Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 42 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Alifah Fauzia Arifin
"Masalah kualitas air dapat dipengaruhi oleh sifat mikrobiologi, maupun parameter-parameter fisika dan kimia. Secara umum kontaminasi kualitas air oleh mikroba, dapat terkait dengan penyakit yang ditularkan melalui air dan merupakan jenis kontaminasi paling umum yang menyebabkan penyakit di konsumen IWS. Untuk itu, perlu ada pemeriksaan pada beberapa parameter air seperti parameter TDS, kekeruhan, total coliform, dan e.coli. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter kekeruhan dan TDS dibawah baku mutu sedangkan parameter pH terdapat beberapa sampel yang dibawah baku mutu. Pada parameter total cliform dan E.coli parameter sampel tidak memenuhi baku mutu.

Water quality problems can be influenced by microbiological properties, as well as physical and chemical parameters. In general, contamination of water quality by microbes, can be associated with waterborne diseases and is the most common type of contamination that causes illness in IWS consumers. For this reason, it is necessary to check several water parameters such as TDS parameters, turbidity, total coliforms and e.coli. The test results show that the turbidity and TDS parameters are below the quality standard, while the pH parameter in several samples is below the quality standard. For total cliform and E.coli parameters, the sample parameters do not meet quality standards."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilia Insani
"Indonesia, sebagai negara kepulauan, sangat bergantung pada sumber daya air permukaan dan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, perubahan iklim global yang semakin ekstrem, seperti kenaikan muka air laut dan perubahan pola curah hujan, mengakibatkan peningkatan risiko bencana iklim, mengancam kualitas dan kuantitas pasokan air, terutama di daerah perdesaan yang masih minim akses air bersih. Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menginisiasi program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap air minum dan sanitasi. Selain akibat risiko iklim, ada kekhawatiran mengenai ketidaksetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) dalam pengelolaan PAMSIMAS. Kelompok-kelompok marjinal harusnya terlibat aktif dalam program ini agar keberlanjutan PAMSIMAS dapat tercapai. Penelitian ini dilakukan menggunakan perangkat yang dikembangkan dari kerangka ketahanan iklim milik BAPPENAS untuk program penyediaan air minum. Penelitian bertujuan untuk menganalisis tingkat ketahanan PAMSIMAS terkait ketahanan iklim dan GEDSI, serta untuk mengidentifikasi peluang peningkatan ketahanan PAMSIMAS, khususnya di Kota Dumai yang termasuk ke dalam salah satu daerah prioritas bencana iklim menurut BAPPENAS. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa PAMSIMAS di Dumai memiliki kinerja yang bervariasi dalam menghadapi tantangan iklim. Meskipun mampu menilai risiko dengan baik, masih terdapat ketidakselarasan dengan inisiatif iklim dan bencana serta keterbatasan dalam akses terhadap teknologi dan SDM yang ahli terkait iklim. Selain itu, peran perempuan dalam PAMSIMAS masih terbatas hanya dalam tugas terkait administrasi, dan tidak diikutsertakan dalam rapat pengambilan keputusan. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan PAMSIMAS dan Kota Dumai terhadap perubahan iklim dan pengarusutamaan GEDSI, meliputi peningkatan koordinasi dengan lembaga terkait, pengembangan kebijakan yang inklusif, peningkatan akses terhadap dana responsif, dan pelibatan aktif kelompok marjinal dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program. Hal ini bisa dimaksimalkan dengan melakukan pemantauan dan evaluasi berbasis ketahanan iklim dan GEDSI menggunakan RWS-MAT.

Indonesia, as an archipelagic nation, heavily relies on surface water and groundwater resources to meet daily needs. However, the increasingly extreme global climate change, such as rising sea levels and shifting rainfall patterns, heightens the risk of climate disasters, threatening water quality and quantity, particularly in rural areas with limited access to clean water. The government, through the Ministry of Public Works and People's Housing (PUPR), initiated the PAMSIMAS program to enhance rural access to drinking water and sanitation. Gender inequality, disabilities, and social inclusion (GEDSI) concerns in PAMSIMAS management highlight the need for active participation of marginalized groups to ensure program sustainability. This research, utilizing tools from BAPPENAS' climate resilience framework for water supply programs, aims to analyze PAMSIMAS resilience concerning climate and GEDSI, identifying opportunities for improvement, especially in Dumai City, a priority area for climate disasters according to BAPPENAS. Findings reveal varied performance of PAMSIMAS in Dumai in facing climate challenges. While capable of risk assessment, there's inconsistency with climate initiatives and limited access to climate-related technology and expertise. Additionally, the role of women in PAMSIMAS is limited to administrative tasks and is not included in decision-making. Therefore, strategic steps are needed to enhance PAMSIMAS and Dumai City's resilience to climate change and mainstreaming of GEDSI, including improved coordination with relevant agencies, development of inclusive policies, increased access to responsive funding, and active involvement of marginalized groups in program implementation. This can be maximized by conducting climate resilience and GEDSI-based monitoring and evaluation using RWS-MAT."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Garin Faras Hamdani
"Produksi dari kegiatan agrikultura sangat bergantung akan ketersediaan sumber daya fosfor yang berperan penting bagi pertumbuhan tanaman. Penggunaan pupuk fosfor berkonsentrasi tinggi telah menjadi praktik terus-menerus yang dapat mengancam cadangan fosfor yang merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Namun di sisi lain, fosfor merupakan salah satu polutan utama dalam perairan yang pada akhirnya mengakibatkan tingginya kandungan fosfor pada lumpur di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pemulihan fosfor dari lumpur aktif IPAL kemudian menjadi opsi potensial yang dapat dilakukan untuk mengembalikan ketersediaan fosfor di dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efisiensi pemulihan fosfor dari lumpur aktif melalui proses fermentasi. Didapatkan hasil bahwa fermentasi dapat melepaskan fosfor terlarut dengan nilai tertinggi pada hari ketiga percobaan, yaitu sebesar 39,12 mg/L atau setara dengan 6% dari fosfor total dalam sampel. Nilai tersebut masih berada di bawah efisiensi pelepasan fosfor pada umumnya yang mungkin diakibatkan oleh tingginya kandungan logam pada sampel. Sehingga diperlukan pre-treatment pada sampel agar efisiensi pelepasan fosfor meningkat, salah satu caranya adalah melakukan fermentasi asam. Produksi Volatile Fatty Acid (VFA) dari lumpur aktif melalui proses fermentasi juga dicari tahu sehingga diketahui proses fermentasi dapat memproduksi VFA sebesar 1483,216 mg/L. Nilai tersebut berada pada rentang produksi VFA yang umumnya terjadi melalui fermentasi lumpur aktif.

Production from agricultural activities is highly dependent on the availability of phosphorus resources which play an important role for plant growth. The use of high concentrations of phosphorus fertilizers has been an ongoing practice that can threaten phosphorus stocks which are non-renewable resources. But on the other hand, phosphorus is one of the major pollutants in waters which eventually results in high phosphorus content in the sludge at the Waste Water Treatment Plant (WWTP). Phosphorus recovery from WWTP activated sludge then becomes a potential option that can be carried out to restore phosphorus availability in the world. The objective of this study is to analyze the efficiency of phosphorus recovery from waste activated sludge through anaerobic fermentation process. It was found that fermentation can release dissolved phosphorus with the highest value on the fourth day of the experiment at 39.12 mg/L which is equivalent to 6% of the total phosphorus in the sample. This value is still below the efficiency of phosphorus release in general, which may be due to the high metal content in the sample. So that pre-treatment of sludge is needed so that the efficiency of phosphorus release increases, one method that is well suited to do is to conduct acid fermentation. Volatile Fatty Acid (VFA) production from activated sludge through the fermentation process was also investigated, and it was found that the fermentation process could produce VFA of 1483.216 mg/L. This value is within the range of VFA production that generally occurs through activated sludge fermentation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anindya Prabaningrum Tantoro
"Fosfor (P) merupakan salah satu mineral dalam limbah kotoran manusia yang kurang dimanfaatkan. Tidak ada prioritas global untuk memastikan aksesibilitas fosfor yang cukup di masa mendatang sehingga perlu adanya pemulihan atau daur ulang fosfor, salah satunya ialah melalui proses fermentasi secara anaerobik untuk dipergunakan kembali sebagai produk agrikultur berupa pupuk. Dalam pengolahan anaerobik, proses fermentasi akan menghasilkan produk berupa volatile fatty acid (VFA) yang dapat diaplikasikan dalam produksi bioplastik, bioenergi, dan penyisihan nutrien dari limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pelepasan fosfor dan produksi VFA dari lumpur tinja melalui proses fermentasi. Penelitian didahului dengan pengujian ICP-OES untuk mengidentifikasi karakteristik lumpur tinja, kemudian proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan reaktor batch selama delapan (8) hari. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kondisi optimum pelepasan fosfor dan produksi VFA berada pada hari ke-8 fermentasi dengan perolehan konsentrasi fosfor terlarut sebesar 52,02 mg/L, persentase P-release sebesar 6%, dan konsentrasi VFA sebesar 1.351,35 mg/L. Pelepasan fosfor dipengaruhi oleh keberadaan bakteri asidogenik dalam reaktor dapat melepaskan fosfor sekaligus memproduksi VFA. Produksi VFA dan pH, kandungan logam berat, serta bahan organik kompleks juga memengaruhi pelepasan fosfor seiring berjalannya proses fermentasi yang terbukti dengan adanya tren peningkatan dan penurunan konsentrasi fosfor selama penelitian berlangsung.

Phosphorus (P) is one of the underutilized minerals in human waste. There is no global priority to ensure sufficient phosphorus accessibility in the future, necessitating phosphorus recovery or recycling. One method for this is through anaerobic fermentation to be reused as agricultural products like fertilizers. In anaerobic treatment, the fermentation process also produces volatile fatty acids (VFAs), which can be applied in the production of bioplastics, bioenergy, and nutrient removal from waste. This study aims to identify phosphorus release and VFA production from fecal sludge through fermentation. The study began with ICP-OES testing to identify the characteristics of fecal sludge, followed by an eight-day batch reactor fermentation process. The experimental results showed that the optimal conditions for phosphorus release and VFA production were on the 8th day of fermentation, with a dissolved phosphorus concentration of 52.02 mg/L, a P-release percentage of 6%, and a VFA concentration of 1,351.35 mg/L. Phosphorus release was influenced by the presence of acidogenic bacteria in the reactor, which release phosphorus while producing VFAs. VFA production, pH, heavy metal content, and complex organic matter also affected phosphorus release throughout the fermentation process, as evidenced by the trends of increasing and decreasing phosphorus concentrations observed during the study."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fillia Rezki Fajri
"Industri air limbah wine menghasilkan air limbah yang memiliki karakteristik tinggi kandungan organik serta pH bersifat asam. Pengolahan konvensional dalam mengolah air limbah industri wine sangat kompleks, sehingga membutuhkan penanganan secara khusus. Saat ini, terdapat teknologi pengolahan yang sesuai dengan karakteristik air limbah wine yaitu proses oksidasi Fenton dan teknologi membran. Teknologi membran memiliki ukuran pori yang berbeda-beda, saat ini banyak pemanfaatan membran jenis nanofiltrasi dalam pengaplikasian pengolahan limbah industri. Membran nanofiltrasi memiliki kemampuan yang mirip dengan reverse osmosis yang dapat menyisihkan kandungan bahan organik serta anorganik. Proses filtrasi pada penelitian ini dilakukan secara konstan fluks dengan variasi fluks 40 LMH, 50 LMH, dan 60 LMH. Hasil penyisihan COD, besi, dan warna pada fluks 40 LMH, 50 LMH, dan 60 LMH secara berturut-turut adalah 64% ; 93%; 100%, 75%; 93% ; 100%, dan 76%; 94%; 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan paling efektif pada fluks 60 LMH. Namun fluks 60 LMH rentan mengalami fouling yang menyebabkan permeabilitas menurun seiring berjalannya waktu. Selain itu, reversibility pada kondisi pengoperasian fluks 60 LMH didominasi oleh jenis irreversible fouling, sehingga proses mechanical backwash tidak cukup untuk mengembalikan performa membran dan membutuhkan chemical cleaning.

The wine wastewater industry produces wastewater that is characterized by high organic content and an acidic pH. Conventional processing of wine industry wastewater is very complex, so it requires special handling. Currently, there are processing technologies that suit the characteristics of wine wastewater, namely the Fenton oxidation process and membrane technology. Membrane technology has different pore sizes, currently many nanofiltration type membranes are used in industrial waste processing applications. Nanofiltration membranes have capabilities similar to reverse osmosis which can remove organic and inorganic materials. The filtration process in this study was carried out at constant flux with flux variations of 40 LMH, 50 LMH, and 60 LMH. The COD, iron and color removal results at fluxes of 40 LMH, 50 LMH and 60 LMH respectively were 64%; 93%; 100%, 75%; 93% ; 100%, and 76%; 94%; 100%. The results showed that the removal efficiency was most effective at a flux of 60 LMH. However, 60 LMH flux is susceptible to fouling which causes permeability to decrease over time. Apart from that, reversibility at 60 LMH flux operating conditions is dominated by irreversible fouling, so the mechanical backwash process is not enough to restore membrane performance and requires chemical cleaning."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rizky Ananda
"Gedung i-CELL FTUI merupakan salah satu fasilitas di lingkungan kampus Universitas Indonesia yang menyandang predikat bangunan hijau dan telah tersertifikasi EDGE Advanced melalui strategi konservasi air seperti pengumpulan air hujan dan penggunaan fitur hemat air. Akan tetapi, masih ada potensi sumber air alternatif lain yang belum dimanfaatkan, seperti daur ulang kondensat AC dan grey water. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kesesuaian potensi strategi konservasi air terhadap kriteria konservasi air untuk bangunan hijau; (2) menganalisis strategi konservasi air eksisting dan potensi kuantitas grey water sebagai sumber air alternatif; dan (3) menganalisis potensi air kondensat AC sebagai sumber air alternatif. Pada penelitian ini, kesesuaian kriteria konservasi air ditinjau berdasarkan perangkat penilaian Greenship New Building Versi 1.2 dan Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021. Pengukuran dan pengujian untuk sampel kondensat dan air hujan dilakukan dengan parameter kualitas yang merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. Selain itu juga akan dilakukan analisis data sekunder untuk perhitungan timbulan grey water. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan flushing memiliki potensi pengumpulan hingga 91.870 L/bulan dan sebagian besar parameter memenuhi baku mutu, kecuali pH dan besi. Selain itu, seluruh fitur air memiliki keluaran air yang lebih rendah dari standar Greenship dengan potensi timbulan grey water sebesar 90.144 L/bulan. Pada kondensat AC, kombinasi kedua sistem AC sentral dan split dapat menghasilkan kondensat hingga 2.805,2 L/bulan dengan kualitas yang telah memenuhi baku mutu. Analisis kesesuaian konservasi air terhadap kriteria Greenship memenuhi lima dari enam parameter dan memperoleh 18 poin. Sedangkan pada kriteria Permen PUPR No. 21 Tahun 2021, memenuhi seluruh parameter dan memperoleh 12 poin. Secara keseluruhan, kombinasi pemanfaatan kondensat AC dan grey water dapat mengurangi hingga 59,75% pemakaian sumber air primer yang saat ini telah dibantu dengan pemanfaatan air hujan.

The i-CELL FTUI building is one of the facilities on Universitas Indonesia that holds the title of green building and has been certified EDGE Advanced through water conservation strategies such as rainwater collection and the use of water-saving fixtures. However, there is still potential for other untapped alternative water sources, such as AC condensate recycling and grey water. This study aims to (1) analyze the conformity of potential water conservation strategies to the water conservation criteria for green buildings; (2) analyze the existing water conservation strategies and potential quantity of grey water as an alternative water source; and (3) analyze the potential of AC condensate water as an alternative water source. In this study, a review on the conformity of water conservation criteria is conducted based on the Greenship New Building Version 1.2 assessment tool and Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021. Laboratory measurements and tests were carried out for condensate and rainwater samples with quality parameters referring to the Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. In addition, secondary data analysis will also be carried out for the calculation of grey water generation. The results show that rainwater utilization for flushing needs has a collection potential of up to 91,870 L/month and most parameters meet quality standards, except pH and iron. In addition, all water features have a lower water output than the Greenship standard with a potential grey water generation of 90,144 L/month. For AC condensate, the combination of both central and split AC systems can produce up to 2,805.2 L/month of condensate with quality that complies with quality standards. Analysis of the conformity of water conservation to Greenship criteria fulfils five of the six parameters and achieves 18 points. Meanwhile, the criteria of Permen PUPR No. 21 of 2021 fulfil all parameters and achieve 12 points. Overall, the combined use of AC condensate and grey water can reduce up to 59.75% of the use of primary water sources, which is currently aided by the use of rainwater."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kautsar Muhammad Iqbal
"Perubahan iklim mengancam ketersediaan dan kualitas air minum, terutama di daerah pedesaan Indonesia, sehingga dapat memengaruhi ketercapaian SDG 6. Inisiatif untuk menyediakan air minum bagi daerah pedesaan dan peri-urban dilakukan melalui penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAS). Penelitian terkait PAMSIMAS saat ini memiliki fokus terhadap aspek teknis dan non-teknis yang berkaitan dengan keberlanjutan layanan sehingga adanya limitasi informasi terkait ketahanan atau resiliensi PAMSIMAS dalam menghadapi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menilai resiliensi PAMSIMAS menggunakan kerangka How Tough is WASH (HTIW) melalui enam dimensi dan melibatkan 16 PAMSIMAS di Bengkalis, Cianjur, dan Dumai melalui FGD, wawancara, observasi, analisis geospasial, dan studi literatur. Penelitian ini menemukan bahwa PAMSIMAS memiliki tingkat ketahanan dan prioritas sedang terhadap perubahan iklim, dengan skor total 16 dari 30. Bengkalis menjadi lokasi dengan tingkat prioritas aksi tertinggi yang memiliki skor 7 dari 30, sementara Dumai dan Cianjur memiliki prioritas menengah dengan skor 17 dari 30. Penelitian ini juga menemukan perlunya peningkatan ketahanan dalam aspek dukungan institusi, manajemen pelayanan, dan infrastruktur sebagai prioritas utama, rantai pasokan dan tata kelola masyarakat sebagai prioritas kedua, dan lingkungan sebagai prioritas terakhir. Di samping hal tersebut, penelitian ini juga menemukan perlunya mempertahankan inisiatif dalam mendukung resiliensi, seperti intergasi aspek budaya lokal dalam manajemen komunitas sehingga memiliki tingkat kohesi sosial dan inklusivitas yang baik. Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif dalam dimensi penilaian sehingga inisiatif peningkatan resiliensi dapat dilakukan secara holistik dan simultan. Untuk itu, penelitian ini merekomendasikan aksi yang terbagi dalam beberapa aspek, yaitu peningkatan aspek data dan informasi, perluasan sumber pendanaan, pengoptimalan tata kelola antara pemangku kepentingan, pengembangan kapasitas KPSPAMS, serta ekspansi jangkauan inovasi, selaras dengan kerangka akselerasi SDG 6.

Climate change threatens the availability and quality of drinking water supply, especially in Indonesia’s rural areas, hindering the achievement of SDG 6. The current initiative to provide clean drinking water for the rural and peri-urban areas is through a community-led water supply (PAMSIMAS). While current PAMSIMAS research focuses on the technical and non-technical aspects of service continuity, limited information is available on its resiliency to climate change. This study aims to assess the resiliency of PAMSIMAS using the How Tough is WASH (HTIW) framework with six different domains and involved 16 PAMSIMAS in Bengkalis, Cianjur, and Dumai through FGD, interview, site observation, geospatial analysis, and literature study. This study found that PAMSIMAS has a medium level of resiliency and priority to climate change, with a total score of 16 out of 30, aggregated from all study locations. Bengkalis scored 7 out of 30, making it the highest priority location for action. In contrast, Dumai and Cianjur have a score of 17 out of 30, making it a medium priority. This study also found that significant improvements to enhance climate resiliency are needed in several areas, focusing on aspects such as institutional support, service management, and infrastructure as the priority, supply chain, and community governance as the second priority, and the environment as the last priority. In addition, this study also found the need to maintain initiatives in supporting PAMSIMAS climate-resilience, such as the integration of local cultural aspects in community management to have a good level of social cohesion and inclusivity. This study also found a positive correlation in several assessment dimensions, implying that initiatives to improve resiliency should be carried out holistically and simultaneously. Hence, this study also recommends improvement programs focusing on robust data and information, expanding the PAMSIMAS financing source, improving governance between stakeholders, optimizing KPSPAMS capacity development, and enhancing innovation, in line with SDG 6 acceleration framework."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elgrytha Victoria Tybeyuliana
"Sungai Ciliwung merupakan sumber air bersih untuk wilayah sekitarnya, akan tetapi, ditemukan mikroplastik yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan pada air sungai alirannya berasal dari saluran input. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan mikroplastik, karakteristik mikroplastik berdasarkan jenis, material, dan warna, serta pengaruh waktu terhadap kelimpahan partikel mikroplastik di aliran input Sungai Ciliwung. Untuk menganalisis kelimpahan dan karakteristik mikroplastik, digunakan metode metode National Oceanic and Atmosphere Administration (NOAA) dan FTIR. Sedangkan, untuk menguji pengaruh waktu terhadap kelimpahan mikroplastik, dilakukan analisis t-test dependent (paired). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik di aliran input Sungai Ciliwung bernilai antara 668—1918 partikel/liter dengan rata-rata 1273,64 partikel/liter dan jumlah yang fluktuatif di setiap titik pengambilan sampel. Bentuk yang ditemukan pada partikel mikroplastik adalah 93% fragment, serta fiber, microbeads, film, dan foam dalam jumlah kecil. Warna yang ditemukan adalah 37% transparan, 32% merah, 23% hitam, serta biru, hijau, dan kuning dalam jumlah sedikit. Dari hasil uji material, ditemukan polimer, Polyvinyl formal (PVFM), Poly vinylchloride (PVC), PVC Film (PVC-DR), dan Soft PVC (PVC2). Waktu berpengaruh pada kelimpahan mikroplastik dalam rentang musim serta hari kerja dan akhir pekan. 

The Ciliwung River is a source of clean water for the surrounding area; however, microplastics that are harmful to the environment and health are found in the river water, which flows from the input channel. This research aims to analyze the abundance of microplastics, the characteristics of microplastics based on type, material, and color, as well as the effect of time on the abundance of microplastic particles in the Ciliwung River input stream. The National Oceanic and Atmosphere Administration (NOAA) and FTIR methods were used to analyze the abundance and characteristics of microplastics. Meanwhile, to test the effect of time on the abundance of microplastics, a t-test-dependent (paired) analysis was performed. The results showed that the abundance of microplastics in the input stream of the Ciliwung River was between 668-1918 particles/liter, with an average of 1273.64 particles/liter and the amount fluctuated at each sampling point. The form found in microplastic particles is 93% fragments and small amounts of fibers, microbeads, films, and foam. The colors were 37% transparent, 32% red, 23% black, and small amounts of blue, green, and yellow. From the results of the material test, Tencel, Polyvinyl formal (PVFM), Polyvinylchloride (PVC), PVC Film (PVC-DR), and Soft PVC (PVC2) were found. Timing influences the abundance of microplastics over a range of seasons, as well as weekdays and weekends."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ailsa Ulfa Indrianing Hapsari
"IPAL Rumah Sakit Universitas Indonesia sudah lama mengalami tantangan dalam menyisihkan kandungan fenol yang sering melebihi baku mutu. Anomali nilai COD pada penelitian sebelumnya dan kecenderungan efluen yang lebih tinggi dibandingkan influen mengharuskan COD sebagai parameter yang juga membutuhkan perhatian. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis teknologi pengolahan air limbah potensial berdasarkan kajian literatur dan kondisi eksisting IPAL; (2) Menganalisis konsentrasi fenol dan COD di sump pit, netralisasi, sterilisasi, grease trap, inlet, dan outlet IPAL; dan (3) mengevaluasi efektivitas penyisihan fenol dan COD teknologi terpilih dengan simulasi laboratorium. Penelitian ini menggunakan decision matrix untuk memilih lima teknologi potensial (adsorpsi, fotokatalisis, fitoremediasi, ion exchange, dan chemical precipitation). Hasil menunjukkan teknologi yang terpilih adalah adsorpsi dan chemical precipitation. Kemudian, hasil sampling menyatakan bahwa sumber konsentrasi fenol tertinggi adalah toilet (sump pit) sebesar 0.258 mg/L. Eksperimen jar test dilakukan dengan dosis yang berbeda, baik untuk FeCl3 (40, 80, 120, 160, dan 200 mg/L), maupun PAC (0.09, 0.18, 0.45, 0.90, dan 1.80 g/L). Pengadukan cepat (40 rpm) dan lambat (120 rpm) masing - masing dilakukan selama 1 menit dan 20 menit untuk chemical precipitation, sedangkan pengadukan sebesar 150 rpm selama 3 jam untuk adsorpsi. Sampel dianalisis, ketika waktu pengendapan mencapai 15 menit (chemical precipitation) dan 30 menit (adsorpsi). Simulasi menunjukkan dosis optimum (160 mg/L) FeCl3 mampu menyisihkan 68% fenol dan 43.6% COD. Sedangkan adsorpsi mengungkapkan bahwa PAC pada dosis optimum 1.8 g/L mengeradikasi fenol (92%) dan COD (70%). Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa adsorpsi merupakan teknologi potensial terbaik untuk IPAL Rumah Sakit Universitas Indonesia.

Universitas Indonesia Hospital WWTP has long experienced challenges in removing phenol content which often exceeds quality standards. The anomaly in the COD value in previous studies, as well as the tendency for the effluent to be higher than the influent which requires COD to be a parameter that also needed attention. For this reason, research was carried out on optimizing phenol and COD levels in WWTP RSUI. This study aims to (1) analyze the potential wastewater treatment technology based on a review of the literature and the existing WWTP conditions; (2) Analyze the concentration of phenol and COD in the sump pit, neutralization, sterilization, grease trap, inlet and outlet of WWTP; and (3) evaluating the phenol and COD removal effectiveness of the selected technology with laboratory simulations. This study uses a decision matrix to select five potential technologies (adsorption, photocatalysis, phytoremediation, ion exchange, and chemical precipitation). The results show that the technology that has been selected through a decision matrix are adsorption and chemical precipitation. Jar test experiments were carried out with different doses, both for FeCl3 (40, 80, 120, 160, and 200 mg/L), and PAC (0.09, 0.18, 0.45, 0.90, and 1.80 g/L). Rapid (40 rpm) and slow (120 rpm) mixing were carried out for 1 minute and 20 minutes respectively for chemical precipitation, while mixing at 150 rpm for 3 hours for adsorption. Samples were analyzed, when the settling time reached 15 minutes (chemical precipitation) and 30 minutes (adsorption). Simulation of the optimum dose (160 mg/L) of FeCl3 was able to remove 68% phenol and 43.6% COD. While adsorption revealed that PAC at the optimum dose of 1.8 g/L eradicated phenol (92%) and COD (70%). Overall, it can be said that adsorption is the best potential technology for Universitas Indonesia Hospital WWTP."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iftia Priandhini Aziza
"Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Indonesia khususnya di Kabupaten Bogor dikelola oleh Perumda Air Minum Tirta Kahuripan. Seiring berjalannya waktu penyelenggaraan SPAM memerlukan pengembangan. Oleh karena itu, diperlukannya evaluasi dan pengembangan jaringan distribusi. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting jaringan distribusi pada aspek kuantitas, kualitas, dan kontinuitas di Perumahan Cipta Graha Permai; menganalisis parameter hidrolik menggunakan aplikasi EPANET 2.2 dengan skenario pengembangan jumlah penduduk Perumahan Cipta Graha Permai serta pengembangan jaringan distribusi Perumahan Emerald City; memodelkan sisa klor di jaringan distribusi di aplikasi EPANET 2.2. Metode yang digunakan dalam evaluasi dan pengembangan jaringan distribusi berdasarkan proyeksi penduduk model logistik dengan standar kebutuhan air sebesar 100 L/Orang/Hari. Untuk mengevaluasi dan memodelkan kualitas air berdasarkan penelitian di lapangan. Evaluasi kualitas air mengacu pada Peraturan Kementerian Kesehatan RI. Untuk evaluasi dan pengembangan jaringan distribusi mengacu pada Peraturan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI. Berdasarkan evaluasi kondisi eksisting, kuantitas pendistribusian air sebesar 1,79 L/detik. Untuk kualitas air parameter kekeruhan sebesar 0,36 NTU; 0,26 NTU; 0,16 NTU; 0,85 NTU, total koliform dan E. Coli sebesar 0 jumlah per 100 ml sampel. Konsentrasi sisa klor di reservoir sebesar 0,12 mg/L dan di masing-masing Sambungan Langsung (SL) sebesar 0,06 mg/L; 0,03 mg/L; 0,05 mg/L. Secara kontinuitas, pendistribusian air telah didistribusikan selama 24 jam. Hasil analisis parameter hidrolik di EPANET 2.2 tekanan dan kecepatan dalam pipa di Perumahan Cipta Graha Permai sebesar 0,3 m; 0,01 m/detik sedangkan di Perumahan Emerald City sebesar 0,3 m; 0,01 m/detik. Berdasarkan permodelan sisa klor di jaringan distribusi eksisting di sepanjang jaringan sebesar 0,12 mg/L. Dari hasil evaluasi kondisi eksisting pendistribusian air sudah memenuhi baku mutu secara kuantitas dan kontinuitas. Namun, pada aspek kualitas sisa klor di SL belum memenuhi baku mutu. Dari analisis parameter hidrolik belum memenuhi kriteria desain pipa distribusi. Berdasarkan permodelan sisa klor tidak adanya penurunan konsentrasi di sepanjang jaringan pipa.

The drinking water supply system (SPAM) in Indonesia, especially in Bogor district, is managed by the Tirta Kahuripan Drinking Water Company. As time goes by, SPAM maintenance needs development. Therefore, it is necessary to evaluate and develop the distribution network. The study aims to identify the existing conditions of the distribution network in terms of quantity, quality, and continuity in the Cipta Graha Permai Housing; analyze the hydraulic parameters using the EPANET 2.2 application with the development scenario of the number of people in Cipta Graha Permai Housing as well as the development of the Emerald City Housing Distribution Network; model the residues of chlorine in the distribution network in EPANET 2.2. The method used in evaluating and developing the distribution network is based on the population projections of the logistic model with the standard water needs of 100 L / Person / Day. To evaluate and model water quality based on field research. Water quality assessment refers to the Rules of the Ministry of Health RI. For evaluating and developing the distribution network, refer to the Ministry of Public Works and People's Housing RI Regulations. Based on the assessment of existing conditions, the amount of water distribution was 1.79 l/second. For water quality, the hardness parameters are 0.36 NTU; 0.26 NTU; 0.16 NTU; and 0.85 NTU. Coli is 0 quantity per 100 ml sample. The residual chlorine concentration in the reservoir was 0.12 mg/L, and each Direct Connection (SL) was 0.06 mg / L; 0.03 mg / l; 0.05 mg/l. Continuously the water distribution has been distributed over 24 hours. The result of the analysis of hydraulic parameters in EPANET 2.2 pressure and speed in the pipe in Cipta Graha Permai Housing was 0.3 m; 0.01 m / second, while in Emerald City Housing, 0.3m; 0.01 m / second. Based on the modelling of chlorine residues in network distribution existing along the network of 0.12 mg/L. From assessing existing conditions, the water distribution has fulfilled the quality standards in quantity and continuity. However, in terms of quality, residual chlorine in SL has not fulfilled the quality standards. The analysis of the hydraulic parameters did not fulfil the design criteria of the distribution pipe. Based on the residual chlorine model, there was no decrease in concentration along the pipeline."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>