Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rosen, Joe
New York: John Wiley & Sons, 1983
500 ROS s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Halimah Hasan
"ABSTRAK
Latar Belakang: Asimetri pada wajah dan lengkung gigi merupakan fenomena yang dapat ditemui hampir pada seluruh individu sehingga saat ini asimetri dengan batas-batas tertentu masih dianggap seimbang secara klinis dan dinilai normal. Asimetri mandibula merupakan asimetri yang paling sering terjadi dan mudah terlihat dikarenakan mandibula adalah bagian wajah yang paling mudah bergerak dibandingkan bagian wajah lainnya. Asimetri mandibula ditemukan paling tinggi dan dapat memengaruhi perawatan. Untuk mendiagnosis asimetri mandibula dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis ekstra oral yang meliputi pemeriksaan smile symmetry. Tujuan: Mengetahui frekuensi dan distribusi terjadinya asimetri mandibula pada mahasiswa angkatan tahun 2016 FKG UI dan mengetahui berapa persen mahasiswa yang mengalami asimetri mandibula. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis gambaran klinis yang dilakukan untuk melihat adanya asimetri atau disporposi pada wajah tampak frontal khususnya pada mandibula. Analisis dilakukan dengan cara fotografi frontal dalam kondisi standar dan kondisi gigi tersenyum. Kesimpulan: Pada mahasiswa FKG UI angkatan 2016 terdapat 37 subjek (32,2%) dengan asimteri mandibula dan terdapat 57 subjek (49,6%) yang memiliki senyum tidak simetris.

ABSTRACT
Background: Facial asymmetry is a phenomenon found in almost every individual, thus asymmetry within certain boundaries is accepted as clinically balanced and normal. Mandibular asymmetry is the most common asymmetry that can occur and is easily seen because the mandibula is the part of the face that is most mobile compared to the rest of the face. Mandibular asymmetry are the most common asymmetry that can affect treatment for asymmetry. Mandibular asymmetry can be diagnosed by extra oral clinical examination which includes smile symmetry. Objective: Knowing the frequency and distribution of mandibular asymmetry in In Faculty Of Dentistry batch 2016 students and knowing what percentage of students experience mandibular asymmetry. Method: The method used in this research is clinical image analysis which is used to see whether asymmetry or facial disproportion on the frontal face image, especially on the mandibula, is present. The analysis is done via frontal photography in a standard setting. Conclusion : In Faculty Of Dentistry batch 2016, there were 42 subjects with mandibular asymmetry and 58 subjects with asymmetry smile."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yus Arlika Putra Wibawa
"Latar Belakang: Deviasi atau ketidakseimbangan proporsi fasial serta hubungan gigigeligi yang menggangu fungsi, estetika dan profil wajah. Bedah ortognatik bertujuan memperbaiki ketidakharmonisan dan estetika wajah bekerjasama dengan perawatan ortodonti. Sagital split osteotomy merupakan reposisi segmen mandibula yang dilakukan
secara bilateral. Perubahan posisi kondilus mandibula serta stabilitas skeletal pada pasien BSSO mempengaruhi asimetri kondilus mandibula yang dikaitkan dengan adanya resiko terjadinya TMD.
Tujuan: Mengetahui perbedaan kondilus mandibula pada pasien pra bedah dan pasca bedah BSSO di Divisi Bedah Mulut dan Maksilofasial RSCM, Jakarta dengan perhitungan indeks simetri dan asimetri kondilus mandibula. Material dan Metode: Penelitian retrospektif melalui radiografik panoramik pra bedah, pasca bedah dan 1 tahun pasca bedah BSSO prosedur setback mandibula di Divisi Bedah Mulut dan
Maksillofasial, RSCM, Januari 2001 hingga Desember 2017 sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dan didapatkan 16 sampel. Setiap sampel dilakukan pengukuran pada radiografi panoramiknya dengan menggunakan teknik Habets dan teknik Kjellberg.
Hasil Penelitian: Haasil uji Repeated ANOVA, didapatkan hasil kemaknaan p = 0.389 maka p>0.05 pada indeks asimetri Habets pada saat pra bedah, pasca bedah dan 1 tahun pasca bedah,. Sedangkan uji Repeated ANOVA kelompok indeks simetri Kjellberg, didapatkan hasil kemaknaan p = 0.297 maka p>0.05 pada indeks asimetri Kjellberg pada saat pra bedah, pasca bedah dan 1 tahun pasca bedah.
Kesimpulan: Hasil penelitian indeks asimetri Habets dan indeks simetri Kjellberg menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada hasil pengukuran simetri dan asimetri mandibula. Orientasi kodilus terhadap fossa glenoid dan manuver posisi kondilus merupakan langkah terpenting yang harus dilakukan dalam BSSO.sehingga tujuan pokok
BSSO yaitu perbaikan fungsi, estetik dan stabilitas dapat tercapai.

Background: Deviations or imbalances in facial proportions and occlusions that interfere with facial function, aesthetics and profile. Orthognathic surgery aims to correct the disharmony and facial aesthetics in collaboration with orthodontic treatment. Sagittal split
osteotomy is repositioning of the bilateral mandible segment. Changes in mandibular condyle position and bone stability in BSSO affect mandibular condyle asymmetry related to TMD risk.
Objective: To determine the differences in mandibular condyle in pre-surgical and postBSSO patients in the Oral and Maxillofacial Surgery Division, RSCM, by calculating the symmetry index and asymmetry of the mandibular condyle.
Materials and Methods: Retrospective studies through preoperative, postoperative and 1 year post-BSSO mandibular setback procedures panoramic radiographs in the Oral and Maxillofacial Surgery Division, RSCM, January 2001 to December 2017 according to inclusion and exclusion criteria and obtained 16 samples. Each sample was measured on its panoramic radiography using the Habets technique and the Kjellberg technique.
Result: The results of repeated ANOVA test obtained significance p = 0.389 then p> 0.05 in the Habet asymmetry index during pre-surgery, post-surgery and 1 year post-surgery. Whereas the Repeated ANOVA test from the Kjellberg symmetry index group, the result of significance was p = 0.297, then p> 0.05 on the Kjellberg asymmetry index during presurgery, post-surgery and 1 year post-surgery.
Conclusion: The results of the Habets asymmetry index and the Kjellberg symmetry index showed no significant differences in the results of measurements of mandibular symmetry and asymmetry. Condyle orientation to the glenoid fossa and condyle position maneuver are the most important steps that must be done in BSSO. So that the main objectives of BSSO are improvement of function, aesthetics and stability can be achieved.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library