Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ajeng Nova Safitri
"ABSTRAK
Wanita Afrika-Amerika berjuang melawan diskriminasi dan telah dirugikan karena bahaya dari persimpangan gender dan ras. Namun, representasi mereka di media, terutama film, telah meningkat. Melalui film Hidden Figures (2016), penelitian ini menelaah representasi perempuan Afrika-Amerika dalam masyarakat yang didominasi kulit putih dengan menggunakan tekstual analisis. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan kulit putih dan perempuan kulit hitam berjuang dengan masalah mereka sendiri untuk mendapatkan pengakuan dari kaum mayoritas, yaitu laki-laki kulit putih. Selain itu, penelitian ini membahas bagaimana karakter laki-laki berkulit hitam juga berperan dalam dekonstruksi representasi ketiga pemeran utama wanitanya. Terlepas dari usaha film ini untuk menyajikan representasi wanita kulit hitam yang tidak seperti pada umumnya, pada akhirnya film ini menunjukkan bahwa beberapa representasi mereka ternyata tetap dibatasi dan dikendalikan.

ABSTRACT
African-American women fought oppression and have been at disadvantages due to the double jeopardy of the intersection of gender and race. Their representation in the popular mass media, especially movies, has increased. Through the movie Hidden Figures (2016), this research attempts to examine how the representation of African-American women in the white dominated society is being presented by using textual analysis. It shows that both white women and the Black women are struggling with their own issues to get an acknowledgement from the majority, the white male. Moreover, the deconstruction of the usual Black women representations are somehow negated by the Black male characters. Despite the fact that these characters do not conform to the mainstream Black womens stereotype, some of their representations are still being constrained and being controlled."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Rr. Fitri Arini
"Sebagai tempat dimana banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda berkumpul bersama, Universitas Indonesia memiliki banyak variasi strategi kesantunan berbahasa dalam percakapan mahasiswanya. Variasi tersebut dapat dilihat dari faktor-faktor penentu pemilihan strategi kesantunan berbahasa para mahasiswa. Jurnal ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, gambaran fenomena kesantunan berbahasa akan dianalisis berdasarkan dua teori dari Brown Levinson (1987) dan Grice (1975). Kedua, alasan mengapa mahasiswa memilih suatu strategi tertentu dibanding yang lain juga akan dianalisis berdasarkan gender, umur, kedekatan, latar belakang budaya, dan topik percakapan. Dengan menggunakan dua teori tersebut, jurnal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang paling menentukan mahasiswa UI Program Studi Inggris 2009 dalam memilih strategi kesantunan berbahasa adalah kedekatan dan gender.

As a place where many students from different background and culture gather together, Universitas Indonesia has many variations of politeness strategies among the student talk. This variation can be seen from factors that determine students' choice of strategy. There are two major points that this paper attempts to make. First, the description of politeness phenomenon in conversations among students is investigated based on two theories from Brown Levinson (1987) and Grice (1975). Second, the reason why students choose one particular strategy instead of others also has to be investigated through gender, age, intimacy, cultural background, and the topic of the conversation. Using those two theories, this paper shows factors which mostly determine UI students of English Studies 2009 in choosing their politeness strategies which are intimacy and gender.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Vina Fabiola
"Pembahasan ini difokuskan pada persepsi seorang wanita dari Amerika, Elizabeth Gilbert, terhadap negara tujuannya: Italia (West), India dan Indonesia (East) dalam pencarian jati dirinya dalam film Eat Pray Love karya Elizabeth Gilbert yang merupakan kisah nyata penulis novel yang berjudul sama dengan filmnya. Pembahasan ini bertujuan untuk menjawab apakah terdapat oposisi biner dari Timur dan Barat dan mengapa Gilbert menemukan 'jati diri'nya ketika dia berada di Timur, bukan negaranya sendiri, Amerika Serikat. Makalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan teoritis yang berfokus pada teori orientalisme dan oposisi biner dari Timur dan Barat. Dapat disimpulkan bahwa teori Edward Said dibantah dalam film ini, karena dalam Eat Pray Love, Gilbert "meminjam" budaya Barat dari negara Timur untuk menemukan kebahagiaan sendiri, identitas dan kesenangan karena ia tidak dapat menemukannya di negaranya sendiri.

This paper finds that there are particularities that show the binary opposition of the East and West, and questions why Elizabeth Gilbert, who went to a yearlong journey to Italy (West), India and Bali (East), in search for her identity, inner peace, pleasure, and a balance between outward and worldly happiness after her depressing divorce, finds her ‘true self’ when she went abroad to the East, instead of her own country, the U.S. According to Edward Said’s Orientalism, Orientalist discourses built on binary oppositions contrasting the ‘typical’ features of East and West, dichotomies that were unequal in praising the West as more ‘progressive’ while viewing the Orient as static, non-progressive, or even backward. This paper, grounded in qualitative and theoretical research on orientalism and the binary opposition of East and West in the movie, concludes that the theory of Said was rebutted in this film that in Eat Pray Love, Gilbert “borrow” the culture of the East countries to find her own happiness, identity and pleasure because she cannot find it in her own country.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Vina Yulita
"Makalah ini berfokus pada representasi gender dalam iklan, terutama iklan cetak. Secara khusus, cara pria dan wanita yang digambarkan dalam tiga dari beberapa edisi "Do the Don'ts" iklan Juicy Couture yang diluncurkan pada tahun 2009 dianalisis dalam makalah ini. Bagaimana iklan tersebut menampilkan pria dan wanita untuk menciptakan makna tertentu yang terkait dengan laki-laki dan perempuan dieksplorasi dan diteliti dalam penelitian ini. Penggambaran model, slogan, dan warna digunakan untuk mewakili penggambaran iklan tersebut untuk mencari dan mengetahui pesan tersembunyi yang dibawah oleh iklan untuk mendekonstruksi stereotip gender yang ada dalam masyarakat. Iklan-iklan tersebut mengungkapkan bahwa stereotip gender tidak kaku. Makalah ini menyimpulkan bahwa edisi "Do the Don'ts" iklan Juicy Couture tampaknya menampilkan atau menekankan bahwa saat ini stereotip gender untuk laki-laki dan dan perempuan bahkan dapat saling dipertukarkan.

This paper focuses on gender representations in advertisements, particularly in printed ads. Specifically, the way male and female are portrayed in three of some “Do the Don’ts” edition of Juicy Couture ads, which were launched in 2009, are analyzed in this paper. How these ads represent male and female to create particular meanings associated with men and women are explored and examined in this study. The portrayal of the models, taglines, and colors are used to examine the depictions of these ads to find out the hidden messages brought by the ads. By using Goffman’s theory of gender advertisements, I found out that the messages brought by the ads deconstruct gender-stereotypes that exist in society. They reveal that gender-stereotypes are not rigid. This paper concludes that “Do the Don’ts” edition of Juicy Couture ads seem to show or emphasize that now gender stereotypes for men and women are even interchangeable.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Angga Nugraha
"Makalah berisi tentang analisis eksistensi Piscinine (Pi) Molitor Patel, karakter utama cerita Life of Pi (2012) karya Yann Martel. Dalam eksistensialisme, makalah ini menelusuri eksistensi Pi lewat rasa takut, cemas dan harapan bersamaan dengan perjalanan mental dan spiritual. Kombinasi elemen-elemen tersebut akan membentuk esensi Pi. Makalah ini berfokus pada perubahan aksi dan eksistensi Pi yang nantinya akan membentuk esensi Pi sebagai individual bebas.

This paper is an existential analysis of Piscine (Pi) Molitor Patel, the main character of Yann Martel’s Life of Pi (2012). On the basis of existentialism, this paper explores the existence of Pi through his fear, anxiety and hope with his spiritual and mental journey. The combination of previous elements shapes Pi’s essence. The paper focuses on the changes of Pi’s actions and existence which later shapes his essence as a free individual."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia;, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Arini Dwi Rachmawati
"Film animasi Disney pertama, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) adalah pelopor film animasi Disney yang mengandung gender bias, dimana sang pangeran dan putri sebagai subyek gender bias . Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penggambaran gender para kurcaci dalam film Snow White and the Seven Dwarfs (1937) ditinjau melalui empat dimensi - sifat, perilaku, karakteristik fisik, dan pekerjaan dengan menggunakan metode content analysis. Dugaan sementara, penggambaran gender para kurcaci tidak menunjukkan gender bias. Sebab, mereka tidak digambarkan dalam karakter pangeran atau putri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 204 insiden yang telah diteliti, satu kurcaci digambarkan memiliki lebih banyak sifat maskulin daripada sifat feminin. Sedangkan, enam kurcaci lainnya digambarkan memiliki lebih banyak sifat-sifat feminin daripada sifat maskulin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para kurcaci tidak menunjukkan gender bias. Dengan demikian, karakter para kurcaci lebih menguntungkan bagi anak-anak dalam membantu proses gender knowledge development.

Disney's first full-length animated film, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) is the pioneer of Disney's animated film containing gender biases with the prince and princess as the subjects. This research aims to examine gender portrayals of the dwarfs in the film Snow White and the Seven Dwarfs (1937) through four dimensions traits, behaviors, physical characteristics, and occupations by using content analysis method. Since the dwarfs are not depicted in the prince or princess characters, it is expected that they do not show gender biases.
The results of the research shows that out of 204 incidents coded, one dwarf is found to be depicted as having more masculine traits than the feminine one. In contrast, the other six dwarfs are depicted as having more feminine traits than the masculine ones. The results suggest that the dwarfs do not show gender biases. Thus, they are more beneficial than gender-biased prince and princess characters for children in helping the process of gender knowledge development.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sihotang, Eunike Leon Angela
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Margaret Thatcher dalam film Inggris The Iron Lady (2011) tentang bagaimana dia pertempuran dengan pria lain di partai politiknya untuk mendapatkan kekuasaan dengan menggunakan menyamarkan tersebut maskulinitas. Film ini menekankan masalah yang Thatcher menghadapi itu adalah yang berlaku standar maskulin kepemimpinan yang tidak memungkinkan seorang wanita untuk menjadi perdana menteri.
Makalah ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis film The Iron Lady (2011) dan menggunakan Castle "s teori masquerade perempuan, sebuah istilah untuk menyamarkan maskulinitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua aspek maskulinitas yang Thatcher mengadopsi sebagai politisi perempuan: sifat agresif dan suara maskulin. Ketika Thatcher mengadopsi sifat maskulin menjadi agresif, itu membuat dia dianggap sebagai pemimpin yang kuat oleh masyarakat laki-laki sebagai agresi membawa esensi kekuasaan, dominasi, dan kemandirian. Juga, ketika dia mengadopsi suara maskulin, dia berhasil perintah rasa hormat dari seluruh masyarakat laki-laki dan pemimpin di Partai Konservatif. Kesimpulannya adalah Thatcher memecah stereotip dipaksakan pada perempuan sebagai kaum hawa oleh sesuai dengan identitas maskulin dan menyamarkan dirinya sebagai maskulin agar diterima di politik.

The aim of the research is to analyze Margaret Thatcher in the British movie The Iron Lady (2011) on how she battles with other men in her political party to gain the power by using the disguising masculinity. The movie emphasizes the problem that Thatcher faces that is the prevailing masculine standard of the leadership which does not allow a woman to become a prime minister.
The paper uses qualitative method by analyzing the movie The Iron Lady (2011) and using Castle‟s theory of female masquerade, a term for disguising masculinity.
The results show that there are two aspects of masculinity that Thatcher adopts as a female politician: aggressive trait and masculine voice. When Thatcher adopts the masculine trait of being aggressive, it makes her be perceived as a powerful leader by the male society as aggression brings the essence of power, dominance, and independence. Also, when she adopts the masculine voice, she successfully commands respect from all male society and leaders in Conservative Party. The conclusion is Thatcher breaks down the stereotype imposed upon women as the weaker sex by conforming to the masculine identity and disguising herself as the masculine in order to be accepted in the politics.
"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Kim, Ji Sun
"Esai ini meneliti bahasa internet di Korea terutama mengapa bahasa internet Korea menyebar dengan cepat, beberapa efek pada cyber space dan situasi yang sebenarnya. Pada saat ini, Korea menjadi negara maju yang unggul di bidang IT dan internet. Korea menggunakan internet secara spontan dan mudah untuk bekerja atau hanya hiburan. Secara bertahap, bahasa unik muncul yaitu bahasa internet dan membawa berbagai efek. Efek tersebut menimbulkan dampak besar pada cyber space dan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa internet Korea menyebabkan masalah unifikasi negara, perusakan dan korupsi bahasa standar, dan kebingungan remaja. Selain itu, bahasa internet saat ini membawa fenomena serius yang mengancam situasi tradisional Korea dan budayanya. Karena orang Korea tidak bisa menghentikan perubahan penggunaan bahasa, penulis menyarankan agar orang Korea mencoba untuk mencegah masalah terkait dan berusaha menggunakan bahasa internet sesuai dengan waktu dan tempat.

This essay focuses on internet language matters in Korea which includes what makes the internet language spread fast, and various effects on the cyber space as well as the real situation. As Korea recently became internet powerhouse, Koreans use the internet spontaneously and naturally for work or just enjoyment. As time passed by, the unique languages appeared rapidly and the following effects also occurred disorderedly. The effects make huge impacts on the cyber space and they remain in the real life. The internet languages in Korea cause the country unification problems, destructions and corruptions of standard language, and the confusion of teenagers. In addition, the internet languages nowadays bring serious phenomena which threaten Korean traditional situations and culture. Since Koreans cannot stop the change of language uses, it is suggested that Koreans try to prevent the related problems and make good effort to use the language according to time and space.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Fitriningsih Pratiwi Mahmud
"[ABSTRAK
Studi ini meneliti posisi Suzanne Collins, penulis novel Mockingjay, terhadap Liberalisme dan Komunisme dengan menggunakan pendekatan tematik. Beberapa bukti dalam novel menunjukkan bahwa penulis tampaknya tidak menyukai komunisme maupun liberalisme. Namun, setelah diteliti terdapat bukti yang menunjukkan bahwa penulis lebih menyukai komunisme. Untuk alasan tersebut, studi ini akan membuktikan tiga hal utama, yang dipisahkan menjadi tiga subbagian. Pertama, studi ini akan membuktikan bahwa Capitol dan District 13 memegang ideologi Liberal dan Komunis dengan melihat setting dan dialog antar karakter. Subbagian selanjutnya akan menunjukkan bagaimana liberalisme dan komunisme runtuh di akhir cerita. Terakhir, studi ini akan membuktikan bahwa penulis novel lebih memenangkan komunisme dibanding liberalisme.

ABSTRACT
This paper examines Suzanne Collins', Mockingjay?s author, position towards by using thematic approach. Throughout the process of reading the novel and writing this paper, some evidence in the novel shows that neither communism nor liberalism seem to be favored by the novel. On the other hand, some evidence also shows that the author still favors communism. For that reason, this paper will prove three main things, which is separated into three subsections. First, it will prove that Capitol and District 13 hold Liberalism and Communism by seeing the setting and dialogues between characters. Then it will show how liberalism and communism collapsed in the end of the story. The last, this paper will prove that the author still champions communism over liberalism.;This paper examines Suzanne Collins', Mockingjay?s author, position towards liberalism and communism by using thematic approach. Throughout the process of reading the novel and writing this paper, some evidence in the novel shows that neither communism nor liberalism seem to be favored by the novel. On the other hand, some evidence also shows that the author still favors communism. For that reason, this paper will prove three main things, which is separated into three subsections. First, it will prove that Capitol and District 13 hold Liberalism and Communism by seeing the setting and dialogues between characters. Then it will show how liberalism and communism collapsed in the end of the story. The last, this paper will prove that the author still champions communism over liberalism., This paper examines Suzanne Collins', Mockingjay’s author, position towards liberalism and communism by using thematic approach. Throughout the process of reading the novel and writing this paper, some evidence in the novel shows that neither communism nor liberalism seem to be favored by the novel. On the other hand, some evidence also shows that the author still favors communism. For that reason, this paper will prove three main things, which is separated into three subsections. First, it will prove that Capitol and District 13 hold Liberalism and Communism by seeing the setting and dialogues between characters. Then it will show how liberalism and communism collapsed in the end of the story. The last, this paper will prove that the author still champions communism over liberalism.]"
2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Farisza Nadya Cahya Putri
"Stereotip gender adalah salah satu isu utama yang ada pada kebanyakan film Disney tentang putri. Perhatian terhadap sifat-sifat konvensional tersebut telah berubah menjadi tindakan untuk menantang peraturan lama dengan menampilkan seorang putri pasca-klasik. Penelitian tentang tindakan wanita menantang stereotip gender dapat ditemukan dengan mudah, namun tindakan yang dilakukan oleh seorang putri Disney pasca-klasik masih terbatas. Oleh karena itu, makalah ini menyajikan analisis mengenai analisis tindakan menantang stereotip gender yang dilakukan oleh Merida dalam film Brave 2012 . Untuk melakukan penelitian ini, penulis menganalisis keseluruhan cerita melalui menonton film tersebut, mengungkapkan tindakan stereotip gender menggunakan teori Linda Brannon, dan mengklasifikasikan tindakan yang menantang stereotip gender dalam film tersebut. Makalah ini memberikan kontribusi baru dalam studi pengkajian stereotip gender pada karakter putri pasca-klasik ciptaan Disney dan mengungkapkan bahwa seorang wanita mungkin tidak lagi menjalankan peran gender konvensional karena beberapa alasan.

Gender stereotype is one of the main issues exist that in most Disney's princess movies. The concern on following conventional traits has been changing to the act of challenging the old rules by featuring a post classical princess. Researches on the act of challenging gender stereotype by a woman can be found easily nevertheless, that action done by a brand new Disney's princess is still limited. Therefore, this paper presents the act of challenging gender stereotype analysis of Merida in Brave 2012 . To conduct this research, the author analyzed the whole story by watching the movie, revealing the act of gender stereotyping using Linda Brannon's theory, and classifying the actions of challenging gender stereotype within the movie. This paper gives a new contribution in the study of gender stereotyping study in a post classical Disney's princess and reveals that a woman may not live the conventional gender role due to some reasons.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>