Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mira Kurniasari
"Perubahan kondisi lingkungan bersifat dinamis termasuk perubahan kuantitas dan kualitas lingkungan. Perubahan lingkungan terjadi akibat aktivitas alam maupun aktivitas manusia. Tidak sedikit aktivitas manusia yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan. Alam memiliki kemampuan untuk memulihkan perubahan lingkungan yang terjadi, namun perubahan yang sangat besar memungkinkan alam kesulitan untuk melakukan pemulihan.
DAS Citarum adalah sumber air baku utama bagi masyarakat Jawa Barat maupun DKI Jakarta. Kualitas DAS Citarum akan menentukan kualitas sumber air baku tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis pola perubahan kualitas air Citarum yang difokuskan pada parameter BOD5, COD, dan DO serta analisis alokasi industri sebagai suatu altematif antisipasi perubahan kualitas air sungai. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Perubahan kualitas air Citarum homogen menurut waktu pengukuran sepanjang tahun 1994 hingga tahun 2000.
2. Ada kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut waktu sepanjang tahun 1994 hingga tahun 2000.
3. Perubahan kualitas air Citarum homogen menurut lokasi Citarum dari hulu hingga hilir sungai.
4. Ada kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut lokasi Citarum dari hulu hingga hilir sungai.
5. Ada pengaruh keberadaan waduk kaskade Citarum terhadap perubahan kualitas air Citarum.
6. Ada pengaruh alokasi industri terhadap perubahan kualitas air Citarum.
Pengujian hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan uji Friedman untuk mengetahui homogenitas perubahan kualitas air menurut perubahan waktu maupun lokasi. Uji Z untuk mengetahui kecenderungan perubahan kualitas air terhadap perubahan waktu maupun lokasi, perhitungan sen slope untuk mengetahui tingkat kecenderungan perubahan kualitas air, serta simulasi model terhadap variasi debit sungai, debit limbah, BOD5 limbah dan jarak dengan menggunakan program dari Perum Jasa Tirta II yaitu First Basic Streeter-Phelps Model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut waktu pengukuran sepanjang tahun 1994 hingga tahun 2000.
2. Pada Citarum Hulu, kecenderungan perubahan BOD5 dan COD menurun dan perubahan DO menaik. Hal ini dimungkinkan kondisi lingkungan yang masih terpelihara dengan baik. Pada Citarum Hilir, kecenderungan perubahan BOD5 dan COD menaik dan perubahan DO menurun. Hal ini disebabkan adanya peningkatan kegiatan tambak ikan di kawasan waduk, kegiatan industri maupun peningkatan jumlah penduduk.
3. Pada Citarum Hulu, tingkat perubahan COD cenderung lebih besar dari pada BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan peraturan pengendalian limbah industri cukup efektif menurunkan kadar COD. Pada Citarum Hilir terutama di lokasi bendung Curug, tingkat perubahan COD jauh lebih besar dengan tingkat perubahan BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kandungan organik yang tidak dapat terurai secara biologis tinggi yang diperkirakan bersumber dari kegiatan industri.
4. Perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut lokasi Citarum mulai dari hulu hingga hilir sungai.
5. Sebelum waduk kaskade Citarum, kadar BODE dan COD menunjukkan kecenderungan menaik sehubungan peningkatan kegiatan industri. Sepanjang waduk kaskade Citarum, kadar BOD5 dan COD menunjukkan kecenderungan menurun sehubungan dengan proses sedimentasi dan aerasi pada waduk. Setelah waduk kaskade Citarum, kadar BOD5 dan COD menunjukkan kecenderungan menaik sehubungan peningkatan kegiatan industri.
6. Sebelum waduk kaskade Citarum, tingkat peningkatan COD hampir dua kali dari tingkat peningkatan BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan organik yang sulit terurai yang umumnya bersumber dari kegiatan industri cukup tinggi. Sepanjang waduk kaskade Citarum, tingkat penurunan COD hampir dua kali dari tingkat penurunan BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan organik yang sulit terurai menurun cukup efektif dengan adanya proses sedimentasi dan aerasi pada waduk. Setelah waduk kaskade Citarum, tingkat peningkatan COD hampir 4 kali dari tingkat peningkatan BOD5. Hal ini menunjukkan peningkatan kegiatan industri sangat tinggi dibandingkan dengan lokasi sebelum waduk kaskade Citarum.
7. Adanya perbedaan yang nyata terhadap kadar BOD5 dan DO pada variasi jarak industri.
Kesimpulan hasil penOlitian ini menunjukkan bahwa:
1. Pola perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut waktu sepanjang tahun 1994-2000.
2. Kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut waktu tergantung pada pola pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang berpotensi mempengaruhi kualitas air.
3. Pola perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut lokasi Citarum dari hulu hingga hilir sungai.
4. Kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut lokasi tergantung pada kondisi lingkungan dan kegiatan yang berpotensi mencemari lingkungan.
5. Keberadaan waduk kaskade Citarum mempengaruhi perubahan kualitas air Citarum dengan adanya peningkatan kualitas air Citarum setelah waduk kaskade Citarum.
6. Alokasi kegiatan industri mempengaruhi perubahan kualitas air Citarum. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan kadar BOD5 dan DO pada variasi jarak industri.

The Identification and Analysis on The Pattern of Water Quality Fluctuation at CitarumThe changes of environmental condition are dynamic, so are the changes of environmental quantity and quality. Environmental changes are resulted from natural as well as human activities. Many of human activities have caused pollution and environmental damages. Nature has self-recovering ability from any damages. However, nature will have difficulties in recovering from tremendous changes.
Citarum catchments area is the main drinking water source for West Java and Jakarta communities. The quality of Citarum catchments area determines the quality of the drinking water source. This research aims to analyze the pattern of water quality fluctuation at Citarum focusing on the BOD5 and DO parameter while also analysing industrial allocation as an alternative to anticipate the changing of river water quality. Hypotheses used in this research were as follows:
1. There was homogeneity in the changes of water quality at Citarum according to time during the year of 1994 to 2000.
2. Water quality at Citarum had a tendency to change according to time during the year of 1994 to 2000.
3. There was homogeneity in the changes of water quality at Citarum according to location along the upper to the lower stream.
4. Water quality at Citarum had a tendency to change according to location along the upper to the lower stream.
5. The existence of Citarum cascade dam affected the water quality fluctuation at Citarum.
6. Industrial allocation influenced the water quality fluctuation at Citarum.
Those hypotheses were tested using Friedman test to examine the homogeneity in the pattern of water quality fluctuation with the changes of time and location, Z test to examine the trend of water quality fluctuation with the changes of time and location, sen slope calculation to examine the degree of trend of water quality fluctuation; and model simulation with the variation of river flow rate, wastewater flowrate, BCDs level of the wastewater and distance using First Basic Streeter-Phelps Model, a program owned by Perum Jasa Tirta
The research found that:
1. Water quality fluctuation at Citarum was not homogeneous according to time during the year of 1994 to 2000,
2. At the upper stream of Citarum, there was a trend of decreasing BOD5 and COD level and increasing DO level. This possibly because the environmental condition was still well maintained. At the lower stream of Citarum, there was a trend of increasing BOD5 and COD level and decreasing DO level. An increasing fish farming activity at the dam area, increasing industrial activity as well as population growth possibly caused this condition.
3. At the upper stream, the degree of change in COD more than BOD5. It meant that the application of industrial wastewater regulation is effective to decrease COD. At lower Citarum, particularly at Curug dam, the degree of change in COD level change was far more significant than the degree of BOD5 change. It showed the increase of organic content that was not biodegradable possibly came from industrial activities.
4. Water quality fluctuation at Citarum was not homogenous with the changes of location along upper to lower stream.
5. Before Citarum cascade dam, BOD5 and COD tended to increase with the increasing industrial activities. Along Citarum cascade dam, BOD5 and COD level tended to decrease because of sedimentation and aeration process in the dam. After Citarum cascade dam, BOD5 and COD tended to increase with the increasing of industrial activities.
6. Before Citarum cascade dam, the increase of COD level was almost twice the increase of BOD5 level. This showed the relatively high content of organic matter came from industrial activities that were difficult to degrade. Along Citarum cascade dam, COD level decreased with a rate almost twice as BOD5 level. This showed that organic matter that was difficult to degrade decreased quite effectively with sedimentation and aeration process in the dam. After Citarum cascade dam, the rate of COD level increase was almost four times the increase of BOD5 level. This showed that the increase of industrial activities was very high compare to the location before Citarum cascade dam.
7. There are significant difference of BOD5 and DO at variation of distance among industries.
The research concluded that:
1. The pattern of water quality fluctuation at Citarum did not show any homogeneity according to time during the year 1994 to 2000.
2. The trend of water quality fluctuation at Citarum according to time depended on the rate of population and economy growth.
3. The pattern of water quality changes did not show any homogeneity according to location from upper to lower stream.
4. The trend of water quality fluctuation according to location depended on the existing environmental condition and on the activities having a potency to pollute the environment.
5. The existence of Citarum cascade dam affected water quality fluctuation at Citarum as shown by the increase of river water quality after passing the Citarum cascade dam.
6. The allocation of industrial activities influenced water quality fluctuation at Citarum. This was shown by the fluctuation of BOD5 and DO level with the variation of distances from industry.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T 3692
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Untad Dharmawan
"Guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan berikut resiko lingkungan yang diakibatkannya, terhitung sejak tahun 1995 Pemerintah Indonesia mulai memasyarakatkan kebijakan pembukaan lahan tanba bakar (zero burning policy). Kemudian kebijakan tersebut dipertegas melalui Peraturan Pemerintah No.4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan atau Lahan.
Namun pada kenyataannya kebijakan tersebut sulit diterima oleh masyarakat. Biaya pembukaan lahan dengan cara-cara lain tersebut dirasakan sangat tinggi, sehingga memberatkan ekonomi masyarakat. Selain dari pada itu, pembakaran sudah merupakan bagian dari budaya masyarakat sejak turun temurun, sehingga sulit dipisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari. Akibatnya, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut justru menimbulkan masalah baru berupa benturan dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang ada.
Salah satu alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah mencoba menerapkan suatu kebijakan pembakaran terkendali (control burning) melalui tehnik pembakaran dengan sedikit asap (less smoke burning methode). Teknik tersebut pada dasarnya diangkat dari kebiasaan masyarakat penduduk asli (indigenous people) di Kalimantan yang dikombinasikan dengan pengalaman negara Jepang dalam penyiapan lahan menggunakan api (Saharjo, 1999).
Namun teknik tersebut baru pernah diujicobakan pada lahan tanah mineral (belum pernah di lahan gambut). Padahal kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera selama ini sebagian besar berlokasi di kawasan gambut. Ciri khas kebakaran di kawasan gambut adalah kebakaran bawah (ground .fire) dengan pembakaran yang tidak menyala (smoldering .fire) dan merupakan tipe kebakaran yang paling berbahaya (Syaufina, 2002). Sehingga banyak hal yang masih menjadi pertanyaan dan keraguan bagi para peneliti, khususnya menyangkut efektivitas berikut besarnya dampak yang terjadi akibat pembakaran yang dilakukan dengan menerapkan teknik pembakaran dengan Sedikit Asap (Less Smoke Burning Methode) pada lahan tersebut.
Tujuan utama penelitian ini adalah: mengetahui data emisi gas rumah kaca (GRK) akibat pembakaran hutan dan lahan gambut yang menerapkan Teknik Pembakaran Dengan Sedikit Asap (Less Smoke Burning Method). Sedangkan tujuan antaranya adalah: a) mengetahui faktor-faktor di lapangan yang berpengaruh pada emisi gas rumah kaca (GRK) akibat pembakaran hutan dan lahan gambut yang menerapkan Teknik Pembakaran Dengan Sedikit Asap (Less Smoke Burning Method): dan b) mempelajari dan mengkaji dampak pembakaran hutan dan lahan gambut yang menerapkan Teknik Pembakaran Dengan Sedikit Asap (Less Smoke Burning Method) pada komposisi dan strukrur vegetasi setelah pembakaran.
Data dan informasi hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dijadikan masukan dan wacana dalam upaya penyusunan alternatif kebijakan (policy) di bidang pertanian dan kehutanan, khususnya kebijakan dalam kegiatan pembukaan lahan (land clearing) yang selama ini banyak mengalami hambatan dan benturan kepentingan dalam pelaksanaannya di lapangan.
Penelitian bersifat eksperimen dan dilakukan pada lahan hutan Gambut Sekunder milik masyarakat setempat di Desa Pelalawan - Kecamatan Bunut - Kabupaten Pelalawan - Propinsi Riau. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2001 dan dilanjutkan pada bulan April 2002.
Melalui penelitian ini disimpulkan: pertama, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara beban emisi gas rumah kaca (GRK) hasil pembakaran lahan di areal gambut hemik dengan beban emisi di gambut saprik, baik gas N2O, CH4, CO maupun C02, yang menerapkan Teknik Pembakaran Derngan sedikil Asap (Less Smoke Burning
Method); kedua, variabel karakteristik bahan bakar (bahan bakar tersedia, tebal bahan bakar dan kadar air bahan bakar), kondisi lingkungan (kelembaban udara relatif, kecepatan angin dan suhu udara) serta dalam muka air tanah berpengaruh pada beban emisi gas rumah kaca (GRK) N20, CH4, CO maupun CO2 hasil pembakaran lahan yang menerapkan Teknik Pembakaran Dengan Sedikit Asap (Less Smoke Burning Method),- dan ketiga, terjadi perubahan struktur dan komposisi vegetasi akibat diterapkannya teknik pembakaran dengan sedikil asap (less smoke burning method) dalam penyiapan lahan gambut.

The Influence of Fire Usage in Land Preparation on Green House Gasses Emission (The Implementation of Less Smoke Burning Method on Peat Land Areas at Pelalawan Regency - Riau Province)Since 1995, The Government of Indonesia began to socialize The Zero Burning Policy. The purposes of this policy are to prevent the forest and land fire as well as environmental risk that follow it. The policy was strengthening with The Government Law No.4 12001 about The Environmental Damage and Pollution Control with Reference to Forest and Land Fire.
The policy is hardly accepted by the community, on the contrary. Land clearing expenses using different methods are too expensive for the local people. Burning method has become a custom of Dayak Tribe. More over, burning is a central of the hole series on farming activity that really important influence the successful of farm yield (Dove, 1988), made it difficult to separate it from their daily life. Instead of its purposes, the policy released by tithe government has caused conflict with the community's culture, social and economy.
One alternative solution that could be tried is applying a Controlled Burning Policy through Less Smoke Burning Method. Basically, the technique come from the custom of indigenous people in Kalimantan combined with Japanese experience in fire usage of land clearing (Saharjo, 1999).
However, the technique were have only been applied on land of mineral soil (haven't been applied on land of peat land). Actually, the forest and land fire happened in Sumatera and Kalimantan mostly located on a peat land. The characteristics of peat land fire are ground fire with smoldering fire and it is the most dangerous type of fire (Syaufina, 2000). That's why many things is still questioned and doubtful for the researcher especially in effectivity and impact size from burning with Less Smoke Burning Method on that kind of land.
The main goal of this research is to achieve green house gasses emission data from burning of forest and land that applied Less Smoke Burning Method. Another aim are: a. To identify influenced factors on the green house gasses from burning of forest and land that applied Less Smoke Burning Method, and b. To study the burning impact of forest and land that applied Less Smoke Burning Method on the structure and composition of vegetation.
The result of the research's information and data will be expected to be made for input and discourse in case to effort to make the alternative policy in agriculture and forestry sectors, especially for the land clearing activities policy that experienced more obstacles and conflict of interest in the practice.
The character of this research was experiment and performed on the land of secondary peat forest owned by local people at Pelalawan Village - Bunut Sub-District - Pelalawan Regency - Riau Province. The implementation of this research carried out on August until October 2001 and continued on April 2002.
Through of this research, the conclusion are: first, there was no significant differences between load of green house gasses emission that resulted by burning on hemic peat land and sapric peat land, neither N20, CH4, CO nor CO2 that applied Less Smoke Burning Method; second, The fuel characteristic's variables (available fuel, fuel bed depth and water content of fuel), environmental condition's variables (relative humidity, speed of wind and ambient temperature) and soil water level influenced on load of green house gasses emission, either N20, CH4, CO or CO2 that applied Less Smoke Burning Method; third, There was structural and composition changes caused by burning applied Less Smoke Burning Method in peat land preparation.
Burning that applied Less Smoke Burning Method caused the changes of vegetation's composition and structure."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2003
T 11170
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yosef
"Pariwisata saat ini telah menjadi industri yang penting di dunia. Industri pariwisata dunia tersebut mampu mempekerjakan 127 juta pekerja dari sekitar 600 juta wisatawan yang melakukan perjalanan wisata pada tahun 1993. Kalimantan Barat yang merupakan propinsi terbesar ke-4 di Indonesia dengan luas 146.807 km2, merupakan suatu destinasi pariwisata yang cukup menarik bagi wisatawan dunia umumnya.
Dengan diarahkannya Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) sebagai prioritas untuk dikembangkan dalam bentuk wisata alam (ekowisata), memberi konsekuensi pada pengelolaan yang terpadu dan terencana pada kedua kawasan tersebut. TNBK dengan luas 800.000 hektar yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan berbatasan dengan wilayah Sarawak, Malaysia sangat memberikan harapan dalam usaha menjaring pasar internasional; di mana Malaysia merupakan salah satu kantong pariwisata mancanegara terbesar di Asia Tenggara. Usaha pemanfaatan kawasan konservasi melalui pengembangan ekowisata menjadi sangat penting dan strategis di samping usaha-usaha penanggulangan kegiatan penebangan dan perburuan yang tidak terkendali di kawasan TNBK. Kawasan ini juga memiliki fungsi strategis lain seperti fungsi hidro-orologis sebagai daerah tangkapan air di perhuluan Sungai Kapuas.
TNBK belum dikenal dan belum banyak dikunjungi oleh wisatawan sebagai daerah tujuan wisata (DTW). Kurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke taman nasional ini, antara lain disebabkan masih minimnya sarana dan prasarana transportasi, restorasi, dan akomodasi maupun masih kurangnya promosi ke luar tentang obyek-obyek wisata yang ada di kawasan TNBK. Untuk berhasilnya pengembangan TNBK menjadi daerah tujuan wisata, tidak cukup hanya dengan mengembangkan potensi alam dengan menawarkan atraksi-atraksi yang menarik; tetapi dengan memperhatikan faktor utama lainnya, yaitu faktor aksesibililas dan amanitas. Faktor aksesibilitas (kemudahan untuk dicapai) sangat dipengaruhi oleh dekatnya jarak, atau tersedianya transportasi ke tempat itu secara teratur, sering, murah, nyaman, dan aman. Faktor amanitas sangat dipengaruhi oleh tersedianya fasilitas-fasilitas seperti tempat penginapan, rumah makan (restoran), tempat hiburan, transport lokal yang memungkinkan wisatawan berpergian ke tempat itu serta alat-alat komunikasi lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi sarana dan prasarana transportasi, akomodasi, dan restorasi dengan upaya pengelolaan ekowisata. Dengan mengetahui hubungan dimaksud maka akan sangat bermanfaat bagi perencanaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang mendukung pengelolaan ekowisata di TNBK.
Dalam penelitian ini, dikemukakan hipotesis yaitu:
Kondisi sarana dan prasarana akan mempengaruhi minat untuk berkunjung ke obyek wisata alam.
Metode (cara) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ekspos Fakto (expost facto research) dan survai. Pengumpulan data dengan pengamatan langsung di lapangan, wawancara, kuesioner, serta dari pihak yang terkait dengan wilayah penelitian di kecamatan Embaloh Hulu, Embaloh Hilir, Kedamin, dan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu.
Dari analisis dan bahasan, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:
1. Jumlah tamu hotel, dipengaruhi langsung oleh layanan angkutan darat, dan layanan energi listrik; tingkat hunian hotel, dipengaruhi langsung oleh layanan energi listrik, layanan angkutan darat, dan layanan pasar; sedangkan jumlah wisatawan, dipengaruhi langsung oleh layanan telepon, layanan pasar, layanan pos, layanan energi listrik, dan layanan angkutan darat.
2. 88,90% dari minat untuk berkunjung ke kawasan tujuan wisata alam ditentukan oleh kondisi sarana dan prasarana; sedangkan 11,1% sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain.
3. 57% dari responden menyatakan bahwa perjalanan yang dilakukan kurang nyaman, 29% menyatakan tidak nyaman sama sekali, dan 14% menyatakan cukup nyaman.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
(1) Layanan sarana dan prasarana berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap tingkat hunian hotel, jumlah tamu hotel, dan jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata alam.
(2) Kondisi sarana dan prasarana sangat berpengaruh terhadap minat untuk berkunjung ke obyek wisata alam.
(3) Ketersediaan dan layanan sarana dan prasarana, belum mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan hiburan bagi wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata alam di TNBK.
Untuk itu disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Perlu perbaikan terhadap pengelolaan kepariwisataan di propinsi Kalimantan Barat dan TNBK khususnya, terutama dalam penyediaan fasilitas-fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan para wisatawan serta menejemen pengelolaan dan sumberdaya manusianya.
2. Perlu adanya kesamaan persepsi mengenai taman nasional, yang dibentuk melalui koordinasi antara pihak-pihak yang terkait.

Presently tourism has become significant industry in the world. World tourism industry is able to employ 127 millions workers from approximately 600 millions tourist taking tour travel in 1993. West Kalimantan is the fourth biggest province in Indonesia with an area of 146.807 km2, and is an attractive tourism destination for tourists from all over the world.
As Betung Kerihun National Park (BKNP) and Danau Sentarum National Park (DSNP) are prioritied to be developed in to ecotourism, this means we need to pay attention to on integrated and well-planned of both areas.
BKNP covers on area of 800.000 hectares; it has a high biological diversity and is the borderland with Serawak region, Malaysia, this fact gives high hope in the effort to embrace international market; of which Malaysia represents one of the biggest international tourism destination in South East Asia. Utilization of conservation area through the development of ecotourism become a very important and strategic effort besides other efforts to prevent illegal logging activities and uncontrolled hunting in BKNP area. This area also has strategic function such as hydro-orological functional to serve as water catchment area in the upper streem of Kapuas river.
BKNP has not been widely known and visited by tourists as tourism destination. Limited number of tourists visiting this national park are duelto, among other things inadequate suprastructure and infrastructure of transportation, restoration, and accommodation as well as lack of promotion to abroad regarding tourist objects available in BKNP area. To successfully develop BKNP to become tourism destination, it is not enough only by developing natural potential and offering interesting attractives; however it needs to give attention to the main factors, namely accessibility and amenity. Accessibility factor is greatly affected by proximity or availability of regular, frequent, inexpensive, comfortable and safe means of transportation.
Amenity factor is greatly affected by availability of facilities such as lodging, restaurant, amusement center, local transport that enable tourist to travel to that place as well as other communication means.
This research is aimed at identifying correlations between the conditions of transportation suprastructure and infrastructure, accommodation, and restoration, and ecotourism management. By identifying the said correlations, it will be very useful for the planning and development of the suprastructure and infrastructure supporting ecotourism management at BKNP.
Hypothesis is proposed in this research, namely:
The condition of suprastructure and infrastructure will affect people's interests to visit the natural tourism objects.
The method used in this research is expost facto research and survey, Data collection is done by having direct observation to the field, interview, questionnaire, and from the fourth party related to the research area in Embaloh Hulu, Embaloh Hilir, Kedamin, and Putussibau sub-districts, Kapuas Hulu Regency.
Following is the result obstained from analysis:
1. Total hotel guests, it is directly affected by land transport service and electricity service; hotel occupancy rate, it is directly affected by electricity service, land transport service, and market service; where's number of tourists, it is directly affected by telephone service, market service, post service, electricity service, and land transport service.
2. 88,90% of interest to visit tourism object is determined by suprastructure and infrastructure condition; the remaining 11,10% is determined by other factors.
3. 57% of respondents say they have uncomfortable travel, 29% say they have very uncomfortable travel, and 14% say they have fairly compfortable travel.
From the research findings/results it can be concluded as follows:
1. Suprastructure and infrastructure services instantaneously and directly influence the degree of hotel occupancy rates, the number of hotel guests, as well as the number of tourists who visit the natural tourism object.
2. Conditions of suprastructure and infrastructure greatly affect people's interest to visit the natural tourism object.
3. The available suprastructure and infrastructure and its services, has not yet to provide convenience, safety, and attraction to tourist visiting the natural tourism object at BKNP.
For that purpose, it is suggested the followings:
1. Improvement of tourist management is necessary in West Kalimantan Province and in particular the BKNP, especially in providing facilities that can meet the need of tourist as well as the management of tourism and human resources.
2. It is necessary to have a similar perception regarding the national parks, which is shaped through an interrelated coordination among the concerned agencies.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2002
T 11109
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamakaula, Yohanes
"Salah satu kekayaan sumberdaya hayati Indonesia adalah hutan mangrove. Provinsi Papua memiliki 77,1% dari seluruh luasan hutan mangove di Indonesia. Kota Sorong dan Kabupaten Sorong adalah dua wilayah yang terdapat di provinsi tersebut, yang memiliki hutan mangrove seluas 10.354 km2. Kawasan hutan mangrove di wilayah ini semula dimanfaatkan oleh masyarakat setempat secara subsistem. Selaras dengan perkembangan penduduk dan pembangunan serta perubahan corak ekonomi masyarakat, maka kawasan ini mendapat tekanan yang cenderung semakin meningkat, dengan meningkatnya permintaan terhadap hasil-hasil kawasan hutan mangrove baik berupa kayu maupun non kayu. Namun pengambilan hasil hutan mangrove tersebut menunjukkan tendensi lebih cepat daripada kemampuan regenerasinya. Kondisi ini dalam j angka waktu tertentu, akan menimbulkan dampak negatif yang semakin meluas bagi kawasan ekosistem hutan mangrove setempat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi masyarakat setempat dengan- kawasan hutan mangrove, ketergantungan ekonomi masyarakat setempat dan faktor sosial ekonomi masyarakat sebagai pemicu terhadap pemanfaatan kawasan hutan mangrove. Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai informasi ilmiah dan sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam membuat kebijakan perencanaan pengelolaan lingkungan.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara dengan responder sebanyak 60 KK. Penelitian dilaksanakan sejak bulan September-Desember 2003 di Kelurahan Remu Selatan, Kota Sorong dan tiga kampung di Kabupaten Sorong yakni; Kampung Konda, Wersar dan Seyolo. Analisis data yang digunakan adalah tabulasi, uji Chi Square dan koefisien kontingensi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tentang kawasan hutan mangrove 43,33 % menyatakan agak rusak dimana kerusakan tersebut 65,% disebabkan oleh manusia. Hasil tangkapan masyarakat terutama ikan dan kepiting mengalami penurunan. Masyarakat setempat/lokal masih menghormati lingkungan alam karena kehidupannya tergantung pada alam sekitarnya/kawasan hutan mangrove. Interaksi masyarakat lokal dengan kawasan hutan mangrove 50,% tergolong dalam kategori sedang. Faktor sosial ekonomi seperti jumlah tenaga kerja keluarga, pendapatan keluarga, pendidikan formal, dan pasar memiliki nilai hitung lebih tinggi daripada nilai tabel X2. Sedang fait-tor jumlah anggota keluarga dan keari.fan tradisional nilai hitungnya lebih rendah daripada nilai tabel X2.
Kesimpulan hasil penelitian adalah; (1) Interaksi masyarakat di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong terhadap kawasan hutan mangrove tergolong sedang; (2) Perekonomian masyarakat lokal masih tergantung pada kawasan hutan mangrove yang ada di sekitar tempat tinggalnya; (3) Ketergantungan perekonomian masyarakat lokal yang hidup di sekitar kawasan hutan mangrove terbagi menjadi tiga yakni; (a) ketergantungan terbatas (Kota Sorong); (b) ketergantungan penuh (Kabupaten Sorong); dan (c) tidak mempunyai ketergantungan (Kepulauan Raja Ampat) dan (4) Jumlah tenaga kerja keluarga, pendapatan keluarga, pendidikan formal, dan pasar memiliki dependensi terhadap interaksi masyarakat dengan hutan mangrove. Sedang jumlah anggota keluarga dan kearifan tradisional tidak memiliki dependensi terhadap Interaksi masyarakat dengan kawasan hutan mangrove.

Interaction of People with Mangrove Forest Areas (Case Study in Sorong Town and Sorong Regency of Papua Province)One of the richness of Indonesia's biological resources are the mangrove forests. Papua Province has 77.1% of all mangrove forest in Indonesia. Sorong Town and Sorong Regency are two areas existing in the said province, having mangrove forests as large as 10,354 km2. Mangrove forests in this area initially were used by the local people for their subsistence. In line with the progress of population and development as well as changes on the economic pattern of the people, this area is incurred with pressure and then tend to increase caused , by the increased on demands for the mangrove forest products such as wood or non-wooden products. Nevertheless the taking of the said mangrove forest products showed a faster tendency beyond the regenerating capability of mangrove. This condition at certain periods of time, will result in the widening the negative impacts to the local mangrove forest ecosystem.
This research aims at a study of the interaction of the local people with the mangrove the forest area. Studied the economic dependency of the local people on the mangrove forests and the social economic factors of the people, as triggerred by the use of mangrove forest areas. The benefits expected from this research is scientific information and as the substance of consideration for the local government in making policies for regional planning and environmental management.
This research is descriptive and uses the case study approach. The data collecting techniques used questionnaires and interviews to 60 KK (head a families).respondents. This research was carried are since the month of September to December 2003 at kelurahan/sub-district of Remu Selatan, the town of Sorong and three villages in the Sorong Regency being: Konda, Wersar and Seyolo. The data analysis studied used tabulations, Chi- square test and contingency coeficient.
The research results show that 44.33 percent of the respondents had perception on mangrove forests, being sufficiently damaged; where of 65.00 percent the said damage was said to be the result of human being using carelessly of the surroundings. The results of people's catch ( especially fish and prawns) is decrease. The local people still respect the natural environment because their lives depend on the natural surrounding mangrove forest area. The interaction of the local people with the mangrove forest area 50.00 percent is categories on medium. The social economic factor such as the number of family workforce, family income, formal education and market, have been calculated valued as higher than the value of table X2. As for the factor on the number of the family members and traditional wisdom, this study calculated the value give by the respondent is lower than the value in the table X2.
The conclusions as a result of the study are; (1) Interaction of the people in town of Sorong and Sorong Regency towards the mangrove forest has to be categorized as medium; (2) Economic the local people depend on the mangrove forest area existing around their homes; (3) The economic dependency of the local people living around the mangrove forests is divided into three categories being; (a) limited dependency (town of Sorong); (b) full dependency (Sorong Regency); and (c) not at all dependent (Raja Ampat/Four Kings Islands); (4) The number of a family workforce, family income, formal education and market influence the interaction of people with their mangrove forests. As for the number of family members and traditional wisdom there seems to be no influence on the interaction of people with mangrove forest areas.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004
T11927
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Toto Yanto Puji Irianto
"Wilayah pesisir dan lautan Indonesia memiliki potensi dalam meningkatkan produk domistik bruto dan kesejahteraan rakyat yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Negara Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang memiliki banyak pantai dan estuaria. Hal ini sangat mendukung bagi pertumbuhan luas hutan mangrove di Indonesia yang mencapai ± 5,210 juta hektar pada tahun 1982 (Dahuri et. al, 1996). Ekosistem hutan mangrove yang merupakan ekosistem peralihan antara ekosistem darat dan laut, memiliki karakteristik yang khas. Kondisi semacam ini menyebabkan ekosistem hutan mangrove sangat rawan terhadap pengaruh faktor luar (Alikodra, 1995).
Ditinjau dari aspek sosial ekonomi, hutan mangrove merupakan tumpuan bagi nelayan setempat sebagai tempat mencari ikan dan udang, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, kayu mangrove dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, dan bahan baku industri lainnya. Dewasa ini telah terjadi penyusutan luas hutan mangrove menjadi ± 2,496 juta hektar yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia (Dahuri et. al, 1996). Salah satu dari ekosistem tersebut, terdapat di Segara Anakan, Kabupaten Dati II Cilacap, Jawa Tengah, dengan luas ± 29.400 hektar pada tahun 1970 yang merupakan hutan mangrove terluas di Pulau Jawa. Hutan mangrove di Segara Anakan ini berperan penting, karena berfungsi sebagai habitat biota perairan yang bermanfaat sebagai sumber perikanan. Namun bila dibandingkan dengan ekosistem laut, konsentrasi fitoplankton pada ekosistem ini lebih sedikit. Menurut Barnes (1974), fungsi fitoplankton ini dapat disubsidi oleh daun-daun mangrove.
Berdasarkan data, terlihat bahwa telah terjadi perubahan dan penyusutan kondisi hutan mangrove Segara Anakan dari ± 29.400 hektar pada tahun 1970 menjadi ± 7.928,3 hektar pada tahun 1995. Begitu pula dengan luas perairan Segara Anakan dari ± 4.580 pada tahun 1970 menjadi ± 1.643,3 hektar pada tahun 1995. Perubahan dan penyusutan kondisi hutan mangrove dan luas perairan ini akan berpengaruh terhadap kehidupan biota perairan di dalamnya. Hal ini selanjutnya akan berakibat pada berkurangnya produksi perikanan bagi nelayan tradisional. Dalam jangka panjang kondisi seperti ini akan berakibat pula pada perubahan kondisi sosial ekonomi dan sosial budaya, terutama terhadap matapencaharian nelayan di Segara Anakan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan fakta empiris guna menguji hipotesis tentang:
(1). Perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) terhadap tingkat produksi udang dan ikan (Yl); serta terhadap pola matapencaharian penduduk;
(2). Perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) terhadap pola matapencaharian penduduk (Y2)
(3). Perubahan kondisi hutan mangrove (X1), luas perairan Segara Anakan (X2) dan tingkat pendapatan rata-rata nelayan (X3) terhadap perubahan pola matapencaharian nelayan (Y4) di wilayah penelitian, desa yang berada di dalam dan di sekitar (luar) kawasan Segara Anakan secara keseluruhan serta perdesa di wilayah penelitian.
Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi masukan mengenai keberadaan hutan mangrove dan luas perairan Segara Anakan dalam kaitannya dengan pengelolaan dan pelestariannya, serta terhadap perubahan pola matapencaharian nelayan di Segara Anakan dalam pengambilan keputusan instansi terkait.
Penelitian ini berlokasi di kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan, Kabupaten Dati II Cilacap, Jawa Tengah dengan obyek penelitian 7 desa dari 5 kecamatan di kabupaten tersebut.
Pengumpulan data dalam penelitian ini selain dilakukan melalui studi pustaka, juga melalui pengamatan lapangan... Pengumpulan data melalui observasi lapangan dilakukan dengan teknik wawancara dan kuesioner terhadap responden. Dalam observasi lapangan ini termasuk pula pengamatan terhadap berbagai aktivitas nelayan dan kondisi lainnya di daerah penelitian. Di samping itu digunakan pula data dan fakta time series untuk dapat mengetahui gejala-gejala yang timbul, yang selanjutnya dapat digunakan untuk masukan mengenai saran tindakan yang berkaitan dengan variabel yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nelayan yang sudah menetap di sekitar hutan mangrove Segara Anakan selama lebih dari lima tahun. Untuk pemilihan responden sebagai unit penelitian dilakukan teknik purposive random sampling. Adapun syarat responden adalah kepala keluarga nelayan dari suatu rumah tangga yang berkaitan dengan hutan mangrove, menangkap ikan atau udang, serta berumur lebih dari duapuluh tahun. Sementara pemilihan tujuh desa dari lima kecamatan sebagai lokasi penelitian dilakukan secara acak sederhana berdasarkan informasi bahwa desa tersebut berhubungan langsung dengan kawasan hutan mangrove Segara Anakan. Melalui teknik pengambilan sampel ini didapat responden sebanyak 140 kepala keluarga dari tujuh desa sampel tersebut.
Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif, sedangkan pengujian hipotesis dengan teknik korelasi ganda dan regresi tinier ganda serta regresi kuadratik dengan menggunakan fasilitas program komputer SPSS for Windows.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut:
(1). Perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan leas perairan Segara Anakan mempunyai hubungan positif dan berarti terhadap tingkat produksi udang dan ikan (Y1) (r 0,736). Keeratan hubungan antara variabel X1; X2 - Y1 tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar 0,541.
(2). Tingkat produksi udang dan ikan (X1(3)) mempunyai hubungan positif dan kurang berarti terhadap tingkat pendapatan rata-rata nelayan (Y3) (r = 0,435). Keeratan hubungan antara variabel X1(3) - Y3 tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar 0,189.
(3). Perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) mempunyai hubungan positif dan berarti terhadap jenis pola matapencaharian penduduk (Y2) secara keseluruhan di wilayah penelitian (r antara 0,899 - 0,977). Keeratan hubungan antara X1; X2 Y21 tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar antara 0,807 - 0,955.
Untuk hubungan perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) terhadap jenis pola matapencaharian penduduk per desa (Y2), mempunyai hubungan positif dan berarti (r = antara 0,818 - 0,986). Keeratan hubungan antara variabel x1; X2 - Y 2, tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar antara 0,669 - 0,973, kecuali terjadi di desa Kaliwungu jenis matapencaharian buruh/tani tambak mempunyai hubungan positif tetapi kurang berarti (r = 0,505) dan keeratan hubungan antar variabel X1 ; X2 - Y2, tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar 0,255. Sedangkan untuk hubungan perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) mempunyai hubungan positif dan berarti terhadap jenis pola matapencaharian penduduk di desa yang berada dalam kawasan Segara Anakan (Y2) - (r = antara 0,931 - 0,989). Keeratan hubungan antara X1; X2 - Y2 tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar antara 0,867 - 0,979. Begitu pula dengan hubungan antara perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) terhadap jenis pola matapencaharian penduduk di desa yang berada di sekitar (luar) (Y2) mempunyai hubungan positif dan berarti (r = antara 0,951 - 0,991). Keeratan hubungan antara variabel X1 ; X2 - Y2, tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar antara 0,905 - 0,982.
(4). Perubahan kondisi hutan mangrove (X1) dan luas perairan Segara Anakan (X2) dan tingkat pendapatan rata-rata nelayan (X3) mempunyai hubungan positif dan berarti terhadap perubahan pola matapencaharian nelayan (Y4) di wilayah penelitian secara keseluruhan (r = 0,978). Keeratan hubungan antara variabel X1; X2 ; X3, - Y4, tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar 0,957. IIntuk hubungan perubahan kondisi hutan mangrove (X1), luas perairan Segara Anakan (X2) dan tingkat pendapatan rata-rata nelayan (X3) terhadap perubahan pola matapencaharian nelayan (Y4) di desa yang berada di dalam kawasan Segara Anakan mempunyai hubungan positif dan berarti (r = 0,985). Keeratan hubungan antara variabel x1; X2; X3 - Y 4, tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar 0,970.
Begitu pula halnya yang terjadi di desa yang berada di sekitar (luar) kawasan Segara Anakan mempunyai hubungan positif dan berarti antara perubahan kondisi hutan mangrove (X1), luas perairan Segara Anakan (X2) dan tingkat pendapatan rata-rata nelayan (X3) terhadap perubahan pola matapencaharian nelayan (Y4) (r = 0,952). Keeratan hubungan antara variabel X1 ; X2 ; X3 - Yip tergambar dari besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar antara 0,907.
Sedangkan perubahan kondisi hutan (X1), luas perairan Segara Anakan (X2) dan tingkat pendapatan rata-rata nelayan (X3) mempunyai hubungan positif dan berarti terhadap perubahan pola matapencaharian nelayan (Y4) per desa di wilayah penelitian (r = antara 0,920 - 0,974). Keeratan hubungan antara variabel X1 ; X2 ; X3 - Y4, tergambar dari koefisien determinasi (r2) sebesar antara 0,847 - 0,949.
Berdasarkan uji hipotesis di atas terlihat bahwa variabelvariabel tersebut berhubungan positif dan secara dominan terbukti berarti. Selain variabel kondisi hutan mangrove dan luas perairan Segara Anakan yang mempengaruhi variabel lainnya yang dikaji dalam penelitian ini, maka disadari masih ada variabel lain yang perlu dikaji dalam penelitian lain untuk masa yang akan datang. Suatu kajian yang lebih mandalam guna membantu instansi terkait dalam pengambilan keputusan.

The area of coastal and Indonesia ocean had a potential to enhance the gross domestic products and people welfare. Until now, the potential has not been used optimally. Indonesia is an archipelago state that had a lot of coastal and estuaries. These are supporting facts that uphold the growth of mangrove forest in Indonesia which reached the lagoon size of such as ± 5.210 million hectare in 1982 (Dahuri et al. 1996). Mangrove ecosystem as transitional ecosystem between terrestrial and marine ecosystem, had specific characters. This condition caused the mangrove forest ecosystem which are fragile to the external factors (Alikodra, 1995).
Reviewed from social-economic perspective, mangrove forest as a place for searching the shrimps and fish is a basis for the livelihood of local fishermen. Furthermore, mangrove wood can be used as construction material, firewood, and raw material for other industry. There is a declining process on the size of mangrove forest ecosystem in Indonesia into ± 2.496 million hectare (Dahuri et. al. 1996). One of those ecosystems located in Segara Anakan with the lagoon size of + 29.400 hectare in 1970, in Cilacap sub-province of Central of Java, is the biggest mangrove area in Java Island. The mangrove forest in Segara Anakan had an important role, it functioned as a biotic habitat that gave benefit as a source of fisheries activities. But if we compared between mangrove ecosystem and marine ecosystem, the concentration of phytoplankton in this ecosystem seemed smaller than the marine. Barnes (1974) said that the leaves of mangroves could subsidize function of phytoplankton.
The data showed that there were changing and declining of mangrove forest condition at Segara Anakan. The change started from ± 29.400 hectare in 1970 to ± 7.928,3 hectare in 1985. The change occurred also in aquatic environment or lagoon of Segara Anakan from ± 4.580 in 1970 to ± 1.643,3 hectare in 1985.
Those changing and declining processes of mangrove forest and aquatic area will influence the biota life. These things will cause the decreasing of fish production of traditional fishermen. In the long term, this condition will influence also the social-economic condition and social-cultural, especially the livelihood of the fishermen.
The intention of this study was to collect empirical data and facts to test the hypotheses. Those hypotheses are focused on the testing on correlation between:
1. The changing of mangrove forest (X1) and the lagoon area (X2) in Segara Anakan, with level of shrimp and fish production (Y1); and with pattern of fisherman occupation (Y2)';
2. The changing of mangrove forest (X1) and the lagoon area in Segara Anakan (X2), with the pattern of the changing of mangrove forest (X1) and the lagoon area in Segara Anakan (X2) with average income level (X3), with the changing of fishermen occupation within research area (Y4). The research sites are the villages in Segara Anakan and its surrounding area totally, and also each villages in research area.
The expectation of this study is to give an input for decision making within related institution. The inputs are: the existing condition of mangrove forest and the lagoon size of aquatic area of Segara Anakan related with its management and conservation, and also the change of fishermen occupation in Segara Anakan.
The research sites located in mangrove forest of Segara Anakan, Sub-province of Cilacap, Central of Java. The research objects are 7 villages within 5 districts in this sub-province.
The data collecting process in this research used few methods such as library study, site field observation. Field observation methods used few techniques such as interview, questionnaire distribution to respondents, and observation on the condition and fishermen activities. The time series data and facts can be used to know the emerging phenomena, which used for the inputs related to the studied variable.
The populations in research area are all fishermen in who lived more than five years near the mangrove forest. Respondents are selected through purposive random sampling technique. The respondents were heads of fishermen family, which lived near the mangrove forest. They catch fish and shrimps, and the age older than 20 years old. The selection of 7 villages from 5 districts as research areas conducted in simple random based on the information that told those villages relate directly with mangrove forest in Segara Anakan. With this sample gathering technique, the collected respondents were 140 respondents from seven villages.
Data analysis conducted through qualitative and quantitative methods, the hypotheses testing used the double correlation and double linear regression and also quadratic regression. These analyses supported by SPSS for Windows computer program.
The research results are:
1. There was positive and significant correlation between, both the change condition of mangrove forest (X1) and the lagoon size of Segara Anakan (X2) with the level of shrimps and fishes production. The correlation (Yl) showed as (r=0,736). The closeness correlation between variables X1; X2 - Y1 shown in determinant coefficient (r2) as big as 0.541.
2. The correlation between shrimps and fishes production Xl{3} and average income level of the fishermen showed positive and less significant correlation (Y3 ) (r=0.435). The closeness correlation between variables X1{31-Y3 reflected through coefficient determinant (r2) as big as 0.189.
3. Generally for Segara Anakan area, there were positive and significant correlation between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) with, the pattern fishermen occupation (Y2) (r between 0.899-0.977). The closeness relationship between X1, X2 - Y2 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.807-0.955. There was positive and significant correlation specifically, between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) with, the pattern fishermen occupation in each village (Y2) (r = between 0.818-0.986). The closeness relationship between X1, X2 - Y2 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.669-0.973, except happened in Kaliwungu village. In this village, the fishpond workers have a positive and less significant correlation (r=0.505). The closeness relationship among variables X1, X2 - Y2 showed that the coefficient determinant (r2) as big as 0.255. There was positive and significant correlation specifically, between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) with, the pattern villagers occupation in the village inside Segara Anakan area (Y2) (r = between 0.931 - 0.989). The closeness relationship between X1, X2 - Y2 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.867 - 0.979. There was positive and significant correlation specifically, between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) with, the pattern villagers occupation in the village outside Segara Anakan area (Y2) (r = between 0.951 - 0.991). The closeness relationship between X1, X2 - Y2 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.905 .-0.982.
4. Totally, there were positive and significant correlation between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) and average income level of fishermen (X3) with, the pattern fishermen occupation in research area (Y4) (r = 0,978). The closeness relationship between X1, X2, X3 - Y4 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.957.
There was positive and significant correlation specifically, between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) and the average income level of fishermen with the occupational pattern of fishermen in the villages within Segara Anakan lagoon (Y4) (r = between 0.985). The closeness relationship between X1, X2, X3 - Y4 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.970.
There was positive and significant correlation specifically, between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) and average income level with, the pattern villagers occupation in the village outside Segara Anakan area (Y4) (r = 0.952). The closeness relationship between X1, X2, X3 - Y3 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.907. There was also positive and significant correlation specifically, between changing condition of mangrove forest (X1) and lagoon size of Segara Anakan (X2) and average income level (X3) with, the pattern villagers occupation in the village within research area (Y4) (r = between 0.920 - 0.974). The closeness relationship between X1, X2, X3 - Y4 showed by coefficient determinant (r2) as big as 0.847 - 0.949
Based on those above hypotheses testing, it showed that those variables were positively correlated and dominantly significant. Beside the variables of condition of mangrove forest and the size of the lagoon of Segara Anakan that influenced the the other studied above variables, it is realized that there still lot of other variables which should be studied in the future. A thorough study that will help related institution or offices in decision making.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yani Krishnamurti
"ABSTRACT
The national park concept allows the utilization of conservation areas for tourism purposes. Without proper management, this could create conflict between objectives, where the utilization objectives may, very often, produce negative impact for other objectives. Tourism infra-structure development, especially the establishment of a footpath and other supporting facilities can cause both direct and indirect change on vegetation community and soil. A footpath and all activities that go with it constitute a potential disturbance regime because it became the entry point for propagules alien Species from ecosystems outside the conservation zone. The main issues being studied are : 1. How does the footpath affect the understory vegetation in a forest located in the Gede-Pangrango Mountain National Park; 2. What factors are influential on the widening of the footpath in Gede-Pangrango Mountain National Park; 3. How does the occurrence of footpath influence the soil in the forest along it length in the Gede-Pangrango Mountain National Park. The objective of this study is to know the impact of a footpath on the soil and understory vegetation as well as factors influencing the widening of the footpath.

ABSTRAK
Konsepsi taman nasional memperkenankan adanya pemanfaatan kawasan konservasi untuk kaperluan pariwisata. Tanpa pengelolaan yang baik, hal ini dapat menimbulkan konflik antar tujuan dimana seringkali tujuan pemanfaatan dapat nwmberikan dampak negatif bagi tujuan yang lainnya. Pembangunan prasarana pariwisata terutama pembangunan jalan setapak dan fasilitas pendukung lainnya dapat menyebabkan perubahan secara langsung maupun tidak langsung terhadap komunitas vegetasi dan tanah. Jalan setapak dengan segala aktivitas di dalamnya merupakan sumber gangguan yang potensial karena menjadi jalan masuknya benih dari ekosistem di luar kawasan konservasi. Masalah pokok yang diteliti adalah: 1. Apakah jalan setapak mempengaruhi vegetasi tumbuhan bawah di hutan yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango; 2. Faktor-faktor apakah yang berpengaruh terhadap lebar jalan setapak di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango; 3. Apakah jalan setapak mempengaruhi tanah di hutan sepanjang jalan setapak di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jalan setapak terhadap tanah dan vegetasi tumbuhan bawah serta faktor faktor yang berpengaruh terhadap lebar jalan setapak."
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kristina Moi Nono
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T4949
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Utami Andayani
"Sungai sejak bertahun-tahun Iamanya telah menjadi tempat penampungan berbagai bahan buangan, yang paling berbahaya adalah bahan buangan anorganik, karena umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila limbah ini dapat masuk ke dalam perairan, maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam dalam air. Air yang mengandung ion-ion logam tersebut sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan tidak dapat dimanfaatkan bagi peruntukan apapun, termasuk air rninum.
Sayuran merupakan salah satu bahan pangan yang relatif murah dan dikonsumsi secara Iuas. Dari beragam jenis sayuran yang dijual di wilayah DKI Jakarta, di antaranya berasal dari bantaran sungai yang telah tercemar. Kangkung merupakan tanaman sayur yang cukup banyak diminati masyarakat yang berdomisili di Jakarta Pusat, karena memiliki rata-rata produksi yang tinggi dibandingkan dengan komoditi sayur lain seperti bayam dan sawi. Sempadan Sungai Ciliwung bagian hilir di Kelurahan Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang sering digunakan sebagai kawasan sungai untuk menanam kangkung dan daerah tersebut memiliki jumlah penduduk sangat padat.
Permasalahan mengenai lingkungan semakin terasa seiring dengan dirubahnya kawasan hutan lindung menjadi kawasan permukiman dan persawahan atau penyedia pangan lainnya. Permasalahan akan menjadi lebih kompleks dengan terjadinya pencemaran air oleh limbah domestik maupun industri.
Masalah dalam penelitian ini dirumuskan melalui pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana kandungan timbal dalam kangkung di sempadan Sungai Ciliwung; dan bagaimana faktor sosial ekonomi petani penggarap mempengaruhi pengelolaan sayur kangkung di sempadan Sungai Ciliwung.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan timbal (Pb) pada daun kangkung yang ditanam di sempadan Sungai Ciliwung, sebagai dampak penggunaannya menjadi lahan pertanian dan faktor sosial ekonomi petani penggarap. Hasi1 penelitian diharapkan berguna bagi petani penggarap, pedagang, dan konsumen sayur untuk memperoleh informasi mengenai umur tanaman yang dapat dipanen dan jarak lokasi tanaman kangkung dari tepi sungai yang paling sedikit mengandung timbal. Selain itu, bagi Pemerintah Daerah DKI Jakarta, khususnya Suku Dinas Pertanian Jakarta Pusat, dapat menggunakan informasi ini untuk mengelola kawasan tersebut.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah kandungan timbal tertinggi dalam daun kangkung yang ditanam pada jarak terdekat dari sempadan sungai dan makin tua umur tanaman kangkung, makin tinggi kandungan timbal.
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dan survei deskriptif. Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetahui kandungan timbal dalam daun kangkung dan penelitian survei deskriptif untuk mengetahui kondisi sosial dan ekonomi petani penggarap tanaman kangkung.
Penelitian dilakukan di lokasi pertanian kangkung di kawasan sempadan Sungai Ciliwung bagian hilir yang secara administratif termasuk Kelurahan Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dilaksanakan selama tiga bulan, dari bulan Mei sampai Juli 2001 yang meliputi survei pendahuluan selama satu bulan, kegiatan penanaman dan pengambilan contoh selama satu bulan, dan analisis di laboratorium selama satu bulan.
Parameter yang diukur dalam penelitian eksperimen adalah kandungan timbal dalam daun kangkung. Tanaman kangkung yang dicabut untuk diukur kandungan timbal pada daun, adalah tanaman kangkung umur 7, 17 dan 25 had setelah tanam kemudian ditanam pada lokasi' berjarak 10 meter, 20 meter dan 30 meter dari tepi sungai. Sedangkan untuk pengambilan data sosial ekonomi dilakukan secara purposive dan berdasarkan kesediaan menjadi responden, sehingga hanya dilakukan pada lima (5) orang petani penggarap yang melakukan usahatani kangkung di sempadan sungai.
Jenis data yang dikumpulkan ada dua jenis, yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan berpedoman pada suatu daftar pertanyaan (kuesioner) dan juga dilakukan pengamatan langsung (observasi) untuk melengkapi data primer. Analisis data yang digunakan adalah analisis secara kualitatif dan kuantitatif.
Setelah dilakukan analisis contoh di laboratorium, maka dilakukan uji statistik terhadap data yang diperoleh untuk mengukur perbedaan tingkat kandungan timbal yang berasal dari ketiga petak yang berbeda jarak lokasi dan umur tanaman dengan menggunakan ANOVA dari program Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 10.00.
Petani penggarap yang menjadi responden umumnya tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta dan berasal dari sekitar Bogor. Umur rata-rata responden adalah 40 tahun, dengan kisaran antara 30 sampai 60 tahun dan memiliki tingkat pendidikan umumnya tamat Sekolah Dasar. Alasan responden melakukan usahanya di kawasan sempadan sungai, karena tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam dan tidak memiliki pekerjaan lain, yang sesuai. Sebagian responden tidak memiliki pekerjaan tambahan, namun ada juga yang mempunyai pekerjaan sambilan sebagai pedagang atau buruh.
Responden lebih memilih menanam kangkung karena panen lebih sering berhasil dibandingkan dengan menanam jenis sayuran lain, selain itu panen juga relatif pendek, hanya 25 hari. Komoditi kangkung paling mudah terjual dan dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Pendapatan yang diperoleh responden dari sekali panen, besarnya mencapai Rp 300.000,- sampai Rp 350.000,- dengan masa panen antara 25 sampai 27 hari.
Kandungan timbal dalam daun kangkung berumur 7 hari tidak diperhitungkan, karena jumlahnya sangat kecil yaitu < 0,2 ppm. Untuk kandungan timbal dalam daun kangkung yang berumur 17 hari setelah tanam (2,33 ppm) dengan daun kangkung yang berumur 25 had, setelah tanam (2,58 ppm) pada jarak tanam 10 meter dari tepi sungai menunjukkan adanya perbedaan yang berarti. Namun, tidak demikian halnya untuk kangkung berumur 17 hari setelah tanam (1,5 ppm) dengan kangkung berumur 25 hari setelah tanam pada jarak tanam 20 meter dari tepi sungai (0,93 ppm) dimana tidak ditemukan perbedaan yang cukup signifikan. Untuk kadar Pb antara kangkung berumur 17 hari setelah tanam (0,93 ppm) dengan kangkung berumur 25 hari setelah tanam (1,55 ppm) pada jarak 30 meter dari tepi sungai juga ditemukan tidak adanya perbedaan. Berard dapat disimpulkan, hanya untuk jarak 10 meter dari sempadan sungai, makin tua umur tanaman kangkung makin tinggi kandungan timbalnya.
Mengenai kadar Pb antara kangkung yang ditanam pada jarak 10 meter (2,33 ppm), 20meter (1,2 ppm) dan 30 meter (0,93 ppm) dari tepi sungai pada umur 17 hari setelah tanam terdapat adanya perbedaan. Demikian juga dengan kadar Pb pada umur 25 hari setelah tanam, untuk jarak 10 meter (2,58 ppm), 20 meter (0,93 ppm) dan 30 meter (1,55 ppm) ditemukan adanya perbedaan. Berarti dapat disimpulkan bahwa kandungan timbal tertinggi dimiliki oleh daun kangkung yang memiliki jarak terdekat dari sempadan sungai.

For years river has been the reservoir of various kinds of waste, the most dangerous ones being non-organic materials that generally comprise non-decomposable Matters that are not easily degraded by microorganism. If such waste is allowed to enter waterways, it will increase the level of lead ions in the water, Water containing lead ions is highly dangerous for human body and cannot be utilised for whatever purposes, including for drinking water.
Vegetables are relatively inexpensive food stuff that are widely consumed. Some of the various types of vegetables popularly sold within the DKI Jakarta region, originate from polluted riversides. Kangkung (ipomoea reptans Poir) is a popular vegetable plant among the population of Central Jakarta as it has an average high production compared with other vegetable commodities such as local spinach (bayam) and mustard greens (saws). The downstream riverside areas of Ciliwung at the Kelurahan (town council) of Kebon Kacang, Kecamatan (sub-district administration) of Tanah Abang, are often used for kangkung farmland. This area is also densely populated.
Environmental problems are increasingly felt along with the changing of conservation forest zones into residential areas and rice fields or other food supply areas. Problems will complicate further with the water pollution caused by domestic and industrial wastes.
The problems covered in this research is defined into the following questions: How far is the impact of the lead content in kangkung planted by the riversides of Ciliwung; and how do the social-economic factors of the kangkung farm labours affect the production process of kangkung by the riversides of Ciliwung?
The objectives of this research are to find out the lead (Pb) content in kangkung leafs planted by the riversides of Ciliwung, as the impact of the use of the area as farmland, and the social-economic factors of the farm labours. The finding of this research is expected to render benefits for vegetable working farmer, traders and consumers by providing information on the harvesting age of the plant and the ideal distance for kangkung plant from the riverside with the minimum lead content. Furthermore, the information gathered in this research may also be made use of by the Municipal Government of DKI Jakarta, especially the Agricultural Sub Bureau of the Central Jakarta in managing the riverside areas.
The hypothesis of this research is that the highest lead content level is found in kangkung leafs planted at the closest distance from the riversides, and the older the age of the kangkung plant is, the higher is the lead content level.
The methods used in this research were by experimental study and by descriptive survey. Experimental study was conducted to find out the lead content in kangkung leaf, whereas the descriptive survey was applied to find out the social-economic condition of kangkung farm labours.
This research was performed at the location of kangkung farmland in the downstream area of Ciliwung riversides administratively belonging to the Kelurahan of Kebon Kacang, Kecamatan of Tanah Abang, Central Jakarta. The research lasted three months, from May up to July 2001, comprising one month preliminary survey, one month planting and sampling, and one month laboratory analysis.
The measuring parameter used in this experimental research was the lead content level in kangkung leaf. Kangkung plant picked for the measuring of lead content in the leafs comprising those of 7, 17 and 25 days old after planting, that were planted at the location of 10, 20 and 30 meters distance from the riverside. The social-economic data collection was performed by purposive method and was based on the willingness of the respondents. As such, it was only taken from 5 farm labours who lived by planting kangkung by the riversides.
There were two types of data collected, namely: primary data and secondary data. Primary data were collected through interviews using questionnaires as a guideline, and through direct observation in completing the primary data. Data analysis was made using qualitative and quantitative methods. After laboratory analysis was completed, statistic test was made on the obtained data in order to measure the different levels of lead content originating from three planting patches of different distances from the riverside, with different plant ages, using ANOVA method of version 10.00 of Statistical Product and Service Solutions (SPSS) program.
Farm labours among the respondents generally did not have any DKI Jakarta citizen identity card, and most of them came from Bogor. The average age of the respondents were 40 years, ranging from 30 to 60 years old, having a general educational level of finishing elementary school. The reason of the respondents for farming by the riverside was that they did not have any land for farming and they did not have any other suitable work alternatives. Part of the respondents did not have any other additional work, however some did have sideline work as traders or labourers.
The respondents preferred planting kangkung as the harvest was more often successful compared with other vegetable crops, and the harvest took relatively shorter period of only 25 days. Kangkung as commodity sells best and is consumed by all levels of people. The respondents' income from one harvesting amounted to Rp. 300,000,- up to Rp. 350,000,- with harvesting period ranging from 25 to 27 days.
The lead content in kangkung leaf of 7 days old was not included in this research, since the level is relatively small being only <0.2 ppm. Significant difference was found in the lead content of kangkung leafs of 17 days old after planting (2.33 ppm) and those of 25 days old after planting (2.58 ppm), planted at a location of 10 meters from the riverside. However, there was no significant difference found in kangkung leafs of 17 days old after planting (1.5 ppm) and those of 25 days old after planting (0.93 ppm) planted on a location of 20 meters from the riverside. No difference was found in the Pb levels in kangkung leaf of 17 days old after planting (0.93 ppm) and in those of 25 days old after planting on a location of 30 meters from the riverside. Therefore, it may be concluded that with the planting location of only 10 meters from the riverside, the older the kangkung planting age is, the higher is the lead content level.
There are differences in the Pb levels between kangkung being planted on a location of 10 meters from the riverside (2.33 ppm), and those planted on a location of 20 meters from the riverside (1.5 ppm), and those on a location of 30 meters from the riverside (0.93 ppm) of 17 days old from planting. Similarly with the Pb levels of the plant at the age of 25 days after planting for planting locations of 10 meters (2.58 ppm), 20 meters (0.93 ppm) and 30 meters (1.55 ppm) from the riverside. It may be concluded that the highest lead content level is found in kangkung leaf planted at a closest distance from the riverside.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2002
T555
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Sumekar
"Hutan mangrove didefinisikan sebagai tipe hutan dengan kekhasannya, pada umumnya tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai dan hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis dan/atau subtropis. Lingkungan tempat tumbuh vegetasi mangrove dipengaruhi oleh pasang surut air laut, salinitas, topografi dan sifat fisika kimia tanah.
Pada tahun 80 an kawasan mangrove di Kabupaten Bangkalan mengalami alihfungsi yang berlebihan. Kegiatan alih fungsi tersebut pada akhirnya mengakibatkan dampak yang cukup serius terhadap siklus kehidupan laut dan berpengaruh pula pada ekosistem darat. Dampak yang sangat terasa adalah terjadinya abrasi, hilangnya beberapa jenis biota pantai dan adanya intrusi air laut serta berkurangnya penghasilan nelayan tradisional.
Untuk menanggulangi kerusakan dan punahnya kawasan mangrove di Kato. Bangkalan, khususnya di pantai Desa Tengket dan Kool, maka Pemerintah Daerah telah melakukan program reboisasi dan rehabilitasi. Pelaksanaan penghijauan yang di mulai sejak tahun 1987, dan dalam kurun waktu 10 tahun keberhasilan di Desa Tengket cukup tinggi, artinya vegetasi jenis R.mucronata dan A.marina dapat tumbuh dengan subur. Sebaliknya di Desa Kool untuk jenis R.mucronata tumbuh kerdil, sedangkan A.marina tidak tumbuh.
Perbedaan keberhasilan ini di duga disebabkan oleh perbedaan kualitas substrat pendukung pertumbuhan vegetasi di kedua desa tersebut. Jika dugaan ini benar, maka hal ini merupakan masalah penelitian yang menarik untuk di teliti.
Dengan mengacu pada hasil penelitian Hardjowigeno (1989) dan Aksornkoae (1993), yang disebut dengan substrat pendukung adalah (1) Kualitas sifat fisik kimia tanah, tekstur dan warna tanah, kandungan C organik tanah dan mineral-mineral lain yang diperlukan untuk pertumbuhan (N, Ca, P, K, Mg dan S); (2) Salinitas dan pH tanah; (3) Lama penggenangan yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetasi mangrove dengan sistem zonasi yang ada. Untuk selanjutnya penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi penentu kebijakan pada instansi terkait dalam pengambilan keputusan untuk kelancaran dan keberhasilan program penghijauan kawasan hutan mangrove, dengan menekan kegagalan serendah mungkin.
Di kawasan penelitian Desa Tengket diperoteh hasil bahwa: tekstur tanahnya halus dengan warna tanah abu-abu kehitaman. Kandungan bahan C organik, Nitrogen dan bahan mineral Ca, K, P, Mg, dan S yang dibutuhkan vegetasi untuk pertumbuhan tergolong pada kategori sedang sampai tinggi (3 - 5%), sehingga mendukung pertumbuhan kedua jenis vegetasi yang ada.
Salinitas tanah di bawah tegakan R.mucronata dan A.marina adalah 2,1 %o pada saat pasang surut dengan pH 5,1, dan 9,2%o pada saat pasang naik, pHnya mencapai 6,1. Salinitas dan pH yang ada, mendukung pertumbuhan kedua jenis vegetasi tersebut di atas.
Sebaliknya kondisi kawasan penelitian Desa Kool dari hasil uji laboratorium menghasilkan bahwa: tekstur tanahnya adalah kasar dengan kandungan kalsium cukup tinggi, dan warna tanahnya adalah cokiat kemerahan. Kandungan bahan C organik, Nitrogen kurang dari 1%, dan bahan mineral K, P, Mg, dan S berkisar antara rendah sampai sangat rendah (0,2 - <0,1%). Salinitasnya mencapai 1- 1,1%o pada saat pasang surut, dan 7,2 °Ion pada saat pasang naik. Pada kawasan ini, baik tekstur, sifat fisik kimia tanah, salinitas dan pH tidak mendukung pertumbuhan vegetasi R.mucronata dan A.marina.
Topografi tanah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetasi mangrove. Pada pantai Desa Kool yang mempunyai kemiringan sejajar permukaan taut terjadi kecenderungan pada saat pasang naik, airnya dapat jauh mencapai daratan, dengan kecepatan surutnya cukup tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan lama penggenangan atau frekuensi genangannya juga berlangsung cepat. Kemiringan pantai Desa Tengket berkisar ? 1°, sehingga proses penggenangan air laut pada saat pasang naik terjadi cukup lama.
Dengan kondisi substrat pendukung yang telah disebutkan di atas, maka kerapatan vegetasi yang tumbuh di kawasan pantai Desa Tengket mencapai 3228 tegakanJha. Sebaliknye vegetasi yang tumbuh di kawasan penelitian Desa Kool berkisar 911 tegakan/ha.
E. Daftar Kepustakaan : 45 ( 1928 - 1999).

Influence of the Substrate Support to the Mangrove Vegetation Growth (A Case Study : Coastal Forest in Tengket and Kool Villages, Bangkalan District, Madura- East Java)Forest of the mangrove categorized as a typical forest with its uniqueness, generally grows at the coastal or at the estuary, and only able to grow in the tropical and or sub-tropical climate area. The place of the mangrove forest vegetation influenced by tidal, salinity, topography and physical and chemical properties of the soil it self.
As it could be found at other places in Indonesia, mangrove area in Bangkalan district has been extreemly changed. At last, that activity leads to a serious impact to the ecosystem of marinaI and terrestrial. Abrasion, loss of several coastal biotic species, seawater intrusion and finally revenue decrease of the traditional fishermen are impact of the mangrove deforesting area.
To avoid deterioration loss of that mangrove area, Regional Government organize Reboisation programme and Rehabilitation of the mangrove area surrounding northern coastal of Tengket and Kool villages. Rehabilitation programme has been performed for 10 years, starting in 1987, resulting difference yield from that two above villages.
Vegetations of R mucronafa and A marina grows well in Tengket village, while in Kool village, vegetation of R mucronata grows bad even A marina can not be grew at all.
This difference might be caused by the quality different of the substrate support of the vegetation on that two villages. Should this suggestion correct, it would be interesting resesarch to be realized.
Rfer to the result of Hardjowigeno (1989) and Aksornkoeae (1993) research the meaning of the supporting substrate is (1) Quality of the soil, chemicaly and phisically, textures and the colour, C organic content, and other minerals required for vegetation, i,e, N, Ca, P, K, Mg and S; (2) Salinity and pH of the soil; (3) Duration time of inundation caused by tidal.
The purpose of this research is to find such factors influencing the growth of mangrove vegetation with existing zonation. Furthermore this research result can be used as an input to the policy maker in the related institution to take a decision for the successfull of the reboisation programme of mangrove forest area by minimizing failness.
Research are of Tengket village resulting that its soil textures was smooth ,colouring greys to blackish. C Organic contents, Nitrogen and other ninerals such as Ca, K, P, Mg and S required for vegetation categorized as enough up to high (3 - 5%), so supporting both vegetation.
Soil salinity and its pH influence vegetation grow living on top off it. Rhizophora mucronata grows well at salinity between 2,1%o at pH 6,1 while salinity soil for Avicennia marina higher than 9,2 %o at pH 6,5 (inundation) and 5,5 (dry). Rhizophora mucronata grows well at high salinity, while Avicennia marina grows at fluctuated salinity.
But research are of Kool village resulting that its soil textures was sandy with high calsium content, soil colouring is brown to radish. C Organic contents, Nitrogen for less than 1% and other ninerals such as K, P, Mg and S required for vegetation categorized as between low up to very low (0,2 - < 0,1%). Soil salinity in Kool village 1-1,1%o and pH 7,6 (dry condition) and salinity reach 7,2%o and pH 8,8 if inundation take place. Support substrate in Kool village not support R.mucronata and A.marlna to grow well.
Based on the laboratory analysis, conclusion could be taken thar Rhizophora mucronata species used in the reboisation programme at Tengket village coastal are agreewith kind of soils and its textures and other conditionrequired for growing. Hence Rhizophora mucronata vegetation can be grow well, and become 15 - 20 meters high within 10 years. For the Kool village control area, reboisation with Rhizophora mucronata could not grow well, since texture and its kind of soil on that area were corally with thin layer mud. With the same reboisation duration, the vegetation only reach 1 - 1,5 meter high. Due to the kind of soil in Kool village only Rhizophora stylosa vegetation could be grew well.
Based on condition of the supporting substrate as described above, density of the vegetation growth on the shore of Tengket village reaching 3228 vegetation / ha. On the contrary, vegetation growths on the shore of Kool village reach about 911 vegetation/ha.
E. Bibliography: 45 (1928 - 1999)
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2002
T8199
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pambudi Mahanto
"Pengelolaan Hutan Jati Optimal (PHJO) merupakan suatu bentuk pengelolaan hutan yang secara teknis disebut "management region " diperkirakan dapat mengatasi masalah-masalah sosial ekonomi yang sekaligus tetap dapat memenuhi tujuan pengelolaan lestari dan sumber-sumber daya hutan. Pengelolaan hutan jati optimal di BIKPH Tangen KPH Surakarta Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah yang menjadi fokus penelitian tesis dengan demikian merupakan uji coba yang apabila dimulai berhasil dapat diterapkan ditempat-tempat lain yang juga menghadapi masalah-masalah sosial ekonomi serupa.
Dipicu oleh pertambahan penduduk yang tidak terkendali, kelebihan penduduk telah menurunkan taraf kesejahteraan mereka yang pada dasarnya hidup dari bertani sangat tergantung dari ketersediaannya tanah-tanah pertanian. Menurunnya alokasi tanah pertanian bagi rata-rata penduduk di tambah dengan langkanya kesempatan kerja dan kesempatan berusaha di desa-desa mengakibatkan tingkat kesejahteraan mereka merosot, sehingga mereka menghadapi kehidupan miskin. Disebabkan sulitnya menemukan jalan keuar mengatasi kesengsaraan itu, penduduk merambah tanah-tanah hutan di dekat pemukimannya mencari apa saja yang dapat dimanfaatkannya, melepas ternak-ternaknya di lahan-lahan hutan Perum Perhutani, mengambil pakan ternak, merencek, menebang kayu yang ditemui, bertani liar bahkan acapkali juga membangun runah-rumah baru yang kesemuanya itu merupakan perbuatan tidak syah/ melawan hukum?

Teak Forest Optimal Management (TFOM) is an implementation of the technically signified as management regime intended as remedial effort to the existing social economic problems in today forest management, concurrently to maintain and continuing the sustainable teak forest management. The TFOM of BKPH Tangen came the focus of this thesis research is a trial endeavor which as it is succeeded should be further enforced in other places where similar social economic problems are encountered.
Triggered by uncontrolled population growth, excess of peoples in rural areas demotes their economy, where in general they live from farming which largely depend upon the availability of agricultural lands. Due to reducing allocations of average agricultural land per capita plus their situation of veer scarce living opportunities in rural areas, the economy of the people arc demoted to turn into proverty Very hard opportunities to find solution for their living, the peoples encroach forest lands to look after whatever they found for their living. Herding their livestock, looking for rattle feed, chopping woods for firewood, cutting any available woods, savage farming even building temporary houses, are all illegal against the law?
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>