Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sayyid Abdul Fatah
"ABSTRAK
Mengetahui nilai land surface temperature (LST) merupakan hal penting dalam eksplorasi geotermal. Pengukuran LST secara manual akan memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Penggunaan metode thermal infrared remote sensing untuk mencari nilai LST akan memakan waktu yang lebih cepat dan biaya yang sedikit. Data yang digunakan berasal dari satelit Landsat 8 dengan sensor Operational Land Imager (OLI) dan Thermal Infrared (TIRS). Dari data OLI akan didapatkan nilai emisivitas sementara dari data TIRS akan didapatkan nilai brightness temperature. Dengan menggunakan metode split-window algorithm, nilai LST bisa diketahui dari nilai emisivitas dan brightness temperature. Nilai LST yang didapat pada penelitian ini berada pada range nilai 14oC hingga 45oC. Nilai LST semakin meningkat apabila terdapat sesar yang berasosiasi dengan sistem geotermal. Nilai LST juga semakin meningkat apabila base of conductor semakin dekat dengan permukaan bumi. Nilai LST yang sudah didapatkan kemudian dipadukan dengan data geologi, geokimia, dan magnetotelurik sehingga menghasilkan model konseptual.

ABSTRACT
Knowing the value of land surface temperature (LST) is important in geothermal exploration. LST measurements manually would take a long time and costly. The use of thermal infrared remote sensing method to find the value of LST will take faster and cost less. The data used are from the satellite Landsat 8 with sensor Operational Land Imager (OLI) and the Thermal Infrared (TIRS). From data OLI, will be obtained the value of emissivity while from data TIRS, will be obtained the value of brightness temperature. By using a split-window algorithm, the value of LST can be known from the value of emissivity and brightness temperature. LST value obtained in this study are in the range of values 14oC to 45oC. LST value increase if there is a fault associated with a geothermal system. LST value also increased when the base of conductor closer to the earth?s surface. LST value that has been obtained is then combined with geological, geochemical, and magnetotelluric data resulting conceptual model.
;"
2016
S64660
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hikmat Nadzaruddin
"Penentuan prospek zona permeabilitas sekuder ditentukan melalui analisis terpadu pengideraan jauh, data geologi, magnetotellurik dan gravitasi. Berdasarkan analisis penginderaan jauh, kelurusan yang berkembang berarah dominan Baratlaut-Tenggara dan Timurlaut-Baratdaya dengan kerapatan 2.5-3.2 km/km2, berkorelasi dengan kemunculan manifestasi dan alterasi yang berkembang didaerah penelitian. Perkiraan zona alterasi dan manifestasi menggunakana Metoda Direct Principal Component DPC pada citra Landsat 7 ETM menghasilkan area terduga seluas 73 km2 dari 160 km2 luasan area penelitian yang terkonfirmasi berdasarkan peta sebaran alterasi dan manifestasi yang berada didalam area terduga. Berdasarkan pemodelan inversi 3D MT dan forward modelling 2D data gravitasi, lapisan claycap bernilai resistivitas < 10 ?m dengan densitas 1.7-1.9 gr/cc merupakan alterasi argilik pada formasi Aimere dan Siutoro. Top of Reservoir TOR ditandai dengan keberadaan alterasi propilitik pada sumur MT-02 berada pada kisaran kedalaman 400-600 mdpl dengan ketebalan reservoar berkisar 800-1000 m dengan nilai resistivitas 10-100 ?m dan densitas 2.1-2.6 gr/cc yang diperkirakan berada pada formasi volkanik tua. Heatsource diperkirakan merupakan tubuh intrusi formasi Bajawa dibagian Timurlaut dan pluton formasi kompleks kerucut breksi volkanik dibagian Baratdaya dengan nilai resistivitas >150 ?m dan densitas 2.7-3.1 gr/cc. Manifestasi berupa mataair panas ML1 dan ML2, fumarol dan kolam lumpur panas diperkirakan merupakan upflow dari sistem geotermal berasosiasi dengan Tinggian Volkanik dengan karakter Fluida 2 Fasa yang berada diatas heatsource dibagian Timurlaut. Perkiraan temperatur reservoar berkisar 200-300°C berdasarkan profil temperatur sumur MT-02 dan geotermometer gas. Delineasi daerah prospek reservoar ditentukan seluas 1.6 km2 berdasarkan hasil depth slice elevasi 400m pemodelan inversi 3D MT. Rekomendasi sumur pemboran trajectory menargetkan sesar F08 Sesar Waeluja mengacu kepada hasil analisis curve splitting, FHD, SVD yang mengkonfirmasi keberadaan struktur bawah permukaan diperkirakan merupakan prospek zona permeabilitas sekuder dengan temperatur dan permeabilitas tinggi.

Prospect identification of secondary permeability zone determined by using integrated analysis of remote sensing, geological, magnetotelluric and gravity data. Lineament pattern characterized the geological structural development dominates on NW SE and SW NE direction with lineament density reach 2.5-3.2 km km2 correlates with the appearance of surface manifestation and alteration zone within research area. Prediction of alteration and manifestation by using Direct Principal Component DPC technique from Landsat 7 ETM image resulting predicted area of 73 km2 out of 160 km2 research area and confirmed by comparing with the alteration and manifestation map from the previous research. 3D MT inversion model and 2D forward modelling gravity resulting geophysical characterization of the geothermal system. Claycap characterize as resistivity value 10 m with density 1.7 1.9 gr cc refer to Aimere and Siutoro argillic altered formation. Top of Reservoar TOR identifies in comparison with log description MT 02 well with the appearance of prophylitic alteration found at elevation of depth 400-600 msl with thickness of reservoir 800 1000m below characterized as resistivity value 10 100 m with density 2.1-2.6 gr cc interpreted as old volcanic formation. Heatsource interpreted as intrusive body of Bajawa formation found on the Northeastern part while at the Southwestern part related with the pluton of the breccia volcanic cone complex with the resistivity value 150 m and the density value 2.7 3.1 gr cc. Surface manifestation lies above the heatsource at Northeastern identified as the upflow zone of the typical Volcanic Associated Geothermal System on High Terrain with the 2 Phase Fluid characteristic. Reservoir temperature predicted 200-300°C based on temperature profile from well MT 02 and gas geothermometer. Delineation of the reservoir prospect area determined 1.6 km2 wide based on depth slice of 3D MT inversion at elevation 400 msl. Recommended trajectory drilling well, targeting F08 fault Waeluja Fault based on the result of confirmation of the occurrence subsurface geological structure using curve splitting, FHD, SVD predicted as the prospect of secondary high permeability zone and high temperature."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T47619
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emir Ghufron
"Analisis Splitting Curve Data Magnetotellurik untuk Mengidentifikasi Zona Permeabel Pada Lapangan Geothermal XEmir Ghufron1, Syamsu Rosyid11Departemen Fisika, FMIPA, Universitas IndonesiaEmail : ghufronemir@gmail.com Abstrak Dalam eksplorasi geothermal, zona permeabel merupakan salah satu parameter yang diperhitungkan. Zona permeabel tersebut dipengaruhi oleh rekahan atau patahan yang terbentuk di bawah permukaan daerah prospek geothermal. Dengan melihat kondisi geologi daerah prospek, zona permeabel dapat diidentifikasi. Pada kenyataanya, metode geologi yang digunakan hanya mampu mengetahui kondisi struktur di permukaan bumi. Mengetahui kondisi geologi yang ada di bawah permukaan bumi sangat sulit di perhitungkan.
Berdasarkan hal tersebut dilakukan analisis Splitting Curve data MT untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan. Penelitian ini dibantu dengan membuat forward modeling data sintetik untuk memperkuat analisis Splitting Curve dan kemudian diimplemetasikan pada data rill MT.
Hasil dari forward modeling menunjukan adanya perbedaan nilai resistivitas yang menghasilkan percabangan kurva TE dan TM, hal ini memberi informasi dekat atau jauhnya suatu stasiun pengukuran MT terhadap batas kontras resistivitas atau batas suatu struktur. Hasil akhir dari penelitian ini adalah penentuan zona permeabel daerah prosek geothermal, harapanya dapat mengetahui infornasi struktur geologi bawah permukaan.

Permeability zone is one of the most important parameter. The permeability zone is affected by fracture or fault that occurs in the subsurface of geothermal prospect area. By studying on the geological condition, we can identify the permeable zone. The fact is, the geological method is limited to the structure on the surface only. To learn more about geological condition in subsurface is very difficult.
Splitting curve analysis of MT data to learn about the continuity of subsurface geological condition. This research is assisted by making forward modelling of synthetic MT data to strengthen spliting curve analysis and then implementing it into the real MT data.
The result from forward modelling showed the difference of resistivity value which produce shifting in TE and TM curve. Thus, this information is letting us know the distance between MT station to resistivity contrast boundary or limit of the structure. The final result for this reasearch is to determine the permeable zone at the subsurface, hopefully the geological structures from subsurface of geothermal prospect area can be determined.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S69110
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Widjaya Putranto
"ABSTRAK
Eksplorasi merupakan sebuah tahapan yang memiliki resiko tinggi di suatu proyek panas bumi. Salah satu target eksplorasi adalah zona permeabilitas tinggi. Zona permeabilitas tinggi berasosiasi dengan struktur bawah permukaan, seperti struktur patahan di daerah sistem panas bumi. Metode magnetotellurik MT dan gravitasi dapat digunakan untuk mendelineasi keberadaan sebuah struktur. Forward modeling 3D dilakukan untuk mendapatkan karakteristik dari diagram polar, induction arrow, FHD First Horizontal Derivative dan SVD Second Vertical Derivative dari berbagai variasi model sintetik struktur patahan yang selanjutnya diimplementasikan ke data MT riil dan data gravitasi riil. Diagram polar akan sejajar struktur ketika di zona yang lebih konduktif dan akan tegak lurus ketika di zona yang lebih resistif, sudut kemiringan berpengaruh terhadap pemipihan diagram polar. Induction arrow akan menunjukan zona konduktif. Respon dari model sintetik MT tidak bisa membedakan jenis patahan. FHD dipengaruhi kemiringan patahan tetapi tidak dipengaruhi jenis patahan. SVD dipengaruhi kemiringan dan jenis patahan. Hasil dari pengolahan data riil diketahui bahwa struktur patahan didominasi arah Utara-Selatan. Teridentifikasi terdapat 3 patahan dari analisis derivatif gravitasi.

ABSTRACT
Exploration is a high risk stage in geothermal project. One of the geothermal exploration target is a zone of high permeability. The high permeability zones are associated with subsurface structure, like fault structure on geothermal system area. Magnetotelluric MT and gravity methods can be utilized to delineate the existence of fault structure. In this research we made forward modeling for synthetic model MT data and gravity data. 3D forward modeling is carried out to have knowledge about characteristics of polar diagram, induction arrow, FHD First Horizontal Derivative , and SVD Second Vertical Derivative of various synthetic model fault structure to be implemented on real MT and Gravity Data. Polar diagram will be parallel to the strike when in the conductive zone and will be perpendicular to the strike when in the resistive zone, the smaller angle of strike slope form of the polar diagram will be more flattened. Induction arrow could show where the conductive zone. Synthetic model MT responses can not provide information on the type of structure. FHD is influenced by dip the fault but not influenced by the type of fault. SVD is influenced by dip and the type of fault. The results obtained from the real MT and gravity data known that fault structure dominated direction in N S. There are There are 3 fault identified by FHD and SVD methods."
2017
S67040
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhli Yusuf
"Permasalahan delineasi sistem geothermal adalah hal yang penting untuk dikaji, karena akan menentukan seberapa besar prospek panas bumi yang berada di subsurface. Metode magnetik bisa menentukan zonasi daerah di subsurface yang mengalami demagnetisasi akibat thermal. Batuan yang menjadi penyusun reservoir mengalami perubahan suseptibilitas dari tinggi ke rendah akibat pengaruh fluida dan panas dari heat source yang berada pada sistem tersebut.
Penelitian ini telah membuktikan keberadan delineasi sistem panas bumi Lapangan "E" dengan metode Magnetik dan Magnetotellurik, data magnetik sebanyak 674 titik dikoreksi dengan diurnal variation dan undistributed earth magnetic field atau lebih dikenal dengan IGRF. Setelah itu telah dilakukan kontinuasi hingga ketinggian 700 m asl, dan terlihat bodi yang berorientasi dipole dengan arah NE-SW pada inklinasi intermediet. Dilakukan Reduction to Pole pada hasil pengangkatan keatas dan didapatlah anomali low negatif yang mengindikasikan keberadaan hydrothermally demagnetization rock.
Hasil RTP juga dikorelasikan dengan kurva apparent resistivity MT, didapatkan nilai anomali low negatif cenderung berasosiasi dengan kurva MT tipe H. Kontur RTP dimodelkan dengan inversi 3D magnetik dan didapatkan zonasi reservoir berada dikedalaman mean sea level s/d 1900 m bsl. Cross korelasi pun dilakukan antara hasil Inversi 3D magnetik dan 2D Forward Modelling Magnetik serta inversi MT, bahwa zona batuan reservoir memiliki suseptibilitas sebesar 0.04-0.06 Cgs dan dengan resistivitas 20-80 ohm.m, Keberadaan reservoar panas bumi diduga berada di zona upflow hingga ke arah SW yang berada di sekitar sesar utama di daerah lapangan" E" yang berasosiasi dengan anomali low negatif sebesar-300 s.d -550 nT.

The delineation problem of the geothermal system is important to examine, as it will determine how big the geothermal prospects are in the subsurface. Magnetic methods can zonate the subsurface region undergoing thermal demagnetization processes. The rocks that make up the reservoir have changed the susceptibility from high to low due to the influence of fluid and heat from the heat source in the system.
This research has proved the existence of Geothermal Field 39 s delineation of Field E with Magnetic and Magnetotellurik method, 674 points magnetic data corrected by diurnal variation and undistributed earth magnetic field or better known as IGRF.After that continuity has been carried out to a height of 700 m asl, and visible dipole oriented body with NE SW direction in intermediate inclination. Reduction to Pole was performed on uplift and obtained a low negative anomaly indicating the presence of hydrothermally demagnetization rock.
The RTP results are also correlated with the apparent resistivity MT curve, and the low negative anomaly values tend to be associated with the Type H MT curve. The RTP contour is modeled by a 3D magnetic. And the reservoir zonation is in the mean sea level to 1900 m bsl. Cross correlation was performed between magnetic 3D Inversion and 2D Forward Modeling Magnetic and MT inversion, that reservoir rock zone has a susceptibility of 0.04 0.06 Cgs and with resistivity of 20 80 ohm.m The existence of geothermal reservoir is suspected to be in the upflow zone up to SW direction is in the vicinity of the main fault in the E field area associated with a negative low anomaly 300 s d 550 nT.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S67018
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fauzan Muhtadi
"Pinggiran Sungai Ciliwung menjadi sebuah kawasan padat penduduk dikarenakan pemandangannya yang indah serta harga tanah yang murah. Namun ternyata terdapat gua bawah tanah pada tebing pinggiran sungai tersebut. Gua bawah tanah ini terbentuk akibat pengambilan pasir oleh manusia sejak dahulu. Oleh karenanya, hal ini merupakan sebuah ancaman bila terdapat banyak bangunan di atasnya. Jika dinding gua tidak kuat menahan beban di atasnya, akan terjadi bencana seperti sinkhole yang dapat mengakibatkan banyak korban. Adanya gua bawah tanah berisi udara pada pinggiran sungai yang memiliki nilai resistivitas mencapai 1500 m membuat kontras nilai resistivitas yang sangat jauh dibandingkan sekitarnya. Karena itu, metode resistivitas dengan konfigurasi dipole-dipole digunakan dalam penelitian ini agar dapat mendeteksi keberadaan dan kontinuitas gua bawah tanah tersebut. Agar dapat terlihat dengan jelas kontinuitasnya, pada penelitian ini terdapat 5 buah lintasan dengan jarak spasi antar elektroda sepanjang 2 meter. Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah diambil, terdeteksi adanya anomali gua bawah tanah dengan ukuran tinggi dan lebar 1,5x1,5 meter serta nilai resistivitas berkisar antara 1400-1500 m serta dapat diperkirakan kontinuitasnya.

Ciliwung River ridge becomes a densely populated area due to its beautiful scenery and cheap land prices. But apparently there is an underground cave on the cliff edge of the river. This underground cave was formed due to sand taking by humans from the past. Therefore, this is a threat if there are many buildings on it. If the cave wall is not strong to hold the burden on it, there will be a disaster like sinkhole that can lead to many victims. The existence of an air filled underground cave on the edge of the river that has a resistivity value reaching 1500 m makes the contrast of resistivity value very far compared to its surroundings. Therefore, the resistivity method with dipole dipole array is used in this study in order to detect the existence and continuity of the underground cave. To be clearly visible continuity, in this research there are 5 pieces of line with spacing between electrode along the 2 meters. Based on the results of data processing has been taken, the cave underground anomalies detected with a height and width of 1,5x1,5 meters and resistivity value ranges between 1400 1500 m and can be estimated continuity.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marbun, Annisa Nada
"Identifikasi rongga bawah permukaan sangat penting dalam bidang geoteknik. Rongga bawah permukaan dapat memberikan dampak negatif seperti kesalahan penentuan dimensi pondasi bangunan hingga kerusakan jalan. Oleh karena itu, identifikasi geometri serta posisi rongga bawah permukaan menjadi penting. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan rekomendasi kelayakan bagi infrastruktur yang akan berdiri di atasnya. Akuisisi data di lapangan untuk mengidentifikasi rongga bawah permukaan ini telah dilakukan di Kampung Kemiri Muka Depok, di DAS Ciliwung Kampung Kemiri Muka Depok menggunakan Gravity Gradient Vertical dengan luas wilayah pengukuran sekitar 35 m x 20 m. Dari data yang kami miliki, teridentifikasi adanya rongga bawah permukaan di bagian utara daerah pengukuran.

Subsurface cave identification is crucial in geotechnical aspect. It's existence can give negative effects, such as the fault of foundation dimension determination and the road damage. Therefore, it's important to identificate the geometry and the positition of the subsurface cave. The result will give an infrastructure feasibility recommendation to be built above it surface. This survey is conducted at Kemiri Muka Depok Village along side The Ciliwung River using Gravity Gradient Vertical configuration with the Area of Interest 35 m x 20 m. Based on the data result, there is a subsurface cave identified at the north of acquisition field.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haryo Gusmedi Sudarmo
"Telah dilakukan penelitian guna mendelineasi sistem panas bumi lapangan geothermal ldquo;H rdquo;. Penelitian ini menggunakan metode remote sensing untuk memetakan struktur dan alterasi di permukaan. Analisis geokimia digunakan untuk mengetahui karakteristik sistem panas bumi dan analisis geofisika digunakan untuk memetakan kondisi sistem panas bumi di bawah permukaan. Berdasarkan analisis remote sensing dengan teknik band combination secara pengamatan manual menunjukkan bahwa arah utama dari kelurusan - kelurusan yang berkembang di daerah penelitian ldquo;H rdquo; adalah Barat Laut - Tenggara dan Barat Daya - Timur Laut sesuai dengan Peta Geologi Regional yang berkorelasi dengan kemunculan beberapa manifestasi. Analisis remote sensing juga menemukan 1 lokasi yang diduga merupakan alterasi di permukaan. Analisis data geokimia dilakukan terhadap 12 manifestasi menunjukkan bahwa mata air panas SL-1, SL-2, SLM-1, SLM-2, HTS-1, HTS-2, HTS-3, TBK, TLH-1, TLH -2, TLH-3 dan TLH- 4 merupakan manifestasi tipe outflow.
Berdasarkan diagram segitiga ternary Na - K - Mg, diagram Na-K/Mg-Ca, diagram Enthalpy - Chloride Mixing Model, geothermometer Na/K menunjukkan temperatur reservoar adalah sekitar 210 C - 240 C dan dapat dikategorikan ke dalam sistem geothermal moderate to high temperature. Analisis Inversi 3-D Data MT menggunakan 66 data titik ukur. Berdasarkan inversi 3-D Data MT diketahui bahwa lapisan clay cap dengan nilai resistivitas rendah le; 10 ?m tersebar di Selatan dengan ketebalan 500 meter hingga 1000 meter. Lapisan reservoar terletak di bawah clay cap dengan nilai resistivitas >10 - 65 ?m. Base of Conductor BOC diperkirakan berada pada kedalaman 700 meter dengan updome berada di antara Sesar Wairutung dan Sesar Banda. Berdasarkan peta BOC diperoleh luas area prospek geothermal sekitar 16.5 km2.

The study of ldquo H rdquo geothermal field has been conducted to delineate their geothermal system. This study uses remote sensing method for mapping structure and alteration on the surface. Geochemical analysis is used to determine the characteristics of geothermal system and geophysical analysis is used to interpret the condition of geothermal system of sub surface. Based on remote sensing analysis using band combination technique with manual observation indicates that the main direction of the developed lineaments in the research area H is Northwest Southeast and Southwest Northeast in accordance with Regional Geological Map correlated with the appearance of several manifestations. The remote sensing analysis also found 1 suspected alteration site on the surface. Analysis of geochemical data was performed on 12 manifestations shows that hot springs SL 1, SL 2, SLM 1, SLM 2, HTS 1, HTS 2, HTS 3, TBK, TLH 1, TLH 2, TLH 3 and TLH 4 are outflow manifestations type.
Based on the diagram of the ternary triangle Na K Mg, Na K Mg Ca diagram, Enthalpy Chloride Mixing Model diagram, Na K geothermometer estimates the reservoir temperature is about 210 C 240 C and can be categorized into the moderate to high temperature geothermal system. Analysis of inversion 3 D MT data using 66 data points measurement. Based on 3 D inversion MT data is known that clay cap layer with low resistivity value le 10 m spread in South with thickness 500 meter to 1000 meter. The reservoir layer is located under clay cap with resistivity value 10 m 65 m. Base of Conductor BOC is estimated to be at depth of 700 meters with an updome located around Wairutung Fault Banda Fault. Based on BOC, the prospectable area of geothermal system is about 16.5 km2.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T48035
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Safiul Primasatya
"Eksplorasi panas bumi merupakan tahapan yang sangat penting pada kegiatan pengusahaan panas bumi karena memiliki tingkat resiko kegagalan pemboran yang sangat tinggi serta biaya yang dikeluarkan cukup besar. Oleh karena itu, diperlukan interpretasi terpadu berdasarkan data geosains untuk mendelineasi prospek sistem geothermal Gn. Lawu sehingga penentuan lokasi pemboran mempunyai tingkat kepastian yang lebih tinggi. Dalam mendelineasi sistem geothermal sangat ditentukan dengan sebaran batuan resistivitas rendah yang mengindikasikan adanya lapisan penudung (caprock) yang didominasi oleh material lempung. Selain itu, target utama dari eksplorasi panas bumi adalah temperatur dan permeabilitas batuan yang tinggi. Distribusi sebaran temperatur bawah permukaan dapat diperkirakan melalui data manifestasi pada lokasi penelitian. Sedangkan permeabilitas tinggi berasosiasi dengan zona patahan dimana fluida dapat mengalir ke permukaan. Magnetotelluric (MT) merupakan metode geofisika pasif yang melibatkan pengukuran fluktuasi medan listrik dan magnet alam sebagai sarana untuk menentukan resistivitas batuan di bawah permukaan bumi dimana pemodelan data MT dapat dilakukan menggunakan inversi 3D. Untuk memahami lebih lanjut mengenai pemodelan MT tersebut, maka penelitian ini difokuskan pada inversi 3D dengan MT3Dinv-X yang kemudian diintegrasikan dengan data dukung gravitasi, geologi dan geokimia untuk mendelineasi sistem geothermal Gn. Lawu. Hasil akhir penelitian ini adalah memberikan rekomendasi pola sebaran resistivitas batuan serta membuat model konseptual untuk menentukan area target pemboran pada daerah penelitian.

Geothermal exploration is crucial step in geothermal business because it has uncertainty drilling result and high cost. Therefore, an integrated interpretation based on geosciences data is needed to delineate the prospect of Gn. Lawu geothermal system so the location of drilling could be more convince. The distribution of low resistivity rocks that indicating the presence of a caprock which is dominated by the material of clay. Moreover, the main target of geothermal exploration is the high temperature and permeability of rocks. The distribution of subsurface temperature can be estimated through the manifestation data on site. High permeability is associated with a fault zone where fluid can flow to the surface. Magnetotelluric (MT) is a passive geophysical method that involves measuring the fluctuations of electric and natural magnetic fields as a means of determining the resistivity of rocks beneath the Earth's surface where MT data modeling can be performed using 3D inversion. To understand more about the MT modeling, this research is focused on 3D inversion with MT3Dinv-X which is then integrated with gravity, geological and geochemical support data to delineate Gn. Lawu geothermal system. The final result of this research is to recommend the pattern of distribution of rock resistivity as well as to create conceptual model to determine drilling target area in research area.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T47884
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Allysa Nabila Pratiwi
"ABSTRAK
Pesisir Bayah merupakan salah satu wilayah di Pantai Selatan Pulau Jawa yang berpotensi terdampak oleh tsunami akibat gempa bumi. Tingkat kerentanan wilayah terhadap tsunami dikaji berdasarkan aspek keterpaparan, sensitivitas, dan ketahanan dengan menggunakan metode skoring dan overlay peta berbasis grid yang diawali dengan penerapan metode Analytical Hierarchy Process AHP untuk menentukan bobot masing-masing variabel. Wilayah penelitian berada pada ketinggian 0-25 mdpl, yang secara administratif terletak di empat desa di pesisir Bayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola kerentanan wilayah terhadap tsunami dengan menggunakan analisis spasial dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kerentanan wilayah terhadap tsunami di Pesisir Bayah dari pesisir pantai semakin meningkat ke arah pusat permukiman, selanjutnya menurun seiring dengan peningkatan elevasi dan jarak dari pantai. Kerentanan wilayah terhadap tsunami di wilayah penelitian didominasi oleh wilayah kerentanan sedang yang mencakup 65,59 dari total luas wilayah penelitian. Kerentanan wilayah sedang ditandai dengan keterpaparan sedang hingga tinggi, sensitivitas sedang hingga tinggi, dan ketahanan rendah hingga sedang. Kerentanan wilayah rendah seluas 32,05 total luas wilayah penelitian dan kerentanan wilayah tinggi seluas 2,36 total luas wilayah penelitian. Kerentanan wilayah terhadap tsunami pada tingkat desa secara berurutan dari tertinggi hingga terendah adalah Desa Bayah Barat, Desa Sawarna, Desa Darmasari, dan terakhir Desa Sawarna Timur.

ABSTRACT
Bayah coastal area is one of the areas in south coast of Java Island which can be potentially affected by the tsunami caused by tectonic earthquake. The region vulnerability level towards tsunami is assessed based on aspects of exposure, sensitivity, and resilience by using the scoring and map overlay method based on grid which begins with the application of Analytical Hierarchy Process AHP method to determine the weight of each variables. The study area is located at an elevation of 0 25 meters above the sea level, administratively located in four villages in Bayah coastal area. This study aims to analyze vulnerability pattern towards tsunami using spatial and descriptive analysis. This study shows that region vulnerability pattern towards tsunami in Bayah Coastal Area is increasing from the coast lead up to settlements and concurrently decreasing with the enhancement of elevation and distance from coast. The region vulnerability towards tsunami in study area is dominated by moderate vulnerability area which encompasses 65,59 of the total study area. Moderate vulnerability area is known for low to moderate exposure, moderate to high sensitivity and low to moderate resilience. The low vulnerability area is about 32,05 of the total study area and the high vulnerability area is about 2,36 of the total study area. Region vulnerability towards tsunami at village level in sequence from highest to lowest is Bayah Barat, Sawarna, Darmasari, and lastly Sawarna Timur."
2017
S67773
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>