Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
M. Amin Akkas
"Ketika pemekaran kota Jakarta mulai dicanangkan 1965 lalu diikuti pengembangan Jabotabek 1975, maka sejak itu pula pertumbuhan populasi kota mulai meledak (atau jauh sebelumnya urbanisasi sudah dimulai dart kolonial). Sehingga kehidupan masyarakat Kampung Makasar (orang Betawi) yang berada di pinggiran kota Jakarta harus mengalami proses penyesuaian dengan situasi-situasi yang terus berubah dalam mana mereka semakin termarjinalkan.
Semakin menguatnya pengaruh budaya kota akibat modernisasi, maka mau atau tidak, kehidupan masyarakat Betawi-yang notabenenya agamis dan fanatik-semakin tidak lagi dapat mempertahankan sebagian praktik sosial yang sebelumnya bisa dilakukan menurut liabitus dan arena tradisionalnya. Modal-modal sosial tradisional yang sudah dimiliki tidak sepenuhnya memadai untuk mempertahankan keberadaannya. Oleh karena itu, mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengembangkan strategi penyesuaian yang dipercaya dapat membuatnya tetap bertahan dan keberadaannya dapat diakui oleh pihak-pihak lain.
Tesis ini menjelaskan pilihan-pilihan strategis orang Kampung Makasar untuk memperoleh pengakuan sosial di lingkungannya. Mereka secara terus menerus mengkonstruksikan persepsi untuk mendefenisikan kembali identitas, gaya hidup agamis dan lingkungannya, melalui budaya haji yang kontemporer, yang dipenuhi dengan praktik-praktik simbolik dalam kehidupan sosial mereka.
Dalam kaitan itulah, 'haji' dalam tesis ini disebut sebagai simbol. Haji, dilihat sebagai struktur wilayah simbolis yang ditandai oleh serangkaian praktik-praktik yang terbangun melalui gaya hidup (life-style), terdefinisikan secara objektif maupun subjektif dalam relasi sosial. Melalui hubungan dialektika antara 'haji' dan pengaruh sosialnya yang berlangsung secara terus-menerus itulah, kemudian membentuk struktur-struktur baru.
Ketika orang-orang Kampung Makasar telah menyandang 'haji', dengan demikian dia telah memiliki semacam modal simbolik yang tidak dapat dilepaskan dari kondisi status kelas sosialnya dan atau pengkondisian sosial yang melingkupinya. Terutama ketika kapital ekonomi yang dimiliki tidak mempunyai pengaruh kuat dalam interaksi sosial dan tidak dapat berfungsi sebagai alat untuk memperoleh pengakuan sosial-karena statusnya yang dinomorduakan dalam strata sosial akibat modernisasi, kemudian terkonversi kepada kapital simbolis-'haji' menjadi suatu kehormatan. Untuk itu, menjadi salah satu modal agama (religious capital) yang memiliki kekuatan dan legitimasi dalam arena pertarungan di Kampung Makasar, dan digunakan sebagai strategi untuk memperoleh pengakuan sosial di lingkungannya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T10632
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tatyana Rarasati
"As digital economy in Indonesia grows, trends and demands to engage in creative industry also rise, shown in the increasing number of art graduates and job openings for creative sectors. This phenomenon accelerates the shift for art and creative products as cultural endeavour into economic and industrial interest. In such condition, the creative workers of the latest era—the Gen Z—face the issue of labour precarity; as they experience increased difficulties in finding stable, degree-aligned jobs, despite the plenitude of demand for creative work. Previous studies available have mapped the situation and pointed the problem of capitalisation of art and the issue of poor work regulations. However, these studies don’t provide clear sociological foundations in placing creative workers and their products in current economic situation, especially when media and large capitals are now a significant part of the equation. This study offers a perspective in analysing Gen Z middle-class creative workers in Jakarta’s perceived precarity through Pierre Bourdieu’s concept of social reproduction, a process by which societal structures are perpetuated across generations through the transmission of cultural capital, habitus, and institutional mechanism that reinforce dominant cultures. It argues that their struggles in pursuing ‘good’ and ‘stable’ jobs in the creative industry is due to social reproduction, placing their precarious situation as the result of hysteresis, a mismatch between individual’s habitus (middle-class family) and the new social field (creative job market).

Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia telah memicu peningkatan permintaan tenaga kerja sektor kreatif, yang tercermin dari melimpahnya lulusan seni serta lowongan kerja kreatif. Fenomena ini mengakselerasi pergeseran paradigma produk seni dari ranah kultural menjadi kepentingan ekonomi dan industrialisasi. Dalam konteks ini, pekerja kreatif di era ini—khususnya Generasi Z—menghadapi prekaritas kerja, yaitu dengan adanya kesenjangan antara tingginya permintaan pasar dengan minimnya kesempatan kerja stabil yang linear dengan latar belakang pendidikan. Studi terdahulu telah mengidentifikasi masalah kapitalisasi seni dan kelemahan regulasi ketenagakerjaan, namun belum menyediakan fondasi sosiologis yang memadai untuk memosisikan pekerja kreatif dalam konteks ekonomi kontemporer di mana media dan kapital besar memiliki pengaruh besar. Penelitian ini mengisi celah teoretis tersebut dengan menerapkan konsep reproduksi sosial Pierre Bourdieu, yang menjelaskan pelanggengan struktur sosial melalui transmisi modal kultural, habitus, dan mekanisme institusional. Studi ini menemukan bahwa prekaritas pekerja kreatif Gen Z kelas menengah Jakarta merupakan reproduksi sosial, sebagai hasil dari ketegangan habitus dan histeresis, yaitu ketidaksesuaian antara habitus individu (habitus kelas menengah) dengan arena (field) baru sebagai pekerja kreatif."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Selly Riawanti
"Tujuan dan Latar Belakang Studi
Tesis ini bermaksud memperlihatkan kebenaran teori reproduksi yang berlaku dalam sistem pendidikan formal pada masyarakat kolonial Hindia Belanda (1816-1942), dan diikuti oleh sistem pendidikan formal yang dikembangkan oleh kalangan cendekiawan pribumi sejak dasawarsa pertama abad XX.
Pada dasarnya, pendidikan dapat dilihat sebagai proses transmisi kebudayaan dari satu individu atau kelompok atau golongan tertentu, kepada individu atau kelompok atau golongan lainnya dalam suatu masyarakat. Proses pendidikan bisa berlangsung dalam berbagai pranata, baik dalam pranata yang memang khusus mengatur soal belajar dan mengajar, yaitu kegiatan-kegiatan yang paling pokok dalam rangka menyampaikan pengetahuan dari satu pihak ke pihak lain itu; maupun dalam pranata-pranata sosial lainnya, yang tidak menekankan kegiatan penyampaian pengetahuan tersebut sebagai kegiatan pokoknya.
Pranata yang khusus mengatur kegiatan pendidikan biasanya dikelola oleh golongan yang sudah mapan kedudukannya dalam suatu masyarakat tertetu (orang dewasa, pemerintah, golongan terpelajar, golongan profesional dan sebagainya), dalam rangka membekali dan mempersiapkan mereka yang dianggap termasuk dalam golongan yang belum mapan (kanak-kanak dan remaja, golongan buta huruf, para pendatang baru dalam suatu lingkungan tertentu dan sebagainya), dengan ketrampilan, keahlian dan sikap-sikap tertentu yang dibutuhkan agar mereka kelak dapat berperan secara aktif dan sebagaimana semestinya, dalam kelompok dan dalam masyarakat yang bersangkutan.
Seandainya golongan-golongan dalam suatu masyarakat memiliki kebudayaan yang kurang lebih sama, maka proses pendidikan yang merupakan proses persiapan sebagian warganya untuk menjadi anggota yang aktif dalam masyarakat tersebut, tidaklah menimbulkan banyak masalah, sebab perumusan mengenai peran serta kedudukan dari setiap golongan yang ada dalam masyarakat tersebut bersumber pada aturan yang dianut bersama, sehingga dapat diterima dan disetujui pula oleh sebagian besar warganya. Hal yang sebaliknya dapat terjadi, apabila dalam suatu masyarakat terdapat berbagai golongan dengan kebudayaan yang saling berbeda, apalagi jika saling bertentangan.
Situasi semacam ini ditemukan pada masyarakat-masyarakat majemuk, yaitu masyarakat yang relatif heterogen dengan dua atau lebih satuan sosial dengan kebudayaan yang berbeda-beda, yang hidup saling berdampingan tetapi tidak saling bergabung, dalam sebuah satuan politik. Setiap golongan relatif memiliki otonomi, dalam arti mempertahankan kebudayaannya (agama, bahasa, pandangan dan cara hidup) masing-masing (Furnivall 1939:446; 1948:304; Fan den Berghe, 1971:68)?"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1989
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Hendryan Wijaya
"ABSTRAK
Atlet pelajar memiliki permasalahan dalam menjalankan perannya sebagai atlet sekaligus sebagai pelajar. Hal tersebut mengakibat banyaknya atlet pelajar yang lebih memilih untuk mengorbankan perannya sebagai atlet dan berfokus pada perannya sebagai pelajar untuk kemudian dapat menjadi pekerja non atlet. Studi-studi sebelumnya yang membahas permasalahan atlet pelajar terbagi menjadi dua, yaitu aspek internal motivasi, semangat berkompetisi, perencanaan, serta manajemen waktu dan aspek eskternal peran orangtua, peran pelatih, dan institusi dalam bentuk dana ataupun program . Pada penelitian ini peneliti berargumen bahwa atlet pelajar SKO lebih memilih perannya sebagai pelajar, karena dipengaruhi secara tidak langsung oleh pihak sekolah melalui pengetahuan sekolah dan kurikulum terselubungnya untuk mereproduksi kultur kelas pekerja. Pada studi ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengumpulan data melalui wawancara mendalam pada atlet pelajar yang sedang mengikuti pendidikan di salah satu SKO, pihak sekolah serta pengajar SKO mengenai persepsi mereka terhadap pendidikan SKO.

ABSTRACT
Student athlete have a problem to manage their role as an athlete and student. It cause most of student athlete decided to forfeit their role as an athlete and continue to focus their role as student to then be a non-athlete worker. Most of article have discussed about an athlete problem divided to two aspect, that are internal aspect motivation, competition spirit, planning, and self-management and external aspect parent, coaches, and institution in form of financial or program . This article, researcher argue that student athlete prefer to be student, because it is influenced indirectly by the school through school knowledge and hidden curriculum to reproduce the social class. This article use qualitative method, by interview student athlete who are currently attending SKO, principal of SKO and the teacher, about their perception toward education at SKO"
2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library