Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 107 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Budiawanti
"Film sensitif kelembaban berbasis PVA telah berhasil dipreparasi dan dideposisikan pada substrat berelektroda dengan metode dip-coating. Struktur elektroda substrat berupa interdigital dengan material elektroda terbuat dari film tembaga yang dilapis dengan perak.Untuk menghasilkan ikatan silang pada PVA digunakan ammonium perokdisulfat (APS) sebagai inisiator. Karakterisasi film meliputi struktur dan sifat listrik. Struktur film dikarakterisasi dengan XRD dan foto SEM, sedangkan sifat listrik film dikarakterisasi menggunakan RCL meter di dalam chamber yang kondisi kelembabannya dikontrol dengan menggunakan larutan garam jenuh. Frekuensi triger yang digunakan untuk karakterisasi divariasi mulai 1kHz-1MHz. Impedansi film sensitif kelembaban berbasis PVA secara umum menurun dengan meningkatnya kelembaban relatif. Impedansi film dipengaruhi oleh frekuensi triger pada RH rendah sedangkan pada RH tinggi efek frekuensi tidak terlalu berpengaruh. Film PVA-elektrolit menunjukkan reprodusibilitas fabrikasi dan stabilitas impedansi yang kurang baik. Cr2O3 digunakan sebagai modifikator untuk memperbaiki sifat sensing kelembaban film PVA-elektrolit. Hasil karakterisasi film PVA yang dimodifikasi dengan Cr2O3 menunjukkan bahwa penambahan Cr2O3 dapat memperbaiki reprodusibilitas fabrikasi dan stabilitas impedansi film PVA-elektrolit. Prosentase kenaikan impedansi dihitung dari impedansi awal film PVA yang dimodifikasi dengan Cr2O3 0,4% perhari sedangkan pada film PVA-elektrolit 1,2% perhari. Sifat sensing film PVA-elektrolit yang dimodifikasi dengan Cr2O3 tidak dipengaruhi oleh konsentrasi Cr2O3 tetapi lebih didominasi oleh konsentrasi elektrolitnya."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T20997
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jamilah
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
T39846
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alief Maulana Shiddiq
"Penelitian ini mengkaji kinerja UV detektor berbasis ZnO nanorods. ZnO dipilih sebagai material utama karena sifat-sifatnya yang unggul seperti band gap energi yang lebar, mobilitas elektron yang tinggi, dan sensitivitas terhadap sinar UV. Pengembangan UV detektor berbasis ZnO NRs dilakukan untuk mendapatkan material yang terbaik. Pengaruh radiasi UV/Ozone dilakukan untuk memodifikasi sifat-sifat material. Perlakuan UV/Ozone menghasilkan perubahan yang signifikan pada ZnO NRs, seperti modifikasi morfologi, peningkatan kristalinitas, dan efisiensi emisi PL. UV detektor berbasis ZnO NRs dengan UV/Ozone menunjukkan responsivitas yang signifikan dari 0.13 A/W menjadi 0.64 A/W. Peningkatan responsivitas ini juga menyebabkan peningkatan detektivitas dari 0.99×10^10 Jones menjadi 4.46×10^10 Jones. Selain itu sensitivitas dan efisiensi konversi foton ke listrik juga meningkat, dengan hasil terbaik menunjukkan peningkatan sensitivitas dari 25% menjadi 100% dan EQE 43.26% menjadi 216.28%. Hasil ini memberikan wawasan mendalam tentang potensi penerapan radiasi UV/Ozone dalam meningkatkan kinerja detektor UV berbasis ZnO NRs. Implikasinya adalah pengembangan UV detektor yang lebih responsif, sensitif, dan stabil untuk berbagai aplikasi, termasuk pengukuran radiasi UV, sensor lingkungan, dan teknologi fotovoltaik.

This research examines the performance of UV detectors based on ZnO nanorods. ZnO is chosen as the primary material due to its superior properties such as wide band gap energy, high electron mobility, and sensitivity to UV light. The development of UV detectors based on ZnO NRs is carried out to obtain the best material. The influence of UV/Ozone radiation is applied to modify the material properties. UV/Ozone treatment results in significant changes in ZnO NRs, such as morphological modifications, increased crystallinity, and enhanced PL emission efficiency. UV detectors based on ZnO NRs treated with UV/Ozone showed a notable increase in responsivity from 0.13 A/W to 0.64 A/W. This increased responsivity also led to an improvement in detectivity from 0.99×10^10 Jones to 4.46×10^10 Jones. Additionally, the sensitivity and the efficiency of converting photons to electricity also improved, with the best results showing an increase in sensitivity from 25% to 100% and EQE from 43.26% to 216.28%. These results provide valuable insights into the potential application of UV/Ozone radiation in enhancing the performance of UV detectors based on ZnO NRs. The implications include the development of more responsive, sensitive, and stable UV detectors for various applications, such as UV radiation measurement, environmental sensors, and photovoltaic technology."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Rahmadani
"

Plasma electrolytic oxidation (PEO) merupakan metode konversi permukaan logam menjadi lapisan oksida dengan bantuan plasma yang bertujuan untuk meningkatkan sifat mekanik permukaan dan ketahanan korosi logam. Retakan dan pori menurunkan ketahanan korosi dan sifat mekanik lapisan. Dalam penelitian ini digunakan zat aditif SiO2 dan metode post-alkali treatment pada lapisan PEO yang ditumbuhkan pada paduan magnesium AZ31 dan commercially pure titanium (CP-Ti). PEO dilakukan di dalam larutan 95 g/l Na3PO4 + 2 g/l KOH menggunakan rapat arus DC  sebesar 300 A.m-2 selama 10 menit. NP-SiO2 sebanyak 2 g/l ditambahkan di dalam larutan PEO. Setelah logam terlapisi, post-alkali treatment dilakukan di dalam larutan 0,5 M NaOH pada suhu 80 ºC selama 30 menit. Morfologi permukaan dan kandungan unsur lapisan dianalisis menggunakan SEM-EDS dan XPS. Komposisi fasa kristal diteliti menggunakan X-ray Difraction (XRD). Sifat mekanik lapisan PEO diuji dengan metode vickers microhardness dan ketahanan aus dievaluasi menggunakan metode Ogoshi. Sifat korosi dianalisis dengan uji polarisasi, EIS, dan uji rendam. Sifat bioaktivitas diteliti dengan cara perendaman sampel dalam larutan SBF. Hasil penelitian menunjukkan penambahan aditif SiO2 dan post-alkali treatment dapat meningkatkan ketahanan korosi dan sifat mekanik lapisan PEO pada logam Mg dan Ti. Pada PEO-Mg, lapisan PEO/SiO2+AT memiliki nilai rapat arus korosi paling rendah dan nilai kekerasan paling tinggi dibandingkan dengan sampel lainnya yaitu berturut-turut 7,34x10-7 A.cm-2 dan 359 HV. Tren yang sama juga dihasilkan pada PEO-Ti, lapisan PEO/SiO2+AT memiliki nilai rapat arus korosi relatif rendah dan nilai kekerasan paling tinggi dibandingkan dengan sampel lainnya yaitu berturut-turut 3,4x10-9 A.cm-2 dan 305 HV.


Plasma electrolytic oxidation (PEO) is a method of converting metal surfaces into an oxide layer with the help of plasma which aims to improve the surface mechanical properties and corrosion resistance of metals. Cracks and pores reduce the corrosion resistance and mechanical properties of the coating. In this research, SiO2 additives and post-alkali treatment methods were used on PEO layers grown on AZ31 magnesium alloy and commercially pure titanium (CP-Ti). PEO was carried out in a solution of 95 g/l Na3PO4 + 2 g/l KOH using a DC current density of 300 A.m-2 for 10 minutes. SiO2 additive with a concentration of 2 g/l was added to the PEO solution. After the metal is coated, post-alkali treatment is carried out in a 0.5 M NaOH solution at a temperature of 80 ºC for 30 minutes. The surface morphology and element content of the layers were analyzed using SEM-EDS and XPS. The composition of the crystal phase was investigated using XRD. The mechanical properties of the PEO coating were tested using the vickers microhardness and the wear resistance was evaluated using the Ogoshi method. Corrosion properties were analyzed by polarization test, EIS, and immersion test. The bioactivity properties were studied by immersing the samples in SBF. The research results show that the addition of SiO2 and post-alkali treatment can improve the corrosion resistance and mechanical properties of PEO layers on Mg and Ti metals. In PEO-Mg, the PEO/SiO2+AT layer has the lowest corrosion current density value and the highest hardness value compared to other samples, namely 7.34x10-7 A.cm-2 and 359 HV respectively. The same trend was also produced on PEO-Ti, the PEO/SiO2+AT layer had a relatively low corrosion current density value and the highest hardness value compared to other samples, namely 3.4x10-9 A.cm-2 and 305 HV respectively.

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silaen, Tambun
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T39840
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Wahyuni
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T39848
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reza Diharja
"Pendeteksian l-sistein menggunakan nanopartikel perak dengan memanfaatkan metode kolorimetri telah dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kurva kalibrasi pendeteksian l-sistein menggunakan nanopartikel perak berbentuk larutan. Selain itu, mengetahui respon pengaruh penambahan larutan garam NaCl, asam (HCl), basa (NaOH) dan pH terhadap hasil pendeteksian l-sistein. Spektrofotometer UV Vis dan kamera digital digunakan untuk mengkarakterisasi pendeteksian l-sistein dan pengaruh penambahan berbagai macam larutan. Spektrofotometer UV Vis digunakan untuk mengukur spektrum absorbansi larutan sedangkan kamera digital untuk merekam tampilan warna larutan. Nanopartikel perak berbentuk larutan berwarna kuning kecoklatan dihasilkan dari proses biosintesis AgNO3 1mM dan air rebusan daun bisbul. Hasil biosintesis langsung diterapkan untuk mendeteksi l-sistein dengan rentang variasi konsentrasi 2 - 8 ppm dan 0,10 - 25 ppm. Pengaruh eksternal berupa perubahan pH dan penambahan berbagai macam larutan seperti NaCl 0,10 - 1,0 M dan 1,0 M, HCl 0,01 - 0,10 M dan 0,10 M, NaOH 0,01-0,10 M dan 0,10 M diterapkan pada hasil pendeteksian lsistein. Pendeteksian l-sistein memberikan respon tampilan warna larutan kuning kecoklatan atau tidak berubah, setelah dan sebelum pendeteksian. Penambahan larutan garam, asam, terhadap hasil pendeteksian l-sistein membuat perubahan warna larutan menjadi lebih terang dan puncak absorbansi turun. Puncak absorbansi yang turun tidak berarti sensitivitas pendeteksian menjadi naik. Penambahan larutan basa membuat perubahan warna larutan menjadi lebih gelap dan hasil pendeteksian l-sistein menjadi tidak terukur dengan baik yang ditandai oleh puncak absorbansi yang tidak pada satu nilai tertentu.

Colorimteric method for detection l-cysteine using silver nanoparticles has been developed. These research objectives are determining callibration curve of detection l-cysteine using silver nanoparticles (solution form). Then, study the responses addition of NaCl, HCl, NaOH solutions and pH towards l-cysteine detection. Ultraviolet - visual spectrophotometer and digital camera are used for characterisize detection of l-cysteine and the effects of adding solutions towards it. Silver nanoparticles which formed in solutions has brown-yellow color and it resulted of biosynthesis AgNO3 1mM and bisbul (Diospyros blancoi) leaf infusion. Then, silver nanoparticles is applied for detection l-cysteine in two ranges concentrations, 2-8 ppm and 0,10-25 ppm. External effects are applied for detection l-cysteine, such as, adding solutions NaCl 0,10 - 1,0 M and 1,0 M; HCl 0,01 - 0,10 M and 0,10 M; NaOH 0,01-0,10 M and 0,10 M. The results are, detection of lcysteine give a brown-yellow color nothing change if it compare with silver nanoparticles solutions. Addition of NaCl and HCl solutions give the color changes to bright yellow and absorbance peaks goes down. Decreasing of absorbance peaks are not means sensitivity of detection l-cysteine rising. Addition of NaOH solution give the color changes to dark yellow and absorbance peak has not in one point."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S55190
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Karina Wijayanti
"Hasil-hasil tentang pengaruh destruksi ultrasonik terhadap pembentukan nanopartikel material SrO.6Fe2-xMnx/2Tix/2O3 (x = 0.0; 0.5; dan 1.0) dibicarakan dalam skripsi ini. Seluruh material dipersiapkan melalui teknik pemaduan mekanik dimana semua prekursor yang diperlukan dipadukan bersama dalam alat planetary ball mill menghasilkan serbuk halus. Serbuk kemudian dikonsolidasi dalam bentuk bakalan muda dan menjalani tahapan sintering pada temperatur 1200°C selama 3 jam menghasilkan sampel kristalin berfasa tunggal. Serbuk material kristalin didapat melalui penghalusan kembali secara mekanik sampel kristalin selama 10 jam. Hasil evaluasi ukuran partikel menunjukkan ketiga sampel dengan komposisi berbeda memiliki ukuran rata-rata partikel berbeda masing-masing ~ 723 nm untuk x = 0.0, 293 nm untuk x = 1.0 dan 192 nm untuk x = 0.5. Partikel-partikel ini kemudian menjalani tahapan destruksi ultrasonik menggunakan transduser yang dioperasikan pada amplitudo 35, 45 dan 55 μm selama 5 jam. Ternyata, ukuran-ukuran partikel dapat berkurang secara efektif dengan bertambahnya daya transduser. Partikel-partikel material x = 0.0 awalnya memiliki ukuran sampai ~ 1500 nm menjadi mengecil sampai dibawah ukuran 300 nm pada penggunaan transduser dengan amplitudo 35 mikron. Ukuran partikel ini menjadi lebih halus lagi pada penggunaan transduser dengan amplitudo 55 mikron. Namun, hal ini berbeda dengan hasil evaluasi ukuran kristalit dimana tidak ditemukan pengaruh yang berarti pada proses destruksi ultrasonik. Pada partikel material x = 0.0, awalnya memiliki ukuran kristalit 143 nm hanya mengecil menjadi 85 nm paska destruksi ultrasonik mengunakan transduser dengan amplitudo 55 mikron. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik destruksi mekanik yang dilanjutkan dengan destruksi ultrasonik terhadap partikel dapat menjadi salah satu cara untuk pembuatan partikel-partikel berukuran nanometer. Dari hasil penelitian ini telah diperoleh partikel yang tersusun oleh 1 sampai dengan 3 buah kristalit material SrO.6Fe2-xMnx/2Tix/2O3 (x = 0.0; 0.5; dan 1.0).

Results on effects of ultrasonic destruction to nanoparticles formation of SrO.6Fe2-xMnx/2Tix/2O3 (x = 0.0; 0.5; and 1.0) materials are reported. Materials were prepared through a mechanical alloying technique in which all precursors were co-milled into fine particles in a planetary ball mill. Sintering of 1200°C for 3 hours was introduced to the green compact which resulting in a single phase crystalline material. Crystalline particles were then obtained after re-milling the sintered samples for 10 hours. Particle size evaluations showed that the three compositions have different value of mean particle sizes respectively ~ 723 nm for x = 0.0, 293 nm for x = 1.0 and 192 nm for x = 0.5. These particles were then subjected to further refining by means of ultrasonic destruction employing 3 different amplitudes respectively 35, 45, and 55 μm for 5 hours each. It was found that the particle sizes were reduced effectively as the amplitude of transducer hence the transducer power increased. For material with x = 0.0, the particles with size up to ~ 1500 nm were reduced significantly to below 300 nm after ultrasonic destruction by a 35 μm transducer and reduced further to 100 nm by a 55 μm transducer. However, for Mn and Ti containing particles, the particle sizes were larger in which for x =1.0, the particles with sizes up to 300 nm were only obtained after ultrasonic destruction by 55 μm transducer. Referring to results of crystallite sizes evaluation for the particles, there is no significant effect to the reduction of crystallite sizes. The mean crystallite size of particles for x = 0.0 was initially 143 nm reduced to only 85 nm after ultrasonic destruction by a 55 μm transducer. It is concluded that the mechanical alloying assisted with ultrasonic destruction has proven to be an alternative route for nanoparticles fabrication. Particles containing up to 3 nano crystallites can be obtained in Mn and Ti substituted Strontium Hexaferrites."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S59766
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Risnia Dwi Atriansari
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan maksimum mikroalga yang dikultivasi dalam medium NPK Urea dan kandungan protein pada sampel kering mikroalga dengan metode uji absorbansi spektrofotometri uv-visible. Jenis mikroalga yang digunakan dalam penelitian ini adalah Chlorella vulgaris dan Spirulina plantesis. Laju pertumbuhan maksimum diperoleh dari tiga metode hitung yaitu haemositometer, absorbansi dan kapasitansi. Laju pertumbuhan maksimum Chlorella vulgaris diperoleh pada hari ketujuh masa kultivasi dengan jumlah 4.752.000 sel/ml dan Spirulina plantesis pada hari keenam dengan jumlah 64.000 sel/ml. Pengujian kandungan protein menggunakan alkaline copper reagen (ACR) yang memanfaatkan reaksi antara larutan tembaga (Cu2+), NaOH dan sampel. Perubahan warna sampel menjadi ungu menandakan adanya reaksi antara Cu2+ dengan ikatan peptida atau protein. Besarnya konsentrasi protein dapat diketahui dengan melihat nilai serapan pada panjang gelombang 520 nm. Kandungan protein yang dihasilkan dari berat kering sampel (w/w) dalam penelitian ini sebesar 14,78% untuk Chlorella vulgaris dan 16,06% untuk Spirulina plantesis. Jenis asam amino yang teridentifikasi berdasarkan perbandingan grafik BSA dengan sampel adalah tyrosin, phenylalanine dan tryptophan.

This study has purpose to determine the maximum growth rate of microalgae cultivation in the NPK Urea medium and protein content on a dry microalgae sample with UV-visible absorbance spectrophotometry assay method. Type of microalgae used in this study was Chlorella vulgaris and Spirulina plantesis. The maximum growth rate is calculated using three methods: haemocytometer, absorbance and capacitance. Chlorella vulgaris maximum growth rate obtained on the seventh day of cultivation period with the number 4.752.000 cells/ml and Spirulina plantesis on the sixth day with the number 64.000 cells/ml. The protein content was tested using alkaline copper reagent (ACR) which utilizes the reaction between copper (Cu2+), NaOH and samples. The color change of samples turn to purple indicates there are reaction between Cu2+ and peptide bonds or protein. The amount of protein concentration can be determined by looking the absorption value at 520 nm wavelength. The result of protein content of the dry sample weight (w/w) in this study amounted to 14.78% for Chlorella vulgaris and 16.06% for Spirulina plantesis. Types of amino acid were identified by comparison with a standart BSA is tyrosine, phenylalanine and tryptophan."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59632
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmi Febriani
"[ABSTRAK
Hroksiapatit merupakan jenis biomaterial sintetis yang mempunyai fasa yang paling stabil dibandingkan dengan senyawa kalsiun fosfat lainnya, selain itu hidroksiapatit memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan tulang, sehingga hidroksiapatik banyak diaplikasikan sebagai bone graft sintetis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu sintering terhadap kemurnian kristal hidroksiapatit yang dihasilkan. Hidroksiapatit dari prekursor kimia CaCO3 dan (NH4)2HPO4 disintesis dengan menggunakan metode hidrotermal pada temperatur 150oC dan 300oC. Hasil dari sintesis hidroksiapatik dikarakterisasi dengan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Energy Dispersive Analysis X-Ray (EDX). Hasil karakterisasi XRD memperlihatkan intensitas tertinggi rata-rata berada pada sudut 2θ yaitu, 25.898o, 31.789o, 32.216o, 32.922o, 46.729o, dan 49.524o. Hasil dari SEM memperlihatkan morfologi dari sampel bebrbetuk nanoroot dan hasil dari EDX menunjukan rasio Ca/P sebesar 1.8.
ABSTRACT
Hydroxyapatite is the most phase-stable syntetic biomaterial compared to another calcium phospate material. Hydroxyapatite also has high similarity with bone which make it has wide application as syntetic bone graft. Purpose of this research is to study the effect of sintering time towards hydroxyapatite crystal?s purity. Hydroxyapatite made from chemical precursor CaCO3 and (NH4)2HPO4 was synthesized using hydrothermal method on 150oC and 300oC. Synthesized hydroxyapatite was characterized using X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), and Energy Dispersive Analysis X-Ray (EDX). The result of characterization showed that highest average intensity on 2θ were: 25.898o, 31.789o, 32.216o, 32.922o, 46.729o, and 49.524o.;Hydroxyapatite is the most phase-stable syntetic biomaterial compared to another calcium phospate material. Hydroxyapatite also has high similarity with bone which make it has wide application as syntetic bone graft. Purpose of this research is to study the effect of sintering time towards hydroxyapatite crystal?s purity. Hydroxyapatite made from chemical precursor CaCO3 and (NH4)2HPO4 was synthesized using hydrothermal method on 150oC and 300oC. Synthesized hydroxyapatite was characterized using X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), and Energy Dispersive Analysis X-Ray (EDX). The result of characterization showed that highest average intensity on 2θ were: 25.898o, 31.789o, 32.216o, 32.922o, 46.729o, and 49.524o.;Hydroxyapatite is the most phase-stable syntetic biomaterial compared to another calcium phospate material. Hydroxyapatite also has high similarity with bone which make it has wide application as syntetic bone graft. Purpose of this research is to study the effect of sintering time towards hydroxyapatite crystal?s purity. Hydroxyapatite made from chemical precursor CaCO3 and (NH4)2HPO4 was synthesized using hydrothermal method on 150oC and 300oC. Synthesized hydroxyapatite was characterized using X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), and Energy Dispersive Analysis X-Ray (EDX). The result of characterization showed that highest average intensity on 2θ were: 25.898o, 31.789o, 32.216o, 32.922o, 46.729o, and 49.524o., Hydroxyapatite is the most phase-stable syntetic biomaterial compared to another calcium phospate material. Hydroxyapatite also has high similarity with bone which make it has wide application as syntetic bone graft. Purpose of this research is to study the effect of sintering time towards hydroxyapatite crystal’s purity. Hydroxyapatite made from chemical precursor CaCO3 and (NH4)2HPO4 was synthesized using hydrothermal method on 150oC and 300oC. Synthesized hydroxyapatite was characterized using X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), and Energy Dispersive Analysis X-Ray (EDX). The result of characterization showed that highest average intensity on 2θ were: 25.898o, 31.789o, 32.216o, 32.922o, 46.729o, and 49.524o.]"
Universitas Indonesia, 2015
S62144
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>