Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 80 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Johnstone, Margaret
New York: Churchill Livingstone , 1996
616.81 JOH s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nur Fatimah
"Tujuan: (1) mengetahui perubahan status protein dalam 5 hari pasca serangan stroke; (2) mengetahui faktor risiko, status gizi dan asupan energi dan protein selama dirawat; (3) mengetahui hubungan antara perubahan status protein dengan faktor risiko, status gizi dan asupan energi dan protein.
Tempat: Ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo.
Metodologi: Sebanyak 77 pasien diambil dengan diagnosis stroke iskemik dan hemoragik yang memenuhi kriteria perterimaan. Dilakukan pengukuran antropometri yaitu berar badan dan tinggi badan. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan yaitu kadar albumin plasma pada hari kel dan ke 5, NUU dan kleatinin urin dari urin tampttng 24 jam pada hari ke 1, 3 dart 5. Data asupan energi dan protein melalui oral, enteral dan parenteral selama 24 jam pada hari ke 1, 3 dan 5, hasil dianalisis dengan program Food Processor II. Imbang nitrogen diperoleh dengan menghitung asupan nitrogen dan NUU 24 jam. Hubungan antara parameter Status protein dengan faktor risiko diuji dengan uji One Way ANOVA/uji Kruskal Wallis. Hubungan antara parameter status protein dengan status gizi diuji dengan uji t berpasangan/uji Man Whitney U. Korelasi antara parameter status protein dengan asupan energi dan protein diuji dengan uji korelasi Spearman Rank.
Hasil: Hasil penelitian diperoleh 67,5% stroke iskemik dan 32,5% stroke hemomgik Faktor risiko yang didapat adalah hipertensi, diabetes melitus, kelainan jantung dan dislipidemia, faktor risiko dibagi menjadi faktor risiko terkontrol, tidak terkontrol dan belum ditemukan Fktor risiko. Median asupan energi dan protein masih dibawah kebutuhan. Terdapat penurunan bermakna Radar albumin hari ke 5 dan peningkatan NUU hari ke 3, tidak ada perbedaan bermakna kadar kreatinin urin. Imbang nitrogen negatif selama penelitian. Terdapat perbedaan bermakna kadar albumin antara kelompok pasien stroke iskemik dan stroke hemoragik. Tidak ada perbedaan bermakna parameter status protein antara ke 3 kelompok faktor risiko. Terdapat perbedaan bermakna kadar albumin hari ke 1 dan 5 serta kadar kreatinin urin hari ke 3 dan 5 antara kelompok pasien dengan status gizi normal dan berat badan lebih,.Terdapat korelasi lemah antara parameter status protein dengan asupan energi dan protein. Korelasi lemah sampai sedang terdapat antara imbang nitrogen dengan asupan energi dan protein.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan terdapat penurunan status protein pada pasien stroke. Terdapat penurunan bermakna kadar albumin, hari ke 5, peningkatan nilai NUU hari ke 3, tidak ada perubahan kadar kreatinin urin, imbang nitrogen negatif selama penelitian.

Objective: (1) to investigate the changes of protein slams within 5 days alter stroke, (2) to observe the risk factors, nutritional status, energy and protein intake, and analyze the correlation with protein indicators, (3) to analyze the correlation between protein indicators with energy and protein intake.
Location: Ci ptolvlangunkusumo General Hospital, Jakarta.
Subject and Methods: Seventy seven patients with acute stroke were recruit as the subjects of the study. Anthropometry assessments i.e body weight and height were assmsed in the 1st day of admission. Laboratory assessment i.e albumin were assessed in the 1' and 5?? day. Urinary urea nitrogen (UUN) and urinary creatinine were assessed in the 1st, 3rd and 5th day using 24-hour urine collection. Energy and protein intake from parenteral, enter-al and oral route were calculated in the 1st, 3rd and 5th day and analyzed by Food Processor ll program. Nitrogen balanced was calculated by substracting nitrogen intake with urinary nitrogen. The correlation between protein indicators with risk factors was tsted using One Way ANOVA/Kruskal Wallis test. The correlation between protein indicators with nutritional status was tested using t test/Man Whitney U test. The correlation between protein indicators with energy and protein intake was tested using Spearman Rank Correlation.
Results: The type of stroke determined by clinical diagnosis were; ischemic stroke 615% and hemorrhagic stroke 32,5%. Risk factors found ofthe subjects were: hypertension, diabetes mellitus, cardiac disease, hypercholesterolemia and unknown risk lilctors. The risk factors were grouped into 3 categories; controlled risk factors, uncontrolled risk factors and unknown risk factors. The median intake of energy and protein were below the requirement There were significant decrease in serum albumin in the 5th day and increase in UUN in the 3rd day, and no significant difference in urinary creatinine. During the study, there were negative nitrogen balance. No significant difference in protein indicators between risk factors group. There were significant difference in protein indicators between ischemic and hemorrhagic stroke, and significant difference in serum albumin and urinary creatinine between normal weight and overweight There was no correlation significant between protein indicators and energy and protein intake using Spearman Rank correlation The correlation between protein indicators and nitrogen balance was significant.
Conclusions: The current study indicates that there was decreases of protein status in stroke patients. There were significant decrease in serum albumin in the 5th day and increase in UUN in the 3rd day, and there were negative nitrogen balance during the study."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T10960
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lumbantobing, S.M.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007
616.81 LUM s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007
616.81 UNI u
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Enny Mulyatsih
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
616.81 ENN s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
New York: Informa Healthcare, 2007
616.81 ACU
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Adolfina R. Amahorseja
"Selama kurun waktu 3 tahun antara 1988 sampai 1990 nampak jumlah penderita. "stroke" di RS. PGI. Cikini Jakarta cendrung meningkat, 149 penderita (1988), 237 penderita (1989), dan 241 penderita (1990). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor risiko yang dapat menimbulkan "stroke", dalam penelitian ini faktor risiko yang diteliti yaitu hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterolerni, dan merokok.
Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol (case-control study), dengan menggunakan data sekunder yang didapat dari catatan medik RS.PGI. Cikini Jakarta dari penderitapenderita rawat mondok bulan April sampai Desember 1991, dimana diperoleh jumlah kasus 124. orang dan kontrol 124 orang. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah analisa terhadap distribusi frekuensi, tabulasi silang, dan multiple logistic regression.
Hasil penelitian merunjukkarn bahwa faktor risiko hipertensi, dan hiperglikemi secara statistik mempunyai hubungan. yang bermakna dengan kejadian "stroke", dimana individu dengan hipertensi mempurnyai risiko 11.021 kali untuk menjadi "stroke" dibandingkan dengan yang tidak menderita hipertensi. Individu dengan hiperglikemi mempunyai risiko 4, 325 kali untuk menjadi "stroke" dibandingkan dengan yang tidak hiperglikemi. Sedangkan faktor hiperkolesterolemi dan merokok menunjukkan hubungan yang tidak bermakna dengan kejadian "stroke". Dari analisa dengan multiple logistic regression yang paling besar pengaruhnya adalah faktor hipertensi.
Berdasarkan informasi yang didapat, maka saran-saran yang dikemukakan adalah pemeriksaan laboratorium klinik tidak hanya kolesterol total, tetapi perlu pula diperiksa HDLC (high density lipoprotein cholesterol) dan LDLC (Low density lipoprotein cholesterol}, agar hasilnya dapat lebih memuaskan."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sumampouw, Nathanael Elnadus Johanes
"Faktor psikologis dan kondisi kesehatan seseorang saling terkait (Di Matteo & Martin, 2002; Sarafino, 2002). Hal ini menjadi sesuatu yang penting pada penderita stroke. Defisit yang dialami pasta stroke dapat menjadi sesuatu yang permanen jika tidak melakukan usaha atau mendapatkan bantuan apapun untuk pulih. Pemulihan pada penderita stroke merupakan proses yang panjang dan membutuhkan usaha dan energi (Sarafino, 2002).
Penderita stroke membutuhkan keseimbangan antara harapan dengan kenyataan yang dialami terkait dengan kondisinya pasca stroke (Sarafino, 2002). Pada penderita stroke, harapan merupakan prediktor yang bermakna pada depresi dan hendaya psikososial (Farran, Herth & Popovich, 1995). Menurut Snyder (1994), terdapat 2 dimensi dalam definisi psikologis harapan, yaitu: waypower dan willpower. Willpower merupakan suatu kekuatan pendorong yang mengarahkan seseorang ke arah pencapaian tujuan sedangkan waypower merefleksikan rencana mental atau alur yang mengarahkan seseorang ke pencapaian tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat harapan seseorang pasca stroke di fase rehabilitasi. Untuk menjawab permasalahan penelitian, penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif pada 40 subyek yang berada di fase rehabilitasi pasca stroke.
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara harapan subyek secara umum dan harapan subyek mengenai pemulihan kondisi pasca stroke. Berdasarkan dimensi yang ada, yaitu: willpower dan waypower, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam dimensi willpower secara umum dan willpower mengenai pemulihan kondisi pasca stroke. Willpower subyek tampak lebih bazar dalam hal pemulihan kondisi pasca stroke daripada dalam hal kehidupan subyek secara umum. Dalam hal waypower, tidak ada perbedaan yang bermakna antara waypower secara umum dengan waypower mengenai pemulihan kondisi pasca stroke. Jika dilakukan perbandingan antara waypower dan willpower dalam harapan secara umum maupun harapan mengenai pemulihan kondisi pasca stroke, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara dimensi waypower dan willpower pada harapan secara umum. Mayoritas subyek memiliki harapan secara umum maupun mengenai pemulihan kondisi pasca stroke. Harapan secara umum yang memadai pada subyek tampak dipengaruhi oleh kemampuan subyek dalam mengembangkan tujuan konkret pada kurun waktu 1 - 3 tahun ke depan.
Secara khusus, harapan subyek yang cukup memadai mengenai pemulihan kondisi pasta stroke dipengaruhi oleh tujuan yang dimiliki subyek akan kemajuan kondisi fisik yang diharapkannya. Mayoritas subyek diperoleh peneliti dari klinik, tempat rehabilitasi medik dan klub stroke. Hal ini merupakan indikasi adanya tujuan yang dimiliki oleh subyek untuk mencapai kemajuan/pemulihan serta mempertahankan kemajuan yang telah dicapai. Terkait dengan efek psikologis yang dialami, subyek cenderung mampu beradaptasi dengan efek stroke yang dialaminya. Mayoritas subyek merasa mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri meskipun mengalami keterbatasan fisik sebagai efek dari stroke yang dialami."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T17872
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Uke Pemila
"Discharge Planning adalah proses mempersiapkan pasien untuk mendapatkan kontinuitas perawatan sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya. Implementasi utama discharge planning adalah pemberian health education yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman pasien dan keluarga agar terjadinya perubahan perilaku dalam meningkatkan derajat kesehatannya dan menjamin kontinuitas perawatan di rumah. Salah satu kriteria pasien yang perlu diberikan discharge planning adalah pasien stroke iskemik karena memiliki harapan hidup tinggi dengan tingkat kecacatan yang lebih berat. Pemberian discharge planning terstruktur dalam penatalaksanaan stroke bertujuan agar terjadinya perubahan perilaku pasien dan keluarga untuk mencegah terjadinya stroke berulang, mencegah komplikasi, membantu pemulihan, mencegah terjadinya kematian serta mengupayakan kecacatan seminimal mungkin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh discharge planning terstruktur pada pasien stroke iskemik dalam menurunkan faktor risiko kekambuhan, length of stay dan peningkatan status fungsional di RSSN Bukittinggi. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen dengan sampel berjumlah 43 orang (20 kelompok intervensi yang diberikan discharge planning terstruktur dan 23 kelompok kontrol yang diberikan discharge planning rutin rumah sakit).
Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan faktor risiko kekambuhan antara kelompok intervensi dan kontrol setelah diberikan discharge planning (p=0,00), adanya perbedaan length of stay kelompok intervensi dan kontrol (p=0,02) dan tidak ada perbedaan status fungsional (penilaian Barthel Index) antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Dapat disimpulkan bahwa discharge planning terstruktur pada pasien stroke iskemik dapat menurunkan faktor risiko kekambuhan dan length of stay. Hasil penelitian ini dapat dijadikan evidence base practice dalam penatalaksanaan stroke iskemik dan pedoman pelaksanaan home care untuk kontinuitas perawatan pasca stroke.
Rekomendasi hasil penelitian ini perlu adanya penelitian lanjut dengan mengkaji pengaruh support system pasien dalam upaya mencegah kekambuhan, komplikasi dan meminimalkan kecacatan pada pasien stroke.

Discharge planning is a process that prepare patients to have a continuity of care until they are ready for their environment. Primary implementation of discharge planning is health education, which focus on increasing patient and family knowledge and understanding in order to change their behavior in improving their health status and maintain the continuity of home care. Ischemic stroke is one of priority that need discharge planning due to high survival but with high disability. A structured discharge planning in stroke management aimed to change behavior of patient and family in order to prevent recurrence of stroke, complications, to support recovery, prevent death and to minimize the disability.
The purpose of this study is to identify the effect of structured discharge planning on ischemic stroke patient in reducing recurrence risk factors, length of stay and improving functional status at National Stroke Hospital Bukittinggi. The design was quasi experimental with 43 subjects participated in the study divided in to two groups (20 subjects as the intervention group was provided with structured discharge planning; and 23 subjects as the control group was provided with routine hospital discharge planning).
The findings of the study demonstrated that there is difference in recurrence risk factors between intervention group and the control group (p=0,00), there is a difference in length of stay between two groups but no difference in functional status (measured by Barthel Index).
This finding showed that structured discharge planning provided to ischemic stroke patient has significant effect to reduce recurrence of risk factors and length of stay. This study can be used as an evidence base practice in managing of ischemic stroke and as guideline in home care to ensure continuity of care of post ischemic stroke patient.
It is recommended to conduct further study to examine the effect of patient support system on stroke recurrence, complications prevention and minimize disability of stroke ischemic patient.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Saridian Satrix Wawo
"Tujuan Penelitian
Untuk mendapatkan data perubahan kadar vitamin C plasma dan faktor-faktor yang berhubungan pasien stroke iskemik
Tempat Penelitian
Ruang rawat inap B Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
Desain Penelitian
Penelitian dengan desain cross sectional dilakukan pada 29 pasien stroke iskemik dengan onset kurang dari 48 jam. Pengambilan subyek penelitian dengan Cara consecutive sampling. Pemeriksaan vitamin C dengan metode spektrofotometri. Data yang dikumpulkan meliputi: karakteristik demografi, faktor risiko, pola makan, asupan nutrisi berdasarkan recall I x24 jam, food frequency amount (FFA) dan food record, pemeriksaan antropometri (BB, TB), pemeriksaan klinis dengan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS)
Subyek Penelitian
Jumlah subyek penelitian 29 orang (22 laki-laki dan 7 perempuan). Rerata usia 60 ± 10,1 tahun. Sebanyak 56,7% mempunyai pola makan kurang. Asupan vitamin C selama observasi di bawah angka yang dianjurkan (55,8 ± 15,4 mg/dL ; 54,2 ± 14,2 mg/dL ; 56,1 ± 15,6 mg/dL ; 53,8 ± 16,7 mgldL) Berdasarkan FFA dan recall terdapat korelasi positif bermakna antara kadar vitamin C plasma dengan asupan vitamin C (r:1,42 - 0,43, p<0,05). Berdasarkan food record terdapat korelasi positif cukup antara kadar vitamin C plasma dengan asupan energi (r--0,33 - 0,35 p>0,05 ), dan asupan protein (r3,32 - 0,35, p>0,05)_ Korelasi positif bermakna antara kadar vitamin C plasma dengan asupan vitamin C (r- 0,39 - 0,43, p<0,05). Kadar vitamin C plasma perokok lebih rendah dibandingkan non perokok. Perubahan kadar "vitamin C plasma tidak berbeda menurut jenis kelamin (p-0,05). Demikian pula kadar kadar vitamin C plasma menurut usia (p > 0,05). Tidak terdapat perubahan bermakna nilai NIHSS ( 9,8 ± 6,9 ; 9,8 ± 7,1 ; 9,5 ± 7,1 ; 9,3 ± 7,6 ). Antara kadar vitamin C plasma dengan nilai NIHSS terdapat korelasi negatif (r 0,28 - -0,34, p>0,05).
Hasil Penelitian
Penelitian ini menunjukkan terdapat perubahan kadar vitamin C plasma pasien stroke iskemik. Penurunan bermakna kadar vitamin C plasma Mari ke 3 dan 5 terhadap kadar vitamin C plasma hari pertama. Persentase asupan energi, protein, serat dan vitamin C masih di bawah kebutuhan. Terdapat korelasi negatif antara kadar vitamin C plasma dengan nilai NIHSS.

Objective
To investigate the changes of vitamin C plasma level and associated factors in stroke ischemic paitents.
Place IRNA B, Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta
Methods
A cross sectional study was carried out among 29 patient with ischemic stroke of recent onset (< 48 hours). Consecutive sampling method was used to obtain the subject. Plasma vitamin C level was measured using spectrofotometry. Data collected were demographic characteristics include, risk factors, pattern food, nutrition intake using 24 hours recall, FFA and food record food, antropometri assessment, neurology examination using NIHSS.
Result
The subject consist of 29 patients (20 males and 6 females) with mean of age was 60 ± 10,1 years. There were 56,7% have less dietary profile. Vitamin C intake during observation was under recommendation (55,8 ± 15,4 mg/di. ; 54,2 + 14,2 mg/dL ; 56,1 ± 15,6 mg/dL ; 53,8 f 16,7 mg/dL). Based on FFA and recall, there was significant positive correlation between vitamin C plasma level with intake of vitamin C (r = 0,42 - 0,43 p<0,05). Based on record, there was positive correlation between the level of vitamin C plasma level with energy intake (r = 0,33 - 0,35 p50,05 ), and protein intake (r=0,32 - 0,35 p>0,05). There was significant correlation between level of vitamin C plasma with vitamin C intake (r=0,39 - 0,43, p<0,05) The plasma vitamin C Ievel of smoker lower than non smoker patients. There was no relationship between vitamin C plasma level and sex (p>0,05), age (p>0,05). During the observation there were no significant difference in score of NIHSS (9,8 ± 6,9 ; 9,8 ± 7,1 ; 9,5 ± 7,1 ; 9,3 ± 7,6 ). There was negative correlation between the level of vitamin C plasma and NIHSS score, as follows (r = -0,28 - -0,34, p>0,05).
Conclusion
This study showed that there were changes in the level of the vitamin C plasma of ischemic stroke patient. There was significant decrease in plasma vitamin C level between the third and fourth days and at admission The percentage of energy, protein, fiber and vitamin C intake under the recommendation. There was negative correlation between NIHSS and vitamin C plasma level.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13620
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>