Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query
cover
More, Thomas, Saint, 1478-1535
London: David Campbell Publishers, 1992
R 335.02 MOR u
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Oxford : Oxford university press, 2012
341 REA
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah Dzurriyah Shalihah
"François Schuiten and Benoît Peeters' comic series, Les Cités Obscures, played a significant role in the 1980s shift towards recognising bande dessinée as a media for architecture criticism. Their use of dual utopian/dystopian narratives in comic album form collectively addresses urban issues that were impactful enough to inspire the urban artist and author, allowing critics to engage in extensive dialogues that place the comic’s narrative within its urban context. This undergraduate thesis learns from their first album, Les murailles de Samaris (1983), meaning “The Great Walls of Samaris,” depicting a Xhystos officer, Franz Bauer, investigating the distant city of Samaris to eventually realise the obscured spatiality of the cities being simulated and totalitarian. The objective is to discover the architecture criticisms in the comic album by deconstructing the comic’s ‘infrastructure’ – including the grids, gutters, panels and the urban indicators within them – to reveal the duality of utopia/dystopia in Xhystos and Samaris. This duality will be put into a critical dialogue with the 1980s French debate on the ‘end of modernity,’ involving the architectural utopia/dystopia in Paris and French peripheries, extracted from literary research. This writing addresses urgent urban issues in France depicted in the comic, focusing on the conflicting visions of French national architecture and the lingering trauma from Haussmann and Napoleon III's urban renewals and the Franco-Prussian War from the late nineteenth century, which evidently influenced the consciousness of French architects and urban planners. This led to repeated dystopian outcomes in the 1980s including totalitarianism, class segregation and superficiality of the projects. The analysis reveals the comic’s criticism of French architecture, inviting readers to reflect on the broader implications of urban design and its collective impact on urban structure.

Serial komik François Schuiten dan Benoît Peeters, Les Cités Obscures, memainkan peran penting dalam pengakuan bande dessinée sebagai media kritik arsitektur pada tahun 1980an. Penggunaan narasi utopia/distopia dalam bentuk album komik memungkinkan para kritikus untuk terlibat dalam dialog ekstensif yang menempatkan narasi komik dalam konteks perkotaannya. Dialog kritis yang diperluas dari komik urban ini penting bagi arsitektur dan ubanitas dalam mengungkap keprihatinan mendesak yang cukup berdampak untuk menginspirasi seniman dan penulis urban. Tesis sarjana ini belajar dari album pertama mereka yang berjudul Les murailles de Samaris (1983), atau “Tembok Besar Samaris,” yang menggambarkan Franz Bauer dari Xhystos menyelidiki kota Samaris dan akhirnya menyadari spasialitas kota yang disimulasikan dan totaliter. Tujuan tesis ini adalah untuk menemukan kritik arsitektur dalam album komik dengan mendekonstruksi 'infrastruktur' komik – termasuk grid, gutter, panel dan indikator perkotaan di dalamnya – untuk mengungkap dualitas utopia/distopia dalam Xhystos dan Samaris. Dualitas ini akan dimasukkan ke dalam dialog kritis dengan perdebatan 1980an tentang ‘akhir modernitas’, yang melibatkan utopia/distopia arsitektur di Paris dan wilayah pinggiran Perancis, diambil dari penelitian sastra. Tulisan ini membahas isu-isu perkotaan urgent di Perancis, fokus pada visi arsitektur nasional Perancis yang tidak selaras dan trauma dari akibat urban renewal Haussmann dan Napoleon III serta Perang Perancis-Prusia dari akhir abad kesembilan belas yang sangat mempengaruhi arsitek dan perencana kota Perancis, dan menyebabkan kejadian distopia berulang di 1980an. Analisis tersebut menunjukkan kritik komik terhadap keadaan arsitektur Perancis dan mengajak pembaca untuk merefleksikan implikasi yang lebih luas dari desain perkotaan dan dampak kolektifnya terhadap struktur perkotaan."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gindho Rizano
"ABSTRACT
Tesis ini membahas novel Fight Club dalam konteks politik kelas pada masa kapitalisme lanjut. Fokus dari penelitian adalah melihat bagaimana novel transgresif tersebut berfungsi sebagai alat ideologis sistem kapitalisme dan sekaligus sebagai kritik implisit terhadap sistem tersebut. Novel dianalisis melalui perspektif Marxis menggunakan teori pembacaan political unconscious oleh Fredric Jameson. Dapat disimpulkan bahwa Fight Club mengandung impulsimpuls utopia dengan mengkritik kontradiksi-kontradiksi kapitalisme lanjut seperti alienasi, reifikasi komoditas, dan konsumerisme. Namun, pada saat yang sama novel tersebut dipengaruhi oleh ideologi kapitalis yang membuat kritik novel terhadap kapitalisme menjadi problematis.

ABSTRACT
This thesis discusses Fight Club in the context of class politics of late capitalism. It explores how the transgressive novel can be interpreted as an ideological tool of capitalism as well as an implicit critique of the economic system. The novel is analyzed through Marxist perspective using Fredric Jameson?s theory of the political unconscious. It is concluded that Fight Club contains utopian impulses that criticize the contradictions of late capitalism such as alienation, reification, and consumerism, while at the same time contains the ideology of capitalism that makes the critique problematic.
"
2010
T26631
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Reece, Erik
""For Erik Reece, life, at last, was good: he was newly married, gainfully employed, living in a creekside cabin in his beloved Kentucky woods. It sounded, as he describes it, "like a country song with a happy ending." And yet he was still haunted by a sense that the world--or, more specifically, his country--could be better. He couldn't ignore his conviction that, in fact, the good ol' USA was in the midst of great social, environmental, and political crises--that for the first time in our history, we were being swept into a future that had no future. Where did we--here, in the land of Jeffersonian optimism and better tomorrows--go wrong? Rather than despair, Reece turned to those who had dared to imagine radically different futures for America. What followed was a giant road trip and research adventure through the sites of America's utopian communities, both historical and contemporary, known and unknown, successful and catastrophic. What he uncovered was not just a series of lost histories and broken visionaries but also a continuing and vital but hidden idealistic tradition in American intellectual history. Utopia Drive is an important and definitive reconstruction of that tradition. It is also, perhaps, a new framework to help us find a genuinely sustainable way forward. "--
"Eric Reece, author of Lost Mountain and An American Gospel, traces the history of the utopian movement in America and lays out a radical re-visioning of the future of utopian societies"--"
New York, NY: Farrar, Straus and Giroux, 2016
305.02 REE u
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas J. Ata Ujan
"Saya mengira bahwa saya yang benar, tetapi bisa saja saya yang salah dan Anda yang benar. Karena itu dalam kasus apa pun, marilah kita mendiskusikannya, karena hanya dalam cara ini kita akan lebih mendekati pengertian yang benar, dibandingkan kalau setiap kita selalu beranggapan bahwa kitalah yang benar. Kalimat di atas adalah ucapan Karl R.Popper (1902 - ) sendiri yang pasti dengan tepat merumuskan sikap dasarnya dalam mencari kebenaran. Popper menuntut suatu keterbukaan (the attitude of reasonableness), yaitu kesediaan untuk saling mengisi dalam hal kebenaran. Dalam sikap inilah, menurutnya, kebenaran dan kesalahan tidak pernah menjadi monopoli pihak tertentu. Dengan ini pula Popper bermaksud mendobrak dogmatisme kebenaran manapun, bahkan juga kebenaran atau teori yang selama ini biasanya menjadi acuan dari hampir setiap cendekiawan. Sikap dasar ini muncul sebagai konsekuensi dari pandangannya bahwa sebuah teori tidak pernah merupakan kebenaran terakhir. Dalam kaitan ini Popper memperkenalkan teorinya yang dikenal dengan metode 'falsifikasi'; atau yang juga biasa disebut sebagai teori 'penyingkiran kesalahan' (error elimination). Dengan Popper memaksudkan bahwa suatu teori hanya menjadi ilmiah kalau teori tersebut selalu- terbuka untuk diuji dan kalau memang tidak bisa bertahan, teori tersebut harus disingkirkan dan digantikan dengan teori barn. Dengan cara ini sebuah teori dapat menjadi lebih kokoh dibandingkan dengan teori sebelumnya. Kemungkinan untuk diuji dan disingkirkan ini merupakan ciri dari ilmu dan karenannya menjadi 'garis demarkasi' antara ilmu dam bukan ilmu. Dalam latar belakang dan cahaya sikap ilmiah seperti inilah hendaknya kita menempatkan kritisisme Popper terhadap Marxisme. Harus diakui bahwa Karl Marx (1818 -- 1883) adalah salah satu tokoh filsafat sosial terkemuka. Perpaduan antara pandangan teoritis serta dimensi praktis teorinya (yang memperlihatkan empatinya terhadap mereka yang tertindas ) telah membuat Marxisme seakan menjadi primadona tanpa cela. Dan Popper sendiri juga mengakui sumbangan Marx dalam menjelaskam ketimpangan sosial ekonomis. Meskipun begitu Popper tetap merasa perlu untuk nenyerang Marx karena Marx dianggapnya telah menempatkan banyak orang melalui pendekatan 'historisisme' dalam rangka nenjelaskan dan menyelesaikan masalah kesenjangan sosial ekonomis. Inilah problem pokok yang digeluti oleh Popper dalam kritiknya terhadap Marxisme yang sekaligus menjadi tema sentral dalam skripsi ini. Dari manakah akar historisisme itu dan apakah yang dimaksudkan dengan historisisme? Jawaban atas pertanyaan ini akan membantu kita untuk lebih memahami keberatan Popper terhadap Marxisme yang dianggapnya mengadopsi paham historisisme. Dalam kaitan dengan ini dapat dipastikan bahwa metode 'dialektika' dari George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831) telah memainkan peranan penting dalam gaya berpikir Marx. Sementara itu perlu ditegaskan dari permulaan bahwa Popper telah menggunakan istilah 'historisisme dalam suatu pengertian yang khas dalam rangka mengembangkan kritiknya terhadap berbagai pemikiran besar, termasuk pemikiran Marx. Karena itu suatu penelitian yang agak lebih mendalam terhadap metode ini pasti perlu untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap dantepat. Alasan yang menjadi dasar penolakan Popper terhadap historisisme adalah bahwa teori tersebut memutlakkan sasaran yang hendak dicapai serta cara untuk mencapai sasaran tersebut. Hal yang sama juga menjadi alasan Popper untuk menyingkirkan teori Marx. Menurutnya, Marx telah jatuh ke dalam pandangan naif historisisne karena teorinya bahwa kapitalisme akan diganti oleh sosalisme melalui suatu revolusi sosial proletariat. Popper menyebut pandangan Marx ini sebagai suatu yang utopian. Akhirnya tanpa meremehkan kejelian Popper dalam mengungkapkan berbagai kekurangan dam kelemahan teori Marx, tentu saja kritiknya itu masih bisa diperdebatkan kebenarannya. Karena itu suatu catatan kritis terhadapnya pasti tetap perlu dan wajar."
Depok: Universitas Indonesia, 1987
S16005
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmy Amrillah
"[ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang aspek sosial yang terdapat di dalam novel Utopia karya Ahmed Khaled Tawfik. Novel fiksi ilmiah ini bercerita tentang petualangan sepasang pria dan wanita dari kaum kaya yang pergi berburu ke daerah miskin di negara Mesir pada tahun 2020. Ahmed Khaled Tawfik memasukan banyak kritikan kepada masyarakat Mesir tentang bahaya ke depan dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang akan melanda Mesir jika keadaan terus dibiarkan. Landasan teori yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah melalui pendekatan struktural dan sosiologi sastra dalam menganalisis aspek-aspek sosial yang terdapat di novel Utopia. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah selain terdapat berbagai unsur intrinsik pembangun novel, juga aspek sosial yang muncul di dalam novel adalah kesenjangan sosial, diskriminasi, degradasi moral, dan hilangnya jati diri bangsa.

ABSTRACT
This research is aimed to analyze and elaborate social aspetcs on novel Utopia by Ahmed Khaled Tawfik. This science fiction novel tells a story about a couple who are from rich family go into a poor areas in Egypt in year 2020. Ahmed Khaled Tawfik puts a lot of critics in his novel for egyptians. He warns a crisis bounds to happen in politics, socials, economies, and cultures in Egypt if egyptians still silent. This research uses structural approaches and Sociology literature for anlyzing social aspects in novel Utopia. This research concludes beside an internal aspects which establishing novel, social aspects also can be found which are social disparites, moral declines, and national identities lost., This research is aimed to analyze and elaborate social aspetcs on novel Utopia by
Ahmed Khaled Tawfik. This science fiction novel tells a story about a couple who are
from rich family go into a poor areas in Egypt in year 2020. Ahmed Khaled Tawfik
puts a lot of critics in his novel for egyptians. He warns a crisis bounds to happen in
politics, socials, economies, and cultures in Egypt if egyptians still silent. This
research uses structural approaches and Sociology literature for anlyzing social
aspects in novel Utopia. This research concludes beside an internal aspects which
establishing novel, social aspects also can be found which are social disparites, moral
declines, and national identities lost.]"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S58179
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Irwolhoe, or the January Association, asserted the unification of the split socialist movement upon its formation in January 1925...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Raditya Margi Saputro
"Skripsi ini membahas mengenai teori ranah publik Jürgen Habermas dan media komunikasi internet sebagai dua substansi yang dipandang mampu mewujudkan sebuah bentuk ruang diskursus baru yang komunikatif dan dapat menjangkau khalayak ramai. Degradasi sosial akibat progres ekonomi, yang menurut Habermas sedang terjadi di masyarakat ini, ia percaya telah membawa masyarakat kepada situasi dimana keterbukaan sosial telah tertutup oleh kontrol yang coba diimplementasikan oleh korporasi dan sistem kapitalisme. Hal tersebut meruntuhkan ranah publik yang oleh Habermas dipandang telah terbangun di abad ke-18. Internet sebagai sebuah media komunikasi massa yang memiliki tingkat keterbukaan yang tinggi masuk menjadi nominasi sebagai pendukung pembangunan kembali ranah publik tersebut.

This thesis explains about Jürgen Habermas? theory of public sphere and internet, both as two substance that is capable of forming a new public sphere that is communicative and widely accessible to the mass. The social degradation because of economical progresswhich according to Habermas is happening right now in the societyis believed to be bringing the society to the situation where the used-to-be-open society is now being repressed by the control implemented by corporation and the capitalism system. Such thing has torn down the public sphere th that is been built in the 18century. Internet as a mass communication media that allowed high access is being nominated as the new accomodator to rebuilt the public sphere."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S16083
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Amy Karmia Marku
"Gedung Pola tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer yang dibangun khusus untuk memamerkan gagasan perencanaan arsitektur dan kota berdasarkan pemikiran utopia dari Sukarno atas nasionalisme dan modernism tapi juga pameran menjadi sebuah strategi politik dan arsitektur kemudian dimanfaatkan sebagai ruang politik yang representatif bagi propaganda idealis Sukarno untuk publik Jakarta (khususnya) dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Tesis ini mencoba untuk mengungkapkan bagaimana pameran bukan hanya sebagai media representasi visual tapi juga menjadi sebuah strategi politik ruang. Pemikiran Sukarno akan dicoba untuk ditelusuri melalui pembacaan archives sebagai evidence yang akan diinterpretasikan melalui pendekatan hermeunitical approach dari Heidegger.
Selain itu tesis ini juga mencoba memandang artefak arsitektur sebagai suatu fenomena sejarah. Pendekatan ini dipilih oleh karena dalam membaca archives, jejak yang tertinggal akan diinterpretasikan secara fenomenologi sebagai upaya untuk menjawab kehadiran ruang politik dalam Gedung Pola dan juga untuk mengungkap bagaimana sebuah pameran, dapat menjadi strategi dari sebuah politik ruang.

Gedung Pola was not only function as an exhibition room built specifically to exhibit Soekarno’s Utopian vision on achitecture and city planning based on Nasionalism and Modernism, but also become a place to exhibit his political strategy, used as a representative political space for Sukarno’s ideal propaganda for Jakarta citizen in specific and all Indonesian citizen in general.
This thesis try to elaborate on how an exhibition was not only use as a representative medium for visual, but also become a political strategy space. Sukarno’s idealogy will be tried to understood through reciting his archives as the evidence, that will be interpreted through Hermeunitical approach from Heideger.
Moreover, this thesis also try to view architecture artefact as a historical phenomenon because in reciting the archives, traces that was left will be interpreted phenomenologically, as a way to answer the existence of political space in Gedung Pola, and also to reveal how an exhibition can be a strategy for political space.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T42335
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>