Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jung Hyun Jin
"Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini menceritakan seorang wanita cantik dari kasta Sudra, yaitu kasta terendah dalam struktur perkastaan masyarakat Bali yang menikah dengan lelaki dari kasta yang lebih tinggi, yaitu kasta Brahmana. Tujuan perkawinan itu, agar si wanita dapat mencapai impiannya akan status dan menjadi penari terbaik di Bali. Pada akhirnya, ia memenuhi mimpinya. Di tengah ketidakmampuan suami dan ibu mertuanya, ia berusaha membesarkan satu-satunya putrinya, Telaga sebagai bagian kaum bangsawan. Dalam konteks itu, novel Tarian Bumi ini dipandang sebagai pemberontakan terhadap adat-istiadat Bali. Penelitian ini akan mengungkapkan gambaran sistem kekerabatan keluarga Bali dalam novel Tarian Bumi menurut perspektif orang Korea. Oleh karena itu, sistem kekerabatan keluarga masyarakat Bali akan diperbandingkan juga dengan sistem kekerabatan keluarga Korea.

Dengan menggunakan pendekatan ekstrinsik untuk membandingkan sistem kekerabatan di Bali dalam novel itu dengan sistem kekerabatan masyarakat Korea, terungkap bahwa dalam beberapa hal terdapat perbedaan, tetapi dalam hal lain ada persamaannya. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah budaya patriakat di Bali dan patriakat di Korea, terutama berkaitan dengan sistem kekerabatan dalam pohon keluarga di Bali dan di Korea. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan novel Tarian Bumi dapat dikatakan merupakan representasi  budaya patriakat dan sistem kasta yang tidak terdapat dalam masyarakat Korea.


The novel Tarian Bumi by Oka Rusmini tells the story of a beautiful woman from the Sudra caste, the lowest caste in the structure of Balinese society who is married to a man from a higher caste, the Brahmin caste. The purpose of the marriage is so that the woman can achieve her dream of status and become the best dancer in Bali. In the end, he fulfilled his dream. In the midst of the inability of her husband and mother-in-law, she tried to raise her only daughter, Telaga as part of the nobility. In that context, this Tarian Bumi novel is seen as a rebellion against Balinese customs. This research will reveal a picture of the Balinese family system in the novel Tarian Bumi from the perspective of the Korean people. Therefore, the Balinese family kinship system will also be compared with the Korean family kinship system.

Using an extrinsic approach to compare the kinship system in Bali in the novel with the Korean kinship system, it was revealed that in some respects there were differences, but in other respects there were similarities. The theoretical framework used in this study is patriarchal culture in Bali and patriarch in Korea, especially with regard to the kinship system in family trees in Bali and in Korea. Based on this research it can be concluded that the Tarian Bumi novel can be said to represent a patriarchal culture and caste system that is not found in Korean society."

Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Manullang, Chrisitine
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1997
S6863
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ichsan Hulqi Samanta
"Media sosial berbasis visual seperti Instagram memiliki kaitan yang erat dengan isu psikososial seperti stereotipe gender dan seksisme ambivalen. Meski terdapat banyak pengguna yang mengunggah konten stereotipikal, Instagram juga memberikan kemampuan kepada penggunanya untuk mengunggah konten nonstereotipikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah eksposur konten dengan stereotipe gender dan nonstereotipe gender dapat memengaruhi seksisme ambivalen pada laki-laki. Laki-laki menjadi sorotan utama karena seksisme ambivalen memberikan posisi dan kekuatan yang lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. Sebanyak 138 partisipan laki-laki heteroseksual berusia 18 hingga 25 tahun (M = 21.43, SD = 1.5) secara acak ditentukan untuk menyaksikan foto Instagram yang menampilkan stereotipe gender, nonstereotipe gender, atau foto netral. Seksisme ambivalen diukur menggunakan Ambivalent Sexism Inventory (ASI). Hasil analisis menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa eksposur tidak berpengaruh secara signifikan terhadap seksisme ambivalen pada ketiga kelompok (F(2, 135) = 0.238, p = .789). Penemuan ini menandakan bahwa seksisme ambivalen merupakan sikap yang sulit untuk diubah dan eksposur dalam jangka pendek tidak cukup kuat untuk mengubah tingkat seksisme ambivalen secara signifikan. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan untuk menggunakan konten yang lebih variatif dengan jangka waktu eksposur yang lebih panjang.

Due to its visual nature, Instagram is closely linked to psychosocial issues such as gender stereotypes and ambivalent sexism. Although gender stereotypical contents are rampant, Instagram allows its users to freely upload nonstereotypical content as well. This study aims to determine whether exposure to gender stereotypical and nonstereotypical content have an effect on men’s ambivalent sexism. Men are highlighted in this study because ambivalent sexism puts men in a higher position and power than women. A total of 138 heterosexual male participants aged 18 to 25 years (M = 21.43, SD = 1.5) were randomly assigned to view gender stereotypical, nonstereotypical, or neutral Instagram photos. Ambivalent sexism was measured using the Ambivalent Sexism Inventory (ASI). Analysis using ANOVA showed that the exposure did not significantly affect ambivalent sexism across all three groups (F(2, 135) = 0.238, p = .789). This finding suggests that ambivalent sexism is resistant to change and that short-term exposure is not strong enough to significantly change the level of ambivalent sexism. Future research may consider using a more varied content with a longer period of exposure."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library