Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rifqy Fadhillah Maulana
"Sungai Ciliwung yang melintasi wilayah Jabodetabek menghadapi pencemaran akibat aktivitas antropogenik dan proses geologi. Penelitian ini menganalisis karakteristik fisik endapan aluvial Kuarter serta kandungan logam berat (Pb, Cu, Cd) di tiga segmen sungai, yaitu hulu (Bogor), tengah (Depok), dan hilir (Jakarta Utara), dengan sembilan sampel sedimen. Analisis kandungan logam berat dilakukan menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), sedangkan analisis ukuran butir dan geomorfologi dilakukan menggunakan metode granulometri dan interpretasi morfologi tapak sungai Hasil menunjukkan bahwa distribusi logam berat dipengaruhi oleh variasi ukuran butir dan dinamika geomorfologi sungai. Ukuran butir halus mendominasi wilayah tengah (Depok) dan hilir (Jakarta), terutama pada fitur point bar, sedangkan sedimen kasar banyak ditemukan di hulu (Bogor) dan mid-channel bar. Akumulasi logam berat tertinggi berada pada fitur cutbank. Pb cenderung terakumulasi pada sedimen halus, Cu memiliki pola yang bervariasi, dan Cd tidak terdeteksi dalam sampel. Aktivitas manusia berkontribusi terhadap akumulasi kontaminan di sedimen, dibuktikan melalui analisis menggunakan Sediment Quality Guidelines dan Biological Effect Range Criteria. Hasilnya, kontaminasi Pb meningkat dari hulu ke hilir, sementara Cu bervariasi namun cenderung tinggi di hilir akibat urbanisasi dan industrialisasi. Temuan ini penting untuk pengelolaan sungai yang berkelanjutan serta memahami pengaruh ukuran butir dan geomorfologi terhadap konsentrasi logam berat.

The Ciliwung River, which flows through the Greater Jakarta area (Jabodetabek), is experiencing pollution driven by anthropogenic activities and geological processes. This study examines the physical characteristics of Quaternary alluvial deposits and the concentrations of heavy metals (Pb, Cu, Cd) across three river segments— upstream (Bogor), midstream (Depok), and downstream (North Jakarta)—using nine sediment samples. Heavy metals were analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), while grain size and geomorphology were assessed through granulometric analysis and interpretation of river landforms. Results show that heavy metal distribution is influenced by grain size variations and fluvial geomorphology. Fine sediments dominate the midstream and downstream areas, particularly in point bars, whereas coarse sediments are prevalent upstream and in mid-channel bars. The highest heavy metal accumulation was found in cutbank features, with Pb accumulating in fine sediments, Cu displaying variable patterns, and Cd remaining undetected. Human activity contributes to contaminant buildup, as supported by Sediment Quality Guidelines and Biological Effect Range Criteria. Pb contamination increases downstream, while Cu levels vary but are generally higher in urbanized downstream areas. These findings highlight the importance of grain size and geomorphology in controlling heavy metal concentrations and provide insights for sustainable river management."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farhan Ghifari Mahesa
"ABSTRAK
Pada kebutuhan industri, terutama di bidang eksplorasi migas dan hidrogeologi, nilai porositas pada batuan dianggap sangat penting. Porositas pada umumnya terdapat di batuan sedimen, khususnya batupasir yang terdapat Formasi Cipacar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik batupasir, nilai porositas, proses diagenesis, dan hubungan antar porositas dan diagenesis. Data penelitian ini didapat dari singkapan permukaan dan dilakukan analisis petrografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa batupasir Formasi Cipacar memiliki nilai porositas antara 8-14% dan telah mengalami proses diagenesis berupa kompaksi, sementasi, dan pelarutan yang termasuk dalam rezim mesogenesis.

ABSTRACT
On industrial needs, especially in oil & gas and hydrogeology exploration porosity in rock isconsidered valuable. Porosity in rock basically available in sedimentary rock, particulary sandstone in Cipacar Formation. The aims of this research are to examine sandstone characteristic, porosity value, diagenesis process, and implication between porosity and diagenesis. The data of this study were obtained from surface outcrops and petrographic analysis. Results of this research show that sandstones in Cipacar Formation have porosity value between 8-14%, and have undergone diagenesis process such as compaction, cementation, and dissolution which classified in mesogenesis regime."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reinof Razzaqi Yusya
"DKI Jakarta merupakan pusat pemerintahan dan bisnis di negara Indonesia yang memiliki jumlah populasi penduduk sebesar 10 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar tidak sebanding dengan luas wilayah yang hanya sebesar 661,52 km2 sehingga timbul berbagai macam permasalahan yang terjadi di Jakarta. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah banjir. Banjir terjadi setiap tahunnya ketika memasuki musim hujan. Jakarta telah mengalami bencana banjir besar pada tahun 2002, 2007, 2013, dan yang terbaru awal tahun 2020. Upaya dalam pengurangan risiko bencana banjir perlu dilakukan agar tidak terjadi bencana banjir besar di masa yang akan datang. Salah satu upaya dalam menanggulangi bencana tersebut adalah melakukan penelitian terhadap kondisi lingkungan di daerah Cekungan Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sistem informasi geografis (SIG), analisis hidrogeokimia, dan kecerdasan buatan. Ketiga metode ini dikombinasikan sehingga menghasilkan sebuah peta yang representatif dalam mengetahui kondisi wilayah yang memiliki risiko tinggi bencana banjir dan kandungan air asin. Hasil dari analisis hidrogeokimia menunjukkan wilayah utara Jakarta memiliki jenis salinitas air payau .Hasil dari metode SIG yang merupakan pengolahan data masukan seperti curah hujan, tutupan lahan, ketinggian, kemiringan lereng, kedalaman air tanah, jarak sungai utama, dan jarak anak sungai digabungkan dengan metode kecerdasan buatan menunjukkan bahwa model GARP (AUC-ROC training = 0.91 dan AUC-ROC validating = 0,87) dan model QUEST (AUC-ROC training = 0,88 dan AUC-ROC validating = 0,83) menghasilkan persebaran titik banjir sebagian besar berada di wilayah utara Jakarta. Berdasarkan studi literatur dan hasil peta sebaran banjir faktor utama penyebab banjir adalah ketinggian wilayah. Wilayah yang memiliki ketinggian rendah lebih berpotensi terjadinya banjir. Hasil gabungan analisis hidrogeokimia dan kecerdasan buatan dijadikan dasar pembuatan peta risiko bencana Jakarta yang terdiri dari lima kelas risiko, yaitu: sangat rendah, rendah, menengah, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil peta risiko menunjukkan wilayah di Jakarta yang memiliki risiko tertinggi ada di Jakarta Utara. Peta risiko ini dapat digunakan sebagai penentuan solusi yang tepat dalam mengurangi risiko bencana banjir di masa yang akan datang.

DKI Jakarta is the center of government and business in the country of Indonesia which has a population of 10 million. The large population is not proportional to the area of only 661.52 km2 so that various kinds of problems arise in the city of Jakarta. One problem that often occurs is floods. Floods occur every year when entering the rainy season. Jakarta has experienced major floods in 2002, 2007, 2013, and most recently the beginning of 2020. Efforts to reduce the risk of flood disasters need to be done so that there will be no major floods in the future. One effort in overcoming the disaster is to conduct research on environmental conditions in the Jakarta Basin area. The methods used in this study are geographic information systems (GIS), hydrogeochemical analysis, and artificial intelligence. These three methods are combined to produce a representative map to find out the condition of the area which has a high risk of flood disaster and saltwater content. The results of hydrogeochemistry analysis show that the northern area of Jakarta has brackish water salinity. The results of the GIS method are input data processing such as rainfall, land cover, altitude, slope, ground water depth, distance of major rivers, and distance of channels combined with the artificial intelligence methods shows that the Garp model (AUC-ROC training = 0.91 and AUC-ROC validating = 0.87) and the QUEST model (AUC-ROC training = 0.88 and AUC-ROC validating = 0.83) produce a partial flood point distribution large are in the northern region of Jakarta. Based on literature studies and flood distribution map results the main factor causing flooding is the height of the region. Areas with low altitude are more likely to have floods. The combined results of hydrogeochemical analysis and artificial intelligence are the basis for making the Jakarta disaster risk map consisting of five risk classes, namely: very low, low, medium, high, and very high. The risk map results show areas in Jakarta that have the highest risk are in North Jakarta. This risk map can be used as the determination of the right solution in reducing the risk of floods in the future."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jonathan Jodi Prayoga
"Hasil penelitian ini menjelaskan menjelaskan tentang karakteristik dari endapan banjir dengan metode granulometri. Penelitian ini berada pada daerah sekitar sungai Citarum, Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data terkait karateristik endapan banjir seperti sortasi, distribusi ukuran butir, tingkat skewness, dan tingkat kurtosisnya.  Penelitian ini dimulai dengan persiapan awal seperti studi literatur dan persiapan alat lapangan yang dilanjutkan dengan pengambilan data lapangan. Data yang didapatkan kemudian dianalisis dan kemudian hasil analisis tersebut dimuat dalam bentuk laporan akhir. Berdasarkan hasil penelitian, karateristik dari endapan banjir dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu endapan lanau-lempung dan endapan endapan pasir. Pada endapan lanau-lempung, endapan didominasi dengan tingkat sortasi baik, tingkat skewness berupa fine skewed dan tingkat kurtosis berupa leptokurtic. Sedangkan pada endapan pasir didapatkan tingkat sortasi yang beragam dan tingkat skewness berupa fine skewed, endapan ini merupakan endapan yang mendominasi pada sampel. Persebaran data memiliki tingkat leptokurtic dimana data terpuncak pada suatu nilai.

The results of this research explain explaining the characteristics of the flood deposit using granulometry method. This research location is around the Citarum river, Bandung. This research aims to obtain data related to flood deposit characteristics such as sorting, grain size distribution, skewness level, and kurtosis level. The research began with preliminary preparations such as literature studies and preparation of field tools followed by field data collection. The data obtained is then analyzed and then the results of the analysis are published in the form of a final report. Based on the results of the study, the characteristics of the flood sediment can be divided into 2 groups, namely silt-clay deposit and sand deposit. In silt-clay depositi, sediments are dominated by well sorted sediment, the level of skewness is fine skewed, and the level of kurtosis is  leptokurtic. Whereas in sand deposits there are various levels of sorting and the level of skewness is fine skewed, these deposits are dominant in the sample. Data distribution has a leptokurtic level where the data peaked at a value."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christian Jeremia
"Kawasan Rawa Danau merupakan salah satu kawasan yang akan dijadikan cagar alam geologi, khususnya kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten yang menjadi pusat dalam pengembangan wilayah. Untuk menunjang hal tersebut memerlukan penyelidikan geologi teknik sebagai dasar rekomendasi pengembangan wilayah terutama dalam pembangunan berkelanjutan. Dasar penentuan zona kemampuan geologi teknik adalah penyelidikan geologi teknik. Dalam penelitian ini, penyelidikan geologi teknik meliputi pemetaan geologi teknik seperti satuan geologi teknik, kondisi geomorfologi, kedalaman muka airtanah, dan potensi kerentanan bencana geologi. Berdasarkan hasil penyelidikan geologi teknik, didapatkan enam satuan geologi teknik pada daerah penelitian yaitu satuan residu piroklastik, satuan pasir lanauan, satuan residu batuan lava andesit terkekarkan, satuan residu batuan intrusi, satuan kolovium, dan satuan aluvium. Di daerah penelitian terdapat tiga zona kedalaman muka airtanah yaitu zona kedalaman muka airtanah dangkal (0 – 15 m), zona kedalaman muka airtanah dalam (15 – 30 m), dan zona kedalaman muka airtanah sangat dalam (> 30 m). Selain itu, terdapat tiga potensi bencana geologi seperti kerentanan gerakan tanah, rawan banjir, dan rawan terdampak gempabumi. Berdasarkan parameter – parameter diatas, didapatkan tiga zona kemampuan geologi teknik yaitu zona kemampuan geologi teknik sangat rendah, zona kemampuan geologi teknik rendah, dan zona kemampuan geologi teknik menengah. Maka dari itu, berdasarkan zona kemampuan geologi teknik terdapat tiga tipe lahan yang dapat dijadikan sebagai rekomendasi pengembangan wilayah yaitu lahan dapat dikembangkan, lahan yang mungkin dikembangkan dengan batasan ekonomi dan kendala fisik (wilayah kendala), serta lahan yang tidak dapat dikembangkan

Rawa Danau is the one zone that has been proposed to be a geopark in Indonesia, especially in Cinangka, Serang, Banten which is become the center of regional development. Urban development must also consider engineering geological investigation as basic information for creating engineering geology capability zone and also as recommendations for regional development, especially in sustainable development. In this research, there are several methods for engineering geological investigation such as mapping of engineering geological, geomorphological conditions, unconfined groundwater depth zone, and vulnerability level of geological disasters. Based on engineering geological studies, there are six engineering geological units such as pyroclastic residue unit, silty sand unit, andesite lava residue unit, intrusion dacite residue unit, colluvium unit, and aluvium unit. There are three groups of unconfined groundwater depth such as shallow unconfined groundwater depth ( 0 – 15 m), deep unconfined groundwater depth ( 15 – 30 m), and the deepest unconfined groundwater depth ( > 30 m). Moreover, there are three types of geological disasters that can happen in there such as landslide, flood, and earthquake. There are also three types of engineering geology capability zone which are the lowest zone, low zone, and medium zone. Based on that engineering geology capability zone, in Cinangka there are three types of land that can be used as recommendations for urban development such as land that can be developed, land with constraints, and land that can’t be developed."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sekar Ayu Danastri
"Salah satu aspek penting dalam geoteknik adalah penurunan tanah, yaitu deformasi vertikal yang terjadi akibat beban eksternal pada lapisan tanah jenuh air. Fenomena ini dapat berdampak serius terhadap keberfungsian infrastruktur jika tidak dianalisis sejak tahap awal perencanaan. Kota Batam sebagai wilayah dengan pembangunan infrastruktur yang pesat memiliki kondisi tanah yang beragam dan sebagian besar terdiri atas tanah berbutir halus dengan karakteristik fisik yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi besarnya penurunan tanah berdasarkan integrasi data Piezocone Penetration Test (CPTu) dan uji laboratorium tanah. Metode yang digunakan mencakup klasifikasi jenis tanah berdasarkan parameter CPTu (menggunakan pendekatan Robertson), perhitungan penurunan primer dengan metode Schmertmann (1978), serta penurunan konsolidasi dengan metode Terzaghi (1943) menggunakan parameter hasil uji laboratorium seperti indeks kompresibilitas (Cc), angka pori awal (e₀), dan koefisien konsolidasi (Cv). Hasil analisis menunjukkan bahwa lapisan lempung jenuh yang tersebar di 32 titik CPTu memiliki potensi penurunan yang tinggi (136,82 cm). Daerah dengan dominasi tanah lempung lunak menunjukkan penurunan konsolidasi yang signifikan dibandingkan dengan penurunan primer. Zonasi penurunan tanah di lokasi penelitian menunjukkan sebaran nilai penurunan yang tidak merata, dengan konsentrasi penurunan tinggi teridentifikasi pada beberapa area tengah, barat daya, dan timur. Pola ini tidak menunjukkan arah gradien yang seragam, melainkan dipengaruhi oleh variasi lokal seperti ketebalan lapisan tanah kompresibel, kondisi litologi bawah permukaan, serta posisi geomorfologis yang mendukung akumulasi sedimen halus jenuh air. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi mitigasi teknis serta perencanaan infrastruktur yang memperhitungkan karakteristik geoteknik setempat secara lebih detail dan responsif.

One of the critical aspects in geotechnical engineering is soil settlement, which refers to the vertical deformation that occurs due to external loads acting on water-saturated soil layers. This phenomenon can have serious implications for infrastructure performance if not properly analyzed from the early stages of planning. Batam City, as a region experiencing rapid infrastructure development, presents diverse soil conditions, largely dominated by fine-grained soils with varying physical characteristics. This study aims to analyze and evaluate the magnitude of soil settlement through the integration of Piezocone Penetration Test (CPTu) data and laboratory soil testing. The methods applied include soil classification based on CPTu parameters using the Robertson approach, primary settlement calculation using the Schmertmann method (1978), and consolidation settlement estimation based on the Terzaghi method (1943), utilizing laboratory-derived parameters such as compression index (Cc), initial void ratio (e₀), and coefficient of consolidation (Cv). The analysis indicates that saturated clay layers identified at 32 CPTu locations exhibit a high potential for settlement, with a total estimated value of 136.82 cm. Areas dominated by soft clayey soils show significantly greater consolidation settlement compared to primary settlement. The spatial distribution of total settlement across the study area reveals an uneven pattern, with high settlement concentrations identified in several zones in the central, southwestern, and north parts. This distribution does not follow a consistent directional gradient but is instead influenced by local variations in compressible layer thickness, subsurface lithology, and geomorphological settings that facilitate the accumulation of saturated fine-grained sediments. These findings serve as a basis for developing technical mitigation strategies and infrastructure planning that are responsive to the variability of local geotechnical conditions."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raden Ajeng Alya Aulia Maharani
"Mineral lempung merupakan filosilikat aluminium hidrat yang berdasarkan struktur kristalnya dibagi menjadi 4 kelompok utama, yaitu kaolinit, smektit, illit, dan klorit. Masing-masing kelompok mineral ini memiliki properti fisika & kimia tertentu yang berpotensi mempengaruhi kegiatan eksplorasi & eksploitasi minyak & gas bumi, seperti potensi penyempitan lubang bor, pelebaran lubang bor, dan lainnya. Untuk menghindari potensi-potensi tersebut, penelitian ini dilakukan pada Lapangan X di Cekungan Kutai dengan memetakan distribusi dari mineral lempung. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah analisis petrofisika dan pemodelan 2D. Dari penelitian ini diketahui bahwa mineral lempung yang ditemukan pada daerah penelitian adalah kaolinit, illit, klorit, & smektit. Dengan mineral kaolinit dan illit ditemukan mendominasi. Kaolinit mendominasi pada kedalaman relatif dangkal (741.5-4032 feet kedalaman vertikal sesungguhnya), sementara illit mendominasi pada kedalaman relatif lebih dalam (4032-6626.3 feet kedalaman vertikal sesungguhnya). Selain itu, ditemukan juga terjadi pengurangan volume kaolinit dan penambahan volume illit seiring bertambahnya kedalaman. Diinterpretasi bahwa keberadaan mineral lempung ini dipengaruhi oleh ketersediaan mineral induk, temperatur, air pori, & lingkungan pengendapan. Dan, distribusinya dipengaruhi oleh batas sekuen & sesar-sesar.

Clay minerals are hydrous alumina phyllosilicates which based on their crystal structure divided into 4 major groups, that is kaolinite, smectite, illite, and chlorite. Each of these mineral groups has certain physical & chemical properties that have the potential to affect oil & gas exploration & exploitation activities, such as the potential of hole closure, hole enlargement, etc. To avoid this potentials, this research was conducted at Field X in the Kutai Basin by mapping the distribution of clay minerals. The methods used to achieve these goals are petrophysical analysis and 2D modeling. From this research it is known that the clay minerals found in the study area are kaolinite, illite, chlorite, and smectite. With the minerals kaolinite and illite found to dominate. Kaolinite dominates at relatively shallow depths (741.5-4032 feet true vertical depth), while illite dominates at relatively deeper depths (4032-6626.3 feet true vertical depth). In addition, it was also found that there was a decrease in the volume of kaolinite and an increase in the volume of illite with increasing depth. It is interpreted that the presence of this clay mineral is influenced by the availability of parent minerals, temperature, pore water, and the depositional environment. And, the distribution of these minerals is influenced by sequence boundary and faults."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library