Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andi Susmanto
"Tahap eksplorasi panas bumi merupakan tahap yang memiliki resiko paling tinggi dibandingkan dengan tahapan panas bumi lainnya. Sehingga diperlukan data-data kondisi bawah permukaan yang terintegrasi dengan baik dalam mendukung penentuan lokasi pemboran dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi. Target pemboran ditujukan pada daerah yang memiliki temperatur dan permeabilitas tinggi. Distribusi temperatur bawah permukaan dapat didekati dari nilai resistivitas data Magnetotellurik (MT).
Penelitian ini difokuskan pada pemodelan sistem panas bumi menggunakan data MT. Inversi 3-dimensi (3-D) data MT dilakukan untuk mengetahui resistivitas bawah permukaan. Lapisan konduktif diindikasikan sebagai clay cap dari sistem panas bumi, lapisan yang berada di bawah clay cap dengan nilai resistivitas sedikit lebih tinggi diindikasikan sebagai zona reservoir, dan body dengan nilai resistivitas tinggi yang merupakan heat source dapat dideteksi dengan metode MT.
Hasil pengolahan data MT dan data interpretasi terpadu dengan data pendukung data geologi, geokimia, dan data sumur diperoleh model sistem panas bumi dan target pemboran. Berdasarkan peta elevasi Base of Conductor (BOC) dan hasil inversi MT 3-dimensi: luas daerah prospek Gunung Parakasak sekitar 15 km2 dengan potensi 117 MWe (untuk k=0.1) dan 257 MW (untuk k=2), struktur updome (upflow zone) di bawah puncak Gunung Parakasak dan aliran outflow menuju ke Rawa Danau.

Geothermal exploration phase is the phase that has the highest risk among the other geothermal activities. Hence, the good integrated data of the subsurface condition needed to support the determination of the drilling location with the higher probability. The target of drilling activities is addressed to any regions that have high temperature and permeability. The distribution of the subsurface temperature can be approached by the resistivity value of Magnetotelluric data (MT).
This research focus is modelling of geothermal system by using MT data. Inversion of 3-dimension MT data conducted to analyze the subsurface resistivity. The conductive layer can be indicated as clay cap of geothermal system, the layer that resided under the clay cap with much more higher resistivity value can be indicated as reservoir zone, and the body with high resistivity value is the heat source that can be detected by MT method.
The tabulation of MT data and integrated interpreted data with the supporting data, such as geology data, geochemical data, and geothermal-well data will result the model of geothermal system and well targeting. Based on Base of Conductor (BOC) elevation map and MT 3-D inversion result, prospect area of Mt. Parakasak are about 15 km2 with the geothermal potency 117 MWe (k=0.1), 257 MW (k=2), the updome structure (upflow zone) under the top of Mt. Parakasak, and outflow zone towards to Rawa Danau.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
T43404
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmi Alfi Sani
"Sistem panas bumi Baturraden berasosiasi dengan aktivitas vulkanik yang berkembang akibat tektonik Jawa pada Kala Paleosen. Pada Kala ini mulai terbentuk struktur geologi yang intensif. Hal ini memicu magma andesitis untuk keluar pada Zaman Kuater. Intensitas aktivitas vulkanisme Gunung Slamet yang tinggi pada Kala Holosen mengakibatkan material vulkanik muda menutupi data permukaan seperti struktur geologi dan alterasi. Padahal data tersebut sangat membantu dalam mengidentifikasi zona permeable dan zona reservoir.
Penelitian ini dilakukan untuk memastikan zona permeable dan zona reservoir dengan mengkorelasikan data struktur geologi dan magnetotelluric (MT). Korelasi ini diperoleh melalui analisis komperhensif berdasarkan litologi, struktur permukaan, karakteristik dan model MT 3D. Selain itu juga untuk meningkatkan tingkat keyakinan terhadap korelasi, pada penelitian ini mengaplikasikan metode gravity.
Hasil penelitian dari penelitian ini menunjukan adanya korelasi antara struktur geologi dengan data MT antara lain inversi 3D MT, polar diagram, induction arrow, splitting curve, nilai tipper dan nilai ellipticity. Korelasi tersebut memperlihatkan adanya kontol struktur NE-SW terhadap hadirnya zona main conductor dan zona deformasi. Struktur NE-SW yang bersifat ekstensional mengontrol vulkanisme komplek Gunungapi Slamet dan zona permeable dari sistem panas bumi Baturraden sehingga zona pemboran diorientasikan NE-SW dengan target pemboran berarah NW-SE.

Baturraden geothermal system associated by volcanic activity which grown by Paleocene tectonic in Java. At the time, initial geological structure was established intensively thus it triggered andesitic magma to flow out in Quaternary Period. High intensity of Mt. Slamet volcanism in Holocene Epoch affected younger volcanic material could covered surface data such as geological structure and alteration. Whereas those data are very helpful to identify permeable zone and reservoir zone.
This study will be conducted to ensure the presence of the permeable zone and reservoir zone by correlating geological structure and magnetotelluric (MT). The correlations are acquired through a comprehensive analysis of lithology, surface structure, MT data characterization and MT 3D model. Furthermore, to improve confidence level of the correlation, the study applies gravity method.
The result of this study shows that there are any correlations between geological structure and MT data including 3D MT inversion, polar diagram, induction arrow, splitting curve, tipper value and ellipticity value. The Correlations present the influence NE-SW structure to the existence of main conductor and deformation zone. Extensional NE-SW structure triggered volcanism of Slamet Volcano Complex and permeable zone of Baturraden geothermal system thus drilling zone should be oriented NE-SW direction with well targeting should be pointed to NW-SE direction.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
T45312
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Urip Priyono
"Tingkat kesuksesan pemboran geotermal di Indonesia masih menjadi kendala utama dalam upaya pengembangan geothermal. Lapangan geotermal ?X? merupakan salah satu daerah prospek di Indonesia yang belum dilakukan pengeboran oleh pihak pengembang. Manifestasi yang muncul ke permukaan berupa mata air panas dan alterasi batuan, dengan tidak adanya manifestasi fumarol maka menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan kegiatan eksplorasi geotermal di daerah penelitian.
Penelitian ini difokuskan pada penentuan target pemboran di zona prospek. Adapun metode yang digunakan yaitu: remote sensing citra Landsat 7, 3D-MT serta geokimia. Analisis struktur permukaan lapangan geotermal "X" menggunakan citra satelit DEM dan Landsat 7. Teknologi citra dalam hal ini remote sensing sangat membantu dalam memetakan sebaran manifestasi aktivitas geothermal di suatu wilayah. Sedangkan untuk analisis struktur bawah permukaan dapat dilakukan dengan bantuan metode geofisika magnetotelluric (MT) didukung dengan data geologi dan data geokimia. Analisis data 3-D magnetotelluric (MT) dapat membantu mengintepretasikan resistivitas batuan bawah permukaan.
Hasil Intepretasi data pada penelitian ini yaitu model konseptual dan luasan wilayah prospek. Mengacu pada model konseptual, dimana terdapat zona upflow yang ditandai adanya alterasi batuan dan adanya pola dome pada penampang resistivitas 3-D magnetotelluric (MT) di dekat struktur utama yang mengontrol aktivitas geotermal daerah penelitian, sedangkan zona outflow berarah ke barat dan timur daerah penelitian, sehingga penelitian ini merekomendasikan titik pemboran di zona upflow yang diharapkan berada pada zona dengan permeabilitas serta temperatur yang tinggi.

Drilling success ratio of geothermal in Indonesia is still a major constraint in the development of geothermal. Geothermal field "X" is one of the unexploited, prospected field in Indonesia. Manifestations of a possible geothermal field are hot springs and rock alteration; the lack of fumarole manifestation has become a challenge in conducting geothermal exploration in the study area.
This research is focused on determining the drilling target of the prospected zone. The methodes used for this research are Landsat 7 image remote sensing, 3D-MT and geochemistry. The structure of geothermal field ?X??s surface is analyzed with DEM satellite image and Landsat 7. The imaging technology of remote sensing is very helpful in mapping the distribution of geothermal activity manifestation in a region. Meanwhile, analysis of subsurface structures can be done with the help of geophysical methods magnetotelluric (MT) is supported by geological and geochemistry data. The data analysis of 3-D magnetotelluric (MT) resistivity can help interpretation in sub-surface rocks.
Interpretation of data resulted in this research is the conceptual model and measuring the prospected region of the research areas. Based on the conceptual model, in which there?s an upflow zone marked with rock alterations and dome patterns on ressistivity of 3-D MT section near the main structure that controls the geothermal activities in the study area; while the outflow zone pointing west and east of the study area, allowing this research to recommend drilling target at the upflow zone expected to be at the high permeability and high temperature.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
T45299
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haryo Gusmedi Sudarmo
"Telah dilakukan penelitian guna mendelineasi sistem panas bumi lapangan geothermal ldquo;H rdquo;. Penelitian ini menggunakan metode remote sensing untuk memetakan struktur dan alterasi di permukaan. Analisis geokimia digunakan untuk mengetahui karakteristik sistem panas bumi dan analisis geofisika digunakan untuk memetakan kondisi sistem panas bumi di bawah permukaan. Berdasarkan analisis remote sensing dengan teknik band combination secara pengamatan manual menunjukkan bahwa arah utama dari kelurusan - kelurusan yang berkembang di daerah penelitian ldquo;H rdquo; adalah Barat Laut - Tenggara dan Barat Daya - Timur Laut sesuai dengan Peta Geologi Regional yang berkorelasi dengan kemunculan beberapa manifestasi. Analisis remote sensing juga menemukan 1 lokasi yang diduga merupakan alterasi di permukaan. Analisis data geokimia dilakukan terhadap 12 manifestasi menunjukkan bahwa mata air panas SL-1, SL-2, SLM-1, SLM-2, HTS-1, HTS-2, HTS-3, TBK, TLH-1, TLH -2, TLH-3 dan TLH- 4 merupakan manifestasi tipe outflow.
Berdasarkan diagram segitiga ternary Na - K - Mg, diagram Na-K/Mg-Ca, diagram Enthalpy - Chloride Mixing Model, geothermometer Na/K menunjukkan temperatur reservoar adalah sekitar 210 C - 240 C dan dapat dikategorikan ke dalam sistem geothermal moderate to high temperature. Analisis Inversi 3-D Data MT menggunakan 66 data titik ukur. Berdasarkan inversi 3-D Data MT diketahui bahwa lapisan clay cap dengan nilai resistivitas rendah le; 10 ?m tersebar di Selatan dengan ketebalan 500 meter hingga 1000 meter. Lapisan reservoar terletak di bawah clay cap dengan nilai resistivitas >10 - 65 ?m. Base of Conductor BOC diperkirakan berada pada kedalaman 700 meter dengan updome berada di antara Sesar Wairutung dan Sesar Banda. Berdasarkan peta BOC diperoleh luas area prospek geothermal sekitar 16.5 km2.

The study of ldquo H rdquo geothermal field has been conducted to delineate their geothermal system. This study uses remote sensing method for mapping structure and alteration on the surface. Geochemical analysis is used to determine the characteristics of geothermal system and geophysical analysis is used to interpret the condition of geothermal system of sub surface. Based on remote sensing analysis using band combination technique with manual observation indicates that the main direction of the developed lineaments in the research area H is Northwest Southeast and Southwest Northeast in accordance with Regional Geological Map correlated with the appearance of several manifestations. The remote sensing analysis also found 1 suspected alteration site on the surface. Analysis of geochemical data was performed on 12 manifestations shows that hot springs SL 1, SL 2, SLM 1, SLM 2, HTS 1, HTS 2, HTS 3, TBK, TLH 1, TLH 2, TLH 3 and TLH 4 are outflow manifestations type.
Based on the diagram of the ternary triangle Na K Mg, Na K Mg Ca diagram, Enthalpy Chloride Mixing Model diagram, Na K geothermometer estimates the reservoir temperature is about 210 C 240 C and can be categorized into the moderate to high temperature geothermal system. Analysis of inversion 3 D MT data using 66 data points measurement. Based on 3 D inversion MT data is known that clay cap layer with low resistivity value le 10 m spread in South with thickness 500 meter to 1000 meter. The reservoir layer is located under clay cap with resistivity value 10 m 65 m. Base of Conductor BOC is estimated to be at depth of 700 meters with an updome located around Wairutung Fault Banda Fault. Based on BOC, the prospectable area of geothermal system is about 16.5 km2.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T48035
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library