Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 38 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Berta Antikasari
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2002
S28571
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasbiyallah
"Sampel penelitian adalah sampah industri baja Neomax di Jepang dengan basis ferrite. Identifikasi fase dengan XRD dan XRF memperlihatkan bahwa sampel merupakan senyawa strontium ferrite SrO.6Fe 2O3 fasa tunggal. Kurva XRD menunjukkan waktu milling 5, 10 dan 20 jam tidak signifikan terlihat perubahannya. Mikrograf SEM menunjukkan semakin lama waktu milling jumlah porositas (pori) semakin berkurang dan proses sintering telah memadatkan butiran -butiran grain kristal.
Perbandingan Histerisis PERMAGRAPH menunjukkan milling dengan waktu yang lebih lama dan sintering dengan waktu yang lebih lama pada suhu sekitar 1000°C - 1300°C (dibawah titik leleh Fe) dapat meningkatkan nilai remanen magnetisasi Br, dengan kecenderungan nilai koersivitas Hc relatif tetap atau turun dalam batas tertentu."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
S28941
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sipayung, Maryana
"Penelitian ini membahas tentang perovskite manganat, yaitu dengan mensubstitusi Ti ke dalam Mn pada system LCMO,persisnya adalah La0.67Ca0.33Mn1-xTixO3(x=0.04 dan x=0.10).Pada penambahan konsentrasi Ti jelas memperlihatkan kenaikan pada parameter kisi (a,b,c),begitu juga magnetoresistance MR,tetapi akan menurun begitu rasio MR sudah dicapai.Sedangkan suhu curie Tc akan menurun,hambatan juga mengalami kenaikan.Ketika pada proses sintering dengan variasi suhu1000°C,1100°C,1200° akan mengalami pengembangan pada ukuran kisi sehingga volume naik,didapati pada suhu akhir pemanasan struktur kristal adalah Ortorombik dengan kisinya face center dan body center.

This research deals with perovskite manganat, namely by substituting Ti in Mn in LCMO system, is precisely La0.67Ca0.33Mn1-xTixO3 (x = 0.04 and x = 0.10). In addition Ti concentration clearly shows the increase in lattice parameters (a, b, c), as well as magnetoresistance MR, but will decrease as the MR ratio was reached.But curie temperature Tc will decrease, the resistance is also experienced in the process of sintering variation.When with variations of heating temperature 1000°C, 1100°C, 1200°will experience the development on the size of the lattice so that the volume goes up, found at the end of the heating temperature of the crystal structure is orthorhombic with latice face center and body center."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S29356
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Charles Bernando
"Penelitian ini membahas Hamiltonian dalam fenomena colossal magnetoresistance yang mempengaruhi energi total elektron yang berpindah. Hamiltonian ini ditentukan berdasarkan teori double exchange dan aturan Hund, terdiri dari suku perpindahan elektron, kopling Hund, pengaruh phonon dan potensial acak tiap site.
Dengan Hamiltonian ini diperoleh hasil bahwa energi dari elektron dipengaruhi oleh banyaknya unit sel yang digunakan sebagai model. Selain itu dibahas juga pengaruh medan magnet luar sebagai perturbasi pada sistem untuk mendapatkan kurva magnetoresistansi.

This research investigate Hamiltonian in colossal magnetoresistance. It influences total energy of electron transfer. This Hamiltonian is based on double exchange theory and Hund's arrangement. This Hamiltonian factor is from electron transfer, Hund's coupling, phonon's effect and random potential on site.
The result of this Hamiltonian shows that this electron's energy influenced by the number of unit cell which is used as a model. Beside that, this paper study the influence of external magnetic field as a perturbation in this system to get a magnetoresistance curve."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S29411
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Satya Budi Aprianto
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S29301
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Singgih Bagus Tribowo
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
FIS.EKT.041/09 Tri s
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Bambang Purwo Sri Sedono
"Bahan manganat CaMnO3 adalah bahan yang mengalami transisi fase magnetik dari keadaan isolator (paramagnetik) menjadi konduktor (feromagnetik) atau sebaliknya. Preparasi bahan CaMnO3 dilakukan melalui proses reaksi zat padat yaitu dengan mencampurkan bahan dasarnya yang terdiri dari CaCO3 dan MnO2 sesuai dengan perhitungan stoikiometri. Proses pencampuran dilakukan dengan menggunakan ball mill dengan variasi waktu penggerusan 3, 6, 9 dan 12 jam. Setelah itu proses preparasi dilanjutkan dengan memberikan perlakuan panas dengan variasi suhu pemanasan 400°C, 600°C, 800°C dan 1000°C serta variasi lama pemanasan 3, 6 dan 9 jam.
Pengukuran ESR terhadap CaMnO3 telah dilakukan pada temperatur ruang dengan lebar sapuan 500 mT dan pada frekuensi 9,47 GHz. Hasil pengukuran ESR menunjukkan bahwa CaMnO3 bersifat paramagnetik yang secara dominan berasal dari bahan dasar MnO2. Pada temperatur pemanasan 800oC, penambahan waktu milling tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap faktor g Lande dan konsentrasi spin paramagnetik bahan belum memiliki satu pola yang konsisten. Sementara itu, pengaruh tersebut mulai terlihat pada temperatur pemanasan 1000oC dengan indikasi kenaikan nilai g dari 2.07 hingga 2.12 dan penurunan konsentrasi spin paramagnetik bahan. Pengaruh temperatur pemanasan pada waktu milling 12 jam dan waktu pemanasan 9 jam terlihat dengan adanya kenaikan nilai g dari 2.07 hingga 2.46 dan kenaikan konsentrasi spin paramagnetik bahan.

CaMnO3 is a manganate sample that undergoes magnetic phase transistion from paramagnetic insulator to ferromagnetic conductor or vice versa. Preparation of CaMnO3 was done by solid state reaction (mixing the raw materials of CaCO3 dan MnO2) based on the stoichiometric calculations. The mixing processes was done by using ball mill equipment and by varrying the milling time of 3, 6, 9 and 12 hours. The processes is then continued by giving heat treatment with the temperature variations of 400°C, 600°C, 800°C and 1000°C and also with the heating time variations of 3, 6 and 9 hours.
ESR measurements of CaMnO3 was done at room temperature with sweep width of 500 mT and frequency of 9.47 GHz. ESR results showed that at room temperature, CaMnO3 was paramagnetic that was dominantly originated from the raw material of MnO2. At a heating temperature of 800oC, an increasing of milling time did not give significant influences to the g Lande factor and also the concentration of paramagnetic spins of the sample did not show a tendency to a concistence. However, the influences was slightly observed at a heating temperature of 1000oC identified by the increasing of the g Lande factor from 2.07 to 2.12 and also by the decreasing of the concentration of paramagnetic spins of the sample. The influence of heating temperature at milling time of 12 hours and heating time of 9 hours is identified by an increasing of g Lande factor from 2.07 to 2.46 and also by the increasing of the concentration of paramagnetic spins of the sample.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2006
T20648
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhamdi
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2002
S28578
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>