Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 89 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Panjaitan, Sadra Partogi
"ZnO nanorod telah berhasil disintesis menggunakan prekursor HMTA dan seng nitrat tetrahidrat melalui metode chemical bath deposition (CBD) yang sebelumnya telah melalui proses pembibitan dengan menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) dan seng asetat dihidrat (Zn(CH3COOH)2.2H2O). Perlakuan yang diberikan adalah variasi konsentrasi larutan CBD, yaitu 0,025 M; 0,0375M; 0,05M; dan 0,075M dan variasi durasi waktu proses CBD, yaitu 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan 6 jam dengan tujuan untuk menganalisa pengaruh kedua hal tersebut terhadap hasil mikrostruktur ZnO, diameter ZnO nanorod, serta kristalinitas yang terbentuk.
Hasil yang didapatkan kemudian diaplikasikan untuk fabrikasi sel surya berbasis perovskite dengan melihat performa efisiensi konversi (η) dari PSC yang telah difabrikasi. Metode karakterisasi material yang digunakan adalah X-ray Diffraction (XRD), dan Scanning Electron Microscope (SEM). Pengujian performa dar PSC yang telah difabrikasi menggunakan Semiconductor Parameter Analyzer dengan menganalisis kurva arus dan tegangan (I-V).
Hasil penelitan menunjukkan bahwa dengan naiknya konsentrasi prekursor yang digunakan, maka akan terjadi kenaikan diameter ukuran butir ZnO nanorod, kristalinitas serta intensitas difraksi ZnO yang dihasilkan. Seiring naiknya durasi waktu proses hidrotermal pada kondisi konsentrasi yang sama juga menunjukkan adanya peningkatan diameter ZnO nanorod yang dihasilkan, peningkatan panjang dari Zno nanorod serta kenaikan kristalinitas dari ZnO. Efisiensi PCE yang paling optimal didapatkan pada kondisi sampel dengan konsentrasi prekursor 0,0375 M dan dengan durasi 3 jam, efisiensi yang didapatkan sebesar 0,027%.

The characteristics of ZnO grown via chemical bath deposition on an FTO glass substrate at different reaction time and precursors concentration has been examined. The seed of ZnO was firstly spin coated at 500 rpm for 5 seconds onto an FTO glass substrate and then at 3000 rpm for another 30 seconds. The coated substrate was then heated at 90 °C to remove the solvent. The growth of ZnO was performed via chemical bath deposition at various precursors concentration and reaction time. The morphology of the obtained ZnO nanorods were characterized using field-emission electron microscope (FE-SEM) equipped with energy dispersive X-ray spectroscopy (EDX) to reveal the morphology and elemental composition of the nanorod, whereas X-ray diffraction (XRD) was used to examine the crystal structure.
The results showed that the ZnO products have nanorod structure and sizes for each concentration. The results of this morphology were supported by the results from XRD. XRD patterns revealed that the formation of nanostructure of ZnO has been obtained at reaction time of 2 hour. The performance test of a fabricated PSC using the Semiconductor Parameter Analyzer by analyzing the current and voltage curves (I-V).
The results show that with the increase in the concentration of the precursors used, there will be an increasing the diameter of the ZnO nanorod grain size, the crystallinity and intensity of the ZnO nanorod. As the duration of the hydrothermal process increases in the same concentration conditions also shows an increasing of ZnO nanorod diameter, an increase in the length of Zno nanorod and an increase in the crystallinity of ZnO. The highest PCE efficiency was obtained in the condition of the sample with precursor concentration of 0.0375 M and with a duration of 3 hours., The efficiency obtained was 0.027%.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rudiyansah
"Poli Vinil Klorida (PVC) memiliki nilai kegunaan yang luas dan beragam dikarenakan sifat mekaniknya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan (contoh : Unplasticized PVC dan Plasticized PVC dimana penggunaan plasticized PVC mencapai 60% dari konsumsi PVC diseluruh dunia), namun memiliki keterbatasan dalam sifat kestabilan termal selama proses pencampuran hot melt mixing P-PVC. Kebutuhan akan plasticized-poly (vinyl chloride) (P-PVC) dengan nilai modulus kekakuan (modulus young) yang optimum dan nilai kekuatan tarik (tensile strength) yang tinggi dapat dicapai dengan menerapkan formulasi aditif plasticizer dan filler CaCO3 serta pengaturan nilai parameter proses hot melt mixing seperti suhu, waktu dan kecepatan pencampuran dalam ranah nilai yang optimal, dan penggunaan heat stabilizer beserta co-heat stabilizer epoxidized soya bean oil (ESBO) ditujukan untuk mengatasi keterbatasan termal P-PVC selama proses pencampuran P-PVC dalam alat rheomix (twin screw extruder).
Studi ini berusaha untuk memformulasikan filler CaCO3, plasticizer di-octyl Phatalate (DOP) dan ESBO serta parameter proses pencampuran dalam proses pencampuran PVC-P, dengan memvariasikan kadar filler CaCO3 dari 0 hingga 90 PHR (part per hundred PVC resin) dan ESBO di nilai 0 hingga 6 PHR dengan menjaga kadar DOP tetap di nilai 28 PHR dalam resin PVC-XXX selama proses pencampuran lelehan, serta memvariasikan suhu pencampuran di suhu 170˚C hingga 200˚C, variasi waktu mixing dari 60 hingga 420 sekon dan memvariasikan kecepatan mixing di angka 90 hingga 120 rpm untuk mencapai nilai modulus kekakuan dan nilai kekuatan tarik yang optimal.
Hasil menunjukan bahwa penambahan filler CaCO3 dari 0 hingga 90 PHR dalam proses pencampuran lelehan mampu meningkatkan nilai kekakuan PVC-P. Nilai kekuatan tarik dan modulus kekakuan mencapai nilai optimum di suhu, waktu dan kecepatan pencampuran di nilai 180˚C, 300s dan 100 rpm. Hal yang menarik adalah bahwa ESBO tidak hanya bertindak sebagai co-heat stabilizer, disaat bersamaan penambahan ESBO dari 0 hingga 4 PHR mampu menurunkan nilai modulus kekakuan (bertindak seperti plasticizer) PVC-P, dan ini menunjukkan bahwa ESBO berpotensi untuk digunakan sebagai primary plasticizer yang berarti mengurangi penggunaan DOP.

Poly (vinyl chloride) has versatile and varies application due to its mechanical properties that can be adjusted correspond to consumer needs (ex. Unplasticized PVC and Plasticized PVC where the usage of plasticized PVC reach 60% from all PVC consumption around the world), but still have many limitations which is PVC is unstable during processing (hot melt mixing). Demand of plasticized PVC with high tensile strength and modulus young can be achieved by optimizing the formulation of plasticizer, filler CaCO3 with other additive and apply the optimum adjustment of mixing parameter process (temperature, time, and speed of mixing), and the usage of heat stabilizer and co-heat stabilizer epoxidized soya bean oil (ESBO) where synergize to stabilizing the molecules of plasticized PVC during processing.
The aim of this research is to formulate the additive (filler, DOP, ESBO) and mixing parameter process which is can produce plasticized PVC with high mechanical properties by varying the concentration of filler CaCO3 from 0 up to 90 PHR (parts per hundred PVC resin) and the concentration of ESBO from 0 up to 6 PHR while at the same time keeping the concentration of DOP still on 28 PHR in matrix of PVC-P during hot melt mixing, and varying the mixing temperature from 170˚C going to 200˚, varying the duration of mixing from 60 going to 420 seconds and varying the speed of mixing from 90 going to 120 rpm to obtain the optimum of modulus young and tensile strength properties.
The result shown that the optimum modulus young and tensile strength of plasticized PVC was achieved by setting temperature, time, and rpm of hot melt mixing in certain value respectively 180˚C, 300 seconds and 100 rpm. The remarks is that ESBO is not only acted as co-heat stabilizer, at the same time the addition of ESBO from 0 up to 4 PHR can reduce the modulus young properties of plasticized PVC (ESBO acted as secondary plasticizer), and this lead to conclusion that ESBO has a great potential to become primary plasticizer to reduce the usage of DOP that can be reduce the risk in health issue during processing of plasticized PVC.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42653
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Deandra Niluh Sasadhara
"Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan film tipis dengan substrat Alumina dan lapisan film tipis Zn dengan metode Physical Vapour Deposition (PVD) dan eksitasi elektron atom Zn. Sampel Alumina dievaporasi dalam metode PVD dan dideposisi dengan lapisan film tipis Zn. Sebelumnya Zn diatomasi yaitu dengan melakukan eksitasi elektronik sehingga diharapkan dapat menghasilkan kualitas Zn yang lebih baik yang disebut dengan Zn excimer. Karakterisasi sampel dilakukan dengan menggunakan alat Xray Diffraction (XRD) untuk menganalisa mikrokristal dengan grafik 2θ dan intensitas. Kemudian, untuk morfologi kristalnya dilakukan karaterisasi dengan alat Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwaperbedaan mikrokristal pada film tipis Zn dengan temperatur substrat 60℃, 80℃, dan 100℃ antara lain pada temperatur 60℃ morfologi kristalnya proporsional dan terlihat pada pinggiran kristal lapisan film tipis. Pada temperatur 80℃, morflogi kristalnya ada yang besar dan kecil. Kemudian pada 100℃ kristalnya terdistribusi jarang-jarang karena sebagian besar atom film tipisnya sudah terevaporasi.

In this research, thin film Zn with Alumina substrate is made byPhysical Vapour Deposition (PVD) methode and the process electron excitation of Zn atom. Alumina sample has been evaporated by PVD methode and is deposited with Zn thin film. Before that, Zn is atomized by applying electronic excitation in order to get a good quality of Zn, called Zn excimer. The carachterization of the samples are being done by X-Ray Diffraction (XRD) equipment to analyze microcrystal with the 2θ graph and intensity. Then, for the morphology of its crystal, the characterization is being done by using Scanning Electron Microscopy (SEM).The result of this research shows that the difference of microcrystal on the Zn thin film with the temperature of 60℃, 80℃, and 100℃. For example on the temperatureof 60℃, the morphology of its crystal is proportional and can be told by seeing the edge of the crystal of Zn thin film. On the temperature of 80℃,the morphology of its crystal is devided by two types which is the big one and a small one. Then, on the temperature of 100℃, the distribution of its crystal is not smooth because most of the atoms of the thin film had already evaporated."
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42311
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Azis
"Dalam penelitian ini telah berhasil dilakukan pembuatan thin film Zn excimer pada substrat Safir (α-Al2O3) dengan teknik rekombinasi ion pada sistem electron assisted PVD. Modifikasi level elektronik pada Zn dengan eksitasi memungkinkan untuk mendapatkan struktur kristal yang berbeda dan akan merubah sifat material. Salah satu variabel utama dalam kontrol pembentukan Zn excimer dengan metode rekombinasi ion adalah kontrol energi insiden elektron. Kontrol energi tersebut berkaitan dengan fenomena densitas elektron yang ditembakkan ke substrat. Distribusi densitas muatan elektron tersebut tergantung pada posisi substrat sehingga akan berpengaruh pada pembentukan lapisan film Zn excimer. Sampel lapisan film tersebut dikarakterisasi dengan pengujian seperti X-ray Photoelectron Spectroscopy (XPS) pada lokasi sampel yang berbeda. Karakterisasi dengan XPS akan membantu untuk memahami pengaruh densitas muatan elektron terhadap lapisan film Zn excimer.

In this study have been successfully performed the manufacture of thin film Zn * on a substrate Sapphire (α-Al2O3) by ion recombination techniques in electronassisted PVD system. Modifications electronic level in Zn with excitation makes it possible to get different crystal structure and properties. The main variable for control formation of Zn excimer is the energy incident electron. These related to the phenomenon of electron density that irradiated into the substrate. Electron charge density distribution depends on the position of the substrate that will affect the formation of thin film Zn excimer. The samples were characterized by X-ray photoelectron spectroscopy (XPS) at different sample locations. Characterization by XPS will help to understand the influence of the electron charge density of the thin film Zn excimer."
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42312
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Alvian Reza
"Munculnya material baru seperti Cu2ZnSnS4 (CZTS) ditambah dengan metode- metode baru seperti Successive Ionic Layer Adsorption and Reaction (SILAR) membuka peluang baru menuju sel surya yang murah dengan efisiensi yang lebih tinggi. Penelitian ini mencoba melihat pengaruh perubahan waktu pencelupan kationik pada metode SILAR untuk membuat lapisan tipis CZTS, untuk meningkatkan kristalinitas beberapa sampel dianil pada suhu 300oC selama 180 menit. Terjadinya peningkatan pada energi celah dari variasi waktu pencelupan 10, 20, 30, dan 40 detik untuk semua sampel, yang kemungkinan besar terjadi karena terbentuknya senyawa seperti ZnS pada sampel as deposited dan penguapan ion sulfur pada sampel yang dianil.

The emergence of new materials such as Cu2ZnSnS4 (CZTS) coupled with new methods such as the Successive Ionic Layer Adsorption and Reaction (SILAR) open new opportunities towards cheaper and higher efficiency solar cells. This study investigate the effect of cationic immersion time in SILAR method to produce CZTS film, to improve the crystallinity the samples were annealed at a temperature of 300oC for 180 minutes. An increase in the bandgap was found with the variation of immersion time 10, 20, 30, and 40 seconds for all samples, which is most possibly occurred because of the formation of compounds such as ZnS in as deposited samples and the evaporation of sulfur ion in annealed sample."
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S44248
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Nicko Azharry Setyabudi
"Polipropilena (PP) merupakan salah satu jenis polimer termoplastik yang dibuat oleh industri polimer hulu dan digunakan dalam berbagai aplikasi. Pada penggunaannya, PP banyak ditambahkan material lain (contoh: talcum) untuk meningkatkan kualitas dan memperbaiki sifat materialnya sesuai kebutuhan. Di Indonesia, PP merupakan salah satu material yang memiliki permintaan yang besar. Namun permintaan tersebut tidak diimbangi dengan produksi yang dilakukan oleh industri polimer hulu yang ada di dalam negeri. Pada tahun 2011, Indonesia menjadi negara pengimpor produk olefin terbanyak di ASEAN. Oleh karena itu, solusi alternatif diperlukan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya dengan menggunakan material daur ulang (regrind).
Studi ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik paduan yang terbentuk dari material regrind polipropilenatalcum (jenis komposit polipropilena yang banyak digunakan dalam industri otomotif) sehingga dapat diketahui apakah material regrind memiliki karakteristik yang tidak kalah baik dibandingkan material fresh-nya. Studi ini didukung dengan sebuah fakta bahwa material regrind polipropilena-talcum 20% memiliki titik leleh yang tidak berbeda jauh dengan temperatur leleh polipropilena (sekitar 176 °C), yaitu pada temperatur 176.4 °C.
Studi ini dilakukan dengan membentuk paduan dari material regrind polipropilena-talcum 20% dan 30% dan melalui proses dry mixing dan hot melt mixing. Karakteristik yang dikaji meliputi perubahan morfologi yang terjadi akibat proses regrinding dan pencampuran material, perilaku mekanik (kekuatan tarik dan modulus elastisitas), dan perilaku termal material tersebut.

Polypropylene (PP) is a thermoplastic polymer made by the polymer industry and used in various applications. In the application, PP is added to other material (eg, talcum) to improve the quality and enhance the properties of material. In Indonesia, the PP is one of the materials that have a great demand. But the request is not matched by production undertaken by the existing polymer industry in the country. In 2011, Indonesia became a net importer of most olefin products in ASEAN. Therefore, an alternative solution is needed to solve this problem, such as using recycled materials (regrind).
This study was conducted to examine the characteristics of the alloy is formed from polypropylene-talcum regrind material (polypropylene composites are widely used in the automotive industry) to know whether regrind material characteristics has significant differences compared to the fresh material. This study was supported by the fact that regrind material polypropylene-talcum 20% has a melting point which is not much different from the polypropylene melting temperature (around 176.0 °C), which is at 176.4 °C.
This study was conducted to form alloys of polypropylene regrind material-talcum 20% and 30% and through the process of dry mixing and hot melt mixing. Characteristics examined include morphological changes that occur due to the regrinding and mixing materials, mechanical behavior (tensile strength and modulus of elasticity), and the thermal behavior of the material.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S47763
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ichsan Pandu Wicaksono
"

Perovskite halida logam organik dapat menyerap sinar matahari dan meningkatkan efisiensi konversi energi tanpa biaya pembuatan yang tinggi. Namun, sebelum teknologi PSC dipasarkan secara massal, masalah stabilitas, toksisitas, dan daur ulang perlu diselesaikan. Sintesis hijau adalah alternatif yang murah dan teknik yang sepenuhnya dapat diakses untuk memproduksi nanopartikel yang saat ini sedang dieksplorasi dalam sintesis TiO2. Dalam penelitian ini, ekstrak alami diperoleh dengan mencampurkan daun Basella rubra dengan air distilasi atau air distilasi + Etanol dalam magnetic stirrer selama 30 menit. Ekstrak-ekstrak ini selanjutnya digunakan sebagai media untuk mensintesis nanopartikel TiO2 menggunakan prekursor titanium isopropoksida (TTIP). Karakterisasi nanopartikel TiO2 yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Fourier-Transform Infrared (FTIR) spectroscopy, Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Ultraviolet-Visible (UV-Vis) spectroscopy, sedangkan kinerja dalam perangkat sel surya perovskite (PSC) dianalisis menggunakan sumber meter yang terhubung dengan simulator surya. Hasilnya menunjukkan bahwa nanopartikel TiO2 yang disintesis secara hijau memiliki struktur kristal anatase dengan ukuran kristalin rata-rata yang lebih kecil dibandingkan dengan rekan komersialnya. Pengamatan menggunakan SEM menunjukkan bahwa morfologi nanopartikel terdiri dari setidaknya dua jenis partikel, yaitu bentuk yang kasar hampir tajam dan bentuk kecil yang terdistribusi secara uniform. Puncak absorbansi dari UV-Vis juga mengonfirmasi pembentukan nanopartikel TiO2 yang disintesis secara hijau dengan energi celah pita sebesar 2,85 eV. Untuk memperoleh kinerja, kurva I-V dianalisis untuk mendapatkan efisiensi konversi daya (PCE). Hasil kurva I-V menunjukkan banyak tanda ketidakstabilan dengan kurva yang memiliki kepadatan arus yang naik dan turun secara sporadis, kemungkinan disebabkan oleh proses pembuatan PSC atau nanopartikel TiO2 yang kurang baik. Nilai PCE tertinggi didapat dari PSC yang difabrikasi dari TiO2 yang disintesis secara hijau dengan pelarut air distilasi + etanol (0,355%) diikuti oleh yan gmenggunakan pelarut air distilasi (0,2467%), yan gmenggunakan pelarut air distilasi + etanol (0,1976%), dan yang menggunakan pelarut air distilasi saja (0,0620%). Bahan TiO2 komersial P25 yang digunakan sebagai perbandingan dalam penelitian ini hanya menghasilkan nilai PCE 0,0259%, relative lebih rendah dibandingkan dengan yang disintesis secara hijau."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutabarat, Surya Dharma
"Sintesis Li4Ti5O12 telah banyak diteliti karena merupakan material yang menjanjikan sebagai anoda baterai ion lithium dibandingkan dengan anoda konvensional seperti carbon. Preparasi sampel TiO2 dilakukan melalui proses solgel Rw 3,5. Lithium titanat disintesiss dengan metode solid-state dengan variabel perbedaan kadar LiOH untuk mengetahui pengaruhnya terhadap struktur kristal, sifat elektrokimia lithium titanat yang dihasilkan. Sampel yang disinteis terdiri dari 3 jenis yaitu penambahan massa LiOH secara stokiometri, massa LiOH berlebih 50% dari stokiometri dan 100% berlebih dari stokiometri. Sampel dikarakterisasi menggunakan EDS, BET, XRD, SEM, dan UV-VIS.
Hasil penelitian menunjukkan, lithium titanat yang dihasilkan dengan perbandingan kadar LiOH dengan TiO2 secara stokiometri memilki tingkat kecocokan tertinggi, ukuran partikel dan energi celah terkecil dan luas permukaan terbesar bila dibandingkan dengan sampel yang kadar LiOH dibuat berlebih. Pengaruh dari perbedaan kadar LiOH dapat membentuk pengotor TiO2 rutile dan Li2TiO3.

Synthesis of Li4Ti5O12 has been widely studied as a promising material as an anode of lithium ion batteries compared to conventional anodes like carbon. Preparation sample of TiO2 is done through a process sol-gel Rw 3.5. Lithium titanate synthesized by solid-state method with variable of LiOH ratio to determine the their effects on the crystal structure, electrochemical properties of lithium titanate produced. Samples were synthesized consisting of three types, which are the addition of LiOH in stoichiometric, mass excess LiOH 50% and 100% of the stoichiometric. The samples were characterized using EDS, BET, XRD, SEM, and UV-VIS.
The results showed, lithium titanate synthesized by stoichiometric ratio of LiOH and TiO2 have the highest match rate, lowest particle size and energy gap and largest surface area, compared to samples synthesized excessive levels of LiOH. The effect of mass variation of LiOH can make impurities like TiO2 rutile and Li2TiO3.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S56947
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muksin, Author
"Litium titanat (Li4Ti5O12) merupakan senyawa yang digunakan sebagai anoda baterai ion litium. Senyawa litium titanat disintesis berdasarkan metode solid state dengan mereaksikan TiO2 xerogel yang dibuat dengan metode sol-gel dan litium oksida (Li2O). Dalam penelitian ini menggunakan tiga variasi penambahan kadar massa litium oksida (Li2O); massa Li2O sesuai stokiometri (0% melebihi stokiometri), 50% massa Li2O melebihi stokiometri dan 100% melebihi nilai stokiometri. Pengaruh dari penambahan kadar massa litium oksida (Li2O) pada struktur, morfologi, dan energi celah pita tersebut diamati. Sampel yang terbentuk diuji dengan menggunakan X-Ray diffraction, scanning electron microscope (SEM) dan UV-Vis spectroscopy.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan penambahan massa Li2O sesuai stokiometri membentuk senyawa Li4Ti5O12 dan pengotor seperti TiO2 rutile dan Li2TiO3 dengan ukuran kristalit 13,7 nm, ukuran diameter partikel 0,540 μm band gap energy 3,864 eV, penambahan massa Li2O 50% melebihi stokiometri membentuk senyawa Li2TiO3 dengan ukuran kristalit 7,2 nm, ukuran diameter partikel 1,062 μm dan band gap energy 3,838 eV dan penambahan 100% massa Li2O melebihi stokiometri membentuk Li2TiO3 dengan ukuran kristalit 12,4 nm, ukuran diameter partikel 1,916 μm dan band gap energy 3,778 eV. Senyawa Li4Ti5O12 terbentuk hanya dengan penambahan Li2O sesuai stokiometri. Untuk mensintesis senyawa Li4Ti5O12 bebas dari pengotor mengunakan metode solid state dapat mengacu pada diagram fasa Li2O-TiO2 (29% mol Li2O-71% mol TiO2).

Lithium titanate (Li4Ti5O12) is anode material for application in lithium ion battery. Lithium titanate was synthesized by solid-state method using xerogel TiO2 was prepared by sol–gel process and commercial lithium oxide (Li2O) powder. This research uses 3 various content of lithium oxide (Li2O); 0% Li2O mass excess, 50% Li2O mass excess, and 100% Li2O mass excess. The effect of adding lithium oxide (Li2O) on structure, morphology of particle surface, and band gap energy was examined. Samples were obtained by X-ray diffraction, scanning electron microscope (SEM), ultraviolet visible (UV-Vis).
The results show with adding lithium oxide stoichiometry (0% Li2O excess) produces Li4Ti5O12 and impurities such as rutile TiO2 and Li2TiO3, it produces Li2TiO3 with 50% Li2O excess and it produces Li2TiO3 with 100% Li2O excess. In this research show with appropriate of stochiometry content (0% Li2O excess) produces Li4Ti5O12 with crystallite size is 13,7 nm and impurities namely Li2TiO3 with crystallite size is 22,8 nm and TiO2 with crystallite size 9,14 nm, diameter particle size is 0,540 μm and bandgap energy 3,864 eV. 50% Li2O excess produces Li2TiO3 with crystallite size 7,2 nm, diameter particle size is 1,062 μm and bandgap energy 3,838 eV and with 100% Li2O excess produces Li2TiO3 with crystallite size 12,4 nm, diameter particle size is 1,916 μm and band gap energy is 3,778 eV. The Li4Ti5O12 compound was formed only with appropriate of stoichiometry content. In order to make high purity of Li4Ti5O12 compound on solid state reaction, Li2O-TiO2 phase diagram (29% mol Li2O-71% mol TiO2) can be used as reference.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S56740
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hasan Mustofa
"Dewasa ini penelitian karakterisasi nanostruktur berfokuskan TiO2 sebagai sumber energi alternatif terbarukan telah banyak dilakukan karena sifatnya yang ramah lingkungan serta fotosensitifitas yang tinggi. Salah satu cara sintesis nanostruktur TiO2 yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode sol-gel yang dikenakan perlakuan Pra-Hidrotermal dengan variasi temperatur proses 100°C, 120°C, dan 150°C diikuti pengeringan dan kalsinasi bertahap yang dibandingkan dengan perlakuan Ekstraksi Superkritis pada tekanan dan temperatur krisis gas CO2 selama 2 jam yang secara khusus menginvestigasi titik optimum proses untuk integrasi DSSC. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampel Pra-Hidrotermal 120°C memiliki energi celah pita 3.29 eV dengan tegangan terbuka sebesar 320 mV, sedangkan Aerogel memiliki luas permukaan tertinggi (110.32 m2/g) dengan energi celah pita 3.329 eV.

Nowadays, research of TiO2’s nanostructure has been focused as alternative energy renewable due to its properties such as eco-friendly and high photosensitivity. Sol-gel method is one of technique that synthesize TiO2 nanostructure which followed with pre-hydrothermal process each at three temperature variable 100˚, 120˚ and 150˚C for 14 hours ambient drying and multi-step calcination as comparison with Supercritical extraction at critical temperature and pressure of CO2 for 2 hours this route was specifically aimed optimum poin for DSSC integrated. The result of investigation showed that Pre-Hydrothermal 120˚C has the lowest the band gap energy 3.29 eV with open voltage circuit 320 mV, mean while Aerogel has the highest of surface area (110 m2/g) with the band gap energy 3.329 eV.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S57024
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>