Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Amila Tikyayala
"Latar Belakang: Luka bakar masih menjadi masalah kesehatan yang berat khususnya di Indonesia. Pada kasus luka bakar mayor, penutupan luka sementara dengan menggunakan xenograft terbukti memberikan keuntungan. Akan tetapi tidak semua jenis xenograft tersedia akibat latar belakang kultur, biaya, dan agama disamping tampilan bersisik pada jenis xenograft ikan tilapia yang kurang estetik. Patin siam (Pangasius hypophthalmus) adalah ikan tidak bersisik yang memiliki banyak kandungan kolagen tipe I. Studi ini bertujuan untuk melakukan komparasi kulit ikan patin siam terhadap kulit ikan tilapia dan babi yang telah umum dijadikan material xenograft pada luka bakar.
Metode: Studi ini merupakan studi eksperimental menggunakan sembilan sampel berbeda dari kulit ikan patin siam, ikan tilapia, dan babi. Setiap sampel dilakukan preparasi dan dilakukan evaluasi secara histologi dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin-eosin stained. Dilakukan dokumentasi dan analisa pada tampilan makroskopik dan mikroskopik setiap sampel.
Hasil: Tampilan makroskopik kulit ikan patin siam menggambarkan kulit yang tidak berbulu, tidak bersisik, berwarna hitam – perak, dan memiliki ketebalan yang moderat. Tampilan mikroskopik kulit ikan patin siam memiliki ketebalan epidermis (8.49±1.60 μm) yang berbeda secara signifikan terhadap ikan tilapia (2.18±0.37 μm; p<0.001) dan babi (42.22±14.85 μm; p=0.002). Ketebalan dermis kulit ikan patin siam (288.46±119.04 μm) menyerupai ikan tilapia (210.68±46.62 μm; p=0.783) namun berbeda signifikan terhadap babi (1708.44±505.12 μm; p<0.001). Integritas dan susunan kolagen ikan patin siam serupa dengan tilapia berdasarkan penilaian histologi semi-kuantitatif (p>0.05).
Kesimpulan: Ikan patin siam memiliki tampilan makroskopik dan tampilan mikroskopik yang dapat dibandingkan dengan ikan tilapia; tampilan makroskopik lebih halus, epidermis lebih tebal, dan tebal dermis yang serupa. Oleh karena itu, kulit ikan patin siam dipercaya dapat menjadi materi xenograft. Studi lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas dan kelayakan xenograft patin siam dalam tata laksana luka bakar.

Background: Burn injury remains a health problem, specifically in Indonesia. In major burns, xenograft had been proved to be useful as temporary wound coverage. However, some xenografts are not widely available due to cultural, financial, and religious backgrounds or have unesthetic appearance, such as scaly appearance of tilapia fish xenograft. Striped catfish (Pangasius hypophthalmus) is a scaleless fish that has abundant type 1 collagen. This study aimed to compare striped catfish skin to commonly used xenograft (Nile tilapia and porcine skin) as xenograft material for burn wound.
Methods: In this experimental study, nine different skin samples of striped catfishes, Nile tilapias, and porcines were prepared and histologically examined using hematoxylin- eosin stained samples. Macroscopic and microscopic features of each samples were documented and analysed.
Results: The macroscopic skin appearances of striped catfishes were hairless and scaleless with black-silver color and moderate thickness. As for microscopic features, the epidermal thickness of striped catfish’s skin (8.49±1.60 μm) was significantly different to both Nile tilapia (2.18±0.37 μm; p<0.001) and porcine skin (42.22±14.85 μm; p=0.002). The dermal thickness of striped catfish’s skin (288.46±119.04 μm) was similar to Nile tilapia (210.68±46.62 μm; p=0.783) but differs significantly to porcine skin (1708.44±505.12 μm; p<0.001). The integrity and collagen organization of striped catfishes was also similar to tilapia based on semi-quantitative histology scoring system (p>0.05).
Conclusion: Striped catfishes had potential macroscopic appearance and comparable microscopic features to Nile tilapia; smoother macroscopic appearance, thicker epidermis, and similar dermis thickness. Therefore, we believe it can be potentially used as a xenograft material. Further studies are required to evaluate the effectiveness and feasibility of striped catfish xenograft in burn wound management.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gadia Ayundya Duhita
"Latar belakang: Pada negara maju, terapi pada luka bakar mayor saat ini telah bergeser dari eksisi segera dan standur kulit menjadi eksisi bertahap dan penutupan luka sementara dengan xenograft, yang tidak tersedia di Indonesia. Saat ini, perawatan luka pada luka bakar masih menggunakan kasa jenuh paraffin-vaselin. Studi ini merupakan studi preliminary untuk clinical trial mengenai kulit ikan tilapia sebagai xenograft. Dilakukan evaluasi terhadap waktu yang diperlukan untuk mencapai dasar luka yang baik, frekuensi redebridement, dan frekuensi penggantian balutan.
Metode: Studi preliminary ini merupakan clinical trial terrandomisasi dengan kasa jenuh paraffin-vaselin sebagai pembanding, dengan analisis intention to treat. Sampel pada studi ini adalah ekstremitas atas atau bawah pasien luka bakar akut dewasa, usia 18-60 tahun, dengan luas area luka bakar 20-40%; yang terdapat luka bakar full thickness. Kedua sisi harus dapat dibandingkan, evaluasi luka dilakukan tiap kali dilakukan penggantian balutan.
Hasil: Total 7 sampel didapatkan dari 4 pasien. Tidak didapatkan adanya reaksi alergi pada semua subjek, baik berdasarkan klinis dan hasil laboratorium. Dua subjek meninggal dunia sebelum dilakukan penggantian balutan pertama, sehingga tidak dapat dilakukan evaluasi luka. Tidak ada perbedaan waktu untuk mencapai bed luka yang baik dan frekuensi redebridement antar kedua kelompok. Ekstremitas dengan balutan kulit ikan tilapia xenograft membutuhkan frekuensi penggantian balutan yang lebih sedikit secara signifikan.
Kesimpulan: Xenograft kulit ikan tilapia dapat digunakan sebagai dressing alternative pada luka bakar. Studi lebih lanjut sangat dibutuhkan.

Background: In developed countries, major burn treatment have shifted from early excision and skin grafting to staged excision and temporary coverage with xenograft, which were not available in our country. Paraffin-impregnated gauze is still utilized in most of our burn injury cases. Xenografts have been proven to be superior than non –biological dessings. This study was a preliminary to clinical trial of tilapia fish skin xenograft that we put together locally. We evaluated the efficacy based on reduction of time to well granulated wound bed, redebridement frequency and wound dressing change frequency.
Method: This preliminary study is a randomized clinical trial, with paraffin-impregnated gauze as the comparison, with intention to treat analysis. Samples of the study were upper or lower limb pairs of adults, aged 18-60 year old, acute burn patients with total body surface area of burn ranged from 20-40%; which contains full thickness burn. The injury on both sides of the lim pairs have to be comparable. The wound was evaluated every time the dressing was changed.
Result: Total of 7 samples were obtained from 4 subjects. There was no evidence of allergic reaction on all subjects , either clinically or from laboratory examinations. Two subjects passed away before the first dressing change, thus the wound cannot be evaluated. There was no difference in time to well granulated wound bed and redebridement frequency between groups. Limbs treated with tilapia fish skin xenograft significantly require less frequent dressing change.
Conclussion: The tilapia fish skin xenograft appears to be a legible alternative to paraffin impregnated gauze. Further study is strongly advised.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ruggerio Steffi
"Pendahuluan: Kehilangan gigi yang terjadi di esthetic zone menimbulkan masalah fungsional dan estetik pasien, yang menyebabkan pasien mencari perawatan yang dapat mengembalikan fungsi tersebut secepatnya. Immediate implant placement merupakan pilihan perawatan dengan kesuksesan yang tinggi. Namun, resorpsi tulang yang terjadi setelah pencabutan gigi anterior dapat mempengaruhi kesuksesan implan, sehingga biasanya dilakukan pemakaian bone graft untuk meminimalkan marginal bone loss yang terjadi. Jenis bone graft yang bervariasi memiliki efektivitas yang berbeda-beda.
Tujuan: Mengevaluasi pengaruh pemilihan jenis bone graft (autograft, allograft, dan xenograft) terhadap terjadinya marginal bone loss pada tindakan immediate implant placement di esthetic zone. Metode: Kajian sistematis dilakukan dengan menyaring artikel dari database elektronik (PubMed, ScienceDirect, ProQuest, dan Scopus) menggunakan kata kunci terkait pada tahun 2019-2024. Total 9 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan instrumen Joanna-Briggs Institute (JBI) dan ROBINS-I untuk mengevaluasi risiko bias. Kajian sistematis ini telah terdaftar di PROSPERO dengan nomor registrasi CRD42025641578
Hasil: Autograft menunjukkan efektivitas terbaik dalam mengurangi marginal bone loss, terutama apabila terdapat perlakuan tambahan seperti ditambahkannya platelet-rich fibrin dan melatonin. Allograft dan xenograft memberikan efek terhadap marginal bone loss yang serupa, dan efektivitasnya hampir sebanding dengan autograft dalam kondisi tertentu. Xenograft memiliki risiko terjadinya inflamasi dan rasa sakit yang lebih parah dibandingkan dengan autograft, yang dapat mempengaruhi kenyamanan pasien, meskipun dalam kondisi tertentu efektivitasnya dalam meminimalkan marginal bone loss hampir serupa dengan autograft. Kesimpulan: Pemilihan jenis bone graft mempengaruhi marginal bone loss pada immediate implant placement di esthetic zone. Autograft tetap menjadi standar emas pilihan bone graft, namun allograft dan xenograft dapat menjadi alternatif yang baik, tergantung dari ketersediaan material tersebut. 

Introduction: Tooth loss in the esthetic zone will often cause functional and esthetical issues, prompting patients to seek immediate treatment to restore those functions. Immediate implant treatment is a highly successful treatment option. However, bone resorption that follows anterior tooth extraction can affect the success rate of implants, to which bone grafting is often done to minimize marginal bone loss that occurs. Different types of bone grafts exhibit varying levels of effectivity.
Objective: To evaluate the effects of bone graft selection (autograft, allograft, and xenograft) on the occurring marginal bone loss during the immediate implant placement in the esthetic zone. Method: A systematic review was conducted by screening articles from electronic databases (PubMed, ScienceDirect, ProQuest, and Scopus) using relevant keywords, in the range of the years of 20192024. A total of nine articles that met the inclusion criteria were analyzed using Joanna-Briggs Institute (JBI) and ROBINS-I instruments to assess the risk of bias. This systematic review has been registered with the PROSPERO with code number CRD42025641578.
Result: Autograft demonstrated the highest effectivity in reducing the occurring marginal bone loss, particularly when combined with additional treatments such as the adding platelet-rich fibrin or melatonin. Allograft and xenograft displayed similar effects on the occurring marginal bone loss, with their effectivity comparable to autograft under certain conditions. However, xenograft posed a higher risk of inflammation and pain compared to autograft, potentially affecting patient comfort, even though its effectiveness in minimizing marginal bone loss was nearly equivalent to autograft in some cases. Conclusion: The types of bone graft significantly influenced marginal bone loss during immediate implant placement in the esthetic zone. Autograft remains the golden standard for bone graft selection, although allograft and xenograft can serve as good alternatives depending on material availability. 
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library