Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 241 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1992
571.2 FIS
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Fitter, A.H.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1992
571.2 FIT et
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Rochdjatun Sasrahidayat
Surabaya: Fakuktas Pertanian Unibraw,, 1992
571.92 IKA s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Agrios, George N.
San Diego : Academic Press, 1988
571.92 AGR p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Meidner, Hans
London : Blackie, 1976
581 MEI w
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sitompul, S.M.
Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1995
581.1 SIT a
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas, 1988
581.634 TET
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Malang: Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang , 1993
635 PEN
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ikhsan
"Indonesia merupakan negara yang mendominasi bahan baku
rotan dunia, untuk itu perlu meningkatkan upaya yang dapat melestarikan
sumberdaya rotan sehingga tetap dapat diambil manfaatnya bagi masyarakat
dan bagi devisa negara. Masalah yang timbul adalah semakin Iangkanya
sumberdaya rotan di hutan alam dan bagaimana mengusahakan
pengembangannya melalui budidaya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) seberapa besar potensi
rotan yang terdapat di hutan alam; (2) jenis bahan baku apa yang diperlukan
dan berapa besar drbutuhkan oleh industri rotan; serta (3) mengetahui
kelayakan budidaya rotan dilihat dari segi teknis, lingkungan dan sosial
ekonomi. Sehubungan dengan itu untuk kawasan hutan KPH Sukabumi
diajukan dua hipotesis yaitu (1) potensi rotan alat dapat memenuhi
kebutuhan industri rotan Tegalwangi; dan (2) kawasan hutan layak untuk
dijadikan kawasan budidaya rotan. Desain penelitian berupa survai analitis,
di mana data potensi rotan alam diambil dengan menggunakan sistematik
sampling dengan unit contoh berupa jalur dengan intensitas 0,05%,
sedangkan data lain diambil melalui pengamatan lapangan, wawancara
bebas dengan buruh kerja, data dari sentra industri rotan Tegalwangi serta
pustaka.
Pengolahan data potensi rotan dilakukan dengan metoda Ratio estimate in
stratified sampling (dengan stratum pertama berupa hutan produksi dan
stratum kedua berupa hutan lindung). Anallsis finansial diolah dengan
menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return
(IRR), Benefit-Cost (B/C) ratio dan metode Pay Back Period (PBP).
Dari data diperoleh hutan alam KPH Sukabumi terdapat rotan lokal
batangan masak tebang sebanyak 11.278.671 batang terdiri dari 8.526-181
batang terdapat di hutan produksi dan 4.750.491 batang terdapat di hutan
lindung dengan jenis-jenis sebagai berikut Balukbuk (Plectocomia
griffithii), Teretes (Calamus heteroides), Seuti (C. scipionum), Seel
(Daemonorops hystrix), Sampay (Korthalsia junghunif), Pelah (C.
perokensis), dan Mencek (D. langipes). Sedangkan jenis-jenis yang
digunakan industri rotan Tegalwangi pada tahun 1991 yang berjumlah 6.404.010 batang berasal dari jenis Manau (C. manan), Seuti, Mandola,
Seel, Tohiti (C. irops), Balukbuk, Teretes dan Semambu (C. scorpionum)
dengan laju peningkatan penggunaan rotan batangan 30,07% per tahun.
Sedangkan rotan jari masak tebang terdapat sebesar 91.501,74 kg di mana
36.169,46 kg terdapat di hutan produksi dan 58.521,40 kg terdapat di hutan
lindung, dengan jenis-jenis berupa Peuteuy (C. ciliaris), Omas (C.
oxleiyamus), Leules (C. asperrimus), Kidang (D. grandis) dan Cacing (C.
javensis). Adapun bahan baku yang digunakan oleh industri Tegalwangi
pada tahun 1991 berjumlah 3.310.000 kg dengan jenis yang dibutuhkan
berupa rotan Sega (C. caesius), Irit (C. trachycoleus) dan Pulut, dengan laju
peningkatan penggunaan rata-rata sebesar 23,74% per tahun.
Berdasarkan hal tersebut maka hipotesis pertama ditolak karena rotan alam
lokal KPH Sukabumi tidak dapat memenuhi akan jenis yang diminta
maupun dari ketersediaan potensi rotan yang terdapat di alum secara terus
menerus.
Dengan mempertimbangkan permintaan pasar, kesesuaian tempat tumbuh,
kemudahan penyediaan benih, teknik silvikultur, peluang teknologi dan
kualitas hasil yang diharapkan maka jenis yang dipilih untuk dibudidayakan
adalah rotan Manau, Seel, Seuti, Balukbuk, Pelah dan Teretes.
Dengan analisis finansial pada discounted rate 16% layak dibudidayakan
rotan dalam bentuk tanaman pengisi dari jenis rotan lokal maupun rotan
Manau. Sedangkan dengan mempertimbangkan permintaan pasar dan
kondisi resistensi lingkungan maka sebaiknya dilaksanakan budidaya dalam
bentuk tanaman pengisi roman campuran. Kondisi ini juga didukung oleh
kondisi sosial masyarakat yang memerlukan penyediaan lapangan kerja,
dalam hal mana budidaya rotan dengan sistem ini dapat menyerap 641 orang
tenaga kerja, sehingga hipotesis kedua dapat diterima.

Abstract
Indonesia is a country that dominates rattan supply for the
worldwide. As of this, Indonesia must make efforts to conserve the
resources while at the same takes advantages of its resources and the foreign
exchange. The problems here were (1) the concern was that the rattan
resource in the natural forest was declining too much that it would soon be
endangered; (2) the effort to improve this condition can be made-through
planting (cultivation).
These research objectives were to assess the potency of rattan in the natural
forest, and to assess the feasibility of each variety of rattan planting that
would considering the technical, environmental and social economical aspects. The hypotheses were (1) the potency of natural rattan which should
fulfill the demand of Tegalwangi rattan industry; (2) the forest area should
be feasible for the rattan planting area. The research design was analytical
survey. The sampling technique for the rattan potency data was systematic
sampling, with lines sampling units and its intensity was 0,05%.
Observation, interview and secondary sources have collected the other data.
The rattan potency data were processed by the ratio estimated in stratified
technical sampling method, where the first stratum was production forest
and the second stratum was protection forest. Net Present Value (NPV),
Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost (BC) Ratio and Pay Back
Period processed the financial analyses.
In the natural forest of KPH Sukabumi that has been found 13,278,671
pieces mature trees of local rattan which consist of 8,526,181 pieces ?riom
production forest and 4,750,491 pieces from protection forest. Those rattan
species were Balukbuk (Plectocomia griffithii), Teretes (Calamus
heteroides), Seuti (C. scipionum), Seel (Daemonorops hystrix), Sampay
(Korthalsia junghunii), Pelah (C. perokensis), and Mencek (D. Iangipes). In
1991 Tegalwangi rattan industry used 6,404,010 pieces rattan, its species
were Manau (C. manan), Seuti, Mandela, Seel, Tohiti (C. irops), Balukbuk,
Teretes and Semambu (C. scorpionum), with a rattan using growth rate of
30.07% per annum.
The mature finger rattans that have been found were as follows 91,501.74
kg where 36,169.46 kg was in the production forest and 58,521.40 kg was in
the protection forest. Those rattan species were Peuteuy (C. ciliaris), Omas
(C. oxleiyamus), Leules (C. asperrimus), Kidang (D. grandis) and Cacing
(C. javensis). In 1991 Tegalwangi rattan industry used 3,310,000 kg which
its species were Sega (C. caesius), Irit (C. trachycoleus) and Pulut, with a
rattan using growth rate of 23.74% per annum.
Based on those data, the first hypothesis was rejected, because the local
natural rattan from KPH Sukabumi could not fulfill the demand of the
species and supply continually.
The selected species for planting were Manau, Seel, Seuti, Balukbuk, Pelah
and Teretes. The considering was based on the market demand, habitat
suitability, ease of seed supply, silviculture technic, technology and crop
quality.
Based on the financial analysis on 16% discounted rate, the rattan should be
feasible for planting in inter-planting form, from both local rattan and
Mauna rattan. Considering on the market demand and the environment
resistance condition, the planting should be done in mixed rattan inter-
planting form. This condition should be supported by a societal condition
that needs working opportunities. The rattan planting by this system needs
641 workers; thus the second hypothesis was accepted."
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2000
T3101
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nonon Saribanon Rubyawan
"ABSTRAK
Pelaksanaan program intensifikasi di bidang pertanian
sejalan dengan peningkatan permintaan produk pertanian
berdampak pada tingginya pemakaian pupuk dan pestisida,
khususnya pada tanaman hortikultura. Tanaman sayuran
yang merupakan salah satu tanaman hortikultura penting,
umumnya memerlukan pemeliharaan intensif, dan adanya
tuntutan konsumen terhadap kualitas produk sehingga
penggunaan pupuk dan pestisida pun sangat intensif.
Dengan kata lain, konsumen sayuran umumnya menginginkan
produk yang kualitasnya baik dan bebas dari serangan
atau bekas serangan hama dan penyakit.
PRT merupakan suatu konsep yang berusaha untuk mendorong
dan memadukan beberapa faktor pengendalian untuk
menekan populasi hama serta memperkecil kerusakan
tanaman dan hasil tanaman. Pada prinsipnya konsep PHT
berbeda dengan konsep pengendalian hama pada sistem
Konvensional yang sangat tergantung pada penggunaan pestisida. Walaupun demikian, PHT bukanlah suatu konsep yang anti penggunaan pestisida (Reddy dalam Sastrosiswojo, 1994:5). Pada sistem PHT, pestisida yang digunakan adalah pestisida yang selektif dan aman, serta digunakan apabila benar-benar diperlukan dan sepanjang tidak mengganggu faktor pengendalian lainnya atau interaksinya (Untung dalam Sastrosiswojo, 1994:5).
Penggunaan pestisida yang tidak selektif dapat mengakibatkan
penurunan populasi musuh alami hama serta serangga
berguna dan makhluk bukan sasaran (Oka, 1993:6).
Hal ini dapat mengakibatkan penurunan keragaman jenis
(diversitas spesies) dalam ekosistem pertanian tersebut
yang mempengaruhi kestabilan ekosistem dan berarti pula
telah terjadinya penurunan kualitas lingkungan.
Penurunan atau babkan punahnya musuh alami hama akibat
penggunaan pestisida yang tidak selektif, dapat menimbulkan
ketidakseimbangan antara populasi hama dengan
musuh alaminya sehingga apabila keadaan lingkungan
mendukung, dapat terjadi ledakan populasi hama (outbreak)
yang disebut resurgensi hama.
Residu pestisida di lingkungan merupakan akibat penggunaan
pestisida yang ditujukan pada sasaran tertentu
seperti tanaman dan tanah. Selain itu, pestisida dapat
terbawa oleh gerakan air dan udara sehingga residu
pestisida dapat berada di berbagai unsur lingkungan di
permukaan bumi (Untung, 1993:229).
Kubis merupakan salah satu tanaman sayuran dataran
tinggi yang penting di Indonesia. Pemakaian pestisida
pada tanaman kubis sangat intensif, demikian pula
penggunaan lahan oleh petani. Hal ini menimbulkan
kekhawatiran adanya dampak negatif dari penggunaan
pestisida terhadap unsur-unsur lingkungan yang ada pada
ekosistem pertanian tersebut.
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode percobaan
berpasangan (Paired Treatment comparison) antara penerapan
sistem PBT (P) dengan sistem Konvensional (K),
tanpa ulangan sebab luas lahan yang diamati yaitu 500 m2
untuk setiap perlakuan dianggap cukup memadai sebagai
suatu model ekosistem pertanaman kubis di lapangan.
Basil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem PHT
lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan sistem
Konvensional. Hal ini terlihat dari keragaman jenis
(diversitas spesies} fauna di atas tanah pada ekosistem
kubis dengan penerapan sistem PHT yang berkisar antara
1,664 sampai 2,021 lebih besar dibandingkan dengan
sistem Konvensional yang berkisar antara 1,606 sampai2,000.
Dari penelitian ini juga terlihat adanya keseimbangan
populasi hama dan musuh alami yang lebih baik pada
penerapan sistem PBT dibandingkan dengan sistem Konvensional.
Hal ini antara lain terlihat dari tingginya
tingkat parasitasi larva P. Xylostella oleh D. semi-clausum dan
besar populasi imago parasitoid D. Semiclausum dan inareolata sp.
Selain itu, koloni cendawan antagonis patogen tanaman
Trichoderma spp. pada tanah dengan penerapan sistem PHT
jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan sistem
Konvensional.
Dari beberapa jenis insektisida yang digunakan dan
dianalisis kadar residunya, hanya insektisida Asefat
yang terdeteksi pada seluruh unsur lingkungan yang
diteliti.
Kadar residu insektisida Asefat pada tanah dan air
larian pada penerapan sistem PBT lebih rendah dibandingkan
dengan sistem Konvensional, tetapi tidak terdapat
perbedaan residu insektisida Asefat pada krop
kubis.
Hasil penelitian juga menunjukkan adanya
Bacillus tburingiensis Berliner pada tanah
labnya lebih besar pada penerapan sistem
populasi yang jumPHT akibat
penggunaan insektisida mikroba B. tburingiensis jika
dibandingkan dengan sistem Konvensional.
E. Daftar Kepustakaan 44 (1971 - 1995)

ABSTRACT
Agriculture production should be increased due to the
increasing of market demand. Beside quantity, the
quality products is important, especially for vegetable
crops. To meet this market demand, farmers usually use
fertilizers and pesticides intensively.
One of the important objectives of Integrated Pest
Management (IPM) implementation is to reduce the
amount of pesticide usage. In line with this objective,
the use of natural enemies and selective pesticides is
very important.
The impact of IPM implementation on cabbage against the
environmental aspects such as species diversity of
fauna, insecticide residues on soil and water, insecticide
residues on cabbage crop was studied.
The experiment used paired treatment comparison to
compare IPM system with Conventional system and conducted
at Lembang Experimental Garden of Lembang Horticultural
Institute from August 1994 to December 1994.
Some important results of this study are as follows:
1. Species diversity of fauna in the air (upper soil)
at IPM plot (1. 66-2.02) was higher than Conventional
plot (1.61 - 2.00).
2. The level of parasitism o f Plutella xylostella (L.)
larvae by Diadegma semi clausum Hellen was higher in
IPM system than in Conventional system.
3. The colonies of mycoparasite T.ricooderma spp.
in the soil was higher in IPM system compared with
4.Conventional system.
Insecticide residues
run off showed
(Acephate) in soil and
lower in IPM system
water
than
Conventional system. However, no difference of
insecticide residue on cabbage crop was found in
IPM system and Conventional system.
5. The colonies of Bacillus tburingiensis Berliner
in the soil was higher in IPM system compared with
Conventional system.
E. Number references : 44 (1971 - 1995)."
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>