Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
Chintya Clara
"Penelitian ini akan membahas mengenai fenomena food waste yang terjadi di Perancis. Food waste atau sampah makanan menjadi isu kontemporer yang saat ini dihadapi oleh seluruh negara di dunia, salah satunya adalah Perancis. Sebagai negara yang dinilai “responsif” dalam mitigasi dan pendekatan terhadap pengelolaan sampah penelitian ini berupaya lebih lanjut membahas mengenai bagaimana relasi hubungan antara tiga kelompok kepentingan yaitu, Zero Waste Perancis sebagai pendorong gerakan zero food waste, E.leclerc & Carrefour sebagai bagian dari industri ritel makanan & minuman terbesar di Perancis dan Pemerintah Perancis dalam merespon fenomena tersebut. Maraknya penggunaan kampanye “Greenwashing” yang dilakukan oleh industri ritel makanan & minuman telah mendorong munculnya Mouvement Contre Le Gaspillage Alimentaire yang dipelopori oleh gerakan akar rumput oleh Adam Derambash dan masyarakat distrik Courbevoie dan organisasi non-profit, Zero Waste Perancis. Dengan menggunakan teori interest group atau kelompok kepentingan penelitian berusaha melihat keterlibatan masing-masing kelompok dalam mendorong pemerintah Perancis mengeluarkan produk regulasi anti sampah. Namun hadirnya produk regulasi anti sampah makanan dan pengolahan sampah makanan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi perusahaan E-Leclare dan Carrefour.
This research will discuss the food waste phenomenon that occurs in France. Food waste is a contemporary issue currently being faced by all countries in the world, one of which is France. As a country that is considered "responsive" in mitigation and approaches to waste management, this research seeks to further discuss the relationship between three interest groups, namely, Zero Waste France as the driver of the zero food waste movement, E.leclerc & Carrefour as part of the largest food & beverage retail industry in France and the French Government in responding to this phenomenon. The widespread use of "Greenwashing" campaigns carried out by the food & beverage retail industry has encouraged the emergence of Mouvement Contre Le Gaspillage Alimentaire which was spearheaded by a grassroots movement by Adam Derambash and the people of the Courbevoie district and the non-profit organization, Zero Waste France. By using interest group theory, the research tries to see the involvement of each group in encouraging the French government to issue anti-waste regulatory products. However, the presence of anti-food waste regulatory products and food waste processing has had an impact on E-Leclare and Carrefour companies."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Chintya Clara
"Penelitian ini akan membahas mengenai fenomena food waste yang terjadi di Perancis. Food waste atau sampah makanan menjadi isu kontemporer yang saat ini dihadapi oleh seluruh negara di dunia, salah satunya adalah Perancis. Sebagai negara yang dinilai “responsif” dalam mitigasi dan pendekatan terhadap pengelolaan sampah penelitian ini berupaya lebih lanjut membahas mengenai bagaimana relasi hubungan antara tiga kelompok kepentingan yaitu, Zero Waste Perancis sebagai pendorong gerakan zero food waste, E.leclerc & Carrefour sebagai bagian dari industri ritel makanan & minuman terbesar di Perancis dan Pemerintah Perancis dalam merespon fenomena tersebut. Maraknya penggunaan kampanye “Greenwashing” yang dilakukan oleh industri ritel makanan & minuman telah mendorong munculnya Mouvement Contre Le Gaspillage Alimentaire yang dipelopori oleh gerakan akar rumput oleh Adam Derambash dan masyarakat distrik Courbevoie dan organisasi non-profit, Zero Waste Perancis. Dengan menggunakan teori interest group atau kelompok kepentingan penelitian berusaha melihat keterlibatan masing-masing kelompok dalam mendorong pemerintah Perancis mengeluarkan produk regulasi anti sampah. Namun hadirnya produk regulasi anti sampah makanan dan pengolahan sampah makanan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi perusahaan E-Leclare dan Carrefour.
This research will discuss the food waste phenomenon that occurs in France. Food waste is a contemporary issue currently being faced by all countries in the world, one of which is France. As a country that is considered "responsive" in mitigation and approaches to waste management, this research seeks to further discuss the relationship between three interest groups, namely, Zero Waste France as the driver of the zero food waste movement, E.leclerc & Carrefour as part of the largest food & beverage retail industry in France and the French Government in responding to this phenomenon. The widespread use of "Greenwashing" campaigns carried out by the food & beverage retail industry has encouraged the emergence of Mouvement Contre Le Gaspillage Alimentaire which was spearheaded by a grassroots movement by Adam Derambash and the people of the Courbevoie district and the non-profit organization, Zero Waste France. By using interest group theory, the research tries to see the involvement of each group in encouraging the French government to issue anti-waste regulatory products. However, the presence of anti-food waste regulatory products and food waste processing has had an impact on E-Leclare and Carrefour companies."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Nadya Annisa Arianti
"Globalisasi ekonomi melahirkan konsep yang sekarang kita kenali sebagai fleksibilitas pasar tenaga kerja. Keberadaannya menguntungkan pengusaha dan pemberi kerja, dan merupakan alternatif yang baik bagi pekerja apabila dipilih secara sukarela. Namun, fleksibilitas yang dialami pekerja hanyalah ilusi. Berkembang jenis-jenis hubungan kerja non-standar sebagai konsekuensi dari pasar tenaga kerja fleksibel. Di Indonesia, para pekerja dihadapkan pada hubungan kerja non-standar berbentuk kontrak sementara, PKWT, dan outsourcing, bahkan di sektor formal. Pasca diinstitusionalisasikan pertama kali dalam UU No. 13 Tahun 2003, peraturan perundang-undangan ini sekilas melindungi, namun implementasinya masih kurang pengawasan, sehingga pekerja tidak terhindar dari pengalaman ketidakpastian kerja. Hampir 10 tahun berlalu, Indonesia dihadapkan pada urgensi meningkatkan investasi asing untuk pembangunan ekonomi. Pemerintah membuat paket regulasi bernama UU Omnibus Law Cipta Kerja dengan menunjuk kelompok pekerja sebagai pasangan kerja samanya. PKWT dan outsourcing terdampak semakin meluas akibat dihapusnya pasal-pasal yang semula membatasi. Pemerintah dan pengusaha yang sama-sama memiliki kepentingan investasi berambisi membuat aturan ketenagakerjaan semakin fleksibel. Menggunakan perspektif Pierson (2011) tentang negara sebagai pembuat kebijakan ekonomi, dan Jessop (2010) negara sebagai relasi sosial, penelitian ini berkesimpulan bahwa 1) Negara berperan aktif dalam pembentukan struktur ekonomi liberal, dan 2) Negara secara selektif membuka akses pada aktor dominan yang mampu menyesuaikan strategi mereka.
Economic globalization promotes labor market flexibility, benefiting businesses andoffering workers voluntary alternatives. However, this flexibility is often illusory, leading to non-standard employment like temporary contracts (PKWT) and outsourcing, even in Indonesia’s formal sector. Although Law No. 13/2003 initially seemed protective, weak enforcement leaves workers vulnerable to job precarity. A decade later, Indonesia prioritizes foreign direct investment, introducing the Omnibus Law on Job Creation, which deregulates labor markets. Restrictions on PKWT and outsourcing were loosened, favoring employer flexibility. The government, aligning with business interests, aims to attract investment by making labor laws more adaptable. Using Pierson’s (2011) view of the state as an economic policymaker and Jessop’s (201) perspective on the state as a social relation, this study finds: 1) The state actively shapes liberal economic structure that promotes flexibility to attract capital, and 2) The state selectively empowers dominant actors (business associations) while marginalizing labor protections."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library