Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Daffa Musyaffa
"Sungai Cibeet yang berada di Jawa Barat merupakan anak dari Sungai Citarum yang menjadi batas alami antara Kabupaten Bekasi dan Karawang dengan total panjang aliran mencapai 101 km. Daerah penelitian yang berada di Sungai Cibeet, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat termasuk ke dalam Peta Geologi Lembar Cianjur. Terdapat beberapa tipe formasi yang tersingkap dengan baik pada daerah penelitian, salah satunya adalah Formasi Cantayan. Satuan batupasir dari Formasi Cantayan tersingkap dengan struktur perlapisan yang sangat baik di daerah aliran Sungai Cibeet, Kecamatan Tanjungsari yang menjadi objek ideal untuk melakukan studi Provenance. Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah pembuatan measuring section, analisis granulometri, dan analisis petrografi untuk mengetahui karakteristik batupasir dan mengetahui tatanan tektonik dari batuan asal. Log stratigrafi yang telah diukur pada 21 titik menghasilkan total ketebalan lapisan kumulatif sebesar 253,35 m yang terbagi ke dalam 10 jenis fasies, yaitu fasies batulempung, fasies batupasir berlapis tipis sisipan batulempung, fasies perselingan batupasir dan batulempung berlapis tipis, fasies batupasir masif, fasies batupasir berlapis tebal sisipan batulempung, fasies batupasir laminasi, fasies batupasir berlapis tebal sisipan batulempung dan breksi polimik, fasies batupasir mengasar keatas, fasies breksi polimik sisipan batupasir, dan fasies breksi polimik. Hasil analisis granulometri menunjukkan bahwa batupasir di daerah penelitian memiliki butir yang yang didominasi dengan ukuran pasir halus sampai pasir kasar dan memiliki sortasi baik hingga menengah. Hasil analisis petrografi menunjukkan bahwa batupasir di daerah penelitian memiliki jenis lithic arenite yang berasal dari tatanan tektonik magmatic arc dengan tipe undissected arc yang terendapkan di cekungan belakang busur. Integrasi antara stratigrafi, analisis granulometri, dan analisis petrografi menunjukkan bahwa daerah penelitian terendapkan di kipas bawah laut pada kala Miosen Akhir yang bersumber dari busur magmatik Jawa.

The Cibeet River in West Java is a child of the Citarum River which is the natural boundary between Bekasi and Karawang Regencies with a total flow length of 101 km. The research area is on the Cibeet River, Tanjungsari District, Bogor Regency, West Java, included in the Geological Map Sheet of Cianjur. Several types of formations are well revealed in the research area, one of which is the Cantayan Formation. Sandstone units from the Cantayan Formation are exposed with excellent bedding structures in the Cibeet River basin, Tanjungsari District, which is an ideal object for conducting Provenance studies. The methods that will be used in this research are making measurements, granulometric analysis, and petrographic analysis to determine the characteristics of sandstone and determine the tectonic setting of the original rock. Stratigraphic logs that have been measured at 21 points produce a total thickness of the accumulated layer of 253.35 m which is divided into 10 types of facies, namely mudstone facies, thin layered sandstone facies interbedded with mudstone, interbedded sandstone and thin layered mudstone facies, massive sandstone facies, facies thick-bedded sandstone with mudstone inserts, laminated sandstone facies, thick-bedded sandstone facies with mudstone and polymic breccia, coarse-upward sandstone facies, polymic breccia facies with sandstone inserts, and polymic breccia facies. The results of the granulometric analysis show that the sandstone in the study area has grains that are dominated by fine sand to coarse sand and have good to medium sorting. The results of the petrographic analysis show that the sandstone in the study area has a lithic arenite type originating from a magmatic arc tectonic setting with an undissected arc type that was deposited in the back-arc basin. Integration between stratigraphy, granulometric analysis, and petrographic analysis shows that the research area was deposited in an underwater fan during the late Miocene that originated from the Javanese magmatic arc."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maltin Palulun
"Penelitian geologi dilakukan di Kabupaten Sukabumi yang memiliki luas sekitar 4.145  dan terbagi menjadi 47 Kecamatan. Berdasarkan data statistik BNPB tahun 2021, tercatat di Jawa Barat terjadi kurang lebih 585 bencana dan 268 diantaranya adalah tanah longsor. Bencana tanah longsor tersebut diketahui berdampak pada lebih dari 8000 orang baik secara material maupun imaterial. Dari 268 bencana tanah longsor tersebut, 44 diantaranya terjadi di Kabupaten Sukabumi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi kerentanan gerakan tanah di daerah penelitian dan daerah zonasi kerentanan gerakan tanah dalam waktu yang cepat. Penelitian dilakukan berdasarkan metode frequency ratio dan information value yang telah dikemas dengan menggunakan LSAT toolbox. Dari kesepuluh parameter kerentanan gerakan tanah yang dipakai, intensitas curah hujan, jenis litologi, dan kemiringan lereng adalah faktor utama terjadinya longsor di Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan metode frequency ratio dan information value, persebaran gerakan tanah di wilayah Kabupaten Sukabumi dibagi menjadi 5 (lima) kelas yaitu kelas sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Dalam analisis menggunakan kedua metode tersebut, wilayah Kabupaten Sukabumi didominasi oleh kelas kerentanan gerakan tanah yang tinggi-sangat tinggi. Tipe kerentanan gerakan tanah tersebut ditemukan dominan pada Formasi Beser. Kemampuan prediksi dan keberhasilan algoritma frekuensi rasio lebih baik daripada algoritma nilai informasi.

Geological research was carried out in Sukabumi Regency, which has an area of around 4,145 km² divided into 47 sub-districts. Based on BNPB statistical data for 2021, West Java recorded approximately 585 disasters, 268 of which were landslides. The landslide disaster is known to have impacted more than 8,000 people both materially and immaterially. Of the 268 landslides, 44 occurred in Sukabumi Regency. The aim of the research is to obtain information about the factors influencing the vulnerability to land movements in the research area and the zoning area for land movement susceptibility in a short time. The research was carried out based on the frequency ratio and information value method, which was packaged using the LSAT toolbox. Of the ten landslide vulnerability parameters used, rainfall intensity, lithology type, and slope are the main factors causing landslides in Sukabumi Regency. Based on the frequency ratio and information value methods, the distribution of land movement potential in Sukabumi Regency is divided into five classes: very low, low, medium, high, and very high. In the analysis using these two methods, the Sukabumi district area is dominated by the high to very high ground movement vulnerability class. The type of landslide vulnerability was found to be dominant in the Beser Formation. The prediction ability and success of the frequency ratio algorithm are better than the information value algorithm."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Angel Nathasya Emerald
"Lokasi penelitian berada di kawasan PT Aneka Tambang Tbk Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan zona profil laterit berdasarkan hasil domaining, memodelkan endapan nikel laterit berdasarkan data bor untuk selanjutnya diestimasi kadar dan tonasenya, mengklasifikasi tingkat keyakinan geologi pada wilayah penelitian, serta menentukan metode yang paling ideal dalam mengestimasi sumberdaya nikel laterit pada wilayah penelitian. Metode yang digunakan untuk pengolahan dan analisis data pada penelitian ini adalah analisis statistik univarian, metode ordinary kriging, metode inverse distance weighting, serta nearest neighbour point. Unsur yang diestimasi berupa Ni. Data yang digunakan berupa data sekunder yang mencakup data collar, survey, assay, dan foto core sebagai validasi. Zona domain geologi yang terdapat pada penelitian ini terbagi menjadi zona tanah, limonit, saprolit, dan bedrock. Zona mineralisasi yang akan diestimasi ialah zona limonit dan saprolit. Densitas untuk zona limonit ialah sebesar 1,8 gr/cm3 dan untuk zona saprolit sebesar 1,7 gr/cm3. Klasifikasi sumberdaya didasari oleh jarak antar spasi bor. Kualitas nikel yang termasuk ke dalam sumberdaya ditentukan berdasarkan nilai cutoff grade (COG) yang beragam mulai dari 1% hingga 2,5%. Hasil klasifikasi dengan menggunakan cut off grade 1,5% menunjukkan daerah penelitian terdiri atas kelas terukur dengan kadar sebesar 1,77% dan tonase sebesar 855.390,6 ton. Kategori terukur menandakan pada daerah penelitian memiliki tingkat keyakinan geologi yang tinggi untuk membuktikan kemenerusan kadar dan kandungan mineral serta memiliki nilai yang ekonomis untuk ditambang.

The research location is in the area of PT Aneka Tambang Tbk, Pomalaa District, Kolaka Regency, Southeast Sulawesi. The objectives of this study are to map the laterite profile zone based on domaining results, model laterite nickel deposits based on drill data for further estimation of grade and tonnage, classify the level of geological confidence in the study area, and determine the most ideal method in estimating nickel laterite resources in the study area. The methods used for data processing and analysis in this study are univariant statistical analysis, ordinary kriging method, inverse distance weighting method, and nearest neighbor point. The element estimated is Ni. The data used is secondary data which includes collar, survey, assay, and photo core data as validation. The geological domain zones contained in this study are divided into soil, limonite, saprolite and bedrock zones. The mineralized zones to be estimated are the limonite and saprolite zones. The density for the limonite zone is 1.8 gr/cm3 and for the saprolite zone is 1.7 gr/cm3. Resource classification is based on the distance between drill spacings. The quality of nickel included in the resource is determined based on the cut-off grade (COG) which varies from 1% to 2.5%. Classification results using a cut off grade of 1.5% show that the study area consists of a measured class with a grade of 1.77% and a tonnage of 855,390.6 tons. The measured category indicates that the study area has a high level of geological confidence to prove the continuity of the grade and mineral content and has an economic value to be mined."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khowash Syarfah Itsnaen
"Cekungan Sunda merupakan salah satu cekungan sedimen penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia. Reservoar utama berupa batupasir pada cekungan tersebut berada pada Formasi Talang Akar. Formasi ini terendapkan di daerah fluvio-deltaic atau fluvial sampai daerah transisi, sehingga karakter reservoar batupasir formasi ini cukup beragam. Untuk memaksimalkan hal ini dilakukan studi terkait lingkungan pengendapan dan zona potensi reservoar hidrokarbon melalui analisis log sumur, batuan inti, dan laporan biostratigrafi. Berdasarkan hasil analisis pola elektrofasies, daerah penelitian terdiri dari empat pola yaitu cylindrical, bell, symmetrical, dan serrated. Hasil asosiasi fasies daerah penelitian diinterpretasikan sebagai tidal sand bar, tidal point bar, intertidal flat, dan marsh/swamp yang berada pada lingkungan pengendapan tide-dominated estuary. Pada analisis petrofisika didapat nilai rata-rata parameter petrofisika kelima sumur yaitu Volume Shale (Vsh): 15.2% – 26.8%; Porositas Efektif (PHIE): 19.3% – 25.5%; Saturasi Air (Sw): 28% – 53.9%. Nilai ketebalan zona hidrokarbon (net pay) dihitung dengan parameter cut off yaitu Vsh ≤ 58%, porositas ≥ 8%, dan Sw ≤ 88%. Net pay atau total ketebalan zona hidrokarbon pada kelima sumur antara lain yaitu K-1 72.5 ft, K-2 182.5 ft, K-3 249.91 ft, K-4 59.3 ft, dan K-5 11.5 ft.

The Sunda Basin is one of the largest hydrocarbon-producing sedimentary basins in Indonesia. The main sandstone reservoir in the basin is the Talang Akar Formation. This formation was deposited in fluvio-deltaic or fluvial to transitional areas, so the character of the sandstone reservoir of this formation is quite diverse. To maximize this, a study was conducted related to the depositional environment and potential hydrocarbon reservoir zones through the analysis of well logs, cores, and biostratigraphic reports. Based on the results of the electrofacies pattern analysis, the research area consists of four patterns, namely cylindrical, bell, symmetrical, and serrated. The results of the facies association of the research area are interpreted as tidal sand bar, tidal point bar, intertidal flat, and marsh/swamp in a tide-dominated estuary depositional environment. In the petrophysical analysis, the average value of the petrophysical parameters of the five wells is obtained, namely Volume Shale (Vsh): 15.2% - 26.8%; Effective Porosity (PHIE): 19.3% - 25.5%; Water Saturation (Sw): 28% - 53.9%. The hydrocarbon zone thickness value (net pay) was calculated with cut off parameters of Vsh ≤58%, porosity ≥8%, and Sw ≤88%. Net pay or total hydrocarbon zone thickness in the five wells are K-1 72.5 ft, K-2 182.5 ft, K-3 249.91 ft, K-4 59.3 ft, and K-5 11.5 ft."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ikrimah Muzakkir
"Penelitian Kawasan Ertsberg East Skarn System (EESS) merupakan endapan skarn mineralisasi Cu-Au. Kegiatan pertambangan pada kawasan EESS sudah masuk tahap produksi, namun masih terdapat tahap eksplorasi lanjutan yang menjadi latar belakang penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik geologi, alterasi, dan mineralisasi serta mengkorelasikannya dengan data kandungan unsur kimia pada kawasan EESS. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan analisis terhadap data bor sehingga karakteristik geologi, alterasi, dan mineralisasi diketahui. Lalu dilakukan analisis komprehensif dengan mengkorelasikan karakteristik- karakteristik tersebut dengan data assay dan XRF. Terdapat empat batuan asal pada lokasi yaitu granodiorit, mudstone, batupasir, dan batulanau. Terdapat tiga formasi yaitu Intrusi Erstberg, Formasi Waripi, dan Formasi Ekmai. Terdapat sesar Ertsberg 1. Terdapat sembilan zona alterasi yaitu (Biotit sekunder + K feldspar), (Magnetit + Diopsid ± Garnet ± Klorit ± Epidot), (Magnetit + Diopsid ± Garnet ± Anhidrit ± Serpentin), (K feldspar + Klorit ± Biotit sekunder), (Serisit), (Pirit + Pirotit ± Magnetit), (Kuarsa), (Diopsid ± Epidot ± Garnet ± Klorit ± Magnetit), dan (Kalsit). Kandungan Cu paling tinggi pada alterasi eksoskarn pada Formasi Waripi dan paling rendah pada alterasi kalsit. Mineral magnetit memperburuk bacaan metode XRF.

Ertsberg East Skarn System (EESS) area is a Cu-Au mineralized skarn deposit. Mining activities in the EESS have entered the production stage, but there is still an advanced exploration stage which is this research’s background. This research aims to identify and analyze geological characteristics, alteration and mineralization and correlate them with chemical data in EESS area. This research was carried out by analyzing drill data so that the characteristics of geology, alteration and mineralization are known. Then a comprehensive analysis was carried out by correlating these characteristics with assay and XRF data. There are four protoliths at the location, granodiorite, mudstone, sandstone and siltstone. There are three formations, the Erstberg Intrusion, Waripi Formation, and Ekmai Formation. There is the Ertsberg 1 fault. There are nine alteration zones, (Secondary biotite + K feldspar), (Magnetite + Diopside ± Garnet ± Chlorite ± Epidote), (Magnetite + Diopside ± Garnet ± Anhydrite ± Serpentine), (K feldspar + Chlorite ± Secondary biotite ), (Sericite), (Pyrite + Pyrrhotite ± Magnetite), (Quartz), (Diopside ± Epidote ± Garnet ± Chlorite ± Magnetite), and (Calcite). The Cu content is highest in exoskarn alteration in the Waripi Formation and lowest in calcite alteration. The mineral magnetite worsens the XRF readings."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadda Zafira Aw
"Penelitian dilakukan pada kawasan Lapangan Penambangan Emas Gosowong yang merupakan zona endapan mineralisasi Au-Ag. Tujuan dari penelitian ini untuk memodelkan sebaran litologi, alterasi, dan urat serta menentukan dan memodelkan domain estimasi berdasarkan kontrol geologi pada mineralisasi emas. Metode analisis data menggunakan analisis statistik dan pemodelan implisit berbasis fungsi radial basis (RBF). Penelitian ini dilakukan menggunakan data bor berupa data collar, survey, assay, litologi, alterasi, dan persen kuarsa. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah pemodelan 3D dan domain estimasi sumber daya emas yang berada pada lokasi penelitian. Pada pemodelan litologi terdapat empat anggota formasi yaitu Basaltik Gosowong, Andesitik Gosowong, Kuarter, Penutup Terbaru. Pada pemodelan alterasi terdapat tiga zona alterasi yaitu argilik, propilitik, dan silikat. Alterasi silikat merupakan penanda area proksimal. Terdapat total 18 urat dengan orientasi dominan ke timur. Berdasarkan arah alterasi silikat dan urat yang seragam, dapat diperkirakan bahwa area proksimal terletak pada barat hingga utara area luar penelitian. Terdapat empat domain yang didapatkan dan diuji normalitas datanya yaitu Domain East (A) berupa urat kuarsa pada alterasi silikat arah timur pada lokasi timur zona x, Domain Center (B) berupa urat kuarsa pada alterasi silikat arah barat laut, Domain West (C) berupa urat kuarsa pada alterasi silikat arah timur di bagian barat zona x, dan Domain West (D) berupa urat kuarsa pada alterasi silikat arah barat laut di bagian barat zona x.

The research was conducted in the Gosowong Gold Mining Field, which is an Au-Ag mineralization deposit zone. The purpose of this study is to model the distribution of lithology, alteration, and veins, as well as to determine and model the estimation domains based on geological controls on gold mineralization. The data analysis method used includes statistical analysis and implicit modeling based on radial basis function (RBF). This study was conducted using drilling data, including collar, survey, assay, lithology, alteration, and quartz percentage data. The results obtained from this study include 3D modeling and estimation domains of gold resources at the research location. The lithology modeling identified four formation members: Gosowong Basaltic, Gosowong Andesitic, Quaternary, and the Latest Cover. The alteration modeling identified three alteration zones: argillic, propylitic, and silicate. Silicate alteration serves as a marker for the proximal area. There are a total of 18 veins with a dominant eastward orientation. Based on the uniform direction of silicate alteration and veins, it is estimated that the proximal area is located from the west to the north outer area of the study area. Four domains were identified and their data normality tested: Domain East (A), consisting of quartz veins in silicate alteration with an eastward direction in the eastern part of zone x; Domain Center (B), consisting of quartz veins in silicate alteration with a northwestward direction; Domain West (C), consisting of quartz veins in silicate alteration with an eastward direction in the western part of zone x; and Domain West (D), consisting of quartz veins in silicate alteration with a northwestward direction in the western part of zone x."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Motota, Naufal Ammar
"Formasi Subang merupakan salah satu formasi dalam Cekungan Bogor (martodjojo, 1983). Menurut Assa (1980) Formasi Subang tersingkap di 3 daerah, yaitu Karawang, Purwakarta, dan Subang ketebelan dari Formasi Subang akan semakin menebal dengan arah pengendapan ke timur. Provenance menjadi fokus utama dalam penelitian kali ini, pengukuran ketebalan lapisan dan pengambilan sampe dengan ukuran hand specimen dilakukan untuk membantu penelitian. Analisis granulometri turut dilakukan untuk menentukan lingkungan pengendapan dan melakukan analisis butir. Namun, metode analisis utama yang digunakan adalah petrografi dengan komponen Q-F-L, Qp-Lv-Ls,dan Qm-F-L dipublikasikan oleh Dickinson & Suzcek (1979) dan Ingersoll & Suzcek (1979). Berdasarkan hasil analisis provenance utama daerah penelitian masuk ke dalam tipe magmatic arc menggunakan komponen Qp-Lv-Ls (Ingersoll & Suzcek, 1979), untuk sub-provenance masuk ke dalam undissected arc menggunakan komponen Q-F-L (Dickinson & Suzcek, 1979), dan dalam analisis provenance menggunakan komponen Qm-F-L (Dickinson & Suzcek, 1979) Qp-Lv-Ls (Ingersoll & Suzcek, 1979) didapatkan daerah penelitian masuk ke dalam tipe lithic recycled dan arc orogen. Tatanan tektonik yang sesuai dengan umur dan karakteristik batupasir daerah penelitian, yaitu Sunda arc (Jawa & Sumatera), Banda arc, Sulawesi, dan Halmahera. Namun, menggunakan analisis kualitatif arus purba merujuk Alam (2012) provenance daerah penelitian berasal dari Sunda arc (Jawa).

The Subang Formation is one of the formations within the Bogor Basin (Martodjojo, 1983). According to Assa (1980), the Subang Formation is exposed in three areas, namely Karawang, Purwakarta, and Subang. The thickness of the Subang Formation increases towards the east during deposition. Provenance is the main focus of this research, where thickness measurements of layers and collection of hand specimen-sized samples were conducted to aid the study. Granulometric analysis was also performed to determine the depositional environment and conduct grain analysis. However, the primary analytical method used was petrography with Q-F-L, Qp-Lv-Ls, and Qm-F-L components, as published by Dickinson & Suzcek (1979) and Ingersoll & Suzcek (1979). Based on the analysis results, the main provenance of the research area falls into the magmatic arc type using Qp-Lv-Ls components (Ingersoll & Suzcek, 1979), while the sub-provenance falls into the undissected arc type using Q-F-L components (Dickinson & Suzcek, 1979). In provenance analysis, the Qm-F-L (Dickinson & Suzcek, 1979) and Qp-Lv-Ls (Ingersoll & Suzcek, 1979) components indicate that the research area falls into lithic recycled and arc orogen types. The tectonic setting corresponds to the age and characteristics of the sandstone in the research area, which are the Sunda arc (Java & Sumatra), Banda arc, Sulawesi, and Halmahera. However, using qualitative analysis of ancient currents referring to Alam (2012), the provenance of the research area is believed to originate from the Sunda arc (Java)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizka Destiana Novani
"Jakarta dikenal sebagai wilayah pesisir dan wilayah padat penduduk dengan banyak aktivitas ekstraksi air tanah. Penelitian sebelumnya menggunakan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) menunjukkan bahwa wilayah pesisir utara Jakarta mengalami laju penurunan tertinggi. Namun hingga kini, data pengamatan kontinyu untuk memahami distribusi spasial laju penurunan dalam waktu yang panjang di area yang luas seperti Jakarta belum banyak tersedia. Dalam penelitian ini digunakan Citra Sentinel-1 selama 8 tahun di antara November 2014 hingga Juni 2023. Melalui InSAR dapat terlihat distribusi spasial penurunan dalam area Jakarta keseluruhan untuk menganalisis pola penurunan yang terjadi di Jakarta dengan titik-titik area spesifik dalam waktu yang panjang dinamakan displacement time-series. Pengamatan dengan historical satellite imagery memungkinkan untuk dapat menganalisis perkembangan yang terjadi di Jakarta selama tahun pengamatan InSAR dalam kaitannya dengan pola penurunan yang terjadi. Hasil analisis menunjukkan penurunan di Jakarta lebih terfokus di wilayah pesisir utara dengan laju penurunan tertinggi yang kemungkinan disebabkan oleh konsolidasi sedimen. Wilayah timur Jakarta mengalami penurunan yang disebabkan oleh adanya aktivitas konstruksi. Ditemukan pola penurunan menarik yang terdapat di wilayah barat dan pusat Jakarta, dimana telah mengalami perlambatan penurunan secara signifikan setelah tahun 2020. Tersaji sebuah fakta bahwa tidak semua wilayah di Jakarta mengalami penurunan karena wilayah selatan Jakarta terlihat tidak ada penurunan signifikan yang terjadi. Selain memahami penurunan di Jakarta, penelitian ini juga mencoba memahami deformasi yang terjadi di area Sesar Baribis segmen sekitar Jakarta menggunakan data InSAR yang sama dalam waktu pengamatan yang sama dengan analisis penurunan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pemahaman terkait aktivitas tektonik di sekitar Jakarta. Jakarta tercatat pernah mengalami gempa merusak yang disebabkan oleh aktivitas Sesar Baribis pada 10 Oktober 1834. Hingga kini, belum banyak penelitian terkait deformasi Sesar Baribis yang telah terbukti aktif dan hanya berjarak ± 12 km dari wilayah paling timur Jakarta. Penelitian sebelumnya menggunakan metode GPS pada segmen sesar yang sama menunjukkan bahwa estimasi slip rate Sesar Baribis berkisar antara 0.4–1.8 mm/year. Dalam penelitian ini, estimasi slip rate Sesar Baribis berkisar antara 0.1–1.5 mm/year. Lokasi sesar yang berada di wilayah kota besar menjadi tantangan dan faktor ketidakakuratan dalam menganalisis dan memahami pergerakan di area sesar ini karena sinyal penurunan muka tanah yang lebih besar daripada sinyal pergerakan sesar. Oleh karena itu, hasil estimasi slip rate tersebut diperlukan penelitian lebih lanjut guna mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Jakarta is known as a coastal area and densely populated area with a lot of groundwater extraction activities. Previous research using Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) showed that the northern coastal area of ​​Jakarta experienced the highest rate of decline. However, until now, continuous observation data to understand the spatial distribution of decline rates over a long period in a large area such as Jakarta has not been widely available. In this research, Sentinel-1 imagery was used for 8 years between November 2014 and June 2023. Through InSAR, you can see the spatial distribution of subsidence in the entire Jakarta area to analyze the subsidence pattern that occurs in Jakarta at specific area points over a long period, called displacement time-series. Observations with historical satellite imagery make it possible to analyze developments that occurred in Jakarta during the InSAR observation year about the pattern of decline that occurred. The results of the analysis show that the decline in Jakarta is more focused in the northern coastal area with the highest rate of decline, which is likely caused by sediment consolidation. The eastern region of Jakarta experienced a decline caused by construction activity. An interesting pattern of decline was found in the western and central areas of Jakarta, where the decline experienced a significant slowdown after 2020. The fact is that not all areas in Jakarta experienced a decline because the southern region of Jakarta saw no significant decline. Apart from understanding the subsidence in Jakarta, this research also tries to understand the deformation that occurred in the Baribis Fault area around Jakarta using the same InSAR data in the same observation time as the subsidence analysis. This is due to a lack of understanding regarding tectonic activity around Jakarta. Jakarta is recorded as having experienced a damaging earthquake caused by the activity of the Baribis Fault on October 10, 1834. Until now, there has not been much research regarding the deformation of the Baribis Fault which has been proven to be active and is only ± 12 km
from the easternmost area of ​​Jakarta. Previous research using the GPS method on the same fault segment showed that the estimated slip rate of the Baribis Fault ranged from 0.4–0.8 mm/year. In this study, the estimated slip rate value of the Baribis Fault ranges from 0.1–1.5 mm/year. The location of the fault in a large city area is a challenge and a factor of inaccuracy in analyzing and understanding movement in this fault area because the land subsidence signal is greater than the fault movement signal. Therefore, the results of the slip rate estimation require further research to obtain more accurate results.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ravano Salfarisi Maskar
"Gerakan massa tanah atau batuan terjadi karena ketidakseimbangan gaya pada lereng, di mana gaya pendorong lebih besar daripada gaya penahan akibat pengaruh gravitasi dan gaya eksternal seperti gempa bumi. Penelitian ini dilakukan di lereng batuan Gunung Batu, Kecamatan Lembang, yang berada di zona Sesar Lembang. Tujuan penelitian adalah menganalisis kestabilan lereng dan pengaruh gempa bumi terhadap kestabilan tersebut. Data yang diperlukan mencakup orientasi dan kondisi bidang diskontinuitas, sifat fisik, sifat mekanik, dan peak ground acceleration. Analisis kinematik dan deterministik digunakan untuk mengidentifikasi potensi dan jenis kegagalan lereng serta nilai faktor keamanan (FK). Hasil analisis menunjukkan potensi longsoran jenis planar, baji, dan guling. Nilai RMR adalah 65, sementara SMR adalah 100 untuk longsoran planar, dan 80,9 untuk longsoran baji dan guling. Pada kondisi statis, nilai FK untuk longsoran planar adalah 1,554, longsoran baji 2,506, dan longsoran guling 1,364. Pada kondisi dinamis, nilai FK untuk longsoran planar adalah 1,278, longsoran baji 2,220, dan longsoran guling 1,097. Analisis regresi linear menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara koefisien seismik horizontal dan faktor keamanan pada ketiga jenis longsoran.

Movement of soil or rock masses occurs due to an imbalance of forces on the slope, where the driving force exceeds the resisting force due to gravity and external forces such as earthquakes. This research was conducted on the rock slopes of Gunung Batu, Lembang District, located in the Lembang Fault zone. The study aims to analyze slope stability and the influence of earthquakes on this stability. Required data includes the orientation and condition of discontinuities, physical and mechanical properties, and peak ground acceleration. Kinematic and deterministic analyses are used to identify the potential and type of slope failure and the value of the safety factor (SF). Results indicate the potential for planar, wedge, and toppling landslides. The RMR value is 65, while the SMR is 100 for planar failure and 80.9 for wedge and toppling failure. Under static conditions, the SF values are 1.554 for planar, 2.506 for wedge, and 1.364 for toppling failures. Under dynamic conditions, the SF values are 1.278 for planar, 2.220 for wedge, and 1.097 for toppling failures. Linear regression analysis shows a very strong relationship between the horizontal seismic coefficient and safety factors for the three types of failure."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>