"Di Indonesia, poligami didefinisikan sebagai sistem perkawinan antara seorang pria dengan lebih dari seorang wanita pada waktu yang sama (Radjab, 2003). Poligami memang diperbolehkan dalam agama Islam, meski dengan berbagai kontroversi. Berdasarkan kontroversi poligami, peneliti tertarik mengetahui kesejahteraan psikologis pada pria yang berpoligami sesuai teori yang dikemukakan Ryff (1989) yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi serta melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis. Peneliti mempergunakan metode kualitatif, yaitu metode wawancara dan observasi untuk menganalisis hasil. Selain itu, peneliti juga mempergunakan alat ukur untuk memperkaya analisis. Penelitian ini dilakukan terhadap dua pria yang berpoligami sebagai subjek utama beserta kedua istri sebagai subjek pendukung. Berdasarkan penelitian, pria yang berpoligami menampilkan perbedaan dalam kesejahteraan psikologis mereka. Gambaran kesejahteraan psikologis tersebut sangat bergantung pada kualitas keenam dimensi kesejahteraan psikologis subjek penelitian. Kemudian, faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis kedua subjek adalah faktor religiusitas dan usia.
In Indonesia, polygamy is defined as a matrimonial system between a man and more than one woman at the same time (Radjab, 2003). Polygamy is indeed allowed in Islam, even though it is controversial. Because of the controversy in polygamy, the researcher was interested in psychological well-being on polygamous men according to Ryff?s theory (1989) which consists of selfacceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life and personal growth, and also to understand the factors which influence psychological well-being. The researcher used qualitative method which consist of interview and observation method. More over, the researcher also used assessment technique to enrich the analysis. The subjects of the research are two polygamous men as main subjects and their co-wives as supporting subjects. The research showed that these polygamous men are different in their psychological well-being. Psychological well-being is very dependent on the quality of main subject?s six psychological well-being dimensions. Then, the factors that influence psychological well-being are religiosity and age."