Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dewi Astuti
"Latar belakang. Pemandu lalu Iintas udara (PLLU) mempunyai tanggungjawab yang tinggi yang akan mempertinggi kemungkinan stresor kerja kualitatif. Namun masih terdapat yang mempunyai stresor beban kerja kualitatif rendah. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi stresor kerja kua1itatif (SBKL) rendah dan faktor yang berkaitan di antam PLLU di Bandara Soekarno-Hatta.
Metode. Studi kros-seksional pada November 2008 dengan subjek PLLU efektif bekerja minimal 6 bulan. Penelitian ini menggunakan kuesioner standar survei diagnostik stres.Kuesioner stresor rumah tangga yang diisi subjek.
Hasil. Subyek berumur 27-55 tahun terdiri dari 121 PLLU dengan SBKL sedanglberat dan serta 14 PLLU dengan SBKL rendah. Stresor yang rendah dalam hal stresor tanggung jawab personal, stresor ketaksaan peran, stresor pengembangan karir. serta persepsi suhu ruangan tidak dingin meningkatkan SBKL rendah. Sebaliknya, subjek yang menikah menurunkan risiko SBKL rendah Faktor jenis kelarnin, umur, jumlah anak, pendidikan, kebiasaan merokok, kebiasaan olah raga, jabatan, unit kerja, masa kerja, pengalaman pemanduan lalu­ lintas penerbangan bennasalah, pelatihan manajemen stres, pekerjaan tambahan, penerangan, kebisingan, tempat duduk, tata letak, ruangan, stresor konflik peran dan stresor rumah tangga tidak terbukti berhubungan dengan SBKL rendah. Subjek yang mempunyai stresor tanggung jawab personal rendah dibandingkan dengan yang berat berisiko 6,4 kali lipat SBKL rendah [odd rasio suaian (ORa)=6,39; 95% interval kepercayann (Cl) = 1,12-36,44]. Subyek dengan persepsi subyektiftidak dingin dibanding terlalu dingin kemungkinan 9,2 kali lipat SBKL rendah (ORa= 9,22; Cl95% = 1,69-50,09).
Kesimpulan. Stresor tanggung jawab personal rendah dan suhu nyaman meningkatkan kemnungkinan SBKL rendab pada PLLU. Oleh karena itu perlu program konseJing SBKL dan penyediaan baju hangat yang ergonomis.

Background: Air traffic controllers (ATCs) have high responsibility which may resulted qualitative work load stressor (QLWS). However, some of them stilt have slight QLWS.This study identified several risk factors related to slight qualitative work load stressor among the ATCs.
Methods. This cross sectional study was conducted in November 2008 at International Soekarno-Hatta Airport. Subjects consisted of active ATCs with minimum 6 months working tenure. The study used standard diagnostic as well as home stressor questionnaire surveys) and filled by the participants.
Results. Subjects aged 27 - 55 years consisted of 121 ATCs with mederatelheavy QLWS and 14 ATCs with the slight QLWS. Low personal responsibility, ambiguity, as well as development career stressor, freezing room temperature perception increased risk slight QLWS However, married subjects had lower risk to be slight QLWS. Several demographic factors and habits, job (title, unit, length of employment), experience to control near miss flights, stress management training, role conflict and home stressor were not noted had correlation with slight QLWS. Subjects with tow than moderate/high personal responsibility stressor had increased risk to be slight QLWS for 6,4-fold (adjusted odd ratio (ORa)6,39; 95% confidence interval (Cl) 1.12-36.44). Those who felt comfortable than freezing room temperature had 9.2-fold risk to be slight QLWS (ORa9.22; 95% CI 1.69-50.09).
Conelusion. Low personal responsibility stressor and comfortable room temperature increased risk slight QLWS. Hence, ATCs need to be provided ergonomic warm jacket and the qualitative work load stressor counseling program."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T11524
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Kurniasari Ilyas Nampira
"Latar Belakang : Beban kerja mental pada PLLU yang tidak diimbangi dengan feedback yang cukup akan meningkatkan risiko kelelahan dan menurunkan keselamatan penerbangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan beban kerja mental dan faktor dominan lain dengan kelelahan pada PLLU di bandara Soekarno-Hatta.
Metode: Desain penelitian menggunakan desain pre-post dengan consecutive sampling. Dilakukan pada pemandu lalu lintas udara unit controller di bandara Soekarno Hatta. Penelitian menggunakan NASA-TLX, alat reaction time L-77 Lakassidaya dan HRV. Variabel yang dianalisis adalah beban kerja mental, umur, masa kerja, jenis kelamin, unit kerja, kerja gilir, stres, kebiasaan rokok, alkohol, latihan fisik dan suhu.
Hasil: Dari 334 PLLU unit controller hanya 104 responden yang bersedia mengikuti penelitian dan 103 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan beban kerja mental memiliki korelasi lemah dengan kelelahan r=0,114 . Faktor-faktor dominan yang berhubungan dengan kelelahan adalah stres, kebiasaan merokok dan masa kerja. PLLU dengan stres mempunyai relative risk 145 lebih tinggi dibandingkan yang tidak stres [ Risk Relative RR = 1,45 ; 95 interval kepercayaan IK 1,055-1,999;p = 0,007], merokok memiliki korelasi sedang r=0,315 dan masa kerja memiliki korelasi lemah p=0,034; r=0,172 dengan kelelahan.
Simpulan: Beban kerja mental, stres, kebiasaan merokok dan masa kerja memiliki hubungan dengan kelelahan pada PLLU di bandara Soekarno Hatta.

Background: Mental workload on ATC which don rsquo t have enough feedback will increase fatigue risk and decrease aviation safety. The aims of this study were to know association between mental workload and other dominant factor with fatigue in ATC at Soekarno Hatta airport.
Methods: The design of the study was pre post with consecutive sampling of all Air Traffic Controller unit in Soekarno Hatta Airport. This study used NASA TLX, reaction time L 77 Lakassidaya and HRV. The variables analyzed were mental workload, age, lenght of work, gender, work unit, shift, stress, smoking habit, alcohol, physical exercise and temperature.
Results: From 334 Air Traffic Controllers only 104 were willing to participate and only 103 respondents meet the inclusion criterias. Obtained mental workload has a weak correlation with fatigue r 0,114 . The dominant factors associated with fatigue are stress, smoking habits and lenght of work. ATC with stress has a relative risk of fatigue of 145 higher than non stressful ATC Risk Relative RR 1,45 95 confidence interval CI 1,055 1,999 p 0,007 , smoking has moderate correlation r 0,315 and lenght of work has weak correlation p 0,034 r 0,172 with fatigue.
Conclusions: Mental workload, stress, smoking and length of work have associated with fatigue at ATC at Soekarno Hatta airport.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nanda Mardas Saputra
"Latar Belakang: Salah satu aspek dalam fungsi fisiologis manusia yang berperan penting dalam penerbangan adalah fungsi visuospasial. Fungsi visuospasial merupakan kemampuan persepsi visual tingkat tinggi yang dibutuhkan untuk identifikasi, integrasi informasi, menganalisa bentuk visual dan spasial, detail, struktur, dan hubungan spasial antara bentuk dua dengan tiga dimensi. Paparan hipoksia merupakan hazard spesifik yang terdapat dalam dunia penerbangan dan dampaknya terhadap fungsi visuospasial dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan dalam penerbangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan fungsi visuospasial terhadap paparan hipoksia di zona ketinggian yang berbeda.
Metode: Penelitian ini menggunakan uji eksprimen one-group pretest-postest. Subjek penelitian adalah awak terbang militer yang mengikuti Indoktrinasi Latihan Aerofisiologi (ILA) di Lakespra Saryanto, Jakarta. Subjek mengerjakan tes Clock Drawing Test (CDT) pada ground level, physiological efficient zone (10.000 ft) dan physiological deficient zone (25.000 ft.) di dalam hypobaric chamber.
Hasil: Terdapat peningkatan angka kejadian gangguan fungsi visuospasial di 10.000 kaki dibandingkan dengan ground level (McNmear = 0.031), 10.000 kaki dengan 25.000 kaki (McNemar = 0.0001) dan ground level dengan 25.000 kaki (McNemar = 0.0001).
Kesimpulan: terdapat peningkatan angka kejadian gangguan fungsi visuospasial yang signifikan antara ketinggian ground level, 10.000 kaki dan 25.000 kaki.

Background: One of many aspects of human physiological function that has an important role in aviation is visuospatial function. Visuospatial function is a high-level visual perception that is required for identification, information integration, analyzing visual and spatial form, detail, structure and spatial relation between two-dimensional and three-dimensional form. Hypoxia exposure is considered to be a specific hazard in the aviation environment and its impact against visuospatial function can potentially increase the risk of aviation-related accident. The purpose of this study was to investigate changes in visuospatial function on hypoxia exposure in different altitude zones.
Metode: This study used an experimental one-group pretest-posttest design. The subjects were 42 military aircrews who participated in Indoctrination and Aerophysiology Training. Subjects completed The Clock Drawing Test (CDT) at ground level, physiological efficient zone (10.000 ft) and physiological deficient zone (25.000 ft) in a hypobaric chamber.
Hasil: There was an increase of the number of impaired visuospatial function at 10.000 ft compared to ground level (McNemar = 0.031), 10.000 to 25.000 ft (McNemar = 0.0001) and ground level to 25.000 ft (McNemar = 0.0001).
Kesimpulan: There was a significant change in the number of impaired visuospatial function between ground level, 10.000 ft, and 25.000 ft.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58912
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library