Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 31 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Vini Wardhani
"Salah satu fase yang krusial dalam tahapan perkembangan manusia adalah dewasa muda. Pada tahap ini, seseorang sudah dianggap melewati masa remaja dan mampu hidup secara mandiri (Atwater & Duffy, 1999). Masa ini merupakan titik tolak yang cukup signifikan bagi individu untuk memulai hidupnya sebagai individu yang independen dalam menentukan masa depan dan mengatur kehidupannya. Fase ini rnerupakan masa produktif seseorang, masa di mana seseorang mulai membangun kehidupannya dan dihadapkan pada serangkaian tugas perkembangan yaitu pemilihan karir untuk kehidupan yang lebih mandiri dan membina hubungan dengan lawan jenis untuk membangun keluarga dan menjadi orang tua.
Pemilihan karier yang tepat merupakan saiah satu usaha menuju kemandirian baik secara fmansial maupun psikologis. Karier merupakan bentuk ekspresi diri, mengatakan status dan memberikan kepuasan serta harga diri (Turner & Helms, 1995). Perlmutter & Hall (dalam Hoffman, Paris & Hall, 1994) mengatakan bahwa bekerja menempatkan individu pada suatu posisi dalam masyarakat, memberikan makna bagi individu yang bersangkutan dan menyediakan kegiatan yang memuaskan, juga sebagai stimulasi sosial dan sarana untuk mengasah kreativitas. Karenanya, kerja dapat mempengaruhi kualitas hidup individu.
Erikson (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) mengatakan individu dewasa muda sebaiknya membangun intimacy dengan Iewan jenisnya. Jika pada tahap ini individu dewasa muda tidak berhasil untuk menjalin hubungan intim dengan pasangannya, maka akan cenderung menjadi terisolasi, merasa kesepian karena terisolasi dart teman-teman sebaya dan mengalami depresi. Hal ini menunjukkan bahwa menjalin hubungan intim dapat berdampak pada kualitas hidup.
Tidak semua individu pada masa dewasa muda mampu menyelesaikan tugas perkembangannya dengan balk. Ini dapat menimbulkan suatu krisis pada individu yang dinamakan quarter life crisis. Hampir setiap individu pada tahap dewasa muda mengalami krisis ini (Sandles, 2002). Ketidakmampuan mengatasi krisis ini dapat berdampak sangat buruk, seperti ketergantungan pada narkoba, delinquent behavior, gangguan emosional (Atwater & Duffy, 1999) dan usaha bunuh diri (Sandles, 2002). Di sisi lain, keberhasilan dalam memenuhi tuntutan tugas perkembangan dapat menimbulkan dampak yang signifikan pada kualitas hidupnya sebagai manusia.
Ini menunjukkan bahwa quarter life crisis kiranya cukup perlu mendapat perhatian yang serius karena berkaitan dengan kesehatan mental manusia. Richard Saxton (dalam Sandies, 2002) mengatakan bahwa kesehatan mental dapat menjadi semakin berat pada individu usia muda bila tidal( mendapatkan penanganan yang serius. Penjelasan di atas kiranya dapat menjelaskan bahwa pada fase dewasa muda, individu berpotensi mengalami quarter hie crisis yang berdampak secara signifikan pada kualitas hidup.
WHO mendefinisikan kualitas hidup sebagai `individual 's perceptions of their position in life in the context of the culture and value systems in which they live and in relation to their goals, expectations, standards and concerns' (WHO, 1996). Definisi ini selanjutnya yang akan digunakan oleh peneliti. Penelitian ini akan menggunakan dua instrumen yang mengacu pada WHOQOL, yaitu WHOQOL BREF dan SRPB. Penggunaan kedua instrumen ini berdasarkan beberapa pertimbangan, salah satunya adalah untuk pengembangan instrumen WHOQOL (uji validitas dan reliabilitas terhadap alat ukur WHOQOL-BREF dan SRPB untuk aplikasi Indonesia).
Penelitian ini menggunakan convenience sampling. Pengujian validitas menggunakan Pearson Product Moment Correlation dan uji reliabilitas menggunakan Coefficient Alpha Cronbach.
Berdasarkan hasil pengujian validitas dan reliabilitas, instrumen WHOQOLBREF dan SRPB merupakan instrumen penelitian yang valid dan reliabel dalam mengukur kualitas hidup. Koefisien reliabilitas berada dalam rentang 0.6 - 0.9. Secara umum, kualitas hidup dewasa muda yang berstatus lajang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu spiritualitas, karierlpekerjaan, relasi dengan sesama, atribut personal, dan lingkungan. Ranah yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kualitas hidup dewasa muda berstatus lajang adalah ranah psikologi, ranah kesehatan fisik, ranah spiritualitas-agama, ranah relasi sosial dan terakhir kondisi lingkungan."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T17871
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sophia Rini Hapsari
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1999
S2662
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hilda Sorba Oktrina
"Perkawinan antar-etnik merupakan suatu fenomena yang semakin menggejala. Kemajuan yang terjadi di berbagai bidang, seperti kemajuan di bidang perdagangan, media-massa, pelayanan penjalanan, peningkatan kesadaran akan hak asasi manusia serta kemajuan di bidang-bidang lain, akan meningkatkan frekuensi bertemunya individu dari berbagai latar-belakang, termasuk latar-belakang etnik. Salah satu dampak dari bertemunya inidividu-individu dengan berbagai latar-belakang etnik adalah terjadinya perkawinan antar-etnik. Kondisi bangsa Indonesia yang multi-etnik dengan derajat keberagaman yang tinggi, tentunya juga sangat memungkinkan terjadinya perkawinan antar-etnik.
Setiap perkawinan memiliki keunikan keunikan tersendiri, demikian pula dengan perkawinan antar-etnik ini. Pasangan perkawinan dituntut untuk melakukan serangkaian penyesuaian demi tercapainya kepuasan perkawinan, tidak saja antar-pasangan tetapi juga dengan pihak keluarga masing-masing pasangan. Pada dasarnya, semakin hesar perbedaan antara pasangan perkawinan, seperti yang dijumpai pada perkawinan antar-etnik, maka penyesuaian perkawinan yang perlu dilakukan oleh pasangan tersebut juga semakin sulit. Perbedaan budaya yang di antara pasangan dapat menimbulkan pemasalahan tersendiri dalam perkawinan antar-etnik.
Masyarakat Batak merupakan salah-satu kelompok etnik di Indonesia, yang masih memegang kuat adat budayanya. Hal ini terlihat dari masih dipeliharanya adat budaya tersebut oleh masyarakat Batak yang hidup di kota-kota besar. Sistem masyarakat Batak yang patrilineal, dimana prialah yang membentuk hubungan kekerabatan serta pentingnya marga sebagai penentu identitas seorang individu Batak, menyebabkan perkawinan antar-etnik menjadi suatu hal yang dihindari dalam masyarakat Batak, terutama wanita Batak. Namun walaupun demikian, perkawinan antar-etnik, dalam hal ini antara wanita Batak dengan pria suku lain masih dapat ditemui dalam masyarakat.
Mengingat hal inilah, peneliti tertarik untuk mengetahui proses penyesuaian perkawinan yang terjadi pada wanita Batak yang menikah dengan pria suku lain, artinya sejauhmana subyek menyesuaikan diri dengan kebutuhan, keinginan dan harapan pasangan, keluarga pasangan dan keluarga subyek sendiri. Peneliti ingin mengetahui lebih lanjut tentang masalah-masalah yang dihadapi subyek dalam penyesuaian perkawinannya sehubungan dengan adanya perbedaan budaya antara subyek dengan pasangannya, strategi yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, serta gambaran proses penyesuaian perkawinan pada subyek.
Untuk dapat memahami penghayatan subyektif individu, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan lima orang subyek wanita Batak yang menikah dengan pria suku lain. Metode wawancara dan observasi digunakan sebagai tehnik pengumpuian data untuk dapat memperoleh hasil yang cukup mendalam.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, wanita Batak yang menikah dengan pria suku lain masih tetap berusaha untuk mengikuti adat budayanya, namun demikian subyek tidak terlalu memfokuskan diri pada perbedaan budaya dengan pasangannya. Masalah-masalah yang muncul dalam proses penyesuaian lebih banyak berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan pribadi, pembagian peran dalam perkawinan dan penetapan pola asuh anak. Masalah-masalah sehubungan dengan perbedaan budaya tidak terlalu tertampil walaupun masih tetap ada, terutama tampak pada subyek yang suaminya berasal dari kelompok etnik dimana adat budayanya masih kental. Strategi yang dikembangkan oleh subyek untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam proses penyesuaian perkawinannya adalah dengan mengembangkan sikap toleransi, mau menerima perbedaan yang ada dan tidak mempermasalahkannya perbedaan tersebut, berusaha untuk mengikuti budaya pasangan tanpa harus meninggalkan budayanya sendiri.
Untuk penelitian selanjutnya disarankan agar mewawancarai pasangan subyek juga. Dapat juga dilakukan peneltian kuantitatif, untuk melihat aspek-aspek dari budaya dalam penyesuaian perkawinan secara khusus. Selain itu perlu dilibatkan subyek penelitian dengan latar-belakang yang lebih beragam."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998
S2948
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mutiara Pratiwi,author
"Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa keluarga memegang peranan penting bagi perkembangan individu dari anak-anak sampai dewasa. Seorang anak yang tumbuh di keluarga yang bahagia dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang akan lebih siap untuk bergaul dengan orang lain, punya rasa percaya diri dan mampu memperhitungkan kebutuhan orang lain (Landis& Landis, 1970). Namun demikian, karena terdapat masalah-masalah tertentu dalam sebuah keluarga (baik dalam diri anak, atau karena masalah keluarga lainnya), ada anak-anak yang tidak dapat dibesarkan dalam lingkungan keluarga sendiri, tapi harus dibesarkan di luar lingkungan keluarga, misalkan dalam keluarga angkat atau dalam panti asuhan. Panti asuhan sebagai sebuah lembaga untuk mengasuh anak-anak'bertujuan agar anak asuh bisa berkembang secara wajar dan memiliki keterampilan sehingga ia bisa terjun ke masyarakat bila ia sudah dewasa dan bisa hidup layak serta punya rasa tanggung jawab pada dirinya, keluarga dan masyarakat (Dinas Sosial, 1985).
Pada setiap panti asuhan terdapat batas usia anak asuh. Biasanya, bila anak sudah mencapai usia dewasa (sekitar usia duapuluh tahun) anak asuh berakhir statusnya sebagai anak asuh sehingga harus keluar dari panti untuk kembali ke orang tua atau terjun ke masyarakat. Pada usia ini individu mulai berada pada tahap dewasa muda, sehingga sebagai manusia' individu tersebut juga menghadapi tugas perkembangan, yaitu untuk membina karier, membina kehidupan yang mandiri, serta membina hubungan intim baik dengan teman atau calon pasangan hidup (Tumer & Helms, 1995). Untuk dapat berhasil memenuhi tugas perkembangan itu, individu dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang terjadi pada tahap-tahap perkembangan sebelumnya, yaitu anak-anak dan remaja (Conger, 1991). Pada individu yang pernah tinggal di panti asuhan, pengalaman ini termasuk pengalamannya sewaktu menjadi anak panti asuhan.
Anak panti asuhan sering dianggap sebagai anak yang sulit untuk berfungsi secara optimal, malas, nakal dan sulit diatur. Hal ini dapat berpengaruh pada penilaian individu akan dirinya. Whittaker (dalam Baily, & Baily, 1983) mengatakan bahwa anak panti asuhan sering memandang dirinya sebagai manusia yang jelek, berbeda, bodoh, dan tidak mampu untuk berubah. Penilaian diri ini selain dapat mempengaruhi tingkah laku individu, juga akan berpengaruh pada bagaimana ia merealisasikan potensi dirinya (kesejahteraan psikologis, selanjutnya disebut PWB). Individu tersebut akan sulit berfungsi secara optimal dalam masyarakat.
Konsep PWB dikemukakan oleh RyfF (1989) sebagai konsep yang menekankan pada kemampuan seseorang untuk menjalankan serta merealisasikan fungsi dan potensi yang ia miliki. Fungsi dan potensi tersebut terdiri dari enam dimensi, yaitu dimensi otonomi, dimensi penguasaan lingkungan, dimensi pertumbuhan diri, dimensi hubungan positif dengan orang lain, dimensi tujuan hidup, dan dimensi penerimaan diri. Keadaan PWB dapat terbentuk oleh pengaruh beberapa faktor, yaitu : faktor demografis dan klasifikasi sosial; faktor dukungan sosial; faktor daur hidup keluarga; faktor evaluasi individu akan pengalaman hidupnya; serta faktor kepribadian, seperti kontrol internal dan eksternal.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan keadaan PWB individu dewasa muda yang pernah menjadi anak panti asuhan, dengan mengacu pada pengalaman indiviu selama menjadi anak panti asuhari dan pengaruh faktor-faktor dalam pengalaman individu tersebut terhadap keadaan PWBnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara untuk mengumpulkan data. Selain itu, agar diperoleh gambaran PWB yang akurat, penelitian juga menggunakan alat ukur PWB (The Scales of Psychological Well-Bemg, atau SPWB) yang berbentuk kuesioner sebagai data penunjang. Subyek penelitian terdiri dari tiga orang individu dewasa muda yang pernah atau masih menjadi anak panti asuhan. Setelah data selesai dikumpulkan, dilakukan analisis kualitatif terhadap wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan gambaran PWB pada dewasa muda yang pernah menjadi anak panti asuhan, antara gambaran di SPWB dengan yang terungkap dalam wawancara. Dari hasil perolehan skor tiga subyek dalam SPWB, tergambar keadaan PWB yang cukup baik, sedangkan dari wawancara dan observasi terungkap adanya beberapa aspek dari subyek yang tidak sebaik di SPWB dan masih harus dikembangkan.
Pada penelitian ini didiskusikan beberapa hal yang menurut peneliti menarik, yaitu tentang tempat tinggal subyek penelitian; sebab subyek masuk panti asuhan dan hubungan subyek dengan keluarga aslinya; hubungan jenis kelamin dengan PWB; adanya tumpang tindih dalam dimensi-dimensi PWB; proses perolehan subyek penelitian; dan penggunaan dua buah metode, yaitu wawancara dan kuesioner. Saran untuk penelitian lanjutan meliputi dilakukannya wawancara dengan orang-orang dekat subyek; cara perolehan subyek yang efektif dan tidak melibatkan otoritas; dilakukannya penelitian dengan membandingkan jenis panti asuhan (asrama dan keluarga) serta penelitian dengan subyek yang benar-benar sudah keluar dari panti asuhan; dan kriteria sampel yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian. Sedangkan saran praktis pada penelitian ini lebih mengenai pandangan pihak masyarakat luas terhadap anak panti asuhan."
Depok: Universitas Indonesia, 2000
S2974
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yetty Hermawan
"Apabila dalam suatu keluarga, salah satu anggota keluarganya menderita penyakit kronik, misalnya penyakit tersebut adalah gagal ginjal dan penderita adalah kepala keluarga, maka orang terdekat yang terkena dampaknya adalah isteri dan keluarganya. Gagal ginjal kronik dapat terjadi karena rusaknya ginjal secara permanen sehingga fungsi ginjal terganggu dan penderita harus menjalani terapi cuci darah sepanjang hidupnya. Menurut Sutarjo (1997), gagal ginjal kronik merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada aspek sosioekonomi dan psikologi penderita beserta keluarganya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti gambaran stres yang dialami oleh para isteri dari penderita gagal ginjal kronik dan perilaku coping yang ditampilkan ketika menghadapi keadaan suaminya, serta dukungan sosial yang dibutuhkan oleh yang bersangkutan.
Permasalahan tersebut akan dijawab dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan pendekatan ini akan dapat diteliti suatu kasus yang spesifik, orang tertentu atau situasi yang unik secara mendalam (Patton, dalam Poerwandari, 1998). Penelitian dilaksanakan dengan melakukan wawancara mendalam mempergunakan pertanyaanpertanyaan terstruktur dan observasi terhadap tiga orang isteri yang selalu mendampingi suami mereka sebagai penderita gagal ginjal kronik dan harus menjalani terapi cuci darah.
Dengan cara analisis berdasarkan Marshall dan Rossman (1989) penelitian ini akan menghasilkan analisis setiap isteri dan analisis antar isteri dari penderita gagal ginjal kronik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran, sumber, dan proses stres, serta strategi coping yang dipergunakan untuk mengatasi masalah, dan gambaran dukungan sosial yang teijadi pada para isteri sebagai pendamping penderita gagal ginjal kronik.
Dari hasil penelitian, ternyata ditemukan bahwa ketiga isteri mengalami beberapa situasi stres yang sama yaitu tingginya biaya cuci darah, sehingga mereka juga melakukan langkahlangkah positif untuk menghadapinya (planning coping), dan menurunnya kondisi kesehatan suami mereka. Pada awalnya, ketiga isteri menolak hasil diagnosis dokter (denial), akan tetapi akhirnya mereka dapat menerima (acceptance). Ketiga isteri juga mempunyai kebutuhan yang sama yaitu kebutuhan akan dukungan dari lingkungan sekitarnya (seeking social support foremotbnal neasons).
Untuk penelitian selanjutnya dengan topik yang sama, penjaringan subyek supaya lebih ketat dengan memperhatikan kriteria tertentu, dan mencoba menggunakan metode penelitian kuantitatif. Selain itu, dapat diteliti interaksi komunikasi antara subyek dengan tenaga-tenaga medis sehingga kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit dapat ditingkatkan. Saran selanjutnya adalah melakukan penelitian terhadap para isteri yang mengalami depresi karena tidak mampu menghadapi situasi yang penuh stres disebabkan suami mereka menderita gagal ginjal kronik dan harus menjalani terapi cuci darah seumur hidup."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S3368
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maharsi Anindyajati
"ABSTRAK
Seiring dengan perkembangan zaman, streotip peran gender mengalami pergeseran. Sesuatu yang semula hanya diperuntukkan bagi pria kini sudah menjadi hal yang sering dilakukan oleh wanita, begitu pula sebaliknya. Wanita mulai diperbolehkan menampilkan kemandirian dan dominasinya, sementara pria tidak lagi dilarang untuk menunjukan kehangatan dan sikap penuh pengertian. Di samping itu,
ditandai juga dengan mulai banyaknya wanita yang berkecimpung dalam bidaug politik atau menjadi tentara yang selama ini didominasi oleh pria, atau mulai banyaknya pria yang berprofesi sebagai penari dan penata rambut yang selama ini digeluti oleh kaum wanita dan identik dengan femininitas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maskulinitas dan
femininitas pada individu yang memiliki trait berlawanan dengan stareotip peran gendernya. Subyek yang dipilih adalah pria yang memiliki profesi identik dengan femininitas, yaitu penari dan penata rambut Pertimbangan memilih subyek pria yang
sering menampilkan trait feminin bahwa pada kenyataannya masyarakat lebih menghargai kualitas maskulin dari pada feminin, sehingga jika seorang wanita berhasil dalam bidang yang biasanya dikuasai oleh pria maka ia akan mendapat penghargan
lingkungan, misalnya sebagai pilot atau politikus. Sementara belum jelas apakah hal yang sama berlaku bagi pria yang berhasil dalam aktivitas feminin.
Untuk memperoleh gambaran maskulinitas dan femininitas pada pria yang
berprofesi sebagai penari dan penata rambut, digunakan dua alat tes, yaitu Bem Sex
Role Inventory (BSRI) dan tes Wartegg. Melalui BSRI, individu akan digolongkan sesuai orientasi peran gendemya. Sementara melalui tes Wartegg, akan dilihat bagaimana subyek mengolah dan berespon terhadap stimulus maskulin dan stimulus feminin. Teknik yang digunakan adalah dengan melihat aktifitas atau kesesuaian gambar subyek dengan sifat-sifat yang terkandung di dalam stimulus tersehut
(stimuius drawing relations) Serta unltan respon subyek.
Hasil penelitian terhadap 35 subyek yang terdiri dari 13 pria berprofesi sebagai penari dart 22 pria berprofesi sebagai penata rambut menunjukkan bahwa
kebanyakan pria yang berprofesi sebagai penari dan pcnata rambut memiliki orientasi peran gender yang non gender type, yaitu androgin dan tak tergolongkan. Dalam tes
Wartegg, subyek kebanyakan menunjukkan afinitas yang lebih baik pada stimulus feminin dari pada maskulin, namun kebanyakan dari subyek tidak dapat digolonkan memiliki kecendemngan maskulin atau feminin.
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran untuk penelitian selanjutnya adalah dengan memperbesar jumlah subyek, meneliti subyek dengan aktivitas feminin yang berbeda atau dengan menggunakan instrumen yang berbeda, Serta melihat mengenai kehidupan seksualitas dengan menggunakan responden yang sama namun
lebih berdasarkan homoseksualitas atau heteroseksualitasnya."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2003
T38364
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dinastuti
"Tindak kekerasan adalah suatu hal yang dianggap biasa dan terjadi di seluruh dunia., juga dalam hubungan berpacaran. Bentuk kekerasan paling umum adalah emotional abuse. Emotional abuse meliputi tingkah laku dan sikap yang secara tidak langsung mengintimidasi, memanipulasi, dan menolak perhatian dari pasangarmya (Engel, 2002). Hubungan berpacaran dibina serius saat memasuki usia dewasa muda yaitu umur 20 tahun ke atas untuk mengambil keputusan menikah atau tetap melajang (Papalia dan Olds, 1995). Pertanyaan penelitian ialah bentuk emotional abuse apa yang dialami korban dalam hubungan berpacaran, penghayatan korban terhadap emotional abuse, pertimbangan korban untuk bertahan dalam hubungan berpacaran, dan tindakan korban untuk menghentikan emotional abuse. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum emotional abuse pada dewasa muda yang berhubungan berpacaran di Jakarta. Hasil penelitian bennanfaat untuk membuat program pencegahan kekerasan dalam hubungan berpacaran pada dewasa muda.
Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara terfokus dan mendalam. Analisa hasil penelitian dilakukan dengan teknik analisa isi. Hasil penelitian meliputi awal terjalinnya hubungan pacaran dan emotional abuse, bentuk-bentuk emotional abuse, penghayatan subyek terhadap emotional abuse, pengambilan kepumsan untuk mempertahankan atau memutuskan hubungan berpacaran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hublmgan berpacaran yang diwamai dengan emotional abuse biasanya terjalin cepat, penyebab utama emotional abuse adalah perasaan cemburu yang berlebihan, subyek kaget dan bingung saat emotional abuse telj adi serta berusaha menerima hal. Reaksi pasangan saat akan ditinggalkan subyek umumnya adalah menangis. Subyek yang telah mantap untuk memutuskan hubungan biasanya telah lelah menanggung beban psikologis. Sedangkan yang memilih untuk bertahan memiliki perasaan sayang dan keyakinan bahwa pasangannya dapat berubah.
Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan penelitian terhadap perspektif laki-laki sebagai korban dan kepada pasangan yang hubungan berpacarannya mengalami emotional abuse. Penelitian ini juga dapat dijadikan acuan untuk membuat program pelatihan bagi pelajar dan mahasiswa mengenai hubungan interpersonal yang sehat dan setara."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitti Evangeline Imelda Suaidy
"Keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang menderita skizofrenia akan mendapatkan konsekuensi berupa munculnya berbagai masalah yang berdampak pada kehidupan keluarga. Beberapa teori telah membahasnya dan menyebulnya sebagai beban keluarga.
Tujuan dari peneliiian ini untuk melihat gambaran mengenai beban subjektif yang dirasakan oleh keluarga saat melanjutkan perawalan di rumah. Sedangkan metode yang digunakan dalam pcnclitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD). Swbanyak 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 6 orang menjadi subyek penelitian ini.
Basil dari penelitian ini menunjukkan bahwa semua subyek mempunyai beban sebagai konsekuensi mempunyai anggota keluarga yang menderita skizofiienia, seperti munculnya masalah-mamlah yang berkaitan dengan perilaku yang ditampilkan penderita, tugas merawat, hubungan antar anggota keluarga, hubungan sosial sampai masalah keuangan dengan kesulitan-kesulitan dan ketidakcocokan dalam kehidupan subyek dengan penderita.
Akan tetapi, Studi ini juga menunjukkan bahwa tidak semua konsekuensi yang dialami oleh subyek mendapakan beban. Beberapa diantaranya memperoleh konsekuensi positif seperti membuat hubungan keluarga menjadi lebih dekat, saling memperhatikan dan meningkatkan keimanan kepada Tuhan. Sehingga konsekuensi yang dialami keluarga dapat bermakna posilif ataupun ncgatif."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Theodora Subyantoro
"Populasi manusia kian meningkat dari hari kehari dan mengingat perkembangan teknologi dan program KB, maka dapat diramalkan bahwa populasi terbesar akan bcrada pada populasi lansia. Oleh karena itu adalah penting untuk memperhatikan keberadaan populasi lansia Panti werda adalah sebuah pilihan yang patut dipertimbangkan. Namun citra panti werda, khususnya di Indonesia tidaklah positif di kalangan masyarakatnya. Unmk merubah citra tersebut, pardi werda harus menjadi tempat tinggal yang bisa membuat lansia merasa sejahtera. Seseomng dapat merasa sqiahtera ketika kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk ruembuat penelilian mengenai gambaran kebutuhan lansia yang tinggal di panti werda. Untuk mendapatkan gambaran kebutuhan yang dapat dilanjutkan menjadi intervensi yang cukup aplikatif bagi sebuah panti werda, maka penelitian ini harus dibuat pada sebuah panti werda saja. Untuk itu, peneliti hanya melakukan penelitian ini di PWK Hana.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori kebutuhan Abraham Maslow. Teori ini menyebutkan adanya 5 tingkatan kebutuhan, yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebumlwn penghargaan dan kebutuhan aktualisasi. Teori kebutuhan ini berbentuk hiradri, dimana kebutuhan yang diatasnya hanya dapat terpenuhi ketika kebutuhan yang dibawahnya sudah terpenuhi. Namun karena peneliti ingin melihat kebuulhan mana yang lebih dominan dari 5 kebutuhan ini, maka peneliti melihat kelima kebutuhan inisecara sejajar. Hal ini didukung oleh literatur yang mengatakan bahwa penggunaan hirarki dalam teori kebutuhan Maslow tidakdah mutlak.
Hasil penelitian dari 30 lansia yang tinggal di PWK Hana ini memperlihatkan bahwa kebutuhan tertinggi dari lansia yang tinggal di PWK Hana adalah kcbutuhan aktualisasi diri dengan spesifikasi kabutuban tertinggi didalamnya, yaitu kebutuhan txansendensi diri dan kebutuhan terendalmya adalah stimulasi. Sedangkan kebutuhan terendah adalah kebutuhan rasa aman, dengan spesifikasi kebutuhan tertinggi didalnmya adalah kebutuhan akan lingkungan. Dalam penelitian ini, peneliti juga melihat gambaran kebutuhan lansia yang tinggal di PWK Hana berdasarkan jenis kelamin, usia, status pemikahan dan lamanya tinggal di PWK Hana sebagai analisis tambahan.
Dari keseluruhan hasil penelitian yang ada, peneliti melihat beberapa hal yang menafik, diantaranya adalah kenyataan yang memperlihatkan tingginya kebutuhan akan aktualisasi diri memicu kita untuk dapat memikidcan intervensi-intervensi dan meniotivasi lansia untuk lebih aktif dan produktif dalam artian yang luas sehingga dapat membuat mereka merasa lebih berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain disekitamya.
Isu lainnya yang muncul dalam penelitian ini adalah masih adanya kebutuhan seks, khususnya pada lansia laki-laki. Masih adanya dorongan seksual ini perlu diperlukan pemenuhannya atau penyalurannya melalui cara-cara yang dapat diterima oleh masyarakat kita."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vinna Caturinata
"Penelitian ini berfokus pada keterkaitan antara dukungan sosial dengan coming Our pada lesbian dewasa muda. Penelitian ini termasuk penelitian kulitatif dan menggunakan 4 lesbian usia dewasa muda (20-40 tahun) sebagai subyek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan obeservasi. Dari analisis terhadap hasil wawancara, clisimpulkan bahwa coming our dan dukungan sosial pada lesbian dewasa muda dipcngaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi ekonomi, respon dari lingkungan, dan kcpribadian lesbian itu sendiri. Lesbian yang masih membutuhkan dukungan finansial dari orangtua, mendapatkan respon negatif dari lingkungan (penolakan atau dijauhi), serta kepribadian yang tertutup atau rendah diri menjadi terharnbat dalam coming out kepada lebih banyak orang. Lesbian tersebut kemudian hanya mendapatkan dukungan sosial dari scdikit orang, yaitu teman dekat yang mengetahui bahwa mereka adalah lesbian. Di sisi lain, lesbian yang telah dapat memenuhi kebutuhan linansialnya sendiri, mendapatkan respon positif dari lingkungan (diterima dan tidak ditentang), dan memiliki kepribadian yang terbuka atau tidak terlalu mempedulikan penilaian dari lingkungan menjadi semakin berani untuk coming out kepada lebih banyak orang. Lesbian tersebut kcmudian mendapatkan lebih banyak dukungan sosial. Namun demikian, mcreka tidak dapat menceritakan permasalahannya dengan lceluarga karena keluarga belum dapat menerima orientasi seksualnya. Hasil lain yang tampak adalah bahwa Pengalaman yang dipeisepsikan positif atau negatif dapat mempengaruhi lesbian untuk dapat atau justru menjadi terhambat dalam coming our. Selain itu, tampaknya pengaruh faktor keyakinan atau agama yang dianut terhadap coming out sebaiknya diteliti lebih lanjut mcngingat nilai-nilai atau norma agama masih kuat dianut di Indonesia.

This research focus on the connection between social support with coming out in young adult lesbians. This is a qualitative research using 4 (four) young adult lesbians (20-40 years) as research subjects. Data collection is done with interview and observational method. From interview analysis, the conclusion is that coming out and social support in young adult lesbians are influenced by several factors such as: economic condition, environmental response and the lesbian’s personality itseli Lesbians who still need financial support from their parents, who received negative response from their environment (rejection or avoidance), and have closed personality or low self esteem will experience difficulty in coming out process to more people; This kind of lesbians will received social support only from a small amount of people, such as their closest friends who already know that they are lesbians. On the other side, lesbians who can fulfill their own financial needs, who obtain positive response from their environment (acceptance or no rejection), and have open personality or don’t care much about judgements from their environment will become braver in coming out process to more people. This kind of lesbians will get more social support. Even so, they can’t share problems with their family because their family can’t accept their sexual orientation. Other results is lesbian’s negative or positive perception toward an experience can influence a lesbian to come out easily or can become an obstacle in coming out process. Beside that, belief or religious factor’s influence to coming out process still needs further research, since values or religious norms still strongly believed in Indonesia."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
T34139
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>