Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Zoya Marie Adyasa
"ABSTRAK
Walaupun publikasi mengenai endometriosis meningkat dalam lima tahun terakhir, penanganan dan terapi definitif untuk endometriosis masih belum ditemukan, menyebabkan 20 penurunan kualitas hidup pada pasien endometriosis. Asam galat telah digunakan pada sel kanker sehingga mendorong peneliti untuk menyelidiki potensi asam galat sebagai pemicu apoptosis pada sel endometriosis. Kultur primer didapatkan dengan teknik enzimatik dari pasien yang telah menjalani laparoskopi. Sel endometriosis in vitro diberi perlakukan dengan asam galat, heptil galat, dan oktil galat dengan dosis 25.6, 51.2, dan 102.4 selama 48 jam. Kuantifikasi dan penentuan kualitas sel dilakukan menggunakan mikroskop konfocal fluoresens dan pewarnaan Acridine Orange/Ethidium Bromide (AO/EB) dengan observasi sel yang mengalami apoptosis awal, apoptosis akhir,
nekrosis, dan sel hidup. Sampel kontrol menunjukkan 63.8 sel mengalami
apoptosis. Apoptosis setelah pemberian asam galat menurun dari 90,1 menjadi 79,2 dengan peningkatan dosis. Sebaliknya, 51,2 6 heptyl meningkatkan apoptosis menjadi 92.5, sedangkan oktil 51,2 6 menunjukkan apoptosis terbesar dengan 93.1 Penelitian ini menunjukkan efek apoptosis oktil galat diikuti oleh heptil galat dan asam galat dan potensi penggunaan oktil galat sebagai terapi endometriosis

ABSTRACT
Research into endometriosis falls behind despite increasing publication for the last five years, contributing to lack of non-invasive treatments and 20% decrease in quality of life. Since gallic acid usage as anti-inflammatory agent has been elucidated in cancer cells, this study serves to investigate the potential of gallic acid as an apoptotic inducer in endometriosis cells. Primary culture of endometriosis was derived from patients who had laparascopy via enzymatic technique. In vitro endometriosis cells were treated with three dosages of 25.6, 51.2 and 102.4 of gallic acid, heptyl gallate, and octyl gallate for 48 hours. Determination of quality and quantification of early, late, viable, and necrotic cells was done using confocal fluorescence with acridine orange/ethidium bromide staining of at least 100 cells per sample. Control samples showed 63.8 cell underwent apoptosis. Gallic acid, heptyl gallate, and octyl gallate showed different
inhibition pattern. Apoptosis after gallic acid treatment decreased from 90.1 to 79.2 as the dose is increased. On the contrary, 51.2 heptyl induce 92.5
apoptosis, while octyl showed most apoptosis at 93.1 This study exhibited
apoptotic inductor effect of octyl gallate, followed by heptyl gallate and gallic acid and their potency as treatment for endometriosis."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Salma Suka Kyana Nareswari
"Pendahuluan. Terdapat sebuah urgensi untuk mencari pengobatan bagi endometriosis, karena saat ini belum ada pengobatan yang menjamin tidak terjadinya rekurensi. Berdasarkan kemampuan asam galat dan derivatnya dalam menurunkan viabilitas sel kanker, penelitian ini bertujuan untuk meninvestigasi kemampuan zat-zat tersebut dalam menginhibisi viabilitas sel endometriosis. Metode. Sel endometriosis diisolasi dan dikultur dari pasien yang telah menjalani operasi laparoskopi. Setelah sel 70-80% konfluen, sel dipanen dan dibagi kedalam well yang masing-masing berisi 10.000 sel. Sel diberikan asam galat, heptil galat dan oktil galat,,masing-masing dengan tiga dosis yaitu 25.6 μg/ml, 51.2 μg/ml and 102.4 μg/ml. Seluruh intervensi dilakukan secara triplo pada empat sampel. MTS assay digunakan untuk menguji viabilitas sel endometriosis. Hasil. Setelah data dirasionalisasi dengan kontrol, ketiga zat menunjukkan inhibisi terhadap viabilitas sel endometriosis. Pada ketiga zat, terdapat inhibisi yang signifikan pada dosis 102.4 μg/ml. Sedangkan inhibisi tertinggi ditemukan pada heptil galat pada dosis 102.4 μg/ml dengan persentase inhibisi sebesar 70.52%. Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa asam galat, heptil galat dan oktil galat, berpotensi sebagai zat inhibitori terhadap viabilitas sel endometriosis. Efek inhibitori tertinggi ditemukan pada dosis 102.4 μg/ml untuk semua zat, dengan heptil galat sebagai zat dengan efek terbesar."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Thalia Kaylyn Averil
"Latar Belakang
Diabetes melitus merupakan kelainan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang memiliki dua subtipe, yaitu DMT1 dan DMT2. Salah satu tata laksana farmakologi terbaru untuk DMT2 adalah inhibitor SGLT2 yang bekerja dengan menghambat protein SGLT2. Saat ini, penelitian-penelitian dilakukan untuk menemukan senyawa baru yang dapat bertindak sebagai inhibitor SGLT2 dari bahan alam, tetapi masih memiliki beberapa kekurangan. Daun sirsak (Annona muricata L) telah diidentifikasi mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar glukosa darah, terutama acetogenin. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi senyawa acetogenin pada daun sirsak sebagai alternatif inhibitor SGLT2.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik observasional secara in silico dengan perangkat lunak DataWarrior untuk memprediksi nilai IC50 dan Molegro Virtual Docker untuk molecular docking.
Hasil
Seluruh senyawa acetogenin daun sirsak termasuk ke dalam kriteria “good activity” berdasarkan hasil prediksi nilai IC50. Tiga senyawa dengan nilai IC50 yang paling rendah adalah annohexocin (8.929 μM), murihexocin (8.71 μM), dan montanacin D (8.977 μM). Montanacin D memiliki rerank score paling negatif pada molecular docking antara protein 7VSI dengan senyawa terpilih (-147.99), sedangkan montanacin D memiliki rerank score paling tidak negatif pada molecular docking menggunakan protein 7WMV (-34.7753).
Kesimpulan
Seluruh senyawa acetogenin daun sirsak memiliki aktivitas penghambatan yang kuat terhadap SGLT2. Berdasarkan molecular docking, senyawa acetogenin daun sirsak berpotensi untuk menjadi alternatif inhibitor SGLT2 dengan montanacin D sebagai senyawa dengan potensi terbaik karena dapat berinteraksi dengan kuat pada situs aktif protein SGLT2 yang ditunjukkan dengan rerank score yang rendah.

Introduction
Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by increased blood glucose levels that have two subtypes, namely DMT1 and DMT2. One of the latest pharmacological treatments for DMT2 is the SGLT2 inhibitor which works by inhibiting the SGLT2 protein. Currently, studies are being conducted to find new compounds that can act as SGLT2 inhibitors from natural ingredients, but still have some shortcomings. Soursop leaves (Annona muricata L) have been identified as containing various bioactive compounds that have the ability to lower blood glucose levels, especially acetogenin. Therefore, this study was conducted to determine the potential of acetogenin compounds in soursop leaves as an alternative SGLT2 inhibitor.
Method
This study used an in silico observational analytical research method with DataWarrior software to predict IC50 values and Molegro Virtual Docker for molecular docking. Results
All acetogenin compounds of soursop leaves are included in the criteria of “good activity” based on the results of the predicted IC50 values. The three compounds with the lowest IC50 values are annohexocin (8.929 μM), murihexocin (8.71 μM), and montanacin D (8.977 μM). Montanacin D has the most negative rerank score in molecular docking between 7VSI protein and selected compounds (-147.99), while montanacin D has the least negative rerank score in molecular docking using 7WMV protein (-34.7753). Conclusion
All acetogenin compounds of soursop leaves have strong inhibitory activity against SGLT2. Based on molecular docking, acetogenin compounds of soursop leaves have the potential to be an alternative SGLT2 inhibitor with montanacin D as the compound with the best potential because it can interact strongly at the active site of SGLT2 protein as indicated by a low rerank score.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wa Ode Zulhulaifah
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor proliferasi sel sebagai peyebab ketidaksiapan endometrium untuk implantasi setelah pemberian berbagai dosis rekombinan FSH (rFSH) dengan melihat tingkat ekspresi FSH-Reseptor (FSHR) dan ekspresi protein KI-67. Sampel penelitian ini adalah bahan biologi tersimpan (BBT) dari jaringan endometrium Macaca nemestrina. Total sampel 15, sampel terdiri dari tiga kelompok yang diberikan GnRH agonis dosis tetap dan rFSH dengan dosis stimulasi berbeda, yaitu 30IU, 50IU, dan 70IU dan satu kelompok kontrol. Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara berbagai dosis rFSH yang diberikan dengan ekspresi FSHR dan ekspresi protein Ki67 pada sel endometrium Macaca nemestrina. Tingkat ekspresi FSHR dan ekspresi Ki67 ditemukan tidak berkorelasi siginifikan. Dosis rFSH yang lebih tinggi tidak menurunkan ekspresi FSHR dan Ki67 serta tidak terdapat korelasi antara ekspresi FSHR dengan ekspresi Ki67.

This study was conducted to look at cell proliferation factors as causes of endometrial unpreparedness for implantation after administration of various recombinant FSH doses (rFSH) by looking at FSH-receptor (FSHR) expression and expression of KI-67 proteins. The study sample was stored biological material (SBM) from endometrial tissue of Macaca nemestrina. The total sample was 15, the sample consisted of three groups given fixed-dose GnRH agonists and different stimulation doses, namely 30IU, 50IU, and 70IU and one control group. we found not significantly different between various doses of rFSH with FSHR and Ki67 expression in endometrial tissue Macaca nemestrina. We found not correlation significantly between FSHR expression and Ki67 Expression endometrial tissue Macaca nemestrina. Higher rFSH doses did not reduce FSHR expression and Ki67 and there was no correlation between FSHR expression and Ki67 expression."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Rachma
"Sel sperma manusia memproduksi reactive oxygen species (ROS) selama respirasi mitokondria dalam jumlah rendah yang dapat membantu berbagai jalur persinyalan. Produksi ROS fisiologis pada sel sperma dapat mengatur karakteristik fungsional yang penting seperti motilitas, kapasitasi, reaksi akrosom, hiperaktivasi, dan fusi sperma-oosit. Namun ROS yang terlalu banyak justru akan menyebabkan efek sebaliknya. Pada penelitian sebelumnya, dilaporkan bahwa α-tokoferol mampu meningkatkan motilitas dan melindungi sperma dari efek buruk stres oksidatif. Namun mekanisme molekuler efek tersebut masih belum jelas. Pada penelitian ini, dilakukan suplementasi α-tokoferol pada sel sperma untuk dianalisis terhadap beberapa parameter diantaranya, kadar MDA, motilitas, integritas membran, kapasitasi melalui ekspresi fosforilasi tirosin, ketahanan hidup melalui ekspresi Akt pada sel sperma, dan apoptosis melalui ekspresi caspase 3. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa penambahan α-tokoferol tidak dapat menurunkan kadar MDA sel sperma. Namun pada parameter lain, penambahan α-tokoferol dapat meningkatkan motilitas, integritas membran sel, ekspresi fosforilasi tirosin, ekspresi fosforilasi Akt, dan menurunkan ekspresi caspase 3 pada sel sperma.

The sperm cells of humans produce reactive oxygen species (ROS) during mitochondrial respiration in low amounts that can aid various signaling pathways. Physiological ROS production in sperm cells can regulate important functional characteristics such as motility, capacitation, acrosome reaction, hyperactivation, and sperm-oocyte fusion. However, an excess of ROS can have adverse effects. In previous studies, it has been reported that α-tocopherol can enhance motility and protect sperm from the harmful effects of oxidative stress. However, the molecular mechanisms of these effects are still unclear. In this study, α-tocopherol supplementation was performed on sperm cells to analyze several parameters, including MDA levels, motility, membrane integrity, capacitation through tyrosine phosphorylation expression, survival through Akt expression in sperm cells, and apoptosis through caspase 3 expression. The results of this study indicate that the addition of α-tocopherol cannot reduce MDA levels in sperm cells. However, in the other parameters, the addition of α-tocopherol can increase motility, membrane integrity, tyrosine phosphorylation expression, Akt phosphorylation expression, and decrease caspase 3 expression in sperm cells."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gita Geofani
"Sel Punca Mesenkim (SPM) dianggap sebagai sel yang sangat menjanjikan untuk terapi penyakit berdasar inflamasi karena potensi proliferasi multilineagenya, imunogenisitas rendah, migrasi spesifik ke jaringan yang cedera, dan efek imunomodulator potensialnya. Diperlukan data pendukung mengenai potensi imunomodulasi SPM dalam menghadapi kondisi proinflamasi sebelum digunakan dalam uji klinis. Dilakukan desain penelitian eksperimental in vitro kultur sel untuk menilai potensi imunomodulasi SPM yang berasal dari tali pusat (SPM-TP) dan asal jaringan adiposa (SPM-AD). Untuk menciptakan kondisi inflamasi, menggunakan kultur PBMC yang distimulasi dengan mitogen PHA, diikuti oleh kokultur dengan dua jenis SPM. Pengujian proliferasi dengan Ki67 dilakukan dengan qRT-PCR, pengujian sitokin proinflamasi IFN-γ, IL-1β, dan antiinflamasi IL-10 dilakukan dengan metode Luminex dan pengujian sitokin TGF-β dan IDO dilakukan mnggunakan metode ELISA. Hasil studi menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok dengan perlakuan dan tanpa perlakuan, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan diantara dua kelompok perlakuan (SPM- TP dan SPM-AD). Namun, berdasarkan kemampuan untuk menekan proliferasi PBMC terlihat bahwa SPM-TP menunjukkan kemampuan yang lebih baik dibandingkan SPM-AD.

The Mesenchymal Stem Cells (MSCs) are considered highly promising for inflammatory disease therapy due to their multilineage proliferation potential, low immunogenicity, specific migration to injured tissues, and potential immunomodulatory effects. Supporting data on the immunomodulatory potential of MSCs in facing proinflammatory conditions are required before their use in clinical trials. An experimental in vitro cell culture research design was conducted to assess the immunomodulatory potential of MSCs derived from umbilical cord (UC-MSCs) and adipose tissue (AD-MSCs). To induce inflammatory conditions, peripheral blood mononuclear cells (PBMCs) were stimulated with PHA mitogen, followed by co-culture with the two types of MSCs. Proliferation testing using Ki67 was performed with qRT-PCR, proinflammatory cytokine testing (IFN-γ, IL-1β) and anti-inflammatory cytokine (IL-10) were conducted using the Luminex method, and TGF-β and IDO cytokine testing were performed using the ELISA method. The study results indicated significant differences between the treated and untreated groups, although no significant differences were observed between the two treatment groups (UC-MSCs and AD-MSCs). However, based on the ability to suppress PBMC proliferation, it was evident that UC-MSCs exhibited superior capabilities compared to AD-MSCs."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mochammad Satrio Faiz
"Latar Belakang: Kanker payudara merupakan jenis kanker invasif yang paling banyak menyerang wanita. Kejadian dan kematian akibat kanker ini tinggi, baik secara global maupun di Indonesia. Subtipe molekuler kanker payudara, terutama kanker payudara triple-negative (TNBC), berperan penting dalam menentukan pilihan pengobatan. Namun, TNBC belum memiliki terapi target khusus dan berpotensi resisten terhadap pengobatan standar. Senyawa alami semakin banyak diteliti sebagai alternatif pengobatan kanker. Asam galat (GA), menunjukkan potensi sebagai antikanker, terutama untuk kanker payudara. Daun Mangifera foetida kaya akan GA dan berpotensi menjadi sumber pengobatan. Metode: Penelitian in-vitro ini menggunakan sel TNBC MDA-MB-231 yang diberi GA murni dan ekstrak daun M. foetida. Setelah nilai IC50 didapatkan, sekuensing RNA dilakukan untuk analisis bioinformatika. Hasil: DEG signifikan setelah pemberian kedua jenis perlakuan. Gen yang mengalami peningkatan ekspresi pada kedua perlakuan sebagian besar terkait dengan respons terhadap stres sel. Gen-gen yang ekspresinya meningkat meliputi MRI1, AKR1B15, NQO1, GSTA3, SRXN1, sedangkan gen-gen yang ekspresinya menurun meliputi ISG15 dan SERPINE1. Analisis jalur menunjukkan adanya pengayaan pada jalur yang berkaitan dengan daur ulang metionin, biosintesis estrogen, respons imun, stres oksidatif, dan kematian sel. Kesimpulan: Baik GA maupun ekstrak M. foetida memengaruhi ekspresi gen pada sel TNBC. Ekstrak M. foetida menunjukkan pengaruh yang lebih besar terhadap beberapa gen yang berkaitan dengan respons stres oksidatif seluler, kemungkinan karena adanya interaksi sinergis dengan metabolit lain dalam ekstrak tersebut

Introduction: Breast cancer is the most prevalent invasive cancer in women, with high incidence and mortality rates globally and in Indonesia. Molecular subtyping, particularly triple-negative breast cancer (TNBC), guides treatment, but TNBC lacks targeted therapies. Chemotherapy with agents like anthracyclines is standard, but with severe side effects and potential resistance. Natural compounds are increasingly explored as alternative anticancer agents. Gallic acid (GA), a phenolic compound, shows promising anticancer activity, especially against breast cancer. Mangifera foetida leaves are a rich source of GA, potentially offering a cost-effective treatment option. Method: This in-vitro study used TNBC MDA-MB-231 cells treated with pure GA and M. foetida leaf extract. IC50 values were determined, and cells were treated at these concentrations. RNA sequencing was performed, followed by bioinformatic analysis of differentially expressed genes (DEGs) and pathway enrichment analysis. Results: Significant DEGs were identified after both treatments. Upregulated genes in both treatments were mainly related to stress response. Upregulated DEGs included MRI1, AKR1B15, NQO1, GSTA3, SRXN1, while downregulated genes included ISG15 and SERPINE1. Pathway analysis revealed enrichment in pathways related to methionine salvage, estrogen biosynthesis, immune response, oxidative stress, and cell death. Conclusion: Both GA and M. foetida extract affected gene expression in TNBC cells, with the extract showing greater effects on several genes linked to stress response, potentially indicating synergistic interactions with other metabolites"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elly Yanah Arwanih
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mutasi gen FLT3 dalam resistensi terapi induksi D3A7 pada pasien LMA, melalui pengamatan perubahan struktur protein reseptor FLT3, aktivitas jalur persinyalan downstream FLT3 yaitu PI3K/AKT, menggunakan persentasi jumlah sel yang berapoptosis dan proliferasi sebagai indikator dalam mekanisme multidrug resistance terhadap terapi induksi D3A7. Selain itu dilakukan juga analasis peran sub populasi sel punca leukemia CD34+CD38-CD123+ dan marka ALDH dalam resistensi terapi Induksi D3A7, untuk mengetahui hubungannya denagn resistensi terapi induksi D3A7. Metode Deteksi mutasi gen FLT3 dilakukan dengan PCR-sekuensing dari sampel darah sumsum tulang pasien LMA de novo yang telah selesai diberikan terapi induksi D3A7. Sikuens gen yang termutasi kemudian dianalisis menggunakan studi in silico untuk menilai dampak dari mutasi gen terhadap perubahan struktur dan aktivitas pengikatan protein terhadap regimen sitarabin. Analisis aktivitas fosforilasi protein PI3K dan AKT dilakukan dengan metode sandwich ELISA. Penghitungan persentasi jumlah sel yang mengalami apoptosis dan proliferasi, serta deteksi sel punca leukemia dengan penanda CD34+, CD38-, CD123+, dan ALDH menggunakan Flowcitometry. Hasil Ditemukan mutasi baru Ins_572G573 (Insersi-G) pada domain juxtamembran dari protein reseptor FLT3 dengan frekuensi sebesar 30% dari total 20 pasien LMA yang direkrut, sementara frekuensi mutasi FLT3-ITD yang diperoleh sebesar 20%. Kelompok pasien dengan mutasi gen FLT3 mengalami peningkatan fosforilasi protein PI3K dan AKT yang bermakna secara statistik, mengalami peningkatan rerata persentasi jumlah proliferasi sel dan penurunan rerata jumlah apoptosis sel dibandingkan kelompok tanpa mutasi. Kelompok pasien dengan outcome terapi resistensi juga mengalami peningkatan fosforilasi protein PI3K dan AKT, penurunan rerata jumlah sel yang mengalami apoptosis dan peningkatan rerata jumlah sel yang berproliferasi. Penanda sel punca leukemia CD34+, CD38-, CD123+, dan ALDH memiliki hubungan tidak bermakna dengan resistensi terapi induksi D3A7. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa mutasi gen FLT3 tidak berhubungan lansung pada resistensi terapi D3A7. Namun perubahan struktur protein akibat mutasi berperan penting dalam mekanisme resistensi melalui aktivasi jalur pro-proliferasi dan anti papoptosis dari persinyalan PI3K/AKT. Salain itu, penanda sel punca leukemia tidak berhubungan dengan resistensi terapi induksi D3A7.

Introduction This study aims to analyze the role of FLT3 gene mutations in the resistance of AML therapy induction with D3A7 in patients, through observing changes in FLT3 receptor protein structure, the activity of downstream FLT3 signaling pathways such as PI3K/AKT, and using the percentage of apoptotic and proliferative cells as indicators in the mechanism of multidrug resistance against D3A7 induction therapy. Additionally, the study also analyzes the role of leukemia stem cell subpopulations CD34+CD38-CD123+ and ALDH markers in resistance to D3A7 induction therapy, to understand their relationship with resistance to D3A7 induction therapy. Method Detection of FLT3 gene mutations was performed by PCR-sequencing from bone marrow blood samples of de novo AML patients who had completed D3A7 induction therapy. Sequences of the mutated genes were then analyzed using in silico studies to assess the impact of gene mutations on structural changes and protein binding activity with cytarabine regimens. Analysis of PI3K and AKT protein phosphorylation activity was conducted using sandwich ELISA. Calculation of the percentage of cells undergoing apoptosis and proliferation, as well as detection of leukemia stem cells marked by CD34+, CD38-, CD123+, and ALDH, was performed using Flow cytometry. Results A novel mutation, Ins_572G573 (Insertion-G), was found in the juxtamembrane domain of the FLT3 receptor protein with a frequency of 30% among a total of 20 recruited AML patients. Meanwhile, FLT3-ITD mutation frequency was obtained at 20%. Patients with FLT3 gene mutations showed statistically significant increases in PI3K and AKT protein phosphorylation, as well as higher average percentages of proliferating cells and lower average percentages of apoptotic cells compared to the non-mutation group. Patients in the therapy-resistant outcome group also exhibited increased PI3K and AKT protein phosphorylation, decreased average percentages of apoptotic cells, and increased average percentages of proliferating cells. However, leukemia stem cell markers CD34+, CD38-, CD123+, and ALDH did not show statistically significant associations with resistance to D3A7 induction therapy. Conclusion This study indicates that FLT3 gene mutations do not directly correlate with resistance to D3A7 therapy. However, structural changes in proteins due to mutations play a crucial role in resistance mechanisms through the activation of pro-proliferation and anti-apoptosis pathways via PI3K/AKT signaling. Additionally, leukemia stem cell markers are not associated with resistance to D3A7 induction therapy."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library