Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 82 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jeremia Agung Ananta
"Makalah ilmiah akhir ini mengupas tuntas dilema etik yang saya rasakan sebagai reporter magang kanal showbiz PT Liputan Enam Dot Com melalui metode autoetnografi. Sebagai mahasiswa antropologi, saya memahami pentingnya kehadiran etik untuk menjaga interaksi antar individu yang ideal, tak terkecuali dalam konteks dunia profesional. Jurnalistik showbiz pun merupakan salah satu bidang pekerjaan yang memiliki serangkaian kode etik yang bersifat wajib untuk dipatuhi oleh tiap jurnalis sebagai bentuk profesionalisme. Akan tetapi dalam praktiknya, saya selaku reporter magang menemukan bahwa terdapat banyak hal dalam industri media kanal showbiz yang tidak sesuai dengan kode etik dan nilai-nilai yang saya genggam. Saya juga turut diperhadapkan dengan dinamika kekuasaan di lingkungan kerja yang membatasi saya dalam bertindak dan berpendapat, sehingga memicu dilema etik yang signifikan. Situasi ini kian diperumit oleh peran ganda saya sebagai mahasiswa antropologi dan reporter magang kanal showbiz. Antropologi membekali saya kesadaran penuh terhadap etik untuk memahami kompleksitas manusia dalam konteks sosial dan budaya mereka masing-masing. Sebaliknya dalam peran saya sebagai reporter magang kanal showbiz, terdapat orientasi untuk meraih engagement setinggi-tingginya yang seringkali menuntut saya untuk melampaui batas etik para publik figur. Refleksi yang ditulis pun merupakan usaha saya untuk mengungkap dilema etik sebagai sesuatu yang cenderung tidak bisa dihindari dalam dunia profesional. Makalah ilmiah akhir ini diharapkan mampu memberikan wawasan bagi orang-orang yang mengalami problema serupa untuk menegosiasikan dan menghargai dinamika dilema etik sebagai sarana pengembangan diri.

This final scientific paper thoroughly explores the ethical dilemma that I felt as a reporter intern for PT Liputan Enam Dot Com's showbiz channel through the autoethnographic method. As an anthropology student, I understand the importance of ethics to maintain ideal interactions between every individual, including in the context of the professional world. Showbiz journalism is one of the fields of work that has a series code of ethics that are mandatory for each journalist to comply with as a form of professionalism. However, in practice, as a reporter intern I found that there are many things in the showbiz media industry that are not in accordance with the code of ethics and values that I hold dearly. I was also confronted with power dynamics in my work environment that restricted my actions and opinions, triggering significant ethical dilemmas. This situation was further complicated by my dual role as an anthropology student and showbiz channel reporter intern. Anthropology equipped me with the ethical awareness to understand the complexity of humans in their respective social and cultural contexts. On the other hand, in my role as reporter intern for the showbiz channel, there is an orientation to achieve the highest engagement that often requires me to go beyond the ethical limits of public figures. The reflections written here are my attempt to uncover ethical dilemmas as something that tends to be inevitable in the professional world. This final scientific paper is expected to provide insights for people who experience similar problems to negotiate and appreciate the dynamics of ethical dilemmas as a process of self-development.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kamila Meilina
"Makalah ini mengeksplorasi penerapan konsep antropologis dalam proses produksi berita, dengan fokus pada perspektif emik dan etik. Dalam proses magang sebagai reporter televisi di NET TV, penerapan konsep antropologis seperti wawancara mendalam, observasi langsung, dan penggunaan perspektif narasumber, diadaptasi untuk memberikan wawasan yang lebih kaya dan kontekstual dalam produksi berita. Dalam hal ini, pendekatan emik dan etik memberikan perspektif yang berimbang, memungkinkan pembuat berita memahami sudut pandang dari dalam suatu konteks budaya (emik) dan menyelaraskan interpretasi mereka dengan interpretasi dari luar (etik). Dalam konteks produksi berita, kombinasi pendekatan emik-etik dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana nilai-nilai budaya, norma, dan latar belakang sosial memengaruhi seleksi, penyajian, dan interpretasi kisah narasumber. Metode ini diterapkan terutama pada proses liputan berita tipe magazine news, khususnya dalam segmen Fakta Baik di acara Fakta+62 NET TV Meskipun begitu, penerapan konsep ini tidak selalu ideal; saya sebagai mahasiswa magang dan reporter, sering menghadapi dilema dalam pengolahan data liputan yang harus menyesuaikan idealisme dengan alur kerja media, mempertimbangkan produser, rating, dan minat masyarakat. Media yang mengutamakan akurasi, aktualitas, dan faktualitas menjadi wahana menyelaraskan perspektif emik-etik dengan proses kerja yang gesit. Pengalaman magang ini menunjukkan bahwa perspektif antropologis dalam jurnalistik memperkaya cerita dan membangun jembatan pemahaman antara berbagai budaya dan komunitas.

This paper explores the application of anthropological concepts in the news production process, focusing on emic and etic perspectives. During internship as a television reporter at NET TV, the application of anthropological concepts such as in-depth interviews, direct observation, and the use of source perspectives was adapted to provide richer and more contextual insights in news production. In this context, the emic and etic approaches offer balanced perspectives, enabling newsmakers to understand viewpoints from within a cultural context (emic) and align their interpretations with external perspectives (etic). In the context of news production, the combination of emic-etic approaches can provide a deeper understanding of how cultural values, norms, and social backgrounds influence the selection, presentation, and interpretation of news stories. This method is primarily applied in the magazine news coverage process, particularly in the Fakta Baik segment of the Fakta+62 NET program. However, the application of these concepts is not always ideal; as an intern and reporter, I often face dilemmas in processing coverage data that require balancing idealism with media workflow, considering producers' input, ratings, and public interest. Media that prioritize accuracy, timeliness, and factual reporting become a platform to align emic-etic perspectives with a more agile workflow. This study demonstrates that anthropological perspectives in journalism enrich stories and build bridges of understanding between diverse cultures and communities.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mochamad Ichsan Prayudhi
"Mahasiswa membutuhkan pemahaman dan cara pandang secara profesional untuk menyesuaikan diri dalam rangka menghadapi kehidupan pasca kampus atau dunia kerja. Mahasiswa dapat belajar bersikap profesional melalui program apa saja yang diikuti di luar kampus. Makalah ini bertujuan untuk memberikan contoh pembelajaran karakter profesional melalui keikutsertaan dalam program Kampus Mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah refleksi pengalaman penulis sebagai peserta Kampus Mengajar yang bertugas pada salah satu sekolah di Jakarta selatan. Penulis mempelajari dan menerapkan beberapa sikap baru dalam 4 (empat) bulan masa penempatan. Penulis menemukan beberapa cara yang dilakukan penulis saat enkulturasi, yaitu pengamatan penulis, praktek langsung, dan melalui nasihat orang lain. Penulis mengalami beberapa tahapan enkulturasi dimulai dengan imitasi dan identifikasi, dilanjutkan internalisasi dan eksternalisasi. Penulis mendapatkan hasil yaitu dapat memahami karakter adaptabilitas, kesabaran, tanggung jawab, terorganisir, dan siap tanggap. Karakter seperti ini dapat diimplementasikan ke dalam kegiatan yang diikuti penulis selanjutnya. Manfaat mengikuti Kampus Mengajar bagi penulis dan mahasiswa secara umum adalah mendapatkan skill baru yang membantu adaptasi dalam dunia pasca kampus.

College students need understanding and a professional perspective to adjust themselves in order to face post-campus life or the world of work. College students can learn to act professionally through any program they take part in off-campus. This paper aims to provide examples of professional character learning through participation in the Kampus Mengajar program. The research method used is a reflection of the author's experience as a Kampus Mengajar participant in charge of a school in South Jakarta. The author learns and applies several new attitudes in the 4 (four) months of the placement period. The author found several ways that the author did during enculturation, namely the author's observation, direct practice, and through other people's advice. The author goes through several stages of enculturation starting with imitation and identification, followed by internalization and externalization. The writer gets the results that are able to understand the character of adaptability, patience, responsibility, organization, and responsiveness.  Characters like this can be implemented into activities that are followed by the next writer. The benefits of joining the Kampus Mengajar for writers and college students in general are gaining new skills that help adaptation in the post-campus world."
2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nisita Izzadina
"Kesadaran masyarakat dan informasi mengenai kesehatan mental telah berkembang pesat. Reaksi yang ditimbulkan setelah merasakan adanya gangguan mental itu sendiri bisa jadi kompleks, salah satunya yaitu menyalurkannya menjadi estetika yang diunggah di internet. Penelitian ini mengulas lebih jauh bagaimana praktik dan dinamika yang terjadi dalam pengekspresian konten estetika gangguan mental di media sosial. Dilakukan analisis mengenai alasan yang melatarbelakangi subjek untuk mengunggah konten estetika gangguan mental di internet, batasan bentuk konten estetika gangguan mental yang diterima oleh warganet, serta dampak dari pengunggahan konten estetika gangguan mental di media sosial sebagai bentuk ekspresi. Penelitian ini menggunakan metode etnografi digital. Observasi dilakukan pada tiga media sosial yaitu Twitter, TikTok, dan Instagram, serta dilakukan wawancara kepada tujuh narasumber yang merupakan penyintas gangguan mental yang pernah melihat konten estetika gangguan mental di media sosial, tiga di antaranya turut mengunggah konten estetika gangguan mental. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa alasan informan mengunggah konten estetika gangguan mental di media sosial yaitu untuk ekspresi diri. Praktik pengunggahan yang dilakukan oleh penyintas ini juga menunjukkan adanya agensi, serta tindakan pengunggahan konten dipengaruhi oleh perkembangan internet. Mengenai batasan, terdapat ambivalensi yang terjadi dalam pandangan terhadap penggunaan estetika dalam pengekspresian gangguan mental di media sosial. Pada praktik ini, terdapat dampak positif maupun negatif bagi warganet maupun pengunggah konten.

Nowadays, public awareness and information about mental health has grown rapidly. The reaction towards mental illness itself can be complex, one of which is channeling it into an aesthetic that is uploaded on the internet. This research attempts to understand the practices and dynamics that occur in the expression of aesthetic content of mental illness on social media. In this regard, an analysis was carried out on the reasons for uploading aesthetic content of mental illness on the internet, the limitations of the forms of aesthetic content of mental disorders that would be accepted by netizens, and the impact of uploading aesthetic content of mental illness on social media as a form of expression. This research uses digital ethnographic methods. Observations were made on three social media, namely Twitter, TikTok, and Instagram, and interviews were also conducted with seven interviewees who are survivors of mental illness who have seen aesthetic content of mental illness on social media, three of whom also uploaded aesthetic content of mental illness. From this study, it was found that the reason for informants uploading aesthetic content with mental disorders on social media was for self-expression. The practice of uploading aesthetic content also shows the existence of agency among the survivors, and the act of uploading content is influenced by the growth of the internet. Regarding boundaries, there is ambivalence that occurs in the use of aesthetics in expressing mental disorders on social media. In uploading this content, there are positive and negative impacts for netizen and the content uploaders."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syahrul Ramadhan
"Tulisan ini berupaya untuk mentelaah konsep kebudayaan melalui fenomena jasa joki tugas di pendidikan tinggi. Jasa joki tugas di pendidikan tinggi hadir sebagai fenomena budaya yang kerap dipilih sebagai jalan untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan secara instan, yang padahal, kehadiran jasa joki tugas di pendidikan tinggi merupakan suatu hal terlarang dan bertentangan dengan budaya akademik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk menjelaskan pentingnya memahami strategi adaptasi dan perasaan sebagai cara untuk menelaah konsep kebudayaan pada fenomena jasa joki tugas di pendidikan tinggi. Skripsi ini menyajikan bahwa jasa joki tugas di pendidikan tinggi dipilih sebagai strategi adaptasi serta manifestasi perasaan para penjokinya. Kehadiran jasa joki tugas di pendidikan tinggi tidak bisa dilepaskan dari perasaan para aktornya serta berbagai hal yang turut menyertai; yakni globalisasi dan penetrasi industri yang membuat kampus menjadi semakin neoliberal sehingga menormalisasi kehadiran jasa joki tug

This paper attempts to examine the concept of culture through the phenomenon of task jockey services in higher education. Task jockey services in higher education exist as a cultural phenomenon that is often chosen as a way to instantly complete lecture assignments. The presence of task jockey services in higher education is prohibited and contrary to academic culture. This research is qualitative with an ethnographic approach to explaining the importance of understanding adaptation strategies and feelings to examine the concept of culture in task jockey services in higher education. This thesis presents that task jockey services in higher education are chosen as an adaptation strategy and a manifestation of the jockey's feelings. The presence of task jockey services in higher education cannot be separated from the actors' feelings and the various things accompanying it, namely globalization and industrial penetration, which have made campuses increasingly neoliberal implicated to normalization the existance of tak jokey"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mutia Nadhifah
"Tulisan ini membahas mengenai salah satu fenomena yang saat ini sedang berkembang karena kemajuan teknologi dan internet di dalam dan luar negeri, yaitu online games. Perkembangan online games didasari oleh kemunculan jaringan internet tahun 1970 dari skala kecil ke skala besar. Asal muasal tersebut memunculkan peminat para pemain online games yang menghadirkan pengalaman nyata dan virtual. Rasa minat yang tinggi dapat membuat para pemain mengalami kecanduan. Para pemain yang bermain secara berlebihan umumnya dikatakan memiliki gejala internet gaming disorder, dulu dikenal sebagai computer addiction. Hal ini menjadi dampak negatif dalam fenomena online games pagi para pemainnya. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan cara mencari, menghimpun, dan menelaah berbagai sumber literatur yang mendukung topik penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa fenomena online games berdampak negatif pada pemain di wilayah Asia dan Amerika. Mereka terkena internet gaming disorder, yaitu perilaku bermain online games secara berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik para pemain. Internet gaming disorder ditetapkan sebagai bagian dari penyakit kesehatan mental oleh World Health Organization sejak tahun 2018. Fenomena ini juga dilihat dalam perspektif antropologi yang menekankan hubungan antara sosial, budaya, dan perkembangan teknologi. Kebijakan pemerintah dan peran orang tua berperan dalam mencegah dan mengurangi angka internet gaming disorder.

This paper discusses one of the phenomena currently being developed due to technological advances and the internet at home and abroad, namely online games. The development of online games evolved with the emergence of internet networks in 1970 from small to large scale. This origin raises the interest of online game players who present real and virtual experiences. A high sense of interest can make players experience addiction. Players who play excessively are generally said to have internet gaming disorder symptoms, formerly known as computer addiction. This has a negative impact on the phenomenon of online games for the players. This paper uses the literature study method by finding, collecting, and examining various sources of literature that support the research topic. The results show that the online games phenomenon has a negative impact on players in the Asian and American regions. They are affected by internet gaming disorder, namely the behavior of playing online games excessively, which can interfere with the mental and physical health of the players. Internet gaming disorder has been designated as a mental health disease by the World Health Organization since 2018. This phenomenon is also seen from an anthropological perspective emphasizing the relationship between social, cultural, and technological developments. Government policies and the role of parents play a role in preventing and reducing the number of internet gaming disorders.>"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Faradina Alifiyah Rahman
"Tulisan ini membahas peran saya sebagai peneliti dalam kegiatan magang di Program RECEH CORENG dan ekspektasi yang timbul dari pihak-pihak terkait. Saya melakukan penelitian di Kampung Elektro, Jakarta Utara. Terdapat ekspektasi dari pihak RECEH CORENG, teman sekelompok, dan masyarakat setempat terhadap saya sebagai mahasiswa magang. Saya merasa dilema karena keterbatasan yang dimiliki dalam memenuhi ekspektasi yang timbul. Untuk memahami alasan di balik ekspektasi tersebut, saya menggunakan ilmu Antropologi yang dapat menjelaskan keterkaitan yang erat antara identitas, peran, dan ekspektasi. Identitas sebagai mahasiswa Universitas Indonesia merupakan simbolik kapital yang saya miliki. Simbolik kapital yang saya miliki dapat terlihat melalui interaksi dan pengakuan dari lingkungan magang.

This essay discusses my role as a researcher in an internship program at the RECEH CORENG and the expectations arising from the relevant parties. I conducted research in Kampung Elektro, North Jakarta. There are expectations from RECEH CORENG, group mates, and the local community towards me as an intern student. I feel dilemma due to the limitations in meeting the arising expectations. To understand the reasons behind these expectations, I utilize Anthropology, which can explain the close relationship between identity, role, and expectations. Identity as a student of the University of Indonesia is the symbolic capital that I possess. The symbolic capital I have can be seen through interactions and recognition from the internship environment.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Debby Novitadewi Susanto
"Masuknya budaya populer Korea, terutama musik pop, memunculkan fenomena baru yang lain yaitu roleplay di kalangan para penggemarnya. Roleplay merupakan permainan peran, baik memainkan peran karakter fiksi maupun publik figur di kehidupan nyata. Setiap orang dibebaskan memainkan karakter yang mereka inginkan dan mendorong pemain untuk memainkan karakter dengan identitas yang berbeda, salah satunya identitas gender. Dari sinilah muncul fenomena gender swap. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan metode observasi dan wawancara mendalam secara daring untuk menyesuaikan dengan pandemi COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana seseorang mengonstruksikan identitas gender yang berbeda dan kaitannya dengan stereotip gender yang berlaku. Hasil dari penelitian ini adalah informan mengonstruksikan identitas gender yang berbeda dengan tindakan performatif yang dilakukan secara berulang-ulang melalui tampilan akun, typing, dan interaksi sosial. Dalam mengonstruksikan identitas gendernya, informan melanggengkan dan menentang stereotip gender secara bersamaan.

The entry of Korean pop culture, especially pop music, has led to another new phenomenon, namely roleplay among fans. Roleplay is a role-playing game, both playing the role of fictional characters and public figures in real life. Everyone is free to play the character they want and encourages players to play characters with different identities, one of which is gender identity. This is where the gender swap phenomenon emerges. This study uses an ethnographic approach with online observation and in-depth interviews to adapt to the COVID-19 pandemic. The purpose of this study is to see how a person constructs a different gender identity and its relation to prevailing gender stereotypes. The results of this study are informants construct different gender identities with performative actions that are carried out repeatedly through account display, typing, and social interaction. In constructing their gender identity, informants perpetuate and oppose gender stereotypes simultaneously."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nuraini
"Skripsi ini mengkaji tentang pengalaman menjadi penari dance cover dan pembentukan communitas di agensi PAOW DC. Melalui wawancara dengan lima anggota PAOW DC dan mengamati perilaku serta aktivitas mereka di komuniti dance cover saya melihat adanya proses belajar, refleksi dan pembagian pengalaman, dalam perilaku kolektif di agensi PAOW DC. Proses belajar terjadi karena anggota PAOW DC menghadapi situasi berbeda dengan kesehariannya yakni proses sosial yang terjadi di komuniti dance cover. Dalam proses tersebut mereka mendapatkan pengalaman individual yang nantinya akan direfleksikan di dalam agensinya. Refleksi dari pengalaman tersebut akan dialami oleh anggota PAOW DC yang lain sehinggga bersifat intersubjektif. Mereka berinteraksi dan membagikan pengalaman kemudian dapat membentuk communitas di agensinya. Hasilnya adalah mereka bisa bertahan pada kerasnya persaingan di komuniti dance cover karena empati, saling terbuka, menghargai, serta ikatan yang kuat antar anggotanya.

This study focus on the experience of being a dance cover performers and forming a communitas at PAOW DC agency. We comprehend the process of learning, reflection and sharing experiences in collective behavior at the PAOW DC agency through interviews with five of their members and observing their behavior and activities in the dance cover community. The learning process occurs as PAOW DC members encounter a different situations from their daily lives, specifically the social processes that ensue in the dance cover community. They gain individual experiences in the process, which will later be reflected in their agency. Reflections from these experiences will be witnessed by other PAOW DC members so that it is tend to be intersubjective. They are interacting and share experiences in forming a communitas within the agency. The outcome is they are able to withstand the intense competition in the dance cover community for their empathy, mutual openness, respect, and strong bonds amongst members."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ashfa Khalida Shahira
"Makalah ilmiah ini merupakan refleksi saya sebagai mahasiswa yang terlibat menjadi aktor pembangunan dalam Program Desa Cemara (Cerdas, Mandiri, Sejahtera). Program yang dirancang oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI bertujuan untuk mengurangi kemiskinan melalui melalui kolaborasi bersama perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat desa. Upaya tersebut dilakukan dengan melakukan pemutakhiran data bagi masyarakat yang tidak kunjung mendapatkan bantuan sosial di Desa Sukahaji, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Dalam prosesnya, mahasiswa sebagai aktor pembangunan mengalami beragam tantangan emosional berupa penolakan, tuduhan, dan keluhan. Kemampuan untuk langsung bangkit kembali ketika menghadapi situasi sulit merupakan bentuk affective resilience dan affective privilege yang dimiliki oleh aktor pembangunan Desa Cemara yang memudahkan penyusunan kembali rencana intervensi. Pada sisi lain, kedua aspek afektif tersebut menjadi penghalang aktor pembangunan dalam menilik kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Makalah ilmiah ini mengeksplorasi bagaimana arena pembangunan tidak hanya dilihat sebagai proses yang serba teknis, tetapi juga dikelilingi oleh aspek afektif yang memengaruhi keputusan aktor pembangunan dalam membentuk program intervensi.

This scientific paper is my reflection as a student involved as a development actor in the Desa Cemara (Cerdas, Mandiri, Sejahtera) Program. The program designed by the National Development Planning Agency/Bappenas RI aims to reduce poverty through collaboration with universities, local governments, village governments, and village communities. This effort was carried out by updating data for people who did not receive social assistance in Sukahaji Village, Sukawening District, Garut Regency. During the process, students as development actors experienced various emotional challenges in the form of rejection, accusations, and complaints. The ability to immediately bounce back when facing difficult situations is a form of affective resilience and affective privilege possessed by the development actors of Desa Cemara. These two affective aspects made it easier for development actors to reorganize the intervention plan, but on the other hand it is also become a challenge in recognizing the real needs of the community. This paper explores how the development arena can be seen not only as a technical process, but also surrounded by affective aspects that influence development actors' decisions in shaping intervention programs."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>