than before treatment (145,50 mg/L.). Potassium level after treatment (4,35 mg/L) was higher than before treatment (3,93 mg/dL). Changes of weight also accrued after treatment (0,02 kg), a little lower than before treatment (0,50 kg). By means of statistical test was found that the statistical significance was p = 0,013. The results of the physical performance test in land and on water have shown that supplementary feeding enhances the speed at the beginning and end of treatment than before the treatment. Also, the time distance needed at the beginning and the end of the races was shorter than before treatment.
Conclusions : Supplementary feeding in the form of carbohydrate, fluid and electrolyte has great influences on the storage of muscle carbohydrates, dehydration prevention, in the races which are carried out repeatedly in a short span of time. It can meet the nutrient requirement adequacy of main dish as well.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library