Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Endang Widjajanti
"ABSTRAK
Penutupan lajur jalan pada ruas jalan dengan tipe dua lajur dua arah tak terbagi (2/2 UD) memerlukan penanganan untuk mengoptimalkan kapasitas pada lokasi yang mengalami penyempitan. Permasalahan lalu lintas pada lokasi penyempitan ruas jalan (LPRJ) akan semakin kompleks apabila arus lalu lintas yang melintasi lokasi sudah mencapai kondisi lewat jenuh.
Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan strategi kontrol lalu lintas bersinyal di jalan dua lajur dua arah tak terbagi yang mengalami penyempitan karena adanya LPRJ pada kondisi arus lalu lintas lewat jenuh. Untuk menyelesaikan antrian kendaraan akibat arus lewat jenuh pada waktu yang sama di kedua pendekat, dikembangkan metode kontrol lalu lintas bersinyal dengan perubahan waktu hijau pada siklus tertentu, yaitu dengan menggunakan parameter titik perubahan rasio akumulasi kendaraan yang dilepas terhadap akumulasi kendaraan yang datang (R).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu hijau optimal terjadi apabila salah satu pendekat telah mencapai R>0,95. Dengan data arus kedatangan kendaraan yang sama, metode penelitian memberikan perbaikan kinerja bila dibandingkan dengan metode yang telah dikembangkan sebelumnya yaitu model Tundaan Diskrit Minimum (Chang & Lin, 2000) dan model Maximum Throughput (Talmor & Mahalel, 2007).
Simulasi kontrol lalu lintas bersinyal di LPRJ dengan tipe 2/2 UD dilakukan dengan asumsi arus kedatangan lewat jenuh terjadi pada 300 detik pertama. Hasil simulasi menunjukkan bahwa periode pengamatan kedatangan kendaraan optimum adalah sebesar 240 detik dan waktu siklus optimum sebesar 240 detik. Dari hasil simulasi juga dapat diketahui besaran peningkatan tundaan total akibat perubahan periode pengamatan kedatangan kendaraan dari 240 detik ke periode pengamatan kedatangan kendaraan yang lebih kecil serta penurunan throughput rata-rata dan peningkatan periode arus jenuh akibat perubahan waktu siklus dari 240 detik ke waktu siklus yang lebih pendek.
Penelitian juga memberikan hasil panjang LPRJ yang dapat diakomodasi oleh kontrol lalu lintas bersinyal pada kondisi arus lewat jenuh berdasarkan besaran derajat kejenuhan total (DS) dan kecepatan rata-rata pada LPRJ (Sw) serta nomogram yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan kinerja kontrol lalu lintas bersinyal di LPRJ tipe jalan 2/2 UD pada kondisi arus lewat jenuh. Untuk mempertajam keakurasian hasil agar sesuai dengan kondisi lapangan, diperlukan penelitian lanjut yang terkait dengan penetapan nilai ekivalensi mobil penumpang dan besaran arus jenuh yang sesuai dengan berbagai kondisi lalu lintas di Indonesia. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian lanjut untuk arus kedatangan yang bervariasi dan kecepatan pada LPRJ < 20 km/jam.

ABSTRACT
Road activities usually require the closure of one of the two ways two lane roads (2/2 UD) constitute the restrictive bottleneck of the road system, which need a special effort to maximize the capacity of bottleneck areas, especially on over saturation traffic condition The objective of the study is to develop a signal-control strategy and its application for road closure area on two way two lanes roads which is treated as an isolated intersection during severe over saturation.
To disperse the queues of the two approaches in the same time, the study developed a new method by introducing a ratio between cumulative departure and cumulative arrival (R). The study showed that switch over of green time was effectively dispersed all the vehicles of the two approaches in the same cycle. The result of the study indicates that optimal green time happened if one of the approach has reached R>0.95. With the same arrival and saturation flow data, the method introducing in this study has a better performance results comparing amongst the previous methods, i.e. the Discrete Minimal Delay Model and the Maximum Throughput Model.
The study conducted a signalized control simulation on road closure areas on two way two lane roads with the assumption that the road severe over saturation on the first 300 seconds which indicates that various arrival detection has a different total delay but has the same average throughput and over saturation period. The simulation results show that the optimum arrival detection period is 240 seconds and the optimum cycle time is 240 seconds.
The study give indication of the percentage of increasing total delay if the there is a change of vehicle arrival detection period from 240 seconds to less than 240 seconds (i.e. 120 seconds and 180 seconds). The study also indicates the percentage of increasing total delay, decreasing of average throughput and decreasing of over saturation period if there is a change of cycle time from 240 seconds to less than 240 seconds (i.e. 120 seconds, 150 seconds,180 seconds and 210 seconds). The study also indicates the maximum work zone length that can be accommodated by signalized traffic control in over saturation traffic condition based on total Degree of Saturation (DS), average speed on lane closure area (Sw) and nomogram that can be used to predict signalized traffic control performance on oversaturated road closure areas (total delay and average throughput). In order to get more accurate results, it is necessary to study the value of passenger car equivalents and saturation flow that figure the actual traffic condition corresponds with various traffic conditions in Indonesia. It also needs to do the simulation with various arrival patterns and at average road closure area?s speed less than 20 kph."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
D987
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hugeng
"Sintesis sistem audio spasial ditemukan dalam banyak aplikasi krusial, seperti dalam pesawat terbang militer maupun komersial, pengembangan virtual reality, termasuk di dalamnya aplikasi dalam permainan-permainan elektronik, maupun sebagai consumer electronics yang memberikan efek bunyi spasial dan kenyamanan bagi pengguna dalam mendengarkan musik. Hampir semua sistem yang mengaplikasikan sintesis audio spasial atau tiga dimensi, memerlukan Head- Related Impulse Response (HRIR). HRIR merupakan fungsi alih dalam kawasan waktu dari gendang telinga manusia yang melakukan penyaringan bunyi yang datang pada gendang telinga tersebut.
Pemodelan HRIR dengan parameter-parameter yang dapat diatur sesuai dengan antropometri pendengar merupakan salah satu solusi dari masalah yang timbul akibat menggunakan HRIR yang non-individual, seperti bunyi terdengar tidak seperti aslinya, serta bunyi terdengar di dalam kepala jika digunakan headphones. Hasil yang sangat bagus diperoleh jika digunakan HRIR individual milik subyek itu sendiri. Tetapi pengukuran HRIR individual ini memerlukan waktu, biaya dan energi yang tidak sedikit.
Di dalam penelitian ini, dimodelkan HRIR fasa minimum, di kawasan waktu, dan Head-related Transfer Function (HRTF) magnitude, di kawasan frekuensi, dengan menggunakan metode statistik Principal Components Analysis (PCA) dengan 10 vektor basis, untuk sumber-sumber bunyi di bidang horisontal dan di bidang median. Sedangkan individualisasi dari model HRIR dan model HRTF tersebut dilakukan berdasarkan Multiple Linear Regression (MLR) dari bobot-bobot vektor basis PCA yang dapat diatur, sesuai dengan 8 ukuran antropometris terseleksi. Seleksi 8 dari total 27 ukuran antropometris dilakukan berdasarkan analisis korelasi antara parameter-parameter psikoakustik penting dan bobot-bobot vektor basis PCA terhadap 27 ukuran antropometris.
Individualisasi model HRIR fasa minimum menghasilkan mean-square error (MSE) rata-rata yang cukup memuaskan sebesar 22,5% di bidang horisontal dan 20,42% di bidang median. Di kawasan frekuensi, dihasilkan MSE rata-rata lebih kecil untuk individualisasi model HRTF magnitude, yaitu 12,17% di bidang horisontal dan 11,21% di bidang median. Model-model HRIR dan HRTF individual dapat mengaproksimasi dengan baik pola-pola dan struktur-struktur detail respon-respon HRIR dan HRTF asli yang bersangkutan. Tes pendengaran dalam menentukan posisi-posisi sumber bunyi di bidang horisontal menghasilkan persentasi kebenaran yang lebih besar jika digunakan model-model HRIR individual daripada jika digunakan HRIR non-individual.

Syntheses of spatial audio systems are found in many crusial applications, such as both in military and commercial aeroplanes, development of virtual reality, electronics games, and consumer electronics that have given spatial effects on sound so that the listeners are pleasant in hearing their music. Most of the systems that synthesize spatial audio need head-related impulse responses (HRIRs) of human ears. HRIRs are impulse responses of human's eardrum, in time domain, that are responsible in filtering incident sound to that eardrum.
Modeling HRIRs with tunable parameters that are suitable to anthropometrie of a listener is a solution to emerging problems by using nonindividualized HRIRs, e.g. sound heard as if it were in head when using headphones and sound heard is not natural. The best results are obtained when the listener uses his/her own individual HRIRs. However, measurements of individual HRIRs require a huge amount of time, cost, and energy.
In this dissertation, minimum phase HRIRs were modeled in time domain and magnitude HRTFs were modeled in frequency domain, by using the statistical method named Principal Components Analysis (PCA) with 10 basis vectors, for sound sources on horizontal plane and on median plane. The individualization method used for the models of minimum phase HRIRs and the models of magnitude HRTFs, was based on Multiple Linear Regression (MLR) between weights of basis vectors obtained from PCA, that could be adjusted due to 8 selected anthropometric measurements. The selection process of 8 out of all 27 anthropometric measurements was performed based on correlations analysis between psychoacoustically crusial parameters; weights of basis vectors of PCA; and 27 anthropometric measurements.
Individualization of models of minimum phase HRIRs resulted in quite satisfying average mean-square error (MSE) of 22,5% for sources on horizontal plane and of 20,42% on median plane. In frequency domain, average MSE obtained from individualization of models of magnitude HRTFs was much better, that was 12,17% on horizontal plane and 11,21% on median plane. Individualized HRIRs models and individualzed HRTFs models were able to approximate very well the patterns and detail structures found in respective original HRIRs and HRTFs. Listening tests performed for sound sources on horizontal plane resulted in that larger correct rates were obtained, if models of individualized HRIRs were applied, than if models of non-individualized HRIRs were applied.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
D1185
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library