Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
Mutiara Lisa Allokendek
"Pada September 2018, Kota Palu dilanda tiga bencana alam sekaligus. Bencana tersebut berdampak pada sebagian besar kota, termasuk hancurnya wilayah pesisir dan mengalami 'tanah bergerak' atau likuifaksi yang dipicu oleh gempa bumi berkekuatan ±7M menyebabkan banyak bangunan runtuh dan ribuan korban jiwa. Namun demikian, kejadian ini memaksa kota untuk beradaptasi dengan kapasitas yang dimilikinya. Tujuan dari penelitian ini yaitu membantu kota meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan ancaman lainnya dengan pendekatan resilience city dengan membuat panduan rancang kota berdasarkan kriteria konsep dalam konteks Kota Palu yang sesuai. Memahami kota dalam metode kualitatif, didukung oleh eksplorasi sejarah kota, alam, dan morfologi perkotaan. Serta pengalaman langsung penulis tentang Palu. Temuan ini mengungkapkan bahwa Kota Palu memiliki sejarah bencana alam yang panjang, masyarakat yang masih ingin terus tinggal di Palu dan Pemerintah menciptakan ruang kota baru mengadopsi desain adaptif lebih memperhatikan isu-isu bencana. Konsep Resilience city melalui 5 karakter yaitu 1) Inklusif, 2) Resourceful, 3) Terintegrasi, 4) Redundant, 5) Robustness. Dapat menjadi acuan penataan kembali kawasan yang hancur akibat bencana dan dapat berdampak bagi kota untuk membangun kota tangguh bagi pola kehidupan manusia yang lebih baik
In September 2018, Palu City was hit by three natural disasters. These disasters hit almost all areas of the city, including the destruction of coastal areas and the occurrence of 'moving land' or liquefaction triggered by an earthquake measuring ±7M, causing many buildings to collapse and thousands of casualties. However, this incident forced the city to adapt to its capacity. This study aims to support increasing the city's capacity in dealing with disasters and other threats with a resilient city approach by making a city design guide based on the concept of criteria in the context of Palu City. Understanding the city in a qualitative method is supported by exploring the city's history, nature, urban morphology, and the author's direct experience with Palu. The findings reveal that Palu City has a long history of natural disasters, people who still want to continue to live in Palu, and the Government creates new urban spaces by adopting adaptive designs that pay more attention to disaster issues. The concept of a Resilience city can be seen in five characters, in form 1) Inclusive, 2) Resourceful, 3) Integrated, 4) Redundant, and 5) Robustness. This research may serve as a guide for rebuilding disaster-devastated areas and may influence the design of resilient cities to improve human habitation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Muhamad Farrel Fabian
"Skripsi ini mengeksplorasi warisan spasial dari urbanisme kolonial Belanda dan pengaruhnya yang bertahan lama terhadap evolusi bentuk kota Batavia. Dengan fokus pada penanaman dan adaptasi prinsip perencanaan Belanda, penelitian ini mengkaji bagaimana kota-kota seperti Amsterdam, Delft, dan Leiden menjadi model morfologis dan ideologis bagi Batavia, pendahulu kolonial dari Batavia modern. Melalui analisis kartografis dan morfologis perbandingan, penelitian ini mengungkapkan bagaimana strategi spasial kolonial, seperti sistem kanal konsentris, grid ortogonal, dan zonasi hierarkis, diterapkan untuk menegaskan kontrol, memaksakan segregasi, dan mewujudkan kekuasaan kolonial dalam lanskap perkotaan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa perencanaan Batavia tidak hanya fungsional, tetapi juga sangat ideologis, dengan bentuk spasial yang mencerminkan dan mempertahankan hierarki rasial dan sosial. Kerangka spasial ini tidak dibongkar, tetapi diinterpretasikan kembali melalui proyek-proyek perkotaan nasionalis dan neoliberal, yang mengarah pada bentuk-bentuk eksklusi spasial, privatisasi, dan fragmentasi baru di Batavia kontemporer. Dengan menelusuri kontinuitas dan transformasi dari koloni menjadi kota yang berkembang, skripsi ini menyimpulkan bahwa krisis identitas dan kondisi kota yang terfragmentasi di Batavia berakar pada ideologi spasial yang belum terselesaikan yang diwarisi dari masa kolonial.
This thesis explores the spatial legacy of Dutch colonial urbanism and its enduring influence on the evolution of Batavia’s urban form. Focusing on the transplantation and adaptation of Dutch planning principles, the study examines how cities like Amsterdam, Delft, and Leiden served as morphological and ideological models for Batavia, the colonial predecessor of modern Batavia. Through comparative cartographic and morphological analysis, the research uncovers how colonial spatial strategies, such as concentric canal systems, orthogonal grids, and hierarchical zoning, were deployed to assert control, enforce segregation, and materialize colonial power in the urban landscape. The study reveals that Batavia’s planning was not merely functional but deeply ideological, with spatial forms reflecting and sustaining racial and social hierarchies. These spatial frameworks were not dismantled but reinterpreted through nationalist and neoliberal urban projects, leading to new forms of spatial exclusion, privatization, and fragmentation in contemporary Batavia. By tracing the continuities and transformations from colony to a developed Batavia, this thesis concludes that Batavia’s identity crisis and fragmented urban condition are rooted in unresolved spatial ideologies inherited from its colonial past. The findings emphasize the importance of critically engaging with historical urban legacies in shaping more inclusive, coherent, and equitable urban futures."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Rezky Yunita
"Suhu permukaan di DKI Jakarta yang terus meningkat mengakibatkan terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena UHI secara spasial di DKI Jakarta berdasarkan morfologi perkotaan yang direpresentasikan oleh Zona Iklim Lokal. Klasifikasi Zona Iklim Lokal dilakukan dengan membagi daerah penelitian ke dalam 17 kelas yang terdiri atas 10 kelas bangunan dan 7 kelas tutupan lahan. Setiap kelas memiliki karakteristik fisik berbeda yang merepresentasikan kondisi iklim mikro perkotaan. Karakteristik lahan tersebut diukur berdasarkan suhu permukaan tanah. Fenomena UHI kemudian ditentukan berdasarkan nilai indeks variasi suhu permukaan tanah (UTFVI) dan dianalisis berdasarkan tipe zona iklim lokal di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi DKI Jakarta didominasi oleh area pemukiman penduduk dengan bangunan rendah (LCZ3 dan LCZ6). Zona iklim lokal yang berkontribusi terhadap fenomena UHI di DKI Jakarta adalah LCZ3 dan LCZ7 dengan suhu permukaan tanah rata-rata mencapai 33,1oC dan 32,9oC. Pola spasial UHI menunjukkan bahwa pusat UHI berada di wilayah Jakarta Timur. Luasan fenomena UHI semakin meningkat tiap tahunnya, dengan intensitas UHI tertinggi selama periode tahun 2018-2020 adalah 6,8oC.
The rising surface temperature in Special Capital Region of Jakarta (DKI Jakarta) has resulted in the Urban Heat Island (UHI) phenomena. This study aims to identify UHI in DKI Jakarta based on urban morphology represented by the Local Climate Zones. Classification of Local Climate Zones is done by dividing research areas into 17 classes consisted of 10 building types and 7 land cover types. Each class has different physical characteristics that represent urban microclimate conditions, these characteristics are measured based on soil surface temperature. UHI phenomena are determined based on Urban Thermal Field Variance Index (UTFVI) value and being analyzed according to the local climate zones. The results showed that the morphology of DKI Jakarta is dominated by residential areas with low buildings (LCZ3 and LCZ6). The local climate zones that contribute to the UHI phenomena in DKI Jakarta are LCZ3 and LCZ7 with average ground surface temperatures reaching 33.1oC and 32.9oC. The spatial pattern of UHI shows that East Jakarta is the center of UHI area in DKI Jakarta. UHI area tends to increase each year with the highest UHI intensity occured during the period 2018-2020 was 6.8 oC."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library