Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
Uggasena Ariya Saputra
"Walking tour merupakan salah satu bentuk pariwisata urban yang menawarkan pengalaman imersif terhadap sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari suatu kota melalui eksplorasi berjalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan peran operator tur Cerita SAKTA dalam mempromosikan pariwisata urban berkelanjutan melalui pendekatan edutainment di Jakarta, Depok, dan Bogor. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi, penelitian ini menemukan bahwa Cerita SAKTA berhasil mengintegrasikan edukasi dan hiburan melalui storytelling, keterlibatan interaktif, dan penggunaan media visual. Operator tur ini memainkan peran multidimensional sebagai kurator, fasilitator, kolaborator, dan inovator. Sinergi antara konsep edutainment dan peran operator memperkaya pengalaman peserta serta meningkatkan pemahaman budaya yang inklusif. Direkomendasikan agar Cerita SAKTA memperluas rute, mengintegrasikan lebih banyak aktivitas kreatif, mengoptimalkan teknologi digital, memperkuat kolaborasi lokal, dan mempertahankan model "harga sukarela" (price it with love) sebagai daya tarik wisata yang unik.
Walking tours are a form of urban tourism that offer immersive experiences of a city’s history, culture, and daily life through exploration on foot. This study aims to analyze the strategies and roles of the Cerita SAKTA tour operator in promoting sustainable urban tourism through an edutainment approach in Jakarta, Depok, and Bogor. Using a descriptive qualitative method with data collected through field observations, in-depth interviews, and documentation studies, the research finds that Cerita SAKTA successfully integrates education and entertainment through storytelling, interactive engagement, and the use of visual media. The tour operator plays multidimensional roles as a curator, facilitator, collaborator, and innovator. The synergy between the edutainment concept and the operator’s role enriches participants’ experiences and enhances inclusive cultural understanding. It is recommended that Cerita SAKTA expand its routes, incorporate more creative activities, optimize digital technology, strengthen local collaborations, and maintain the “price it with love” model as a unique tourist attraction."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Arie Rusmayanti
"Urban tourism merupakan bentuk pariwisata yang dilakukan dengan mengunjungi sebuah destinasi di lingkungan perkotaan salah satunya melalui tur jalan kaki. Tur jalan kaki adalah kegiatan wisata yang dilakukan dengan jalan kaki untuk menjelajahi dan mengalami kehidupan dinamis perkotaan, menyaksikan beragam kegiatan kota yang menarik dan unik hingga berinteraksi dengan penduduk setempat. Tidak hanya menyusuri sebuah tempat dengan jalan kaki, wisata ini juga dilengkapi dengan sebuah narasi urban yaitu sebuah rangkaian cerita yang disampaikan pemandu maupun warga lokal untuk menjelaskan sejarah, budaya, dan identitas tempat yang dikunjungi sehingga dapat menciptakan ikatan emosional antara wisatawan dan tempat yang mereka kunjungi atau yang dikenal dengan konsep sense of place. Konsep sense of place merupakan sebuah hubungan antara manusia dan tempat yang dihasilkan dari pengalaman individu terhadap suatu tempat yang membedakan tempat tersebut berbeda dengan tempat lainnya. Sense of place dapat hadir melalui tiga elemen pembentuk yaitu, penataan fisik (physical setiing), aktivitas (activity), dan makna (meaning).
Adapun tujuan penulisan ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pembentukan sense of place yang hadir dan dirasakan oleh peserta walking tour berkaitan dengan narasi yang disampaikan pemandu maupun warga lokal. Penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif naratif untuk memudahkan penulis dalam menjelaskan hasil penelusuran secara kronologis sehingga dapat memperoleh gambaran yang lebih detail mengenai pembentukan sense of place terhadap objek studi kasus yaitu pada Sisi Timur Batavia dan juga Kota Lama Gresik. Berdasarkan hasil penelusuran menunjukkan bahwa melalui walking tour individu dapat mengeksplorasi kehidupan lingkungan perkotaan dan narasi berperan untuk memperkuat sense of place pada wisatawan dalam membangun pemahaman yang lebih holistik tentang kota, meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai budaya dan lingkungan, serta mendorong partisipasi aktif dalam melestarikan sejarah dan budaya sehingga dapat membangun sebuah kota yang identitasnya terjaga.
Urban tourism is a form of tourism that is carried out by visiting a destination in an urban environment, one of which is a walking tour. A walking tour is a tourist activity that is carried out on foot to explore and experience dynamic urban life, witness various interesting and unique city activities, and interact with local residents. Not only does this tour include exploring a place on foot, but it is also equipped with an urban narrative, which is a series of stories told by guides and local residents to explain the history, culture, and identity of the places visited so as to generate an emotional bond between tourists and the places they visit. or what is known as the concept of sense of place. The concept of sense of place is a relationship between humans and places resulting from individual experiences of a place that distinguishes that place from other places. A sense of place can be generated through three elements: physical setting, activity, and meaning.The purpose of this writing is to find out how the formation of a sense of place is present and felt by walking tour participants related to the narration conveyed by guides and local residents. This writing uses a qualitative research method with a narrative-descriptive approach to facilitate the writer in explaining the search results chronologically so that a more detailed picture of the formation of a sense of place for the object of the case study can be obtained, namely on the Sisi Timur Batavia and also in the Kota Lama Gresik. Based on the research results, it shows that through walking tours, individuals can explore urban environmental life, and narratives play a role in strengthening the sense of place in tourists by building a more holistic understanding of the city, increasing awareness of cultural and environmental values, and encouraging active participation in preserving history. and culture so as to build a city whose identity is maintained."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Muhammad Affan Triaji
"
ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kota Bogor dimana Pemerintah Kota menargetkan untuk menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki dan mempunyai daya tarik untuk wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas jalur pejalan kaki dan menganalisa kualitasnya terhadap fasilitas primer dan fasilitas sekunder pariwiata. Berdasarkan metode GWI untuk menilai kualitas jalur pejalan kaki memiliki empat indikator yatu: keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan daya tarik. Kualitas jalur pejalan kaki di seputaran Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor memiliki kualitas yang sangat baik. Analisis spasial juga dipakai untuk menjelaskan alasan kualitas jalur pejalan kaki yang baik dan kurang baik secara site dan situation. Kualitas jalur pejalan kaki yang sudah baik dan adanya fasilitas primer berupa objek wisata juga fasilitas sekunder dapat menunjang kegiatan wisata berbasis berjalan kaki di Kota Bogor.
ABSTRACTThis research study was conducted in Bogor City, where the local government intends to shape Bogor into a pedestrian friendly city and thus attract more tourism. The aim of this paper is to identify the quality of pedestrian pavements and analyze whether this aspect supports development of a city walking tour around Bogor Botanical Garden and Bogor Presidential Palace. GWI rsquo s method is used to assess the quality of pedestrian pavements which encompasses four main variables which are safety, security, comfortability, and attractiveness of each segments. The results conclude that pedestrian pavements around the two aforementioned attractions are of very good quality. Spatial analysis is also used to explain the reasons for good and bad quality footpaths with site and situation used as the factors. As a result, the good quality pedestrian pathways connect some tourist attractions which can support a walking tour in Bogor City. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library