Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aliff Muhammad Orlando
"ABSTRACT
Studi tentang produksi biomassa Leptolyngbya HS-16 dalam variasi bubbler udara photobioreactor tubular telah dilakukan. Photobioreactor adalah metode untuk menghasilkan biomassa cyanobacteria pada sistem tertutup. Leptolyngbya HS-16 diisolasi di sumber air panas kawah gunung Pancar dengan suhu 69 oC. Photobioreactors yang digunakan memiliki variasi dalam bubbler udara yang memiliki 24 pori udara dan 12 pori udara, sedangkan photobioreactors yang tidak menyediakan aerasi digunakan sebagai kontrol. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi bubbler udara terhadap produksi biomassa Leptolyngbya HS-16. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui variasi yang tepat dari pori-pori gelembung udara pada pertumbuhan Leptolyngbya HS-16 dan juga untuk mengetahui kandungan lipid dari Leptolyngbya HS-16. Hasil penelitian menunjukkan photobioreactors yang menggunakan variasi bubbler udara dengan 24 pori udara memiliki biomassa rata-rata tertinggi sebesar 0,7417 mg.mL-1, photobioreactors yang menggunakan variasi bubbler udara dengan 12 pori udara memiliki biomassa rata-rata tertinggi sebesar 0,4583 mg.mL-1 dan fotobioreaktor tanpa aerasi memiliki rata-rata biomassa tertinggi sebesar 0,7500 mg.mL-1. Namun demikian, kadar lipid tertinggi Leptolyngbya HS-16 dihasilkan pada pengobatan tanpa aerasi, yang setara dengan 15,23%.

ABSTRACT
Studies on the production of Leptolyngbya HS-16 biomass in a variety of tubular photobioreactor air bubblers have been carried out. Photobioreactor is a method for producing cyanobacteria biomass in a closed system. Leptolyngbya HS-16 was isolated in the hot spring of Mount Pancar crater with a temperature of 69 oC. Photobioreactors used have variations in air bubblers which have 24 air pores and 12 air pores, while photobioreactors that do not provide aeration are used as controls. The purpose of this study was to determine the effect of air bubbler variations on the production of Leptolyngbya HS-16 biomass. This study also aims to determine the exact variation of the pores of air bubbles on the growth of Leptolyngbya HS-16 and also to determine the lipid content of Leptolyngbya HS-16. The results showed that photobioreactors using variations of air bubbler with 24 air pores had the highest average biomass of 0.7417 mg.mL-1, photobioreactors using variations of air bubbler with 12 air pores had the highest average biomass of 0.4583 mg .mL-1 and photobioreactors without aeration have the highest average biomass of 0.7500 mg.mL-1. However, the highest lipid level of Leptolyngbya HS-16 was produced in treatment without aeration, which is equivalent to 15.23%."
2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Selli Muljanto
"[ABSTRAK
Lesi tubular lebih sering ditemukan pada sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS)
dengan proteinuria masif, yang menyebabkan disfungsi tubulus proksimal. Cedera
tubular dapat pula didiagnosis dengan uji fungsi tubulus, diantaranya adalah fraksi
ekskresi magnesium (FE Mg) dan β2-mikroglobulin (β2M) urin. Tujuan
penelitian ini membandingkan FE Mg dan β2M urin pada SNRS dan SN sensitif
steroid (SNSS) remisi. Penelitian potong lintang dilakukan di Departemen Ilmu
Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUD Ulin
Banjarmasin, RSUP Fatmawati dan RSAB Harapan Kita Jakarta pada Juli sampai
Desember 2015 pada penderita SNRS dan SNSS remisi berusia 2 ? 15 tahun. Pada
subyek diperiksakan kadar β2M urin dan FE Mg. Didapatkan 62 subyek yang
terdiri dari 31 subyek SNRS dan 31 subyek SNSS remisi. Rerata FE Mg pada
SNRS lebih tinggi secara bermakna dibandingkan SNSS remisi (p=0,0065).
Median kadar β2M urin pada SNRS lebih tinggi dibandingkan SNSS remisi (p <
0,001). Peningkatan kadar β2M urin lebih banyak secara bermakna pada SNRS
dibandingkan SNSS (p=0,007). Dengan titik potong 1,64%, peningkatan FE Mg
pada SNRS lebih banyak dibandingkan SNSS remisi (p=0,022). Simpulan: Fraksi
ekskresi Mg dan β2M urin pada SNRS lebih tinggi dibandingkan SNSS remisi.
Terdapat perbedaan proporsi peningkatan FE Mg antara SNRS dan SNSS remisi.
Proporsi peningkatan β2M urin pada SNRS lebih besar dibandingkan SNSS
remisi.

ABSTRACT
Tubular lesions more often found in steroid-resistant nephrotic syndrome (SRNS)
with massive proteinuria, leading to proximal tubular dysfunction. Tubular injury
can also be diagnosed by tubular function test, such as fractional excretion of
magnesium (Mg FE) and urinary β2-microglobulin (β2M). The aim of this study
is to compare the FE Mg and urinary β2M on SRNS and steroid-sensitive
nephrotic syndrome (SSNS) in remission. A cross-sectional study was conducted
in the Department of Pediatrics RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUD
Ulin Banjarmasin, RSUP Fatmawati and RSAB Harapan Kita Jakarta from July to
December 2015. Children aged 2-15 years who either had SRNS or SSNS in
remission were recruited. Fractional excretion of magnesium and urinary β2M
levels were examined. There were 62 subjects consisted of 31 subjects SRNS and
31 subjects SSNS in remission. The mean FE Mg on SRNS was significantly
higher than SSNS in remission (p=0.0065). Median levels of urinary β2M on
SRNS was higher than SNSS remission (p<0.001). Increased levels of urinary
β2M was more significantly in SRNS compared to SSNS (p=0.007). With a cutoff
point of 1.64%, an increased of FE Mg proportion on SRNS was more than
SSNS in remission (p = 0.022). Conclusion: Fractional excretion of Mg and
urinary β2M on SRNS were higher than SSNS in remission. There is a difference
between the increased of FE Mg on SRNS and SSNS in remission. The increased
of urinary β2M on SRNS was higher than SSNS in remission.;Tubular lesions more often found in steroid-resistant nephrotic syndrome (SRNS)
with massive proteinuria, leading to proximal tubular dysfunction. Tubular injury
can also be diagnosed by tubular function test, such as fractional excretion of
magnesium (Mg FE) and urinary β2-microglobulin (β2M). The aim of this study
is to compare the FE Mg and urinary β2M on SRNS and steroid-sensitive
nephrotic syndrome (SSNS) in remission. A cross-sectional study was conducted
in the Department of Pediatrics RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUD
Ulin Banjarmasin, RSUP Fatmawati and RSAB Harapan Kita Jakarta from July to
December 2015. Children aged 2-15 years who either had SRNS or SSNS in
remission were recruited. Fractional excretion of magnesium and urinary β2M
levels were examined. There were 62 subjects consisted of 31 subjects SRNS and
31 subjects SSNS in remission. The mean FE Mg on SRNS was significantly
higher than SSNS in remission (p=0.0065). Median levels of urinary β2M on
SRNS was higher than SNSS remission (p<0.001). Increased levels of urinary
β2M was more significantly in SRNS compared to SSNS (p=0.007). With a cutoff
point of 1.64%, an increased of FE Mg proportion on SRNS was more than
SSNS in remission (p = 0.022). Conclusion: Fractional excretion of Mg and
urinary β2M on SRNS were higher than SSNS in remission. There is a difference
between the increased of FE Mg on SRNS and SSNS in remission. The increased
of urinary β2M on SRNS was higher than SSNS in remission., Tubular lesions more often found in steroid-resistant nephrotic syndrome (SRNS)
with massive proteinuria, leading to proximal tubular dysfunction. Tubular injury
can also be diagnosed by tubular function test, such as fractional excretion of
magnesium (Mg FE) and urinary β2-microglobulin (β2M). The aim of this study
is to compare the FE Mg and urinary β2M on SRNS and steroid-sensitive
nephrotic syndrome (SSNS) in remission. A cross-sectional study was conducted
in the Department of Pediatrics RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUD
Ulin Banjarmasin, RSUP Fatmawati and RSAB Harapan Kita Jakarta from July to
December 2015. Children aged 2-15 years who either had SRNS or SSNS in
remission were recruited. Fractional excretion of magnesium and urinary β2M
levels were examined. There were 62 subjects consisted of 31 subjects SRNS and
31 subjects SSNS in remission. The mean FE Mg on SRNS was significantly
higher than SSNS in remission (p=0.0065). Median levels of urinary β2M on
SRNS was higher than SNSS remission (p<0.001). Increased levels of urinary
β2M was more significantly in SRNS compared to SSNS (p=0.007). With a cutoff
point of 1.64%, an increased of FE Mg proportion on SRNS was more than
SSNS in remission (p = 0.022). Conclusion: Fractional excretion of Mg and
urinary β2M on SRNS were higher than SSNS in remission. There is a difference
between the increased of FE Mg on SRNS and SSNS in remission. The increased
of urinary β2M on SRNS was higher than SSNS in remission.]"
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adirasa Salamun
"Dunia industri sedang menggalakkan penggunaan material baru yang memiliki karakteristik yang baik, ringan, kuat, dan dapat dibuat dengan biaya yang relatif murah, dan hal ini hanya dapat dipenuhi dengan melakukan studi pengembangan lebih lanjut mengenai berbagai karakteristik material, baik material paduan logam, non logam dengan logam atau non logam dengan non logam. Penelitian yang lebih seksama dengan menggunakan material non logam masih sangat terbatas, oleh karena itu studi lanjut mengenai material non logm sangatlah diharapkan.
Dalam hal ini penulis melakukan penelitian mengenai karakteristik material non logam dengan pengujian torsi yang belum banyak dilakukan. Adapun material yang di uji adalah jenis polivinil clorida (PVC AW) yang berbentuk tabung berdinding tipis, dimana dilakukan- penelitian mengenai modulus geser material, tegangan geser, regangan geser, dan karakteristik material lajnnya. Dengan harapan dapat di tarik kesimpulan yang menarik untuk pengembangan dan aplikasi material tersebut dalam dunia industri di masa datang.
Peralatan uji yang di gunakan dalam penelitian ini adalah peralatan uji torsi sederhana, dimaksudkan untuk meringankan biaya pengujian itu sendiri yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri dan alat uji torsi ini dilengkapi dengan sensor yang merupakan modifikasi dari mouse komputer. Sensor tersebut langsung dihubungkan ke PC yang menggunakan perangkat lunak microsoft visual basic for windows sehingga diperoleh data-data yang cerrnat dan akurat."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
S36671
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Guruh Mehra Mulyana
"

Pemanfaatan limbah cair tempe yang berpotensi mencemari lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber inokulum untuk menghasilkan suatu energi listrik dengan sistem MFC. Penelitian ini menggunakan reaktor tubular single chamber dengan volume 0,5 L dan 5 L. Fokus penelitian ini adalah untuk evaluasi parameter kinetika dan efisiensi sistem, serta pengaruh perningkatan volume reaktor terhadap parameter kinetika dan efisiensi sistem. Glukosa digunakan sebagai substrat dalam mengkaji nilai parameter kinetika sistem MFC. Data hasil percobaan di laboratorium berhasil dimodelkan dengan persamaan Monod. Nilai parameter kinetika untuk sistem MFC dengan volume 0,5 L adalah Pmax 0,032 mW/m2 dan Ks 772,98 mg/L, sedangkan untuk reaktor 5 L nilai Pmax sebesar 1,59 mW/m2 dan Ks 399,97 mg/L. Nilai efisiensi Coulomb pada percobaan startup untuk reaktor 0,5 L sebesar 8,55 % dan 3,5% untuk reaktor 5 L. Sedangkan untuk percobaan dengan substrat glukosa, nilai EC tertinggi untuk reaktor 0,5 L adalah sebesar 0,435% dan 2,84% untuk reaktor 5 L. Nilai efisiensi energi tertinggi pada sistem MFC adalah 0,0152% dengan reaktor 5 L. Secara keseluruhan terjadi peningkatan nilai parameter kinetika dan nilai efisiensi pada peningkatan volume reaktor dari 0,5 L ke 5 L. Peningkatan yang terjadi cukup signifikan, pada parameter Pmax terjadi peningkatan hingga 50 kali lipat.


Utilization of liquid waste tempe potential to pollute the environment can be used as a source of inoculum to produce an electrical energy system with MFC. This study uses a single tubular reactor chamber with a volume of 0.5 L and 5 L. The focus of this study was to evaluate the kinetic parameters and system efficiency. Glucose is used as a substrate in assessing the value of kinetic parameters MFC system. Data from experiments in the laboratory successfully modeled with Monod equation. Value of kinetic parameters for the MFC system with a volume of 0.5 L is Pmax 0,032 mW/m2 and Ks 772.98 mg/L, whereas for the 5 L reactor Pmax value of 1.59 mW/m2 and Ks 399.97 mg/L. Coulombic efficiency (CE) value at the start-up experiment for a 0.5 L reactor amounted to 8.55% and 3.5% for reactors 5 L. As for experiments with glucose substrate, the highest CE value of 0.5 L reactor is equal to 0.435% and 2.84% for reactor 5 L. Rated highest energy efficiency in the MFC system is 0.0152% for 5 reactor L. Overall there was an increase the value of kinetic parameters and efficiency on enhanching the reactor volume from 0.5 L to 5 L. The increase was significant, the Pmax parameter increased up to 50 times.

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
T45637
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Jihan Miranda
"ABSTRAK
Cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI) merupakan salah satu penyakit ginjal dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada manusia. Salah satu kondisi yang tergolong dalam AKI adalah ischaemia-reperfusion injury (IRI), ditandai dengan terjadinya iskemia dan diikuti dengan reperfusi. Penetapan hewan model IRI diperlukan sebagai suatu metodologi untuk mensimulasikan perubahan patofisiologi yang terjadi dan mengamati tercapainya kondisi klinis IRI yang paling representatif. Penelitian ini membahas metode bedah bilateral renal-pedicle clamping untuk menginduksi terjadinya iskemia pada hewan model IRI dengan galur tikus Sprague-Dawley. Sebanyak 24 ekor hewan uji dikelompokkan menjadi dua berdasarkan waktu reperfusinya terlebih dahulu, yaitu 24 jam dan 14 hari. Kedua kelompok tersebut masing-masing dibagi kembali menjadi empat kelompok (n=3). Kelompok normal tidak diberi perlakuan bilateral renal-pedicle clamping, namun kelompok I, II, dan III diberi perlakuan tersebut dengan durasi clamping 15, 30, dan 45 menit secara berurutan. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap perubahan parameter struktural ginjal dengan pengamatan histopatologi menggunakan pewarnaan PAS (periodic acid-Schiff). Parameter yang dinilai adalah tingkat keparahan cedera tubular yang terjadi. Hewan uji dari kelompok I, II, dan III menunjukkan membaiknya kondisi cedera pada waktu reperfusi 14 hari dari kondisinya pada waktu reperfusi 24 jam, dengan kelompok II yang menunjukkan perbedaan paling signifikan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa durasi clamping selama 30 menit menyebabkan tercapainya kondisi klinis IRI yang paling representatif dan menunjukkan pemulihan kondisi cedera yang paling signifikan dalam jangka waktu reperfusi 14 hari pada hewan model IRI.

ABSTRACT
Acute kidney injury (AKI) is a kidney disease with high levels of morbidity and mortality in humans. One condition that is classified as AKI is ischaemia-reperfusion injury (IRI), characterized by the occurrence of ischaemia and followed by reperfusion. Establishment of IRI animal models is needed as a methodology to simulate pathophysiological changes that occur and observe the achievement of IRI's most representative clinical conditions. This study discusses bilateral renal-pedicle clamping surgical method to induce ischaemia in IRI model animals with the Sprague-Dawley mouse strain. A total of 24 animals were grouped into two based on their reperfusion time, 24 hours and 14 days. The two groups are each subdivided into four groups (n=3). Normal groups were not treated with bilateral renal-pedicle clamping but group I, II, and III were given the treatment with clamping duration of 15, 30, and 45 minutes respectively. Then, analysis of renal structural parameters changes was performed with histopathological observation using PAS (periodic acid-Schiff) staining. Parameter to be assessed is the severity of tubular injury. Animals from group I, II, and III showed an improvement in injury condition at the reperfusion time of 14 days from their condition at reperfusion time of 24 hours, with group II showing the most significant difference. It can be concluded that the clamping duration of 30 minutes leads to the achievement of the most representative clinical IRI conditions and shows the most significant recovery of injury conditions within the 14-day reperfusion period in IRI animal models."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Garlan Ramadhan
"Chimney merupakan struktur tubular yang terdiri dari windshield (struktur beton) dan inner flue (struktur baja). Karena bentuknya yang tinggi dan langsing, chimney sangat rentan terhadap beban lateral. Tantangannya adalah bagaimana mendesain chimney yang tidak memakan biaya besar, namun tetap efektif dalam menahan gaya gempa. Penggunaan elastomeric rubber sebagai sambungan antara kedua struktur tubular diharapkan mampu mereduksi respon seismik struktur dengan menggeser periode getar alami sehingga semakin menjauhi periode predominan gempa.
Hasil studi menunjukkan penggunaan elastomeric rubber dengan kekakuan 6 KN/mm memberikan respon seismik yang paling baik. Namun kekakuan yang lebih kecil dan perubahan orientasi letak peredam perlu dilakukan untuk mendapatkan respon seismik struktur yang lebih baik lagi.

Chimney is a tubular structure consisting of windshield (concrete structure) and inner flue (steel structure). Because of its tall and slender figure, chimney highly vulnerable to lateral loads. The challenge is how to design chimney that is not costly, but still effective in resisting earthquake forces. The use of elastomeric rubber as the connection between the two tubular structure is expected to reduce the seismic response of structures by shifting the natural vibration period and make it further from the predominant period of earthquake.
The study shows the use of elastomeric rubber with stiffness 6 KN/mm provided the best seismic response. However, smaller rubbers stiffness and the change of dampers location needs to be done to obtain the better seismic response of structure.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S50580
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Guruh Mehra Mulyana
"Microbial Fuel Cell (MFC) merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan untuk mendapatkan sumber energi baru terbarukan. Namun teknologi ini tergolong mahal, sehingga penelitian pun banyak diarahkan untuk menjadikan teknologi ini lebih efisien, ekonomis dan berkelanjutan. MFC yang memanfaatkan limbah industri tempe sebagai substrat, merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan. Mikroorganisme pada limbah industri tempe yang berpotensi mencemari lingkungan di sekitar dapat dimanfaatkan aktivitasnya untuk menghasilkan suatu energi listrik. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan uji coba penggunaan reaktor dual dengan menggunakan membran dan reaktor tunggal tanpa membran (single chamber/membranless). Namun, hasil yang diberikan masih perlu dilakukan peningkatan kinerja.. Oleh sebab itu, penelitian ini difokuskan pada MFC dengan penggunaan reaktor tubular chamber/membranless dengan variasi penambahan bakteri konsorsium, substrat yang disirkulasikan serta jumlah reaktor. Hasil penelitian didapatkan listrik keluaran terbesar dari percobaan menggunakan multireaktor yang dikonfigurasikan secara paralel dengan substrat yang disirkulasikan, tegangan maksimum 301,9 mV dan 5,39 mW/m2 untuk power density. Hasil coloumbic efficiency terttinggi diperoleh dari percobaan dengan variasi penambahan sejumlah konsorsium menggunakan multireaktor. Riset lebih lanjut perlu dilakukan guna mendapatkan energi listrik yang maksimum dan efisien, supaya industri yang bersangkutan dapat mereduksi biaya operasi dengan menggunakan listrik yang dihasilkan oleh limbahnya, sehingga tujuan menjadikan MFC sebagai teknologi yang ekonomis, berkelanjutan dan ramah lingkungan dapat tercapai.

Microbial fuel cell (MFC) is a technology developed to obtain new sources of renewable energy. But this technology is quite expensive, so teh research was directed to make this technology more efficient, economical and sustainable. MFC that utilize industrial waste of tempe as a substrate, is one alternative that can be developed. Activity of microorganism in industrial waste of tempe potentially contaminate the surrounding environment can be used to produce an electrical energy. In the previous study have been done testing performance of dual chamber MFC with membrane and single chamber MFC without membrane (single chamber/membranless). However, given the result still need improve the performance. Therefore, this study focused on using a tubular reactor MFC/membranless with variations are the addition of consortium, circulating substrate and the number of reactor. The result showed the biggest electricity output obtain from the experiment using multireaktor configured in parallel with the substrate is circulated, the maximum voltage 301.9 mV and 5.39 mW/ m2 of power density. The highest coloumbic efficiency results obtained from experiments with variations of the addition of a number of consortia using multireactor. Further research needs to be done in order to obtain maximum electrical energy and efficient, so that the industry concerned can reduce operating costs by using electricity generated by waste, so the aim of making the MFC as a technology that is economical, sustainable and environmentally friendly can be achieved."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S59293
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vifki Leondo
"Microbial Fuel Cell (MFC) merupakan sebuah perangkat elektrokimia yang memanfaatkan mikroorganisme untuk menghasilkan listrik dari hasil metabolisme dalam memecah senyawa oraganik. Limbah cair industri tempe berpotensi untuk dijadikan sebagai substrat MFC. Limbah cair industri tempe masih mengandung nutrisi yang tinggi untuk mikroba. Penelitian ini difokuskan pada sisi aspek pengolahan limbah ditentukan dari penurunan kadar COD dan BOD. Variasi dalam penelitian ini adalah variasi jenis larutan elektrolit, konsentrasi penambahan mediator, waktu pembentukan biofilm, dan penambahan bakteri gram selektif. Kinerja elektrolit yang paling bagus adalah Kalium Persulfat dibandingkan Natrium Klorida dengan penurunan COD dan BOD sebesar 23,07% dan 37,02%. Penambahan mediator dengan konsentrasi 20 g/L menghasilkan penurunan kadar COD dan BOD sebesar 25,92% dan 37,44%. Variasi berikutnya tidak menggunakan mediator ekstrak ragi karena meningkatkan kadar awal limbah secara signifikan. Waktu pembentukan biofilm optimum adalah 7 hari yang menghasilkan penurunan kadar COD dan BOD sebesar 18,2% dan 35,9%.Penambahan bakteri gram negatif sebanyak 5 mL menurunkan kadar COD dan BOD sebesar 29,32% dan 51,32%. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menghasilkan penurunan kadar limbah yang lebih besar supaya dapat memenuhi baku mutu limbah.

Microbial Fuel Cell (MFC) is an electrochemical device that uses microorganisms to produce electricity from the metabolism in the breakdown of organic compounds. Industrial wastewater of tempeh is potential to be a MFC substrate. Tempe industrial wastewater contains high nutrient for microbes. This study focused on the aspects of waste treatment which is determined by decreased levels of COD and BOD. Variations in this study are electrolyte solutions, the concentration of yeast extract addition as mediator, the formation time of biofilm, and the addition of selective gram. Potassium Persulphate result better performance than Sodium Chloride with COD and BOD removal amounted to 23.07% and 37.02%. The addition of a mediator with a concentration of 20 g/L decrease COD and BOD levels by 25.92% and 37.44%. The next variation will not use yeast extract mediator because it enhances the initial level of wastes significantly. Biofilm formation optimum time is 7 days which decrease COD and BOD levels by 18.2% and 35.9%. The addition of gram negative bacteria decrease COD and BOD levels by 29,32% dan 51,32%. Further research is needed in order to get a better result on decreasing levels of COD and BOD.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S65731
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siagian, Nathania Dwi Karina
"Teknologi Microbial Fuel Cell (MFC) berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi listrik alternatif karena dapat mengkonversi berbagai substrat dari sumber yang dapat diperbaharui menjadi energi listrik menggunakan bakteri sebagai biokatalis. Limbah cair tempe merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai substrat MFC. Penggunaan limbah cair tempe sebagai substrat MFC memberikan keuntungan dalam mengurangi biaya pembelian bakteri dan pengolahan limbah cair tempe. Saat ini, aplikasi MFC masih terbatas karena produksi listrik yang dihasilkan relatif kecil, sehingga banyak penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan produksi listrik oleh MFC.
Penelitian ini berfokus dalam meneliti pengaruh waktu pembentukan biofilm dan penggunaan makromolekul sebagai substrat tambahan terhadap produksi listrik dari sistem MFC dengan reaktor tubular membranless dan substrat limbah cair tempe.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbohidrat merupakan makromolekul dalam limbah cair tempe yang paling berpengaruh dalam produksi listrik ditandai dengan nilai penurunan kadar terbesar, yaitu 1,82%, setelah eksperimen MFC dilakukan selama 50 jam. Pembentukan biofilm pada anoda dapat meningkatkan produksi listrik hingga 10 kali lipat, sedangkan penggunaan glukosa sebagai substrat tambahan menurunkan produksi listrik hingga 60%. Hasil keluaran listrik terbesar diperoleh dari variasi waktu pembentukan biofilm 14 hari dengan kandungan EPS pada biofilm sebesar 0,13 mg/cm2. Nilai tegangan dan densitas daya maksimum yang dihasilkan berturut turut 34,81 mV dan 0,26 mW/m2.

Microbial Fuel Cell (MFC) technology has the potential to be developed as an alternative energy source since it can convert various substrates from renewable sources into electricity using bacteria as biocatalyst. Tempe wastewater is one of the material which can be utilized as MFC substrate. The use of tempe wastewater as MFC substrate gives advantages in reducing the purchasing cost of bacteria and tempe wastewater treatment. Currently, the applications of MFCs are still limited due to the relatively low electricity production, so many studies have been conducted to improve the electricity production by MFC.
This study focused on investigating the influence of biofilm formation time and the use of macromolecule as additional substrate towards electricity production from MFC system with tubular membranless reactor.
This study suggested that carbohydrate is the macromolecule contained in tempe wastewater which is the most influential for electricity production marked by the biggest decrease in macromolecule content, which is 1.82%, after MFC experiment had been carried out for 50 hours. In addition, biofilm formation on anode could improve the electricity production up to 10-folds while the use of glucose as substrate addition reduce the electricity production. The biggest electricity output was obtained from the experiment of biofilm formation for 14 days with EPS content in biofilm 0,13 mg/cm2 where the maximum voltage and power density produced was respectively 34,81 mV dan 0,26 mW/m2.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S64680
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mutiara Ariva
"ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang sistem kontrol menggunakan single-input single-output ( SISO ) strategi, untuk secara efektif mengontrol suhu katalis. Ini dicapai dari mengembangkan model reaksi pergeseran gas air pada katalis suhu tinggi dalam packed bed tubular reactor (PBTR). Penelitian ini dimulai dengan tinjauan literatur menyeluruh, diikuti dengan prosedur tujuh langkah untuk pemodelan WGSR. Beberapa sistem kontrol kemudian dirancang menggunakan software MATLAB. Peneliti menyarankan bahwa metode Skogestad IMC di bawah tuning PID sebaiknya digunakan sebagai untuk kontrol suhu di PBTR.

ABSTRACT
The purpose of this study is to design a control system using single-input single-output (SISO) control strategy, to effectively control the temperature of the catalyst. This is done by developing a model of water gas-shift reaction in a packed bed tubular reactor (PBTR). This research begins with a thorough literature review, followed by a seven step procedure for the modeling of the WGSR. Several control systems were then designed using MATLAB software. The researcher suggests that Skogestad IMC method under PID tuning should be used as for temperature control in the PBTR."
2016
S63527
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>