Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 42 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ismi Halida
"Skripsi ini membahas peran perempuan dalam politik nasional Jepang kontemporer yang dianalisa menurut 'tatanan simbolik' Jacques Lacan. Menurut Lacan, masyarakat diatur oleh rangkaian tanda, peran dan ritual, yang disebut sebagai 'tatanan simbolik'. 'Tatanan simbolik' menciptakan aturan sosial dalam ranah ketidaksadaran manusia ---dalam alam pikiran manusia--- Dalam kebudayaan patriarki ---khususnya di Jepang---, 'tatanan simbolik' memperkuat dominasi laki-laki dalam masyarakat, sehingga peran perempuan semakin tersisih ke wilayah domestik. Politik, menjadi bidang yang diidentikkan dengan kekuasaan laki-laki, dan perempuan dianggap tidak pantas untuk turut berkontribusi di dalamnya. 'Tatanan simbolik' mengkonstruksi pola pikir masyarakat Jepang, sehingga mempengaruhi peran serta perempuan dalam kegiatan politik nasional Jepang.

This paper will deeply discuss the role of women in contemporary Japanese national politics using Lacan's 'symbolic order' as an analytical tool. According to Lacan, society is govern by a disconnected series of signs, roles, and rituals, which called the 'symbolic order'. This 'symbolic order' creates social construction in the human's unconscious state of mind. In patriarchal culture ---especially Japan---, 'symbolic order' strengthen the rule of man in society. Therefore, women's rule are gradually pushed into domestic side. Politics, is highly associated with men's authority, and women is considered not fit to contribute in politics. The 'symbolic order' reconstruct the Japanese society state of mind. Thus, it's greatly influence the role of women in contemporary Japanese national politics."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S13655
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dimar Kartika Listiyanti
"Jugun ianfu adalah istilah bagi perempuan yang dijadikan perempuan penghibur oleh tentara Jepang, lalu ditempatkan pada suatu rumah hiburan militer Jepang. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, banyak diantara perempuan-perempuan ini yang merasakan ketidakadilan dari tentara Jepang. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini terfokus pada ketidakadilan gender yang dialami oleh jugun ianfu sebagai akibat dari konstruksi perempuan sebagai "other".
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan bentuk deskriptif yang bertujuan untuk menguraikan karakteristik atau sifat-sifat tentang suatu keadaan pada waktu tertentu yang meliputi pengumpulan informasi melalui berbagai dokumen dan sumber data yang lain. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan dan wawancara dengan sumber yang mengerti mengenai masalah jugun ianfu. Sedangkan analisis dilakukan dengan teori dari Simone de Beauvoir.
Dari analisis berdasarkan teori Simone de Beauvoir, disimpulkan bahwa: 1) perempuan jugun ianfu mengalami ketidakadilan gender dari tentara Jepang; 2) ketidakadilan gender tersebut meliputi marginalisasi, subordinasi, stereotip, violence, dan doubleburden; 3) ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan jugun ianfumerupakan akibat dari konstruksi perempuan sebagai "other".

Jugun ianfu is a term for woman who served to comfort the Japanese soldier in the Japanese military brothel houses. During the Japanese occupation in Indonesia, many women of jugun ianfu felt that they had been treated unfairly by the Japanese army. The focus of this study is the gender bias experienced by jugun ianfu resulting from a social construction that stated women as the "other".
This study is a qualitative research using analytical descriptive method. The data were collected by literature study and interviews with people who are credible in jugun ianfu issue. The Analysis was made using the theory presented by Simone de Beauvoir.
The conclusion of this study are: 1) jugun ianfu experienced gender bias fromJapanese army; 2) the gender bias comprises marginalization, subordination, stereotype, violence, and double burden; 3) the gender bias experienced by jugun ianfu was the result from the social construct that states women as the "other"."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S13544
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Israhadi
"ABSTRAK
Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode sejarah ini, membahas masalah slogan propaganda dalam naskah sandiwara pada majalah Keboedajaan Timoer terbitan 1943. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah slogan-slogan yang berbunyi antara lain; Asia Baroe, Asia untuk Asia, Ibu Asia, Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Saudara Tua. Slogan-slogan tersebut adalah alat propaganda yang digunakan Jepang untuk membujuk rakyat di wilayah yang diduduki untuk tunduk pada keinginan Jepang. Propaganda adalah usaha yang dibuat dengan sengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan pelaku untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Jepang bertujuan untuk membangun Lingkungan Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya yang menaungi negara-negara Asia lain di bawah kepemimpinan Jepang. Slogan-slogan yang ditemukan dalam naskah sandiwara tersebut memiliki muatan ideologi Jepang, yaitu pemikiran Konfusius yang telah dijalankan sejak lama oleh masyarakat Jepang. Pemikiran Konfusianis yang memiliki esensi Gorin Gojyō lima hubungan besar tersebut digunakan untuk membujuk dan memobilisasi rakyat di wilayah pendudukan untuk tunduk pada keinginan Jepang.

ABSTRACT
This historical method research, discussed about the issue of propaganda slogan in Keboedajaan Timoer magazine publicated in 1943. This research found there are several slogan like; Asia Baroe, Asia untuk Asia, Ibu Asia, Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, and Saudara Tua. Those slogan used as propaganda tools used by Japan to persuade people in occupied territories to comply to Japanese hope. Propaganda is the deliberate and systematic attempt to shape perceptions, manipulate cognition, and direct behavior to achieve a response that furthers the desired intent of the propagandist. Japan aims to build Greater East Asia Co-Prosperity Sphere that will be gathered the Asian countries under Japanese leadership. The slogans found in this theatricals script have the content of Japanese ideology, namely Confucian theory which has been carried out for a long time by Japanese society. Confucius thought which possessed the essence of Gorin Gojyō the five great relations that used to "persuade" and mobilize the people in the occupied territories to comply to Japanese hope."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Glen Valentino
"ABSTRAK
Penelitian yang menggunakan metode pustaka ini membahas tentang pengaruh aspek martir Katolik dalam Pemberontakan Shimabara (1637-1638) di Semenanjung Shimabara. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidaksukaan bakufu era Tokugawa terhadap masuknya agama Katolik yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi Jepang saat itu. Agama Katolik dianggap dapat menggangu kesetiaan warga Jepang terhadap pemerintahan bakufu. Bakufu dan pengikutnya kemudian melakukan persekusi terhadap penganut ajaran Katolik hingga sampai ke Semenanjung Shimabara. Pemberontakan yang terjadi di Shimabara tersebut dipicu oleh mark-up harga tanah yang ditetapkan oleh daimyo Shimabara guna membangun kastel Shimabara sesuai dengan keinginan Bakufu Tokugawa. Seperti diketahui Bakufu Tokugawa meinginkan untuk membangun satu provinsi, satu kastel. Sebelum pemberontakan terjadi, warga Amakusa dan Shimabara menunjuk seorang anak remaja Katolik bernama Amakusa Shiro yang kisah hidupnya bagai legenda sebagai pemimpin pemberontakan. Pemberontakan Shimabara memakan hingga puluhan ribu korban, dari pihak bakufu maupun pemberontak hingga akhirnya baku hantam tersebut dimenangkan oleh bakufu. Amakusa Shiro bersama para pemberontak penganut ajaran Katolik berjuang untuk mempertahankan kepercayaan Katolik mereka hingga titik darah penghabisan. akhirnya Amakusa Shiro dan pengikutnya gugur di Kastel Hara sebagai seorang martir.

ABSTRACT
This research uses library study method to discuss the influence of Catholic s martyrdom in the Shimabara Rebellion (1637-1638) at the Shimabara Peninsula. This rebellion was triggered by the dislike of the Tokugawa era against the entry of Catholicism which was deemed incompatible with Japan s conditions at that time. Catholicism is considered to be able to disrupt the loyalty of Japanese citizens towards the Bakufu government. Bakufu and his followers persecuted Catholics as far as Shimabara Peninsula. The rebellion that took place in Shimabara was triggered by a mark-up of land taxes set by the Shimabara daimyo to build Shimabara castle in accordance with the wishes of the Tokugawa Bakufu. As is known, the Tokugawa Bakufu wanted to build one province, one castle. Before the rebellion occurred, residents of Amakusa and Shimabara appointed a Catholic teenage boy named Amakusa Shiro whose life story was like a legend as the leader of the rebellion. The Shimabara rebellion took up thousands of victims, from the Bakufu and the rebels, until finally the fight was won by Bakufu. Amakusa Shiro along with Catholic adherents struggled to maintain their Catholic beliefs until the last drop of blood. finally Amakusa Shiro and his followers died at Hara Castle as martyrs."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Siuli Hemas Saraswati
"ABSTRAK
Komunitas Kakure Kirishitan ditemukan pada masa Meiji ketika seorang pastor Perancis membangun Gereja di daerah Nagasaki setelah kaikoku (buka negara). Ketika hukum kebebasan beragama dikeluarkan pada tahun 1890, tidak semua orang dari komunitas ini mau kembali ke Gereja Katolik, dan memilih untuk hidup dengan agama yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Agama Kakure Kirishitan merupakan hasil sinkretisme antara agama Katolik pertengahan, Budhisme Jepang, Shinto, dan kepercayaan rakyat yang terjadi secara represi karena persekusi pada masa pemerintahan Tokugawa. Dengan menggunakan metode dekriptif analitis, kepustakaan, dan melihat agama sebagai hasil kebudayaan, penelitian ini bertujuan membahas konsep santo-santa Gereja Katolik yang dianut oleh umat Kakure Kirishitan, dan kekhasan yang timbul dari penganutan konsep tersebut dalam pemujaan leluhur yang membedakannya dengan pemujaan leluhur secara umum di Jepang. Kakure Kirishitan mengambil konsep orang kudus dari santo-santa yang digunakan untuk menguduskan leluhur mereka supaya dapat menjadi kami Kristen, dan berbeda dengan pemujaan leluhur yang bertempatan di kuil, tempat suci yang digunakan Kakure Kirishitan merupakan kuburan martir.

ABSTRACT
The Kakure Kirishitan community was discovered during the Meiji period when a French priest was building a Church in Nagasaki after Kaikoku (open country). When the law on religious freedom was issued in 1890, not all the people from this community wanted to return to the Catholic Church, and chose to live by the religion inherited from their ancestors. Kakure Kirishitan religion was the result of syncretism between medieval Catholicism, Japanese Buddhism, Shintoism, and popular belief which occurred in repression because of persecution during the Tokugawa administration. By using descriptive analytical method, literature review method, and seeing religion as a cultural outcome, this study aims to discuss the concept of Catholic Church s saints adhered to by the Kakure Kirishitan people, and the peculiarities that arise from the submission of these concepts in ancestral worship that distinguish them from ancestral worship generally found in Japan. Kakure Kirishitan took the concept of holiness from the saints which is used to sanctify their ancestors in order to become Christians Kami, and in contrast to the worship of ancestors who took place in temples, the sanctuary used by Kakure Kirishitan was a tomb of martyrs."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Natalia Adriani
"Sejak tahun I991 menjelang peringatan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II terjadi banyak aksi protes yang dilakukan oleh para korban kekejaman Jepang pada saat Perang Dunia II. Salah satu aksi yang paling gencar dilakukan hingga saat ini adalah aksi protes terhadap Jepang oleh para mantan Jugun Ianfu. Gerakan protes tersebut pertama kali dilakukan oleh para wanita mantan Jugun lanfu yang berasal dari Korea. Keadaan ini terus menjalar sampai ke Indonesia.Jugun lanfu merupakan salah satu bentuk kekejaman yang dilakukan oleh pihak Pemerintah Pendudukan Jepang di wilayah pendudukannya sejak tahun 1932. Kekejaman tersebut dilakukan dalam bentuk pemaksaan terhadap kaum wanita untuk menjadi pelacur guna melayani para tentara dan masyarakat sipil Jepang yang ada di wilayah pendudukan. Salah satu bangsa yang pernah mengalami Pendudukan Jepang adalah bangsa Indonesia. Pada tahun 1942, Jepang mulai mengambil alih puncak kekuasaan di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Pemerintahan Kolonial Belanda. Setelah mengambil alih wilayah Indonesia, Jepang mengganti sistem Pemerintahan Kolonial yang ada di Indonesia dengan sistem Pernerintah Pendudukan Jepang. Bahkan, Pemerintah Pendudukan Jepang pun menerapkan sistem pelacuran Jugun lanfu hampir di seluruh wilayah Indonesia yang berhasil diduduki oleh Jepang, salah satunya adalah wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.Para wanita yang dijadikan Jugun Ianfu harus menjalani hidup dengan penuh ketakutan dan ketidaknyamanan. Para Jugun lanfu dipaksa untuk melayani para tentara dan masyarakat sipil Jepang tanpa memiliki waktu untuk beristirahat. Pekerjaan tersebut harus mereka lakukan secara terus menerus selama Pemerintah Pendudukan Jepang masih berkuasa di Indonesia. Kehidupan para wanita menjadi Jugun Ianfu berlangsung sampai dengan tahun 1945, yaitu ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak Sekutu.Dalam skripsi ini akan dibahas mengenai perekrutan para wanita yang tinggal di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta menjadi seorang Jugun dan perlakuan yang harus mereka terima dari para tamu selama mereka menjadi seorang Jugun Ianfu."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S12738
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Pratiwi Triwulandari
"Penelitian mengenai perempuan Jepang dan tanki daigaku (akademi) telah dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong perempuan Jepang masuk tanki daigaku.Metode penelitian yang digunakan adalah metode pengumpulan data kuantitatif yang dilakukan melalui kuesioner yang dibagikan kepada responden yang memenuhi syarat serta menanyakan metode pengumpulan data kualitatif dengan cara menanyakan secara langsung kepada responden serta data-data yang diperoleh dari buku-buku.Data kuantitatif menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perempuan Jepang memilih tanki daigaku adalah karena sesuai dengan minat (29.8%), gagal masuk universitas dan keinginan orangtua (24.3%), biaya murah dan masa belajar yang lebih singkat (10.8%). Sedangkan hasil data kualitatif menunjukkan bahwa alasan perempuan masuk tanki daigaku adalah dengan masa studi yang lebih singkat, mereka bisa dengan cepat bekerja dan menghasilkan uang."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S13928
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hanna Frisca Chesyta Zihni
"Skripsi ini menganalisis faktor penarik dan pendorong (push-pull factors) arus balik migrasi (return migration) menuju Jepang yang dilakukan oleh Nikkei Brazil berdasarkan teori migrasi tentang push and pull yang dikemukakan oleh Everett S. Lee (1966). Penelitian ini adalah penelitian historis. Dari penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga buah faktor penarik dan pendorong yang secara umum mendukung terbentuknya arus migrasi kembali dari Brazil ke Jepang. Pertama, krisis ekonomi di Brazil yang bertepatan dengan krisis tenaga kerja di Jepang. Kedua, adanya kesenjangan pendapatan antara di Brazil dan Jepang. Ketiga, adanya faktor-faktor pendukung lainnya, seperti adanya kesadaran akan etnis transnasional, dan adanya revisi Peraturan Imigrasi Jepang tahun 1990 yang memberikan legitimasi para Nikkeijin untuk datang dan bekerja di Jepang. Analisis tentang arus balik migrasi Nikkei Brazil ke Jepang di awal tahun 1990-an, memperlihatkan bahwa migrasi tersebut terjadi tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi semata. Penelusuran historis terhadap migrasi yang dilakukan para Nikkei Brazil mengungkapkan sebuah rangkaian kekuatan sosio-historis, politik, dan ekonomi yang kompleks di antara kedua negara, Brazil dan Jepang.

This thesis analyses the push and pull factors of return migration to Japan by Brazilian Nikkeijin based on the theory of push and pull factors proposed by Everett S. Lee (1966). This research uses historical methods. From this research, it can be concluded that there are three push and pull factors that generally encourage the flow of return migration from Brazil to Japan. First is the economic crisis in Brazil which coincided with labor shortage in Japan. Second is the income gap between Brazil and Japan. Third is the presence of other supporting factors, such as the awareness of transnational ethnic groups and the 1990 revision of Japanese Immigration Law which allow Nikkeijin to come and work in Japan. An analysis of return migration flow of Brazilian Nikkeijin to Japan in early 1990s, suggests that the migration is not solely driven by economic motives. Historical research on emigrations, immigrations, and return migrations of Brazilian Nikkeijin reveal a series of complex socio-historical, politic, and economic forces between the two countries, Brazil and Japan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S45008
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Linda Sesaria Sembung
"Skripsi ini membahas kondisi tenaga kerja wanita dalam industri tekstil Jepang zaman Meiji. Tenaga kerja wanita pada era Meiji memiliki peran penting dalam kesuksesan industrialisasi Jepang. Namun, meskipun kontribusi tenaga kerja wanita dalam sektor industri (terutama industri tekstil) sangat besar, kesejahteraan pekerja wanita sangat buruk dilihat dari kondisi lingkungan kerja yang berat, waktu kerja yang panjang serta upah yang rendah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif-analisis. Hasil penelitian mengungkapkan buruknya kondisi tenaga kerja wanita berkaitan erat dengan eksploitasi kaum proletar yang dilakukan para pemilik modal serta subordinasi wanita yang dilakukan oleh masyarakat Jepang sebagai akibat dianutnya ideologi Konfusianisme yang mengatur hubungan sosial.

The focus of this study is the conditions of female labour in the textile industry in Meiji Japan. Female labour in the Meiji period has an important role in the success of Japanese industrialization. However, although the contribution of female labour in the industrial sector (particularly textiles) is very large, workers' welfare are very poor based on the severe working conditions, long working hours and low wages. This research is qualitative descriptive-analytical interpretive. The results of this study revealed the poor condition of female labour is closely related to the exploitation of the proletariat by the capitalists and subordination of women by the Japanese people as a result of adoption of Confucian ideology that control the social relations."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S44413
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratih Aulia Anggardiani
"Setelah Perang Dunia II, kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi dan bekerja bagi wanita Jepang semakin besar. Terbukanya kesempatan ini membuat wanita Jepang memiliki pilihan lain dalam hidupnya selain menikah. Dewasa ini, semakin banyak wanita yang memilih untuk berkarir dan tidak menikah. Meski memiliki kesuksesan dalam berkarir, ada pelabelan negatif bagi para wanita lajang tersebut, yakni “makeinu”. Dengan menggunakan metode kualitatif, tulisan ini mendeskripsikan fenomena makeinu, yang berkaitan dengan berubahnya cara pandang wanita Jepang terhadap pernikahan serta pelabelan kalah (make) terhadap wanita yang lebih memilih bekerja dibandingkan menikah dan melahirkan anak-anak.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa meski mendapat label negatif sebagai makeinu, sebenarnya para wanita lajang tersebut bukanlah orang-orang yang gagal. Mereka adalah orang yang mandiri secara ekonomi dan menikmati kebebasan yang mereka miliki. Selain itu, karena gambaran makeinu yang sedikit berbeda yang diperlihatkan oleh para selebritis Jepang di berbagai media massa belakangan ini, makeinu tidak lagi dilihat sebagai hal yang memalukan, melainkan dianggap sebagai cara hidup baru.

After World War II, the opportunity to get higher education and to work for Japanese women is rising. The rising of this opportunity has made the Japanese women have another choice in their lives besides marriage. Nowadays, more and more women choose for a career path and decide to live single. Despite having a success in career, there is a negative labeling for those single women, which is “makeinu”. By using qualitative method, this paper describes makeinu phenomenon, which is related to the change in the perspective of Japanese women toward marriage and labeling lose (make) for women who prefer to work than to marry and bear children.
From this study it can be concluded that despite getting a negative label as makeinu, actually these single women are not the ones who failed. In fact, they are economically independent and enjoying their freedom. Furthermore, due to the slighlty different image of makeinu which shown by Japanese women celebrities trough various mass media recently, makeinu is no longer seen as a shameful thing, but as a new way of life.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>