Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurul Murtadho
"Metafora dalam kajian ini digunakan dalam artinya yang luas sebagai sinonim kata majas dalam bahasa Indonesia yang mencakup majas perbandingan, pertautan, dan pertentangan. Metafora dalam al-Qur'an akan dilihat dari interpretasi para ahli tafsir, dan keterkaitan antarmetafora serta klasifikasinya akan dilihat dengan menggunakan teori interaksi dan keterkaitan antara bentuk kebahasaan dan interpretasinya.
Ayat-ayat al-Qur'an yang sedang dikaji ini mencakup ayat-ayat mulakamat yang menggunakan kata ?nur/cahaya?, dan kata ?zulumati /kegelapan?, serta ayat-ayat mutasyabihat yang berkaitan dengan Tuhan. Korpus ini diklasifikasikan ke dalam lima kelompok: (1) lambang proses pengetahuan (nur zulumati `cahaya kegelapan'), (2) kata-kata tentang f rile (3) orientasi spacial, (4) sikap psikologis, dan (5) perbuatan.
Hasil analisis menyimpulkan bahwa terdapat keterkaitan antarmetafora dalam al-Qur'an dilihat dari unsur Ieksikal dan interpretasinya dan ditemukan adanya tiga kelompok metafora: metafora tunggal dengan interpretasi tunggal, metafora tunggal dengan interpretasi tak tunggal, dan metafora taktunggal dengan kesamaan interpretasi.
Metafora dalam al-Qur'an, sebagai hasil interpretasi para ahli tafsir di atas, kemudian dari terjemahanya melalui dua buah terjemahan, Departemen Agama RI (1990) dan H.B.dassin (1991) dalam rangka melihat apakah terdapat pergeseran makna atau tidak dan merumuskan suatu model penerjemahan yang berterima. Hasil analisis mengungkapkan bahwa transposisi atau pergeseran bentuk dalam BSa tidak berpengaruh pada pesan dalam BSu, sementara pergeseran luasan makna ditemukan dalam korpus data.
Dengan memanfaatkan hasil analisis data, model perpadanan metafora yang diusulkan adalah (1) penerjemahan metafora dalam al-Qur'an dengan metafora dalam Bahasa Indonesia hanya dapat dilakukan apabila makna metaforis dalam BSu lama dengan yang terdapat dalam BSa, (2) makna perlu ditambahkan pada metafora apabila makna yang terkandung dalam BSu dan BSa tidak sama, (3) hanya makna yang diperlukan apabila pencantuman metafora dalam BSa akan mengaburkan pesan, dan (4) metafora dilesapkan dalam BSa apabila pencantuman metafora maupun maknanya dianggap dapat mengaburkan pesan atau mubazir. Saran penelitian lanjutan disajikan dalam akhir kajian ini.

Metaphors in the Qur' an and Their Translation In Indonesian Language A Study of Metaphors on Dark, Light, and Some of Allah's FeaturesThe term metaphor used in this study is in the broad sense amounts to a cover term for all figures of speech. Based on interpretations by commentators, interrelation of metaphors in the Qur'an will be seen through the interaction theory, and the form of language. The Qur'anic verses under study are limited to those using the concepts of dark, light, as well as physical concepts, spatial orientation, psychological feelings, and deeds.
Three kinds of metaphors are described, a statement with one meaning, a statement with various meanings, and various statements with the same meaning, Two types of Qur'anic translation by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (1990) and Yassin (1991) are being studied to see whether or not there are transpositions and modulation i.e., variation through a change of viewpoint, of perspective, and of category of thought. The result says that transpositions do not influence the meaning, modulation, however, exist in terms of perspective.
Based on the analysis, I propose a model of metaphor equivalence which describes (1) replacing the same metaphor in the target language (TL) can be done only if the meaning of both source language (SL) and TL is the same, (2) the metaphor should be accompanied by its meaning when the meaning in both languages differs, (3) mere meaning is needed in case metaphor draws fuzziness, and (4) metaphor should be deleted when replacing either metaphor or its meaning causes fuzziness. Directions for future research are suggested for further study.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1999
D226
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhayati
"Disertasi ini merupakan penelitian di bidang stilistik naratif yang memperlihatkan bahwa kajian naratologi dapat dilakukan melalui ancangan linguistik. Dengan menggunakan teori tentang konsep temporal dalam bahasa dan teori naratologi, penelitian ini menjawab masalah: "Makna apa yang dihasilkan oleh penggunaan pemarkah temporal di dalam dua novel detektif klasik berbahasa Inggris, yaitu The Hound of the Baskervilles dan Nemesis dan fungsi apa yang diungkapkan oleh pemarkah temporal dalam dua novel tersebut". Berdasarkan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi makna dan fungsi pemarkah temporal dalam novel detektif klasik. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan kala dalam teks naratif memiliki dua pola, yaitu kala sebagai pengungkap modus komunikasi faktual dan modus komunikasi fiktif. Pola pertama menggunakan waktu tokoh bertutur sebagai pusat waktu (tnol), sedangkan pola kedua menggunakan waktu narator bertutur sebagai pusat waktu (tnol). Untuk mengungkapkan makna kekinian, pola pertama menggunakan kala simple present, sedangkan pola kedua menggunakan kala simple past. Penggunaan kala dalam pola kedua tersebut mengakibatkan pola interaksional antara kala, aspek, tipe klausa, dan keterangan temporal lebih beragam, seperti hadirnya kala simple past dan keterangan temporal now dalam satu klausa. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa penggunaan pemarkah temporal dalam dua novel yang diteliti mengasilkan makna pragmatik dalam bentuk eksplikatur dasar dan eksplikatur interaksional. Eksplikatur dasar terdiri atas pengungkapan aksionalitas, aspektualitas, dan kewaktuan, sedangkan eksplikatur interaksional terdiri atas penggambaran pergeseran tipe situasi, habitual, keberbatasan, inkoatif, iteratif, dan harmoni kala. Di dalam konteks tertentu, penggunaan pemarkah temporal tersebut juga menghasilkan makna pragmatik yang berupa implikatur, yang antara lain berupa penggambaran (i) perubahan peri keadaan, (ii) urutan peristiwa, (iii) hubungan antara durasi peristiwa dan penceritaannya, (iv) hubungan antara kekerapan peristiwa dan penceritaannya, dan (v) penonjolan peristiwa tertentu. Berdasarkan kemampuannya dalam mengungkapkan eksplikatur dan implikatur tersebut, pemarkah temporal dalam dua novel tersebut dapat berfungsi sebagai pengungkap struktur naratif yang berupa (i) perbedaan antara peristiwa dan nonperistiwa, (ii) hubungan antara waktu cerita dan waktu penceritaan, (iii) penonjolan bagian cerita atau pelataran, (iv) bentuk penceritaan, (v) hubungan antarcerita, dan (vi) posisi narator terhadap cerita. Karena memiliki fungsi-fungsi tersebut, pemarkah temporal dalam novel detektif klasik dapat digunakan untuk mengungkapkan pola penceritaan novel detektif klasik yang terdiri atas penceritaan (i) alur penyelidikan yang ikonis dan lamban, (ii) alur kejahatan yang terpisah-pisah dan anakronis, (iii) pola tindakan yang memadukan sifat rasionalitas dan mistifikasi, serta mengungkapkan (iv) penokohan dan latar yang mengandungi petunjuk yang membingungkan (mystifying)."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
D929
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhayati
"Disertasi ini merupakan penelitian di bidang stilistik naratif yang memperlihatkan bahwa kajian naratologi dapat dilakukan melalui ancangan linguistik. Dengan menggunakan teori tentang konsep temporal dalam bahasa dan teori naratologi, penelitian ini menjawab masalah: ?Makna apa yang dihasilkan oleh penggunaan pemarkah temporal di dalam dua novel detektif klasik berbahasa Inggris, yaitu The Hound of the Baskervilles dan Nemesis dan fungsi apa yang diungkapkan oleh pemarkah temporal dalam dua novel tersebut?.
Berdasarkan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi makna dan fungsi pemarkah temporal dalam novel detektif klasik. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan kala dalam teks naratif memiliki dua pola, yaitu kala sebagai pengungkap modus komunikasi faktual dan modus komunikasi fiktif. Pola pertama menggunakan waktu tokoh bertutur sebagai pusat waktu (tnol), sedangkan pola kedua menggunakan waktu narator bertutur sebagai pusat waktu (tnol). Untuk mengungkapkan makna kekinian, pola pertama menggunakan kala simple present, sedangkan pola kedua menggunakan kala simple past. Penggunaan kala dalam pola kedua tersebut mengakibatkan pola interaksional antara kala, aspek, tipe klausa, dan keterangan temporal lebih beragam, seperti hadirnya kala simple past dan keterangan temporal now dalam satu klausa.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa penggunaan pemarkah temporal dalam dua novel yang diteliti mengasilkan makna pragmatik dalam bentuk eksplikatur dasar dan eksplikatur interaksional. Eksplikatur dasar terdiri atas pengungkapan aksionalitas, aspektualitas, dan kewaktuan, sedangkan eksplikatur interaksional terdiri atas penggambaran pergeseran tipe situasi, habitual, keberbatasan, inkoatif, iteratif, dan harmoni kala. Di dalam konteks tertentu, penggunaan pemarkah temporal tersebut juga menghasilkan makna pragmatik yang berupa implikatur, yang antara lain berupa penggambaran (i) perubahan peri keadaan, (ii) urutan peristiwa, (iii) hubungan antara durasi peristiwa dan penceritaannya, (iv) hubungan antara kekerapan peristiwa dan penceritaannya, dan (v) penonjolan peristiwa tertentu.
Berdasarkan kemampuannya dalam mengungkapkan eksplikatur dan implikatur tersebut, pemarkah temporal dalam dua novel tersebut dapat berfungsi sebagai pengungkap struktur naratif yang berupa (i) perbedaan antara peristiwa dan nonperistiwa, (ii) hubungan antara waktu cerita dan waktu penceritaan, (iii) penonjolan bagian cerita atau pelataran, (iv) bentuk penceritaan, (v) hubungan antarcerita, dan (vi) posisi narator terhadap cerita. Karena memiliki fungsi-fungsi tersebut, pemarkah temporal dalam novel detektif klasik dapat digunakan untuk mengungkapkan pola penceritaan novel detektif klasik yang terdiri atas penceritaan (i) alur penyelidikan yang ikonis dan lamban, (ii) alur kejahatan yang terpisah-pisah dan anakronis, (iii) pola tindakan yang memadukan sifat rasionalitas dan mistifikasi, serta mengungkapkan (iv) penokohan dan latar yang mengandungi petunjuk yang membingungkan (mystifying).

The following dissertation was developed based on a narrative stylistic research aimed to show how narrative can be analyzed using linguistics approach. Apparently, the English temporal markers can convey meanings and functions in the context of narrative texts, especially in classical detective stories. Exploration of meanings and functions of English temporal markers was conducted by data analysis using theories of temporaility in language and narratology.
The analysis concluded that there are two patterns of tense usage in narratives. One is the use of tense in an ordinary mood and the second is in a fictional mood. In the first pattern, tense expresses the relation between time of a situation and time when an actor utters the situation. In that context, the present time is expressed by the simple present tense. In the second pattern, tense shows the relation between time of a situation and time when a narrator enunciates the situation. There is a norm in the context that the present time is expressed by the simple past tense. Based on the norm, the simultaneous occurrence of simple past tense and temporal adjunct such as now in a clause is acceptable.
Another conclusion is that the English temporal markers used in the two novels convey explicatures that are either basic or interactional. The basic explicatures that the temporal markers conveyed are actional, aspectual, and temporal meanings plus contextual information. The interactional explicatures consist of expressing a shift in the type of situations, habitual menaing, boundedness, inchoative, iterative, and backshifted preterite. On the other hand, the use of the temporal markers in certain contexts convey implicatures such as a change of state of affair, temporal sequence of events, comparing duration of events and duration of discourse, and saliency of events.
Based on the conveyed meanings, it can be inferred that the English temporal markers function to express a narrative structure consisting of the difference between events and existences, time relation, grounding, moods of narration, and the position of a narrator in the discourse. More often than not, in classical detective novels, the temporal markers can express patterns of the classical detective story, such as the different plots of investigation and crime, the pattern of action, characterization, and setting."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
D929
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Ketut Darma Laksana
"Kajian tabu dalam bahasa Bali ini bertolak dari masalah "Bagaimana tabu dalam kebudayaan Bali diwujudkan dalam tingkah laku verbal?. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah penelitian dalam bidang bahasa dan atau kebudayaan Bali. Kajian ini dilakukan dengan melibatkan kebudayaan untuk memahami makna di balik tabu bahasa. Dari kepustakaan tentang tabu yang berhasil dikumpulkan, pada umumnya penulisnya berorientasi pada kajian tabu nonverbal (ritual). Oleh karena itu, sumbangan lainnya yang dapat diberikan adalah bagaimana analisis tabu bahasa itu dilakukan.
Kerangka acuan yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari pandangan sejumlah pakar kebudayaan dan linguistik. Pembicaraan mengenai konsep tabu dalam penelitian ini bertumpu pada Douglas (1966/1992); pembicaraan mengenai penggolongan tabu penelitian ini bertumpu pada Frazer (1911/1955), dan pembicaraan mengenai sumpah serapah penelitian ini bersandar pada Montagu (1967/1973). Secara garis besamya tabu bahasa dibedakan atas dua macam, yaitu nama atau katakata tertentu yang ditabukan dan sumpah serapah yang ditabukan. Yang pertama dapat dielakkan dengan cara penyulihan. Untuk itu, penelitian ini menggunakan kobsep-konsep linguistik (dan juga antropologi) dari para ahli yang berikut: penyulihan dengan metafora, metonimia (bahasa majasi), dan eufemisme dari Moeliono (1989), Crystal (1973), dan Apte (1994); penyulihan dengan parafrase dari Kridalaksana (1988) dan Matthews (1997); penyulihan dengan alih kode dari Foley (1997) dan Salzmann (1998); penyulihan dengan diglosia dari Ferguson (1964), dan penyulihan dengan teknonim dari Geertz (1992). Khususnya pembicaraan mengenai pelanggaran sumpah serapah, yang pengumpulan dan analisis datanya menggunakan metode kuantitatif, penelitian ini bertolak dari pandangan Brown dan Gilman (1972), yang diadposi oleh Foley (1997), dan di dalam bahasa Indonesia diadopsi oleh Gunarwan (1997), yang berbicara tentang "kekuasaan? (power) dan "keakraban? (solidarity), dalam hal ini, yang mempengaruhi penggunaan sumpah serapah.
Data yang dianalisis adalah data bahasa Bali "lumrah?, yaitu bahasa Bali sebagaimana yang digunakan oleh orang Bali sehari-hari. Korpus penelitian ini dikumpulkan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif digunakan dalam analisis nama dan kata-kata tertentu yang ditabukan dan sumpah serapah yang ditabukan (identifikasi dan klasifikasinya, serta fungsi dan sanksinya); sedangkan data kuantitatif digunakan dalam analisis langgaran sumpah serapah yang ditabukan.
Analisis kualitatif dilakukan secara emik (Pike, 1966), atau dapat juga disebut analisis secara sistemik (Douglas, 1966/1992), yaitu makna setiap unsur bahasa atau perilaku kebudayaan harus dikaji dengan mengacu kepada distribusinya, baik yang mengacu kepada perilaku verbal maupun yang nonverbal, perilaku kultural. Sementara itu, analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan statistik.
Temuan yang diperoleh dari penelitian ini: pertama, cara orang Bali mewujudkan perilaku verbalnya atas tabu dalam kebudayaannya dengan menggunakan metafora dan metonimia (bahasa majasi), eufemisme, parafrase, alih kode (dan diglosia), dan teknonim; kedua, penggunaan sumpah serapah, yang tidak dapat diwujudkan dengan cara lain, seperti makian, hujatan, kutukan, sumpahan, (ke)carutan, dan lontaran/seruan. Khususnya mengenai pelanggaran sumpah serapah pada umumnya variabel yang dominan mempengaruhi perbedaan penggunaan sumpah serapah adalah asal kabupaten dan jenis kelamin.

The study of taboo in Balinese language is an attempt to analyze 'How taboo in Balinese culture is represented in their verbal behavior'. This study is intended to enrich the inventory of research on Balinese language and culture which has been done before. This study is conducted by involving culture ;o discover the meaning behind use of language taboo. From a number of books about taboo that have been read and analyzed, in general, the writer gives their orientation to nonverbal taboo. Therefore, this research proposes a model about how taboo in language should be analyzed.
Theoretical frameworks used in this study is based on a number of ideas form scholars, such as Douglas (196611992), who discusses a critical analysis about the concept of taboo; Frazer (191111955) who presents the classification of taboo in general and categorization of taboo in language; and Montagu (196711973) who presents the classification of swearings which he calls a species of human behavior. Since name and certain words tabooed can be avoided by substitution, the study implies some linguistics concepts, such as metaphor, metonymy (figurative languages), euphemism which are taken from Moeliono (1989), Crystal (1993), and Apte (1994); paraphrases from Kridalaksana (1988) and Mathhews (1997); code-switching from Foley (1997) and Salzmann (1998), diglossia from Ferguson (1964); and technonymy from Geertz (1992). For the discussion of swearings which can not be avoided by respondents, in particular, this study needs the concept of "power" and "solidarity" proposed by Brown and Gilman (1972), which is adopted by Foley (1997) and Gunarwan (1997). in Indonesian version.
The Balinese language being analyzed is Bahasa Bali Lumrah (an ordinary Balinese language). The corpus is collected and analyzed by using qualitative and quantitative methods. The data which constitute names and words tabooed are collected and analyzed qualitatively, whereas some language taboo, such as abusive swearing, blasphemy, cursings, etc. are collected and analyzed quantitavely. The data analysis in this study uses an emic approach (Pike, 1966), or, it is also called by Douglas (196611992.) as systemic approach.
Some findings of this study are as follows. Firstly, Balinese people avoid taboo in language by using metaphor and metonymy (figurative languages), euphemism, paraphrases, code-switching, diglossia, and technonymy. Secondly, it is found out that there are some kinds of swearings, namely abusive swearings, blasphemy, cursings, swearings, obscenity, and expletives. Thirdly, the violation of swearings, in general, areSignificantly influenced by the regionsand the sexes of the respondents.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
D530
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hamzah
"This research analyses utterances produced by English speakers who interact via computers in chat rooms, chat.yahoo.com. This study is aimed at investigating how the participants interact and develop topics under computer-mediated constraints.
The data consist of corpus containing sequenced-postings produced by multi-participants in Lobby, part of the chat room regarded as a public domain. Conversation Analysis Model introduced by Birmingham School was used for data analysis.
The findings of the study show that the chat has some unique features, which are different from the features of interaction in face-to-face conversation. Those unique features decrease the coherence of the interaction. The linearity of the sequence is disrupted by the presence of initiation without responses and the presence of multi-responses for one initiation. Then, the unity of the interaction is loosened by the absence of organizational exchanges or the presence of less discourse markers tying up explicitly the interaction units in each rank of the interaction. After that, the immediacy relationship between elements of adjacency pairs is loosened by the presence of other utterances between them. Finally, the structure of the utterance is loosened by the fragmentation of the utterance into smaller units and the positioning of those units in the different postings.
The chat has several unique features of interaction strategies that may decrease the coherence of the interaction and differ them from those in face-to-face interaction. First, the one person speak in one time rule is not applicable in the chat since who is currently speaking cannot be identified. Second, the competitive nature of the interaction requires an adjustment of the strategy for managing the turn. It is not necessary for the chatters to hold the turn; instead they have to send repetitive postings to maintain their presence. Finally, turn-taking strategies are very limited in the chat interaction. The strategy for taking the turn is limited to clean strategy and the strategy for yielding the turn is limited to the use of selection (turn design) and give-up strategies.
The topic introduction and closing in the chat is not so different from those in the face-to-face interaction. The topic development displays unique structure, in that the chat may produce parallel topics. The parallel topic is resulted by the introduction of a new sub-topic while the discussion of the existing topic still in progress. Another specification of topic development is the rapid progress of the topic change in the chat.
The uniqueness of the interaction and topic development in the chat is attributable to the lack of physical presence and voice as well as to the machine related constraints.
(For further information about this dissertation, contact: hamzahhs@yahoo.com)"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
D535
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Njaju Jenny Malik
"During his administration of the Soviet Union (1986-1991) Gorbachov introduced three new concepts namely IIepecTpoNKa /perestrojka/ 'restructurisation' I'IIacTHocTb /glasnost'/ 'openess', and IIMoKpTIIa Idemokratiyal 'democracy'. These concepts have brought enormous changes in so many aspects of societal life that the Soviet Union fell to pieces and the communist hegemony over the Soviet Union came an end. In line with the concept of perestroika, changes occurred in many fields and in particular, economics. The known command economy which was the communist system, made place for the market economy. This new economic system brought a wide variety of commodities to the market, not only those produced in Russia but also imported ones. As in other countries where the market economy is practiced, advertisements to promote commodities or products have become a must. The Russian daily newspapers have become an important media for disseminating information on the marketed goods or commodities. This phenomenon had been a taboo for about 70 years during the communist era.
Advertisements are known to introduce and to promote new goods or commodities, be it material good or services, since they are a means of information used to support and develop the market for products and services on a large scale (Germocenova 1994: 5). For this purpose a special language and signs are used to attract the consumers.
This dissertation deals with two specific problems namely, (1) the form and characteristics of the Russian advertising language during the period 1991-1996, and (2) the Russian advertising language reflects changes of socioeconomic characteristics compared with pre-communist times.
This research contains discourse analysis using a semiotics approach, i.e. from the aspects of syntactics, semantics, and pragmatics. The advertisements analyzed for this thesis are taken from the printed Russian media in Moscow with the highest circulation and the most widely distributed in the CIS (Commonwealth of Independent States i.e the former Soviet Union). Interviews were also carried out with Russians living in Moscow, in order to know their opinions about the presence of advertisements as a new social phenomenon. This thesis assumes that advertising reflects the undergoing changes in the Russian society.
From the sixty advertisements analyzed for this dissertation, it can be concluded that advertisements are closely related to the cultural conditions of the society. Each year during the period 1991-1996, the form and character of the Russian advertising language developed unique characteristics. Advertising in Russia presents not only changes in the socioeconomic process, but also in the political, ideological, and cultural processes."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1998
D10
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library