Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ignatia Sinta Murti
"ABSTRAK
Latar Belakang : Kekuatan genggam tangan (KGT) merupakan metode pemeriksaan yang mudah, murah, cepat dan dapat digunakan secara bedside pada pasien yang dirawat. Data mengenai hubungan KGT dengan parameter status nutrisi lain selama perawatan di rumah sakit di Indonesia belum tersedia
Tujuan : Mengetahui hubungan KGT dengan nilai subjective global assessment (SGA), antropometri, analisis bioimpedans dan biokimia pada awal dan akhir perawatan. Metode : Ini merupakan penelitian potong lintang pada pasien yang dirawat inap di ruang perawatan penyakit dalam RS. Cipto Mangunkusumo. Status nutrisi dinilai berdasar SGA. Indeks masa tubuh (IMT), corected arm muscle area (cAMA), arm fat area (AFA) dihitung secara antropometri. Masa otot dan masa lemak tubuh didapat dari analisis bioimpedans. Analisis statistik menggunakan uji anova, pearson dan uji T.
Hasil : Terdapat 131 pasien terdiri dari 102 laki-laki dan 29 perempuan dengan rerata umur 45,6 ± 14.2 tahun. Pada awal dan akhir perawatan didapatkan perbedaan KGT yang bermakna antara status nutrisi baik dan malnutrisi sedang maupun malnutrisi berat tetapi tidak ada perbedaan KGT antara malnutrisi sedang dan malnutrisi berat (p<0.001). Kekuatan genggam tangan berkorelasi dengan cAMA (r=0,47 dan 0,49), masa otot tubuh (r=0,67 dan 0,55) dan albumin (r=0,23 dan 0,28). Tidak ada hubungan antara KGT dengan AFA, masa lemak tubuh dan IMT. Tidak ada perbedaan KGT antara pasien yang mencapai target nutrisi berdasar SGA dan yang tidak (p=0,81).
Kesimpulan : Terdapat perbedaan KGT yang bermakna antara status nutrisi baik dan malnutrisi sedang dan antara nutrisi baik dan malnutrisi berat. Tidak ada perbedaan KGT antara malnutrisi sedang dan malnutrisi berat. Nilai KGT berkorelasi dengan cAMA, masa otot tubuh dan albumin tetapi tidak berkorelasi dengan AFA, masa lemak tubuh dan IMT. Tidak ada hubungan antara pencapaian target nutrisi berdasar SGA dengan nilai KGT

ABSTRACT
Background : Hand grip strength (HGS) is an easy, cheap and quick method and can be used bedside in hospitalized patient. Data about HGS correlation with other nutrition status parameters in hospital are not yet provided in Indonesia Objective : To find relation among HGS with the value of subjective global assessment (SGA), anthropometry, bioimpedance analysis and albumin at the beginning and end of hospitalization.
Methods : This is a cross-sectional study from hospitalized patients at medical ward Cipto Mangunkusumo Hospital. Nutritional status assessed by SGA. Body mass index (BMI), corected arm muscle area (cAMA), arm fat area (AFA) were calculated by anthropometry. Muscle mass and a body fat obtained from the bioimpedance analysis. Data were analyzed using ANOVA, Pearson and T test. Results : There were 131 patients consisted of 102 men and 29 women with mean age of 45.6 ± 14.2 years. At the beginning and end of the hospitalization there is significant HGS differences between good nutritional status with moderately malnourished and severely malnourished, but no HGS differences between moderately malnourished and severely malnourished (p <0.001). Hand grip strength was correlated with CAMA (r=0.47 and 0.49), muscle mass (r=0.67 and 0.55) and albumin (r=0.23 and 0.28) and was not correlate with AFA, body fat and BMI. There was no HGS difference between patients who achieved nutrition targets based on SGA and who did not (p=0.81).
Conclusion : There are significant HGS differences between good nutritional status and moderate malnutrition and good nutritional status and severe malnutrition. There is no HGS differences between moderately malnourished and severely malnourished. Hand grip strength was correlated with cAMA, muscle mass and albumin but did not correlate with the AFA, body fat and BMI. There was no corelation between nutritional achievement based on SGA with HGS value"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Huda
"Keakuratan dari skrining risiko malnutrisi merupakan hal yang penting untuk memberikan dukungan gizi yang optimal yang sesuai bagi kondisi pasien sebagai salah satu upaya untuk mencegah kejadian malnutrisi di rumah sakit dan mempercepat proses penyembuhan. Berdasarkan hal tersebut, menjadi suatu hal yang penting untuk mengetahui validitas alat skrining risiko malnutrisi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas MST pada pasien rawat inap dewasa di RSCM, Jakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian obervasional dengan desain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 105 pasien rawat inap dewasa di RSCM. Semua pasien dilakukan skrining menggunakan MST dan SGA oleh observer dan tenaga kesehatan lain. Validitas MST ditentukan dengan mengetahui nilai sensitivitas dan spesifisitas yang dibandingkan dengan SGA. Inter-rater reliability ditentukan dengan nilai kappa ? untuk mengetaui tingkat kesepakatan antar obsever. Prevalensi malnutrisi berdasarkan MST adalah 46,47 untuk malnutrisi ringan, 40 untuk malnutrisi sedang, dan 13,33 untuk malnutrisi berat.
Prevalensi malnutrisi berdasarkan SGA adalah 47,62 untuk malnutrisi ringan, 37,15 untuk malnutrisi sedang, dan 15,23 untuk malnutrisi berat. Kemudian apabila dibandingkan dengan SGA, MST memiliki sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 96 dan 98,2 untuk malnutrisi ringan, 94,9 dan 92,4 untuk malnutrisi sedang, serta 81,3 dan 98,9 untuk malnutrisi berat. Reliabilitas antar observer MST adalah 0,492 untuk malnutrisi ringan, 0,315 untuk malnutrisi sedang, dan 0,437 untuk malnutrisi berat. Berdasarkan hasil penelitian ini, MST direkomendasikan untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi pada pasien dewasa. Namun diperlukan evaluasi dan pelatihan yang berkelanjutan terhadap tenaga kesehatan yang menggunakan alat skrining ini.

The accuracy of nutritional screening are necessary to ensure the provision of optimal nutrition support for the patient to prevent hospital malnutrition and speed up the healing process. Thus, it is necessary to validate the nutrition screening tool used. The present study determined validities and reliabilities of MST among adult patients at risk of malnutrition at RSCM, Jakarta.
This is an observational study with cross sectional design. The subjects were 105 adult patients admitted to RSCM. All patients were screened using the MST and SGA by the observer and other health care workers. The validity of the MST will be tested by measuring the sensitivity and specificity of MST were conducted against the SGA. Inter rater reliability was evaluated using kappa value to determine the level of agreement between raters. A total of 105 adult patients participated in this study. Prevalence of malnutrition according to MST was 46,47 for mild malnutrition, 40 for moderate malnutrition, and 13,33 for severe malnutrition.
Prevalence of malnutrition according to SGA was 47,62 for mild malnutrition, 37,15 for moderate malnutrition, and 15,23 for severe malnutrition. As compared to SGA, MST had a sensitivity and specificity 96 and 98,2 for mild malnutrition, 94,9 and 92,4 for moderate malnutrition, and 81,3 and 98,9 for severe malnutrition, respectively. The inter rater reliability of MST was 0,492 for mild malnutrition, 0,315 for moderate malnutrition, and 0,437 for severe malnutrition. MST is a simple, quick and valid tool which can be used to identify patients at risk of malnutrition. Based on our result, MST is recommended for use in identifying adult patients. It can be used as a malnutrition screening tool but there is a need to evaluate and train the health care workers who use this tools.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2017
S67742
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rabbinu Rangga Pribadi
"Latar Belakang: Sarkopenia memiliki dampak yang signifikan pada pasien IBD sehingga kondisi tersebut perlu dievaluasi. Pemeriksaan sarkopenia mencakup penilaian massa otot (menggunakan DXA), kekuatan otot, dan performa fisik. Walaupun pemeriksaan DXA amat penting namun memiliki keterbatasan seperti pembiayaan yang tidak ditanggung oleh BPJS kesehatan, harga cukup mahal, dan membutuhkan operator khusus. Terdapat pemeriksaan alternatif yang lebih murah dan mudah seperti lingkar paha (LP), lingkar betis (LB), subjective global assessment (SGA), dan kekuatan genggam tangan (KGT) namun akurasi diagnostiknya belum diketahui pada pasien IBD. Tujuan: Studi ini bertujuan mencari titik potong dan akurasi diagnostik LP, LB, SGA untuk mengidentifikasi sarkopenia serta KGT untuk mengidentifikasi penurunan massa otot pada pasien IBD. Metode: Penelitian uji diagnostik ini dilakukan dengan merekrut subjek IBD di poliklinik gastroenterologi RSCM selama November 2020-Juni 2021. Analisis uji diagnostik digunakan untuk mencari titik potong beserta nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN), rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN) LP, LB, SGA dalam menapis sarkopenia serta nilai diagnostik KGT dalam mengidentifikasi penurunan massa otot. Hasil: Dari total 85 subjek IBD, terdapat 29,4% lelaki dan 70,6% perempuan dengan median usia 42 tahun (min-maks:18-58 tahun). Proporsi sarkopenia pada perempuan didapatkan 11,67%. Pada kelompok IBD perempuan didapatkan titik potong lingkar betis ≤ 31 cm dengan sensitivitas, spesifisitas, NDP, NDN, RKP, dan RKN yaitu 100%; 60,38%; 25%; 100%; 2,52; 0. Pada kelompok IBD perempuan dengan titik potong lingkar paha ≤ 50 cm didapatkan sensitivitas, spesifisitas, NDP, NDN, RKP, dan RKN adalah 100%; 83,02%; 43,75%; 100%; 5,89; dan 0. Pada kelompok IBD perempuan, SGA memiliki sensitivitas, spesifisitas, NDP, NDN, RKP, dan RKN sebesar 42,86%; 84,91%; 27,27%; 91,84%; 2,84; dan 0,67. Area under curve (AUC) KGT mencapai 33,3% sehingga tidak lagi dilakukan penilaian akurasi diagnostik. Subjek lelaki belum memenuhi target sampel sehingga tidak dilakukan analisis. Simpulan: Titik potong optimal LP dan LB adalah 50 cm dan 31 cm berturut- turut pada pasien IBD perempuan. Akurasi diagnostik LP dan LB sangat baik untuk menyingkirkan sarkopenia pada pasien IBD perempuan. Akurasi diagnostik SGA tidak cukup baik untuk menyingkirkan maupun mendiagnosis sarkopenia pada pasien IBD perempuan. Akurasi diagnostik KGT kurang baik dalam mengidentifikasi penurunan massa otot pada pasien IBD perempuan.

Background: Sarcopenia is affecting IBD outcome significantly and it should be evaluated in all IBD patients. To diagnose sarcopenia, one needs muscle mass measurement (by utilizing DXA), muscle strength and physical performance evaluation. Although DXA is of utmost importance, it has several drawbacks as its cost is expensive and not covered by national insurance program and it requires skilled operator. Those disadvantages need to be addressed by evaluating other inexpensive and simple alternative examinations, for example thigh circumference (TC), calf circumference (CC), subjective global assessment (SGA) and handgrip strength (HGS) although the diagnostic accuracies are not known yet. Objective: The purpose is to explore cut-off point and diagnostic accuracy of TC, CC, SGA to identify sarcopenia and HGS to identify decrease of muscle mass in IBD patient. Methods: The diagnostic study was conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital gastroenterology clinic during November 2020-June 2021. Statistical analysis was performed to discover the cut-off point and to further explore sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), positive likelihood ratio (PLR), and negative likelihood ratio (NLR) of TC, CC, and SGA to identify sarcopenia and diagnostic value of HGS to identify decrease of muscle mass. Results: From 85 patients, there were 29.4% male and 70.6% female subjects. The median age was 42 years old (min-max: 18-58 years old). The proportion of sarcopenia in women IBD patients was 11.67%. In female patients with CC cut- off of ≤ 31 cm, the sensitivity, specificity, PPV, NPV, PLR and NLR were 100%; 60.38%; 25%; 100%; 2.52; 0, respectively. In female patients with TC cut-off of ≤ 50 cm, the sensitivity, specificity, PPV, NPV, PLR and NLR were 100%; 83.02%; 43.75%; 100%; 5.90; 0, respectively. In female patients, SGA has sensitivity, specificity, PPV, NPV, PLR and NLR of 42.86%; 84.91%; 27.27%; 91.84%; 2.84;0.67, respectively. The area under curve of HGS was 33.3% and diagnostic accuracy was not investigated. Male subjects had not reach sampling target and therefore it was not analyzed yet.
Conclusions: The optimal cut-off points of TC and CC was more than 50 cm and 31 cm, respectively in women IBD patients. The diagnostic accuracy of both TC and CC is very good to exclude sarcopenia in women IBD patients. Subjective global assessment is not accurate enough to exclude nor diagnose sarcopenia in female IBD patients. Handgrip strength is not accurate enough to identify the decrease of muscle mass in female IBD patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library