Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 48 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Singapore : Archipelago, 1998
720 ARC
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wulan Tetris Lucas Sibatuara
"Dalam kehidupan sehari - hari, kita sering melakukan perpindahan dari satu tempat menuju tempat lain. Dalam perpindahan tersebut, ada sesuatu yang kita tandai sebagai bukti bahwa kita sudah melakukan perpindahan. Sesuatu ini dapat berupa aspek fisik dan non fisik yang memiliki liminalitas dan akhirnya membentuk ruang liminal.. Oleh karena itu, karakteristik ataupun kualitas ruang liminal menjadi hal yang cukup penting untuk diwadahi pada area yang memiliki mobilitas tinggi seperti area transit. Fokus pembahasan pada skripsi ini adalah peranan dan identitas stasiun sebagai ruang liminal. Hal ini dilihat melalui konteks dan eksistensinya terhadap lingkungan sekitarnya.
Studi kasus dilakukan terhadap stasiun Jakarta kota sebagai stasiun akhir dan city centre terminal. Stasiun sebagai ambang terlihat melalui hubungan antara stasiun dan kota Jakarta terkait dengan migrasi dari daerah Jawa dan juga konteksnya terhadap kawasan kota Tua dan daerah perdagangan serta pusat bisnis Jakarta. Selain itu, akan dibahas pula mengenai liminalitas stasiun Jakarta kota sebagai medium melalui foto - foto perkembangan stasiun Jakarta Kota dan sekitarnya dan melalui pengalaman yang dialami penulis ketika berada di dalam dan di sekitar stasiun kota. Temuan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk mendesain area transit sebagai salah satu ruang liminal, dimana aspek liminalitas ruang turut diperhatikan di samping aspek fungsional dan estetika.

We often move from one place to another place. In that movement, there is something marked as a proof that we have been doing it. These things can be physical and non physical aspects that have liminality and they will form a liminal space. Therefore, it's important to contain the characteristics or quality of the liminal spaces in areas that have high mobility, such as transit area. The focus of this study is the role and the identity of station as a liminal space. It will be seen by its context and its existence with the surroundings area.
The object study of this study is Jakarta Kota station as the ending station and the city centre terminal. Station as threshold can be seen through the connection between station and the city influenced the migration from the area of Java and it also can be seen by its context with the area of Kota Tua and by its context with the centre of trade and business of Jakarta. In addition, it will be discussed about the liminality of Jakarta Kota station as a medium through the photographs showing the development of Jakarta Kota station and its surrounding and through the experience that the writer felt when she was at the station and when she walked around the building of station. Finally, this study provides suggestion for designing the transit area as one of liminal spaces, the aspects of liminality should become the focus attention beside functional and aesthetic aspects.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S900
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Halimatussaadiyah Anar
"Skripsi ini membahas perancangan parametrik dalam arsitektur sebagai salah satu bentuk penggunaan logika dalam proses perancangan. Mulai dari definisi parameter dalam perancangan, faktor pembentuk, proses pembentukan hingga metode modifikasinya. Pembahasan dilakukan untuk mengetahui lebih dalam tentang perancangan menggunakan parameter sebagai alat pembentuk rancangan. Menggunakan metode studi literatur yang bersumber dari buku, majalah, jurnal, tesis dan media elektronik untuk mendalami teori tentang parameter dan menganalisis studi kasus untuk melihat praktik nyata perancangan parametrik. Studi memperlihatkan adanya kelebihan penggunaan parameter dalam perancangan dibandingkan dengan perancangan konvensional.

Focus on this study is about parametric design in architecture as a form of using logic in design process. Begin with the definition of parameter in design, forming factors, forming process and modification methods. The aims of this study is to know more about design that using parameter as a tools to create form. Doing literatures study method using books, magazines, journals, thesis and digital media as a source of references to understand the theories about paramater and case study to see a real work of parametric design. Study shows some advantages of using parameters in design instead of none."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42713
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sinaga, Fritz Rendy Octavianus
"Secara umum rutinitas kehidupan manusia itu sama. Manusia beristirahat di rumah kemudian bekerja atau menjalani pendidikan maupun pekerjaanya. Hal itu menjadi firstplace ('tempat pertama') dan secondplace ('tempat kedua') dalam kehidupan manusia. Lalu apakah third place ('tempat ketiga')? 'Tempat ketiga' adalah tempat bersosialisasi yang dibutuhkan manusia setelah mengalami kondisi formal yang dialami di 'tempat pertama' dan 'tempat kedua'. Tempat ini menuntun pada keadaan di mana manusia bisa mengekspresikan diri, berkumpul dengan komunitas yang memiliki ketertarikan yang sama, melepas lelah, refreshing, dan kegiatan sosial lainnya. Tempat ini menjadi penting karena pada tempat ini manusia mencoba merelaksasikan dirinya dari kelelahan ataupun kehomegenisan kegiatan yang dialami setiap harinya. Taman Fatahillah sebagai kawasan bersejarah yang ada di Kota Tua, merupakan salah satu tempat yang dapat dijadikan 'tempat ketiga'. Dalam skripsi ini penulis mengambil salah satu komunitas yang berada di Taman Fatahillah, yaitu street-squad yang merupakan salah satu komunitas streetdance. Mereka menjadikan Taman Fatahillah sebagai 'tempat ketiga'. Melalui skripsi ini diharapkan dapat terlihat ciri-ciri dari suatu 'tempat ketiga' dan proses placemaking yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di Fatahillah.

Human routines are generally the same. They rest, work, and study things. Those were the first and second place in a man's life. So what is third place? Third place is a socializing place that man needs after having formal condition at firstplace and secondplace. This place leads human to a condition where they can express themselves, gather with communities (people who have sama interests), have a rest, refreshing, and other social activities. This place will be very important for it's the place where people try to relax themselves for tiring or monotonous things everyday in their life. By the existence of this third place, people have the opportuniy to excite themselves before going back to the first or second phase. Fatahillah Park, as one of historical places in Kota Tua area, is a place that people can consider as third place. In this thesis, writer takes one of the communities in Fatahillah Park: Street-Squad, a streetdance community. They consider Fatahillah Park as their third place. By this thesis, writer hopes that the characterictics of third place and the proces of placemaking that is done by people at Fatahillah will be explained."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S931
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Reyni Rahmadhani
"Keberadaan Museum Taman Prasasti sebagai sebuah ruang publik yang merepresentasikan suatu budaya dengan cara mengkoleksi berbagai objek untuk disajikan kepada publik. Pemilihan prasasti, khususnya batu nisan, sebagai koleksi museum merupakan representasi Pemakaman Kebon Jahe Kober pada abad 18 di Batavia. Sejak ditutup sebagai pemakaman pada tahun 1975, pemerintah mulai mengadakan pengangkatan seluruh jenazah yang ada untuk dimakamkan kembali di Pemakaman Tanah Kusir, Menteng Pulo dan pemakaman lainnya yang ada di Jakarta. Langkah selanjutnya adalah mengadakan pemugaran serta penataan ulang pada batu nisan. Perubahan identitas Museum Taman Prasasti dari makam menjadi museum merupakan pertanyaan besar, bagaimana konstruksi identitas tempat dapat terjadi, apa saja yang membentuk identitas tersebut serta apa yang dapat direpresentasikan berdasarkan faktor - faktor pembentuk identitas tersebut. Dalam penulisan ini, penulis mencoba melakukan perbandingan mengenai identitas Kebon Jahe Kober namun pada zaman yang berbeda, yaitu pada masa kolonial Belanda di Batavia dan masa modern di Jakarta dengan studi literatur serta pengamatan langsung. Setelah membandingkan faktor - faktor pembentuk identitas pada lokasi yang sama berdasarkan waktu yang berbeda, maka penulis mencoba untuk menganalisa representasi yang terdapat dari kedua identitas tempat tersebut.

The presence of Museum Taman Prasasti as a public space represents culture by collecting various objects to be presented to the public. Inscription, especially on tombstone, as museum collections represents Pemakaman Kebon Jahe Kober in the eighteenth century in Batavia. Since the closure as a cemetery in 1975, the Government of Jakarta started to had the bodies removed to some of the cemeteries for instance to Pemakaman Tanah Kusir, Menteng Pulo and other cemeteries in Jakarta. After removing the bodies, the government starts to undertake the restoration and re-settlement on tombstones. The changes of Museum Taman Prasasti's identity from a cemetery to a museum happen to be a big question, how the construction of identity of place could occur, and examples of factors that create the identity of place and what to represents from those factors. In this thesis, I try to make a comparison on the identity of Pemakaman Kebon Jahe Kober but at different times, at colonial times in Batavia and modern times in Jakarta with the study of literature as well as direct observation. And after that, I'll try to analyse the representation from those two identities. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S968
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Wahyuni
"Simpul sebagai titik strategis seringkali berada di sekitar kita sebagai ruang yang diproduksi oleh masyarakat melalui kegiatan yang terangkum di dalamnya. Fenomena keberadaan simpul ini bukan hanya berada di konteks pusat kota saja, tetapi juga terjadi di dalam permukiman penduduk. Dalam konteks permukiman ini simpul hadir sebagai ruang yang menyediakan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Namun keberadaan ini menjadi fenomena ketika dalam suatu permukiman terdapat beberapa simpul yang masing-masing memiliki perbedaan mengenai penilaian titik strategis. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menguak faktor apa saja sehingga suatu simpul yang pada dasarnya merupakan titik strategis menjadi memiliki perbedaan penilaian tersebut. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggali informasi kepada pengguna ruang di sekitar persimpangan untuk mendapatkan penjelasan bagaimana ruang yang strategis ini terbentuk.
We can find node as a strategic point around us as the space produced by the community through activities that are covered in it. We can find the phenomenon of the nodes not only in the center of the city but also in the settlement area. In the context of settlement, the nodes as a space to fulfill the needs of society. But its existence become a phenomenon when a settlement has some of nodes which has different judgments about the strategic point. In this thesis, I will try to analyze what factor to make the nodes as a strategic point. The approach in this analyzing is interviewing the society who use the space in the nodes to get the information about how the strategic space is formed."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42307
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mukrima Fauriska Djawaru
"Skripsi ini membahas tentang peran mitologi dan gender dalam pembentukan arsitektur Suku Dani. Mitos merupakan cara manusia menjelaskan bagaimana dunia ini bekerja dengan memenuhi aturan-aturan tertentu, dimana ada kekuatan yang lebih besar dari manusia yang mengatur semua itu. Mitos juga digunakan manusia untuk mendefinisikan ruang yang sakral dan tidak sakral. Berdasarkan mitologi mereka, Suku Dani membagi dan membedakan peran antara laki-laki dan perempuan. Pembagian peran ini berdampak pada cara mereka membentuk dan mengelola ruang mereka. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian etnografi dan wawancara tidak terstruktur.

This undergraduated thesis discusses the role of mythology and gender in term of shaping Dani’s architercture. People uses myth to explain how the world works by fulfilling certain rules, which there is a greater power than humans that set it. Myth is also used by people to define his space into sacred and not sacred. Based on their mythology, Dani people divide and differentiate between the roles of men and women. This division of roles impact the way they form and manage their space. This undergraduated thesis uses a qualitative approach with ethnographic research method and unstructured interviews.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S55621
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitanggang, Yosephine
"Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari kebudayaan yang dimiliki. Kemampuan masyarakat berbeda untuk mengadaptasi dan mengolah kebudayaan yang telah mengakar di dalam dirinya, hal ini berlaku pada masyarakat yang berada di daerah pedalaman maupun masyarakat yang menjalani kehidupannya di kota besar. Objek penelitian pada karya ilmiah ini adalah orang sub etnis Batak Toba yang tinggal di Jakarta. Topik yang saya angkat pada pembahasan ini mengenai pengaruh budaya Batak Toba oleh orang Batak Toba yang tinggal di Jakarta dalam penggunaan ruang hunian mereka. Penelitian yang dilakukan memperoleh kesimpulan awal mengenai pengaruh budaya Batak Toba terhadap penggunaan ruang hunian orang Batak Toba di Jakarta.

People`s lives can not be separated from their culture. They have different abilities to adapt and cultivate their culture which is deeply rooted in them, not only the people who lives in the village but also the people in the city. The object for this study is Batak Toba`s people who lives in Jakarta. My topic is the influence of Batak Toba culture by Batak Toba`s people who lives in Jakarta in managing their house`s space. This study get an early conclusion about the influence of Batak Toba culture in managing space for house in the city."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S56447
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Auliyaputri
"Kebutuhan dan gaya hidup masyarakat kelas menengah-atas Jakarta secara umum bermobilitas tinggi. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya krisis akan sense of place. Krisis ini dalam jangka panjang akan menyebabkan tumpulnya kemampuan sensori individu dalam mengalami ruang. Hal ini akan bermuara pada menurunnya kemampuan individu dalam memaknai eksistensinya, karena ketika individu tidak mampu merasakan keberadaannya, ia tidak memiliki identitas. Skripsi ini kemudian membahas bagaimana peran arsitektur, yaitu melalui desain dalam merespon isu tersebut. Peran desain dalam hal ini adalah sebagai medium untuk melibatkan individu dengan ruang. Spatial engagement akan membuat individu mencapai sense of placenya?diawali dengan membuat individu merasa terlibat dalam suatu ruang, hingga ia memaknai keterlibatannya dengan merasakan keberadaannya?sehingga ruang akan dimaknai menjadi suatu tempat. Melalui studi kasus, yaitu kafe, skripsi ini membahas bagaimana desain melaksanakan perannya dan bagaimana fenomena spatial engagement dalam mencapai sense of place itu terjadi. Dari pengamatan tersebut didapatkan bahwa kuncinya adalah mendesain dengan menghargai konteks dan diimbangi dengan memprioritaskan bagaimana ruang tersebut dialami, dalam hal ini melalui pendekatan sensibilitas.

Needs and lifestyle of upper-middle class community of Jakarta in general is high mobility. It is one of the triggers of the crisis of a sense of place. This crisis in the long term will lead to dulling of sensory abilities of individuals in experiencing space. This will lead to a decreased ability of individuals to make sense of his existence, because when the individual is not able to feel its existence, it has no identity. This thesis then examines how the role of architecture, through design can respond to these issues. The role of design in this case is as a medium to engage individuals with the space. Spatial engagement will make individuals achieve a sense of place?starting with making people feel involved in a space, until he interpret his involvement with the feeling of existence so that the space will be interpreted into a place. Through case studies, the cafe, the thesis examines how design exercise its role and how the phenomenon of spatial engagement in achieving a sense of place that happens. From these observations it was found that the key is to design by appreciate the context and offset by prioritizing how space is experienced, in this case through sensibility approach."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63157
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kanya Pratita Wanaditya
"ABSTRAK
Film merupakan media yang dapat merekam arsitektur secara menyeluruh. Secara visual film membentuk alur yang membuat penontonnya mengikuti dan dapat menangkap citra yang digambarkan. Apa yang ditampilkan dalam film tidak selalu sama dengan kenyataan, tetapi bisa saja berupa citra yang sengaja ditanamkan dalam bentuk utopia yang dianggap lebih ideal. Citra utopis sebuah latar tempat dalam film paling mudah ditangkap melalui kondisi fisiknya. Maka, skripsi ini akan membandingkan elemen fisik dari sebuah latar pada film dengan kondisi tempat yang nyata menggunakan teori citra kota oleh Kevin Lynch. Kemudian, elemen fisik tersebut dikaitkan dengan teori utopia oleh Thomas More serta aplikasinya dalam suburbia Amerika oleh Nezar AlSayyad, ditambah beberapa penyesuaian dengan konteks kampung di Indonesia. Citra ideal kampung ini akan memperlihatkan utopia yang dibuat senyata mungkin agar lebih menarik dan membuat masyarakatnya seolah berada di film tersebut.

ABSTRAK
Film is a medium that could record architecture in a comprehensive way. Film creates a story that will guide the spectators to see the images of the space given. What is shown in a film is not always a reality. It could consist of unreal images which seem to be the idealized version of a place, hence, a utopia. The utopian images of a place can be seen easily in the physical elements. This paper will compare the physical elements of a place in the film and in real life using the theory of images of the city by Lynch. Then, these elements will be linked to the theory of utopia by Thomas More and its application in American suburban by Nezar AlSayyad, with some adjustments with the kampung context in Indonesia. The ideal images of the kampung will show the utopia which is made as real as possible to be more enjoyable while attracting people as if they were in the"
2016
S65022
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>