Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lenny Sofiana
"ABSTRAK
Dalam kehidupan, individu selalu menghadapi aiternatif piiihan sebelum
mengambil keputusan. Aiternatif ada yang berbentuk tunggal dan disebut
integrasi atau sekuens dan disebut segregasi. Dalam penelitian Aritmatika Mental
dikatakan bahwa individu akan lebih menyukai segregasi daripada integrasi.
Skripsi ini dilakukan untuk mengetahui apakah benar seorang Individu akan lebih
menyukai segregasi daripada integrasi. Dan juga untuk mengetahui apakah bila
digunakan stimulus yang berbeda, maka hasilnya akan sama.
Penelitian ini menggunakan alat berupa tampilan komputer dengan menampilkan
kasus hipotetikal, yaitu partisipan diminta untuk membayangkan dirinya berada
dalam kasus yang diberikan. Pengambilan data dilakukan dengan metode
eksperimen. Hipotesa memiiiki 1 variabel bebas, yaitu tipe stimulus dan 1
variabel terikat, yaitu preferensi partisipan terhadap aiternatif piiihan. Variabel
bebas akan dimanipuiai menjadi 2, yaitu tipe stimulus dengan versi monetary
(uang) yang bersifat monotonik dan versi non-monetary yang mengikuti fungsi
utilitas puncak tunggal (buah rambutan). Sementara variabel terikat juga akan
dimamipulasi menjadi 2, yaitu segregasi dan integrasi.
Partisipan penelitian terdiri dari 135 orang yang terbagi dalam 4 kelompok
eksperimen.
Uji signifikansi dilakukan dengan menggunakan metode Chi Square, sedangkan
uji hipotesis dilakukan dengan membandingan frekuensi segregasi dengan piiihan
yang lain. Hasil uji signifikansi menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan
antara piiihan yang ada.
Dari hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa seseorang akan lebih
menyukai segregasi daripada integrasi atau tidak ada perbedaan antara integrasi
dan segregasi. Saran yang diberikan adalah saran-saran bila Ingin mengadakan
penelitian lebih lanjut, terutama untuk mengembangkan psikologi ekonomi.
Implikasi praktis ditujukan bagi para produsen yang ingin menlngkatkan
penjualan produknya."
2002
S2792
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tati Paramitha
"Perbudakan di Amerika yang terjadi pada masa Antebellum telah merupakan cerita yang stereotip, yaitu adanya kekuasaan majikan kulit putih yang mengeksploitasi tenaga budak terutama di Selatan. Di dalam Bab I, pada latar belakang permasalahan dijelaskan nyanyian rakyat sebagai sarana prates sosial dan sebagai bentuk folklor budak Negro yang merupakan ciri dari kebudayaan folklor Afro-Amerika. Hudak mencari kebebasannya dengan berbagai cara, yaitu dengan menebus diri sendiri, hadiah pembebasan oleh majikan (manumission), memberontak, melalui perkawinan dengan Afro-Amerika bebas atau wanita kulit putih, dan melarikan diri dengan bantuan golongan Abolisionis. Bagi budak yang tidak dapat menggunakan cara-cara tersebut di atas, maka cara yang ditempuh adalah hanya dengan menggugah hati nurani majikan kulit putih. Nyanyian-rakyat (folksong) yang berupa teriakan-teriakan, terdiri dari Marian hollers, shouts, calls, cries dan spiritual, lirik-liriknya menyatakan penderitaan dan harapannya untuk mendapat kebebasan.
Selanjutnya Bab. II. menjelaskan mengenai adanya tragedi di Selatan pada masa Antebellum (1776-1866), ditandai dengan semakin kokoh dan suburnya lembaga yang tidak lazim (peculiar institution), sebagai suatu lembaga yang masih mempertahankan sistem perbudakan. Setelah Perang Kermerdekaan Amerika terkenal sebagai bangsa yang memperjuangkan hak azazi manusia, melalui Deklarasi Xemerdekaan (Declaration of Independence) di seluruh dunia. Demikian pula beberapa pasal dalam Konstitusi Amerika (Amandemen ke (1791). Amandemen ke XIII (1865), Amandemen ke-XIV (1868), Amandemen ke XV (1870), sebenarnya telah menghapuskan perbudakan dan menghilangkan diskriminasi terhadap etnik Afro-Amerika di bumi Amerika, ternyata perbudakan tetap ada. Hal ini disebabkan tenaga budak sebagai salah satu faktor produksi yang produktif dan tahan lama dibandingkan dengan tenaga kulit putih. Selain itu, budak dianggap sebagai "harta benda" (property) daripada sebagai "manusia" (person) yang dapat dipindah tangankan secara hukum misalnya dijual. Dalam bab II menjelaskan mengenai perbudakan di Selatan dan organisasi Underground Rail-road telah membantu budak mendapatkan kebebasan dengan Cara melarikan diri.
Sedangkan Bab III, menjelaskan arti nyanyian-rakyat (folksong) budak yang terdiri dari beberapa jenis teriakan yang dikenal sebagai hollers, shouts calls, cries dan spiritual untuk berkomunikasi dengan sesama budak dan Tuhan mereka. Semua bentuk nyanyian-rakyat tersebut mewarnai kehidupan budak sehari-hari dalam rangka budak mendambakan kebebasannya. Selain itu nyanyian-rakyat mempunyai fungsi pelipur lara, sarana pendidikan bagi generasi yang lebih muda, pernyataan angan-angan yang terpendam dan sarana protes sosial terhadap kebebasan (freedom) dan persamaan (equality) sebagai nilai-nilai demokrasi yang tercantum di dalam Deklarasi Kemerdekaan dan Konstitusi Amerika.
Adapun pada Bab IV, dijelaskan struktur (text) nyanyianrakyat lebih memenuhi persyaratan sebagai balada karena liriknya mempunyai tema yang bebas, menggambarkan cerita kehidupan budak atau sejarah perbudakan, demikian pula bait-baitnya tidak terikat oleh ketentuan tertentu seperti pada bentuk folklor peribahasa atau teka-teki. Sedangkan penyebarannya adalah hubungan (context) dengan masyarakat penerima folklor tersebut, menandakan bahwa nyanyian-rakyat dapat bertahan hidup (survival), karena dipertahankan oleh budak secara turun temurun.
Bab V. Merupakan kesimpulan dari isi tesis ini, fokusnya adalah mengenai fungsi nyanyian-rakyat dilihat dari lirikliriknya, ternyata sebagai sarana protes sosial budak atas diskriminasi, segregasi dan penyimpangan dari azas demokrasi."
Depok: Universitas Indonesia, 1996
T5466
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Paundra Jhalugilang
"Skripsi ini membahas mengenai perjuangan dari para pemain baseball kulit hitam yang mendapatkan diskriminasi pada olah raga baseball di AS. Mereka berusaha menunjukkan eksistensinya sebagai pemain baseball ketik mereka tidak diperkenankan bermain bersama orang kulit putih pada suatu liga bernama major league. Perjuangan para pemain kulit hitam ini dilakukan dengan cara membentuk tim dan liga bagi pemain-pemainkulit hitam. Mereka juga berusaha menunjukkan eksistensinya dengan berprestasi sebaik mungkindi liga mereka yang bernama negro league sehingga hal ini dapat menarik perhatian dari kalangan kulit putih.

This thesis explore about the struggle of the black baseball players that have been discriminated in the game in USA. They tried to show their existence as the baseball players when they not allowed playing together with the white player in a league called major league. The struggle of this black ball-players is showed by form the team and a league which is consist of all black players, they also try to called negro league so they may draw the white people attention."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S12746
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Balqis Aathifah
"Paradigma terhadap peran setiap gender membatasi kebebasan perempuan untuk hadir di ruang publik sehingga menciptakan segregasi gender terhadap ruang. Sarana olahraga merupakan salah satu contoh ruang yang selalu dikaitkan dengan ruang untuk laki-laki. Perkembangan zaman modern menciptakan ideologi baru dalam melibatkan perempuan ke ruang publik yaitu dengan menciptakan ruang khusus perempuan secara eksklusif. Ruang khusus perempuan diciptakan untuk memenuhi hak perempuan dan memberikan pengalaman spesifik bagi perempuan terutama dalam merasakan kenyamanan dan bebas dari kekhawatiran. Di Indonesia, terdapat kolam renang telah menerapkan segregasi ruang berdasarkan gender khusus perempuan dengan adanya strategi spasial. Kompleksitas dari ruang spasial kolam renang yang tersegregasi gender ini juga mampu memicu pengalaman perempuan di kolam renang.

The paradigm regarding gender roles restricts women's freedom to occupy public spaces, leading to gender segregation in these areas. Sports facilities are often seen as male-dominated spaces. Modern developments have introduced new perspectives on involving women in public spaces by creating exclusive female-only areas. These spaces aim to enhance women's security, privacy, comfort, intimacy, and self-determination. Swimming pools are an example of sports facilities that implement gender segregation through spatial strategies. Architectural elements such as accessibility, legibility, enclosure, permeability, and visual attractiveness influence the quality of these spaces and shape specific spatial behaviors for women."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library